Arsip | 11.18

Kubur Berbicara

31 Jan

At-Tadzkirah; Bekal Menghadapi Kehidupan Abadi;
Imam Syamsuddin al-Qurthubi

Kubur itu setiap hari berbicara, terutama kepada mayit saat dia dimasukkan ke dalamnya.

At-Tirmidzi telah meriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri ra, dia berkata: Pernah Rasulullah saw. masuk ke mushalla. Di sana beliau melihat beberapa orang sedang berbicara banyak-banyak. Maka beliau bersabda, “Adapun sesungguhnya, sekiranya kamu sekalian banyak mengingat si pemutus kelezatan, yakni mati, niscaya kamu takkan sempat melakukan seperti yang aku lihat. Maka perbanyaklah olehmu memutus segala kelezatan, yaitu mati. Karena sesungguhnya, tidak lewat seharipun, melainkan kubur itu berbicara mengenai dirinya, katanya, ‘Aku ini rumah pengasingan, aku ini rumah sepi, aku ini rumah debu, aku ini rumah cacing.’

Dan apa bila ada seseorang mukmin dikubur, maka dia berkata, ‘Selamat datang, marhaban wa ahlan! Ketahuilah, kamu adalah orang yang berjalan di permukaanku yang paling aku sukai. Maka, bila hari ini aku sudah menguasaimu, dan kamu telah kembali kepadaku, maka akan kamu lihat apa yang aku perbuat terhadap dirimu.’ Lalu kubur itu melapangkan diri untuknya sejauh mata memandang, dan membukakan untuknya pintu surga.

Dan apabila ada seorang jahat atau kafir dikubur, maka dia berkata: ‘Tidak ada ucapan selamat datang untukmu, laa marhaban wa laa ahlan! Ketahuilah, bahwa kamu adalah orang yang berjalan di permukaanku yang paling aku benci. Maka, bila hari ini aku telah menguasaimu, dan kamu telah kembali kepadaku, maka akan kamu lihat apa yang aku perbuat terhadap dirimu.’”

Rasulullah saw. melanjutkan: “Maka kubur itu menghimpitnya, sampai saling menangkup dan berantakanlah tulang-belulangnya.”

Perawi berkata, “Demikian kata Rasulullah saw. sambil menjalin jari-jarinya, yakni memasukkan yang satu kepada yang lain.”

Dan diriwayatkan beliau bersabda pula, “Allah mendatangkan untuk si kafir itu sembilan puluh ekor ular naga –atau sembilan puluh sembilan ekor-, andaikan seekor di antaranaya menyembur bumi, maka bumi takkan menumbuhkan apa-apa [gersang] sepanjang umur dunia. Ular itu menggigitnya terus-menerus sampai datangnya hari hisab.”

Dan diriwayatkan sabda Rasulullah saw. pula, “Sesungguhnya kuburan tidak lain adalah salah satu dari taman surga, atau salah satu lubang neraka.” (Dlaif al-Jami’ [1231]; Abu Isa berkata: hadits ini gharib)

Dan menurut riwayat Hannad bin as-Sirri, dari Hasan al-Ja’fi, dari Malik bin Mighwal, dari Abdullah bin Ubaid bin Umair, dia berkata, “Allah menjadikan kubur itu punya lidah yang dapat berbicara, maka dia berkata, ‘Hai anak Adam, kenapa kamu melupakan aku? Tidak tahukah kamu, bahwa aku adalah rumah cacing, rumah sepi dan rumah sunyai?” (Shahih Maqthu’: disebutkan dalam at-Tahrir al-Murrasakh [423], dinisbatkan kepada Ibnu Abi ad-Dun-ya)

Hannad berkata pula: telah menceritakan kepada kami, Waki’, dari Malik bin Mighwal, dari Abdullah bin Ubaid bin Umair, dia berkata, “Sesungguhnya kubur itu benar-benar menangis, dan dalam tangisnya dia berkata, ‘Aku rumah sunyi, aku rumah sepi, aku rumah cacing.” (Shahih Maqthu’: disebutkan dalam at-Tahrir al-Murrasakh [423], dinisbatkan kepada Ibnu Abi ad-Dun-ya)

Dan menurut riwayat Umar bin Abdul Barr menyebutkan, Yahya bin Jabir ath-Tha’i telah meriwayatkan dari Ibnu A’idz al-Uzdi, dari Ghudhaif bin al-Harits, dia berkata: Saya pernah datang ke Baitul Maqdis bersama Abdullah bin Ubaid bin Umair, dia berkata: Maka duduklah kami ke dekat Abdullah bin Amr bin al-Ash. Saya dengar dia berkata: “Sesungguhnya kubur itu berbicara kepada manusia manakala dia dimasukkan ke dalamnya, katanya, ‘Hai anak Adam, apakah yang telah memperdayakan kamu sehingga tidak mengingat aku? Tidak tahukah kamu, bahwa aku adalah rumah sepi? Tidak tahukah kamu bahwa aku adalah rumah gelap? Tidak tahukah kamu bahwa aku adalah rumah kebenaran? Hai anak Adam, apakah yang telah memperdayamu sehingga tidak mengingat aku? Kamu benar-benar berjalan di sekitarku dengan sikap congkak.’”

Ibnu A’idz berkata: Saya pernah bertanya kepada Ghudhaif, “Apa yang dimaksud faddaad [congkak] hai Abu Ismail?” maka dia jawab, “Seperti sikap sebagian kamu ketika berjalan, hai kemenakanku.”

Lalu seorang temanku –dia lebih tua dariku- bertanya kepada Abdullah bin Amr, “Bagaimana kalau yang masuk kubur itu seorang mukmin?” Dia jawab, “Kuburannya dilapangkan, tempat tinggalnya dihijaukan, dan rohnya dinaikkan ke langit.” (Demikian disebutkan oleh Abu Umar bin Abdul Barr dalam kitabnya, at-Tamhid; disebutkan oleh Ibnu Thulun dalam at-Tahrir al-Murasakh [424] dan dinisbatkan kepada Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf)

Dan disebutkan pula oleh Abu Muhammad Abdul Haq dalam kitabnya, al-Aqibah, dari Abu al-Hajjaj ats-Tsumali, dia berkata: Sabda Rasulullah saw., “Kubur akan berkata kepada mayit, manakala dia dimasukkan ke dalamnya, ‘Celaka kamu, hai anak Adam, apa yang memperdayakan kamu sehingga tidak mengingatku? Tidak tahukah kamu, bahwa aku adalah rumah bencana, rumah kegelapan, dan rumah cacing? Apa yang telah memperdayakan kamu ketika melewati aku dulu dengan congkak?’”

Rasulullah bersabda, “Jika yang masuk kubur orang shalih, maka kata-kata kubur itu dijawab oleh seseorang [malaikat] disana, katanya, ‘Tidakkah kamu tahu, bahwa dia termasuk mereka yang beramar makruf nahi munkar?’

Maka kubur itu berkata, ‘Kalau begitu, aku benar-benar akan menjadi hijau kembali untuknya, sedang badannya akan kembali menjadi bercahaya, dan rohnya akan naik kepada Rabbul ‘Aalamiin.”

Hadits ini disebutkan oleh Abu Ahmad al-Hakim dalam kitab al-Kuna. Dan disebutkan pula oleh Qasim bin Ashbugh, seraya dia katakan, “Abu Hajjaj ditanya, ‘Apa yang dimaksud dengan faddaad [congkak]?’ dia jawab, ‘Orang yang memajukan satu kaki dan mengundurkan yang lain.’ Maksudnya orang itu berjalan dengan sombong. (Dlaif: menurut al-Haitsami dalam al-Majma’, hadits ini diriwayatkan oleh Abu Ya’la dan at-Thabrani dalam al-Kabir, dimana terdapat Abu Bakar bin Maryam, seorang yang dlaif karena kekacauan pikiran.)

Ibnul Mubarak menyebutkan, katanya: Telah mengabarkan kepada kami, Daud bin Naqid, dari Abdullah bin Ubaid bin Umair berkata, telah sampai kepadaku berita, bahwa mayit itu duduk dalam lubang kuburnya, sambil mendengarkan langkah cepat para pengantarnya. Tidak ada sesuatu yang berbicara kepadanya sejak pertama kali lubang kubur itu ditimbun. Namun tiba-tiba lubang itu berkata, “Kasihan kamu hai anak Adam, kamu telah diperingatkan tentang aku, dan diperingatkan tentang betapa sempitnya aku, gelapnya aku, busuknya aku, dan mengerikannya aku. Inilah yang aku persiapkan untukmu, lalu apa yang telah kamu persiapkan untukku?” (Shahih Maqthu’)

Adapun arti “wakhth” dan “wakhdz” adalah langkah cepat dalam perjalanan.

Sufyan ats-Tsauri berkata, “Barangsiapa banyak mengingat kubutr, dia akan mendapatinya menjadi salah satu taman surga. Dan barangsiapa lalai dari mengingat kubur, dia akan mendapatinya menjadi salah satu lubang neraka.”

Ahmad bin Harb berkata, “Bumi terheran-heran melihat orang yang menjadikannya sebagai alas berbaring, dan menggelar kasur di atasnya untuk tidur. Maka dia katakan kepadanya, ‘Hai anak Adam, tidakkah kamu ingat kelak kamu akan tidur lama dalam perutku, dimana tidak ada satupun penghalang antara aku dan kamu?’”

Ada seorang ahli zuhud ditanya, “Apakah nasehat yang paling jitu?” dia jawab, “Melihat tempat orang-orang mati.” Maka betapa indah apa yang pernah dikatakan Abu al-Atahiyah:

Kubur-kubur bisu menasehatimu,
Waktu-waktu lalu menerangimu.
Mereka bicara wajah-wajah yang kini telah punah,
Dan paras-paras beku tiada gerak bagai batu.
Mereka cerminkan kepadamu, dirimu dalam kubur,
Padahal kamu masih hidup, dan belum mati terbujur.

Dan diriwayatkan dari al-Hasan al-Bashri, bahwa dia berkata, “Pernah saya berada di belakang suatu jenazah. Saya ikuti dia sampai ke lubang kuburnya. Tiba-tiba seorang perempuan berseru, “Hai ahli kubur, andaikan kalian tahu siapa orang yang dipindahkan kepadamu, niscaya kalian tolak.”

Lalu aku mendengar suara dari dalam lubang kubur berkata, “Demi Allah, dia dipindahkan kepada kami benar-benar membawa dosa-dosa seperti gunung. Tapi aku telah diizinkan memakannya sampai remuk.”

Maka jenazah itu bergerak-gerak di atas keranda, dan al-Hasan sendiri jatuh pingsan.

&

Iklan

Himpitan Kubur

31 Jan

At-Tadzkirah; Bekal Menghadapi Kehidupan Abadi;
Imam Syamsuddin al-Qurthubi

An-Nasa’i meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra. dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda: “Inilah orang yang menyebabkan ‘Arsy Allah Yang Mahapengasih bergoncang, pintu-pintu langit dibukakan untuknya, dan disaksikan oleh tujuhpuluh ribu malaikat. Namun tetap dihimpit dengan satu himpitan, lalu dilonggarkan.” (Bagian pertama dari hadits ini terdapat dalam Shahih al-Bukhari [3803] dan shahih Muslim [2466] dengan lafadz yang maksudnya: Arsy Allah bergetar karena jenazah Sa’ad ra.)

Abu Abdirrahman an-Nasa’i menjelaskan, “Maksudnya ialah Sa’ad bin Mu’adz ra.

Dan di antara hadits yang diriwayatkan oleh Syu’bah bin al-Hajjaj dengan isnadnya kepada Aisyah Ummul Mukminin ra, bahwa dia berkata: sabda Rasulullah saw.: “Sesungguhnya kubur itu punya himpitan. Andaikan ada orang yang selamat darinya, tentu Sa’ad pun selamat darinya.” (Shahih al-Jami’ [5306] karya al-Albani)

Hannad bin as-Sirri menyebutkan: telah menceritakan kepada kami, Muhammad bin Fudhail, dari ayahnya, dari Ibnu Abi Mulaikah, dia berkata, “Tidak seorang pun diselamatkan dari himpitan kubur. Tidak juga Sa’ad bin Mu’adz, yang salah satu sapu tangannya lebih baik daripada dunia seisinya.” (isnadnya dlaif: Fudhail bin Ghazawan adh-Dhabi, ayah Muhammad, tdiak diketahui ihwalnya)

Dia katakan pula: telah menceritakan kepada kami, Abdah bin Ubaidillah bin Umar, dari Nafi’ dia berkata, telah sampai kepadaku berita, bahwa jenazah Sa’id bin Mu’adz disaksikan oleh tujuh puluh ribu malaikat yang tidak pernah turun ke bumi sama sekali. Dan sesungguhnya telah sampai kepadaku berita, Rasulullah saw. bersabda: “Sahabat kamu sekalian ini dihimpit satu kali himpitan dalam kubur.” (Isnadnya dlaif karena mursal)

Ali bin Ma’bad meriwayatkan dalam kitab ath-Tha’ah wa al-ma’shiyah, dari Nafi’ dia berkata, kami datang kepada Shafiyah binti Abu Ubaid, istri Abdullah bin Umar ketika dia ketakutan. Kami bertanya, “Kenapa kamu?” dia jawab, “Saya baru datang dari salah seorang istri Nabi saw. Dia menceritakan kepadaku bahwa Rasulullah saw. bersabda: ‘Sesungguhnya aku benar-benar melihat, andaikan ada orang yang dipelihara dari siksa kubur, tentu Sa’ad bin Mu’adz pun dipelihara darinya. Sesungguhnya dia dihimpit satu kali himpitan di sana.”

Ali bin Ma’bad juga meriwayatkan dari Zadzan, bahwa Ibnu Umar ra berkata, ketika Rasulullah saw. mengubur putri beliau, Zainab, beliau duduk di sisi kubur, maka wajah beliau pucat, lalu berubah menjadi ceria. Oleh karena itu para shahabat bertanya, “Tadi kami melihat wajahmu pucat, wahai Rasulullah, lalu berubah menjadi ceria,” Nabi saw. menjawab: “Aku ingat putriku, kelemahannya dan adzab kubur. Maka aku berdoa kepada Allah, lalu dilonggarkan baginya. Demi Allah, dia pun benar-benar dihimpit dengan suatu himpitan yang terdengar oleh makhluk antara timur dan barat.”

Dan Ali bin Ma’bad juga meriwayatkan dengan sanadnya, dari Ibrahim al-Ghanwi, dari seorang lelaki, dia berkata, “Saya berada di sisi Aisyah ra, tiba-tiba lewatlah jenazah anak kecil, maka Aisyah pun menangis. Kami bertanya kepadanya, ‘Kenapa menangis, wahai Ummul Mukminin?’ Dia menjawab, ‘Aku menangisi anak kecil ini, karena kasihan kepadanya, dan dia pun mengalami himpitan kubur.’”

Saya katakan: meskipun berita ini mauquf pada Aisyah ra, tetapi berita ini tidak mungkin dikatakan berasal dari pendapat manusia biasa.

Umar bin Syu’bah telah meriwayatkan dalam kitab al-Madinah –semoga penduduknya senantiasa diberi kesejahteraan- tentang wafat Fathimah binti Asad, ibu Amir al-Mukminin Ali bin Abi Thalib ra, dia berkata, “Ketika Nabi saw. di tengah para shahabatnya, tiba-tiba datanglah seseorang dan berkata, ‘Sesungguhnya ibnu Ali, Ja’far dan Aqil meninggal dunia,’ Maka beliau mengajak, ‘Marilah ktia pergi kepada ibuku.’

Maka kamipun bangkit, seakan-akan ada burung di atas kepala kami. Dan ketika kami sampai di pintu, beliau melepas bajunya seraya berpesan, ‘Apabila kalian mengafaninya, kenakan baju ini kepadanya di bawah kain kafannya.’

Dan ketika orang-orang keluar membawanya, Rasulullah saw. kadang-kadang ikut membawa, kadang-kadang maju ke depan, dan kadang-kadang mundur ke belakang, sampai kami tiba di kubur. Lalu beliau ikut berlepotan tanah di dalam liang lahat, sesudah itu keluar dan berkata, ‘Masukkan dia, BismillaaH wa ‘alaa ismillaaH [dengan menyebut Nama Allah, dan atas Nama Allah].’ Dan setelah menguburkan, beliau berdiri dan berkata, ‘Semoga Allah membalas kebaikanmu, hai ibu dan pengasuh.’

Kami menanyakan kepada beliau, kenapa melepas baju dan ikut berlepotan tanah dalam liang lahat. Maka beliau menjawab, ‘Aku ingin dia tidak tersentuh api neraka selamanya, isnyaa Allah Ta’ala, dan agar Allah melapangkan kuburnya.’

Beliau berkata pula, ‘Tidak seorang pun selamat dari himpitan kubur, kecuali Fathimah binti Asad.’

Maka seseorang bertanya, ‘Ya Rasulallah, tidak jugakah al-Qasim, putramu itu?’ Maka beliau menjawab, ‘Bahkan tidak juga Ibrahim.’ Yakni putra beliau yang lebih kecil dari keduanya.

(hadits ini diriwayatkan pula oleh Abu Nu’aim dari Ashim al-Ahwal, dari Anas, dengan berbeda redaksi tapi sama maknanya, yaitu tidak terdapat pertanyaan tentang kenapa berlepotan tanah dan seterusnya)

Anas ra. berkata: Sepeninggalan Fathimah binti Asad bin Hasyim, ibu Ali bin Abi Thalib ra, Rasulullah saw. datang menjenguknya, lalu duduk di sisi kepalanya. Beliau bersabda, “Semoga Allah merahmatimu wahai ibuku. Engkau adalah ibuku setelah ibuku. Engkau lapar demi mengenyangkan aku. Engkau tidak berpakaian demi memberiku pakaian. Engkau menahan dirimu dari makanan enak demi memberiku makan. Dengan itu semua engkau mengharap ridla Allah dan negeri Akhirat.”

Kemudian beliau menyuruh jasadnya dimandikan tiga kali basuhan. Dan tatkala sampai pada air yang dicampur kapur barus, beliau menuangkan sendiri dengan tangan beliau. Selanjutnya Rasulullah saw. melepas baju beliau dan mengenakannya pada jazad bibinya itu, lalu ditutupnya dengan kain kafan di atasnya.

Kemudian Rasulullah saw. memanggil Usamah bin Zaid, Abu Ayyub al-Anshari, Umar bin al-Khaththab dan seorang budak hitam untuk menggali kuburnya. Dan tatkala sampai pada liang lahat, Rasulullah ikut menggali dan mengeluarkan tanah dengan tangan beliau. Setelah selesai, Rasulullah masuk dan membaringkan mayit di dalamnya, lalu beliau bersabda, “Alhamdu lillaaH, segala puji bagi Allah yang menghidupkan dan mematikan. Dia Maha Hidup, tidak akan mati. Ampunilah ibuku, Fathimah binti Asad, ajarilah dia hujjahnya, lapangkanlah baginya tempat masuknya, atas hak Nabi-Mu dan para Nabi sebelumku. Sesungguhnya Engkau Mahapengasih di antara yang mengasihi.”

Rasulullah saw. menshalati bibinya itu empat kali takbir, dan memasukkannya sendiri ke dalam liang lahat bersama al-Abbas dan Abu Bakar ash-Shiddiq ra.

(Dlaif; as-Silsilah adl-Dlaifah [23] dan at-Tawassul, anwa-uHu AhkamuHu [111] oleh al-Albani. Patut diingatkan di sini, bahwa tidak ada satupun hadits yang shahih tentang tawassul kepada Allah dengan hak para Nabi atau hamba-hamba-Nya yang shalih. Tawassul semacam ini adalah bid’ah yang diharamkan. Misalnya tawassul dengan pangkat para nabi dan orang-orang shalih. Mengenai tawassul ini memang ada sebuah hadits, tapi bathil dan tidak ada sumbernya dalam kitab-kitab sunnah, yang artinya: “Apabila kalian meminta kepada Allah, maka mintalah dengan pangkatku…” Maka harus anda lihat kitab at-Tawassul, oleh al-Albani rahimahullah, dan al-Qa’idah al-Jalilah fii at-Tawassul, oleh Ibnu Taymiyah rahimahullah.)

&

Pengaruh Tangisan Keluarga terhadap Mayit

31 Jan

At-Tadzkirah; Bekal Menghadapi Kehidupan Abadi;
Imam Syamsuddin al-Qurthubi

Di sini diterangkan bahwa mayit disiksa lantaran tangisan keluarganya, dan oleh karenanya mereka adalah manusia paling kejam terhadap si mayit.

Menurut riwayat Abu Hadbah Ibrahim bin Hadbah, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami, Anas bin Malik ra, dia berkata: Sabda Rasulullah saw:

“Sesungguhnya apabila orang yang meninggal dunia telah diletakkan di dalam kubur lalu didudukkan, sedang keluarganya berkata, ‘O tuanku! O bangsawanku! O pemimpinku!’ maka malaikat berkata, ‘Dengarkan apa yang mereka katakan! Kamu dulu tuan? Kamu dulu bangsawan? Kamu dulu pemimpin?’ mayit itu berkata, ‘Andaikan mereka diam saja.’”

Rasulullah saw bersabda, “Lalu mayit itu dihimpit sekali himpit yang menyebabkan tulang-tulangnya hancur berantakan.”
(Maudlu’; Abu Hadbah adalah pendusta)

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-An’am ayat 91-92

31 Jan

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-An’am (Binatang Ternak)
Surah Makkiyyah kecuali ayat: 20, 23, 91, 93, 114, 141, 151, 152, 153 Madaniyyah surah ke 6: 165 ayat

tulisan arab alquran surat al an'am ayat 91-92“91. dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya, di kala mereka berkata: ‘Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia.’ Katakanlah: ‘Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan (sebahagiannya) dan kamu sembunyikan sebahagian besarnya, Padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahui(nya) ?” Katakanlah: ‘Allah-lah (yang menurunkannya),’ kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al Quran kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya. 92. dan ini (Al Quran) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan Kitab-Kitab yang (diturunkan) sebelumnya dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Mekah) dan orang-orang yang di luar lingkungannya. orang-orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya (Al Quran) dan mereka selalu memelihara shalatnya.” (al-An’aam: 91-92)

Allah berfirman, bahwa mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang sebenarnya, yaitu mereka mendustakan para Rasul yang diutus kepada mereka. Ibnu ‘Abbas, Mujahid, dan Abdullah bin Katsir mengatakan: “Ayat ini diturunkan berkenaan dengan kaum Quraisy.” Itu pula yang menjadi pilihan Ibnu Katsir.

Firman Allah: qul man anzalal kitaabal ladzii jaa-abiHii muusaa nuuraw wa Hudal linnaasi (“Katakanlah: ‘Siapakah yang menurunkan Kitab [Taurat] yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia.’”)

Maksudnya, hai Muhammad, katakanlah kepada orang-orang yang ingkar terhadap penurunan sebuah kitab dari sisi Allah. Untuk menjawab ungkapan negatif dari mereka yang bersifat umum dengan menegaskan secara parsial ketetapan hukumnya:

man anzalal kitaabal ladzii jaa-abiHii muusaa (“‘Siapakah yang menurunkan Kitab [Taurat] yang dibawa oleh Musa’”) yaitu Taurat yang kalian dan juga setiap orang sudah mengetahui bahwa Allah telah menurunkannya kepada Musa bin Imran, sebagai cahaya dan petunjuk bagi umat manusia, untuk mereka pergunakan sebagai penerang dalam mengungkap berbagai permasalahan, dan dijadikan sebagai petunjuk dari kegelapan syubhat.

Taj’aluunaHu qaraathiisa tubduunaHaa wa tukhfuuna katsiiran (“Kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan [sebagiannya] dan kamu sembunyikan sebagian besarnya.”)

Maksudnya kamu jadikan kitab itu secara keseluruhan sebagai kertas yang terpotong-potong yang kalian tulis di atas kitab asli yang ada di tangan kalian dengan melakukan perubahan-perubahan, pergantian dan penafsiran, serta mengatakan bahwa hal itu berasal dari sisi Allah, yaitu dalam kitab yang diturunkan itu, padahal hal itu bukan dari sisi Allah. Oleh karena itu Allah berfirman:

Taj’aluunaHu qaraathiisa tubduunaHaa wa tukhfuuna katsiiran (“Kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan [sebagiannya] dan kamu sembunyikan sebagian besarnya.”)

Lalu Allah berfirman: wa ‘ullimtum maa lam ta’lamuu antum wa laa aabaa-ukum (“Padahal telah diajarkan kepada kamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahui[nya].”) maksudnya siapakah yang menurunkan al-Qur’an yang telah diajarkan oleh Allah Ta’ala kepada kalian, yang di dalamnya terdapat berita tentang hal-hal yang telah lalu dan berita tentang hal-hal yang akan datang, yang kalian dan juga nenek moyang kalian tidak mengetahuinya.

Qatadah mengatakan: “Mereka itu adalah orang-orang musyrik Arab.” Adapun Mujahid mengemukakan: “Yang demikian itu ditujukan kepada kaum Muslimin.”

QulillaaHu (“Katakanlah: ‘Allah,’”) Ali bin Abi Thalhah mengatakan dari Ibnu Abbas, “Maksudnya, katakanlah: ‘Allah yang menurunkannya.’” Dan apa yang dikemukakan oleh Ibnu Abbas, itulah pendapat yang paling kuat dalam tafsir kalimat tersebut.

Tsumma dzarHum fii khaudliHim yal’abuun (“Kemudian biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya.”) maksudnya biarkanlah mereka bermain-main dalam kebodohan dan kesesatan, sehingga Allah mendatangkan bukti nyata. Kelak mereka akan mengetahui apakah kesudahan yang baik itu milik mereka atau milik hamba-hamba Allah yang bertaqwa?

Wa Haadzaa kitaabun (“Dan ini adalah kitab”) yakni al-Qur’an.
anzalnaaHu mubaarakum mushaddiqul ladzii baina yadaiHi wa litundzira ummal quraa (“Yang telah Kami turunkan yang diberkahi, membenarkan Kitab-kitab yang [diturunkan] sebelumnya dan agar kamu memberi peringatan kepada [penduduk] Ummul Qura.”) yaitu Makkah.

Wa man haulaHaa (“Dan orang-orang yang di luar lingkungannya”) yaitu dari kalangan bangsa Arab dan berbagai kelompok anak cucu Adam, baik dari bangsa Arab maupun bukan Arab.
“Mahasuci Allah yang telah menurunkan al-Furqaan [al-Qur’an] kepada hamba-hamba-Nya agar dia menjadi pemberi peringatan bagi seluruh alam.” (al-Furqaan: 1)

Dalam ash-Shahihain ditegaskan bahwa Rasulullah saw. bersabda:
“Aku diberi lima hal yang belum pernah diberikan kepada seorang Nabi pun sebelumku.”

Beliau diantaranya menyatakan:
“Dahulu seorang Nabi itu diutus kepada kaumnya secara khusus, sedangkan aku diutus kepada umat manusia secara umum.”

Oleh karena itu Allah berfirman: wal ladziina yu’minuuna bil aakhirati yu’minuuna biHi (“Orang-orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya.”) yaitu setiap orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, pasti ia beriman kepada Kitab yang penuh berkah ini, yang diturunkan kepadamu, hai Muhammad, yakni al-Qur’an.

Wa Hum ‘alaa shalaatiHim yuhaafidhuun (“Dan mereka selalu memelihara shalatnya.”) maksudnya mereka senantiasa menjalankan kewajiban yang ditugaskan kepada mereka, yaitu menjalankan shalat tepat pada waktunya.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-An’am ayat 84-90

31 Jan

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-An’am (Binatang Ternak)
Surah Makkiyyah kecuali ayat: 20, 23, 91, 93, 114, 141, 151, 152, 153 Madaniyyah surah ke 6: 165 ayat

tulisan arab alquran surat al an'am ayat 84-90“84. dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Yaqub kepadanya. kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) Yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. 85. dan Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas. semuanya Termasuk orang-orang yang shaleh. 86. dan Ismail, Alyasa’, Yunus dan Luth. masing-masing Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya), 87. dan Kami lebihkan (pula) derajat sebahagian dari bapak-bapak mereka, keturunan dan saudara-saudara mereka. dan Kami telah memilih mereka (untuk menjadi nabi-nabi dan rasul-rasul) dan Kami menunjuki mereka ke jalan yang lurus. 88. Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya. seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. 89. mereka Itulah orang-orang yang telah Kami berikan Kitab, hikmat dan kenabian jika orang-orang (Quraisy) itu mengingkarinya, Maka Sesungguhnya Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang sekali-kali tidak akan mengingkarinya. 90. mereka Itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, Maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah: “Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al-Quran).” Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh ummat.” (al-An’aam: 84-90)

Allah menyebutkan bahwa Dia telah menganugerahkan Ishaq kepada Ibrahim setelah ia berusia lanjut dan setelah sebelumnya ia dan istrinya, Sarah, merasa berputus asa dari mendapatkan keturunan. Hal ini merupakan imbalan bagi Ibrahim as. ketika ia meninggalkan kaumnya serta hijrah dari negerinya dalam rangka beribadah kepada Allah di muka bumi. Allah menggantinya dengan anak keturunan yang shalih dari tulang sulbinya agar ia menjadi senang dan bahagia karenanya. Sebagaimana difirmankan Allah yang artinya:

“Maka ketika Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka ibadahi selain Allah, Kami anugerahkan kepada-Nya Ishaq dan Ya’qub. Dan masing-masing dari keduanya Kami angkat menjadi Nabi.” (Maryam: 49)

Adapun dalam surat al-An’aam ini Allah berfirman: wa wahabnaa laHuu ishaaqa wa ya’quuba kulllan Hadainaa (“Dan Kami telah menganugerahkan Ishaq dan Ya’qub kepadanya. Kepada masing-masing keduanya telah Kami beri petunjuk.”)

Firman-Nya: wa nuuhan Hadainaa min qablu (“Dan kepada Nuh sebelum itu [juga] telah Kami beri petunjuk.”) yaitu Kami sudah memberikan petunjuk kepada Nuh sebelum Ibrahim. Sebagaimana Kami juga telah memberi petunjuk kepadanya [Ibrahim] dan Kami anugerahkan kepadanya keturunan yang shalih. Dan masing-masing dari keduanya mempunyai keistimewaan yang luar biasa.

Adapun Nuh as. adalah, ketika Allah menenggelamkan seluruh penghuni bumi kecuali orang-orang yang beriman kepadanya, dan mereka itulah yang menemaninya naik kapal, maka Allah menjadikan keturunannya sebagai orang-orang yang tetap hidup. Jadi seluruh manusia adalah berasal dari keturunannya. Adapun sang kekasih Allah, Ibrahim as., Allah tidak mengutus seorang Nabi pun kecuali dari keturunannya. Sebagaimana firman-Nya yang artinya:

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh dan Ibrahim dan Kami jadikan keturunan pada keduanya kenabian dan al-Kitab.” (al-Hadiid: 26)

Adapun firman-Nya dalam surah ini: wa min dzurriyyatiHi (“Dan kepada sebagian dari keturunannya”) maksudnya Kami beri petunjuk juga kepada sebagian keturunannya; daawuuda wa sulaimaan (“yaitu Dawud dan Sulaiman”)

Dhamir [kata ganti] dalam penggalan ayat tersebut kembali kepada Nuh, karena ia orang yang paling dekat di antara orang-orang yang secara lahiriyah disebutkan dalam ayat tersebut dan tidak ada permasalahan dalam hal itu, itulah yang menjadi pilihan Ibnu Jarir.

Penyebutan ‘Isa as. dalam keturunan Ibrahim atau Nuh menurut pendapat lain merupakan dalil yang menunjukkan masuknya anak laki-laki dari keturunan seorang perempuan termasuk dalam keturunan orang laki-laki, karena ‘Isa as. dinasabkan kepada Ibrahim as. melalui ibunya, Maryam, karena ‘Isa tidak mempunyai bapak. Oleh karena itu jika seorang laki-laki berwasiat kepada keturunannya, atau mewakafkan atau menghibahkan kepada mereka, maka cucu laki-laki dari anak perempuan masuk dalam kategori mereka. adapun jika seseorang memberi sesuatu kepada putra-putranya atau mewakafkan kepada mereka, maka dengan demikian, dikhususkan untuk anak laki-lakinya saja dan cucu laki-laki dari anak laki-lakinya saja. sedangkan yang lainnya berpendapat, bahwa cucu laki-laki dari anak perempuan termasuk juga dalam kategori mereka. hal itu sebagaimana disebutkan dalam Shahih al-Bukhari, bahwa Rasulullah saw. berkata kepada Hasan bin ‘Ali:

“Sesungguhnya anakku ini adalah sayyid. Mudah-mudahan dengannya Allah akan mendamaikan antara dua kelompok besar dari kalangan kaum Muslimin.”

Dengan demikian, Rasulullah saw. menyebut Hasan bin ‘Ali “anak”, hal itu menunjukkan masuknya Hasan ke dalam golongan anak.

Pendapat yang lain mengatakan, bahwa hal ini dibolehkan.

Firman Allah selanjutnya: wa min aabaa-iHim wa dzurriyyaatiHim wa ikhwaaniHim (“[dan Kami lebihkan pula derajat] sebagian dari bapak-bapak mereka, keturunan mereka, dan saudara-saudara mereka.”)

Allah menyebutkan pokok keturunan mereka, cabang, serta kerabat mereka, dan bahwa hidayah serta pemilihan [untuk menjadi Nabi] adalah mencakup mereka semua. oleh karena itu allah berfirman:

wajtabainaaHum wa HadainaaHum ilaa shiraathim mustaqiim (“Dan Kami telah memilih mereka [untuk menjadi Nabi-nabi dan Rasul-rasul] dan Kami menunjuki mereka ke jalan yang lurus.”)

dzaalika HudallaaHi yaHdii biHii may yasyaa-u min ‘ibaadiHi (“Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya.”) maksudnya hal itu diperoleh mereka karena taufiq dan hidayah Allah yang diberikan kepada mereka.

wa lau asyrakuu lahabitha ‘anHum maa kaanuu ya’maluun (“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.”) hal ini merupakan penekakan terhadap bahaya dan kejamnya pengaruh syirik. Sebagaimana firman-Nya yang artinya:

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada [Nabi-nabi] sebelummu: ‘Jika kamu mempersekutukan [Allah], niscaya akan hapuslah amalmu.’” (az-Zumar: 65). Yang demikian itu merupakan syarat, dan syarat tersebut [yaitu syirik] tidak mesti terjadi. Sebagaimana firman-Nya yang artinya:

“Katakanlah: ‘Jika benar Allah Yang Mahapemurah mempunyai anak, maka akulah [Muhammad] orang yang mula-mula memuliakan [anak itu].’” (az-Zukhruf: 81)

Ulaa-ikal ladiina aatainaaHumul kitaaba wal hukma wan nubuwwata (“Mereka itulah orang-orang yang telah Kami berikan kepad mereka Kitab, hikmah [pemahaman agama] dan kenabian.”)

Maksudnya Kami anugerahkan hal itu kepada mereka sebagai rahmat bagi para hamba dan sebagai kelembutan Kami bagi semua makhluk.

Fa iy yakfur biHaa (“Jika mengingkarinya”) yaitu kenabian itu. Mungkin juga dlamir itu kembali kepada ketiga hal itu: kitab, hikmah, dan kenabian.
Haa-ulaa-i (“orang-orang itu”) yakni penduduk Makkah. Hal itu dikatakan oleh Ibnu Abbas, Said bin al-Musayyab, adh-Dhahhak, Qatadah, as-Suddi dan yang lainnya.

Faqad wakkalnaa biHaa qaumal laisuu biHaa bikaafiriin (“Maka sesungguhnya Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang sekali-sekali tidak akan mengingkarinya.”) yaitu jika nikmat-nikmat itu diingkari oleh orang-orang Quraisy dan penduduk bumi lainnya baik dari bangsa Arab maupun bukan, dan juga Ahli Kitab, Yahudi dan Nasrani. Maka Kami telah menyerahkannya kepada kaum yang lain, yaitu kaum Muhajirin, Anshar dan para pengikutnya sampai hari kiamat.

Laisuu biHaa bikaafiriin (“kaum yang sekali-sekali tidak akan mengingkarinya”) maksudnya tidak mendustakannya sama sekali, serta tidak pula menolak satu huruf pun, tetapi mereka beriman kepadanya seluruhnya, baik yang muhkam maupun yang mutasyabih. Semoga Allah, dengan karunia, kemurahan, dan kebaikan-Nya, menjadikan kita termasuk golongan mereka.

Selanjutnya Allah berfirman, ditujukan kepada hamba dan Rasul-Nya, Muhammad saw: ulaa-ika (“Mereka itulah”) yaitu para Nabi yang disebutkan dalam ayat-ayat di atas beserta nenek moyang, keturunan, dan saudara-saudara mereka.

Alladziina HadallaaHu (“Orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah”) maksudnya, mereka itulah orang-orang yang memperoleh petunjuk dan bukan yang lainnya.

Fa biHudaa HumuqtadiH (“Maka ikutilah petunjuk mereka”) artinya, ikutilah jejak mereka. jika yang demikian itu merupakan perintah bagi Rasulullah saw., umatnya pun termasuk di dalamnya, yaitu mengenai syariat dan perintah yang diberikan kepadanya.

Berkenaan dengan ayat ini, al-Bukhari mengatakan, Sulaiman al-Ahwal memberitahukan kepadanya, Mujahid memberitahukannya, bahwa ia pernah bertanya kepada Ibnu Abbas: “Apakah dalam surah Shaad terdapat sujud [sujud tilawah]?” Maka ia menjawab, “Ya.” Kemudian Ibnu Abbas membaca firman-Nya: wa wahabnaa laHuu ishaaqa wa ya’quuba…. fa biHudaa HumuqtadiH (“Dan Kami telah menganugerahkan Ishaq dan Ya’qub kepadanya….. maka ikutilah petunjuk mereka”) selanjutnya Ibnu Abbas mengatakan: “Ia [Muhammad] termasuk dari mereka itu.”

Qul laa as-alukum ‘alaiHi ajran (“Katakanlah: ‘Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan [al-Qur’an].’”) maksudnya, aku tidak minta upah kepada kalian atas penyampaian al-Qur’an yang kulakukan terhadap kalian, bahkan aku sama sekali tidak meminta sesuatu pun dari kalian.

In Huwa illaa dzikraa lil ‘aalamiin (“al-Qur’an itu tidak lain hanyalah peringatan bagi segala umat.”) yakni mereka mengambil pelajaran dari al-Qur’an sehingga mereka bisa memperoleh petunjuk dari kebutaan menuju kepada hidayah, dari kesesatan menuju jalan petunjuk, dan dari kekufuran menuju kepada keimanan.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-An’am ayat 80-83

31 Jan

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-An’am (Binatang Ternak)
Surah Makkiyyah kecuali ayat: 20, 23, 91, 93, 114, 141, 151, 152, 153 Madaniyyah surah ke 6: 165 ayat

tulisan arab alquran surat al an'am ayat 80-83“80. dan Dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata: ‘Apakah kamu hendak membantah tentang Allah, Padahal Sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku.’ dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka Apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) ?’ 81. bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), Padahal kamu tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukanNya. Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak memperoleh keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui? 82. orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. 83. dan Itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha mengetahui.” (al-An’aam: 80-83)

Allah mengabarkan tentang kekasih-Nya, Ibrahim, ketika pendapatnya tentang ketauhidan dibantah oleh kaumnya dan mereka menyanggah dengan pendapat yang keliru, dimana ia berkata:

A tuhaajjuunnii fillaaHi wa qad Hadaan (“Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku.”) maksudnya kalian membantahku tentang Allah, sedang Allah tiada ilah [yang haq] selain Dia. Allah telah memperlihatkan kepadaku dan menunjukkanku kepada kebenaran, sedang aku berpegang pada penjelasan dari-Nya. Lalu bagaimana mungkin aku akan berpaling kepada pendapat kalian yang rusak dan keraguan kalian yang bathil.

Firman-nya: walaa akhaafu maa tusyrikuuna biHii illaa ay yasyaa-a rabbii syai-an (“Dan aku tidak takut kepada [malapetaka dari] ilah-ilah yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali dikala Rabbku menghendaki sesuatu [dari malapetaka] itu.”)

Maksudnya, di antara bukti kesalahan pendapat kalian itu adalah ilah-ilah yang kalian sembah itu tidak dapat memberikan pengaruh sama sekali dan aku tidak takut dan tidak pula mempedulikannya. Jika ia dapat melakukan tipu daya, biarlah ia memperdayaku. Jangan kalian tunda-tunda lagi, segerakanlah hal itu padaku.

Firman-Nya: illaa ay yasyaa-a rabbii syai-an (“kecuali di kala Rabbku menghendaki sesuatu [dari malapetaka] itu.”) yang demikian itu merupakan istisna’ munqathi’. Artinya tidak ada yang dapat memberikan mudlarat dan manfaat kecuali Allah.

Wasi’a rabbii kulli syai-in ‘ilman (“Pengetahuan Rabbku meliputi segala sesuatu”) maksudnya, ilmu Allah itu meliputi segala sesuatu, sehingga tidak ada yang tersembunyi dari-Nya.
A falaa tatadzakkaruun (“Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran [darinya]?”) yaitu dari berbagai hal yang telah kujelaskan kepada kalian. Tidakkah kalian mengetahui bahwa ilah-ilah itu adalah bathil, sehingga kalian terhindar dari peribadatan terhadapnya.

Firman Allah selanjutnya: wa kaifa akhaafu maa asyraktum (“Bagaimana aku takut kepada ilah-ilah yang kamu persekutukan [dengan Allah]?”) bagaimana mungkin aku akan takut kepada berhala-berhala yang kalian sembah selain Allah?

Wa laa takhaafuuna anna kum asyraktum billaaHi maa lam yunazzil biHii ‘alaikum sutlhaanan (“Padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan ilah-ilah yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukan-Nya.”)

Ibnu Abbas dan ulama salaf lainnya mengatakan: “Kata sulthaanan dalam penggalan ayat ini berarti hujjah.” Hal ini adalah sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Apakah mereka mempunyai ilah-ilah selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (asy-Syuura: 21)

Firman-Nya selanjutnya: fa ayyul fariiqaini a haqqu bil amni in kuntum ta’lamuun (“Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan [dari malapetaka], jika kamu mengetahui?”)

Maksudnya, kelompok manakah yang lebih benar: apakah kelompok yang beribadah kepada Allah yang di Tangan-Nya terdapat mudharat dan manfaat, ataukah yang beribadah kepada dzat yang tidak dapat memberikan mudlarat dan manfaat dan tanpa dalil ? Manakah di antara dua kelompok tersebut yang lebih aman dari adzab Allah yang tidak ada sekutu bagi-Nya pada hari kiamat kelak ?

Allah berfirman: alladziina aamanuu wa lam yalbisuu iimaanaHum bidhulmin ulaa-ika laHumul amnu wa Hum muHtaduun (“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kedhaliman [syirik], mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”)

Maksudnya, mereka itulah orang-orang yang mengikhlaskan ibadahnya hanya kepada Allah semata, yang tidak ada sekutu bagi-Nya, dan mereka juga tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, mereka itulah orang-orang yang pada hari kiamat kelak akan mendapat keamanan dan mendapatkan petunjuk di dunia dan akhirat.

Al-Bukhari berkata dari Abdullah, ia mengatakan: “Ketika turun ayat: alladziina aamanuu wa lam yalbisuu iimaanaHum bidhulmin (“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kedhaliman [syirik],”) maka para shahabat berkata: ‘Siapakah di antara kita yang tidak berbuat dhalim pada dirinya sendiri [berbuat dosa]?’ maka turunlah ayat: innasy-syirka ladhulmun ‘adhiim (“Sesungguhnya syirik itu benar-benar merupakan kedhaliman yang besar.”) (Luqman: 13).”

Firman-Nya selanjutnya: wa tilka hujjatunaa aatainaaHaa ibraaHiima ‘alaa qaumiHii (“Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya.”) maksudnya Kami arahkan hujjahnya untuk menghadapi mereka.

Mujahid dan ulama lainnya mengatakan: “Yang dimaksud dengan hal itu adalah firman-Nya: wa kaifa akhaafu maa asyraktum Wa laa takhaafuuna anna kum asyraktum billaaHi (“Bagaimana aku takut kepada ilah-ilah yang kamu persekutukan [dengan Allah]? Padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah.”)

wa tilka hujjatunaa aatainaaHaa ibraaHiima ‘alaa qaumiHii narfa’u darajaatim man nasyaa-u (“Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat.”)

Ayat di atas bisa dibaca dengan menggunakan idhafah dan bisa juga tidak menggunakannya, sebagaimana yang terdapat dalam surat Yusuf, da makna keduanya mempunyai kedekatan.”

Inna rabbaka hakiimun ‘aliim (“Sesungguhnya Rabbmu Mahabijaksana lagi Mahamengetahui.”) maksudnya, Dia Mahabijaksana dalam ucapan dan perbuatan-Nya. ‘Aliim (“Mahamengetahui”) maksudnya siapa-siapa yang diberi-Nya petunjuk dan siapa-siapa pula yang disesatkan-Nya.

&