Arsip | Peristiwa Akhirat RSS feed for this section

Kubur Berbicara

31 Jan

At-Tadzkirah; Bekal Menghadapi Kehidupan Abadi;
Imam Syamsuddin al-Qurthubi

Kubur itu setiap hari berbicara, terutama kepada mayit saat dia dimasukkan ke dalamnya.

At-Tirmidzi telah meriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri ra, dia berkata: Pernah Rasulullah saw. masuk ke mushalla. Di sana beliau melihat beberapa orang sedang berbicara banyak-banyak. Maka beliau bersabda, “Adapun sesungguhnya, sekiranya kamu sekalian banyak mengingat si pemutus kelezatan, yakni mati, niscaya kamu takkan sempat melakukan seperti yang aku lihat. Maka perbanyaklah olehmu memutus segala kelezatan, yaitu mati. Karena sesungguhnya, tidak lewat seharipun, melainkan kubur itu berbicara mengenai dirinya, katanya, ‘Aku ini rumah pengasingan, aku ini rumah sepi, aku ini rumah debu, aku ini rumah cacing.’

Dan apa bila ada seseorang mukmin dikubur, maka dia berkata, ‘Selamat datang, marhaban wa ahlan! Ketahuilah, kamu adalah orang yang berjalan di permukaanku yang paling aku sukai. Maka, bila hari ini aku sudah menguasaimu, dan kamu telah kembali kepadaku, maka akan kamu lihat apa yang aku perbuat terhadap dirimu.’ Lalu kubur itu melapangkan diri untuknya sejauh mata memandang, dan membukakan untuknya pintu surga.

Dan apabila ada seorang jahat atau kafir dikubur, maka dia berkata: ‘Tidak ada ucapan selamat datang untukmu, laa marhaban wa laa ahlan! Ketahuilah, bahwa kamu adalah orang yang berjalan di permukaanku yang paling aku benci. Maka, bila hari ini aku telah menguasaimu, dan kamu telah kembali kepadaku, maka akan kamu lihat apa yang aku perbuat terhadap dirimu.’”

Rasulullah saw. melanjutkan: “Maka kubur itu menghimpitnya, sampai saling menangkup dan berantakanlah tulang-belulangnya.”

Perawi berkata, “Demikian kata Rasulullah saw. sambil menjalin jari-jarinya, yakni memasukkan yang satu kepada yang lain.”

Dan diriwayatkan beliau bersabda pula, “Allah mendatangkan untuk si kafir itu sembilan puluh ekor ular naga –atau sembilan puluh sembilan ekor-, andaikan seekor di antaranaya menyembur bumi, maka bumi takkan menumbuhkan apa-apa [gersang] sepanjang umur dunia. Ular itu menggigitnya terus-menerus sampai datangnya hari hisab.”

Dan diriwayatkan sabda Rasulullah saw. pula, “Sesungguhnya kuburan tidak lain adalah salah satu dari taman surga, atau salah satu lubang neraka.” (Dlaif al-Jami’ [1231]; Abu Isa berkata: hadits ini gharib)

Dan menurut riwayat Hannad bin as-Sirri, dari Hasan al-Ja’fi, dari Malik bin Mighwal, dari Abdullah bin Ubaid bin Umair, dia berkata, “Allah menjadikan kubur itu punya lidah yang dapat berbicara, maka dia berkata, ‘Hai anak Adam, kenapa kamu melupakan aku? Tidak tahukah kamu, bahwa aku adalah rumah cacing, rumah sepi dan rumah sunyai?” (Shahih Maqthu’: disebutkan dalam at-Tahrir al-Murrasakh [423], dinisbatkan kepada Ibnu Abi ad-Dun-ya)

Hannad berkata pula: telah menceritakan kepada kami, Waki’, dari Malik bin Mighwal, dari Abdullah bin Ubaid bin Umair, dia berkata, “Sesungguhnya kubur itu benar-benar menangis, dan dalam tangisnya dia berkata, ‘Aku rumah sunyi, aku rumah sepi, aku rumah cacing.” (Shahih Maqthu’: disebutkan dalam at-Tahrir al-Murrasakh [423], dinisbatkan kepada Ibnu Abi ad-Dun-ya)

Dan menurut riwayat Umar bin Abdul Barr menyebutkan, Yahya bin Jabir ath-Tha’i telah meriwayatkan dari Ibnu A’idz al-Uzdi, dari Ghudhaif bin al-Harits, dia berkata: Saya pernah datang ke Baitul Maqdis bersama Abdullah bin Ubaid bin Umair, dia berkata: Maka duduklah kami ke dekat Abdullah bin Amr bin al-Ash. Saya dengar dia berkata: “Sesungguhnya kubur itu berbicara kepada manusia manakala dia dimasukkan ke dalamnya, katanya, ‘Hai anak Adam, apakah yang telah memperdayakan kamu sehingga tidak mengingat aku? Tidak tahukah kamu, bahwa aku adalah rumah sepi? Tidak tahukah kamu bahwa aku adalah rumah gelap? Tidak tahukah kamu bahwa aku adalah rumah kebenaran? Hai anak Adam, apakah yang telah memperdayamu sehingga tidak mengingat aku? Kamu benar-benar berjalan di sekitarku dengan sikap congkak.’”

Ibnu A’idz berkata: Saya pernah bertanya kepada Ghudhaif, “Apa yang dimaksud faddaad [congkak] hai Abu Ismail?” maka dia jawab, “Seperti sikap sebagian kamu ketika berjalan, hai kemenakanku.”

Lalu seorang temanku –dia lebih tua dariku- bertanya kepada Abdullah bin Amr, “Bagaimana kalau yang masuk kubur itu seorang mukmin?” Dia jawab, “Kuburannya dilapangkan, tempat tinggalnya dihijaukan, dan rohnya dinaikkan ke langit.” (Demikian disebutkan oleh Abu Umar bin Abdul Barr dalam kitabnya, at-Tamhid; disebutkan oleh Ibnu Thulun dalam at-Tahrir al-Murasakh [424] dan dinisbatkan kepada Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf)

Dan disebutkan pula oleh Abu Muhammad Abdul Haq dalam kitabnya, al-Aqibah, dari Abu al-Hajjaj ats-Tsumali, dia berkata: Sabda Rasulullah saw., “Kubur akan berkata kepada mayit, manakala dia dimasukkan ke dalamnya, ‘Celaka kamu, hai anak Adam, apa yang memperdayakan kamu sehingga tidak mengingatku? Tidak tahukah kamu, bahwa aku adalah rumah bencana, rumah kegelapan, dan rumah cacing? Apa yang telah memperdayakan kamu ketika melewati aku dulu dengan congkak?’”

Rasulullah bersabda, “Jika yang masuk kubur orang shalih, maka kata-kata kubur itu dijawab oleh seseorang [malaikat] disana, katanya, ‘Tidakkah kamu tahu, bahwa dia termasuk mereka yang beramar makruf nahi munkar?’

Maka kubur itu berkata, ‘Kalau begitu, aku benar-benar akan menjadi hijau kembali untuknya, sedang badannya akan kembali menjadi bercahaya, dan rohnya akan naik kepada Rabbul ‘Aalamiin.”

Hadits ini disebutkan oleh Abu Ahmad al-Hakim dalam kitab al-Kuna. Dan disebutkan pula oleh Qasim bin Ashbugh, seraya dia katakan, “Abu Hajjaj ditanya, ‘Apa yang dimaksud dengan faddaad [congkak]?’ dia jawab, ‘Orang yang memajukan satu kaki dan mengundurkan yang lain.’ Maksudnya orang itu berjalan dengan sombong. (Dlaif: menurut al-Haitsami dalam al-Majma’, hadits ini diriwayatkan oleh Abu Ya’la dan at-Thabrani dalam al-Kabir, dimana terdapat Abu Bakar bin Maryam, seorang yang dlaif karena kekacauan pikiran.)

Ibnul Mubarak menyebutkan, katanya: Telah mengabarkan kepada kami, Daud bin Naqid, dari Abdullah bin Ubaid bin Umair berkata, telah sampai kepadaku berita, bahwa mayit itu duduk dalam lubang kuburnya, sambil mendengarkan langkah cepat para pengantarnya. Tidak ada sesuatu yang berbicara kepadanya sejak pertama kali lubang kubur itu ditimbun. Namun tiba-tiba lubang itu berkata, “Kasihan kamu hai anak Adam, kamu telah diperingatkan tentang aku, dan diperingatkan tentang betapa sempitnya aku, gelapnya aku, busuknya aku, dan mengerikannya aku. Inilah yang aku persiapkan untukmu, lalu apa yang telah kamu persiapkan untukku?” (Shahih Maqthu’)

Adapun arti “wakhth” dan “wakhdz” adalah langkah cepat dalam perjalanan.

Sufyan ats-Tsauri berkata, “Barangsiapa banyak mengingat kubutr, dia akan mendapatinya menjadi salah satu taman surga. Dan barangsiapa lalai dari mengingat kubur, dia akan mendapatinya menjadi salah satu lubang neraka.”

Ahmad bin Harb berkata, “Bumi terheran-heran melihat orang yang menjadikannya sebagai alas berbaring, dan menggelar kasur di atasnya untuk tidur. Maka dia katakan kepadanya, ‘Hai anak Adam, tidakkah kamu ingat kelak kamu akan tidur lama dalam perutku, dimana tidak ada satupun penghalang antara aku dan kamu?’”

Ada seorang ahli zuhud ditanya, “Apakah nasehat yang paling jitu?” dia jawab, “Melihat tempat orang-orang mati.” Maka betapa indah apa yang pernah dikatakan Abu al-Atahiyah:

Kubur-kubur bisu menasehatimu,
Waktu-waktu lalu menerangimu.
Mereka bicara wajah-wajah yang kini telah punah,
Dan paras-paras beku tiada gerak bagai batu.
Mereka cerminkan kepadamu, dirimu dalam kubur,
Padahal kamu masih hidup, dan belum mati terbujur.

Dan diriwayatkan dari al-Hasan al-Bashri, bahwa dia berkata, “Pernah saya berada di belakang suatu jenazah. Saya ikuti dia sampai ke lubang kuburnya. Tiba-tiba seorang perempuan berseru, “Hai ahli kubur, andaikan kalian tahu siapa orang yang dipindahkan kepadamu, niscaya kalian tolak.”

Lalu aku mendengar suara dari dalam lubang kubur berkata, “Demi Allah, dia dipindahkan kepada kami benar-benar membawa dosa-dosa seperti gunung. Tapi aku telah diizinkan memakannya sampai remuk.”

Maka jenazah itu bergerak-gerak di atas keranda, dan al-Hasan sendiri jatuh pingsan.

&

Iklan

Himpitan Kubur

31 Jan

At-Tadzkirah; Bekal Menghadapi Kehidupan Abadi;
Imam Syamsuddin al-Qurthubi

An-Nasa’i meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra. dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda: “Inilah orang yang menyebabkan ‘Arsy Allah Yang Mahapengasih bergoncang, pintu-pintu langit dibukakan untuknya, dan disaksikan oleh tujuhpuluh ribu malaikat. Namun tetap dihimpit dengan satu himpitan, lalu dilonggarkan.” (Bagian pertama dari hadits ini terdapat dalam Shahih al-Bukhari [3803] dan shahih Muslim [2466] dengan lafadz yang maksudnya: Arsy Allah bergetar karena jenazah Sa’ad ra.)

Abu Abdirrahman an-Nasa’i menjelaskan, “Maksudnya ialah Sa’ad bin Mu’adz ra.

Dan di antara hadits yang diriwayatkan oleh Syu’bah bin al-Hajjaj dengan isnadnya kepada Aisyah Ummul Mukminin ra, bahwa dia berkata: sabda Rasulullah saw.: “Sesungguhnya kubur itu punya himpitan. Andaikan ada orang yang selamat darinya, tentu Sa’ad pun selamat darinya.” (Shahih al-Jami’ [5306] karya al-Albani)

Hannad bin as-Sirri menyebutkan: telah menceritakan kepada kami, Muhammad bin Fudhail, dari ayahnya, dari Ibnu Abi Mulaikah, dia berkata, “Tidak seorang pun diselamatkan dari himpitan kubur. Tidak juga Sa’ad bin Mu’adz, yang salah satu sapu tangannya lebih baik daripada dunia seisinya.” (isnadnya dlaif: Fudhail bin Ghazawan adh-Dhabi, ayah Muhammad, tdiak diketahui ihwalnya)

Dia katakan pula: telah menceritakan kepada kami, Abdah bin Ubaidillah bin Umar, dari Nafi’ dia berkata, telah sampai kepadaku berita, bahwa jenazah Sa’id bin Mu’adz disaksikan oleh tujuh puluh ribu malaikat yang tidak pernah turun ke bumi sama sekali. Dan sesungguhnya telah sampai kepadaku berita, Rasulullah saw. bersabda: “Sahabat kamu sekalian ini dihimpit satu kali himpitan dalam kubur.” (Isnadnya dlaif karena mursal)

Ali bin Ma’bad meriwayatkan dalam kitab ath-Tha’ah wa al-ma’shiyah, dari Nafi’ dia berkata, kami datang kepada Shafiyah binti Abu Ubaid, istri Abdullah bin Umar ketika dia ketakutan. Kami bertanya, “Kenapa kamu?” dia jawab, “Saya baru datang dari salah seorang istri Nabi saw. Dia menceritakan kepadaku bahwa Rasulullah saw. bersabda: ‘Sesungguhnya aku benar-benar melihat, andaikan ada orang yang dipelihara dari siksa kubur, tentu Sa’ad bin Mu’adz pun dipelihara darinya. Sesungguhnya dia dihimpit satu kali himpitan di sana.”

Ali bin Ma’bad juga meriwayatkan dari Zadzan, bahwa Ibnu Umar ra berkata, ketika Rasulullah saw. mengubur putri beliau, Zainab, beliau duduk di sisi kubur, maka wajah beliau pucat, lalu berubah menjadi ceria. Oleh karena itu para shahabat bertanya, “Tadi kami melihat wajahmu pucat, wahai Rasulullah, lalu berubah menjadi ceria,” Nabi saw. menjawab: “Aku ingat putriku, kelemahannya dan adzab kubur. Maka aku berdoa kepada Allah, lalu dilonggarkan baginya. Demi Allah, dia pun benar-benar dihimpit dengan suatu himpitan yang terdengar oleh makhluk antara timur dan barat.”

Dan Ali bin Ma’bad juga meriwayatkan dengan sanadnya, dari Ibrahim al-Ghanwi, dari seorang lelaki, dia berkata, “Saya berada di sisi Aisyah ra, tiba-tiba lewatlah jenazah anak kecil, maka Aisyah pun menangis. Kami bertanya kepadanya, ‘Kenapa menangis, wahai Ummul Mukminin?’ Dia menjawab, ‘Aku menangisi anak kecil ini, karena kasihan kepadanya, dan dia pun mengalami himpitan kubur.’”

Saya katakan: meskipun berita ini mauquf pada Aisyah ra, tetapi berita ini tidak mungkin dikatakan berasal dari pendapat manusia biasa.

Umar bin Syu’bah telah meriwayatkan dalam kitab al-Madinah –semoga penduduknya senantiasa diberi kesejahteraan- tentang wafat Fathimah binti Asad, ibu Amir al-Mukminin Ali bin Abi Thalib ra, dia berkata, “Ketika Nabi saw. di tengah para shahabatnya, tiba-tiba datanglah seseorang dan berkata, ‘Sesungguhnya ibnu Ali, Ja’far dan Aqil meninggal dunia,’ Maka beliau mengajak, ‘Marilah ktia pergi kepada ibuku.’

Maka kamipun bangkit, seakan-akan ada burung di atas kepala kami. Dan ketika kami sampai di pintu, beliau melepas bajunya seraya berpesan, ‘Apabila kalian mengafaninya, kenakan baju ini kepadanya di bawah kain kafannya.’

Dan ketika orang-orang keluar membawanya, Rasulullah saw. kadang-kadang ikut membawa, kadang-kadang maju ke depan, dan kadang-kadang mundur ke belakang, sampai kami tiba di kubur. Lalu beliau ikut berlepotan tanah di dalam liang lahat, sesudah itu keluar dan berkata, ‘Masukkan dia, BismillaaH wa ‘alaa ismillaaH [dengan menyebut Nama Allah, dan atas Nama Allah].’ Dan setelah menguburkan, beliau berdiri dan berkata, ‘Semoga Allah membalas kebaikanmu, hai ibu dan pengasuh.’

Kami menanyakan kepada beliau, kenapa melepas baju dan ikut berlepotan tanah dalam liang lahat. Maka beliau menjawab, ‘Aku ingin dia tidak tersentuh api neraka selamanya, isnyaa Allah Ta’ala, dan agar Allah melapangkan kuburnya.’

Beliau berkata pula, ‘Tidak seorang pun selamat dari himpitan kubur, kecuali Fathimah binti Asad.’

Maka seseorang bertanya, ‘Ya Rasulallah, tidak jugakah al-Qasim, putramu itu?’ Maka beliau menjawab, ‘Bahkan tidak juga Ibrahim.’ Yakni putra beliau yang lebih kecil dari keduanya.

(hadits ini diriwayatkan pula oleh Abu Nu’aim dari Ashim al-Ahwal, dari Anas, dengan berbeda redaksi tapi sama maknanya, yaitu tidak terdapat pertanyaan tentang kenapa berlepotan tanah dan seterusnya)

Anas ra. berkata: Sepeninggalan Fathimah binti Asad bin Hasyim, ibu Ali bin Abi Thalib ra, Rasulullah saw. datang menjenguknya, lalu duduk di sisi kepalanya. Beliau bersabda, “Semoga Allah merahmatimu wahai ibuku. Engkau adalah ibuku setelah ibuku. Engkau lapar demi mengenyangkan aku. Engkau tidak berpakaian demi memberiku pakaian. Engkau menahan dirimu dari makanan enak demi memberiku makan. Dengan itu semua engkau mengharap ridla Allah dan negeri Akhirat.”

Kemudian beliau menyuruh jasadnya dimandikan tiga kali basuhan. Dan tatkala sampai pada air yang dicampur kapur barus, beliau menuangkan sendiri dengan tangan beliau. Selanjutnya Rasulullah saw. melepas baju beliau dan mengenakannya pada jazad bibinya itu, lalu ditutupnya dengan kain kafan di atasnya.

Kemudian Rasulullah saw. memanggil Usamah bin Zaid, Abu Ayyub al-Anshari, Umar bin al-Khaththab dan seorang budak hitam untuk menggali kuburnya. Dan tatkala sampai pada liang lahat, Rasulullah ikut menggali dan mengeluarkan tanah dengan tangan beliau. Setelah selesai, Rasulullah masuk dan membaringkan mayit di dalamnya, lalu beliau bersabda, “Alhamdu lillaaH, segala puji bagi Allah yang menghidupkan dan mematikan. Dia Maha Hidup, tidak akan mati. Ampunilah ibuku, Fathimah binti Asad, ajarilah dia hujjahnya, lapangkanlah baginya tempat masuknya, atas hak Nabi-Mu dan para Nabi sebelumku. Sesungguhnya Engkau Mahapengasih di antara yang mengasihi.”

Rasulullah saw. menshalati bibinya itu empat kali takbir, dan memasukkannya sendiri ke dalam liang lahat bersama al-Abbas dan Abu Bakar ash-Shiddiq ra.

(Dlaif; as-Silsilah adl-Dlaifah [23] dan at-Tawassul, anwa-uHu AhkamuHu [111] oleh al-Albani. Patut diingatkan di sini, bahwa tidak ada satupun hadits yang shahih tentang tawassul kepada Allah dengan hak para Nabi atau hamba-hamba-Nya yang shalih. Tawassul semacam ini adalah bid’ah yang diharamkan. Misalnya tawassul dengan pangkat para nabi dan orang-orang shalih. Mengenai tawassul ini memang ada sebuah hadits, tapi bathil dan tidak ada sumbernya dalam kitab-kitab sunnah, yang artinya: “Apabila kalian meminta kepada Allah, maka mintalah dengan pangkatku…” Maka harus anda lihat kitab at-Tawassul, oleh al-Albani rahimahullah, dan al-Qa’idah al-Jalilah fii at-Tawassul, oleh Ibnu Taymiyah rahimahullah.)

&

Pengaruh Tangisan Keluarga terhadap Mayit

31 Jan

At-Tadzkirah; Bekal Menghadapi Kehidupan Abadi;
Imam Syamsuddin al-Qurthubi

Di sini diterangkan bahwa mayit disiksa lantaran tangisan keluarganya, dan oleh karenanya mereka adalah manusia paling kejam terhadap si mayit.

Menurut riwayat Abu Hadbah Ibrahim bin Hadbah, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami, Anas bin Malik ra, dia berkata: Sabda Rasulullah saw:

“Sesungguhnya apabila orang yang meninggal dunia telah diletakkan di dalam kubur lalu didudukkan, sedang keluarganya berkata, ‘O tuanku! O bangsawanku! O pemimpinku!’ maka malaikat berkata, ‘Dengarkan apa yang mereka katakan! Kamu dulu tuan? Kamu dulu bangsawan? Kamu dulu pemimpin?’ mayit itu berkata, ‘Andaikan mereka diam saja.’”

Rasulullah saw bersabda, “Lalu mayit itu dihimpit sekali himpit yang menyebabkan tulang-tulangnya hancur berantakan.”
(Maudlu’; Abu Hadbah adalah pendusta)

&

Nasib Penarik Pungutan Liar dan Pemutus Silaturahim

28 Jan

At-Tadzkirah; Bekal Menghadapi Kehidupan Abadi;
Imam Syamsuddin al-Qurthubi

Di sini diterangkan bahwa penarik pungutan liar dan pemutus silaturahim tidak masuk surga. Allah ta’ala berfirman:

“Dan janganlah kamu duduk-duduk di tiap-tiap jalan dengan menakut-nakuti dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah, dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok.” (al-A’raaf: 86)

Ayat ini menurut sebagian ulama turun tentang para penarik pungutan liar dan pemungut sepersepuluh dari hasil bumi. Dan firman-Nya juga:

“Maka, apakah kiranya jika kamu berkuasa, kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan oleh-Nya telinga mereka, dan dibutakan oleh-Nya penglihatan mereka.” (QS Muhammad: 22-23)

Menurut riwayat Muslim dari Jubair bin Muth’im, dari ayahnya, dari Nabi saw, beliau bersabda: “Tidak akan masuk surga sang pemutus.”

Kata Ibnu Abi Umar, bahwa Sufyan berkata bahwa yang dimaksud adalah pemutus silaturahim.

Abu Dawud meriwayatkan dari Uqbah bin Amr ra, dia berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Tidak masuk surga penarik pungutan liar.”

&

Penarik Pungutan Liar Yang Masuk Neraka

28 Jan

At-Tadzkirah; Bekal Menghadapi Kehidupan Abadi;
Imam Syamsuddin al-Qurthubi

Para ulama mengatakan bahwa penarik pungutan liar yang dimaksud di sini adalah orang yang mengambil sepersepuluh dari hasil bumi para petani, dan mengambil pungutan liar dari para pedagang serta orang-orang yang berlalu lintas saat mereka melewati jalan, yang sebenarnya tidak wajib mereka bayar, baik atas nama pungutan “sepersepuluh hasil bumi,” zakat atau lainnya. Jadi, yang dimaksud bukanlah petugas resmi yang ditugasi menarik sedekah dan zakat yang wajib dibayar untuk kepentingan orang-orang fakir.

Telah dikatakan bahwa penyalahgunaan dan penyelewengan bila berkaitan dengan amal, bukan berkaitan dengan soal akidah, maka pelakunya kelak [di akhirat] bergantung pada kehendak Allah. Maksudnya, meskipun dia mendapat siksa, namun suatu ketia ia bisa keluar dari neraka bila mendapat syafa’at, sebagaimana diterangkan terdahulu. Maka demikian pula semua orang yang berdosa besar, yang diancam dengan neraka dan laknat. Mereka akan keluar darinya, bila mendapat syafaat, yakni jika mereka melakukannya bukan dengan menganggapnya halal.

&

Yang Pertama Masuk Surga dan Yang Pertama Masuk Neraka

28 Jan

At-Tadzkirah; Bekal Menghadapi Kehidupan Abadi;
Imam Syamsuddin al-Qurthubi

Ada tiga golongan manusia yang pertama-tama masuk surga, dan tiga golongan lainnya yang pertama-tama masuk neraka.

Menurut riwayat Abu Bakar bin Syaibah, dari Abu Hurairah ra, dia berkata: Rasulullah saw. bersabda:

“Tiga orang yang pertama-tama masuk surga adalah: orang yang mati syahid; orang yang selalu menjaga [kehormatan] diri dan berusaha tetap menjaga diri dari maksiat, sekalipun banyak tanggungan keluarga; dan budak yang beribadah sebaik-baiknya kepada Tuhannya sebaik-baiknya dengan tetap menunaikan kewajiban kepada tuannya. Dan tiga orang lainnya yang pertama-tama masuk neraka ialah: penguasa yang kejam; orang kaya yang tidak menunaikan kewajiban hartanya; dan orang fakir yang sombong.”

(HR ad-Daruquthni dalam al-‘Ilal [9/269] lengkap dengan isnadnya, dan dia katakan: “Hadits ini diriwayatkan juga oleh Hamid bin Mihram al-Mariki, Hisyam ad-Dustuwa’i, Ali bin al-Mubarak, Abban al-Aththar, dan Syaiban, masing-masing dari Yahya bin Abi Katsir, dari Amir bin Uqbah al-Uqaili, dari ayahnya, dari Abu Hurairah dengan lafadz yang sama.” Dan kata ad-Daruquthni pula: “Pada hadits ini Yahya mengalami keraguan, yakni terkadang dia diriwayatkan dari Abu Salamah, terkadang dari Abu Hurairah.”)

&

Orang yang Pertama-tama Dibakar Dalam Neraka

28 Jan

At-Tadzkirah; Bekal Menghadapi Kehidupan Abadi;
Imam Syamsuddin al-Qurthubi

Menurut riwayat Muslim dari Abu Hurairah ra. dia berkata, saya mendengar Rasulullah saw. bersabda:

“Sesungguhnya orang yang pertama-tama diputuskan perkaranya pada hari kiamat adalah orang yang [nampaknya] mati syahid. Allah memberitahu orang itu nikmat-nikmat yang telah Dia berikan kepadanya, dan orang itu pun mengakuinya.

‘Kalau begitu, apa yang telah kamu lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ tanya Allah kepadanya. Dia menjawab, ‘Hamba telah berperang di jalan-Mu, sehingga hamba mati syahid.’
‘Bohong kamu,’ kata Allah, ‘tetapi kamu berperang supaya dikatakan: Fulan pemberani, dan itu telah dikatakan orang.’ Maka diperintahkanlah supaya dia diseret pada wajahnya, lalu dileparkan ke neraka.

Lalu, orang yang belajar ilmu dan mengajarkannya, serta membaca al-Qur’an. Allah memberitahu dia nikmat-nikmat yang telah Dia berikan kepadanya, dan orang itu mengakuinya. Maka Allah bertanya, ‘Kalau begitu, apa yang telah kamu lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’
Orang itu menjawab, ‘Hamba telah belajar ilmu dan mengajarkannya, serta membaca al-Qur’an karena-Mu.’

‘Bohong kamu,’ kata Allah, ‘tetapi kamu belajar supaya dikatakan alim, dan kamu membaca al-Qur’an supaya disebut qari’, dan itu telah dikatakan orang.’ Maka diperintahkanlah supaya dia diseret pada wajahnya, lalu dilemparkan ke dalam neraka.

Lalu, orang yang telah dilapangkan Allah rezekinya, dan Dia beri berbagai macam harta. Orang itu didatangkan, lalu Allah memberitahu dia nikmat-nikmat yang telah Dia berikan kepadanya, dan orang itu mengakuinya. Maka Allah bertanya, ‘Kalau begitu, apa yang telah kamu lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’
Orang itu berkata, ‘Hamba tidak membiarkan satu jalan pun, yang Engkau ingin supaya diberi nafkah, melainkan hamba memberinya nafkah.’
‘Bohong kamu,’ kata Allah, ‘tetapi kamu melakukan demikian supaya dikatakan dermawan, dan itu telah dikatakan orang.’ Maka diperintahkanlah supaya orang itu diseret pada wajahnya, lalu dilemparkan ke dalam neraka.’” (HR Muslim)

Hadits yang semakna dengan ini, telah diriwayatkan pula oleh Abu Isa at-Timidzi, dimana pada akhirnya Abu Hurairah mengatakan, “Kemudian Rasulullah saw. memukul lututku seraya bersabda, ‘Hai Abu Hurairah, mereka bertiga itu adalah makhluk Allah yang pertama-tama dibakar dalam neraka pada hari kiamat.’”

&

Para Ulama dari Berbagai Disiplin Ilmu Yang Masuk Surga Tanpa Hisab

28 Jan

At-Tadzkirah; Bekal Menghadapi Kehidupan Abadi;
Imam Syamsuddin al-Qurthubi

Abu Ja’far Umar bin Hafs al-Mayanisyl menuturkan sebuah hadits dari Anas bin Malik ra, dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda:

“Apabila hari kiamat telah terjadi, para ahli hadits datang, di tangan mereka ada tempat-tempat tinta. Maka Allah Ta’ala menyuruh Jibril mendatangi mereka. malaikat itu bertanya siapa mereka. mereka menjawab, ‘Kami para ahli hadits.’

Maka Allah berkata kepada mereka, ‘Masuklah ke surga. Telah sekian lama kamu sekalian bershalawat kepada Nabi saw.’
(Maudlu’; al-Fawa’id al-Majmu’ah [292], karya asy-Syaukani)

Ibnu Umar ra. meriwayatkan dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda:

“Apabila hari kiamat telah terjadi, maka dipasanglah mimbar-mimbar dari cahaya, di atasnya ada tempat-tempat duduk dari mutiara saling berhadapan. Maka terdengarlah seorang penyeru menyerukan, ‘Manakah para ahli fiqih? Mana para pemuka ilmu? Mana para mu’adzin? Duduklah di atas kursi-kursi ini. Hari ini tidak ada rasa takut atas kamu sekalian, dan tidak ada kesedihan.’ Demikianlah sehingga Allah selesai menghisab para hamba-Nya.” (Disebutkan dalam al-Firdaus [987])

Yazid bin Harun meriwayatkan dari Dawud bin Abu Hind, dari asy-Sya’bi, dari Abu Laila, dari Abu Ayyub al-Anshari ra, dia berkata, Rasulullah saw. bersabda:

“Satu masalah yang dipelajari seorang mukmin, adalah lebih baik baginya daripada beribadah satu tahun, dan lebih baik baginya daripada memerdekakan budak keturunan Ismail. Dan sesungguhnya penuntut ilmu, wanita yang taat kepada suaminya, dan anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya, semuanya masuk surga tanpa hisab.” (Isnad hadits ini dlaif; at-Tadwin fii Akhbar Qazwain [1/255])

Kata al-Mayanisyi, “Saya mengutip hadits ini dari kitab az-Ziyadat ba’d al-Arba’in, karya Ismail bin Abdul Ghafir ra, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami, Yahya dari al-Husain bin Ali, dia berkata, telah menceritakan kepada kami, Yazid bin Harun..dst.

&

Suasana Pergaulan di Alam Kubur

28 Jan

At-Tadzkirah; Bekal Menghadapi Kehidupan Abadi;
Imam Syamsuddin al-Qurthubi

Para penghuni kubur saling berkunjung sesamanya di alam sana, dan saling memuji kain kafan yang dipakai masing-masing.

Dalam kitab al-Ibanah, penulisnya, al-Hafizh Abu Nashar Abdullah bin Sa’id bin Hatim al-Wa’ili as-Sijistani menceritakan sebuah hadits dengan isnadnya dari Jabir ra. dia berkata, Sabda Rasulullah saw.:

“Perbaikilah kain kafan mayit-mayit kamu sekalian. Sesungguhnya mereka saling membanggakan [kain kafan masing-masing] dan saling mengunjungi di dalam kubur mereka.”

Dan dalam Shahih Muslim juga diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah ra, dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda:
“Apabila seoran dari kamu sekalian mengafani saudaranya, maka perbaikilah kafannya.” (Shahih; lihat takhrijnya tersebut di atas)

&

Memilih Tempat untuk Mengubur Jenazah

28 Jan

At-Tadzkirah; Bekal Menghadapi Kehidupan Abadi;
Imam Syamsuddin al-Qurthubi

Abu Dawud ath-Thayalisi berkata: telah menceritakan kepada kami, Siwar bin Maimun Abul Jarah al-‘Abdi, dia berkata, telah menceritakan kepadaku, seseorang dari keluarga Umar, dari Umar, dia berkata, aku mendengar Rasulullah saw. bersabda:

“Barangsiapa berziarah ke kuburku,” atau beliau bersabda, “Barangsiapa berziarah kepadaku, maka aku menjadi saksi atau pemberi syafaat baginya. Dan barangsiapa meninggal dunia di salah satu Tanah Haram [Makkah atau Madinah], maka Allah akan membangkitkannya dalam golongan orang-orang yang aman pada hari kiamat.” (Dlaif al-Jami’ [5608] karya al-Albani dengan lafadz yang sama, tetapi dari hadits riwayat Anas ra)

Hadits yang senada dikeluarkan pula oleh ad-Daruquthni dari Hathib, sabda Rasulullah saw.:

“Barangsiapa berziarah kepadaku sepeninggalku, maka seakan-akan dia berziarah kepadaku selagi aku masih hidup. Dan barangsiapa mati di salah satu Tanah Haram, maka ia akan dibangkitkan dalam golongan orang-orang yang aman pada hari kiamat.” (Saya tidak mengenal hadits ini, tapi kepalsuan dan kemungkarannya tampak jelas pada matannya)

Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra, dia berkata, “Malaikat Maut pernah diutus kepada Nabi Musa as [untuk mencabut nyawanya]. Ketika dia datang, maka Nabi Musa meninjunya sampai copot matanya. Maka malaikat itu kembali kepada Tuhannya seraya berkata, ‘Engkau telah mengutus aku kepada seorang hamba-Mu yang tidak mau mati.’”

Perawi berkata, “Maka Allah mengembalikan mata Malaikat Maut dan berfirman, ‘Kembalilah kamu kepadanya dan katakanlah, hendaknya dia meletakkan tangannya pada bagian luar kulit lembu, dia akan memperoleh tambahan umur satu tahun untuk setiap helai lembu yang ditutupi oleh tangannya.’

Malaikat Maut berkata, ‘Ya Tuhanku, sesudah itu apa?’
‘Sesudah itu mati,’ jawab Allah.
Malaikat Maut berkata, ‘Sekarang juga aku berangkat.’

Adapun Nabi Musa sendiri kemudian memohon kepada Allah agar mendekatkan dirinya kepada Negeri Yang Disucikan [al-ardl al-Muqaddasah] sejauh lemparan batu.

Rasulullah saw. bersabda, “Andaikan aku ada di sana, niscaya aku tunjukkan kepada kamu sekalian kuburannya, ada di sebelah jalan, di bawah gundukan pasir merah.” (Shahih al-Bukhari [1339], Shahih Muslim [2372])

Menurut riwayat lain, Abu Hurairah berkata: Malaikat Maut datang kepada Nabi Musa as, lalu berkata, “Penuhilah panggilan Tuhanmu.” Maka Nabi Musa as. meninju mata Malaikat Maut sampai copot, atau seterusnya seperti hadits di atas.

At-Tirmidzi berkata, dari Ibnu Umar ra, bahwa Nabi saw bersabda:
“Barangsiapa bisa mati di Madinah, maka matilah di sana. Sesungguhnya aku memberi syafaat kepada orang yang mati di sana.” (Shahih al-Jami’ [6015] karya al-Albani; dinyatakan shahih pula oleh Abu Muhammad Abdul Haqq)

Dalam al-Muwaththa’ disebutkan, bahwa Umar ra pernah berdoa: “Ya Allah, karuniailah ku mati syahid di jalan-Mu, dan wafat di negeri Nabi-Mu.” (Shahih al-Bukhari [1890], dan Malik dalam al-Muwaththa’ [Kitab al-Jihad, bab Maa Takuunu fiiHi ShaHadaH)

Sa’ad bin Abi Waqqash dan Sa’id bin Zaid ra telah berpesan supaya jasadnya kalau mati dibawa dari al-Aqiq ke al-Baqi’, yaitu kuburan di Madinah, dan supaya dikubur di sana, karena keutamaannya yang mereka ketahui. wallaaHu a’lam.

Dan sesungguhnyalah, bahwa keutamaan Madinah tidak bisa dipungkiri dan tidak samar. Dan andaikan keutamaannya hanya sekedar bertetangga dengan orang-orang shalih dan para syuhada yang utama, itupun cukup.

Dan diriwayatkan dari Ka’ab al-Ahbar, bahwa dia berkata kepada salah seorang penduduk Mesir, ketika dia ditanya, “Ada perlu apa?” dia menjawab, “Saya perlu sekantong tanah lereng al-Muqaththam,” maksudnya sebuah gunung di Mesir.
“Semoga Allah merahmatimu,” kata si penanya, “Untuk apakah tanah itu?” dia jawab, “Akan aku taruh dalam kuburku.”
“Kenapa begitu, padahal kamu tinggal di Madinah, dan kata orang, kuburan al-Baqi’ itu begini-begitu?” tanya orang itu pula. Maka jawab Ka’ab al-Ahbar, “Kami dapatkan dalam sebuah kitab kuno, bahwasannya ada tanah suci antara al-Qushair dan al-Yahmum.”

&