Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nisaa’ ayat 77-79

26 Feb

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nisaa’ (Wanita)
Surah Madaniyyah; surah ke 4: 176 ayat

tulisan arab alquran surat an nisaa' ayat 77-79“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: ‘Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat!’ Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. Mereka berkata: ‘Ya Rabb kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami, mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami beberapa waktu lagi?.’ Katakanlah: ‘Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun.’ (QS. 4:77) Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkanmu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh. Dan jika memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: ‘Iniadalah dari sisi Allah,’ dan kalau mereka ditimpa suatu bencana, mereka mengatakan: ‘Ini (datangnya) dari sisimu (Muhammad).’ Katakanlah: ‘Semuanya (datang) dari sisi Allah.’ Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun. (QS.4:78) Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi. (QS. 4:79)” (an-Nisaa’: 77-79)

Dahulu kaum mukminin di masa permulaan Islam saat di kota Makkah, diperintahkan untuk shalat dan zakat, walaupun tanpa batasan tertentu. Mereka diperintahkan untuk melindungi orang-orang fakir, diperintahkan untuk memaafkan dan membiarkan kaum musyrikin, dan sabar hingga batas waktu yang ditentukan. Padahal semangat mereka amat membara dan amat senang seandainya mereka diperintahkan berperang melawan musuh-musuh mereka. Akan tetapi, kondisi saat itu tidak memungkinkan dikarenakan banyak sebab. Di antaranya ialah, minimnya jumlah mereka dibandingkan banyaknya jumlah musuh-musuh mereka, serta keberadaan mereka yang masih berada di kota mereka sendiri, yaitu tanah haram dan tempat yang paling mulia.

Sehingga belum pernah terjadi peperangan sebelumnya di tempat itu, sebagaimana dikatakan: “Oleh karena itu tidak diperintahkan jihad kecuali di Madinah ketika mereka telah memiliki negeri, benteng dan dukungan. Tapi walaupun begitu, ketika mereka diperintahkan melakukan hal yang mereka inginkan (untuk berperang), sebagian mereka ada yang kaget dan takut sekali berhadapan dengan pihak lawan,

Qaaluu rabbanaa lima katabta ‘alainal qitaala lau laa akh-khartanaa ilaa ajalin qariibin (“Mereka berkata, ‘Ya Rabb kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami, mengapa tidak Engkau tangguhkan kepada kami beberapa waktu lagi?’”) Yaitu, mengapa tidak Engkau tunda kewajibannya hingga waktu lain, karena akan terjadi pertumpahan darah, anak-anak yang menjadi yatim dan isteri-isteri yang menjadi janda.

Ibnu Abi Hakim mengatakan, dari Ibnu `Abbas bahwa `Abdurahmanbin `Auf dan para sahabatnya mendatangi Rasulullah saw. di Makkah, mereka berkata: “Ya, Nabi Allah! Dahulu kami berada dalam kemuliaan, padahal kami orang-orang musyrik. Akan tetapi tatkala kami telah beriman kami menjadi orang-orang hina.” Beliau menjawab: “Sesungguhnya aku diperintahkan untuk memaafkan, maka janganlah kalian memerangi kaum itu.”

Lalu tatkala Allah memindahkan beliau ke kota Madinah, lalu beliau diperintahkan untuk berperang, tetapi mereka enggan untuk berangkat. Maka turunlah ayat: alam tara ilal ladziina qiila laHum kuffuu aidiyakum (“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: ‘Tahanlah tanganmu [dari berperang].’”) (Diriwayatkan pula oleh an-Nasa’i, al-Hakim dan Ibnu Mardawaih).

Asbath mengatakan dari as-Suddi: “Mereka tidak memiliki kewajiban, kecuali shalat dan zakat. Lalu mereka meminta kepada Allah untuk diwajibkan perang. Tatkala perang telah diwajibkan kepada mereka,
Idzaa fariiqum minHum yakhsyaunan naasa ka khasy-yatillaaHi au asyaddu khosy-yatan, wa Qaaluu rabbanaa lima katabta ‘alainal qitaala lau laa akh-khartanaa ilaa ajalin qariibin (“Tiba-tiba sebahagian dari mereka [golongan munafik] takut kepada manusia [musuh], seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. Mereka berkata: ‘Ya Rabb kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami, mengapa tidak Engkau tangguhkan kepada kami beberapa waktu lagi?’”),yaitu kematian.”

Allah berfirman: qul mataa’ud dun-yaa qaliiluw wal aakhiratu khairul limanit taqaa (“Katakanlah: ‘Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa.’”) Mujahid berkata: “Sesungguhnya ayat ini turun untuk orang-orang Yahudi.” (HR. Ibnu Jarir).

Firman-Nya: qul mataa’ud dun-yaa qaliiluw wal aakhiratu khairul limanit taqaa (“Katakanlah: ‘Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa.’”) Yaitu, akhir (kehidupan) orang-orang yang bertakwa lebih baik dari dunianya. Walaa yudh-lamuuna fathiilan (“Kamu tidak dianiaya sedikitpun”) Yaitu dari amal-amal kalian, tapi kalian akan diberikan balasan yang paling sempurna.

Ini adalah suatu hiburan bagi mereka di dalam dunia, dorongan mereka untuk akhirat dan anjuran bagi mereka untuk berjihad.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan, dari Hisyam, ia berkata: “Al-Hasan membaca tentang: qul mataa’ud dun-yaa qaliilun (“Katakanlah: ‘Kesenangan di dunia hanya sebentar.’”) Ia berkata: “Semoga Allah memberi rahmat kepada hamba yang menyikapi dunia sesuai dengan hal itu. Dunia itu seluruhnya awal dan akhirnya tidak lain kecuali seperti seseorang yang tidur, lalu bermimpi yang dicintainya, akan tetapi tiba-tiba ia sadar.”

Ibnu Ma’in berkata, bahwa Abu Mish-har bersyair:
“Tidak ada kebaikan di dunia bagi orang-orang yang tidak memiliki bagian di akhirat dari Allah.”
“Sekalipun dunia menakjubkan banyak orang. Akan tetapi ia merupakan harta benda yang sedikit dan akan cepat sirna.”

Firman Allah: aina maa takuunu yudrikkumul mautu wa lau kuntum fii buruujim musyayyadatin (“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkanmu, kendatipun kamu berada dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.”) Yaitu, kalian pasti akan menuju kematian, tidak ada seorang pun yang akan selamat darinya.

Sebagaimana Allah berfirman: kulla man ‘alaiHaa faan (“Semua yang ada di bumi itu akan binasa.”) (QS.Rahmaan:’26). Maksudnya, bahwa setiap orang pasti menuju kematian, hal yang pasti dan tidak ada sesuatu pun yang menyelamatkan darinya, baik ia berjihad ataupun tidak. Karena ia memiliki batas yang telah ditetapkan tempat yang telah dibagi-bagi.

Sebagaimana Khalid bin al-Walid di saat datang kematian di pembaringannya, ia berkata: “Aku telah mengikuti perang ini dan perang itu, tidak ada satu anggota tubuhku, kecuali terdapat luka karena tusukan, atau anak panah. Kini aku mati dalam pembaringanku. Maka tidaklah dapat tidur mata para pengecut.”

Firman-Nya: walau kuntum fii buruujim musyayyadatin (“Sekalipun kamu berada di dalam benteng musyayyadah.”) Yaitu, benteng yang kuat, kokoh, tinggi menjulang. Yang benar adalah benteng yang kuat. Maksudnya, lari dan berlindung dari kematian tidaklah bermanfaat. Sebagaimana yang dikatakan (disyairkan) Zuhairbin Abi Sullami:

Barangsiapa yang takut dari sebab-sebab kematian.
la tetap akan diterkamnya, sekalipun ia naik ke atas langit dengan tangga.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa “al musyayyadatu” adalah sama dengan “al masyiidatu” sebagaimana firman-Nya, “Dan istana yang tinggi.” (QS. Al Hajj: 45). Namun ada pula pendapat yang mengatakan bahwa ada perbedaan arti di antara kedua kata tersebut, kata musyayyadah dengan memakai tasydid, artinya yang ditinggikan, sedang masyidah dibaca dengan takhfif (tanpa tasydid), berarti yang dihiasi (dicat) dengan kapur.

Firman-Nya: wa in tushibHum hasanatun (“Jika mereka memperoleh kebaikan.”) Yaitu kesuburan, rizki buah-buahan, tanam-tanaman, anak-anak dan yang sejpenisnya. Inilah makna perkataan Ibnu `Abbas, Abul Aliyah dan as-Suddi. Yaquuluuna HaadziHii min ‘indillaaHi wa in tushibHum sayyi-atun (“Mereka mengatakan: ‘Ini adalah dari sisi Allah dan kalau mereka ditimpa bencana,’”) Yaitu kekeringan dan kekurangan buah-buahan, tanam-tanaman, kematian anak-anak, gagalnya panen, dan lain-lain, sebagaimana yang dikatakan oleh Abul Aliyah dan as-Suddi.
Yaquuluuna HaadziHii min ‘indika (“Mereka mengatakan: ‘Ini dari sisimu ya Muhammad.’”) Yaitu dari sisimu dan karena kami mengikutimu dan agamamu. Sebagaimana firman Allah tentang kaum Fir’aun yang artinya:

“Apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: ‘Ini adalah karena (usaha) kami.’ Dan Jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya.” (QS. Al-A’raaf: 131)

Demikianlah perkataan orang-orang munafik yang masuk ke dalam Islam secara dhahir, padahal mereka benci padanya (Islam). Untuk itu jika mereka ditimpa suatu keburukan, mereka menisbatkan (menyandarkan) hal itu dengan sebab mereka mengikuti Nabi saw. Maka Allah menurunkan: qul kullum min ‘indillaaHi (“Katakanlah: ‘Semua datang dari sisi Allah.’”)

Firman-Nya, qul kullum min ‘indillaaHi (“Katakanlah: ‘Semua datang dari sisi Allah.’”) Yaitu seluruhnya dengan qadha (putusan) dan qadar (ketentuan) Allah. Allah-lah yang menentukan seseorang itu baik atau jahat, mukmin atau kafir.

`Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu `Abbas: “Katakanlah, semuanya itu adalah datang dari sisi Allah. “Yaitu kebaikan dan keburukan. Demikian pula perkataan al-Hasan al-Bashri.

Kemudian Allah berfirman mengingkari orang-orang yang mengucapkan kata-kata yang muncul dari keraguan dan kebimbangan, kurang faham dan kurang berilmu, serta bertumpuknya kejahilan dan kedhaliman: famaali Haa-ulaa-il qaumi laa yakaaduuna yafqaHuuna hadiitsan (“Maka mengapa orang-orang itu hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun.”)

Kemudian Allah berfirman kepada Rasul-Nya: walaupun tujuannya adalah untuk seluruh manusia, sebagai jawaban: maa ashaabaka min hasanatin fa minallaaHi (“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah.”) Yaitu dari karunia, kenikmatan, kelembutan dan kasih sayang-Nya. Wa maa ashaabaka min sayyi-atin fa min nafsika (“Dan apa-apa bencana yang menimpamu, maka dari dirimu sendiri.”) Yaitu dari sisimu dan dari perbuatanmu.

Sebagaimana firman Allah yang artinya: “Dan apa saja musibah yang menimpamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Dan Allah memaafkan sebagian besar dari kesalahan-kesalahanmu.”) (Asy-Syuura: 30).

As-Suddi, al-Hasan al-Bashri, Ibnu Juraij dan Ibnu Zaid berkata: fa min nafsika (“Dari dirimu sendiri”.) Yaitu dengan sebab dosamu. Qatadah berkata tentang ayat ini: fa min nafsika (“Dari dirimu sendiri”.) sebagai sangsi bagimu hai anak Adam, disebabkan dosa-dosamu.

Diriwayatkan secara bersambung di dalam ash-Shahih: “Demi Rabb yang jiwaku ada di tangan-Nya. Tidaklah mengenai seorang mukmin, baik kesedihan, duka cita, ataupun kelelahan, hingga terkena duri, melainkan Allah akan hapuskan kesalahan-kesalahannya dengan sebab tersebut.”

Abu Shalih berkata: Wa maa ashaabaka min sayyi-atin fa min nafsika (“Dan apa-apa bencana yang menimpamu, maka dari dirimu sendiri.”) Yaitu dengan sebab dosamu dan Aku yang menakdirkannya atasmu. (HR. Ibnu Jarir).

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Mutharrif bin `Abdillah, ia berkata: “Apa yang kalian maksudkan dengan qadar. Apakah tidak cukup bagi kalian ayat yang terdapat dalam surat an-Nisaa’: “Dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: ‘Ini adalah dari sisi Allah.’ Dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana, mereka mengatakan: ‘Ini (datangnya)dari sisi kamu (Muhammad).’” (QS. An-Nisaa’: 78). Yaitu dari dirimu sendiri. Demi Allah, mereka tidak diserahkan sepenuhnya kepada takdir. Mereka telah diperintah dan sesuai takdirlah akhirnya urusan mereka.”

Ini merupakan kalimat kokoh dan kuat yang menolak pendapat Qada-riyyah dan Jabariyyah. Untuk memperluasnya akan dibahas pada tempat yang lain.

Firman Allah: wa arsalnaaka lin naasi rasuulan (“Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia.”) Yaitu engkau sampaikan kepada mereka syari’at-syari’at Allah, apa yang dicintai dan diridhai-Nya, serta apa yang dibenci dan tidak disenangi-Nya.

Wa kafaa billaaHi syaHiidan (“Dan cukuplah Allah sebagal saksi.”) Yaitu,bahwa Allah telah mengutusmu, dan Allah pula yang menjadi saksi antara kamu dan mereka. Allah Mahamengetahui tentang apa yang telah engkau sampaikan kepada mereka, serta tentang penolakan mereka terhadap kebenaran yang berasal darimu, karena kufur dan pembangkangan.

&

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: