Tafsir Ibnu Katsir Surah At-Taubah / Al-Bara’ah ayat 91-93

29 Jun

Tafsir Al-Qur’an Surah At-Taubah (Pengampunan)
Surah Madaniyyah; surah ke 9: 129 ayat

tulisan arab alquran surat at taubah ayat 91-93“Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, atas orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan sedikit pun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang. (QS. 9:9 1) Dan tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: ‘Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu,’ lalu mereka kembali, sedang mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan. (QS. 9:92) Sesungguhnya jalan (untuk menyalahkan) hanyalah terhadap orang-orang yang meminta izin kepadamu, padahal mereka itu adalah orang-orang yang kaya. Mereka rela berada bersama orang-orang yang tidak ikut berperang dan Allah telah mengunci mati hati mereka, maka mereka tidak mengetahui (akibat perbuatan mereka). (QS. 9:93)” (at-Taubah / al-Baraah: 91-93)

Setelah itu, Allah menjelaskan alasan-alasan yang membolehkan orang untuk tidak berangkat berperang. Allah menyebutkan, di antaranya adalah alasan yang menjadi suatu keharusan bagi setiap orang yang tidak mungkin dihindari, kelemahan fisik sehingga tidak memungkinkan baginya untuk berjihad. Yang termasuk hal itu antara lain: Buta, pincang, dan lain-lain yang semisalnya. Oleh karena itu, Allah memulai ayat di atas dengan alasan kelemahan tersebut.

Alasan lainnya adalah yang bersifat insidentil (hanya terjadi pada kesempatan-kesempatan tertentu), yang disebabkan oleh penyakit yang bersemayam dalam tubuh seseorang yang menyebabkan dirinya tidak mampu untuk pergi berjihad di jalan Allah, atau disebabkan kefakirannya yang menyebabkan dirinya tidak mampu untuk mempersiapkan perlengkapan (bekal) untuk berperang. Bagi mereka ini tidak ada dosa jika mereka tetap di tempat. Dan pada saat itu mereka harus tulus ikhlas menjalaninya, serta tidak berusaha untuk menggoyahkan orang lain dan tidak juga menghalang-halangi mereka. Dan mereka tetap baik dalam menjalani keadaan mereka ini.

Oleh karena itu, Allah berfirman: maa ‘alal muhsiniina min sabiiliw wallaaHu ghafuurur rahiim (“Tidak ada jalan sedikit pun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.”)

Sufyan ats-Tsauri menceritakan, dari `Abdul `Aziz bin Rafi’, dari Abu Tsumamah, ia menceritakan, al-Hawariyyun (Para sahabat setia) berkata: “Hai Ruhullah, beritahukan kepada kami tentang orang yang tulus ikhlas kepada Allah Ta ala.” la menjawab: “Yaitu yang mendahulukan hak Allah atas hak manusia. Jika terjadi pada dirinya dua urusan atau tampak olehnya urusan dunia dan urusan akhirat, maka ia akan memulai dengan urusan akhirat, baru setelah itu beralih kepada urusan dunia.”

Al-Auza’i menceritakan, orang-orang pernah pergi menunaikan shalat istisqa’ (meminta hujan), lalu Bilal bin Sa’ad berdiri di tengah-tengah mereka. la memanjatkan pujian kepada Allah dan kemudian berkata: “Wahai para hadirin sekalian, bukankah kalian mengakui berbuat keburukan?” Mereka menjawab: “Benar.” Kemudian Bilal berucap: “Ya Allah, sesungguhnya kami mendengar Engkau berfirman: maa ‘alal muhsiniina min sabiil (“Tidak ada jalan sedikitpun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik.”) Ya Allah, sesungguhnya kami telah mengakui berbuat keburukan, maka ampunilah kami, sayangilah dan turunkanlah hujan kepada kami.” Setelah itu ia mengangkat kedua tangannya dan orang-orang pun mengangkat tangan mereka, hingga akhirnya diturunkan hujan kepada mereka.

Qatadah mengatakan, ayat ini turun berkenaan dengan `A-idz bin `Amr al-Muzani, Ibnu Abi Hatim memberitahu kami, dari Zaid bin Tsabit, ia bercerita, aku pernah menuliskan wahyu untuk Rasulullah saw. Aku menulis surat Bara-ah, lalu aku letakkan pena ditelingaku, tiba-tiba beliau memerintahkan kami berperang. Lalu Rasulullah menunggu apa yang akan turun kepadanya, mendadak ada seorang buta yang datang seraya bertanya: “Lalu bagaimana denganku, ya Rasulullah, sedang aku ini seorang yang buta?” Maka turunlah ayat: laisa ‘aladl-dlu’afaa-i ( “Tidak ada dosa [lantaran tidak pergi berjihad] bagi orang-orang yang lemah.”)

Mengenai ayat ini, al-‘Aufi menceritakan dari Ibnu `Abbas: Yang demikian itu, bahwasanya Rasulullah saw. memerintahkan agar orang-orang berangkat menuju dua perang bersama beliau. Kemudian sejumlah sahabatnya mendatangi beliau yang di antara mereka adalah `Abdullah bin Mughaffal bin Muqrin al-Muzani. Mereka berkata: “Ya Rasulullah, ajaklah kami berangkat.”
Maka beliau bertutur kepada mereka: “Demi Allah, aku tidak mendapatkan kendaraan yang dapat mengangkut Maka mereka kembali sambil menangis. Mereka merasa berat untuk tidak ikut berjihad sedang mereka tidak mempunyai biaya dan juga kendaraan.

Setelah Allah A mengetahui kesungguhan mereka untuk mencintai-Nya clan mencintai Rasul-Nya, Allah menurunkan alasan bagi mereka dalam kitab-Nya. Allah berfirman yang artinya:
“Tidak ada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) bagi orang-orang yang lemah, bagi orang-orang yang sakit dan bagi orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan sedikit pun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang. Dan tidak pula dosa bagi orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu katakan: ‘Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu.’ Lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena sedih, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan. Sesungguhnya jalan (untuk menyalahkan) hanyalah terhadap orang-orang yang meminta izin kepadamu, padahal mereka itu adalah orang-orang kaya. Mereka rela berada bersama-sama orang-orang yang tidak ikut berperang dan Allah telah mengunci mati hati mereka, maka mereka tidak mengetahui (akibat perbuatan mereka).”

Mengenai firman Allah Ta’ala: walaa ‘alal ladziina idzaa maa atauka litahmilaHum (“Dan tidak ada pula dosa bagi orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan.”) Mujahid mengatakan: “Ayat ini turun berkenaan dengan Bani Muqrin dari Muzinah.”

Sedangkan Muhammad bin Ka’ab mengatakan: “Mereka berjumlah tujuh orang dari Bani ‘Amr bin ‘Auf bin Salim bin Auf, dari Bani Waqif Harami bin `Amr, dari Bani Mazin an-Najjar `Abdurrahman bin Ka’ab (Abu Laila) dan dari Bani al-Ma’ali Bani Salamah `Amr bin `Utbah dan `Abdullah bin `Amr al-Muzani.”

Muhammad bin Ishaq mengatakan: Dalam perjalanan menuju perang Tabuk, kemudian ada beberapa orang dari kaum muslimin yang mendatangi Rasulullah saw, sedang mereka dalam keadaan menangis. Mereka ini berjumlah tujuh orang dari kaum Anshar dan yang lainnya, termasuk Bani `Amr bin `Auf Salim Ibnu `Umair, `Aliyah bin Zaid saudara Bani Haritsah, serta Abu Laila `Abdurrahman bin Ka’ab saudara Bani Mazin bin an-Najjar, `Amr bin al-Hamam bin al-Jamuh saudara Bani Salamah dan`Abdullah bin al-Mughaffal al-Muzani.

Sebagian orang berkata, tetapi ia adalah `Abdullah bin `Amr al-Muzani dan Harami bin `Abdullah saudara Bani Waqif `Iyadh bin Sariyah al-Fazari. Mereka meminta agar Rasulullah saw. membawa mereka dan mereka termasuk orang yang mempunyai hajat (orang yang tidak mempunyai penghasilan yang cukup). Kemudian beliau bersabda: “Aku tidak mendapatkan kendaraan yang dapat mengangkut kalian.”
Kemudian mereka pun kembali, sedangkan air mata mereka bercucuran karena merasa sedih, tidak mendapatkan apa yang dapat dijadikan biaya perjalanan.

Sedangkan dalam kitab ash-Shahihain, disebutkan sebuah hadits yang diriwayatkan dari Anas, bahwa Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya di Madinah ini terdapat beberapa kaum. Kalian tidak melintasi lembah dan tidak juga menempuh suatu perjalanan melainkan mereka (kaum-kaum itu) bersama kalian.”
Para sahabat bertanya: “Padahal mereka itu tetap berada di Madinah?”
Beliau menjawab: “Benar, udzur (alasan) telah menahan mereka.”

Imam Ahmad meriwayatkan dari Jabir, ia menceritakan, Rasulullah saw. pernah bersabda: “Kalian telah meninggalkan beberapa orang di Madinah. Kalian tidak melintasi lembah dan tidak pula kalian menempuh jalan melainkan mereka bersekutu dengan kalian dalam hal pahala. Mereka itu ditahan oleh penyakit.” (HR. Muslim dan Ibnu Majah)

Kemudian Allah mencela orang-orang yang meminta izin untuk tidak ikut berperang padahal mereka adalah orang kaya. Allah mengingatkan kerelaan mereka untuk tetap tinggal bersama kaum wanita yang tidak ikut berperang: wa thaba’allaaHu ‘alaa quluubiHim faHum laa ya’lamuun (“Dan Allah mengunci mati hati mereka, maka mereka tidak mengetahui.”)

&

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: