Arsip | 01.27

Mewarnai Gambar Kapal Laut 5 Anak Muslim

7 Feb

Mewarnai Gambar Islami Untuk Anak Muslim
Untuk Kreatifitas dengan Mewarnai Gambar
alquranmulia.wordpress.com

Mewarnai gambar kapal laut 5 anak muslim

Iklan

Mewarnai Gambar Pesawat Terbang 34 Anak Muslim

7 Feb

Mewarnai Gambar Islami Untuk Anak Muslim
Untuk Kreatifitas dengan Mewarnai Gambar
alquranmulia.wordpress.com

Mewarnai gambar pesawat terbang34 anak muslim

Mewarnai Gambar Benda Bulan Bintang Anak Musliim

7 Feb

Mewarnai Gambar Islami Untuk Anak Muslim
Untuk Kreatifitas dengan Mewarnai Gambar
alquranmulia.wordpress.com

Mewarnai gambar bulan-bintang anak muslim

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nisaa’ ayat 35

7 Feb

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nisaa’ (Wanita)
Surah Madaniyyah; surah ke 4: 176 ayat

tulisan arab alquran surat an nisaa' ayat 35“Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki, dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui lagi Mahamengenal.” (QS. an-Nisaa’: 35)

Allah menyebutkan keadaan pertama, yaitu, jika terdapat ketidakcocokan dan pembangkangan dari isteri (pada ayat sebelumnya). Kemudian menyebutkan kasus kedua, yaitu jika ketidak cocokan muncul dari keduanya (suami isteri).

Allah berfirman: wa in khiftum syiqaaqa bainiHimaa fab’atsuu hakamam min aHliHii wa hakaman min aHliHaa (“Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam (pendamai/penengah) dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan.”)

Para fuqaha (ulama ahli fiqih) berkata, jika terjadi persengketaan di antara suami isteri, maka didamaikan oleh hakim sebagai pihak penengah, meneliti kasus keduanya dan mencegah orang yang berbuat zhalim dari keduanya dari perbuatan zhalim. Jika perkaranya tetap berlanjut dan persengketaannya semakin panjang, maka hakim dapat mengutus seseorang yang dipercaya dari keluarga wanita dan keluarga laki-laki untuk berembug dan meneliti masalahnya, serta melakukan tindakan yang mengandung maslahat bagi keduanya berupa perceraian atau berdamai.

Dan syariat menganjurkan untuk berdamai, untuk itu Allah berfirman: iy yuriidaa ish-laahay yuwafiqillaaHu bainaHumaa (“Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu.”)

Ali bin Abi Thalhah mengatakan dari Ibnu`Abbas: “Allah memerintahkan mereka untuk mengutus seorang laki-laki yang shalih (terpercaya) dari pihak keluarga laki-laki, dan seorang yang sama dari pihak keluarga wanita, untuk meneliti siapa di antara keduanya yang berlaku buruk. Jika sang suami yang melakukan keburukan, maka mereka dapat melindungi sang isteri dan membatasi kewajibannya dalam memberi nafkah. Jika seorang isteri yang melakukan keburukan, maka mereka dapat mengurangi haknya dari suami dan menahan nafkah yang diberikan kepadanya. Jika, keduanya sepakat untuk bercerai atau menyatu kembali, maka boleh saja perkara itu ditetapkan. Jika keduanya berpendapat untuk disatukan kembali, lalu salah satu suami isteri itu ridha, sedangkan yang lain tidak suka, kemudian salah satunya mati, maka yang meridhainya dapat waris dari yang tidak meridhai. Sedangkan yang tidak suka tidak dapat waris dari yang ridha.” (HR. Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Jarir).

Syaikh Abu `Umar bin `Abdil Barr berkata, para ulama sepakat bahwa, apabila terjadi perbedaan pendapat di antara kedua hakam tersebut, maka pendapat yang lain tidak berlaku. Dan para ulama pun sepakat bahwa pendapat keduanya untuk menyatukan kembali harus dilaksanakan sekalipun suami isteri tak mewakilkan. Akan tetapi mereka berbeda pendapat apakah pendapat kedua hakam tentang perceraian harus dilaksanakan pula. Dihikayatkan dari jumhur ulama bahwa pendapat itu wajib pula dilaksanakan walaupun tanpa penyerahan perwakilan.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nisaa’ ayat 34

7 Feb

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nisaa’ (Wanita)
Surah Madaniyyah; surah ke 4: 176 ayat

tulisan arab alquran surat an nisaa' ayat 34“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain(wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebahagian dari harta mereka. Sebab itu, maka wanita yang shalih, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuz-nya, maka nasehatilah mereka dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Mahatinggi lagi Mababesar.” (QS. an-Nisaa’: 34)

Allah berfirman: ar riajaalu qawwaamuuna ‘alan nisaa-i (“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita.”) Yaitu laki-laki adalah pemimpin kaum wanita dalam arti pemimpin, kepala, hakim dan pendidik wanita, jika ia menyimpang; bimaa fadl-dlalallaaHu ba’dlaHum ‘alaa ba’dlin (“Oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka [laki-laki] atas sebahagian yang lain [wanita].”)

Yaitu karena laki-laki lebih utama dari wanita dan laki-laki lebih baik daripada wanita. Karena itu, kenabian dikhususkan untuk laki-laki. Begitu pula raja (Presiden), berdasarkan sabda Rasulullah: “Tidak akan pernah beruntung suatu kaum yang mengangkat wanita (sebagai pemimpin) dalam urusan mereka.” (HR. Al-Bukhari).

Begitu pula dengan jabatan kehakiman dan lain-lain.

Wa bimaa anfaquu min amwaaliHim (“Dan karena mereka telah menafkahkan sebagian harta mereka.”) Yang berupa mahar, nafkah dan berbagai tanggung jawab yang diwajibkan Allah kepada mereka dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Maka, laki-laki lebih utama dari wanita dalam hal jiwanya dan laki-laki memiliki keutamaan dan kelebihan sehingga cocok menjadi penanggung jawab atas wanita, sebagaimana firman Allah: “Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya.”(QS. Al-Baqarah: 228)

`Ali bin Abi Thalhah menceritakan dari Ibnu `Abbas tentang: ar riajaalu qawwaamuuna ‘alan nisaa-i (“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita.”) Yaitu, pemimpin-pemimpin atas wanita yang harus ditaati sesuai perintah Allah untuk mentaatinya. Dan ketaatan padanya adalah berbuat baik terhadap keluarganya dan memelihara hartanya. Demikian pendapat Muqatil, as-Suddi dan adh-Dhahhak.

Asy-Sya’bi berkata tentan ayat ini: ar riajaalu qawwaamuuna ‘alan nisaa-i bimaa fadl-dlalallaaHu ba’dlaHum ‘alaa ba’dliw Wa bimaa anfaquu min amwaaliHim (“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka [laki-laki] atas sebahagian yang lain [wanita], dan karena mereka [laki-laki] telah menafkahkan sebahagian harta mereka.”) Yaitu, berupa mahar suami kepada isterinya. Apakah tidak engkau lihat seandainya suami menuduh isterinya berzina, maka terjadilah li’an. Dan jika si isteri yang menuduhnya, maka dikenakan hukum jild (cambuk).”

(Li’an menurut bahasa, kutuk-mengutuk. Menurut syara’: menuduh isteri berzina. Lihat surat an-Nuur, ayat 6-10)

Firman Allah: fash shaalihaatu (“Maka orang-orang shalih,”) maksudnya, dari kaum wanita. Qaanitaatun (“Yang taat.”) Ibnu `Abbas dan banyak ulama berkata, artinya wanita-wanita yang taat pada suaminya. Haafidhaatul lilghaibi (“Lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada.”) As-Suddi dan ulama yang lain berkata: “Yaitu wanita yang menjaga suaminya di waktu tidak ada (di samping-nya) dengan menjaga dirinya sendiri dan harta suaminya.”

Firman Allah: bimaa hafidhallaaHu (“Oleh karena Allah telah memelihara mereka.”) Yaitu, orang yang terpelihara adalah orang yang dijaga oleh Allah.

Imam Ahmad meriwayatkan, dari `Abdullah bin Abu Ja’far, Ibnu Qaridz mengabarkan kepadanya bahwa `Abdurrahman bin `Auf berkata, Rasulullah saw. bersabda: “
“Apabila seorang wanita menjaga shalat yang lima waktu, puasa Ramadhannya, menjaga farjinya (kemaluannya) dan mentaati suaminya, niscaya akan dikatakan kepadanya; ‘Masuklah ke dal am jannah (Surga) dari pintu mana saja yang kamu kehendaki.’”
Hanya Ahmad yang meriwayatkan dari jalan`Abdullah bin Qaridzdari `Abdurrahman bin `Auf.

Firman Allah: wal laatii takhaafuuna nusyuuzaHunna (“Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya.”) Yaitu, wanita-wanita yang kalian khawatirkan nusyuznya kepada suami mereka. An-Nusyuz adalah merasa lebih tinggi. Berarti wanita yang nusyuz adalah wanita yang merasa tinggi di atas suami-nya dengan meninggalkan perintahnya, berpaling dan membencinya. Kapansaja tanda-tanda nusyuz itu timbul, maka nasehatilah dia dan takut-takutilah dengan siksa Allah, jika maksiat kepada suaminya. Karena Allah telah mewajibkan hak suami atas isteri, dengan ketaatan isteri kepada suami, serta mengharamkan maksiat kepadanya, karena keutamaan dan kelebihan yang dimiliki suami atas isteri.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Apabila seorang suami mengajak isterinya ke pembaringan, lalu ia tidak mau, maka para Malaikat akan melaknatnya sampai pagi.” (HR. Muslim).

Karena itu Allah berfirman: wal laatii takhaafuuna nusyuuzaHunna fa-‘idhuHunna (“Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka.”)

Sedangkan firman Allah: waHjuruuHunna fil madlaaji’i (“Dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka”) `Ali bin Abi Thalhah menceritakan dari Ibnu`Abbas: “Al-hajru yaitu tidak menjima’ (menyetubuhi) dan tidak tidur dengan dia di atas pembaringannya, serta berupaya membelakanginya.”

Demikianlah yang dikatakan banyak ulama, sedangkan ulama lain seperti as-Suddi, adh-Dhahhak, `Ikrimah dan Ibnu `Abbas dalam satu riwayatnya menambahkan: “Tidak berbicara dan tidak bercengkrama.” `Ali bin Abi Thalhah pun menceritakan dari Ibnu `Abbas: “Yaitu, hendaklah ia nasehati, jika ia terima. Jika tidak, hendaklah ia pisahkan tempat tidurnya dan tidak berbicara dengannya tanpa terjadi perceraian. Dan hal tersebut sudah pasti memberatkannya.”

Abu Dawud meriwayatkan dari Abu Murrah ar-Raqqasyi dari paman-nya, bahwa Nabi saw. bersabda: “Jika kalian khawatir nusyuznya mereka para isteri, maka berpisahlah dari tempat tidurnya.” Hammad berkata: “Yaitu, (tidak) menggaulinya (menyetubuhinya).”

Di dalam Sunan dan Musnad, dari Mu’awiyah bin Haidah al-Qusyairi bahwa ia berkata: “Ya Rasulullah, Apakah hak isteri atas suaminya?” Beliau menjawab: “Hendaklah engkau memberinya makan jika engkau makan, memberinya pakaian jika engkau berpakaian, jangan memukul wajah, jangan mencelanya dan jangan pisah ranjang kecuali di dalam rumah.”

Firman-Nya: wadl-ribuuHunna (“pukullah mereka”) yaitu jika nasehat dan pemisahan tempat tidur tidak menggentarkannya, maka kalian boleh memukulnya dengan tidak melukai. Sebagaimana hadits dalam Shahih Muslim dari Jabir, bahwa Nabi dalam Haji Wada’ bersabda: “Bertakwalah kepada Allah tentang wanita, sesungguhnya mereka adalah pendamping kalian, kalian mempunyai hak terhadap mereka. Yaitu, mereka tidak boleh membiarkan seorangpun yang kalian benci menginjak hamparan kalian (masuk ke rumah kalian). Jika mereka melakukannya, pukullah mereka dengan pukulan yang tidak melukai dan mereka memiliki hak untuk mendapatkan rizki dan pakaian dengan cara yang ma’ruf.”

Ibnu `Abbas dan ulama-ulama lain berkata: “Yaitu pukulan yang tidak melukai.” Al-Hasan al-Bashri berkata: “Yaitu, (pukulan yang) tidak meninggalkan bekas.” Para fuqaha berkata: “Yaitu tidak melukai anggota badan dan tidak meninggalkan bekas sedikitpun.” `Ali bin Abi Thalhah mengatakan dari Ibnu`Abbas: “Yaitu, memisahkannya dari tempat tidur, jika ia terima. Jika tidak, Allah mengizinkanmu untuk memukulnya, dengan pukulan yang tidak mencederai dan tidak melukai tulang, jika ia terima. Dan jika tidak juga, maka Allah menghalalkanmu untuk mendapatkan tebusan darinya.”

Sufyan bin `Uyainah mengatakan dari Iyas bin `Abdullah bin Abu Dzu-ab, ia berkata, Nabi bersabda: “Janganlah kalian memukul isteri-isteri kalian.” Lalu datanglah `Umar ra. kepada Rasulullah dan berkata: “Para wanita mulai membangkang kepada suami-suaminya. Maka Rasulullah memberikan rukhshah (keringanan hukum) untuk memukul mereka.

Lalu datanglah banyak wanita kepada isteri-isteri Rasulullah saw, mengadukan tentang pemukulan suami mereka. Maka bersabdalah Rasulullah saw: “Sungguh banyak wanita yang berdatangan kepada isteri-isteri Muhammad, mengadukan tentang pemukulan suami mereka. Mereka itu bukanlah yang terbaik di antara kalian”. Hadits ini riwayat Abu Dawud, an-Nasa’i dan Ibnu Majah.

Firman Allah: fa in atha’nakum falaa tabghuu ‘alaiHinna sabiilan (“Jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya.”) Yaitu jika isteri mentaati suaminya dalam semua kehendak yang dibolehkan oleh Allah, maka tidak boleh mencari-cari jalan lain setelah itu, serta tidak boleh memukul dan menjauhi tempat tidurnya.”

Firman-Nya: innallaaHa kaana ‘aliyyan kabiiran (“Sesungguhnya Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.”) (Hal ini) adalah ancaman untuk laki-laki, jika mereka berbuat zhalim kepada para isteri tanpa sebab, maka Allah Mahatinggi lagi Mahabesar. Allah yang akan menjaga mereka dan Allah akan menghukum orang yang berbuat zhalim kepada mereka.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nisaa’ ayat 33

7 Feb

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nisaa’ (Wanita)
Surah Madaniyyah; surah ke 4: 176 ayat

tulisan arab alquran surat an nisaa' ayat 33“Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib kerabat, Kami jadikan pewaris pewarisnya. Dan (jika ada) orang-orang yang kamu telah bersumpah setia dengan mereka, maka berilah kepada mereka bahagiannya. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu.” (QS. an-Nisaa’: 33)

Ibnu `Abbas, Mujahid, Sa’id bin Jubair, Abu Shalih, Qatadah, Zaid bin Aslam, as-Suddi, adh-Dhahhak, Muqatil bin Hayyan dan yang lainnya berkata tentang firman-Nya: wa likullin ja’alnaa mawaaliya (“Bagi tiap-tiap [harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib-kerabatnya] Kami jadikan mawali.”) Yaitu, ahli waris.

Dalam satu riwayat dari Ibnu `Abbas, artinya adalah `ashabah (`Ashabah: Jamak dari `ashab, yaitu saudara-saudara atau keluarga yang mendapat bagian harta secara tidak tertentu kadarnya, hanya mendapatkan mana yang tersisa dari yang diambil oleh`ashabah furudh [yang mendapat bagian secara pasti])

IbnuJarir berkata: “Orang Arab menamakan anak paman dengan maula, sebagaimana perkataan al-Fadhl bin `Abbas:
Tenanglah wahai anak paman kami, tenanglah dan maula maula kami.
Janganlah sekali-kali tampak di antara kita sesuatu yang terpendam diantara kita.”

Ibnu Jarir berkata: “Yang dimaksud dengan firman Allah Ta’ala: mimmaa tarakal waalidaani wal aqrabuun; adalah dari warisan peninggalan kedua orang tua dan kerabat-kerabatnya, maka tafsirnya adalah bagi setiap kalian hai manusia, kami jadikan `ashabah yang akan mewarisi dari peninggalan kedua orang tua dan kerabat-kerabat ahlinya dari harta peninggalannya.

Firman Allah: wal ladziina ‘aqadat aimaanukum fa aatuuHum nashiibaHum (“Dan [jika ada] orang-orang yang kamu telah bersumpah setia dengan mereka, maka berilah kepada mereka bahagiannya.”) Yaitu, orang-orang yang telah bersumpah setia antara kamu dan mereka, maka berikanlah bagian waris mereka sebagaimana yang telah kamu janjikan dalam sumpah setia tersebut. Sesungguhnya Allah menjadi saksi di antara kalian dalam berbagai kontrak dan perjanjian tersebut. Hal ini berlaku di masa permulaan Islam, kemudian setelah itu dibatalkan dan mereka diperintahkan untuk menunaikan hak orang-orang yang telah sepakat melakukan suatu akad serta tidak melupakannya, setelah turun ayat ini.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu `Abbas: wa likullin ja’alnaa mawaaliya (“Bagi tiap-tiap [harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib-kerabatnya] Kami jadikan mawali.”) yaitu, ahli waris.

wal ladziina ‘aqadat aimaanukum (“Dan orang-orang yang kamu telah bersumpah setia dengan mereka.”) Dahulu, kaum Muhajirin ketika datang ke Madinah, mereka mewarisi kaum Anshar tanpa ikatan kerabat, tetapi karena ukhuwwah dimana Nabi saw. pernah mempersaudarakan antara Quraisy dan Anshar. Maka ketika turun ayat, maka dibatalkan/dihapus. Kemudian Ibnu `Abbas berkata tentang ayat ini:
wal ladziina ‘aqadat aimaanukum fa aatuuHum nashiibaHum (“Dan [jika ada] orang-orang yang kamu telah bersumpah setia dengan mereka, maka berilah kepada mereka bahagiannya.”) berupa pertolongan, bantuan dan nasehat. Sedangkan kewarisannya telah hilang (karena hukumnya telah dinasakh atau dibatalkan) dan hendaknya memberikan wasiat kepadanya. Lalu, hal itu (wasiat) dibatalkan oleh ayat yang artinya:
“Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam kitab Allah.” (QS. Al-Anfaal: 75)

Diriwayatkan dari Sa’id bin Jubair, Mujahid, `Atha’, al-Hasan, Ibnul Musayyab, Abu Shalih, Sulaiman bin Yasar, asy-Sya’bi, `Ikrimah, as-Suddi, adh-Dhahhak, Qatadah dan Muqatil bin Hayyan, bahwa mereka berkata: “Mereka itu adalah orang-orang yang bersumpah setia.”

Imam Ahmad meriwayatkan dari Sa’id bin Ibrahim, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Tidak ada sumpah setia dalam Islam dan sumpah setia apapun yang ada pada masa Jahiliyyah, maka Islam tidak menambahkan apapun kepadanya, melainkan hanya memberatkan.” Demikianlah riwayat Muslim dan an-Nasa’i.

Pendapat yang benar adalah bahwa pada permulaan Islam, mereka saling waris-mewarisi berdasarkan janji sumpah setia, kemudian dinasakh (dihapus). Sedangkan pengaruh sumpah tetap diberlakukan, sekalipun mereka diperintahkan untuk memenuhi berbagai perjanjian, kontrak dan sumpah setia yang dahulu mereka ikrarkan. Dan pada hadits Jubair bin Muth’im yang lalu dijelaskan bahwa, “Tidak ada sumpah setia dalam Islam, dan sumpah setia apapun yang ada pada masa Jahiliyyah, maka Islam tidak menambah apa-pun kepadanya, malainkan hanya memberatkan.”

Hal ini merupakan nash yang menolak pendapat yang mengatakan masih berlakunya waris-mewarisi atas dasar sumpah setia pada hari ini, sebagaimana pendapat madzhab Abu Hanifah dan para pengikutnya serta satu riwayat pendapat dari Ahmad bin Hanbal. Pendapat yang benar adalah pendapat Jumhur (mayoritas) ulama, serta Imam Malik, Imam asy-Syafi’i dan berdasarkan pendapat yang terkenal dari Imam Ahmad.

Untuk itu, Allah berfirman: wa likullin ja’alnaa mawaaliya mimmaa tarakal waalidaani wal aqrabuun (“Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu-bapak dan karib kerabat, Kami jadikan pewaris-pewarisnya.”) Yaitu, ahli waris dari kerabat dekat dari kedua orang tua dan para kerabat keduanya. Mereka itu mewarisinya tanpa orang-orang yang lain. Di dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari Ibnu `Abbas, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Berikanlah fara-idh (bagian-bagian waris) kepada yang berhak atau pemilik-nya (ahlinya). Apa yang tersisa, maka untuk laki-laki yang lebih utama.”

Artinya, berikanlah oleh kalian harta warisan itu kepada para penerima waris yang telah disebutkan Allah dalam dua ayat fara-idh. Apa yang tersisa setelah itu, maka berikanlah kepada `ashabah.

Firman Allah: wal ladziina ‘aqadat aimaanukum (“Dan [jika ada] orang-orang yang kamu telah bersumpah setia dengan mereka.”) Sebelum turun ayat ini, berikanlah bagian mereka dari harta warisan. Sedang sumpah setia apa saja yang dilakukan setelah itu, tidak akan ada pengaruhnya.

Satu pendapat mengatakan bahwa ayat ini membatalkan berbagai sumpah setia yang ada pada masa yang akan datang, serta hukum sumpah setia yang telah dilakukan pada masa yang lalu, sehingga tidak ada lagi saling waris-mewarisi dengan sumpah mereka.

Sebagaimana Ibnu Abi Hatim meniwayatkan dari Ibnu `Abbas, ia berkata: fa atuuHum nashiibaHum (“Maka berilah kepada mereka bagiannya.”) Yaitu; pertolongan, nasehat, pembelaan dan wasiat. Dan telah hilang kewarisannya.” (HR. IbnuJarir).

Demikian pula diriwayatkan hadits serupa, dari Mujahid dan Abu Malik.`Ali bin Abi Thalhah menceritakan dari Ibnu `Abbas, ia berkata: “Firman Allah: wal ladziina ‘aqadat aimaanukum (“Dan [jika ada] orang-orang yang kamu telah bersumpah setia dengan mereka.”) Yaitu, seorang yang mengikat sumpah setia dengan seseorang, dimana jika salah satu mati, yang lain akan mendapatkan warisannya, maka Allah menurunkan Ayat: “Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam kitab Allah daripada orang-orang mukmin dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu mau berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama).” (QS. Al-Ahzab: 6 )

Beliau (Ibnu `Abbas) pun berkata: “Kecuali jika kalian berwasiat, maka hal itu dibolehkan bagi mereka dari 1/3 harta. Inilah yang dikatakan berbuat baik (ma’ruf)”

Demikian pula yang ditetapkan oleh banyak ulama Salaf bahwa ayat tersebut dinasakh (dihapus hukumnya) oleh firman Allah: “Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebib berhak (waris-mewarisi) di dalam kitab Allah daripada orang-orang mukmin dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu mau berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama).” (QS. A1-Ahzab: 6). Maka di antara sumpah setia adalah perjanjian untuk saling menolong dan membantu, juga di antaranya perjanjian untuk waris-mewarisi, sebagaimana diriwayatkan oleh banyak ulama Salaf. WallaHu a’lam.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nisaa’ ayat 32

7 Feb

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nisaa’ (Wanita)
Surah Madaniyyah; surah ke 4: 176 ayat

tulisan arab alquran surat an nisaa' ayat 32“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagianmu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi oranglaki-laki ada bahagian daripada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui segala sesuatu.” (QS. an-Nisaa’: 32)

Imam Ahmad meriwayatkan dari Mujahid, ia berkata, Ummu Salamah berkata: “Wahai Rasulullah! Kaum laki-laki dapat ikut serta berperang, sedangkan kami tidak diikutsertakan berperang dan hanya mendapat setengah bagian warisan.” Maka Allah menurunkan: walaa tamannau fadl-dlalallaaHu biHii ba’dlakum ‘alaa ba’dlin (“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagianmu lebih banyak dari sebahagian yang lain.”).” (HR. At-Tirmidzi).

`Ali bin Abi Thalhah menceritakan dari Ibnu `Abbas tentang ayat ini, ia berkata: “Hendaklah laki-laki tidak berkhayal, dan ia berkata: ‘Seandainya aku memiliki harta si fulan dan keluarganya.’ (Maka Allah melarang hal itu), akan tetapi (hendaklah) ia memohon kepada Allah swt. dari karunia-Nya. Al-Hasan, Muhammad bin Sirin, `Atha’ dan adh-Dhahhak juga berkata demikian. Itulah makna yang tampak dari ayat ini. Hal ini tidak menolak hadits yang terdapat dalam hadits shahih: “Tidak boleh iri hati, kecuali dalam dua hal; (diantaranya) terhadap seseorang yang diberikan harta oleh Allah, lalu dihabiskan penggunaannya dalam kebenaran, lalu seseorang berkata: ‘Seandainya aku memiliki harta seperti sifulan, niscaya aku akan beramal sepertinya.’ Maka pahala keduanya adalah sama.”

Sesungguhnya hal tersebut bukanlah sesuatu yang dilarang oleh ayat. Di mana hadits itu menganjurkan untuk berharap mendapatkan nikmat seperti yang dimiliki oleh orang itu, sedangkan ayat tersebut melarang berharap mendapatkan pengkhususan nikmat tersebut.

Allah berfirman: walaa tamannau fadl-dlalallaaHu biHii ba’dlakum ‘alaa ba’dlin (“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagianmu lebih banyak dari sebahagian yang lain.”) Yaitu dalam perkara dunia dan agama berdasarkan hadits Ummu Salamah dan Ibnu `Abbas. Demikian pula, Ibnu Abi Rabah berkata: “Ayat ini turun berkenaan dengan larangan iri hati terhadap apa yang dimiliki seseorang, dan juga iri hati wanita untuk menjadi laki-laki, lalu mereka akan berperang.” (HR. Ibnu Jarir).

Kemudian firman-Nya: lir rijaalin nashiibum mimmaktasabuu wa lin nisaa-i nashiibumm mimmaktasabn (“[Karena] bagi orang laki-laki ada bahagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi para wanita [pun] ada bahagian dari apa yang mereka usahakan.”) Yaitu, masing-masing mendapatkan pahala sesuai dengan amal yang dilakukannya. Jika amalnya baik, maka pahalanya adalah kebaikan dan jika amalnya jelek maka balasannya adalah kejelekan pula. Inilah pendapat Ibnu Jarir.

Kemudian Allah mengarahkan mereka pada sesuatu yang memberikan maslahat (kebaikan) bagi mereka dengan firman-Nya: was-alullaaHa min fadl-liHii (“Dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya.”) Janganlah kalian iri hati terhadap apa yang telah Kami karuniakan kepada sebagian kalian, karena hal ini merupakan suatu keputusan. Dalam arti bahwa iri hati tidak merubah sesuatu apapun. Akan tetapi mohonlah kalian kepada-Ku sebagian dari karunia-Ku, niscaya Aku akan berikan pada kalian. Sesungguhnya Aku Mahapemurah lagi Mahapemberi.

Kemudian Allah berfirman: innallaaHa kaana bikulli syai-in ‘aliiman (“Sesungguhnya Allah Mahamengetahui segala sesuatu.”) Yaitu, Allah Mahamengetahui siapa yang berhak memperoleh dunia maka Dia akan memberikan kepadanya, siapa yang berhak fakir maka Dia akan memfakirkannya. Dan Allah pun Mahamengetahui siapa yang berhak memperoleh akhirat, maka Ia akan memantapkannya terhadap amalnya, dan terhadap orang yang berhak mendapat kehinaan maka Ia pun akan menghinakannya sehingga ia tidak dapat menjalankan kebaikan dan sarana-sarananya.

Untuk itu Allah berfirman: innallaaHa kaana bikulli syai-in ‘aliiman (“Sesungguhnya Allah Mahamengetahui segala sesuatu.”)

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Maa-idah ayat 94-95

7 Feb

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Maa-idah (Hidangan)
Surah Madaniyyah; surah ke 5: 120 ayat

tulisan arab alquran surat al maidah ayat 94-95“94. Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan sesuatu dari binatang buruan yang mudah didapat oleh tangan dan tombakmu supaya Allah mengetahui orang yang takut kepada-Nya, biarpun ia tidak dapat melihat-Nya. barang siapa yang melanggar batas sesudah itu, Maka baginya azab yang pedih. 95. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, Maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu sebagai had-yad yang dibawa sampai ke Ka’bah atau (dendanya) membayar kaffarat dengan memberi Makan orang-orang miskin atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu, supaya Dia merasakan akibat buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan apa yang telah lalu. dan Barangsiapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. Allah Maha Kuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa.” (al-Maa-idah: 94-95)

Mengenai firman Allah: layabluwannakumullaaHu bisyai-im minash-shaidi tanaaluHu aidiikum wa rimaahukum (“Sesungguhnya Allah akan mengujimu dengan sesuatu dari binatang buruan yang mudah didapat oleh tangan dan tombakmu.”)

Al-Walibi mengatakan dari Ibnu Abbas: “Yaitu binatang buruan yang lemah dan masih kecil, yang dengannya Allah akan menguji hamba-hamba-Nya ketika mereka mengerjakan ihram, bahkan jika menghendaki mereka bisa menangkap binatang-binatang buruan itu dengan tangannya. Namun Allah melarang mereka dari mendekatinya.”

Mengenai firman-Nya: tanaaluHu aidiikum (“Yang mudah didapat oleh tanganmu.”) Mujahid mengatakan: “Yakni binatang-binatang buruan yang masih kecil dan masih dalam asuhan induknya. Wa rimaahukum (“Dan tombakmu”) yakni binatang-binatang buruan yang sudah besar.”

Liya’lamallaaHu may yakhaafuHu bil ghaiib (“Supaya Allah mengetahui orang yang takut kepada-Nya, biarpun ia tidak dapat melihat-Nya.”) yakni Allah Ta’ala menguji mereka dengan binatang-binatang dengan buruan yang berkeliaran di sepanjang perjalanan mereka, yang memungkinkan bagi mereka menangkap dengan tangan dan dengan tombaknya, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, untuk melihat ketaatan orang-orang taat dari mereka baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, sebagaimana Allah berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Rabbnya yang tidak tampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.” (al-Mulk: 12)

Mengenai firman Allah: fa mani’tadaa ba’da dzaalika (“Barangsiapa yang melanggar batas sesudah itu.”) as-Suddi dan ulama lainnya berkata, “Yakni setelah pemberitahuan, peringatan dan penjelasan ini.” falaHuu ‘adzaabun aliim (“Maka baginya adzab yang pedih.”) yaitu, disebabkan oleh pelanggarannya terhadap perintah dan syariat-Nya.

Yaa ayyuHal ladziina aamanuu laa taqtuluush shaida wa antum hurum (“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram.”) yang demikian itu merupakan pengharaman oleh Allah dalam membunuh binatang buruan ketika sedang mengerjakan ihram, dan Allah melarang orang yang sedang berihram melakukannya.

Dari segi pengertiannya, pengharaman itu mencakup binatang yang dapat dimakan meskipun anak yang dilahirkan darinya dan dari selainnya. Adapun binatang-binatang darat yang tidak dapat dimakan, maka menurut imam Syafi’i, orang yang sedang berihram boleh membunuhnya. Sebaliknya jumhur ulama sepakat untuk mengharamkan pembunuhan terhadap binatang tersebut dan tidak ada pengecualian di dalamnya kecuali apa yang ditegaskan di dalam ash-shahihain, melalui jalan az-Zuhri, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah Ummul Mukminin, bahwa Rasulullah saw. bersabda:

“Ada lima binatang fasik [jahat] yang boleh dibunuh, baik di tanah halal [di luar Makkah] maupun di tanah Haram [di Makkah], yaitu burung gagak, burung elang, kalajengking, tikus dan anjing gila.”

Imam Malik meriwayatkan dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Ada lima binatang yang tidak berdosa bagi seseorang yang sedang berihram membunuhnya, yaitu burung gagak, burung elang, kalajengking, tikus dan anjing gila.” (al-Bukhari dan Muslim mengeluarkan pula hadits ini)

Ayyub berkata: “Aku tanyakan kepada Nafi’: ‘Bagaimana dengan ular?’ Nafi’ menjawab: ‘Tidak ada keraguan lagi dalam masalah ular ini, dan tidak ada pendapat mengenai dibolehkannya membunuh ular.’”

Ada beberapa ulama seperti misalnya Malik dan Imam Ahmad yang mengelompokkan serigala, binatang buas, macan tutul, cheetah, singa, dan semua binatang buas dengan anjing gila, karena binatang-binatang itu lebih berbahaya daripada anjing gila. wallaaHu a’lam. Mereka mengatakan: jika membunuh binatang selain binatang tersebut maka ia harus membayar fidyah. Misalnya dubuk [sejenis macan tutul], musang, kelinci, dan sebangsanya. Imam Malik berkata: “Begitu pula dikecualikan dari hal itu yaitu binatang-binatang yang masih kecil dari kelima binatang di atas, dan yang mengqiyaskan dengannya.”

Imam Syafi’i berkata: “Seorang yang sedang berihram boleh membunuh semua binatang yang tidak boleh dimakan dagingnya. Dan dalam hal ini tidak ada perbedaan antara yang masih kecil dan yang sudah besar.” Beliau menggunakan sebab yang bersifat umum, yaitu karena binatang-binatang tersebut tidak boleh dimakan.

Adapun Abu Hanifah berkata: “Seseorang yang sedang berihram boleh membunuh anjing gila dan serigala, karena itu merupakan anjing liar, maka jika ia membunuh binatang selain kedua binatang tersebut, ia harus membayar fidyah. Kecuali jika ia diserang oleh selain kedua hewan tersebut lalu ia membunuhnya. Maka tidak ada kewajiban fidyah baginya.” Ini adalah pendapat al-Auza’i dan al-Hasan bin Shalih bin Huyay.

Zufar bin Hudzail berkata: “Ia berkewajiban membayar fidyah jika membunuh selain binatang tersebut, meskipun binatang yang dibunuhnya itu menyerangnya.”

Imam Malik berkata: “Orang yang berihram tidak diperbolehkan membunuh burung gagak, kecuali jika binatang tersebut menyerang dan menyakitinya.”

Firman Allah: wa man qatalaHuu minkum muta’ammidan fajazaa-um mitslu maa qatala minan na’ami (“Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya.”) yang menjadi pendapat jumhur ulama ialah orang yang sengaja dan orang yang lalai sama dalam kewajiban membayar denda. Az-Zuhri berkata: “Ayat al-Qur’an menunjukkan terhadap orang yang sengaja, dan as-Sunnah berlaku terhadap orang yang lalai.” Makna al-Qur’an menunjukkan keharusan membayar denda bagi orang yang membunuh binatang dengan sengaja dan atas perbuatan dosanya, yaitu melalui firman-Nya:

Shiyaamal liyadzuuqa wa baala amriHii ‘afallaaHu ‘ammaa salafa wa man ‘aada fayantaqimullaaHu minHu (“Supaya ia merasakan akibat yang buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan apa yang telah lalu. Dan barangsiapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya.”)

Adapun sunnah Nabi saw. dan para shahabatnya datang dengan mewajibkan pembayaran denda terhadap pembunuhan yang dilakukan karena kesalahan, sebagaimana yang ditunjukkan oleh Al-Qur’an terhadap pembunuhan yang dilakukan dengan sengaja. Juga bahwa pembunuhan binatang buruan itu adalah sebagai bentuk pembinasaan, sedangkan pembinasaan itu mencakup kesengajaan dan kelalaian. Tetapi orang yang sengaja melakukannya berdosa, sedangkan orang yang melakukannya karena kesalahan tidak tercela.”

Firman-Nya: fa ja-zaa-um mitslu maa qatala minan na’ami (“Maka dendanya adalah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya.”) sebagian ulama membacanya dengan menggunakan idhafah (fajazaa-u mitsli) dan yang lainnya membacanya dengan ‘athaf: fajazaa-um mistlu.

Sesuai dengan kedua bacaan tersebut, terdapat dalil pada pendapat yang dipegang oleh Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, dan jumhur, yaitu kewajiban membayar denda yang sebanding dengan binatang yang dibunuh oleh orang yang ihram. Hal itu jika ia mempunyai binatang jinak yang seimbang untuk itu.

Hal ini berbeda pendapat dengan Abu Hanifah, ia mewajibkan nilainya [harganya], baik denda yang dibayarkannya itu sama dengan binatang yang dibunuhnya maupun tidak. Beliau berkata: “Si pelaku diberi pilihan; jika menghendaki ia boleh menyedekahkan dengan nilai harga binatang yang dibunuhnya itu. Dan jika menghendaki, ia membeli binatang yang setara dengannya sebagai gantinya.”

Adapun kesepadanan yang ditetapkan oleh para shahabat adalah lebih pantas untuk diikuti. Mereka menetapkan denda seekor unta bagi pembunuh seekor burung unta, denda seekor sapi untuk pembunuhan terhadap seekor sapi liar, dan denda seekor kambing untuk pembunuhan kijang. Semua ketetapan para shahabat dan sanad-sanadnya telah tertulis di dalam kitab al-Ahkam. Sedangkan jika binatang buruan itu tidak ada padanannya, Ibnu ‘Abbas menetapkan dengan harga pembeliannya yang berlaku di Makkah. Demikian menurut riwayat Imam al-Baihaqi.

Firman Allah: yahkumu biHii dzawaa ‘adlim minkum (“Menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu.”) yakni, yang memutuskan denda berupa binatang yang sepadan atau denda dengan perhitungan nilai harga bagi binatang yang tidak sepadan adalah dua orang yang adil dari kaum muslimin.

Para ulama berbeda pendapat mengenai pembunuh binatang itu, apakah ia boleh jadi salah satu dari dua hakim tersebut? Dalam hal ini terdapat dua pendapat. Pertama, menyatakan tidak boleh, karena dimungkinkan akan membela dirinya sendiri, ini adalah pendapat Imam Malik. Kedua, menyatakan boleh, yaitu didasarkan pada keumuman pengertian ayat, ini adalah madzhab Syafi’i dan Ahmad.

Kemudian mereka berbeda pendapat, apakah pemerintah harus ikut campur dalam memutuskan segala sesuatu yang menimpa orang yang berihram sehingga harus ada dua orang hakim adil yang memutuskan masalah tersebut meskipun hal yang sama telah diputuskan oleh para shahabat, ataukah cukup hanya dengan hukum-hukum Shahabat terdahulu?

Dalam hal ini terdapat dua pendapat. Imam Syafi’i dan Imam Ahmad berkata: “Dalam hal itu mengikuti apa yang telah diputuskan oleh para shahabat.” kedua ulama ini menjadikannya sebagai syari’at baku yang tidak dapat diubah. Sebaliknya hal-hal yang belum diputuskan oleh para shahabat, maka hal itu dikembalikan kepada dua orang hakim yang adil.”

Imam Malik dan Abu Hanifah berkata: “Bahwa keputusan itu berlaku pada setiap individu, apakah hukum itu ditemukan kesamaan pada zaman shahabat atau tidak. Hal ini didasarkan pada firman Allah Ta’ala: yahkumu biHii dzawaa ‘adlim minkum (“Menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu.”)

Firman Allah: Hadyam baalighal ka’bati (“Sebagai hadya yang dibawa sampai ke Ka’bah”) maksudnya binatang kurban itu dibawa sampai ke Ka’bah. Yakni kurban itu sampai ke Tanah Haram untuk disembelih di sana, dan dagingnya dibagi-bagikan kepada orang-orang miskin yang terdapat di Tanah Haram tersebut. Yang demikian itu merupakan sesuatu hal yang telah disepakati.

Firman Allah: au kaffaaratu tha’aami masaakiina au ‘adlu dzaalika syiyaaman (“Atau [dendanya] membayar kafarat dengan memberi makan orang-orang miskin, atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu.”) Maksudnya jika seseorang yang berihram itu tidak mendapatkan binatang buruan itu tidak ada padanannya.

[Maksud kata] “atau” menurut kami dalam hal ini bermakna memberi pilihan antara denda, memberi makan dan berpuasa. Seperti halnya pendapat Malik, Abu Hanifah, Abu Yusuf, Muhammad bin al-Hasan, dan salah satu pendapat Imam Syafi’i, serta pendapat yang mahsyur adalah pendapat yang dikemukakan oleh Imam Ahmad. Hal ini didasarkan pada lahiriyah kata “au” [atau] yang dimaksudkan sebagai pemberian pilihan.

Sedangkan pendapat lain menyatakan bahwa kata “au” itu sebagai urutan. Gambarannya adalah, hendaknya ia memulai dengan memperhitungkan nilai, atau harga binatang yang dibunuh. Demikian menurut Imam Malik, Abu Hanifah dan para shahabatnya, Hamad, dan Ibrahim.

Asy-Syafi’i berkata: “Jika ada yang sepadan dengan binatang yang dibunuh itu, boleh diperhitungkan harganya kemudian dibelikan makanan, selanjutnya disedekahkan, yaitu diberikan kepada masing-masing orang miskin satu mud.” Demikian menurut Imam Syafi’i, Imam Malik, para fuqaha Hijaz, dan menjadi pilihan Ibnu Jarir.

Abu Hanifah dan para shahabatnya berpendapat, kepada masing-masing orang miskin diberi dua mud. Pendapat yang terakhir ini juga merupakan pendapat Mujahid. Imam Ahmad berkata: “Satu mud dari biji gandum atau dua mud dari yang lainnya. Jika ia tidak mendapatkannya, -atau kami katakan dengan memilih- ia harus berpuasa sebagai ganti atas pemberian makan kepada setiap satu orang miskin satu hari.”

Ibnu Jarir berkata: “Para ulama lainnya mengemukakan: ‘Ia harus berpuasa untuk menggantikan setiap satu sha’ makanan, satu hari.’ Sebab Rasulullah saw. pernah memerintahkan Ka’ab bin ‘Ujrah untuk membagikan makanan sebanyak satu faraq kepada enam orang miskin, atau berpuasa selama tiga hari, satu faraq sama dengan tiga sha’.”

Mereka berbeda pendapat mengenai tempat pemberian makanan. Asy-Syafi’i berkata: “Tempatnya adalah [di] Tanah Haram.” Dan hal ini merupakan pendapat ‘Atha’. Imam Malik berkata: “Pemberian makanan itu dilakukan di tempat pembunuhan binatang tersebut.” Abu Hanifah berkata: “Jika ia menghendaki, ia boleh memberikan makanan di Tanah Haram, dan jika ia mau, ia boleh melakukannya di tempat yang lain.”

Firman Allah: liyadzuuqa wa baala amriHi (“Supaya ia merasakan akibat yang buruk dari perbuatannya.”) maksudnya, Kami [Allah] wajibkan kepadanya membayar kafarat supaya ia merasakan hukuman atas perbuatannya tersebut yang melanggar ketentuan.

‘afallaaHu ‘ammaa salafa (“Allah telah memaafkan apa yang telah lalu”) yaitu pada zaman jahiliyah bagi orang yang baik keislamannya, dan mengikuti syariat Allah, serta tidak berbuat maksiat.

Firman Allah: wa man ‘aada fayantaqimullaaHu minHu (“Dan barangsiapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya.”) maksudnya barangsiapa yang melakukan hal itu setelah diharamkan di dalam Islam dan setelah hukum syariat sampai kepadanya; fayantaqimullaaHu minHu wallaaHu ‘aziizun dzuntiqaam (“niscaya Allah akan menyiksanya. Alllah Mahakuasa lagi mempunyai [kekuasaan untuk] menyiksa.”)

Jumhur ulama salaf dan khalaf berpendapat: jika orang yang berihram itu membunuh binatang buruan, maka ia wajib membayar denda, tidak ada perbedaan antara denda memberi ganti yang setimpal, memberi makan orang miskin, atau berpuasa, sekalipun pelanggaran itu dilakukan berulang-ulang, baik pembunuhan itu dilakukan karena faktor kesalahan maupun karena faktor kesengajaan.

Mengenai firman Allah: wallaaHu ‘aziizun dzuntiqaam (“Allah Mahakuasa lagi mempunyai [kekuasaan untuk] menyiksa.”) Ibnu Jarir berkata: “Allah berfirman bahwa Allah Mahakokoh dalam kekuasaan-Nya. Tidak ada yang dapat memaksa-Nya, dan tidak ada seorang pun yang mampu menghalangi-Nya untuk memberi siksaan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan tidak pula seorang pun mampu menghindarkan diri dari siksa-Nya, jika Dia telah menghendaki, karena semua makhluk yang ada ini adalah ciptaan-Nya, semua perintah [syariat] hanya milik-Nya, Dia lah yang mempunyai kemuliaan dan keperkasaan.”

Allah berfirman: dzuntiqaam (“Mempunyai [kekuasaan untuk] menyiksa.”) maksudnya Allah mempunyai kemampuan untuk memberi siksaan kepada orang-orang yang mendurhakai-Nya, atas pelanggarannya itu.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Maa-idah ayat 90-93

7 Feb

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Maa-idah (Hidangan)
Surah Madaniyyah; surah ke 5: 120 ayat

tulisan arab alquran surat al maidah ayat 90-93“90. Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah Termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. 91. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). 92. dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul-(Nya) dan berhati-hatilah. jika kamu berpaling, Maka ketahuilah bahwa Sesungguhnya kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. 93. tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh karena memakan makanan yang telah mereka Makan dahulu, apabila mereka bertakwa serta beriman, dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, kemudian mereka (tetap juga) bertakwa dan berbuat kebajikan. dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (al-Maa-idah: 90-93)

Allah melarang hamba-hamba-Nya yang beriman meminum khamr dan bermain judi. Diriwayatkan dari Amirul Mu’minin ‘Ali bin Abi Thalib ra, bahwa ia pernah berkata, “Catur itu termasuk dari permainan judi.” Demikian yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.

Az-Zuhri mengatakan dari al-A’raj: “Yang disebut al-maisir adalah pelemparan anak panah yang taruhannya berupa harta dan buah-buahan.”

Al-Qasim bin Muhammad berkata, “Segala sesuatu yang menjadikan lupa mengingat Allah dan shalat, yang demikian termasuk maisir.” Sepertinya yang dimaksud dengan hal ini adalah permainan dadu yang disebutkan di dalam Shahih Muslim, dari Buraidah bin al-Hushaib al-Aslami; Rasulullah saw. bersabda:
“Baransiapa bermain dadu, seakan-akan ia mencelupkan tangannya ke dalam daging babi dan darahnya.”

Adapun dalam l-Muwaththa’ Imam Malik, Musnad Imam Ahmad, Sunan Abi Dawud, dan Sunan Ibni Majah, diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda:
“Baransiapa bermain dadu, berarti ia telah durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Mengenai permainan catur, ‘Abdullah bin ‘Umar pernah mengatakan: “Catur itu lebih buruk dari pada permainan dadu.” Pengharaman catur ini telah ditegaskan oleh Imam Malik, Abu Hanifah dan Ahmad. Adapun Imam asy-Syafi’i hanya memakruhkannya.

Mengenai al-Anshaab, Ibnu ‘Abbas, Mujahid, ‘Atha’, Sa’id bin Jubair, al-Hasan, dan ulama lainnya berkata: “Yaitu batu-batu yang menjadi tempat mereka menyembelih kurban-kurban mereka.” sedangkan mengenai al-azlam, mereka berkata: “Yaitu anak panah yang mereka pergunakan untuk mengundi nasib.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim)

Allah berfirman: rijsum min ‘amalisy syaithaani (“Adalah perbuatan keji, termasuk perbuatan setan”) Ali bin Abi Thalhah mengatakan dari Ibnu Abbas: “Yaitu perbuatan yang dimurkai, termasuk perbuatan setan.” Said bin Jubair berkata, “Yaitu perbuatan dosa.” Dan Zaid bin Aslam berkata: “Yaitu perbuatan jahat, merupakan perbuatan setan.”

fajtanibuuHu (“Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu.”) Dhamir [kata ganti] tersebut kembali kepada kata ar-rijsu. Maksudnya adalah tinggalkanlah. La’allakum tuflihuun (“agar kamu mendapat keberuntungan.”) hal ini merupakan targhib /dorongan/anjuran.

Innamaa yuriidusy syaithaanu ay yuuqi’a bainakumul ‘adaawata wal baghdlaa-a fil khamri wal maisiri wa yashuddakum ‘an dzikrillaaHi wa ‘anish shalaati faHal antum muntaHuun (“Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran [meminum] khamr dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat. Maka berhentilah kamu [dari mengerjakan perbuatan itu].”) ayat ini merupakan ancaman dan targhib /peringatan.

BEBERAPA HADITS TENTANG PENGHARAMAN KHAMR

Di dalam ash-shahihain telah diriwayatkan, dari Umar bin al-Khaththab, bahwa ia pernah berkata dalam khutbahnya di atas mimbar Rasulullah saw.: “Hai sekalian manusia, sesungguhnya telah turun ayat yang mengharamkan khamr, yaitu yang terbuat dari lima hal: anggur, kurma, madu, biji gandum, dan gandum. Dan khamr adalah minuman yang dapat menutupi akal.”

Abu Dawud ath-Thayalisi mengatakan, “Aku pernah mendengar Ibnu Umar berkata: ‘Mengenai minuman khamr, telah turun tiga ayat, yang pertama adalah: “Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi.” (al-Baqarah: 219). Kemudian dikatakan: ‘Khamr telah diharamkan.’ Kemudian mereka mengatakan, ‘Ya Rasulallah, biarkanlah kami memanfaatkannya seperti yang telah difirmankan Allah.’ Maka Rasulullah saw. diam, lalu turunlah ayat ini: “Janganlah kamu mendekati shalat, sementara kamu dalam keadaan mabuk.’ (an-Nisaa’: 43). Kemudian dikatakan: ‘Khamr telah diharamkan.’ Maka mereka berkata, ‘Ya Rasulallah, sesungguhnya kami tidak meminumnya bila dekat dengan waktu shalat.’ Maka Rasulullah saw. diam, lalu turunlah ayat:

Yaa ayyuHal ladziina aamanuu innamal khamru wal maisiru wal anshaabu wal azlaamu rijsum min ‘amalisy syaithaani fajtanibuuHu (“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya meminum khamr, berjudi, [berkorban untuk] berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji yang termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu.’”) selanjutnya Rasulullah saw. bersabda: ‘Khamr telah diharamkan.’”

Imam Ahmad mengatakan dari al-Qa’qa’ bin Hakim, bahwa Abdurrahman bin Wa’lah berkata: aku pernah bertanya kepada Ibnu Abbas tentang jual beli khamr, maka ia berkata: Rasulullah saw. pernah mempunyai seorang teman dari Tsaqif atau dari suku Daus. Ia menemui beliau pada hari penaklukan kota Makkah dengan membawa segelas khamr yang dihadiahkan kepada beliau, maka beliau pun bersabda:

“Hai Fulan, tidakkah engkau mengetahui bahwa Allah telah mengharamkannya?” Kemudian orang itu menoleh kepada anaknya seraya berkata, “Pergi dan juallah khamr ini.” Maka Rasulullah saw. bersabda, “Hai Fulan, apa yang engkau perintahkan kepadanya?” Ia menjawab, “Aku perintahkan ia untuk menjualnya.” Maka beliau bersabda, “Sesungguhnya apa yang diharamkan meminumnya diharamkan pula menjualnya.” Kemudian beliau menyuruhnya untuk membuang khamr itu. Maka ia pun membuangnya di gundukan pasir.

(HR Muslim, melalui jalur Ibnu Wahb, dari Malik. Juga diriwayatkan an-Nasa’i)

Imam Ahmad berkata dari Abu Tha’mah maula mereka, dan dari Abdurrahman al-Ghafiqi, keduanya pernah mendengar Ibnu Umar berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Khamr itu dilaknat dari sepuluh segi: wujud khamr itu sendiri, peminumnya, orang yang memberikan minum dengan khamr tersebut [menyuguhkan], penjualnya, pembelinya, pemerasnya [penadah] dan orang yang memakan uang hasil jualannya.” (HR Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah)

Al-Hafizh Abu Bakar al-Baihaqi mengatakan, dari Sa’ad: “Mengenai minuman khamr telah turun empat ayat.” Kemudian ia menyebutkan hadits tersebut. Ia mengatakan, “Ada seorang Anshar yang menyuguhkan makanan, lalu ia mengundang kami, selanjutnya kami meminum khamr sebelum khamr itu diharamkan, sehingga kami mabuk, dan kami berbangga-bangga. Lalu orang-orang Anshar itu berkata, “Kami yang paling baik.” Dan kaum Quraisy berkata, “Kami yang lebih baik.” Kemudian seseorang dari kaum Anshar mengambil tulang rahang unta [kambing] dan dipukulkannya ke hidung Sa’ad sehingga hidung Sa’ad terluka. Maka turunlah ayat:

innamal khamru wal maisiru … faHal antum muntaHuun (“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya [meminum] khamr, berjudi…… maka berhentilah kamu [dari mengerjakan perbuatan itu.”)

(Dikeluarkan oleh Muslim)

Imam asy-Syafi’i mengatakan: Malik memberitahu kami, dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa minum khamr di dunia, lalu ia tidak bertaubat darinya, maka khamr itu diharamkan baginya kelak di akhirat.” (Dikeluarkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari hadits Malik)

Imam Muslim juga meriwayatkan dari Ibnu Umar ra, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Setiap yang memabukkan adalah khamr, dan setiap yang memabukkan itu haram. Barangsiapa meminum khamr lalu meninggal, sedang ia dalam keadaan kecanduan meminumnya, dan ia juga tidak bertaubat darinya, maka ia tidak akan meminumnya kelak di akhirat.”

Dalam kitab ash-shahihain disebutkan, dari Rasulullah saw. beliau bersabda: “Tidaklah seorang pezina itu ketika melakukan zina sebagai seorang Mukmin [yang sempurna imannya], tidak pula seorang pencuri ketika mencuri sebagai seorang yang Mukmin [yang sempurna imannya], dan tidaklah peminum khamr ketika meminum khamr sebagai seorang Mukmin [yang sempurna imannya].”

Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Setelah khamr diharamkan, ada beberapa orang berkata, ‘Ya Rasulallah, bagaimana dengan shahabat-shahabat kami yang meninggal dunia, sedang mereka meminum khamr?’ Maka Allah menurunkan ayat:

Laisa ‘alal ladziina aamanuu wa ‘amilush shaalihaati junaahun fiimaa tha’imuu… (“Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang shalih karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu….”)

Dan ketika arah kiblat diubah, ada beberapa orang berkata, “Ya Rasulallah, bagaimana dengan saudara-saudara kami yang meninggal dunia sedang mereka mengerjakan shalat menghadap ke Baitul Maqdis?” Maka Allah menurunkan firman-Nya: “Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu.” (al-Baqarah: 143)

Al-‘Amasy ra mengatakan, dari Ibrahim, dari ‘Alqamah, dari Abdullah bin Mas’ud, bahwa Rasulullah saw. bersabda ketika turun ayat: Laisa ‘alal ladziina aamanuu wa ‘amilush shaalihaati junaahun fiimaa tha’imuu idzaa mat taquu wa aamanuu (“Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang shalih karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu, apabila mereka bertaqwa serta beriman.”)
Dikatakan kepadaku: “Engkau termasuk golongan mereka.”
(Demikianlah yang diriwayatkan oleh Muslim, at-Tirmidzi, dan an-Nasa’i)

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Maa-idah ayat 89

7 Feb

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Maa-idah (Hidangan)
Surah Madaniyyah; surah ke 5: 120 ayat

tulisan arab alquran surat al maidah ayat 89“Allah tidak menghukum kalian disebabkan sumpah-sumpah kalianyang tidak dimaksud (untuk bersumpah) , tetapi Dia menghukum kalian disebabkan sumpah-sumpah yang kalian sengaja, maka kifarat (melanggar) sumpah itu ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan (jenis pertengahan) yang biasa kalian berikan kepada keluarga kalian, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kifaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kifarat sumpah-sumpah kalian bila kalian bersumpah (dan kalian langgar). Dan jagalah sumpah kalian. Demikianlah Allah menerangkan kepada kalian hukum-hukum-Nya agar kalian bersyukur (kepadaNya).” (Al-Maa-idah ayat 89)

Dalam pembahasan yang lalu telah diterangkan masalah bermain-main dalam sumpah, yaitu dalam surat Al Baqarah, sehingga tidak perlu diulangi lagi dalam pembahasan ini. Pada garis besarnya sumpah yang main-main ialah perkataan seorang lelaki yang menyangkut makna sumpah tanpa disengaja, misalnya, “Tidak, demi Allah.” dan “Benar, demi Allah.” Demikianlah menurut mazhab Imam Syafi’i.

Menurut pendapat lain, bermain-main dalam sumpah ialah sumpah seseorang yang dilakukan dalam omongan yang mengandung seloroh (gurauan); menurut pendapat yang lain dalam masalah maksiat. Menurut pendapat yang lain lagi atas dasar dugaan kuat, pendapat ini dikatakan oleh Abu Hanifah dan Imam Ahmad. Menurut pendapat yang lainnya adalah sumpah yang dilakukan dalam keadaan marah. Sedangkan menurut pendapat yang lainnya atas dasar lupa. Dan menurut pendapat yang lainnya lagi yaitu sumpah yang menyangkut masalah meninggalkan makan, minum dan pakaian, serta lain-lainnya yang semisal, dengan berdalilkan firman Allah Swt.:

laa tuharrimuu thayyibaati maa ahallallaaHu lakum (“janganlah kalian haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kalian.”) (AlMaidah: 87)

Tetapi pendapat yang benar ialah yang mengatakan bahwa sumpah yang main-main ialah yang diutarakan tanpa sengaja, dengan berdalilkan firman Allah Swt. yang mengatakan:

Wa laakiy yu-aakhidzukum bimaa ‘aqadtumum aimaan (“Tetapi Dia menghukum kalian disebabkan sumpah-sumpah yang kalian sengaja.”) (Al Maidah: 89) Yakni sumpah yang kalian tekadkan dan sengaja kalian lakukan.

Fa kaffaaratuHuu ith’aamu ‘asyarati masaakiina (“Maka kifarat [melanggar] sumpah itu ialah memberi makan sepuluhorang miskin. (Al Maidah: 89)

Yakni orang-orang yang membutuhkan pertolongan dari kalangan orang-orang miskin dan orang-orang yang tidak dapat menemukan apa yang mencukupi penghidupannya.

Firman Allah Swt:

Min ausathi maa tuth’imuuna aHliikum (“Yaitu dari makanan [jenis pertengahan] yang biasa kalian berikan kepada keluarga kalian. (Al-Maidah: 89)

Ibnu Abbas, Sa’id ibnu Jubair, dan Ikrimah mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah dari standar jenis makanan yang biasa kalian berikan kepada keluarga kalian. Menurut Ata al-Khurasani, makna yang dimaksud ialah makanan yang biasa kalian berikan kepada keluarga kalian.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Abu Khalid Al-Ahmar, dari Hajjaj, dari Abu Ishaq As Subai’i, dari Al-Haris, dari Ali yang mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah roti dan air susu, atau roti dan minyak samin.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Abdul A’la secara qiraat (bacaan), telah menceritakan kepada kami Sufyan ibnu Uyaynah, dari Sulaiman (yakni Ibnu Abui Mughirah), dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa sebagian orang ada yang memberi nafkah keluarganya dengan makanan pokok yang berkualitas rendah, ada pula yang memberi makan keluarganya dengan makanan pokok yang berkualitas tinggi. Maka Allah Swt. berfirman:

Min ausathi maa tuth’imuuna aHliikum (“Yaitu dari makanan [jenis pertengahan] yang biasa kalian berikan kepada keluarga kalian. (Al-Maidah: 89) Yakni berupa roti dan minyak.

Abu Sa’id Al-Asyaj mengatakan, telah menceritakan kepada kami Waki’, telah menceritakan kepada kami lsrail, dari Jabir, dari Amir, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya:

Min ausathi maa tuth’imuuna aHliikum (“Yaitu dari makanan [jenis pertengahan] yang biasa kalian berikan kepada keluarga kalian. (Al-Maidah: 89) Yakni dari jenis pertengahan antara jenis yang biasa dikonsumsi oleh orang-orang miskin dan oleh orang-orang kaya mereka.

Telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Khalaf Al Himsi, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Syu’aib (yakni Ibnu Syabur), dan telah menceritakan kepada kami Syaiban ibnu Abdur Rahman At Tamimi, dari Lais ibnu Abu Sulaim, dari Asim AI-Ahwal, dari seorang lelaki yang dikenal dengan nama Abdur Rahman At-Tamimi, dari Ibnu Umar ra. sehubungan dengan firmanNya:

Min ausathi maa tuth’imuuna aHliikum (“Yaitu dari makanan [jenis pertengahan] yang biasa kalian berikan kepada keluarga kalian. (Al-Maidah: 89) Yakni berupa roti dan daging, atau roti dan samin, atau roti dan susu, atau roti dan minyak, atau roti dan cuka.

Dan telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Harb Al-Mausuli, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah, dari Asim, dari Ibnu Sirin, dari Ibnu Umar sehubungan dengan firman-Nya:

Min ausathi maa tuth’imuuna aHliikum (“Yaitu dari makanan [jenis pertengahan] yang biasa kalian berikan kepada keluarga kalian. (Al-Maidah: 89) Yakni roti dan samin atau roti dan susu, atau roti dan minyak atau roti dan kurma. Makanan yang paling utama kalian berikan kepada keluarga kalian ialah roti dan daging.

Atsar yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, dari Hannad dan Ibnu Waki’, keduanya dari Abu Mu’ awiyah. Kemudian Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ubaidah dan Al-Aswad, Syuraih Al-Qadi, Muhammad ibnu Sirin, Al-Hasan Ad-Dahhak serta Abu Razin, semuanya mengatakan hal yang semisal.

Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkan pula atsar yang sama dari Makhul.

Ibnu Jarir memilih pendapat yang mengatakan sehubungan dengan makna firmanNya:

Min ausathi maa tuth’imuuna aHliikum (“Yaitu dari makanan [jenis pertengahan] yang biasa kalian berikan kepada keluarga kalian. (Al-Maidah: 89)

Bahwa makna yang dimaksud ialah menyangkut sedikit dan banyaknya makanan tersebut. Kemudian para ulama berbeda pendapat mengenai standar jumlah yang biasa diberikan kepada keluarga. Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id, telah menceritakan kepada kami Abu Khalid Al Ahmar, dari Hajjaj, dari Husain Al-Harisi, dari Asy-Sya’bi , dari Al-Haris, dari Ali r.a. sehubungan dengan firmanNya:

Min ausathi maa tuth’imuuna aHliikum (“Yaitu dari makanan [jenis pertengahan] yang biasa kalian berikan kepada keluarga kalian. (Al-Maidah: 89) Yakni makanan yang biasa ia berikan untuk makan siang dan makan malam keluarganya.

Al-Hasan dan Muhammad ibnu Sirin mengatakan, orang yang bersangkutan cukup memberi makan sepuluh orang miskin sekali makan, berupa roti dan daging. Al-Hasan menambahkan bahwa jika ia tidak menemukan daging, maka cukup dengan roti, minyak samin, dan susu; jika ia tidak menemukannya , maka cukup dengan roti, minyak, dan cuka hingga mereka merasa kenyang.

Ulama yang lain mengatakan, orang yang bersangkutan memberi makan setiap orang dari sepuluh or ang itu setengah sha’ jewawut atau buah kurma atau lainnya. Pendapat ini dikatakan oleh Umar, Siti Aisyah, Mujahid, Asy-Sya’bi , Sa’id ibnu Jubair, Ibrahim An-Nakha’i, Maimun Ibnu Mahran, Abu Malik, Ad-Dahhak, Al-Hakam, Makhul, Abu Qilabah, dan Muqatil ibnu Hayyan.

Sedangkan menurut Imam Abu Hanifah, jumlah makanan yang diberikan kepada tiap orang ialah setengah sa’ jewawut atau satu sa’ makanan jenis lainnya.

Abu Bakar ibnu Murdawaih mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ahmad ibnul Hasan As-Saqafi, telah menceritakan kepada kami Ubaid ibnul Hasan ibnu Yusuf, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Mu’awiyah, telah menceritakan kepada kami Ziad ibnu Abdullah ibnu at Tufail ibnu Sakhbirah (anak lelaki saudara seibu Siti Aisyah), telah menceritakan kepada kami Umar ibnu Ya’la, dari Al-Minhal ibnu Amr, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abba s yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah membayar kifarat dengan satu sa’ buah kurma, dan beliau Saw. memerintahkan kepada orang-orang supaya melakukan hal yang sama. Barang siapa yang tidak menemukan buah kurma, maka dengan setengah sa’ jewawut.

Ibnu Majah meriwayatkannya dari Al Abbas ibnu Yazid, dari Ziyad ibnu Abdullah Al-Bakka, dari Umar ibnu Abdullah ibnu Ya’la As-Saqafi, dari Al-Minhal ibnu Amr dengan sanad yang sama. Tetapi hadis ini tidak sahih, mengingat keadaan Umar ibnu Abdullah, karena dia telah disepakati akan kedaifannya. Menurut mereka, Uma r ibnu Abdullah ini sering minum khamr. Menurut Imam Daruqutni, Umar ibnu Abdullah hadisnya tidak terpakai.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Ibnu Idris, dari Daud (yakni Ibnu Abu Hindun), dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa yang dimaksud ialah satu mud makanan berupa jewawut —yakni bagi tiap-tiap orang miskin — disertai lauk pauknya.

Kemudian Ibnu Abu Hatim mengatakan bahwa telah diriwayatkan dari Ibnu Umar, Zaid ibnu Sabit, Sa’id ibnul Musayyab, Ata, Ikrimah, Abusy Sya’sa, Al-Qasim, Salim, Abu Salamah ibnu Abdur Rahman, Sulaiman ibnu Yasar, Al-Hasan, Muhammad ibnu Sirin, dan Az-Zuhri hal yang semisal.

Imam Syafii mengatakan bahwa hal yang diwajibkan dalam kifarat sumpah ialah satu mud berdasarkan ukuran mud yang dipakai oleh Nabi Saw. untuk tiap orang miskin, tanpa memakai lauk pauk. Imam Syafii mengatakan demikian dengan berdalilkan perintah Nabi Saw. kepada seseorang yang menyetubuhi istrinya di siang hari Ramadan. Nabi Saw memerintahkannya untuk memberi makan enam puluh orang miskin dari tempat penyimpanan makanan yang berisikan lima belas sa’, untuk tiap-tiap orang dari mereka kebagian satu mud.

Di dalam hadis lain hal itu disebutkan dengan jelas. Abu Bakar ibnu Murdawaih mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Ali Ibnul Hasan Al Muqri, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu lshaq As Siraj, telah menceritakan kepada kami Qutaibah ibnu Sa’id, telah menceritakan kepada kami An-Nadr ibnu Zurarah Al-Kufi, dari Abdullah ibnu Umar Al-Umari, dari Nafi’, dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah Saw. menetapkan standar takaran kifarat sumpah dengan memakai takaran mud pertama, makanan yang ditakarnya berupa gandum.

Sanad hadis ini daif karena keadaan An-Nadr ibnu Zurarah ibnu Abdul Akram Az Zuhali AlKufi yang tinggal di Balakh. Abu Hatim Ar-Razi mengatakan bahwa dia adalah orang yang tidak dikenal, padahal bukan hanya seorang yang telah mengambil riwayat hadis darinya. Tetapi Ibnu Hibban menyebutnya di antara orang-orang yang tsiqah. Ibnu Hibban mengatakan, telah mengambil riwayat darinya Qutaibah ibnu Sa’id banyak hal yang benar. Kemudian gurunya yang bernama Al-Umari orangnya daif pula.

Imam Ahmad ibnu Hambal mengatakan bahwa hal yang diwajibkan ialah satu mud jewawut atau dua mud jenis makanan lainnya.

Firman Allah Swt.: au kiswatuHum (“atau memberi pakaian kepada mereka.”) (Al Maidah: 89)

Imam Syafii rahimahullah mengatakan, “Seandainya orang yang bersangkutan menyerahkan kepada tiap-tiap orang dari sepuluh orang miskin itu sesuatu yang dinamakan pakaian, baik berupa ghamis, celana, kain sarung, kain sorban, ataupun kerudung, maka hal itu sudah cukup baginya.”

Tetapi murid-murid Imam Syafii berbeda pendapat mengenai masalah peci, apakah peci di anggap mencukupi atau tidak; ada dua pendapat mengenainya di kalangan mereka. Di antara mereka ada yang membolehkannya; karena berdasarkan riwayat yang diketengahkan oleh Ibnu Abu Hatim. Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Sa’i d Al-Asyaj dan Ammar ibnu Khalid Al Wasiti, keduanya mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Al Qasim ibnu Malik, dari Muhammad ibnuz Zubair, dari ayahnya yang menceritakan bahwa ia pernah bertanya kepada Imran ibnul Husain mengenai firman-Nya:

au kiswatuHum (“atau memberi pakaian kepada mereka.”) (Al Maidah: 89)

Imran ibnul Husain r.a. menjawab, “Seandainya ada suatu delegasi datang kepada amir kalian, lalu amir kalian memakaikan kepada tiap orang dari mereka sebuah peci, maka tentu kalian akan mengatakan bahwa mereka telah diberi pakaian.”

Akan tetapi, sanad riwayat ini daif karena keadaan Muhammad ibnuz Zubair.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Syekh Abu Hamid Al Isfirayini dalam masalah khuff (kaos kaki yang terbuat dari kulit), ada dua pendapat mengenainya. Hanya saja pendapat yang benar mengatakan tidak mencukupi.

Imam Malik dan Imam Ahma d ibnu Hambal mengatakan bahwa hal yang diserahkan kepada masing-masing mereka harus berupa pakaian yang sah dipakai untuk salat seorang laki-laki atau seorang wanita, masing-masing disesuaikan dengan keperluannya.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa pakaian itu ialah sebuah baju ‘abayah atau baju jas bagi tiap-tiap orang miskin.

Mujahid mengatakan bahwa minimalnya adalah sebuah baju, sedangkan maksimalnya menurut kehendak orang yang bersangkutan.

Lais telah meriwayatkan dari Mujahid bahwa dianggap cukup dalam kifarat sumpah segala jenis pakaian, kecuali celana pendek.

Al-Hasan, Abu Ja’far AlBaqir, Ata, Tawus , Ibrahim An-Nakha’i, Hammad ibnu Abu Sulaiman, dan Abu Malik mengatakan bahwa setiap orang miskin cukup diberi sebuah baju. Dari Ibrahim An-Nakha’i disebutkan pula pakaian yang menutupi, seperti baju jas dan baju luar; tetapi ia beranggapan tidak mencukupi pakaian yang berupa kaos, baju ghamis, dan kain kerudung serta lain-lainnya yang sejenis.

Al-Ansari telah meriwayatkan dari Asy’as, dari Ibnu Sirin dan Al-Hasan, bahwa yang mencukupi adalah masing-masing orang diberi satu setel pakaian.

As-Sauri telah meriwayatkan dari Daud ibnu Abu Hindun, dari Sa’id ibnul Musayyab, bahwa cukup dengan kain sorban yang dililitkan di kepala atau baju ‘abayah yang dipakai sebagai baju luar.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hannad, telah menceritakan kepada kami Ibnul Mubarak, dari Asim Al-Ahwal, dari Ibnu Sirin, dari Abu Musa, bahwa ia pernah mengucapkan sumpah atas sesuatu (lalu ia melanggarnya), maka ia memberi pakaian berupa satu setel pakaian (untuk tiap orang miskin) buatan Bahrain.

Ibnu Murdawaih mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Ahmad, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnul Ma’la, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Ammar, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Ayyasy, dari Muqatil ibnu Sulaiman, dari Abu Usman, dari Abu Iyad, dari Aisyah, dari Rasulullah Saw. sehubungan dengan firman Allah Swt.:

au kiswatuHum (“atau memberi pakaian kepada mereka.”) (Al Maidah: 89)

Maka Rasulullah Saw. bersabda: “Baju ‘abayah untuk tiap orang miskin.” (Hadis ini berpredikat garib.)

Firman Allah Swt.: au tahriiru raqabatin (“atau memerdekakan seorang budak.”) (Al-Maidah: 89)

Imam Abu Hanifah menyimpulkan makna mutlak dari ayat ini. Untuk itu, ia mengatakan bahwa dianggap cukup memerdekakan budak yang kafir, sebagaimana dianggap cukup memerdekakan budak yang mukmin.

Imam Syafii dan lain-lainnya mengatakan, diharuskan memerdekakan seorang budak yang mukmin. Imam Syafii menyimpulkan ikatan mukmin ini dari kifarat membunuh, karena adanya kesamaan dalam hal yang mewajibkan memerdekakan budak, sekalipun latar belakangnya berbeda.

Disimpulkan pula dari hadis Mu’awiyah ibnul Hakam As Sulami yang ada di dalam kitab Muwatta’ Imam Malik, Musnad Imam Syafii, dan Sahih Muslim. Di dalamnya disebutkan Mu’awiyah terkena suatu sanksi yang mengharuskan dia memerdekakan seorang budak, lalu ia datang kepada Nabi Saw. dengan membawa seorang budak perempuan berkulit hitam, maka Rasulullah Saw. bertanya kepadanya:

“Di manakah Allah? “la menjawab, “Di atas.” Nabi Saw. bertanya, “Siapakah aku ini?” la menjawab, “Utusan Allah. ” Rasulullah Saw. bersabda, “Merdekakanlah dia, sesungguhnya dia adalah seorang yang mukmin.”

Demikianlah tiga perkara dalam masalah kifarat sumpah; mana saja di antaranya yang dilakukan oleh si pelanggar sumpah, dinilai cukup menurut kesepakatan semuanya. Sanksi ini dimulai dengan yang paling mudah, memberi makan lebih mudah daripada memberi pakaian, sebagaimana memberi pakaian lebih mudah daripada memerdekakan budak. Dalam hal ini sanksi menaik, dari yang mudah sampai yang berat.

Dan jika orang yang bersangkutan tidak mampu melakukan salah satu dari ketiga perkara tersebut, hendaklah ia menebus sumpahnya dengan puasa selama tiga hari, seperti yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam firman yang selanjutnya, yaitu:

Fa mal lam yajid fashiyaamu tsalaatsati ayyaam (“Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kifaratnya puasa selama tiga hari.”) (AlMaidah: 89)

Ibnu Jarir telah meriwayatkan dari Sa’id ibnu Jubair dan Al-Hasan Al Basri. Mereka mengatakan bahwa barang siapa yang memiliki tiga dirham, dia harus memberi makan; dan jika ia tidak memilikinya, maka ia harus puasa (sebagai kifarat sumpahnya ).

Ibnu Jarir menceritakan pendapat sebagian ahli fiqih masanya, bahwa orang yang tidak mempunyai lebihan dari modal yang dipakainya untuk keperluan penghidupannya diperbolehkan melakukan puasa sebagai kifarat sumpahnya. Orang yang tidak mempunyai lebihan dari modal itu dalam jumlah yang cukup diperbolehkan pula melakukan puasa untuk membayar kifarat sumpahnya.

Tetapi Ibnu Jarir memilih pendapat yang mengatakan bahwa yang diperbolehkan melakukan puasa itu adalah orang yang tidak mempunyai lebihan dari penghidupan untuk dirinya dan keluarganya pada hari itu dalam juml ah yang cukup untuk menutupi kifarat sumpahnya.

Para ulama berbeda pendapat mengenai masalah apakah puasa itu wajib dilakukan berturut-turut ataukah hanya sunat, dan dianggap cukupkah melakukannya secara terpisah-pisah?

Ada dua pendapat mengenainya, salah satunya mengatakan tidak wajib berturut-turut. Hal ini disebutkan oleh imam syafi’i dalam kitab al-Iman. Dan hal ini merupakan pendapat Imam Malik, berdasarkan kepada keumuman firman Allah: fashiyaamu tsalaatsati ayyaamin (“Maka kafaratnya puasa selama tiga hari.”) yaitu mencakup puas yang dilakukan secara berturut-turut dan mencakup pula secara berselang-seling, seperti halnya pada qadla’ puasa Ramadlan, sebagaimana firman-Nya: fa ‘iddatum min ayyaamin ukhara (“Maka [wajib baginya berpuasa] sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.”)

Di tempat yang lain dalam kitab al-Umm, Imam Syafi’i menetapkan keharusan mengerjakan puasa itu berturut-turut, sebagaimana halnya dengan pendapat para penganut madzhab Hanafi dan madzhab Hambali, karena telah diriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab dan yang lainnya, bahwa mereka membacanya: fashiyaamu tsalaatsati ayyaamim mutataabi’aatin (“Maka berpuasalah tiga hari secara berturut-turut.”)

Firman Allah: dzaalika kaffaaratun aimaanikum idzaa halaftum (“Yang demikian itu adalah kafarah sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah [dan kamu langgar].”) yakni inilah kafarat sumpah yang disyariatkan. Wah fadhuu aimaanakum (“Dan jagalah sumpahmu.”) Ibnu Jarir berkata, “Artinya, janganlah kalian meninggalkan sumpah-sumpah kalian ini tanpa adanya kafarat. Kadzaalika yubayyinullaaHu lakum aayaatiHi (“Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya.”) maksudnya, menjelaskan dan menafsirkannya. La’allakum tasykuruun (“Agar kamu bersyukur [kepada-Nya]”)

&