Ibnu Katsir

6 Mar

Ilmu Al-Qur’an (‘Ulumul Qur’an)
Studi Ilmu-ilmu Al-qur’an; Mannaa’ Khaliil al-Qattaan

Riwayat Hidup Ibnu Katsir

Ia adalah Isma’il bin ‘Amr al-Qurasyi bin Katsir al-Basri ad-Dimasyqi ‘Imaaduddiin Abul Fidaa al-Hafidz, al-Muhaddits asy-Syafi’i.

Ibnu Katsir dilahirkan pada 705 H. Wafat pada 774 H, sesudah menempuh kehidupan panjang yang sarat dengan keilmuan. Ia adalah seorang ahli fiqih yang sangat ahli, ahli hadits yang cerdas, sejarawan ulung dan mufasir paripurna.

Al-Hafidz Ibn Hajar menjelaskan: “Ia adalah seorang ahli hadits yang faqih. Karangannya tersebar luas di berbagai negeri semasa hidupnya dan dimanfaatkan orang banyak setelah wafatnya.”

Karya tulis Ibn Katsir:

1. al-Bidayah wan Nihaayah dalam bidang sejarah, merupakan rujukan terpenting bagi para sejarawan.
2. al-Kawaakibud Daraari, dalam bidang sejarah, cuplikan pilihan dari al-Bidaayah wan Nihaayah.
3. Tafsiirul Qur-aan; al-Ijtihaad fii Talabil Jihad
4. Jamii’ul Maasaniid; as-Sunanul Haadii li Aqwami Sunan;
5. al-Waahidun Nafis fii Munaaqibil Imaam Muhammad ibn Idris.

Tafsir Ibn Katsir

Tentang tafsirnya ini Muhammad Rasyid Rida menjelaskan: Tafsir ini merupakan tafsir paling masyhur yang memberikan perhatian besar terhadap apa yang diriwayatkan oleh para mufasir salaf dan menjelaskan makna-makna ayat dan hukum-hukumnya serta menjauhi pembahasan i’rab dan cabang-cabang balaghah yang pada umumnya dibicarakan panjang lebar oleh kebanyakan mufasir, juga menjauhi pembicaraan yang melebar pada ilmu-ilmu lain yang tidak diperlukan dalam memahami al-Qur’an secara umum atau memahami hukum dan nasehat-nasehatnya secara khusus.

Di antara ciri khas atau keistimewaannya ialah perhatiannya yang cukup besar terhadap apa yang mereka namakan “tafsir al-Qur’an dengan al-Qur’an”. Dan sepanjang pengetahuan kami, tafsif ini merupakan tafsir yang paling banyak memuat atau memaparkan ayat-ayat yang bersesuaian maknanya, kemudian diikuti dengan [penafsiran ayat dengan] hadits-hadist marfu’ yang ada relasinya dengan ayat [yang sedang ditafsirkan] serta menjelaskan apa yang dijadikan hujjah dari ayat tersebut. Kemudian diikuti pula dengan atsar para shahabat dan pendapat tabi’in dan ulama salaf sesudahnya.

Termasuk keistimewaannya pula ialah disertakannya selalu peringatan akan cerita Israiliyat tertolak [munkar] yang banyak tersebar dalam tafsir-tafsir bil ma’tsur, baik peringatan itu secara global maupun mendetail. Namun alangkah akan sangat lebih baik lagi andaikan ia menyelidikinya secara tuntas, atau bahkan tidak memuatnya samasekali jika tidak untuk keperluan pneyaringan dan penelitian.

&

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: