Arti Wahyu

6 Mar

Ilmu Al-Qur’an (‘Ulumul Qur’an)
Studi Ilmu-ilmu Al-qur’an; Mannaa’ Khaliil al-Qattaan

Dikatakan: wa haitu ilaiHi; dan: au-haitu; bila kita berbicara kepadanya agar tidak diketahui orang lain. Wahyu adalah isyarat yang cepat. Itu terjadi melalui pembicaraan yang berupa rumus dan lambang, dan terkadang melalui suara semata, dan terkadang pula melalui isyarat dengan sebagian anggota badan.

Al-Wahy atau wahyu adalah kata masdar (infinitif); dan materi kata itu menunjukkan dua pengertian dasar, yaitu: tersembunyi dan cepat. Oleh karena itu, maka dikatakan bahwa wahyu ialah pemberitahuan secara tersembunyi dan cepat yang khusus ditujukan kepada orang yang diberitahu tanpa diketahui orang lain. Inilah pengertian masdarnya. Tetapi terkadang juga bahwa yang dimaksud adalah al-muuhaa, yaitu pengertian isim maf’ul, yang diwahyukan. Pengertian wahyu dalam arti bahasa meliputi:

1. Ilham sebagai bawaan dasar manusia, seperti wahyu terhadap ibu Nabi Musa: “Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa: ‘Susuilah dia…’” (al-Qashash: 7)

2. Ilham yang berupa naluri pada binatang, seperti wahyu kepada lebah: “Dan Tuhanmu telah mewahyukan kepada lebah: ‘Buatlah sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di rumah-rumah yang didirikan manusia.’” (an-Nahl: 68)

3. Isyarat yang cepat melalui rumus dan kode, seperti isyarat Zakaria yang diceritakan al-Qur’an: “Maka keluarlah dia dari mihrab, lalu memberi isyarat kepada mereka: ‘Hendaklah kamu bertasbih di waktu padi dan petang.’” (Maryam: 11)

4. Bisikan dan tipu daya setan untuk menjadikan yang buruk kelihatan indah dalam diri manusia: “Sesungguhnya syaitan-syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu.” (al-An’am: 121)

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan dari jenis manusia dan dari jenis jin; sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu manusia.” (al-An’am: 112)

5. Apa yang disampaikan Allah kepada para malaikatnya berupa suatu perintah untuk dikerjakan: “Ingatlah ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah pendirian orang-orang yang beriman.’” (al-Anfaal: 12)

Sedang wahyu Allah kepada para Nabi-Nya secara syara’ mereka didefinisikan sebagai “kalam Allah yang diturunkan kepada seorang Nabi.” Definisi ini menggunakan pengertian maf’ul, yaitu al-muuhaa [yang diwahyukan]. Ustadz Muhammad Abduh mendifinisikan wahyu di dalam Risalatut Tauhid sebagai “pengetahuan yang didapati seseorang dari dalam dirinya dengan disertai keyakinan pengetahuan itu datang dari Allah, baik dengan melalui perantara ataupun tidak; yang pertama melalui suara yang terjelma dalam telinganya atau tanpa suara sama sekali.

Beda antara wahyu dan ilham adalah bahwa ilham itu intuisi yang diyakini jiwa sehingga terdorong untuk mengikuti apa yang diminta, tanpa diketahui darimana datangnya. Hal seperti ini serupa dengan perasaan lapar, haus, sedih dan senang.” (lihat al-Wahyul Muhammad oleh Syaikh Muhammad Rasyid Rida, hal 44)

Definisi di atas adalah definisi wahyu dengan pengertian masdar. Bagian awal definisi ini mengesankan adanya kemiripan antara wahyu dengan suara hati atau kasyaf; tetapi pembedaannya dengan ilham diakhir definisi meniadakan hal ini.

&

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: