Tafsir Ibnu Katsir Surah At-Taubah / Al-Bara’ah ayat 84

29 Jun

Tafsir Al-Qur’an Surah At-Taubah (Pengampunan)
Surah Madaniyyah; surah ke 9: 129 ayat

tulisan arab alquran surat at taubah ayat 84“Dan janganlah sekali-kali kamu menshalatkan (jenazah) seseorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mereka mati dalam keadaan fasik.” (QS. at-Taubah: 84)

Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk membebaskan diri dari orang-orang munafik dan tidak menshalatkan seorang pun yang meninggal dunia dari mereka, serta tidak berdiri di atas kuburnya guna memohonkan ampunan baginya atau mendo`akannya, karena mereka itu telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka meninggal dunia dalam keadaan kafir. Hukum itu berlaku bagi siapa saja yang telah diketahui kemunafikannya, meskipun sebab turunnya ayat ini hanya berkenaan dengan ‘Abdullah Ubay bin Salul, pemimpin orang-orang munafik.

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, dari Ibnu’Umar, ia menceritakan:
“Ketika `Abdullah bin Ubay meninggal dunia, puteranya yang bernama `Abdullah bin `Abdullah datang kepada Rasulullah saw, lalu ia meminta beliau supaya memberikan kepadanya baju beliau untuk mengkafani ayahnya. beliau pun memberikannya. Lalu ia meminta beliau untuk menshalatkan jenazahnya, maka Rasulullah berangkat untuk menshalatkan. Kemudian `Umar menarik baju beliau seraya berkata: `Ya Rasulullah, apakah engkau akan menshalatkannya, padahal Rabbmu telah melarangmu untuk menshalatkannya?’”

“Sesungguhnya Allah telah memberikan pilihan kepadaku, di mana Allah berfirman: `Engkau mohonkan ampun bagi mereka atau tidak engkau mohonkan ampun bagi mereka adalah sama saja. Kendatipun engkau mohonkan ampun mereka tujuh puluh kali, nmmun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka,’ dan aku akan menambahnya lebih dari tujuh puluh kali.”
`Umar berkata: “Sesungguhnya, ia adalah seorang munafik.”

Ibnu `Umar melanjutkan ceritanya, maka Rasulullah pun menshalatkannya, lalu Allah menurunkan ayat: wa laa tushallii ‘alaa ahadin minHum maata abadaw walaa taqum ‘alaa qabriHi (“Dan janganlah kalian sekali-kali menshalatkan [jenazah] seorang yang mati di antara mereka. Dan janganlah kalian berdiri [mendo’akan] di kuburnya.”)

Demikian pula hadits senada yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.

`Umar bin al-Khaththab tidak menshalatkan jenazah orang yang diketahui keadaannya, sehingga Hudzaifah bin al-Yaman menshalatkannya, karena ia mengetahui setiap individu dari orang-orang munafik dan Rasulullah saw sendiri telah memberitahukan kepadanya tentang orang-orang munafik tersebut.

Dalam kitab al-Gharib fi Hadits `Umar, Abu `Ubaid menceritakan, bahwa ketika ia hendak menshalatkan jenazah seseorang, Hudzaifah mencubitnya seolah-olah ia (Hudzaifah) hendak menghalang-halanginya menshalatkan jenazah tersebut. Diceritakan dari sebagian mereka, bahwa cubitan (al-marzu) menurut orang-orang yang mengetahui maksudnya adalah, cubitan (al-qarshu) dengan. menggunakan ujung-ujung jari.

Setelah Allah melarang untuk menshalatkan jenazah orang-orang munafik dan berdiri di atas kuburan mereka guna memohonkan ampunan bagi mereka, maka yang demikian itu menjadi salah satu bentuk amalan mendekatkan diri yang paling besar bagi orang-orang yang beriman, hal itupun disyari’atkan. Di mana bila mengerjakannya, maka akan memperoleh pahala yang besar.

Sebagaimana yang ditegaskan di dalam buku-buku hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah telah bersabda:
“Barangsiapa yang menghadiri jenazah sampai jenazah itu dishalatkan, maka baginya satu qirath. Dan barangsiapa menghadiri jenazah sampai jenazah dikuburkan, maka baginya dua qirath.”
Ditanyakan: “Apakah yang dimaksud dengan dua qirath tersebut?”
Beliau menjawab: “Yang paling kecil di antara keduanya itu adalah seperti gunung Uhud.”

&

Iklan

Satu Tanggapan to “Tafsir Ibnu Katsir Surah At-Taubah / Al-Bara’ah ayat 84”

  1. susanto hadi 23 Oktober 2016 pada 08.38 #

    copy posting diatas :
    Sesungguhnya Allah telah memberikan pilihan kepadaku, di mana Allah berfirman: `Engkau mohonkan ampun bagi mereka atau tidak engkau mohonkan ampun bagi mereka adalah sama saja. Kendatipun engkau mohonkan ampun mereka tujuh puluh kali, nmmun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka,’ dan aku akan menambahnya lebih dari tujuh puluh kali.”
    `Umar berkata: “Sesungguhnya, ia adalah seorang munafik.”

    Ibnu `Umar melanjutkan ceritanya, maka “RASULULLAH PUN MENSHALATKANNYA 1)” , lalu Allah menurunkan ayat: wa laa tushallii ‘alaa ahadin minHum maata abadaw walaa taqum ‘alaa qabriHi (“Dan janganlah kalian sekali-kali menshalatkan [jenazah] seorang yang mati di antara mereka. Dan janganlah kalian berdiri [mendo’akan] di kuburnya.”)

    Demikian pula hadits senada yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.

    `Umar bin al-Khaththab TIDAK menshalatkan jenazah orang yang diketahui keadaannya, sehingga Hudzaifah bin al-Yaman menshalatkannya, karena ia mengetahui setiap individu dari orang-orang munafik dan Rasulullah saw sendiri telah memberitahukan kepadanya tentang orang-orang munafik tersebut………….

    Lihat yg dengan huruf besar 1) ada kata “TIDAK ” yang tidak ditulis
    dan berbeda dgn makana ayat 84 ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: