Arsip | Riwayat RSS feed for this section

Kitab Induk Sejarah: Taariikh ath-Thabari

25 Mei

Fakta Sejarah Islam;
Dr. Utsman bin Muhammad al-Khamis; Pustaka Imam Syafi’i

Taariikh ath-Thabari adalah kitab terpenting dalam sejarah Islam. Sering kali penulis sejarah mengutip berbagai peristiwa darinya. Ahlus sunnah dan ahli bid’ah mengutip dan berdalil dengan kitab ini. Lantas, mengapa kitab ini lebih didahulukan daripada kitab-kitab sejarah lainnya?

Penurut Dr. Utsman bin Muhammad al-Khamis, didahulukannya kitab tersebut didasarkan pada fakta-fakta berkut:
1. Dekatnya zaman penyusunnya, yaitu Imam ath-Thabari, dengan peristiwa-peristiwa yang dialami oleh para shahabat
2. Penyusun meriwayatkan semuanya dengan sanad
3. Kemuliaan penyusun dan tingkat keilmuannya
4. Mayoritas kitab sejarah mengutip riwayat-riwayat darinya.

Jika kandungan kitab Taariikh ath-Thabari demikian unggul, maka kita bisa saja langsung merujuk pada kitab beliau ketika ingin membaca sejarah –tanpa melihat kitab-kitab sejarah lainnya yang menginduk kepadanya. Akan tetapi, seperti yang telah disampaikan bahwa tidak hanya ahlus sunnah yang merujuk kitab tersebut, tetapi juga para ahlu bid’ah yang mengambil apa-apa yang sesuai dengan madzab mereka.

Nah bagaimanakah sebaiknya menyikapi dua hal yang berlawanan ini? Jawabannya masih terkait dengan keistimewaan kitab sejarah ini, yakni semua peristiwa sejarah yang dinukil di dalamnya disertai sanad; jadi kalangan ahlus sunnah mengambil sanad ath-Thabari yang shahih saja, sedangkan ahli bid’ah mengambil semua riwayat baik yang shahih, yang baik maupun yang buruk, yang penting sesuai dengan hawa nafsu mereka.

Kalau demikian, sudah semestinya kita mengetahui metode yang dipakai oleh Imam ath-Thabari dalam menyusun Taariikhnya tersebut.

&

Iklan

Kekhalifahan Abu Bakar ash-Shiddiq (11-13 H)

25 Mei

Fakta Sejarah Islam;
Dr. Utsman bin Muhammad al-Khamis; Pustaka Imam Syafi’i

Ketika kabar wafatnya Rasulullah saw. diumumkan, Abu Bakar ash-Shiddiq ra. baru datang dari Sanh (di tempat itulah tinggal istri Abu Bakar ra: Habibah binti Kharijah), sebuah daerah dekat Madinah. Kemudian ia membuka penutup wajah Rasulullah saw. dan mencium kening beliau seraya berkata, “Ayah dan ibuku sebagai tebusan, engkau adalah suci baik ketika masih hidup maupun setelah wafat.”

Abu Bakar menutup wajar Rasulullah saw. kemudian berdiri naik ke mimbar, lalu menyadarkan orang-orang, “Siapa saja di antara kalian yang menyembah Muhammad, maka ketahuilah bahwasannya Muhammad telah meninggal. Dan siapa saja di antara kalian yang menyembah Allah, maka ketahuilah bahwasannya Allah Mahahidup, tidak akan pernah mati.” Lalu ia membacakan firman Allah [yang artinya]:

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika Dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, Maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi Balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (Ali ‘Imraan: 144)

Lalu mulailah para shahabat menangis terisak-isak. Mereka keluar ke jalan-jalan seraya mengulang-ulang ayat tersebut. Anas ra. berkata, “Seolah-olah kami belum pernah mendengar ayat ini kecuali saat itu.” Padahal al-Qur’an telah sempurna pada zaman Rasulullah saw. sebelum wafat. Walaupun demikian, ayat ini seolah-olah baru bagi mereka, dan itu disebabkan dahsyatnya musibah wafatnya Nabi saw.

Al-‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib, ‘Ali bin Abu Thalib dan al-Fadhl bin al-‘Abbas, yang dibantu oleh shahabat lain memandikan dan mengkafani Rasulullah saw. Kemudian beliau dishalatkan dan dikebumikan. Pengurus jenazah Nabi saw seperti itu karena al-‘Abbas adalah paman beliau, serta ‘Ali dan al-Fadhl adalah sepupu beliau. Maka merekalah yang paling berhak mengurus jenazah beliau.

&

Hal-Hal yang Harus Diwaspadai ketika Membaca Kitab Sejarah

25 Mei

Fakta Sejarah Islam;
Dr. Utsman bin Muhammad al-Khamis; Pustaka Imam Syafi’i

Yang perlu diwaspadai adalah agar tidak mudah condong kepada pendapat penyusunnya. Untuk itu kita diharuskan meneliti asal riwayat yang dinukilkan, bukan berpegang pada pendapat si penulis. Kita juga harus bersikap objektif ketika membacanya. Dan ada dua hal yang harus kita yakini ketika membaca sejarah para shahabat.

Pertama, meyakini bahwa para shahabat adalah manusia terbaik setelah para Nabi, karena Allah telah memuji mereka (sebagaimana dalam ayat terakhir surah al-Bayyinah). Nabi juga telah menyanjung mereka, dan menjelaskan dalam banyak hadits bahwa merekalah manusia terbaik setelah Nabi dan Rasul-Nya.

Kedua, meyakini bahwa para shahabat tidak ma’shum atau terpelihara dari kekeliruan. Namun kita meyakini bahwa mereka tidak mungkin keliru dalam ber-ijma’, karena Nabi saw. telah menegaskan bahwa umat ini (generasi shahabat) tidak akan berkolaborasi di atas kesesatan. Dengan kata lain, mereka ma’shum dari bersepakat dalam kesesatan. Mereka ma’shum bila dilihat secara komunal, tetapi secara perorangan tidak demikian. Yang ma’shum hanyalah para Nabi Allah dan malaikat-Nya. selain mereka, kita tidak meyakini adanya ke-ma’shum-an seseorang.

Penulis buku ini menegaskan bahwa tidak masalah bila kita membahas tentang kealpaan beberapa di antara mereka sekadar untuk pendalaman yang bersifat ilmiah. Yang tercela adalah mendalaminya dengan dasar kebodohan, niat yang buruk, atau dengan keduanya sekaligus. Adapun jika pembahasan itu dibangun atas dasar ilmiah, objektivitas, dan ketakwaan, maka menurut penulis hal itu tidaklah tercela.

Bagaimanapun kita harus meyakini bahwa para shahabat adalah manusia terbaik. Kita juga harus meyakini ketidak-ma’shum-an pribadi mereka. kealpaan mereka adalah kesalahan yang tidak disengaja, bukan kesalahan yang disengaja; dan, terdapat perbedaan mendasar di antara dua hal ini. Karena itulah, jangan cepat-cepat menolak atau menerima suatu riwayat berisi celaan kepada seorang shahabat yang disampaikan kepada anda, sampai anda benar-benar meneliti keabsahannya. Jika anda meyakini keshahihan sanadnya, maka lihatlah kekeliruan itu dari sudut pandang ketidak-ma’shum-an mereka; sehingga wajar apabila mereka terjatuh dalam kesalahan, seperti halnya manusia yang lain. Sebaliknya, jika anda meyakini sanadnya dla’if, maka tetaplah berpegang pada hukum asal, yaitu mereka adalah manusia terbaik setelah para Nabi Allah.

Mengenai pujian Allah kepada para shahabat Nabi saw. hal ini tertera dalam firman-Nya yang artinya:
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, Yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah Dia dan tegak Lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (al-Fath: 29)

Dalam ayat ini Allah memuji para shahabat. jadi menurut hukum asalnya, mereka adalah terpuji. Dalam satu riwayat shahih disebutkan bahwasannya Nabi saw. bersabda: “Janganlah kalian mencela shahabatku. Seandainya salah seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, maka itu tidak akan menyamai infak mereka yang hanya sebesar satu mud (sekitar 675 gram), bahkan setengahnya pun tidak.”

Inilah pujian Rasulullah saw. kepada shahabat-shahabatnya. Dan ini akan dijelaskan dalam bahasan khusus. Abu Muhammad al-Qahthani dalam bait syair Nuuniyyah-nya menggubah sebuah syair:
Janganlah terima sejarah dengan mengambil semua
Yang dituturkan perawi dan ditulis setiap tangan
Terimalah riwayat terpilih dari para ahlinya
Terlebih dari perawi yang cerdas dan berpengalaman
Sebut saja Ibnul Musayyib, al-‘Ala’, dan Malik
Juga oleh al-Laits, az-zuhri, atau Sufyan

Maksudnya, jika anda menginginkan sejarah yang otentik dan shahih, maka berpeganglah kepada riwayat ulama-ulama tersebut dan ulama tsiqah lainnya seperti mereka. janganlah bersikap skeptis seperti terlihat dari ungkapan beberapa golongan pencela shahabat Rasulullah saw.: “Sesungguhnya sejarah kita hitam begitu kelam.” Padahal tidak demikian, sejarah kita begitu cemerlang, indah, dan disenangi pembaca.

Siapa saja yang ingin mengetahui lebih luas lagi hendaknya merujuk kitab-kitab induk sejarah Islam, seperti kitab Taariikh Umam wal Muluuk atau yang masyhur dengan nama Taariikh ath-Thabari; atau kitab al-Badaayah wan nihaayah karya Ibnu Katsir; atau kitab Taariikh Islam karya adz-Dzahabi; ataupun kitab-kitab sejarah lainnya yang dijadikan pegangan atau rujukan umat ini.

&

Kitab Sejarah Siapa yang Sebaiknya Kita Baca?

25 Mei

Fakta Sejarah Islam;
Dr. Utsman bin Muhammad al-Khamis; Pustaka Imam Syafi’i

Jawabannya adalah jika anda mampu menganalisa sanad dan menelitinya, maka bacalah kitab Imam ath-Thabari (Taariikh ath-Thabari). Kitab beliau ini adalah pegangan bagi para ulama yang menulis kitab sejarah.

Sedangkan jika anda tidak mampu menganalisa dan meneliti sanad, maka bacalah:
1. Kitab al-Hafidzh Ibnu Katsir; al-Bidaayah wan Nihaayah
2. Kitab al-hafidzh adz-Dzahabi; Taariikhul Islam
3. Kitab al-‘Allamah Abu Bakar Ibnul ‘Arabi, al-‘Awaashim minal Qawaashim, yakni kitab terbaik di antara kitab lainnya yang membahas periode sejarah paska wafatnya Nabi saw. hingga terbunuhnya al-Husain ra.

Di antara kitab-kitab atau buku-buku sejarah lain yang bermanfaat berkaitan dengan pembahasan kita ini, yang ringkas tapi bernas adalah:

1. Marwiyyat Abi Mikhnaf fii Taariikh ath-Thabari karya Dr. Yahya Ibrahim al-Yahya
2. Al-Khilaafah ar-Raasyidah wad Daulah al-Umawiyyah min Fat-hil Baari karya Dr. Yahya Ibrahim al-Yahya.
3. Tahqiiq Mauqifish Shahaabah minal Fitan karya Dr. Muhammad Amhazun.
4. ‘Ashrul Khilaafah ar-Raasyidah karya Dr. Akram Dhiya’ al-‘Umari.
5. Marwiyyaat Khilaafah Mu’awiyah fii Taariikh ath-Thabari karya Khalid al-Ghaits.
6. Ath-Thabaqaatul Kubraa karya Ibnu Sa’ad. Kitab ini amat penting, karena penyusun menukil riwayat dengan sanad.
7. At-Taariikh karya Khalifah bin Khayyath. Kitab ini singkat, namun sangat memperhatikan sanad.
8. Taariikhul Madiinah karya Ibnu Syabah. Kitab ini juga begitu memperhatikan sanad.
9. Ahdaats wa Ahaadiits Fitnatil Haraj karya Dr. ‘Abdul ‘Aziz Dakhan.
10. Akhtaa’ Yajid an Tushahhah minat Taarikh karya Dr. Jamal ‘Abdul Hadi dan Dr. Wafa’ Jam’ah.

&

Fakta Sejarah Islam; Pendahuluan

25 Mei

Fakta Sejarah Islam; Pendahuluan
Dr. Utsman bin Muhammad al-Khamis; Pustaka Imam Syafi’i

Di antara kebohongan terbesar dalam sejarah Islam adalah tudingan bahwa para shahabat Rasulullah saw. menyembunyikan permusuhan di antara mereka. sungguh, tudingan itu sangat bathil dan jauh dari apa yang difirmankan Allah:

“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah..” (QS Ali ‘Imraan: 110)

Demikian juga tidak sesuai dengan sabda Rasulullah yang diriwayatkan sebagai berikut: “Sebaik-baik manusia adalah generasiku.”

Di antara tanda keterasingan Islam setelah berlalunya periode tiga generasi yang utama adalah munculnya penulis-penulis yang mendistorsi dan menyelewengkan fakta sejarah. Mereka menyelisihi dan menentang kebenaran. Mereka menyangka bahwasannya tidak ada rasa persaudaraan di antara para shahabat Rasulullah saw. Mereka juga menyangka bahwa para shahabat tidak saling mengasihi, tetapi saling bermusuhan, saling mengutuk, saling menipu, bersifat hipokrit dan melakukan konspirasi satu sama lain. Semua diperbuat shahabat-shahabat Nabi saw. karena penentangan, permusuhan, kecenderungan mengikuti hawa nafsu dan egoisme untuk menggapai dunia.

Demi Allah mereka berbohong! Sungguh mereka telah melemparkan kedustaan yang besar dan nyata. Sebab justru sebaliknya, yang benar adalah Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, Thalhah, Az-Zubair, Abu ‘Ubaidah, ‘Aisyah, Fathimah, dan shahabat-shahabat lain begitu mulia dan suci; sehingga tidak mungkin mereka terjatuh dalam hal-hal yang hina tersebut. Terlebih lagi, Bani Hasyim dan Bani Umayyah –mengingat keislaman, kasih sayang, dan kekerabatan mereka- disamping hubungan keduanya sangat erat, mereka lebih bersemangat dalam berbuat kebaikan (daripada beselisih paham). Melalui kepemimpinan merekalah negeri-negeri di luar jazirah Arab ditaklukkan, sehingga orang berbondong-bondong memeluk agama Allah swt. berkat upaya tersebut. Perlu diketahui pula bahwa nama-nama yang disebutkan itu nasabnya bertemu pada Bani Hasyim, baik dari jalur hubungan paman, kekerabatan, ataupun pernikahan.

Anda harus yakin bahwa berita-berita yang benar, yaitu yang dinukil orang Mukmin yang jujur dan shalih menetapkan bahwa semua shahabat Rasulullah saw. adalah orang-orang terbaik sepanjang sejarah manusia setelah para Nabi dan Rasul. Adapun berita-berita miring tentang para shahabat yang isinya menuduh mereka sebagai orang yang berjiwa sempit, itu hanyalah bualan yang disebarkan oleh para pendusta dan pemalsu hadits.

Sejarah kaum Muslimin perlu ditata ulang dengan mengambil setiap nukilan dari sumber-sumbernya yang otentik. Apalagi berkaitan dengan bagian-bagian yang banyak mengalami distorsi dan pencampur adukan. Penataan ulang ini bukanlah sesuatu yang berlebihan karena umat Islam adalah umat yang paling membutuhkan materi sejarah yang otentik dan dinukil dengan sanad shahih.

Sebelum potongan-potongan sejarah Islam lenyap, sejarawan Islam dari kalangan salafush shlih telah mencatat semuanya. Mereka mengumpulkan semua nukilan yang diperoleh, yang layak maupun yang tidak, seraya menerangkan sumber dan nama-nama perawinya. Upaya ini dilakukan supaya pembaca kitab mereka mengetahui mana riwayat yang shahih dan mana riwayat yang dhaif.

Sekarang tiba saatnya kita sebagai generasi khalaf (orang-orang setelah generasi salaf) untuk mengambil bagian supaya dapat berjalan mengikuti langkah salafush shalih, memurnikan kitab-kitab tersebut, memisahkan riwayat yang dhaif dari yang shahih, dan peristiwa yang benar dari yang salah. Dengan demikian kita menjadi khalaf terbaik yang mewarisi para salaf terbaik. Upaya pelurusan sejarah seperti ini ditujukan agar semua orang tahu bahwa perjalanan hidup para sahabat Muhammad saw. itu sesuci, sebersih, dan semurni hati mereka.

Sekian lama kaum Muslimin terhalang dari salah satu sumber kekuatan yang paling besar, yaitu keyakinan terhadap keagungan sejarah mereka. padahal kaum Muslimin adalah penerus para salaf yang sejarah belum pernah menyaksikan perjalanan hidup sesuci, sebesar, secemerlang mereka. Maka itu, siapa saja yang ingin menulis buku tentang sejarah Islam harus berhati lurus (bersikap obyektif) terhadap para pelaku sejarah yang teguh dalam kebenaran dan kebaikan, serta mengetahui hak dan kedudukan mereka.

Selama itu, dia juga dituntut untuk jeli dalam membedakan setiap pewarta sejarah, mana yang riwayatnya shahih dan mana yang dlaif. Yang tidak kalah penting adalah, dia harus bersikap amanah, jujur, dan selalu komitmen dalam mencari kebenaran.

&

Cara Sejarawan Mendistorsi Sejarah

25 Mei

Fakta Sejarah Islam;
Dr. Utsman bin Muhammad al-Khamis; Pustaka Imam Syafi’i

1. Membuat-buat cerita dan berbohong.
Para sejarawan mengarang kisah yang sebenarnya tidak pernah terjadi. Contohnya, mereka menceritakan perihal ‘Aisyah yang bersujud syukur kepada Allah ketika menerima kabar tentang terbunuhnya ‘Ali bin Abu Thalib. Penuturuan peristiwa ini bohong belaka.

2. Menambah atau mengurangi suatu kisah.
Yang berbeda dalam hal ini adalah kisah yang disampaikan shahih, seperti peristiwa Saqifah. Cerita tentang Saqifah in memang benar: bahwasannya terjadi pertemuan antara Abu Bakar, ‘Umar, dan Abu ‘Ubaidah dari kalangan Muhajirin di satu sisi; dan al-Hubab bin al-Mundzir, Sa’ad bin ‘Ubaidah, serta shahabat dari kalangan Anshar lainnya di sisi yang lain. Para sejarawan menambahkan atau mengurangi banyak hal dengan tujuan mendistorsi kejadian yang sebenarnya, sebagaimana akan dipaparkan di tulisan lain nanti, insya Allah.

3. Menginterpretasi suatu kejadian secara tidak benar.
Yakni para sejarawan serampangan dalam menginterpretasi suatu peristiwa yang terjadi secara tidak benar. Interpretasi ini disesuaikan dengan hawa nafsu, keyakinan sesat, dan bid’ah yang mereka anut.

4. Menampakkan kesalahan dan kekeliruan suatu riwayat.
Kisah yang diriwayatkan shahih, tetapi para sejarawan menampakkan dan memfokuskan pada kesalahan-kesalahan yang disebutkan di dalamnya. Sampai-sampai, semua kebaikannya tertutupi.

5. Membuat syair sebagai penguat peristiwa bersejarah.
Para sejarawan menggubah syair yang berisi celaan terhadap salah seorang shahabat dan menisbatkannya kepada Amirul Mukminin ‘Ali bin Abu Thalib, atau menisbatkannya kepada Ummul Mukminin ‘Aisyah atau menisbatkannya kepada az-Zubair bin al-Awwam, atau menisbatkannya kepada Thalhah bin ‘Ubaidullah. Cara yang sama mereka lakukan pada syair yang dinisbatkan kepada ‘Abdullah bin ‘Abbas berikut; di dalamnya dinyatakan bahwa dia berkata tentang ‘Aisyah ra:

Engkau menunggang baghal kemudian unta
Dan jika ingin, engkau bisa menunggang gajah

Maksudnya, ‘Aisyah menunggangi baghal lau unta untuk berperang dan menimbulkan fitnah, bahkan jika menghendakinya bisa saja dia menunggangi gajah.

6. Mengarang kitab serta risalah palsu.
Pembahasannya akan disampaikan –insya Allah- dalam uraian peristiwa terbunuhnya Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan. Ketika itu terjadi pemalsuan kitab-kitab (surat) atas nama ‘Utsman, ‘Aisyah, ‘Ali, Thalhah, dan az-Zubair. Ini di luar karangan-karangan palsu lainnya, seperti Nahjul Balaaghah yang dinisbatkan kepada ‘Ali bin Abu Thalib dan al-Imaamah was Siyaasah yang dinisbatkan kepada Ibnu Qutaibah.

7. Memanfaatkan kesamaan nama.
Sebagai contoh, perihal dua orang yang sama-sama bernama [mempunyai kun-yah] Ibnu Jarir: 1) Muhammad bin Jarir bin Yazid Abu Ja’far ath-Thabari, salah seorang Ahus Sunnah (Sunni); dan 2) Muhammad bin Jarir bin Rustum Abu Ja’far ath-Thabari, salah seorang imam Syi’ah. Para sejarawan menisbatkan kitab-kitab Ibnu Jarir yang beraliran Syi’ah kepada Ibnu Jarir yang berpaham Sunni, seperti Dalaa-ilul Imaamah al-Waadhihah wa Nuurul Mu’jizaat. Terlebih lagi, dua orang ini hidup pada tahun yang sama, yakni 310 H.

Nama [kun-yah] Ibnu Hajar juga dimiliki oleh dua orang: 1) Ahmad bin Hajar al-‘Asqalani, salah seorang imam dalam ilmu hadits; dan 2) Ahmad bin Hajar al-Haitami, salah seorang imam dalam ilmu fiqih tetapi tidak mempunyai keahlian dalam ilmu hadits. Maka tidak jarang mereka mengambil penshahihan Ibnu Hajar al-Haitami terhadap suatu riwayat, kemudian menisbatkannya kepada Ibnu Hajar al-‘Asqalani.

&

Bagaimana Kita Membaca Sejarah Islam?

25 Mei

Fakta Sejarah Islam;
Dr. Utsman bin Muhammad al-Khamis; Pustaka Imam Syafi’i

Kita harus membaca sejarah seperti halnya membaca hadits-hadis Rasulullah saw. Tatkala hendak membaca hadits-hadits beliau tentu saja kita mengklarifikasikan riwayatnya terlebih dahulu; apakah sanadnya shahih, ataukah tidak? Tidak mungkin riwayat dari Rasulullah saw. diketahui benar tidaknya tanpa melalui penelitian sanad dan matan. Karena nya para ulama mengumpulkan setiap redaksi hadits yang diriwayatkan oleh perawi, memilah-milahnya, menilainya, dan memisahkannya yang shahih dari yang dlaif. Dengan metode ini, hadits-hadits yang dinisbatkkan kepada Rasulullah saw. bisa dibersihkan dari cela, kebohongan, dan hal buruk semisal yang disisipkan kepadanya.

Akan tetapi, riwayat-riwayat terkait sejarah amat berbeda. Terkadang, kita menemukan riwayat-riwayat yang tidak bersanad. Terkadang pula, kita menemukan sanadnya tetapi biografi para perawi itu tidak ditemukan. Sering juga kita tidak menemukan jarh (kritik) ataupun ta’dil (sanjungan) ulama terhadap perawinya terkait kredibilitas periwayatannya. Alhasil kita kesulitan untuk menghukumi riwayat tentang sejarah itu dikarenakan tidak mengetahui keadaan sebagian dari perawinya. Dengan kata lain, meneliti tentang keotentikan sejarah lebih sulit daripada keotentukan hadits. Oleh sebab itu kita tidak boleh menyepelekannya. Justru kita harus mengklarifikasi dan mengetahui cara pengambilan riwayat sejarah yang shahih.

Mungkin ada yang berpendapat, dengan standar penilaian demikian berarti banyak sejarah kita yang akan hilang. Pendapat tersebut dapat kita bantah. Sejarah kita tidak akan hilang sebanyak sangkaan anda. Karena banyak riwayat sejarah yang dibutuhkan –khususnya dalam pembahasan ini- disebutkan beserta sanadnya. Baik sanad itu disebutkan dalam kitab sejarah, seperti Taarikh ath-Thabari; dalam kitab-kitab hadits, seperti Shahiihul Bukhari, Musnad Ahmad, dan Jaami’ut Tirmidzi; dalam kitab-kitab Mushannaf, yang menyebutkan riwayat sejarah disertai sanadnya, seperti Tafsiir Ibni Jariir dan Tafsir Ibni Katsiir; maupun dalam kitab-kitab yang secara khusus berbicara tentang peristiwa-peristiwa sejarah tertentu, seperti Huruubur Riddah karya al-Kula’i atau kitab singkat berjudul Taariikh Khaliifah Ibnu Khayyath.

Intinya, kita tidak boleh menyerah untuk menemukan sanad dari riwayat-riwayat sejarah yang beredar saat ini. Kalaupun kita tidak menemukan sanadnya, kita tetap mempunyai pedoman umum, khususnya berkaitan dengan para shahat; yaitu pujian Allah swt. dan sanjungan Rasul-Nya kepada mereka. dan itu menunjukkan bahwa pada hakekatnya mereka adalah orang-orang yang shalih sebagaimana dijelaskan dalam tulisan ini. Maka setiap riwayat yang mengandung celaan kepada para shahabat Rasulullah saw. harus dilihat sanadnya terlebih dahulu. Jika memang shahih, maka kita melihat penafsiran dan keterangannya. Namun jika sanadnya dlaif, atau tidak memiliki sanad, maka kita berpengang pada kaidah awal yaitu semua shahabat adalah shalih.

Jadi, ketika membaca sejarah, kita harus bersikap teliti, sebagaimana tatkala membaca hadits. Apalagi jika bacaan tersebut terkait dengan sejarah pokok umat Islam, yaitu sejarah para shahabat Rasulullah saw.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan: “Seseorang harus mempunyai pegangan atau pedoman umum sebagai sumber penyandaran hal-hal yang bersifat parsial dan lebih rinci, agar dia bisa berbicara berdasarkan ilmu dan obyektif, di samping akan mengetahui bagaimana hal-hal itu sampai terjadi. Jika tidak demikian, maka dia akan mudah terhasut oleh kedustaan dan kebodohan mengenai masalah-masalah parsial tersebut, dan tetap bodoh terhadap pedoman umumnya. Dan bisa dipastikan hal itu akan melahirkan kesimpulan (pemahaman) yang sangat kacau.” (Majmuu’ul Fataawaa [xix/203])

Ironisnya, dewasa ini orang-orang justru gemar membaca tulisan modern mengenai sejarah yang hanya memperhatikan keindahan cerita atau melogiskan situasi dan kondisi, atau keduanya sekaligus, tanpa memperhatikan shahih tidaknya riwayat-riwayat yang dinukil, seperti buku-buku karya ‘Abbas al-‘Aqqad, Khalid Muhammad Khalid, Thaha Husain, George Zaidan seorang Nashrani, atau buah tangan tokoh-tokoh masa kini lainnya.

Mereka para penulis yang disebutkan tadi hanya memperhatikan keterkaitan alur, keunikan kisah, dan keindahan penyusunan ketika berbiara tentang sejarah. Mereka tidak memperhatikan apakah kisah-kisah itu dinukilkan secara shahih atau tidak. Sebagian mereka bahkan sengaja ingin mendistorsi kisah tersebut. Bagi mereka, yang terpenting adalah menyajikan kisah yang enak dibaca oleh anda.

Berikut beberapa kitab sejarah yang harus diwaspadai:

1. Al-Ghaanii karya Abul Faraj al-Ashbahani. Kitab ini berisi obrolan, syair, dan nyanyian yang dicampuri berita-berita yang tidak benar.
2. Al-‘Iqdul Fariid karya Ibnu ‘Abdi Rabbih. Kitab sastra ini banyak memuat nukilan-nukilan palsu.
3. Al-Imaamah was Siyaasah yang dinisbatkan kepada Ibnu Qutaibah, tetapi penisbatan ini adalah dusta belaka.
4. Muruujudz Dzahab atau Taariikh al-Mas’udi karya al-Mas’udi. Kisah-kisah yang dituturkan dalam kitab ini tidak bersanad. Ibnu Taimiyah bahkan mengomentarinya: “Dalam Taariikh al-Mas’udi terdapat banyak kebohongan, saking banyaknya sampai-sampai tidak ada yang mengetahui jumlahnya kecuali Allah swt. Bagaimana mungkin riwayat dengan sanad terputus dalam sebuah kitab yang terkenal banyak dustanya itu bisa dipercaya.” (minhaajus Sunnah an-Nabawiyyah [iv/84]) Al-Hafidz Ibnu Hajar al-‘Asqalani juga berkomentar: “Kitab-kitabnya menunjukkan bahwa dia (al-Mas’udi) berpaham Syi’ah dan Mu’tazilah.” (Lisaanul Miizaan [v/532] terbitan Maktab al-Mathbuu’aat al-Islaamiyyah)
5. Syarh Nahjil Balaaghah karya ‘Abdul Hamid bin Abul Hadid, seorang Mu’tazilah yang dinilai dlaif oleh para ulama al-Jarh wat Ta’dil. Orang yang mengetahui alasan penyusunan kitab ini pasti akan meragukan diri dan karya penulisnya. Kitab ini disusun demi al-Wazir bin al-‘Alqami, seseorang yang menjadi penyebab utama terbunuhnya jutaan Muslim Baghdad di tangan bangsa Tartar. Al-Khawanisari menegaskan: “Dia (Ibnu Abul Hadid) menyusunnya untuk memenuhi lemari (perpustakaan pribadi) al-Wazir Muayyidduddin Muhammad bin al-‘Alqami.” (Raudhaatul Jannaat karya al-Khawanisari [v/20,21]). Bahkan, banyak ulama Syi’ah yang mencela penulis dan karyanya ini. Al-Mirza Habibullah al-Khu-i mengomentari sosok Ibnu Abul Hamid: “Orang ini tidak termasuk ahli dirayah (ahli fiqih) maupun atsar (ahli hadits). Pendapatnya kacau dan pandangannya bobrok. Keberadaannya justru memperkeruh kegaduhan; dia telah menyesatkan banyak orang, dan dia sendiri tersesat dari jalan yang lurus.” Adapun mengenai karyanya, al-Mirza berkomentar: “Tulisannya seperti jasad tanpa roh. Bahasanya berputar-putar pada kulit dan tidak menyentuh isi, sehingga tidak banyak berfaedah. Kitab ini juga mengandung takwil-takwil yang jauh (dari kebenaran); tabiat orang lari menghindarinya, pendengarannya pun mengingkarinya.”
6. Taariikh al-Ya’qubi. Kitab ini dipenuhi riwayat-riwayat mursal, tidak ada sanadnya yang bersambung secara utuh. Penulisnya sendiri adalah seorang yang tertuduh sebagai pembohong.

&

Awal Mula Penelitian Hadits

25 Mei

Fakta Sejarah Islam;
Dr. Utsman bin Muhammad al-Khamis; Pustaka Imam Syafi’i

Penelitian terhadap hadits dimulai ketika terjadi huru-hara di tengah umat Islam. Keterangan ini sebagaimana pernyataan Imam Muhammad bin Sirin, seorang Tabi’in mulia, ia berkata: “Dahulu orang-orang tidak pernah bertanya tentang sanad [periwayatan hadits]. Tetapi setelah terjadi fitnah [huru-hara], mereka berkata kritis, ‘Sebutkan kepada kami siapa saja perawi anda.’ Jika ternyata perawi riwayat tersebut dari golongan Ahlus Sunnah, maka haditsnya diterima; sedangkan jika ternyata perawi riwayat tersebut dari kalangan ahli bid’ah, maka haditsnya ditolak.” (Muqaddimah Shahih Muslim [I/15], bab “Bayaan annal Isnaad minad Diin.”)

Tidak bertanyanya orang-orang mengenai sanad terjadi karena ketika itu manusia begitu bisa dipercaya. Ibnu Sirin termasuk pembesar Tabi’in dan melihat langsung kehidupan para shahabat, bahkan dia hidup bersama para Tabi’in generasi awal dan generasi akhir. Fitnah yang dimaksud di sini adalah pemberontakan yang dilakukan golongan-golongan sesat pada akhir-akhir pemerintahan ‘Utsman ra.

&

Ibnu ‘Abbas

14 Mei

‘Ulumul Qur’an; Riwayat Hidup Mufasir; Mannaa’ Khalil al-Qattaan

Ia adalah Abdullah bin ‘Abbas bin Abdul Muttalib bin Hasyim bin Abdi Manaf al-Quraisy al-Hasyimi, putra paman Rasulullah saw. Ibunya bernama Ummul Fadl Lubanah al-Haris al-Hilaliyah. Ia dilahirkan ketika bani Hasyim berada di Syi’b, tiga atau lima tahun sebelum hijrah; namun pendapat pertama lebih kuat.

Abdullah bin ‘Abbas menunaikan ibadah haji pada tahun ‘Utsman terbunuh, atas perintah ‘Utsman. Ketika terjadi perang Siffin ia berada di al-Maisarah, kemudian diangkat menjadi gubernur Basrah dan kemudian menetap disana sampi Ali terbunuh. Kemudian ia mengangkat Abdullah bin al-Haris, sebagai penggantinya, menjadi gubernur Basrah sedang ia sendiri pulang ke Hijaz. Ia wafat di Taif pada 65 H. Pendapat lain mengatakan pada 67 atau 68 H. Namun pendapat yang terakhir inilah yang dipandang shahih oleh jumhur ulama. Al-Waqidi menerangkan, tidak ada selisih pendapat di antara para imam bahwa Ibnu Abbas dilahirkan di Syi’b ketika kaum Quraisy diboikot Bani Hasyim, dan ketika Nabi wafat ia baru berusia tiga belas tahun.

Kedudukan dan Keilmuannya;
Ibnu Abbas dikenal dengan julukan Turjumaanul Qur’an (juru tafsir al-Qur’an), Habrul Ummah (tokoh ulama umat) dan Ra’isul Mufassirin (pemimpin para mufasir). Baihaqi dalam ad-Dalaa’il meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud yang mengatakan: “Juru tafsir al-Qur’an paling baik adalah Ibnu ‘Abbas.” Abu Nu’aim meriwayatkan keterangan dari Mujahid, “Adalah Ibnu ‘Abbas dijuluki orang dengan al-Bahr (lautan) karena banyak dan luas ilmunya.” Ibnu Sa’d meriwayatkan pula dengan sanad shahih dari Yahya bin Sa’id al-Anshari: Ketika Zaid bin Tsabit wafat, Abu Hurairah berkata: “Orang paling pandai umat ini telah wafat, dan semoga Allah menjadika Ibnu Abbas sebagai penggantinya.”

Dalam usia muda, Ibnu Abbas telah memperoleh kedudukan istimewa di kalangan para pembesar shahabat mengingat ilmu dan ketajaman pemahamannya, sebagai realisasi doa Rasulullah saw. kepadanya. Dalam sebuah hadits berasal dari Ibnu Abbas dijelaskan: “Nabi pernah merangkul dan mendoakannya: “Ya Allah, ajarkanlah kepadanya hikmah.”
Dalam Mu’jam al-Baghawi dan lainnya, dari Umar, Bahwa Umar mendekati Ibnu Abbas dan berkata: “Sungguh saya pernah melihat Rasulullah mendoakanmu, lalu membelai kepalamu, meludahi mulutmu dan berdoa: ‘Ya Allah, berilah ia pemahaman dalam urusan agama dan ajarkanlah kepadanya ta’wil.’”

Bukhari, melalui sanad Sa’id bin Jubair, meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia menceritakan: “Umar mengikutsertakan saya ke dalam kelompok tokoh-tokoh tua perang Badar. Nampaknya sebagian mereka merasa tidak senang lalu berkata: “Kenapa anak ini diikutsertakan ke dalam kelompok kami padahal kamipun mempunyai anak-anak yang sepadan dengannya?” Umar menjawab: “Ia memang seperti yang kamu ketahui.”
Pada suatu hari Umar memanggil mereka dan memasukkan saya bergabung dengan mereka. Saya yakin, Umar memanggilku agar bergabung itu semata-mata hanya untuk “memperlihatkan” saya kepada mereka. Ia berkata: “Bagaimana pendapat tuan-tuan mengenai firman Allah: Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan (an-Nashr: 1)?” Sebagian mereka menjawab: “Kita diperintahkan untuk memuji Allah dan memohon ampunan kepada-Nya ketika Ia memberikan pertolongan dan kemenangan kepada kita.” Sedangkan yang lain bungkam, tidak berkata apa-apa. Lalu ia bertanya kepadaku: “Begitukah pendapatmu hai Ibnu Abbas?” “Tidak,” jawabku. “Lalu bagaimana menurutmu?” tanyanya lebih lanjut. “Ayat itu,” jawabku, “adalah pertanda ajal Rasulullah saw. yang diberitahukan Allah kepadanya. Ia berfirman, apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan itu adalah pertanda ajalmu (Muhammad), maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohon ampunlah kepada-Nya. Sesungguhnya Ia Maha Penerima taubat.” Umar berkata: “Aku tidak mengetahui maksud ayat itu kecuali apa yang kamu katakan.”

Tafsirnya;
Riwayat dari Ibnu Abbas mengenai tafsir tidak terhitung banyaknya, dan apa yang dinukil darinya itu telah terhimpun dalam sebuah kitab ringkas yang campur aduk yang diberi nama “Tafsir Ibnu Abbas”. Di dalamnya terdapat bermacam-macam riwayat dan sanad yang berbeda-beda, tetapi sanad paling baik adalah yang melalui Ali bin Abi Thalhah al-Hasyimi, dari Ibnu Abbas; sanad ini dipedomani oleh Bukhari dalam kitab shahihnya. Sedangkan sanad yang cukup baik, jayyid, ialah yang melalui Qais bin Muslim al-Kufi, dari ‘Atha’ bin as-Sa’ib.

Di dalam kitab-kitab tafsir besar yang mereka sandarkan kepada Ibnu Abbas terdapat kerancuan sanad. Sanad paling rancu dan lemah adalah sanad melalui al-Kalbi dari Abu Salih. Al-Kalbi adalah Abun Nasr Muhammad bin as-Sa’ib (w.146 H). Dan jika dengan sanad ini digabungkan riwayat Muhammad bin Marwan as-Sadi as-Saghir, maka hal ini akan merupakan silsilah kadzib, mata rantai kedustaan. Demikian juga sanad Muqatil bin Sulaiman bin Bisyr al-Azdi. Hanya saja al-Kalbi lebih baik daripadanya karena pada diri Muqatil terdapat berbagai madzab atau paham yang rendah.

Sementara itu sanad adl-Dlahhak bin Muzahim al-Kufi, dari Ibnu Abbas adalah Munqati’, terputus, karena adl-Dlahhak tidak bertemu langsung dengan Ibnu Abbas. Apabila digabungkan kepadanya riwayat Bisyr bin ‘Imarah maka riwayat ini tetap lemah karena Bisyr adalah lemah. Dan jika sanad itu melalui riwayat Juwaibir, dari adl-Dlahhak, maka riwayat tersebut sangat lemah karena Juwaibir sangat lemah dan ditinggalkan riwayatnya.

Sanad melalui al-‘Aufi, dan seterusnya dari Ibnu Abbas, banyak dipergunakan oleh Ibn Jarir dan Ibn Abi Hatim, padahal al-‘Aufi itu seorang yang lemah meskipun lemahnya tidak keterlaluan dan bahkan terkadang dinilai hasan oleh Tirmidzi.

Dengan penjelasan tersebut dapatlah kiranya pembaca menyelidiki jalan periwayatan tafsir Ibn Abbas dan mengetahui mana jalan yang cukup baik dan diterima, serta mana pula jalan yang lemah atau ditinggalkan, sebab tidak setiap yang diriwayatkan dari Ibn Abbas itu shahih dan pasti.
Sekian.