Kompromi antara Dua Pendapat dengan Memahami Makna Takwil

9 Mar

Ilmu Al-Qur’an (‘Ulumul Qur’an)
Studi Ilmu-ilmu Al-qur’an; Mannaa’ Khaliil al-Qattaan

Dengan merujuk kepada makna takwil [at-ta’wil] maka akan jelaslah bahwa antara kedua pendapat di atas tidak terdapat pertentangan, karena lafadz “takwil” digunakan untuk menunjukkan tiga makna:

1. Memalingkan sebuah lafadz dari makna yang kuat [rajih] kepada makna yang lemah [marjih] karena ada suatu dalil yang menghendakinya. Inilah pengertian takwil yang dimaksudkan oleh mayoritas ulama muta’akhkhirin.

2. Takwil dengan makna tafsir [menerangkan, menjelaskan] yaitu pembicaraan untuk menafsirkan lafadz-lafadz agar maknanya dapat dipahami.

3. Takwil adalah hakekat [substansi] yang kepadanya pembicaraan dikembalikan. Maka, takwil dari apa yang diberikan Allah tentang zat dan sifat-sifat-Nya ialah hakekat zat-Nya itu sendiri yang kudus dan hakekat sifat-sifat-Nya. Dan takwil dari apa yang diberitakan Allah tentang hari kemudian adalah substansi yang ada pada hari kemudian itu sendiri. Dengan makna inilah diartikan ucapan Aisyah:

“Rasulullah saw. mengucapkan di dalam ruku’ dan sujudnya: “Subhaanaka AllaaHumma rabbanaa wa bi hamdika. allaaHummaghfirlii.” Bacaan ini sebagai takwil beliau terhadap al-Qur’an, yaitu firman Allah: fa sabbih bi hamdi rabbika wastaghfirHu innaHuu kaana tawwaaban. (an-Nashr: 3).”

Golongan yang mengatakan bahwa waqaf dilakukan pada lafadz: wa maa ya’lamu ta’wiilaHuu illallaaHu; dan menjadikan: war rasikhuuna fil ‘ilmi, sebagai isti’naaf [permulaan kalimat] mengatakan, “takwil” dalam ayat ini adalah takwil dengan pengertian yang ketiga, yakni hakekat yang dimaksud dari suatu perkataan. Karena itu hakekat zat Allah, esensi-Nya, kaifiat nama dan sifat-Nya serta hakekat hari kemudian, semua itu tidak ada yang mengetahuinya selain Allah sendiri.

Sebaliknya, golongan yang mengatakan “waqaf” pada lafadz: war raasikhuuna fil ‘ilmi; dengan menjadikan “wawu” sebagai huruf ‘ataf, bukan isti’naaf, mengartikan kata takwil tersebut dengna arti kedua, yaitu tafsir, sebagaimana dikemukakan oleh Mujahid, seorang tokoh ahli tafsir terkemuka. Mengenai Mujahid ini as-Sauri berkata: “Jika datang kepadamu tafsir dari Mujahid, maka cukuplah tafsir itu bagimu.” Jika dikatakan, ia mengetahui yang mutasyabih, maka maksudnya ialah bahwa ia mengetahui tafsirnya.

Dengan pembahasan ini jelaslah bahwa pada hakekatnya tidak ada pertentangan antara kedua pendapat tersebut. Dan masalahnya ini hanya berkisar pada perbedaan arti takwil.

Dalam al-Qur’an terdapat lafadz-lafadz mutasyabih yang makna-maknanya serupa dengan makna yang kita ketahui di dunia, akan tetapi hakekatnya tidak sama. Misalnya asma Allah dan sifat-sifat-Nya; meskipun serupa dengan nama-nama hamba dan sifat-sifatnya dalam hal lafadz dan makna kulli [universal]nya akan tetapi hakekat Khalik dan sifat-sifat-Nya itu sama sekali tidak sama dengan hakekat makhluk dan sifat-sifatnya.

Para ulama peneliti memahami betul makna lafadz-lafadz tersebut dan dapat membeda-bedakannya. Namun hakekat sebenarnya merupakan takwil yang hanya diketahui Allah. Oleh karena itu ketika ditanyakan kepada Malik dan ulama salaf lainnya tentang makna istiwa’ dalam firman Allah: ar raahmaanu ‘alal ‘arsyis tawaa, mereka menjawab: “Maksud istiwa’ [bersemayam] telah kita ketahui, namun bagaimana mengenai caranya kita tidak mengetahuinya. Iman kepadanya adalah wajib dan menanyakannya adalah bid’ah.”

Rabi’ah bin Abdur rahman, guru Malik, jauh sebelumnya pernah berkata: “Arti istiwa’ sudah kita ketahui, tetapi bagaimana caranya tidak diketahui. Hanya Allah lah yang mengetahui apa sebenarnya. Rasul pun hanya menyampaikan, sedang kita wajib mengimaninya.” Jadi jelaslah bahwa arti istiwa’ itu sendiri sudah diketahui tetapi caranyalah yang tidak diketahui.

Demikian pula halnya berita-berita dari Allah tentang hari kemudian. Di dalamnya terdapat lafadz-lafadz yang maknanya serupa dengan apa yang kita kenal, akan tetapi hakekatnya tidaklah sama. Misalnya di akhirat terdapat “mizan” [timbangan], jannah [taman] dan naar [api]. Dan di dalam taman itu terdapat:

“sungai-sungai air yang tidak berubah rasa dan baunya, sungai-sungai air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai khamar yang lezat rasanya bagi para peminumnya dan sungai-sungai madu yang disaring.” (QS Muhammad: 15)

“Di dalamnya ada tahta-tahta yang ditinggikan, dan gelas-gelas yang terletak [di dekatnya] dan bantal-bantal sandaran yang tersusun dan permadani-permadani yang terhampar.” (al-Ghasyiyah: 13-16)

Berita-berita itu harus kita yakini dan imani, di samping juga harus diyakini bahwa yang ghaib itu lebih besar daripada yang nyata, dan segala apa yang ada di akhirat adalah berbeda dengan apa yang ada di dunia. Namun hakekat perbedaan ini tidak kita ketahui karena termasuk “takwil” yang hanya diketahui oleh Allah.

&

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: