Korelasi antara ayat dengan ayat dan surah dengan surah

6 Mar

Ilmu Al-Qur’an (‘Ulumul Qur’an)
Studi Ilmu-ilmu Al-qur’an; Mannaa’ Khaliil al-Qattaan

Seperti halnya pengetahuan tentang asbabun nuzul yang mempunyai pengaruh dalam memahami makna dan menafsirkan ayat, maka pengetahuan tentang munasabah atau korelasi antara ayat dengan ayat, dan surah dengan surah juga membantu dalam pentakwilan dan pemahaman ayat dengan baik dan cermat. Oleh sebab itu sebagian ulama mengkhususkan diri untuk menulis buku mengenai pembahasan ini.

Munaasabah [korelasi] dalam pengertian bahasa berarti kedekatan. Dikatakan: “Si fulan munaasabah dengan si fulan.” Berarti ia mendekati dan menyerupai si fulan itu. Dan di antara pengertian ini ialah munaasabah ‘illat hukum dalam bab kias, yakni sifat yang berdekatan dengan hukum.

Yang dimaksud munaasabah di sini ialah segi-segi hubungan antara satu kalimat dengan kalimat lain dalam satu ayat, antara satu ayat dengan ayat lain dalam banyak ayat, atau antara satu surah dengan surah lain. Pengetahuan tentang munaasabah ini sangat bermanfaat dalam memahami keserasian antara makna, mukjizat al-Qur’an secara retorik, kejelasan keterangannya, keteraturan susunan kalimatnya dan keindahan gaya bahasanya.

“Kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terinci, diturunkan dari sisi Allah Yang Mahabijaksana dan Mahatahu.” (Huud: 1)

Az-Zarkasyi menyebutkan: “Manfaatnya ialah menjadikan sebagian pembicaraan berkaitan dengan sebagian yang lainnya, sehingga hubungannya menjadi kuat, bentuk susunannya kokoh dan bersesuaian bagian-bagiannya laksana sebuah bangunan yang amat kokoh.”

Qadi Abu Bakar Ibnul ‘Arabi menjelaskan: “Mengetahui sejauh mana hubungan antara ayat-ayat satu dengan yang lain sehingga semuanya menjadi seperti satu kata, yang maknanya serasi dan susunannya teratur merupakan ilmu yang besar.”

Pengetahuan mengenai korelasi dan hubungan antara ayat-ayat itu bukanlah hal yang tauqiifi [tak dapat diganggu gugat karena telah ditetapkan Rasul], tetapi didasarkan pada ijtihad seorang mufasir dan tingkat penghayatannya terhadap kemukjizatan al-Qur’an. Rahasia retorika, dan segi keterangannya yang mandiri. Apabila korelasi itu halus maknanya, harmonis konteksnya dan sesuai dengan asas-asas kebahasaan dalam ilmu-ilmu bahasa Arab, maka korelasi tersebut dapat diterima.

Hal yang demikian itu tidak berarti bahwa seorang mufasir harus mencari kesesuaian bagi setiap ayat, karena al-Qur’anul Karim turun secara bertahab sesuai dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi. Seorang mufasir terkadang dapat menemukan hubungan antara ayat-ayat dan terkadang pula tidak. Oleh sebab itu, ia tidak perlu memaksakan diri untuk menemukan kesesuaian itu, sebab kalau memaksakannya juga maka kesesuaian itu hanyalah dibuat-buat dan hal itu tidak disukai.

Syaikh ‘Izz bin ‘Abdus Salam mengatakan: “Munaasabah [korelasi] adalah ilmu yang baik; tetapi dalam menetapkan keterkaitannya antar kata-kata secara baik itu disyaratkan hanya dalam hal yang awal dengan akhirnya memang bersatu dan berkaitan. Sedang dalam hal yang mempunyai beberapa sebab berlainan, tidak disyaratkan adanya hubungan antara yang satu dengan yang lain.”

Selanjutnya ia mengatakan: “Orang yang menghubung-hubungkan hal demikian berarti ia telah memaksakan diri dalam hal yang sebenarnya tidak dapat dihubung-hubungkan kecuali dengan cara yang sangat lemah yang tidak dapat diterapkan pada kata-kata yang baik, apalagi yang lebih baik. Itu semua mengingat al-Qur’an diturunkan dalam waktu lebih dari dua puluh tahun, mengenai berbagai hukum dan karena sebab yang berbeda-beda. Oleh karena itu tidak mudah menghubungkan sebagiannya dengan sebagian yang lain.”

Sebagian mufasir telah menaruh perhatian besar untuk menjelaskan korelasi antara kalimat dengan kalimat, ayat dengan ayat atau surah dengan surah dan mereka telah menyimpulkan segi-segi kesesuaian yang cermat. Hal itu disebabkan karena sebuah kalimat terkadang merupakan penguat terhadap kalimat sebelumnya, sebagai penjelasan, tafsiran atau sebagai komentar akhir. Yang demikian ini banyak contohnya.

Setiap ayat mempunyai aspek hubungan dengan ayat sebelumnya dalam arti kandungan yang menyatukan, seperti perbandingan atau perimbangan antara sifat orang mukmin dengan sifat orang musyrik, antara ancaman dengan janji untuk mereka, penyebutan ayat-ayat rahmat sesudah ayat-ayat adzab, ayat-ayat berisi anjuran sesudah ayat-ayat berisi ancaman, ayat-ayat tauhid dan kemahasucian Allah sesudah ayat-ayat tentang alam…dst.

Terkadang munaasabah itu terletak pada perhatiannya terhadap keadaan lawan bicara, seperti firman Allah: “Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana ia diciptakan; dan langit bagaimana ia ditinggikan; dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan; dan bumi bagaimana ia dihamparkan?” (al-Ghaasyiyah: 17-20)

Penggabungan antara unta, langit dan gunung-gunung ini karena memperhatikan adat dan kebiasaan yang berlaku di kalangan lawan bicara yang tinggal di padang pasir, dimana kehidupan mereka bergantung pada unta sehingga mereka amat memperhatikannya. Namun keadaan demikian pun tidak mungkin berlangsung kecuali jika ada air yang dapat menumbuhkan rumput di tempat gembalaan dan diminum unta. Keadaan ini terjadi jika turun hujan. Dan inilah yang menjadi sebab mengapa wajah mereka selalu menengadah ke langit.

Kemudian mereka juga membutuhkan tempat berlindung, dan tidak ada tempat berlindung yang lebih baik daripada gunung-gunung. Mereka memerlukan rerumputan dan air, sehingga meninggalkan suatu daerah dan turun ke daerah lain, dan berpindah dari tempat gembala yang tandus menuju tempat gembala yang subur. Maka apabila penghuni padang pasir mendengar ayat-ayat di atas, hati mereka terasa menyatu dengan apa yang mereka saksikan sendiri yang senantiasa tidak lepas dari benak mereka.

Terkadang munaasabah itu terjadi antara satu surah dengan surah lain, misalnya pembukaan surah al-An’am dengan al-hamdu: “Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dan mengadakan gelap dan terang.” (al-An’am: 1)

Ini sesuai dengan penutup surah al-Maaidah yang menerangkan keputusan di antara para hamba berikut balasannya: “Jika Engkau menyiksa mereka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau; dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa dan Mahabijaksana…” (al-Maa-idah: 118-120)

Hal ini seperti difirmankan Allah: “Dan diberi putusan di antara hamba-hamba Allah dengan adil dan diucapkan: ‘Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.’” (az-Zumar: 75)

Demikian pula pembukaan surah al-Hadid yang dibuka dengan tasbih: “Semua yang berada di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dan Dialah Yang Mahaperkasa dan Mahabijaksana.” (al-Hadid: 1)

Pembukaan ini sesuai dengan akhir surah al-Waqi’ah yang memerintahkan bertasbih: “Maka bertasbihlah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Mahabesar.” (al-Waqi’ah: 96)

Begitu juga hubungan antara surah Quraisy dengan surah al-Fiil. Ini karena kebinasaan “tentara gajah” mengakibatkan orang Quraisy dapat mengadakan perjalanan pada musim dingin dan musim panas; sehingga al-Akhfasy menyatakan bahwa hubungan antara kedua surah ini termasuk hubungan sebab-akibat seperti firman Allah:

“Maka dipungutlah ia [Musa] oleh keluarga Fir’aun yang akibatnya ia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka.” (al-Qashash: 8)

Munaasabah terjadi pula antara awal surah dengan akhir surah. Contohnya adalah apa yang terdapat dalam surah al-Qashash. Surah ini diawali dengan menceritakan Musa, menjelaskan langkah awal dan pertolongan yang diperolehnya; kemudian menceritakan perlakuannya ketika ia mendapati dua orang laki-laki yang sedang berkelahi.

Allah mengisahkan doa Musa: “Musa berkata: ‘Ya Rabb, demi nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, aku sekali-sekali tidak akan menjadi penolong bagi orang-orang yang berdosa.’” (al-Qashash: 17)

Kemudian surah itu diakhiri dengan menghibur Rasul kita Muhammad bahwa ia akan keluar dari Makkah dan dijanjikan akan kembali lagi ke Makkah serta melarangnya menjadi penolong bagi orang-orang yang kafir.

“Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al Quran, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali. Katakanlah: ‘Tuhanku mengetahui orang yang membawa petunjuk dan orang yang dalam kesesatan yang nyata.’ dan kamu tidak pernah mengharap agar Al Quran diturunkan kepadamu, tetapi ia (diturunkan) karena suatu rahmat yang besar dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu menjadi penolong bagi orang-orang kafir.’” (al-Qashash: 85-86)

Orang yang membaca secara cermat kitab-kitab tafsir tentu akan menemukan berbagai segi kesesuaian [munaasabah] tersebut.

&

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: