Arsip | Aqidah RSS feed for this section

Apakah Tubuh Orang yang Maksiat Akan Membesar di Neraka?

4 Jul

Neraka, Kengerian dan Siksaannya;
Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Di dalam hadits Rasulullah saw. disebutkan bahwa tubuh orang-orang yang berbuat maksiat juga akan dibesarkan di dalam neraka. di antara mereka ada yang datang kepada Allah dengan kemaksiatan dan dosa-dosa besar yang mereka perbuat serta ada pula yang datang kepada-Nya karena kedhaliman, kejahatan, durhaka kepada kedua orang tua, dan dosa-dosa besar lain yang mereka kerjakan.

Dari Harits bin Qais ra, bahwa Rasulullah saw. bersabada, “Sungguh di antara umatku ada yang akan membesar di neraka sehingga besarnya seperti gunung Uhud.” (HR Ahmad dalam Musnad, Ibnu Majah dan Hakim dalam al-Mustadrak)

Dari Abu Ghanam al-Kala’iy dari Abu Ghassan adh-Dhabbiy bahwa Abu Hurairah ra. berkata kepadanya dalam kebingungan, sedangkan pada waktu itu Abdullah bin Khaddasy mengetahuinya. Lalu Abu Hurairah mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Pahanya penghuni neraka sebesar gunung Uhud dan gigi taringnya sebesar Gunung Baidha” kemudian Abu Hurairah bertanya, “Mengapa, ya Rasulallah?” Beliau menjawab, “Karena ia durhaka kepada kedua orang tuanya.” (HR Thabrani)

Hadits ini dikuatkan oleh hadits lain yang khusus membicarakan tentang kedurhakaan seorang anak kepada kedua orang tuanya. Perbuatan ini akan mengakibatkan pelakunya mendapat murka dari Allah swt pada hari kiamat nanti dan Allah menjanjikannya dengan adzab yang pedih.

Dari Ibnu Umar ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Ada tiga golongan yang tidak akan dilihat Allah pada hari kiamat, yaitu orang yang durhaka kepada kedua orang tua, perempuan yang menyerupai laki-laki, dan mucikari. Ada juga tiga golongan yang tidak akan masuk surga, yaitu orang yang durhaka kepada kedua orang tua, peminum khamar, dan orang yang suka mengungkit-ungkit pemberian.” (HR Ahmad dalam Sunan serta Nasa’i dan Hakim dalam al-Mustadrak)

Memang benar mereka yang suka berbuat maksiat, tetapi masih mengesakan Allah swt. dan pernah bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, akan keluar dari neraka dengan syafaat dari Rasulullah saw., orang-orang beriman, dan rahmat-Nya. Akan tetapi mereka tetap akan dilemparkan ke dalam neraka sebagai balasan atas dosa-dosanya yang telah diperbuat, baik kejahatan, tidak taat kepada ketetapan-Nya, maupun yang tidak beribadah.

Berapa banyak orang yang bermaksiat dari golongan ahli tauhid [yang mengakui ketauhidan Allah swt] yang datang menghadap-Nya, padahal mereka tidak menjalankan shalat, tidak mengeluarkan zakat, dan tidak melaksanakan haji, selain dosa-dosa yang telah mereka perbuat? Mereka akan mendapatkan balasan, yaitu neraka, sedangkan tubuh mereka membesar di dalamnya. Pada akhirnya tidaklah bermanfaat bagi mereka kecuali yang pernah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya. Mereka akan keluar dari neraka karena syafaat dan rahmat dari Allah swt.

Ali bin Abi Thalib ra. berkata, “Kerjakan amal di dunia menurut kemampuanmu menahan beban api neraka di akhirat.” Ucapan Ali bin Abi Thalib ini menunjukkan bahwa orang-orang yang berbuat maksiat dari golongan ahli tauhid tetap akan menerima balasannya di neraka pada hari kiamat nanti.

&

Iklan

Apakah Para Syuhada di Surga Hidup, Makan dan Bersenang-senang?

16 Feb

Apakah Para Syuhada di Surga Hidup, Makan dan Bersenang-senang?
Surga Kenikmatan Yang Kekal; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu ) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (al-Baqarah: 154)

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki. Mereka dalam Keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Ali Imraan: 169-170)

Maksudnya teman-temannya yang masih hidup dan tetap berjihad di jalan Allah swt.

Syaikh Ali ash-Shabuni berkata dalam tafsirnya, “Janganlah engkau menyangka orang-orang yang mati syahid di jalan Allah swt. untuk meninggikan agamanya, sebagai orang-orang yang mati, mereka tidak merasakan dan tidak menikmati, bahkan mereka hidup di sisi Tuhan mereka. Mereka bersenang-senang di surga yang abadi, diberi rizki siang dan malam.”

Imam al-Wahidi mengatakan bahwa yang benar dalam kehidupan para syuhada adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Rasulullah saw. bahwa roh-roh mereka berada dalam perut burung yang hijau. Mereka bersenang-senang serta diberi rizki dan makanan.

“Mereka bergembira dengan karunia yang diberikan Allah kepadanya.” Maksudnya, mereka dalam keadaan gembira karena karunia Allah yang diberikan kepada mereka. mereka diberi kenikmatan di surga. Mereka senang dengan kenikmatan dan kebahagiaan. Di dalam kitab Shahih Muslim ada sebuah hadits riwayat Masruq bahwa ia bertanya kepada Abdullah bin Mas’ud tentang maksud ayat Ali Imran ayat 60: “(apa yang telah Kami ceritakan itu), Itulah yang benar, yang datang dari Tuhanmu, karena itu janganlah kamu Termasuk orang-orang yang ragu-ragu.”)

Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Roh-roh mereka berada di dalam perut yang burung hijau. Mereka memiliki morning glory [tanaman rambat berbunga warna-warni] di ‘Arsy. Kapan saja, mereka dengan mudah bisa ke surga. Lalu mereka tertarik pada lampu mercuri [pelita]. Kemudian Tuhan mereka menampakkan diri-Nya sembari berfirman: ‘Apakah kalian menginginkan sesuatu?’ Mereka menjawab, ‘Apakah sesuatu yang kami inginkan itu ya Allah? Sedangkan kami mudah untuk masuk ke surga kapan saja kami menghendaki.’ Allah bertanya hingga tiga kali. Setelah mereka tahu kalau harus memohon, mereka pun memohon, ‘Ya Tuhan kami, kami ingin Engkau berkenan mengembalikan roh-roh kami kepada raga-raga kami, lalu kami terbunuh [mati syahid] di jalan-Mu untuk kedua kalinya.’ Setelah mereka tahu bahwa hal yang demikian itu tidak mereka butuhkan, mereka pun meninggalkannya.” &

Tasawuf; Penutup

28 Jan

Penutup Tasawuf
Syekh Dr Sholeh Fauzan

Itulah “agama” tasawuf yang dulu maupun sekarang, dan itulah sikap mereka dalam ibadah, kami berbicara tentang mereka semata-mata bersumber dari buku-buku mereka kecuali sedikit saja (yang berasal dari buku diluar mereka) serta buku-buku yang mengkritik mereka dan apa yang menunjukkan aktivitas-aktivitas mereka pada masa kini. Itupun yang saya bahas dari satu sisi saja dari sekian banyak pembahasan pada mereka, yaitu dari sisi ibadah dan sikap mereka tentang hal tersebut. Dan masih banyak sisi-sisi lain yang butuh pembahasan-pembahasan, seperti sikap mereka tentang tauhid, kerasulan, tentang syariat, taqdir dan yang lainnya.

Kita mohon kepada Allah ta’ala agar memper-lihatkan kepada kita bahwa yang haq itu adalah haq dan memberikan kekuatan kepada kita untuk mengikutinya dan memperlihatkan kepada kita bahwa yang bathil itu adalah bathil dan memberikan kekuatan kepada kita untuk menjauhinya dan agar Dia tidak menggoyahkan hati-hati kita setelah kita diberi petunjuk oleh-Nya.

&

Rambu-Rambu Ibadah yang Benar

28 Jan

Rambu-Rambu Ibadah yang Benar
Syekh Dr Sholeh Fauzan

Sesungguhnya ibadah yang Allah syariatkan dibangun diatas pondasi dan pokok yang kokoh dan baku. Dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Ibadah bersifat tauqifi dan harus bersumber dari musyarri’ (Yang berhak menetapkan syari’at) yaitu Allah ta’ala sebagaimana firman-Nya:

“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertaubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas”. (Hud: 112)

Maksudnya adalah bahwa ibadah sudah ditentukan oleh Allah ta’ala dan Rasul-Nya. Akal fikiran tidak memiliki andil dalam penetapannya.

“Kemudian Kami jadikan kamu berada diatas suatu syariat (peraturan) dari urusan agama itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa naf-su orang-orang yang tidak mengetahui “. (Al-Jatsiah: 18)

Allah berfirman tentang nabi-Nya:
“Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku”. (Al Ahqaaf 9)

2. Ibadah harus dilakukan dalam keadaan ikhlas karena Allah ta’ala, suci dari pengaruh kesyirikan.

Ikhlash berarti beribadah hanya untuk Allah dan kepada Allah, tidak kepada selain-Nya, lawannya adalah syirik (penj.)

“Katakanlah: Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhnamu itu adalah Tuhan Yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepadanya”. (Al-Kahfi: 110)

Jika ibadah tercampur dengan sesuatu kesyirikan, maka ibadah itu tidak akan bernilai. Firman Allah ta’ala :

“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan” (Al-An’am: 88)

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada nabi-nabi sebelummu: “Jika kamu memperse-kutukan Tuhan, niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”. (Az-Zumar: 65-66)

3. Dalam ibadah hendaknya yang dijadikan panutan dan sumbernya adalah Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam:

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu”. (Al Ahzab 21)

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkan-lah”. (Al-Hasyr: 7)
Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Siapa yang melaksanakan suatu amalan yang bukan termasuk urusan (agama) kami maka dia tertolak” (Riwayat Muslim)
“Siapa yang mengada-ada dalam perkara (agama) kami yang bukan termasuk didalamnya maka dia tertolak”. (Muttafaq alaih)
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat” (Muttafaq alaih)
“Ambillah kalian dariku manasik (haji) kalian” (riwayat Muslim)
Dan riwayat-riwayat lainnya.

4. Ibadah telah ditetapkan berdasarkan waktu dan batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar. Misalnya sholat. Allah ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang beriman”. (An Nisa 103)

“(Masa mengerjakan) ibadah haji itu beberapa bulan yang telah diketahui”. (Al-Baqarah: 197)

“(Beberapa hari yang ditentukan itu adalah) bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa diantara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah dia berpuasa pada bulan itu”. (Al Baqarah 185)

5. Ibadah harus terlaksana berdasarkan cinta kepada Allah ta’ala, merendahkan diri, takut dan harap kepada-Nya:

“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada kepada Tuhan mereka siapa diantara mereka yang lebih dekat kepada Allah dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya, sesungguhnya azab Tuhanmu adalah sesuatu yang (harus) ditakuti”. (Al-Isra’: 57)

Allah berfirman tentang para nabi:
“Sesungguhnya mereka senantiasa berlomba-lomba dalam mengerjakan kebaikan dan sentiasa berdoa kepada kami dengan penuh harapan serta takut dan mereka sentiasa khusyu’ kepada kami“. (Al-Anbiya: 90)
“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”. (Ali-Imran: 31-32)
Allat ta’ala telah menyebutkan tanda-tanda cinta kepada-Nya dan hasilnya. Adapun tanda-tandanya adalah mengikuti Rasulullah, ta’at kepada Allah dan ta’at kepada Rasul-Nya. Sedangkan buahnya adalah mendapatkan cinta Allah ta’ala, ampunan dosa dan dari rahmat dari-Nya.
6. Kewajiban ibadah tidak gugur bagi orang mukallaf (yang telah mendapatkan kewajiban), semen-jak dia baligh dan berakal hingga kematian-nya.

Allah ta’ala berfirman :
“Janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”. (Ali Imran: 102)
“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu sesuatu yang diyakini (ajal)”.( Al-Hijr: 99).

&

Mukadimah Hakekat Sufi dan Sikap Kaum Sufi terhadap Prinsip Ibadah dan Agama

28 Jan

Hakekat Sufi dan Sikap Kaum Sufi terhadap Prinsip Ibadah dan Agama
Syekh Dr Sholeh Fauzan

MUKADDIMAH

Segala puji hanya bagi Allah semata Rabb seluruh alam, Yang telah menyempurnakan agama ini dan nikmat-Nya untuk kita, Yang telah meridhoi Islam sebagai agama kita dan Yang memerintahkan kita untuk berpegang teguh kepadanya hingga kematian :
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam” . (Ali-Imran: 102)
Dan itulah wasiat Nabi Ibrahim dan Nabi Ya’kub -alaihimassalam- kepada anak-anaknya:
“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”. (Al-Baqarah: 132)

Semoga shalawat dan salam terlimpahkan kepada hamba-Mu dan rasul-Mu, Nabi kita Muhammad, keluarganya dan shahabat-shahabatnya semua.
Sesungguhnya Allah menciptakan jin dan manusia untuk beribadah kepada-Nya, sebagaimana firmannya:
“Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku” (Adz-Dzariat: 56)

Dengan ibadah, manusia akan meraih kemuliaan, kebesaran dan kebahagiaan dunia dan akhirat, karena mereka membutuhkan Tuhannya. Manusia tidak da-pat melepaskan kebutuhannya terhadap Tuhannya walaupun sesaat, sedangkan Dia sama sekali tidak butuh kepada mereka (manusia) dan ibadahnya. Allah ta’ala berfirman:
“Jika kalian kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)-kalian” (Az-Zumar: 7)
“Dan Musa berkata: “Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (ni’mat Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”. (Ibrahim: 8)

Ibadah merupakan hak Allah atas hamba-Nya dan manfaatnya akan kembali kepada mereka. Siapa yang menolak beribadah kepada Allah, dia adalah orang yang takabbur (sombong). Siapa yang beribadah kepada Allah dan (juga) beribadah kepada yang selain-Nya, dia adalah orang musyrik. Siapa yang beribadah kepada Allah semata tidak dengan apa yang Allah syariatkan, maka dia adalah pelaku bid’ah. Siapa yang beribadah kepada Allah semata dengan apa yang Allah syari’atkan, dia adalah mu’min sejati.

Ketika seorang hamba sangat membutuhkan ibadah dan tidak mungkin bagi mereka untuk mengetahui sendiri hakekatnya yang diridhoi Allah ta’ala dan yang sesuai dengan agama ini, maka masalah ini tidak diserahkan begitu saja kepada mereka, karena itu Allah mengutus para rasul kepada hamba-hamba-Nya dan menurunkan kitab-kitab-Nya untuk menjelaskan hakikat ibadah, sebagaimana firman-Nya :
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan) : ‘Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah Thagut itu’”. (An-Nahl: 36)
Thagut adalah setan dan apa saja yang disembah selain Allah ta’ala .

“Dan kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”. (Al-Anbiya: 25)

Siapa yang menentang apa yang disampaikan para Rasul dan apa yang diturunkan dalam Kitab-Kitab-Nya tentang ibadah kepada Allah, kemudian dia beribadah kepada Allah semata-mata berlandaskan seleranya atau apa yang diingini hawa nafsunya atau apa yang dihias setan-setan manusia dan jin, maka dia telah sesat dari jalan Allah. Ibadah seperti itu pada hakekatnya bukan beribadah kepada Allah, akan tetapi beribadah kepada hawa nafsunya:

“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun”. (Al-Qhashash: 50)

Manusia jenis ini tergolong banyak, pelopornya adalah orang-orang Nashrani (Kristen) dan mereka yang sesat dari golongan umat ini seperti orang-orang tasawuf. Karena mereka telah menetapkan untuk mereka sendiri batasan ibadah yang bertentangan dengan apa yang Allah syari’atkan. Hal tersebut banyak mereka lakukan dalam penampilan-penam-pilan mereka. Kesesatan mereka akan semakin tampak manakala dijelaskan hakikat ibadah yang Allah syari’atkan melalui lisan Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam serta penyimpangan dari hakikat ibadah yang dilakukan kalangan tasawuf saat ini .

&

Hakekat Sufi dan Sikap Kaum Sufi terhadap Prinsip Ibadah dan Agama

28 Jan

Hakekat Sufi dan Sikap Kaum Sufi terhadap Prinsip Ibadah dan Agama
Syekh Dr Sholeh Fauzan; islamhouse

 

Rambu-rambu ibadah yang benar

1. Ibadah bersifat tauqifi dan harus bersumber dari musyarri’ (Yang berhak menetapkan syari’at)

2. Ibadah harus dilakukan dalam keadaan ikhlas karena Allah ta’ala, suci dari pengaruh kesyirikan.

3. Dalam ibadah hendaknya yang dijadikan panutan dan sumbernya adalah Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam:

4. Ibadah telah ditetapkan berdasarkan waktu dan batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar. Misalnya sholat.

5. Ibadah harus terlaksana berdasarkan cinta kepada Allah ta’ala, merendahkan diri, takut dan harap kepada-Nya

6. Kewajiban ibadah tidak gugur bagi orang mukallaf (yang telah mendapatkan kewajiban), semen-jak dia baligh dan berakal hingga kematian-nya.

HAKEKAT TASAWUF

SIKAP KALANGAN TASAWUF DALAM IBADAH DAN AGAMA

1. Mereka hanya membatasi pelaksanaan ibadah berdasarkan rasa cinta dan mengabaikan sisi-sisi yang lain seperti rasa takut dan harap.

2. Kalangan sufi pada umumnya tidak menem-puh cara keberagamaan yang benar, yaitu beribadah dengan tidak merujuk kepada Al-Quran dan As-Sunnah serta tidak meneladani Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam.

3. Termasuk ajaran tasawuf adalah berpegang teguh pada zikir-zikir atau wirid-wirid yang telah ditetapkan guru-guru mereka.

4. Sikap berlebih-lebihan kalangan tasawuf terhadap -siapa yang mereka katakan- para wali dan syekh yang bertentangan dengan aqidah Ahlus-sunnah waljamaah.

5. Termasuk bagian dari ‘agama tasawuf yang bathil adalah taqarrub-nya mereka kepada Allah dengan nyanyian dan tarian, memukul rebana dan bertepuk tangan. Mereka katakan bahwa semua itu adalah ibadah kepada Allah.

6. Termasuk dari kebathilan ajaran tasawuf adalah apa yang mereka katakan bahwa ada derajat dimana orang yang memilikinya dapat keluar dari beban syariat seiring meningkatnya derajat tasawuf orang tersebut.

PENUTUP

&

Hakekat Tasawuf

28 Jan

Tasawuf
Syekh Dr Sholeh Fauzan

Kata “Tasawuf” dan “Sufi” belum dikenal pada masa-masa awal Islam, kata ini adalah ungkapan baru yang masuk ke dalam Islam yang dibawa oleh ummat-umat lain.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullah- dalam Majmu’ Fatawa berkata: “Adapun kata Sufi belum dikenal pada abad-abad ke tiga hijriah, akan tetapi baru terkenal setelah itu. Pendapat ini telah diungkapkan oleh lebih dari seorang imam, seperti Imam Ahmad bin Hambal, Abu Sulaiman Ad-Darani dan yang lain. Terdapat riwayat bahwa Abu Sufyan Ats-Tsauri pernah menyebut-nyebut tentang sufi, sebagian lagi mengungkapkannya dari Hasan Basri. Ada perbedaan pendapat tentang kata “sufi” yang disandingkan dibelakang namanya, yang sebenarnya itu adalah nama nasab seperti “qurosyi”, “madany” dan yang semacamnya.

Ada yang mengatakan bahwa kalimat sufi berasal dari kata: Ahlissuffah (Ungkapan yang diberikan kepada para shahabat yang tinggal di masjid Nabawi untuk mendapatkan ilmu dari Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam) , hal tersebut keliru, karena jika itu yang dimaksud maka kalimatnya berbunyi : Suffiyy (صفِّيّ) . Ada juga yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah barisan (shaf) terdepan dihadapan Allah, hal itu juga keliru, karena jika yang dimaksud demikian, maka yang benar adalah: صفِّيّ .

Ada juga yang mengatakan bahwa ungkapan tersebut bermakna: makhluk pilihan Allah (صفوة), itu juga keliru, karena jika itu yang dimaksud, maka ungkapan yang benar adalah Shafawy (صَفَوِي). Ada yang mengatakan bahwa kalimat sufi berasal dari nama seseorang yaitu Sufah bin Bisyr bin Ad bin Bisyr bin Thabikhah, sebuah kabilah arab yang bertetangga dari Mekkah pada zaman dahulu yang terkenal suka beribadah, hal inipun jika sesuai dari sisi kalimat namun juga dianggap lemah, karena mereka tidak terkenal sebagai orang-orang yang suka beribadah dan seandainyapun mereka terkenal sebagai ahli ibadah, maka niscaya julukan tersebut lebih utama jika diberikan kepada para shahabat dan tabi’in serta tabi’ittabiin.

Disisi lain orang-orang yang sering berbicara tentang istilah sufi tidaklah mengenal suku ini dan mereka tentu tidak akan rela jika istilah tersebut dikatakan berasal dari sebuah suku pada masa jahiliah yang tidak ada unsur Islamnya sedikitpun. Ada juga yang mengatakan –dan inilah yang terkenal- bahwa kalimat tersebut berasal dari kata الصوف (wol), karena sesungguhnya itulah kali pertama tasawuf muncul di Basrah.

Yang pertama kali memperkenalkan tasawuf adalah sebagian sahabat Abdul Wahid bin Zaid sedangkan Abdul Wahid merupakan sahabat Hasan Al-Basri, dia terkenal dengan sikapnya yang berlebih-lebihan dalam hal zuhud, ibadah dan sikap khawatir (khouf), satu hal yang tidak di dapati pada penduduk kota saat itu. Abu Syaikh Al-Ashbahani meriwayatkan dalam sanadnya dari Muhammad bin Sirin yang mendapat berita bahwa satu kaum mengutamakan untuk memakai pakaian dari wol (shuf), maka dia berkata: “Sesung-guhnya ada suatu kaum yang memilih pakaian wol dengan mengatakan bahwa mereka ingin menyamai Al-Masih bin Maryam, padahal petunjuk nabi kita lebih kita cintai, beliau dahulu mengenakan pakaian dari katun atau lainnya, atau ucapan semacam itu”, kemudian setelah itu dia berkata: “Mereka mengaitkan masalah itu dengan pakaian zahir yaitu pakaian yang terbuat dari wol maka mereka mengata-kannya sebagai sufi, akan tetapi sikap mereka tidak terikat dengan mengenakan pakaian wol tersebut, tidak juga mereka mewajibkannya dan menggan-tungkan permasalahannya dengan hal tersebut, akan tetapi dikaitkannya berdasarkan penampilan luarnya saja.

Itulah asal kata tasawuf, kemudian setelah itu dia bercabang-cabang dan bermacam-macam” demi-kianlah komentar beliau –rahimahullah- . (Majmu’ Fatawa, 11/5,7,16,18.) yang men-jelaskan bahwa tasawuf mulai tumbuh berkembang di negri Islam oleh orang-orang yang suka beribadah di negri Basrah sebagai dampak dari sikap mereka yang berlebih-lebihan dalam zuhud dan ibadah dan kemudian berkembang setelah itu, bahkan para penulis belakangan sampai pada kesimpulan bahwa tasawuf merupakan pengaruh dari agama-agama lain yang masuk ke negri-negri Islam, seperti agama Hindu dan Nashara. Pendapat tersebut dapat dimengerti berdasarkan apa yang diucapkan Ibnu Sirin yang mengatakan: “Sesungguhnya ada beberapa kaum yang memilih untuk mengenakan pakaian wol seraya mengatakan bahwa hal tersebut menyerupai Al-Masih bin Maryam, padahal petunjuk Nabi kita lebih kita cintai”. Hal tersebut memberi kesimpulan bahwa tasa-wuf memiliki keterkaitan dengan agama Nashrani !!.

Doktor Sabir Tu’aimah menulis dalam bukunya: As-Sufiyah, mu’takadan wamaslakan (Sufi dalam aqidah dan prilaku): “Tampaknya tasawuf merupakan akibat dari adanya pengaruh kependetaan dalam agama Nashrani yang pada waktu itu para pendetanya mengenakan pakaian wol dan mereka banyak jumlahnya, yaitu golongan orang-orang yang total melakukan prilaku tersebut di negeri-negeri yang dimerdekakan Islam dengan pengaruh tauhid, semuanya memberikan pengaruh yang tampak pada prilaku generasi pertama dari kalangan tasawuf “(Majmu’ Fatawa, 11/ hal 17.)

Syaikh Ihsan Ilahi Zahir –rahimahullah- dalam kitabnya: Tashawwuf Al-Mansya’ Walmashdar (Tasawuf, Asal Muasal dan Sumber-Sumbernya) berkata: “Jika kita amati ajaran-ajaran tasauf dari generasi pertama hingga akhir serta ungkapan-ungkapan yang bersumber dari mereka dan yang terdapat dalam kitab-kitab tasauf yang dulu hingga kini, maka akan kita dapatkan bahwa disana terdapat perbedaan yang sangat jauh antara tasauf dengan ajaran-ajaran Al-Quran dan Sunnah, begitu juga kita tidak akan mendapatkan landasan dan dasarnya dalam sirah Rasulullah serta para shahabatnya yang mulia yang merupakan makhluk-makhluk Allah pilihan. Bahkan sebaliknya kita dapatkan bahwa tasawuf diadopsi dari ajaran kependetaan kristen, kerahiban Hindu, ritual Yahudi dan kezuhudan Buda” Majmu’ Fatawa, 11/ hal 28.

Syekh Abdurrahman Al-Wakil –rahimahullah- ber-kata dalam mukadimah kitabnya: Mashra’ut Tashaw-wuf (keruntuhan tasauf): “Sesungguhnya tasauf rekayasa setan yang paling hina dan pedih untuk memperbudak hamba Allah dalam rangka memerangi Allah dan Rasul-Nya, diapun merupakan tameng orang-orang Majusi dengan berpura-pura seolah-olah bersumber dari Allah, bahkan dia merupakan tameng setiap sufi untuk memusuhi agama yang haq ini. Perhatikanlah, akan anda dapatkan didalamnya kependetaan Buda, Zoroaster, Manuiah dan Disaniah. Andapun akan mendapatkan didalamnya Platoisme, Ghanusiah, didalamnya juga terdapat unsur Yahudi, Kristen dan Paganisme (berhalaisme) Jahiliah “Majmu’ Fatawa, 11/ hal 19

Dari apa yang diketengahkan oleh para penulis muslim masa kini diatas tentang asal usul tasawuf, dan masih banyak selain mereka yang tidak dise-butkan yang menyatakan hal serupa, maka jelaslah bahwa sufi adalah sesuatu yang dimasukkan ke dalam ajaran Islam yang dilakukan oleh orang-orang yang menjadi pengikutnya dengan cara-cara yang aneh dan jauh dari hidayah Islam.

Mengenai disebutkannya secara khusus kalangan sufi generasi kemudian (muta’akhirin) adalah karena pada mereka banyak terdapat penyimpangan-penyimpangannya. Sedangkan kaum sufi terdahulu, mereka relatif lebih moderat, seperti Fudhail bin ‘Iad, Al-Junaid, Ibrahim bin Adham dan lain lain.

&

Lawan Tauhid Uluhiah

9 Okt

Tauhid Uluhiah
Muhammad Ibn Ibrahim al Hamd; Islamhouse.com

1. Syirik: menghapus tauhid sama sekali.
2. Bid’ah: menghapus kesempurnaannya yang wajib.
3. Maksiat: menciderai dan mengurangi pahalanya.

Firkah Yang Menyekutukan Tauhid uluhiah

Firkah yang menyekutukan jenis tauhid ini banyak, di antaranya:
1. Yahudi: mereka menyembah patung anak sapi (dari logam mulia), dan hingga kini masih menyembah dinar dan dirham. Harta adalah sesembahan mereka.
2. Nasharo (Kristen): dengan klaim mereka akan ketuhanan Isa almasih alaihi salam dan peribadatan mereka kepadanya.
3. Rafidhah (syia’ah): dengan doa mereka meminta kepada Ali dan Abbas radiallahu ‘anhuma serta ahlul bait lain selain keduanya.
4. Nusyairiah (sempalan syi’ah): dengan ibadah mereka terhadap Ali dan mengklaim bahwa ia adalah tuhan. (Lihat Al-Bakûrah As-Sulaimaniah Fi Kasyfi Asrar Ad-Diyanah An-Nushairiah (Alawaiah) oleh Sulaiman Afandi al-Adzany, terbitan Dâr as-Sohwah hal.36. lihat juga An-Nushairiah oleh Suhair al-Fîl terbitan Dâr al-Manâr hal.47-48.)
5. Ad-Druz: dengan pernyataan mereka akan ketuhanan penguasa dengan perintah tuhan al-Ubaidy. (Lihat Aqidah ad-Drûz, ‘Ardh wa Naqd oleh Muhamad Ahmad al-Khathib hal.117-135 terbitan Dâr Âlamul Kutub.)
6. Sufi Ekstrim dan penyembah kubur: akibat pengkultusan mereka terhadap para wali, memalingkan nazar dan kurban (yang seharusnya untuk Allah Shubhanahu wa ta’alla menjadi) untuk penghuni kubur, tawaf mereka mengelilingi kubur dan pendekatan-pendekatan lain yang ditujukan kepada penghuni kubur.

&

Hubungan Tauhid Uluhiah Dengan Tauhid Rububiah

9 Okt

Tauhid Uluhiah
Muhammad Ibn Ibrahim al Hamd; Islamhouse.com

(Lihat Al-Irsyad hal.21-23.)
Jenis-jenis tauhid saling berhubungan, sebagiannya berkaitan dengan yang lain. Berikut ini penjelasan hubungan antara tauhid uluhiah dengan rububiah dan sebaliknya:

1. Tauhid rububiah mengharuskan tauhid uluhiah, maknanya bahwa penetapan tauhid uluhiah mewajibkan penetapan tauhid uluhiah. Siapa yang mengetahui bahwa Allah Shubhanahu wa ta’alla adalah tuhan, pencipta, pengatur urusannya, dan telah menyeru untuk mengibadahi -Nya, wajib baginya mengibadahi -Nya saja tanpa menyekutukan -Nya. Jika hanya -Dia pencipta, pemberi rizki, pemberi manfaat dan mudarat, mengharuskan untuk mengesakan -Nya dalam ibadah.

2. Tauhid uluhiah mengandung tauhid rububiah, maknanya tauhid rububiah masuk dalam kandungan tauhid uluhiah. Maka siapa yang beribadah kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla semata tanpa menyekutukan -Nya, sudah pasti berkeyakinan bahwa -Dia adalah Tuhan nya, pencipta dan pemberi rezeki, dimana tidak disembah melainkan karena ditangan –Nya lah manfaat dan mudarat dan pada –Nya lah penciptaan dan segala urusan.

3. Rububiah merupakan amalan hati, tidak lebih dari itu, karena itu dinamakan pula dengan tauhid al-makrifah wal itsbat (tauhid pengetahuan dan penetapan) atau tauhidul ilmi (tauhid ilmu).
Sedangkan tauhid uluhiah merupakan amalan hati dan badan, tidak cukup hanya hati, bahkan pada prilaku dan amal, yang dimaksudkan untuk Allah Shubhanahu wa ta’alla semata tanpa menyekutukan -Nya.

4. Tauhid rububiah semata tidaklah cukup. Yang demikian itu karena tauhid rububiah konsentrasinya ada pada cara pandang. Seandainya itu cukup, tentunya manusia tidak butuh diutus rasul dan diturunkan kitab suci. Tidaklah cukup hanya menetapkan sifat-sifat yang layak bagi tuhan dan bahwa hanya ia semata tuhan pencipta.
Belum menjadi ahli tauhid kecuali jika mempersaksikan bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Shubhanahu wa ta’alla, menetapkan bahwa -Dia adalah yang disembah dan diibadahi semata, dan mengibadahi -Nya sesuai dengan pengetahuan tersebut.

5. Tauhid uluhiah adalah tauhid yang dibawa para rasul. Tauhid inilah yang menimbulkan perselisihan antara para rasul alaihim salam dan umatnya. Sebagaimana perkataan kaum Nabi Hud alahis salam ketika mengatakan kepada mereka:
“…ia berkata: “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain -Nya’….” (QS.al-A’raf:59)

Mereka menjawab:
“Apakah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami?’….” (QS.al-A’raf:70)

Juga yang dikatakan kaum kafir Quraisy, ketika diperintahkan untuk mengesakan Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam beribadah,
“Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.”(QS.Shad:5)
Adapun tauhid rububiah, mereka tidak mengingkarinya, bahkan Iblis tidak mengingkarinya:
“Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, …”(QS.al-Hijar:39)

6. Keduanya jika disebutkan bersamaan, memiliki makna tersendiri, dan jika terpisah mengandung makna lain. Maknanya: jika keduanya disebutkan bersamaan, maka setiap kata sesuai dengan maksudnya, sebagaimana firman Allah ta’ala :
1. Katakanlah: “Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. 2. Raja manusia. 3. Sembahan manusia.” (QS.an-Nas:1-3)

Sehingga makna Rab: Al-Malik Mutasharif (raja yang mengatur). Inilah tauhid rububiah (ketuhanan). Makna Ilah: yang disembah dengan hak, yang berhak diibadahi tanpa selain -Nya. Inilah tauhid uluhiah.
Terkadang keduanya disebut secara sendiri-sendiri sehingga memiliki kesamaan makna, seperti pertanyaan dua malaikat kepada mayat di dalam kubur: “Siapa Tuhan -mu?” Maknanya “Siapa Sesembahan-mu?” juga sebagaimana firman Allah ta’ala,

“(Yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata, ‘Tuhan kami hanyalah Allah’….” (QS.al-Haj:40)

Dan firman -Nya:
“Katakanlah: “Apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah….” (QS.al-An’am:164)

Dan firman -Nya mengenai kekasih Allah Shubhanahu wa ta’all, Nabi Ibrahim:
“…Tuhan -ku ialah yang menghidupkan dan mematikan’….” (QS.al-Baqarah:258)

Dan sebagaimana firman Allah ta’ala:
“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada -Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada Tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu ngingati (-Nya).” (QS.an-Naml:62)

7. Agar tauhid benar dan selamat dunia dan akhirat, hendaklah merealisasikan kedua hal tersebut.

&

Metode Dakwah Kepada Tauhid uluhiah Dalam Al-Quran Al-Karim

9 Okt

Tauhid Uluhiah
Muhammad Ibn Ibrahim al Hamd; Islamhouse.com

(Lihat Taisîrul Azizil Hamid hal.38-39 dan Da’watut Tauhid oleh al-Harrâs hal.39-45, Al-Irsyad oleh Syaik Soleh al-Fauzan hal.25-28 dan Syaikh Abdurrahman as-Sa’di wa Juhudihi fi Taudhihil Aqidah hal.154-156.)

Beragam metode dan teknik dakwah kepada tauhid uluhiah di dalam al-Quran, di antaranya sebagai berikut:

1. Allah Shubhanahu wata’ala memerintahkan untuk mengibadahi -Nya. Firman Allah Ta’ala:

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan -Nya dengan sesuatu pun….” (QS.an-Nisa:36)

2. Larangan mengibadahi selain Allah. Firman -Nya:

“…Janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS.al-Baqarah:22)

3. Pengkhabaran Allah Shubhanahu wa ta’alla bahwa Dia menciptakan makhluk untuk mengibadahi -Nya. Sebagaimana firman -Nya:

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada -Ku.” (QS.ad-Dzariat:56)

4. Pengkhabaran Allah Shubhanahu wa ta’alla bahwa -Dia mengutus rasul untuk mengajak agar mengibadahi -Nya dan melarang mengibadahi selian -Nya. Sebagaimana firman -Nya:

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu’…” (QS.an-Nahl:36)

5. Menggunakan tauhid rububiah sebagai argumen tauhid uluhiah. Jika Allah Ta’ala adalah pencipta lagi pemberi rezeki, yang telah memberi nikmat kepadamu dengan nikmat lahir dan batin tanpa kesertaan sekutu yang lain, maka wajib bagimu untuk tidak menuhankan dan mengibadahi selain -Nya. Haruslah engkau mengkhususkan -Nya dengan tauhid, sebagaimana firman -Nya:

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah:21)

6. Mengargumeni kewajiban mengibadahi -Nya dikarenakan -Dia adalah Maha pendatang manfaat dan mudarat, Pemberi dan Pencegah. Siapa yang berkarakter seperti itu, dialah sesembahan yang hak yang tidak ada sesembahan selain -Nya.
7. Mengargumeni kewajiban mengibadahi -Nya dengan keunikan sifat -Nya yang sempurna dan ketiadaan hal itu pada sesembahan sekutu, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
“…Maka sembahlah -Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada -Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan -Dia (yang patut disembah)?” (QS. Maryam:65)

Dan firman -Nya:
“Hanya milik Allah asmaaul husna (nama-nama yang baik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaaul husna itu….” (QS. Al-A’raf:180)

Dan firman -Nya mengenai Nabi Ibrahim kekasih Allah Shubhanahu wa ta’alla, yang berkata kepada bapaknya:

“Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya: ‘Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?’” (QS.Maryam:42)

8. Argumentasi atas kewajiban mengibadahi -Nya dengan detail penciptaan -Nya. Manakala orang yang berakal menadaburi fikirnya dan merenunginya, dia akan tahu bahwa Allahlah yang berhak diibadahi.
9. Argumentasi atas kewajiban mengibadahi -Nya dengan keragaman nikmat -Nya. Jika sadar bahwa apapun nikmat yang ada pada hamba berasal dari Allah semata, dan bahwa tidak ada seorang pun dari makhluk yang dapat memberi manfaat kepada yang lain tanpa seizin Allah Shubhanahu wata’ala dan bahwa -Dia adalah Maha pemberi manfaat dan mudarat; menjadi tahu bahwa Allahlah yang berhak diibadahi semata tanpa sekutu.
10. Pendiskreditkan Allah Shubhanahu wata’ala terhadap tuhan orang-orang musyrik, seperti dalam firman -Nya:

“Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhada-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatupun? sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang.
Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiri pun berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan.” (QS.al-A’raf:191,192)

Dan firman -Nya:

“Katakanlah: ‘Panggillah mereka yang kamu anggap (tuhan) selain Allah, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak pula memindahkannya.'” (QS.al-Isra’:56)

Dan firman -Nya:
“Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.” (QS.al-Hajj:73)

11. Celaan terhadap orang-orang musyrik yang menyembah selain Allah Shubhanahu wa ta’alla, sebagaimana firman -Nya :
“Ibrahim berkata: ‘Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu?” Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami?” (QS.al-Anbiya:66,67)

Dan firman -Nya:
“Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri….” (QS.al-Baqarah:130)

12. Menjelaskan akibat orang-orang musyrik yang beribadah kepada selain Allah Shubhanahu wa ta’alla dan pengakhiran mereka dengan apa yang diibadahi, dimana yang diibadahi berlepas diri di saat yang paling pelik, sebagaimana firman Allah ta’ala,

165. Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).
166. (yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali.
167. dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: “Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.” Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.” (QS.al-Baqarah:165-167)

Dan firman -Nya:
“…Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyirikanmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagaimana yang diberikan oleh yang Maha mengetahui.” (QS.Fathir:14)

13. Menjelaskan tempat kembali muwahidin (pelaku tauhid) serta akibatnya di dunia dan akhirat, sebagaimana yang dinyatakan mengenai imam mereka, Nabi Ibarahim alaihi salam:

“… dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.” (QS.al-Baqarah:130)

Dan firman -Nya:
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS.al-An’am:82)
14. Sanggahan Allah Shubhahanu wa ta’alla terhadap orang-orang musyrik yang mengambil perantara-perantara antara mereka dengan Allah Shubhahanu wa ta’alla, bahwa syafaat adalah miliki -Nya, tidak diminta dari selain -Nya. Dia tidak memberi syafaat kecuali dengan seizin -Nya dan setelah keridaan -Nya kepada yang akan disyafaati. Sebagaimana Firman -Nya:

43. Bahkan mereka mengambil pemberi syafa’at kepada selain Allah. Katakanlah: “Dan apakah (kamu mengambilnya juga) meskipun mereka tidak memiliki sesuatu pun dan tidak berakal?”
44. Katakanlah: “Hanya kepunyaan Allah syafaat itu semuanya. Kepunyaan -Nya kerajaan langit dan bumi….” (QS.az-Zumar:43,44)

Dan firman -Nya:
“…Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin -Nya?…” (QS.al-Baqarah:255)
15. Menjelaskan bahwa apa-apa yang diibadahi selain Allah tidak dapat memberi manfaat bagi yang mengibadahinya dari segala sisi, sebagaimana firman Allah -ta’ala-:

22. Katakanlah: “Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarrah pun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu saham pun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi -Nya.
23. Dan Tiadalah berguna syafa’at di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah diizinkan -Nya memperoleh syafa’at itu….” (QS.as-Saba’:22,23)

16. Menyebutkan bukti dan contoh yang menunjukkan kebatilan syirik dan akibat buruknya, yang menjadikan jiwa yang bersih menjauh darinya. Sebagaimana Firman Allah -ta’ala-:

“…Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” (QS.al-Hajj:31)

&