Peringatan atas Kelengahan

28 Jan

At-Tadzkirah; Bekal Menghadapi Kehidupan Abadi;
Imam Syamsuddin al-Qurthubi

Aduhai orang ini, mana harta yang telah kamu kumpulkan, dan mana kekayaan yang telah kamu persiapkan untuk menghadapi berbagai krisis dan kesulitan? Ternyata, setelah kamu mati, semua terlepas dari tanganmu. Dan setelah mengenyam kekayaan dan kejayaan, kamu beralih menjadi hina dan tidak punya apa-apa.

Bagaimana keadaanmu sekarang, hai orang yang tergadaikan oleh dosa-dosanya, hai orang yang terbuang dari keluarga dan rumahnya?

Sebenarnya jalan kebenaran tidaklah samar bagimu, tapi sedikit sekali perhatianmu untuk membawa bekal perjalanan yang jauh ini, dan untuk menghadapi kesulitan hebat yang akan kamu alami berikutnya.

Atau, tidakkah engkau mengerti, hai orang yang terpedaya, bahwa keberangkatan ini pasti terjadi, menuju hari yang amat ngeri. Pada saat itu tidak berguna lagi bagimu segala alasan ini dan itu. Tetapi semuanya akan berbalik kepadamu di hadapan Ilahi, Raja Yang Maha Bijak-Bestari. Semua akan berbalik, apa saja yang pernah diperbuat oleh kedua tanganmu, apa saja yang dilalui oleh kedua telapak kakimu, apa saja yang diucapkan oleh lidahmu, dan apa saja yang dilakukan anggota tubuhmu. Kalau Dia mengasihimu, maka kamu akan dibawa ke dalam surga-Nya. Dan kalau tidak, maka kamu akan dicampakkan ke dalam neraka.

Hai orang yang lalai terhadap keadaan ini, sampai kapankah kelalaian dan penundaan ini? Apakah kamu kira kecil perkara ini? Atau kamu anggap mudah? Atau kamu kira keadaanmu akan berguna bagimu, ketika saat perjalananmu tiba? Dapatkah hartamu menyelamatkan dirimu, di kala kamu dibinasakan oleh perbuatanmu sendiri? Atau adakah gunanya penyesalanmu, ketika kamu digelincirkan oleh kakimu sendiri? Atau bisakah keluargamu mengasihimu, ketika kamu dihimpun di padang Mahsyar? Tidak, demi Allah betapa keliru dugaanmu itu, dan kelak kamu pasti tahu itu.

Rupaya kamu tidak puas dengan rezeki yang cukup, tidak kenyang dengan harta haram, tidak sudi mendengar nasehat, dan tidak jera dengan ancaman. Kamu terbiasa bergelimang dengan kesenangan, tenggelam dalam kemewahan tiada batas, terpedaya untuk bermegah-megah dengan apa yang kamu miliki, dan sedikit pun tidak mengingat apa yang bakal kamu hadapi.

Hai orang yang terlelap dalam kelalaian, dan baru bangun setelah jauh terlempar, sampai kapankah kelalaian dan penundaan ini? Apakah kamu kira dirimu akan dibiarkan begitu saja, tanpa dihisab besok? Apakah kamu kira kematian itu bisa disuap? Tidak bisakah kamu membedakan antara singa dan semak belukar tempat tinggalnya?

Tidak, demi Allah, kematian sekali-sekali tidak bisa ditolak dengan harta maupun anak-anak. Tidak ada yang berguna bagi ahli kubur selain amalnya yang diterima. Maka beruntunglah orang yang mendengar dan memperhatikan, lalu menahan diri dari hawa nafsunya, dan menyadari bahwa yang berbahagia adalah orang yang berhenti dari kebodohannya, (dan menyadari firman Allah):

“Dan bahwasannya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. Dan bahwasannya usahanya itu kelak akan diperlihatkan [kepadanya].” (an-Najm: 39-40)

Maka dari itu bangunlah kamu dari tidur ini, dan jadikanlah amal shalih sebagai bekal bagimu. Jangan bermimpi memperoleh kedudukan orang-orang baik, sedang kamu terus-menerus melakukan dosa dan perbuatan orang-orang jahat. Tetapi perbanyaklah amal shalih, dan waspadalah terus terhadap ujian-ujian Allah dalam kesendirian-kesendirianmu, Dia-lah Tuhan bumi dan langit. Jangan terpedaya oleh angan-anganmu, sampai kamu malah tidak beramal. Tidakkah kamu mendengar sabda Rasulullah saw., ketika beliau duduk di sisi sebuah kubur, “Hai saudara-saudaraku, untuk hal seperti ini hendaknya kamu sekalian bersiap siaga.”

Atau tidakkah kamu mendengar firman Allah yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu. Maka penuhilah seruan Allah Ta’ala.

“Berbekallah kamu, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa.” (al-Baqarah: 197)

Orang bersyair:

Ambillah bekal dari rezakimu
Untuk pulang ke negeri asalmu.
Bangkitlah menuju kehadirat Allah,
Dan sebaik-baik bekal hadirkanlah.

Relakah kamu jika menjadi Cuma
Teman pengiring kaum yang jaya,
Banyak bekal mereka bawa,
Sedang kamu apa pun tak punya.

Dan penyair lain menambahkan:

Kamu pasti menyesal tiada tara,
Kenapa kamu tidak seperti mereka.
Dan kamu menyesal tidak memburunya,
Seperti mereka telah menangkap buruannya.

Dan kata penyair yang lain pula:

Maut adalah laut jaya-perkasa
Gergulung tinggi gelombang ombaknya.
Tidak ada manfaat, tidak ada guna
Perenang ulung tak mampu menyiasatinya
Hai diri, kepadamu aku ingin bicara,
Maka camkanlah nasehat berharga;
Tiada guna manusia dalam kuburnya,
Selain taqwa dan amal shalihnya.

Tambah penyair lain pula:

Di sini tidak kutemui penghibur hati
Selain dosa-dosaku yang membinasakan diri,
Andai engkau melihat keadaanku ini
Niscaya kau tangisi deritaku tiada peri.

Dan kata penyair yang lain:

Kamu dilahirkan ibumu dengan pekik tangis terbata-bata,
Sedang orang di sekelilingmu tertawa riang gembira,
Maka beramallah untuk hari mereka menangis terisak-isak,
Sementara kamu berangkat dengan tersenyum bahagia.

Diriwayatkan dari Muhammad al-Qurasyi, bahwa dia berkata, “Saya mendengar guru kami berkata, ‘Hai manusia, sesungguhnya aku adalah pemberi nasehat kepadamu, dan pencurah kasih sayang kepadamu. Beramallah kamu sekalian di gelap malam, untuk menghadapi gelapnya kubur. Dan berpuasalah kamu, meski pada hari yang sangat panas, sebelum datangnya hari kebangkitan yang ganas. Dan berhajilah kamu, niscaya dosa-dosa besarmu akan dihapuskan. Dan bersedekahlah, karena rasa takut akan hari yang amat sulit.”

Yazid ar-Raqqasyi dalam pidatonya, antara lain dia katakan, “Hai orang yang bakal ditanam di liang kubur, yang akan terasing sendirian di dalam kubur, yang hanya akan dihibur oleh amalnya di dalam perut bumi. Kalau boleh aku tahu, dengan amalmu yang mana kamu merasa gembira? Dengan kelakuanmu yang mana kamu merasa akan beruntung?”

Sesudah berkata begitu dia menangis, sampai membashi sorbannya. Dan selanjutnya dia berkata, “Demi Allah, manusia hanya akan gembira berkat amalnya yang shalih. Dia beruntung berkat saudara-saudara yang telah membantunya melakukan ketaatan kepada Allah.” Dan adalah Yazid, jika dia melihat kubur maka dia berteriak seperti lembu mengeluh.

&

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: