Kubur Berbicara

31 Jan

At-Tadzkirah; Bekal Menghadapi Kehidupan Abadi;
Imam Syamsuddin al-Qurthubi

Kubur itu setiap hari berbicara, terutama kepada mayit saat dia dimasukkan ke dalamnya.

At-Tirmidzi telah meriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri ra, dia berkata: Pernah Rasulullah saw. masuk ke mushalla. Di sana beliau melihat beberapa orang sedang berbicara banyak-banyak. Maka beliau bersabda, “Adapun sesungguhnya, sekiranya kamu sekalian banyak mengingat si pemutus kelezatan, yakni mati, niscaya kamu takkan sempat melakukan seperti yang aku lihat. Maka perbanyaklah olehmu memutus segala kelezatan, yaitu mati. Karena sesungguhnya, tidak lewat seharipun, melainkan kubur itu berbicara mengenai dirinya, katanya, ‘Aku ini rumah pengasingan, aku ini rumah sepi, aku ini rumah debu, aku ini rumah cacing.’

Dan apa bila ada seseorang mukmin dikubur, maka dia berkata, ‘Selamat datang, marhaban wa ahlan! Ketahuilah, kamu adalah orang yang berjalan di permukaanku yang paling aku sukai. Maka, bila hari ini aku sudah menguasaimu, dan kamu telah kembali kepadaku, maka akan kamu lihat apa yang aku perbuat terhadap dirimu.’ Lalu kubur itu melapangkan diri untuknya sejauh mata memandang, dan membukakan untuknya pintu surga.

Dan apabila ada seorang jahat atau kafir dikubur, maka dia berkata: ‘Tidak ada ucapan selamat datang untukmu, laa marhaban wa laa ahlan! Ketahuilah, bahwa kamu adalah orang yang berjalan di permukaanku yang paling aku benci. Maka, bila hari ini aku telah menguasaimu, dan kamu telah kembali kepadaku, maka akan kamu lihat apa yang aku perbuat terhadap dirimu.’”

Rasulullah saw. melanjutkan: “Maka kubur itu menghimpitnya, sampai saling menangkup dan berantakanlah tulang-belulangnya.”

Perawi berkata, “Demikian kata Rasulullah saw. sambil menjalin jari-jarinya, yakni memasukkan yang satu kepada yang lain.”

Dan diriwayatkan beliau bersabda pula, “Allah mendatangkan untuk si kafir itu sembilan puluh ekor ular naga –atau sembilan puluh sembilan ekor-, andaikan seekor di antaranaya menyembur bumi, maka bumi takkan menumbuhkan apa-apa [gersang] sepanjang umur dunia. Ular itu menggigitnya terus-menerus sampai datangnya hari hisab.”

Dan diriwayatkan sabda Rasulullah saw. pula, “Sesungguhnya kuburan tidak lain adalah salah satu dari taman surga, atau salah satu lubang neraka.” (Dlaif al-Jami’ [1231]; Abu Isa berkata: hadits ini gharib)

Dan menurut riwayat Hannad bin as-Sirri, dari Hasan al-Ja’fi, dari Malik bin Mighwal, dari Abdullah bin Ubaid bin Umair, dia berkata, “Allah menjadikan kubur itu punya lidah yang dapat berbicara, maka dia berkata, ‘Hai anak Adam, kenapa kamu melupakan aku? Tidak tahukah kamu, bahwa aku adalah rumah cacing, rumah sepi dan rumah sunyai?” (Shahih Maqthu’: disebutkan dalam at-Tahrir al-Murrasakh [423], dinisbatkan kepada Ibnu Abi ad-Dun-ya)

Hannad berkata pula: telah menceritakan kepada kami, Waki’, dari Malik bin Mighwal, dari Abdullah bin Ubaid bin Umair, dia berkata, “Sesungguhnya kubur itu benar-benar menangis, dan dalam tangisnya dia berkata, ‘Aku rumah sunyi, aku rumah sepi, aku rumah cacing.” (Shahih Maqthu’: disebutkan dalam at-Tahrir al-Murrasakh [423], dinisbatkan kepada Ibnu Abi ad-Dun-ya)

Dan menurut riwayat Umar bin Abdul Barr menyebutkan, Yahya bin Jabir ath-Tha’i telah meriwayatkan dari Ibnu A’idz al-Uzdi, dari Ghudhaif bin al-Harits, dia berkata: Saya pernah datang ke Baitul Maqdis bersama Abdullah bin Ubaid bin Umair, dia berkata: Maka duduklah kami ke dekat Abdullah bin Amr bin al-Ash. Saya dengar dia berkata: “Sesungguhnya kubur itu berbicara kepada manusia manakala dia dimasukkan ke dalamnya, katanya, ‘Hai anak Adam, apakah yang telah memperdayakan kamu sehingga tidak mengingat aku? Tidak tahukah kamu, bahwa aku adalah rumah sepi? Tidak tahukah kamu bahwa aku adalah rumah gelap? Tidak tahukah kamu bahwa aku adalah rumah kebenaran? Hai anak Adam, apakah yang telah memperdayamu sehingga tidak mengingat aku? Kamu benar-benar berjalan di sekitarku dengan sikap congkak.’”

Ibnu A’idz berkata: Saya pernah bertanya kepada Ghudhaif, “Apa yang dimaksud faddaad [congkak] hai Abu Ismail?” maka dia jawab, “Seperti sikap sebagian kamu ketika berjalan, hai kemenakanku.”

Lalu seorang temanku –dia lebih tua dariku- bertanya kepada Abdullah bin Amr, “Bagaimana kalau yang masuk kubur itu seorang mukmin?” Dia jawab, “Kuburannya dilapangkan, tempat tinggalnya dihijaukan, dan rohnya dinaikkan ke langit.” (Demikian disebutkan oleh Abu Umar bin Abdul Barr dalam kitabnya, at-Tamhid; disebutkan oleh Ibnu Thulun dalam at-Tahrir al-Murasakh [424] dan dinisbatkan kepada Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf)

Dan disebutkan pula oleh Abu Muhammad Abdul Haq dalam kitabnya, al-Aqibah, dari Abu al-Hajjaj ats-Tsumali, dia berkata: Sabda Rasulullah saw., “Kubur akan berkata kepada mayit, manakala dia dimasukkan ke dalamnya, ‘Celaka kamu, hai anak Adam, apa yang memperdayakan kamu sehingga tidak mengingatku? Tidak tahukah kamu, bahwa aku adalah rumah bencana, rumah kegelapan, dan rumah cacing? Apa yang telah memperdayakan kamu ketika melewati aku dulu dengan congkak?’”

Rasulullah bersabda, “Jika yang masuk kubur orang shalih, maka kata-kata kubur itu dijawab oleh seseorang [malaikat] disana, katanya, ‘Tidakkah kamu tahu, bahwa dia termasuk mereka yang beramar makruf nahi munkar?’

Maka kubur itu berkata, ‘Kalau begitu, aku benar-benar akan menjadi hijau kembali untuknya, sedang badannya akan kembali menjadi bercahaya, dan rohnya akan naik kepada Rabbul ‘Aalamiin.”

Hadits ini disebutkan oleh Abu Ahmad al-Hakim dalam kitab al-Kuna. Dan disebutkan pula oleh Qasim bin Ashbugh, seraya dia katakan, “Abu Hajjaj ditanya, ‘Apa yang dimaksud dengan faddaad [congkak]?’ dia jawab, ‘Orang yang memajukan satu kaki dan mengundurkan yang lain.’ Maksudnya orang itu berjalan dengan sombong. (Dlaif: menurut al-Haitsami dalam al-Majma’, hadits ini diriwayatkan oleh Abu Ya’la dan at-Thabrani dalam al-Kabir, dimana terdapat Abu Bakar bin Maryam, seorang yang dlaif karena kekacauan pikiran.)

Ibnul Mubarak menyebutkan, katanya: Telah mengabarkan kepada kami, Daud bin Naqid, dari Abdullah bin Ubaid bin Umair berkata, telah sampai kepadaku berita, bahwa mayit itu duduk dalam lubang kuburnya, sambil mendengarkan langkah cepat para pengantarnya. Tidak ada sesuatu yang berbicara kepadanya sejak pertama kali lubang kubur itu ditimbun. Namun tiba-tiba lubang itu berkata, “Kasihan kamu hai anak Adam, kamu telah diperingatkan tentang aku, dan diperingatkan tentang betapa sempitnya aku, gelapnya aku, busuknya aku, dan mengerikannya aku. Inilah yang aku persiapkan untukmu, lalu apa yang telah kamu persiapkan untukku?” (Shahih Maqthu’)

Adapun arti “wakhth” dan “wakhdz” adalah langkah cepat dalam perjalanan.

Sufyan ats-Tsauri berkata, “Barangsiapa banyak mengingat kubutr, dia akan mendapatinya menjadi salah satu taman surga. Dan barangsiapa lalai dari mengingat kubur, dia akan mendapatinya menjadi salah satu lubang neraka.”

Ahmad bin Harb berkata, “Bumi terheran-heran melihat orang yang menjadikannya sebagai alas berbaring, dan menggelar kasur di atasnya untuk tidur. Maka dia katakan kepadanya, ‘Hai anak Adam, tidakkah kamu ingat kelak kamu akan tidur lama dalam perutku, dimana tidak ada satupun penghalang antara aku dan kamu?’”

Ada seorang ahli zuhud ditanya, “Apakah nasehat yang paling jitu?” dia jawab, “Melihat tempat orang-orang mati.” Maka betapa indah apa yang pernah dikatakan Abu al-Atahiyah:

Kubur-kubur bisu menasehatimu,
Waktu-waktu lalu menerangimu.
Mereka bicara wajah-wajah yang kini telah punah,
Dan paras-paras beku tiada gerak bagai batu.
Mereka cerminkan kepadamu, dirimu dalam kubur,
Padahal kamu masih hidup, dan belum mati terbujur.

Dan diriwayatkan dari al-Hasan al-Bashri, bahwa dia berkata, “Pernah saya berada di belakang suatu jenazah. Saya ikuti dia sampai ke lubang kuburnya. Tiba-tiba seorang perempuan berseru, “Hai ahli kubur, andaikan kalian tahu siapa orang yang dipindahkan kepadamu, niscaya kalian tolak.”

Lalu aku mendengar suara dari dalam lubang kubur berkata, “Demi Allah, dia dipindahkan kepada kami benar-benar membawa dosa-dosa seperti gunung. Tapi aku telah diizinkan memakannya sampai remuk.”

Maka jenazah itu bergerak-gerak di atas keranda, dan al-Hasan sendiri jatuh pingsan.

&

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: