Ketentuan Hukum tentang Kubur

28 Jan

At-Tadzkirah; Bekal Menghadapi Kehidupan Abadi;
Imam Syamsuddin al-Qurthubi

Kubur hendaknya bergunduk, ditinggikan sedikit dari permukaan tanah, tetapi tidak dibuat bangunan, baik dengan tanah liat, batu, ataupun kapur. Karena itu memang dilarang.

Menurut riwayat Muslim dari Jabir, bahwa dia berkata: “Rasulullah saw. telah melarang apabila kubur dilepa, diduduki, dan dibuat bangunan di atasnya.” (Shahih Muslim [970])

Dan diriwayatkan pula oleh at-Tirmidzi dari Jabir, dia berkata, “Rasulullah saw. telah melarang kubur dilepa, ditulisi, dibangun dan diinjak.” (Shahih; Ahkam al-Nana’iz [260] karya al-Albani)

Para ulama berkata, bahwa Malik menghukumi makruh terhadap pelepaan kubur, karena menurutnya itu termasuk bermegah-megahan dan perhiasan kehidupan dunia, padahal kubur adalah tempat yang berkaitan dengan akhirat, bukan tempat bermegah-megahan. Adapun yang menghiasi mayit hanyalah amalnya. Mereka melantunkan syair:

Bila kamu memimpin urusan suatu bangsa,
Meski hanya semalam saja,
Maka ketahuilah, bahwa sesudahnya,
Kamu dimintai tanggung jawabnya

Bila kamu mengangkat suatu jenazah
Ke kubur menuju alam baka,
Maka ketahuilah, bahwa sesudahnya
Kamu akan diangkat pula kesana.

Hai penghuni kubur indah mempesona,
Dihias ukir-ukiran pusaranya.
Mungkin dia di bawah sana
Sedang dibelenggu dalam penjara.

Dalam shahih Muslim ada diriwayatkan dari Abu al-Hayyaj al-Asadi, dari Ali bin Abu Thalib ra berkata, “Maukah kamu kuutus untuk melaksanakan sesuatu sebagaimana aku diutus oleh Rasulullah saw. untuk melakukannya? Jangan kamu biarkan satu pun berhala kecuali kamu hancurkan. Dan jangan kamu biarkan satu pun kubur yang ditinggikan kecuali kamu ratakan.” (Shahih Muslim [969])

Abu Dawud berkata dalam kitab al-Marasil, dari Ashim bin Abi Shalih, “Aku melihat kubur Nabi saw. satu jengkal atau lebih-kurang satu jengkal.” Maksudnya tingginya. (isnadnya dlaif karena mursal)

Dan kata para ulama kita: kalau kubur dibuat gundukan, tujuannya supaya dikenal dan dihormati. Adapun membuatnya terlalu tinggi adalah dilarang, karena cara seperti itu merupakan tradisi zaman jahiliyyah. Mereka meninggikannya dan membuat bangunan di atasnya, sebagai ungkapan memuliakan dan mengagungkan si mayit. Orang bersyair:

Kulihat para pemilik istana,
Bila ada yang meninggal di antara mereka,
Mereka bangun kubah di atas kuburnya.

Demi Allah, jika tanah kubur itu kau buka
Di depan mereka, maka takkan kau lihat di sana
Mana yang kaya, mana yang miskin papa.

Bila tanah telah memakan semua,
Yang ini maupun yang itu, maka tak ada lebihnya
Bagi orang kaya atau si miskin papa

&

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: