Arsip | Riyadhush Shalihin RSS feed for this section

Hak Istri atas Suami

23 Jul

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; hadits-hadits

Allah berfirman: “Dan pergaulilah wanita itu dengan cara yang baik.” (an-Nisaa’: 19)

Allah berfirman: “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat Berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. dan jika kamu Mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (an-Nisaa’: 129)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Berpesan baiklah kamu terhadap wanita, sesungguhnya wanita itu diciptakan dari tulang rusuk. Dan paling bengkok adalah bagian atas. Oleh karena itu, apabila kamu paksa untuk meluruskannya, maka akan hancurlah ia, dan apabila kamu membiarkannya, maka akan bengkoklah ia selama-lamanya. Oleh karena itu perpesan baiklah terhadap wanita.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dalam satu riwayat dalam kitab ash-Shahihain dikatakan: Rasulullah bersabda: “Orang perempuan itu seperti tulang rusuk, apabila kamu paksa untuk meluruskannya, berarti telah menghancurkannya. Tetapi apabila hanya bersenang-senang dengannya kamu akan merasakan kepuasan dan ia masih tetap bengkok.”

Dalam hadits riwayat Muslim dikatakan, Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk, tidak ada jalan bagimu untuk meluruskannya. Jika ingin bersenang-senang dengannya saja kamu akan merasa puas, tetapi ia masih tetap bengkok. Jika kamu paksa untuk diluruskan, berarti kamu menghancurkannya. Dan hancurnya berarti perceraian. Jadi, menghadapi wanita harus tetap bijaksana, agar tetap menjadi baik.”

Dari Abdullah bin Zam’ah ra. ia mendengar Nabi saw. berkhutbah dan bercerita tentang unta sebagai mu’jizat nabi Shaleh dan orang yang membunuhnya. Rasulullah saw. bersabda: “Ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka, yaitu seorang laki-laki yang amat kuat dan gagah perkasa serta disegani kaumnya. Setelah selesai, beliau melanjutkan khutbahnya tentang wanita, dan memberi nasehat tentang bergaul dengan wanita. Beliau bersabda: “Salah seorang di antara kalian ada yang sengaja memarahi istrinya bahkan memukul bagaikan budaknya, lalu pada malam harinya mungkin ia bersetubuh dengannya.” Selanjutnya beliau menasehati para shahabat karena mereka tertawa ada yang kentut, beliau bertanya: “Mengapa salah seorang di antara kamu menertawakan sesuatu yang dia sendiri juga melakukannya?” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah seorang laki-laki mukmin memarahi seorang perempuan mukmin. Apabila tidak suka terhadap salah satu perangainya, maka masih ada perangai lain yang menyenangkan.” (HR Muslim)

Dari ‘Amr bin al-Ahwash al-Jusyamiy ra. ia mendengar Nabi saw. pada haji Wada’ berkhutbah. Setelah beliau memanjatkan pujian, sanjungan kepada Allah Ta’ala dan selesai memberi peringatan dan nasehat, beliau bersabda: “Ingatlah, berpesan baiklah terhadap istri-istri kalian. Sesungguhnya mereka memerlukan perlindunganmu. Sedikitpun kamu tidak boleh berbuat kejam terhadap mereka, kecuali mereka telah nyata melakukan kejahatan. Jika mereka melakukan kejahatan, janganlah kamu menemani mereka di dalam tidur dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak melukai. Bila mereka telah taat, janganlah kalian berlaku keras terhadap mereka. Ingatlah, sesungguhnya kalian mempunyai hak atas istrimu, dan istrimu juga mempunyai hak pada diri kalian. Hak kamu atas mereka, yaitu tidak boleh memasukkan orang yang tidak kamu sukai ke dalam kamarmu dan tidak mengizinkan orang yang tidak kamu sikai masuk ke dalam rumahmu. Ingatlah, hak mereka atas kamu adalah kamu bergaul dengan cara yang baik, terutama dalam memberi pakaian dan makanan.” (HR Tirmidzi)

Dari Mu’awiyah bin Haidah ra. ia berkata: Saya bertanya kepada Rasulullah: “Apakah hak istri terhadap suaminya?” Beliau menjawab: “Kamu harus memberinya makan apabila kamu makan, harus memberinya pakaian apabila kamu berpakaian, tidak boleh memukul mukanya dan tidak boleh menjelek-jelekkannya, serta tidak boleh mendiamkannya kecuali di dalam rumah.” (HR Abu Daud)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik budi pekertinya. Dan orang yang paling baik di antara kalian adalah orang yang paling baik terhadap istrinya.” (HR Tirmidzi)

Dari Iyas bin Abdullah bin Abu Dzubab ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah kammu memukul kaum wanita.” Kemudian Umar mendatangi Rasulullah saw. dan berkata: “Wanita-wanita kini berani kepada suaminya.” Mendengar yang demikian beliau membolehkan untuk memukulnya. Kemudian banyak wanita yang mengerumuni Rasulullah saw. mengadukan perlakuan suaminya. Lalu Rasulullah saw. bersabda: “Sungguh banyak wanita yang mengerumuni rumah Muhammad untuk mengadukan perlakuan suaminya, maka mereka (suaminya) itu bukanlah orang-orang yang terbaik di antara kalian.” (HR Abu Dawud)

Dari Abdullah bin ‘Amr al-Ash ra, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Dunia adalah suatu kesenangan, dan sebaik-baik kesenangan di dunia adalah wanita yang shalih.” (HR Muslim)

Iklan

Doa Menyatukan Hati (Doa Rhabithah)

16 Jul

Doa Menyatukan Hati (Doa Rhabithah)
Doa Menyatukan Hati (Doa Rhabithah)

doa menyatukan hati - doa rabithah

 

&

Riyadhush Shalihin

18 Okt

Riyadhus Shalihin; Imam Nawawi
Tuntunan Akhlak Muslim

1. Ikhlash dan Niat dalam Segala Perilaku Kehidupan
2. Kisah Tobat Kaab bin Malik  1 2
3. Sabar 1 2 3 4
4. Jujur
5. Muraqabah (Menjaga Diri)
6. Takwa
7. Yakin dan Tawakal 1 2
8. Istiqamah (Teguh Pendirian)
9. Memperhatikan Kekuasaan Allah dan Mengendalikan diri
10. Anjuran Berbuat Baik
11. Bersungguh-Sungguh dalam Beribadah 1 2
12. Memperbanyak Amal Kebajikan, Terutama ketika Lanjut Usia
13. Banyaknya Jalan Kebajikan 1 2
14. Hemat dalam Beribadah1 2
15. Menjaga Sunnah-Sunnah Nabi saw. 1 2
16. Wajib Melaksanakan Hukum-Hukum Allah
17. Bid’ah
18. Perintis dalam Melakukan Amal Kebaikan/Keburukan
19. Ajakan kepada yang Benar
20. Tolong Menolong dalam Kebaikan dan Takwa
21. Nasihat
22. Amar Ma’ruf Nahi Munkar 1 2
23. Ancaman Bagi Orang yang tidak Konsekuen
24. Perintah Menunaikan Amanah
25. Larangan Berbuat Aniaya 1 2
26. Menjunjung Kehormatan Umat Islam
27. Menutup Aib
28. Memenuhi Kepentingan Orang Islam
29. Syafaat
30. Mendamaikan Orang yang Bersengketa
31. Orang Islam yang Lemah dan Fakir
32. Menyantuni Anak Yatim, Perempuan, Orang Lemah dan Miskin
33. Sikap Terhadap Wanita
34. Hak Suami atas Istri
35. Memberi Nafkah Terhadap Keluarga
36. Shodaqah
37. Wajib Mendidik Keluarga agar Taat Kepada Allah Ta’ala
38. Adab Bertetangga
39. Berbuat Baik Terhadap Orang Tua dan Bersilaturahim 1 2
40. Haram Durhaka kepada Orang Tua dan Memutuskan Silaturahim
41. Persaudaraan 1 2 3
42. Keutamaan Berbuat Baik Kepada Orang yang Pantas Dihormati
43. Memuliakan Keluarga Rasulullah saw.
44. Menghormati Ulama, Orang-orang Terpandang dan Orang Berjasa
45. Berteman dengan Orang-Orang Shalih 1 2
46. Mencintai Allah
47. Tanda-Tanda Kecintaan Allah Kepada Hamba-Nya
48. Ancaman Allah bagi yang melanggar larangan-Nya dan Rasul-Nya
49. Melaksanakan Hukuman dan Menyerahkan Urusan Mereka kepada Allah
50. Takut Kepada Allah 1 2
51. Berharap Kepada Allah
52. Keutamaan Berharap Kepada Allah
53. Takut dan Harapan Kepada Allah 2
54. Menangis Karena Takut dan Rindu Kepada Allah swt. 2 3
55. Zuhud 1 2 3
56. Hidup Sederhana 1 2 3 4
57. Hidup Tenang dan Menjaga Kehormatan
58. Tidak Mengharap Pemberian
59. Anjuran Berusaha
60. Murah Hati dan Berinfak 2
61. Larangan Kikir
62. Memberi Bantuan
63. Memperbanyak Amal Baik
64. Keutamaan Orang Kaya Yang Bersyukur
65. Mengingat Mati
66. Sunah Ziarah Kubur Bagi Laki-laki
67. Larangan Mengharap Mati Karena Tertimpa Penderitaan
68. Menjaga Diri dari Syubhat
69. Sunnah Menyendiri
70. Bergaul Baik dengan Manusia
71. Merendahkan diri
72. Haramnya Takabur dan Sombong
73. Berbudi Pekerti yang Luhur
74. Santun dan Sabar
75. Memberi Maaf dan Berpaling dari Orang Yang Bodoh
76. Menanggung Derita
77. Marah karena Larangan Allah Dilanggar
78. Kepemimpinan
79. Penguasa Yang Adil
80. Wajib Mentaati Perintah Penguasa,
81. Larangan Minta Jabatan
82. Mengangkat Bawahan Yang Shalih
83. Larangan Mengangkat Seorang Pejabat Karena Memintanya
84. Keutamaan Malu
85. Menyimpan Rahasia
86. Menepati Janji
87. Menjaga Kebiasaan Amal Baik
88. Sunnah Berkata Baik dan Berwajah Ceria
89. Sunnah Memperjelas Perkataan
90. Mendengar Nasehat Orang Alim
91. Memberi Nasehat Bila Perlu
92. Hidup Tenang
93. Berangkat Shalat, Pengajian dan Ibadah Lain dengan Tenang
94. Memuliakan Tamu
95. Sunnah Ikut Gembira
96. Berpesan dan Mendoakan Ketika Hendak Berpisah
97. Istikharah dan Musyawarah
98. Melewati Jalan Yang Berbeda Ketika Berangkat dan Pulang Beribadah
99. Sunnah Mendahulukan Yang Kanan
100. Membaca Basmalah dan Hamdalah
101. Dilarang Mencela Makanan
102. Adab Istri pada suami
103. Sikap Orang Yang Diundang Jamuan
104. Adab Makan
105. Larangan Makan Kurma Dua Butir Sekaligus
106. Tuntunan Bagi Orang Yang Makannya Tidak Kenyang
107. Mengambil Makan Dari Pinggir Piring atau Bejana
108. Makruh Makan dengan Bersandar
109. Sunnah Ketika Makan
110. Memperbanyak Kawan di Saat Makan
111. Adab Minum
112. Makruh Minum dari Mulut Qirbah (Poci)
113. Makruh Meniup Makanan
114. Boleh Minum dengan Berdiri, Lebih Utama Duduk
115. Sunnah Minum Terakhir yang Melayani Minum Orang Banyak
116. Hukum Makan, Minum, dan Bersuci Menggunakan Bejana Emas atau Perak
117. Pakaian
118. Sunah Memakai Kemeja Panjang

                                                                                      

Riyadhush Shalihin (2)
1. Haram Menurunkan Pakaian Karena Sombong
2. Adab Berpakaian
3. Larangan Duduk di Atas Kulit Binatang Buas
4. Adab Berpakaian
5. Adab Tidur
6. Adab Duduk
7. Keutamaan Salam dan Perintah untuk Menyebarluaskannya 1 2
8. Adab Minta Izin
9. Sunnah Menyebut Nama Jika Ditanya
10. Mendoakan Orang Bersin
11. Berjabat Tangan
12. Mengurus Jenazah  1 2
13. Doa untuk Orang Sakit
14. Adab Terhadap Orang Sakit
15. Boleh Mengeluh Sakit
16. Boleh Menangisi Mayat
17. Keutamaan Orang yang Kematian Anak Kecil
18. Menangis Jika Melewati Kubur Orang-orang yang dhalim
19. Adab bepergian 2
20. Adab Bepergian
21. Membantu Kawan
22. Sunnah Membaca Takbir dan Tasbih Saat Bepergian
23. Berdoa dalam Bepergian
24. Doa Menghilangkan Rasa Takut
25. Doa ketika Berhenti Pada Suatu Tempat
26. Sunnah Kembali Bila Urusan Selesai
27. Sunnah Datang Kepada Keluarga di Waktu Siang
28. Adab Pulang Bepergin
29. Haram Perempuan Pergi Sendirian
30. Keutamaan Membaca al-Qur’an
31. Perintah Menjaga dan Mempelajari Al-Qur’an
32. Anjuran Membaca Surah dan Ayat-ayat Tertentu
33. Keutamaan Wudlu
34. Keutamaan Adzan
35. Keutamaan Shalat
36. Keutamaan Shalat Shubuh dan ‘asyar
37. Keutamaan Pergi Ke Masjid
38. Keutamaan Menanti Shalat
39. Keutamaan Shalat Berjamaah
40. Anjuran Berjamaah Shalat Subuh dan Isya’
41. Perintah Menjaga Shalat Fardlu
42. Keutamaan Shaf Pertama
43. Keutamaan Shalat Sunnah Rawatib
44. Anjuran Shalat Sunnah sebelum Subuh
45. Sunnah Membaca Ayat dan Surah Pendek
46. Sunnah Berbaring Pada Pinggang Sebelah Kanan Sesudah Shalat Sunnah Fajar
47. Shalat sunnah di Rumah
48. Shalat Witir
49. Shalat Dluha
50. Shalat Tahiyatul Masjid
51. Shalat Sunnah Sesudah Wudlu
52. Keutamaan Hari Jum’at
53. Sujud Syukur
54. Keutamaan Shalat Malam
55. Keutamaan Shalat Tarawih
56. Lailatul Qadar
57. Keutamaan Siwak
58. Zakat dan Keutamaannya
59. Puasa Bulan Ramadlan
60. Memperbanyak Amal pada Sepuluh Malam Terakhir Ramadlan
61. Larangan Mendahulukan Ramadlan dengan Berpuasa Sesudah Pertengahan Sya’ban
62. Doa Ketika Melihat Hilal
63. Keutamaan Sahur
64. Menyegerakan Buka Puasa
65. Adab Berpuasa
66. Keutamaan Puasa Muharram dan Sya’ban
67. Keutamaan Puasa Sunnah 1 2 3 4 5
68. Keutamaan Memberi Buka (Makan) Orang Berpuasa
69. I’tikaf
70. Haji
71. Macam-macam Mati Syahid
72. Keutamaan Memerdekakan Budak
73. Keutamaan Berbuat Baik Kepada Budaknya
74. Keutamaan Bermurah Hati dalam Berjual Beli dan Utang
75. Ilmu Pengetahuan
76. Memuji dan Bersyukur Kepada Allah
77. Membaca Shalawat untuk Rasulullah saw.
78. Berdzikir Kepada Allah 1 2 3
79. Doa Akan Tidur dan Bangun Tidur
80. Keutamaan Majelis Dzikir
81. Doa-doa
82. Keutamaan Mendoakan Orang Lain
83. Adab Berdoa
84. Kemuliaan dan Keutamaan Wali Allah
85. Memelihara Lidah
86. Haram Mendengar Gunjingan
87. Ghibah yang Diperbolehkan
88. Haram Mengadu Domba
89. Larangan Menyampaikan Pembicaraan Kepada Pemerintah
90. Keburukan Orang Bermuka Dua
91. Haram Berdusta
92. Dusta Yang Diperbolehkan
93. Haram bersumpah/ Menjadi Saksi Palsu
94. Haram Mengutuk Orang atau Binatang
95. Boleh Mengutuk Orang Yang Suka Melakukan Maksiat
96. Haram Mengumpat Orang Islam
97. Doa, pujian dan sedekah untuk Orang yang Sudah Meninggal
98. Larangan Menganggu
99. Larangan Membenci dan Memutus Tali Persaudaraan

 

&

Memelihara Lidah

13 Jul

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; al-Qur’an – Hadits

Firman Allah: “Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (al-Hujurat: 12)

Firman Allah: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya akan diminta pertanggungjawabannya.” (al-Israa’: 36)

Firman Allah: “Tiada suatu ucapan pun yang diucapkan melainkan adanya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Qaaf: 18)

Setiap orang Mukallaf harus menjaga lidahnya dari semua ucapan, kecuali yang baik. Jika sekiranya sama baiknya antara diam dan bicara, maka lebih baik diam, karena bicara yang baik bisa jadi melantur kepada bicara yang tidak baik.

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia selalu berkata baik atau hendaklah ia diam.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Musa ra. ia berkata: Saya bertanya: “Wahai Rasulallah, siapakah di antara orang-orang Muslim yang paling utama?” Rasulullah menjawab: “Yaitu orang-orang Islam yang selamat dari gangguan lidah dan tangannya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Sahl bin Sa’ad ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa berani memberi jaminan kepadaku atas selamatnya apa yang ada di antar dua tulang mulutnya dan apa yang ada di antara kedua pahanya, maka aku berani memberi jaminan surga kepadanya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya ia mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Ada hamba yang mengucap satu kalimat tanpa ia pikir tentang (baik buruknya) kalimat itu yang menyebabkan ia tergelincir ke dalam neraka, yang lebih jauh daripada timur dan barat.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Ada seorang hamba yang berbicara dengan satu kalimat yang membuat ridla Allah Ta’ala, yang tanpa ia sadari Allah mengangkat derajatnya karena kalimat itu. Dan tentu ada seorang hamba yang berkata dengan satu kalimat yang membuat murka Allah, yang tanpa ia sadari Allah menjebloskannya ke dalam neraka karena kalimat itu.” (HR Bukhari)

Dari Abu Abdurrahman Bilal bin al-Harits al-Muzanni ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya seseorang bisa karena mengucapkan satu kalimat yang diridlai Allah Ta’ala, yang tanpa ia sangka akan sampai sedemikian rupa, kemudian Allah mencatat dalam keridlaan-Nya karena kalimat itu, sampai hari ia bertemu dengan-Nya. Dan sesungguhnya seseorang tentu ada yang mengucapkan satu kalimat yang membuat murka Allah, yang tanpa ia sangka akan sampai sedemikian rupa, kemudian Allah mencatat dalam kemurkaan-Nya, karena kalimat itu sampai hari ia bertemu dengan-Nya. (HR Malik)

Dari Sufyan bin Abdullah ra. ia berkata: Saya berkata: “Wahai Rasulallah terangkanlah kepadaku sesuatu yang dapat saya gunakan sebagai pegangan.” Beliau bersabda: “Katakanlah: Tuhanku adalah Allah kemudian tetaplah dalam jalan yang benar.” Saya bertanya: “Wahai Rasulallah, apakah yang paling engkau khawatirkan terhadap diriku?” Beliau memegang lidahnya sambil bersabda: “ini.” (HR Turmudzi)

Dari Ibnu Umar ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah kalian banyak bicara selain untuk berdzikir kepada Allah Ta’ala. Maka sesungguhnya banyaknya bicara selain berdzikir kepada Allah akan membuat kerasnya hati, dan sesungguhnya manusia yang paling jauh dari Allah Ta’ala adalah orang yang berhati keras.” (HR Turmudzi)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa dijaga oleh Allah dari kejahatan apa yang ada di antara dua tulang dagunya dan kejahatan apa yang berada di antara dua pahanya, maka ia akan masuk surga.” (HR Turmudzi)

Dari Uqbah binn Amir ra. ia berkata: Saya bertanya: “Wahai Rasulallah, apakah yang dapat menyelamatkan?” Beliau menjawab: “Kekanglah lidahmu, tetaplah dalam rumahmu, dan menangislah karena dosamu.” (HR Turmudzi)

Dari Abu Sa’id al Khudriy ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Apabila datang waktu pagi maka semua anggota badan anak Adam (manusia) memperingatkan kepada lidahnya, dimana anggota-anggota badan itu berkata: Takutlah kepada Allah dalam memelihara keselamatan kami, karena nasib kami tergantung kamu, apabila kamu lurus maka kamipun lurus, dan apabila kamu menyeleweng maka kamipun menyeleweng.” (HR Turmudzi)

Dari Mu’adz ra. ia berkata: Saya berkata: “Wahai Rasulallah, beritahukanlah kepada saya tentang amal perbuatan yang dapat memasukkan ke surga dan menjauhkan dari neraka.” Beliau menjawab: “Sungguh kamu telah menanyakan sesuatu (perkara) yang benar, sedangkan itu adalah mudah bagi orang yang dimudahkan oleh Allah untuk melakukannya. Hendaklah kamu menyembah Allah dan jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, kamu mendirikan shalat, memberikan zakat, puasa pada bulan Ramadlan, dan menunaikan haji ke Baitullah.”
Kemudian beliau bersabda: “Maukah kamu aku tunjukkan pintu-pintu kebaikan? Puasa itu adalah perisai. Sedekah itu adalah menghapuskan kesalahan, sebagaimana air memadamkan api, dan shalat seseorang di tengah malam.”
Kemudian beliau membaca ayat: “Tatajaafaa junuubuHum ‘anil ma-dlaaji-‘i… (sampai) ya’maluun. (Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian rizky yang kami berikan kepada mereka. Seorang pun tidak mengetahui apa yang Kami berikan kepada mereka yaitu [bermacam-macam nikmat] yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.)”
Kemudian beliau bersabda: “Maukah kamu aku beritahu tentang pokok (agama), tiang-tiangnya dan puncak punggungnya?” saya menjawab: “Mau wahai Rasulallah.” Beliau bersabda: “Pokok perkara (agama) ialah Islam, tiang-tiangnya adalah shalat, dan puncak punggungnya adalah jihad.”
Kemudian beliau bersabda: “Maukah kamu aku beritahu tentang kunci semua perkara?” Lalu beliau memegang lidahnya dan bersabda: “Jagalah ini.” Lalu saya berkata: “Wahai Rasulallah, apakah kami akan dituntut (disiksa) karena apa yang saya katakan?” Maka beliau bersabda: “Celaka kamu, dan bukankah manusia dimasukkan ke dalam neraka atas mukanya, kecuali karena ulah lidahnya [ucapannya]” (HR Turmudzi, ia berkata hadits hasan shahih)

Dari Abu Hurairah ra. bahwasannya Rasulullah saw. bertanya: “Tahukah kalian, apakah ghibah (menggunjing) itu?” Para shahabat berkata: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau bersabda: “Yaitu apabila kamu menceritakan keadaan saudaramu yang tidak disenanginya.” Ada seorang shahabat bertanya: “Bagaimana jika yang saya katakan itu benar?” Beliau menjawab: “Apabila kamu menceritakan apa yang sebenarnya pada shahabatmu berarti kamu telah menggunjingnya, dan apabila kamu menceritakan apa yang sebenarnya tidak terjadi pada shahabatmu, berarti kamu benar-benar mendustakannya.” (HR Muslim)

Dari Abu Bakar ra. bahwasannya Rasulullah saw. dalam khutbahnya pada haji wada’ di Mina pada Idul ‘Adha beliau bersabda: “Sesungguhnya darahmu, hartamu, dan kehormatanmu itu adalah haram diganggu sebagaimana haramnya harimu ini di bulanmu ini dan di negerimu ini. Ingatlah bukankah aku telah menyampaikannya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari ‘Aisyah ra. ia berkata: saya berkata kepada Nabi saw.: “Puaskah engkau terhadap keadaan Syafiyyah yang begini, dan begitu?” Sebagian perawi mengatakan: “Yaitu keadaan Syafiyyah yang pendek.” Kemudian beliau bersabda: “Kamu telah mengatakan suatu perkataan yang seandainya dicampur dengan air laut niscaya dapat mempengaruhinya.” ‘Aisyah berkata: “Saya pernah menceritakan keadaan seseorang kepada beliau, kemudian beliau bersabda: “Aku tidak suka menceritakan keadaan seseorang walaupun aku akan mendapat upah sekian dan sekian banyaknya.” (HR Abu Dawud dan Turmudzi)

Dari Anas ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Ketika aku dimi’rajkan aku melewati suatu kaum yang mempunyai kuku dari tembaga dimana mereka mencakar-cakar muka dan dada mereka, kemudian aku bertanya: “Siapakah mereka itu wahai Jibril?” Jibril menjawab: “Mereka itu adalah orang-orang yang suka memakan daging sesama manusia dan mengganggu kehormatan sesama manusia (yakni suka menggunjing).” (HR Abu Dawud)

Dari Abu Hurairah ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Setiap orang Islam terhadap orang Islam yang lain adalah haram darahnya, kehormatannya, dan hartanya.” (HR Muslim)

Makruh Menyebut Anggur dengan Karm

13 Jul

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; Hadits

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah kalian menyebut anggur dengan karm, karena sesungguhnya karm itu adalah orang yang beragama Islam.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain dikatakan: “Karena sesungguhnya karm itu adalah hatinya orang yang beriman.”
Dalam hadits lain yang diriwayatkan pula oleh Bukhari dan Muslim dikatakan: “Mereka mengatakan ‘Karm’, sesungguhnya karm itu adalah hatinya orang beriman.”

Dari Wail bin Hujr ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Janganlah kalian mengatakan karm, tetapi katakanlah dengan ‘inab dan hablah.” (HR Muslim)

Penampilan Rambut

13 Jul

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; Hadits

Larangan menyemir rambut dengan warna hitam:
Dari Jabir ra. ia berkata: “Pada hari penaklukan kota Makkah, Abu Qahafah ayah Abu Bakar ash-Shiddiq dihadapkan kepada Rasulullah saw., dimana rambut kepala dan jenggotnya seperti bunga matahari karena putihnya. Kemudian Rasulullah saw. bersabda: “Ubahlah warna rambut itu, tetapi jauhilah warna hitam.” (HR Muslim)

Larangan membuat jambul:
Dari Ibnu Umar ra. ia berkata: “Rasulullah saw. melarang untuk membuat jambul.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Ibnu Umar ra. ia berkata: Rasulullah saw. melihat seorang anak yang sudah dicukur sebagian rambutnya dengan sebagian yang lain dibiarkannya, kemudian beliau melarang manusia untuk berbuat seperti demikian serta beliau bersabda: “Cukurlah semuanya atau biarkanlah semuanya.” (HR Abu Dawud)

Dari Abdullah bin Ja’far ra. bahwasannya Nabi saw. telah memberikan kesempatan tiga hari kepada keluarga Ja’far. Setelah tiga hari beliau mendatangi mereka dan bersabda: “Janganlah kalian menangisi saudaraku lagi setelah hari ini.” Kemudian beliau bersabda: “Panggillah kemari anak-anak saudaraku.” Maka kami dihadapkan kepada beliau seakan-akan kami adalah anak kecil. Beliau lantas bersabda: “Panggillah tukang cukur.” Kemudian beliau menyuruh untuk mencukur rambut kepala kami. (HR Abu Dawud)

Dari Ali ra. ia berkata: Rasulullah saw. melarang orang perempuan mencukur rambut kepalanya.” (HR Nasa’i)

Haram menyambung rambut, membuat tahi lalat dan meratakan gigi:
Firman Allah: “Yang mereka sembah selain Allah itu, tidak lain hanyalah berhala[349], dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaitan yang durhaka, yang dila’nati Allah dan syaitan itu mengatakan: “Saya benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba Engkau bahagian yang sudah ditentukan (untuk saya)[350], dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya[351], dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka meubahnya[352]”. Barangsiapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, Maka Sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.” (an-Nisaa’: 117-119)

[349] Asal makna Inaatsan ialah wanita-wanita. patung-patung berhala yang disembah Arab Jahiliyah itu biasanya diberi nama dengan Nama-nama perempuan sebagai Laata, Al Uzza dan Manah. dapat juga berarti di sini orang-orang mati, benda-benda yang tidak berjenis dan benda-benda yang lemah.
[350] Pada tiap-tiap manusia ada persediaan untuk baik dan ada persediaan untuk jahat, syaitan akan mempergunakan persediaan untuk jahat untuk mencelakakan manusia.
[351] Menurut kepercayaan Arab jahiliyah, binatang-binatang yang akan dipersembahkan kepada patung-patung berhala, haruslah dipotong telinganya lebih dahulu, dan binatang yang seperti ini tidak boleh dikendarai dan tidak dipergunakan lagi, serta harus dilepaskan saja.
[352] Meubah ciptaan Allah dapat berarti, mengubah yang diciptakan Allah seperti mengebiri binatang. ada yang mengartikannya dengan meubah agama Allah.

Dari Asma’ ra. bahwasannya ada seorang perempuan bertanya kepada Nabi saw.: “Wahai Rasulallah, sesungguhnya putriku tertimpa sakit panas sehingga rambutnya rontok dan saya akan segera menikahkannya, maka apakah boleh saya menyambung rambutnya?” Beliau menjawab: “Allah melaknat orang yang menyambung rambut dan yang disambung rambutnya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam sebuah riwayat dikatakan: “Orang yang menyambung rambut dan yang minta disambung rambutnya.”

Dari ‘Aisyah ra. bahwasannya ada seorang perempuan bertanya kepada Nabi saw.: “Wahai Rasulallah, sesungguhnya putriku tertimpa sakit panas sehingga rambutnya rontok dan saya akan segera menikahkannya, maka apakah boleh saya menyambung rambutnya?” Beliau menjawab: “Allah melaknat orang yang menyambung rambut dan yang disambung rambutnya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dai Humaid bin Abdurrahman bahwasannya pada musim haji ia mendengar Mu’awiyah ketika berkhutbah di atas mimbar dimana ia menerima ikatan rambut dari tangan pengawalnya, kemudian ia berkata: “Wahai ahli Madinah, dimanakah ulama-ulama kalian? Saya mendengar Nabi saw. melarang ikatan rambut semacam ini, serta mendengar beliau bersabda: ‘Sesungguhnya kebiasaan Bani Israil adalah ketika para wanitanya mempergunakan ikatan rambut.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Ibnu Umar ra. bahwasannya Nabi saw. mengutuk orang yang menyambung rambut dan orang yang disambung rambutnya, serta orang yang membuat tahi lalat.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Ibnu Mas’ud ra. bahwasannya ia berkata: Allah mengutuk orang yang membuat tahi lalat dan orang yang minta dibuatkan tahi lalat, orang yang mengerok alisnya dan orang yang memangkur (Menggosok dengan gerinda agar rata) giginya dengan maksud untuk memperindah dengan merubah ciptaan Allah.” Kemudian ada seorang perempuan menegurnya, maka Ibnu Mas’ud berkata: “Mengapa saya tidak mengutuk orang yang dikutuk oleh Rasulullah saw. sedangkan di dalam kitab Allah, Allah Ta’ala berfirman: “Apapun yang disampaikan oleh Rasul kepadamu maka laksanakanlah, dan apapun yang dilarangnya maka jauhilah.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya ra. dari Nabi saw. bahwasannya beliau bersabda: “Janganlah kalian mencabut uban karena sesungguhnya uban itu merupakan cahaya orang Islam nanti pada hari kiamat.” (HR Abu Dawud dan Turmudzi dan Nasa’i)

Dari ‘Aisyah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan tuntunan kami maka perbuatannya itu ditolak (tidak akan diterima).” (HR Muslim)

Merawat Hewan Kurban Sebelum Disembelih

13 Jul

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; hadits

Dari Ummu Salamah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa mempunyai hewan yang akan dikurbankan, apabila bulan Dzul Hijjah telah masuk, janganlah sekali-sekali ia mengambil (memotong) sedikitpun bulu dan kuku-kukunya sampai hewan itu disembelih.” (HR Muslim)

Makruh Memuji Orang

13 Jul

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; Hadits

Dari Abu Musa ra. ia berkata: Nabi saw. mendengar seseorang memuji orang lain dengan setinggi-tingginya, kemudian beliau bersabda: “Kamu telah membinasakan atau mematahkan punggung seseorang.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Bakrah ra. bahwasannya ada seseorang yang diceritakan di hadapan Nabi saw. dan ada orang yang memujinya dengan kebaikan, kemudian Nabi saw. bersabda: “Janganlah kamu memuji, karena berarti kamu telah memotong-motong leher kawanmu.” Beliau mengulangi sabdanya berkali-kali. “Apabila salah seorang di antara kalian harus memujinya maka hendaklah ia berkata: “Saya kira ia begini, begitu.” Apabila ia mengetahui bahwa saudaranya itu seperti itu, sedangkan yang akan menentukan adalah Allah, dan tidak boleh ada seseorang dipuji melebihi pujian kepada Allah.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Hammam bin Harits dari Miqdad ra. bahwasannya ada seseorang memuji Utsman ra. kemudian Miqdad segera berjongkok dan menaburkan kerikil ke mukanya, lantas Utsman berkata kepadanya: “Mengapa engkau berbuat seperti itu?” Ia menjawab: “Sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: ‘Apabila kalian melihat ada orang yang memuji, maka taburkanlah tanah ke muka mereka.’” (HR Muslim)

Hadits-hadits di atas memunjukkan tentang larangan memmuji, tetapi masih banyak juga hadits-hadits shahih yang membolehkan memuji. Adapun yang mempertemukan hadits-hadits yang berbeda itu, para ulama berpendapat bahwa apabila orang yang dipuji itu sempurna imannya dan diperkirakan tidak akan terpengaruh oleh pujian itu, maka semua pujian tidaklah diharamkan dan tidak pula dimakruhkan. Tetapi jika dikhawatirkan yang akan mendapat pujian itu akan berubah sikapnya, sehingga ia berlaku sombong dan sebagainya, maka pujian itu dilarang. Adapun hadits yang membolehkan tentang memuji diantaranya adalah sabda Rasulullah saw. kepada Abu Bakar ra.: “Aku berharap semoga engkau termasuk dari golongan mereka (yaitu golongan orang-orang yang dapat masuk surga dari berbagai pintu surga).”
Dalam hadits lain, Rasulullah saw. bersabda kepada Abu Bakar ra: “Engkau bukanlah termasuk golongan mereka (yaitu golongan orang-orang yang menjuraikan kainnya karena sombong).”
Dan Rasulullah saw. juga pernah bersabda kepada Umar ra.: “Setan tidak akan melihat kamu berjalan pada suatu jalan melainkan setan itu menyimpang, mencari jalan lain.”

Makruh Meludah di Masjid

13 Jul

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; Hadits

Dari Anas ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Meludah di masjid adalah suatu dosa, dan tebusannya adalah menanam (atau membuang) ludahnya itu.” (HR Bukhari dan Muslim)
Ludah itu ditanam apabila lantai masjid berupa tanah atau pasir, apabila lantai masjid berupa ubin maka harus dibersihkan ludahnya.

Dari ‘Aisyah ra. bahwasannya Rasulullah saw. melihat ingus dan ludah atau dahak di tembok kiblat, kemudian beliau mengoreknya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Anas ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya masjid-masjid itu tidak pantas ada air kencing atau sesuatu kotoran walaupun sedikit. Sesungguhnya masjid-masjid itu adalah untuk dzikir kepada Allah Ta’ala dan untuk membaca al-Qur’an, atau untuk menyampaikan apa yang sudah disabdakan oleh Rasulullah saw.” (HR Muslim)

Makruh Mengkhususkan Hari Jum’at Untuk Puasa

13 Jul

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; Hadits

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Jangan kalian mengkhususkan malam Jum’at dengan bangun (shalat malam) di antara malam-malam lain. Dan janganlah kalian mengkhususkan hari Jum’at untuk berpuasa di antara hari-hari lain, kecuali kalau memang hari Jum’at itu kebetulan menepati hari puasa salah seorang di antara kalian (dimana wajib berpuasa pada hari itu).” (HR Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah sekali-sekali salah seorang di antara kalian berpuasa pada hari Jum’at, kecuali (jika ia berpuasa juga) sehari sebelum atau sesudahnya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Muhammad bin Abbad, ia berkata: saya bertanya kepada Jabir ra.: “Apakah Nabi saw. melarang untuk berpuasa pada hari Jum’at?” ia menjawab: “Ya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Ummul Mukminin (Juwairiyah) bin al-Harits ra. bahwasannya pada hari Jum’at Nabi saw. pernah masuk ke rumahnya sedangkan ia sedang berpuasa, kemudian beliau bertanya: “Apakah kamu kemarin berpuasa?” Ia menjawab: “Tidak.” Beliau bertanya lagi: “Apakah kamu besok pagi ingin berpuasa juga?” Ia menjawab: “Tidak.” Beliau bersabda: “Maka berbukalah (tidak puasa saja hari ini).” (HR Bukhari)

Haram puasa wishal:
Dari Abu Hurairah ra. bahwasannya Rasulullah saw. melarang untuk berpuasa wishal (puasa sambung, tanpa berbuka).” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Ibnu Umar ra. ia berkata: Rasulullah saw. melarang untuk berpuasa wishal. Para shahabat bertanya kepada Rasulullah saw.: “Sesunggunya engkau berpuasa wishal.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya aku tidaklah seperti kalian, sesungguhnya aku diberi makan dan minum oleh Allah.” (HR Bukhari dan Muslim)