Pengertian Naskh dan Syarat-Syaratnya

10 Mar

Ilmu Al-Qur’an (‘Ulumul Qur’an)
Studi Ilmu-ilmu Al-qur’an; Mannaa’ Khaliil al-Qattaan

Naskh menurut bahasa dipergunakan untuk arti izaalah [menghilangkan]. Misalnya: nasakhatisy syamsudh dhalla (“matahari menghilangkan bayang-bayang”) dan: wa nasakhatir riihu atsral masy-yi (“angin menghilangkan jejak perjalanan”).

Kata naskh juga dipergunakan untuk makna memindahkan sesuatu dari suatu tempat ke tempat lain. Misalnya: nasakhtul kitaaba (“saya memindahkan [menyalin] apa yang ada di dalam buku.”) di dalam al-Qur’an dinyatakan: innaa kunnaa nastansikhu maa kuntum ta’maluun (al-Jaatsiyah: 29). Maksudnya: Kami memindahkan [mencatat] amal perbuatan ke dalam lembaran [catatan amal].

Menurut istilah, naskh ialah mengangkat [menghapuskan] hukum syara’ dengan dalil hukum [khitab] syara’ yang lain. Dengan pengkataan “hukum”, maka tidak termasuk dalam pengertian nasikh menghapuskan “kebolehan” yang bersifat asal [al-baraa’ah al asliyah]. Dan kata-kata “dengan khitab syara” mengecualikan pengangkatan [penghapusan] hukum disebabkan mati atau gila atau penghapusan dengan ijma’ atau qiyas.

Kata naasikh [yang menghapus] dapat diartikan dengan “Allah”, seperti terlihat dalam : maa nansakh min aayatin (al-Baqarah: 106) dengan “ayat” atau sesuatu yang dengannya naskh diketahui, seperti kata: HaadziHil aayatu naasikhatanil aayati kadzaa (“ayat ini menghapus ayat anu”) dan juga dengan “hukum yang menghapuskan” hukum yang lain.

Mansuukh adalah hukum yang diangkat atau dihapuskan. Maka ayat mawarits atau hukum yang terkandung di dalamnya, misalnya, adalah menghapuskan [naasikh] hukum wasiat kepada kedua orang tua atau kerabat [mansuukh] sebagaimana akan dijelaskan.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dalam naskh diperlukan syarat-syarat berikut:
1. Hukum yang mansukh adalah hukum syara’
2. Dalil penghapusan hukum tersebut adalah khitab syar’i yang datang lebih kemudian dari khitab yang hukumnya mansukh.
3. Khitab yang mansukh hukumnya tidak terikat [dibatasi] dengan waktu tertentu. Sebab jika tidak demikian maka hukum akan berakhir dengan berakhirnya waktu tersebut. Dan yang demikian tidak dinamakan naskh.

Makki bin Hamusy berkata: Segolongan ulama menegaskan bahwa khitab yang mengisyaratkan waktu dan batas waktu tertentu, seperti firman Allah: fa’fuu wash-fahuu hattaa ya’tiyallaaHu bi amriHi (“Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka sampai Allah mendatangkan perintah-Nya”) (al-Baqarah: 109) adalah muhkam, tidak mansukh, sebab ia dikaitkan dengan batas waktu. Sedang apa yang dikaitkan dengan batas waktu, tidak ada naskh di dalamnya.

&

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: