Perbedaan Pendapat tentang Kemungkinan Mengetahui Mutasyabih

9 Mar

Ilmu Al-Qur’an (‘Ulumul Qur’an)
Studi Ilmu-ilmu Al-qur’an; Mannaa’ Khaliil al-Qattaan

Sebagaimana terjadi perbedaan pendapat tentang pengertian muhkam dan mutasyabih dalam arti khusus, perbedaan pendapat mengenai kemungkinan maksud ayat yang mutasyabih pun tidak dapat dihindarkan.

Sumber perbedaan pendapat ini bersumber pada masalah waqaf pada ayat: war raasikhuuna fil ‘ilmi. Apakah kedudukan lafadz ini sebagai mubtada’ yang khabarnya adalah: yaquuluuna, dengan “wawu” diperlakukan sebagai huruf isti’naaf [permulaan] dan waqaf dilakukan pada lafadz: wa maa ya’lamu ta’wiilaHuu illaallaaH, ataukah ia ma’tuuf, sedang lafadz: yaquuluuna, menjadi haal dan waqafnya pada lafadz: war raasikhuuna fil ‘ilmi.

Pendapat pertama diikuti oleh sejumlah ulama. Di antaranya: Ubai bin Ka’b, Ibn Mas’ud, Ibn Abbas, sejumlah sahabat, tabi’in dan lainnya. Mereka beralasan antara lain dengan keterangan yang diriwayatkan oleh al-Hakim dalam Mustadrak-nya. bersumber dari Ibn Abbas, bahwa ia membaca: wa maa ya’lamu ta’wiilaHuu illaallaaH wa yaquulur raasikhuuna fil ‘ilmi aamannaa biHii.

Dan dengan qira’at Ibn Mas’ud: wa inna ta’wiiluHuu illaa ‘indallaaHi war raasikhuuna fil ‘ilmi yaquuluuna aamannaa biHii. Juga dengan ayat itu sendiri yang menyatakan celaan terhadap orang-orang yang mengikuti mutasyabih dan mensifatinya sebagai orang-orang yang hatinya “condong kepada kesesatan dan berusaha menimbulkan fitnah.”

Dari ‘Aisyah ia berkata: Rasulullah saw. membaca ayat ini: Huwal ladzii anzala ‘alaikal kitaaba… sampai dengan: ulul albaab. Kemudian berkata: “Apabila kamu melihat orang yang mengikuti ayat-ayat mutasyabih mereka itulah yang disinyalir Allah. Maka waspasalah terhadap mereka.” (HR Bukhari, Muslim dan lainnya)

Pendpat kedua [yang menyatakan “wawu” sebagai huruf ‘athaf] dipilih oleh segolongan ulama lain yang dipelopori oleh Mujahid.

Diriwayatkan dari Mujahid, ia berkata: Saya telah membacakan mushaf kepada Ibn Abbas mulai dari al-Faatihah sampai tamat. Saya pelajari sampai paham setiap ayatnya dan saya tanyakan kepadanya tentang tafsirnya.

Pendapat ini dipilih juga oleh an-Nawawi. Dalam Syarah Muslim-nya ia menegaskan, inilah pendapat yang paling shahih, karena tidak mungkin Allah menyeru hamba-hamba-Nya dengan sesuatu yang tidak dapat diketahui maksudnya oleh mereka.

&

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: