Hadits Nabawi

5 Mar

Ilmu Al-Qur’an (‘Ulumul Qur’an)
Studi Ilmu-ilmu Al-qur’an; Mannaa’ Khaliil al-Qattaan

Hadits [baru] dalam arti bahasa lawan qadim [lama]. Dan yang dimaksud hadits ialah setiap kata-kata yang diucapkan dan dinukil serta disampaikan oleh manusia baik kata-kata itu diperoleh melalui pendengaran atau wahyu, baik dalam keadaan jaga maupun dalam keadaan tidur. Dalam pengertian ini, al-Qur’an juga dinamai hadits.

“Hadits [kata-kata] siapakah yang lebih benar selain daripada Allah?” (an-Nisaa’: 87)

Begitu pula apa yang terjadi pada manusia di waktu tidurnya juga dinamakan hadits.

“….dan Engkau telah mengajarkan kepadaku sebagian takwil dari hadits-hadits [maksudnya mimpi].” (Yusuf: 101)

Sedang menurut istilah pengertian hadits ialah apa saja yang disandarkan kepada Nabi Muhammad saw. baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan atau sifat.

Yang berupa perkataan seperti perkataan Nabi saw: “Sesungguhnya sahnya amal itu disertai dengan niat. Dan setiap orang bergantung pada niatnya…” (Sebagian dari hadits panjang riwayat Bukhari dari Umar bin Khaththab)

Yang berupa perbuatan ialah seperti ajarannya kepada para shahabat mengenai bagaimana cara mengerjakan shalat; kemudian ia mengatakan: “Shalatlah seperti kamu melihat aku melakukan shalat.” (HR Bukhari)

Juga mengenai bagaimana ia melaksanakan ibadah haji; dalam hal ini Nabi saw. bersabda: “Ambillah daripadaku manasik hajimu.” (HR Muslim, Ahmad dan Nasa’i)

Sedang yang berupa persetujuan ialah seperti ia menyetujui suatu perkara yang dilakukan salah seorang shahabat, baik perkataan ataupun perbuatan, dilakukan di hadapannya ataupun tidak, tetapi beritanya sampai kepadanya. Misalnya mengenai makanan dlabb (sejenis biawak) yang dihidangkan kepada beliau; dan persetujuannya dalam sebuah riwayat, Nabi saw. mengutus orang dalam suatu peperangan. Orang itu membaca suatu bacaan dalam shalat yang diakhiri dengan Qul HuwallaaHu ahad. Setelah pulang, mereka menyapaikan hal itu kepada Nabi saw. lalu sabda Nabi: “Tanyakan kepadanya mengapa ia berbuat demikian.” Mereka pun menanyakannya. Dan orang itu menjawab: “Kalimat itu adalah sifat Allah dan aku senang membacanya.” Maka jawab Nabi: “Katakan kepadanya bahwa Allah pun menyenangi dia.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dan yang berupa sifat adalah riwayat seperti: “Bahwa Nabi saw. itu selalu bermuka cerah, berperangai halus dan lembut, tidak keras dan tidak pula kasar, tidak suka berteriak keras, tidak pula berbicara kotor dan tidak juga suka mencela….”

&

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: