Tag Archives: 100

Tafsir Ibnu Katsir Surah At-Taubah / Al-Bara’ah ayat 100

29 Jun

Tafsir Al-Qur’an Surah At-Taubah (Pengampunan)
Surah Madaniyyah; surah ke 9: 129 ayat

tulisan arab alquran surat at taubah ayat 100“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. at-Taubah / al-Baraah: 100)

Allah memberitahukan tentang keridhaan-Nya terhadap orang-orang terdahulu dari kalangan kaum Muhajirin, kaum Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, serta keridhaan mereka kepada Allah atas apa yang Allah telah sediakan untuk mereka berupa surga-surga yang penuh kenikmatan dan kenikmatan yang abadi.

Asy-Sya’bi mengatakan: “Yang disebut dengan as-sabiqun al-awwalun (orang-orang terdahulu lagi yang paling pertama) adalah kaum Muhajirin dan kaum Anshar, yang mendapatkan peristiwa perjanjian Bai’atur Ridwan pada tahun Hudaibiyyah.”

Abu Musa al-Asy’ari, Said bin al-Musayyib, Muhammad bin Sirin, al-Hasan dan Qatadah mengatakan: “Mereka adalah orang-orang yang pernah mengerjakan shalat dengan menghadap ke dua kiblat bersama Rasulullah saw.”

Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi pernah menceritakan, ‘Umar bin al-Khaththab pernah melewati seseorang yang tengah membaca ayat: was saabiquunal awwaluuna minal muHaajiriina wal anshaari (“Orang-orang yang terdahu lagi yang pertama-tama [masuk Islam] di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar.”)
Kemudian `Umar menarik tangan orang itu seraya berucap: “Siapakah yang membacakan ayat ini kepadamu?” Orang itu menjawab: “Ubay bin Ka’ab.”
“Jangan pergi dariku sebelum aku membawamu kepadanya,” papar ‘Umar bin al-Khaththab. Setelah mendatangi Ubay bin Ka’ab, `Umar berkata: “Apakah benar kamu yang membacakan ayat ini demikian kepada orang ini?”
Ubay bin Ka’ab menjawab: “Benar.” “Apakah engkau mendengarnya dari Rasulullah ?” tanya `Umar. “Ya,” jawabnya. `Umar berkata: “Aku melihat bahwa kami telah ditinggikan pada ketinggian yang tidak yang tidak dapat dicapai oleh seorang sepeninggal kami.”
Ubay berkata: “Ayat yang memberikan peneguhan ayat tersebut terletak pada awal surat al Jumu’ah: ‘Dan kepada kaum yang lain dari mereka yang belunI berhubungan dengan mereka. Dan Allahlah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.’ Dan juga ayat yang terdapat pada surat al-Hasyr: ‘Dan orang-orang yang datang sesudah mereka [Muhajirin dan anshar].’”
Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.

Allah memberitahukan, bahwa Dia telah meridhai orang-orang dari kalangan kaum Muhajirin dan kaum Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Maka, alangkah celakanya orang-orang yang membenci dan mencela mereka atau sebagian saja dari mereka. Apalagi terhadap pemuka sahabat setelah Rasulullah saw, yaitu sahabat pilihan dan Khalifah paling agung, ash-Shiddiq al-Akbar yaitu, Abu Bakar bin Abi Quhafah ra. Ada sebuah kelompok terhina dari kalangan kaum Rafidhah yang memusuhi, membenci, mencaci dan mencela para sahabat yang paling mulia. Na’udzu billaaHi min dzalik.

Yang demikian itu menunjukkan, bahwa akal mereka telah terbalik dan hati mereka pun telah linglung. Lalu dimanakah posisi keimanan orang-orang tersebut terhadap al-Qur’an, di mana mereka telah mencela orang-orang yang telah diridhai oleh Allah oleh-Nya dan oleh Rasul-Nya ? sedangkan ahlus sunnah senantiasa meridlai orang-orang yang diridlai Allah, mencela orang-orang yang dicela Allah dan Rasul-Nya, mendukung orang-orang yang didukung oleh-Nya, memusuhi orang-orang yang dimusuhi oleh-Nya.

Ahlus sunnah adalah muttabi’un (yang mengikuti Rasulullah) dan bukan mubtadi’un (pembuat bid’ah), kaum yang taat dan bukan kaum yang membangkang. Mereka ini adalah golongan Allah jalla wa ‘ala yang beruntung dan merupakan hamba-hamba-Nya yang beriman.

&

Iklan

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Maa-idah ayat 100-102

26 Jun

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Maa-idah (Hidangan)
Surah Madaniyyah; surah ke 5: 120 ayat

tulisan arab alquran surat al maidah ayat 100-102“100. Katakanlah: ‘Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, Maka bertakwalah kepada Allah Hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.’ 101. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al Quran itu diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu, Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. 102. Sesungguhnya telah ada segolongsn manusia sebelum kamu menanyakan hal-hal yang serupa itu (kepada Nabi mereka), kemudian mereka tidak percaya kepadanya.” (Al-Maaidah: 100-102)

Allah berfirman kepada Rasul-Nya, Muhammad saw.: Qul (“Katakanlah”) hai Muhammad: laa yastawil khabiitsu wath thayyibu wa lau a’jabaka (“Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun menarik hatimu.”) hai sekalian manusia, kats-ratul khabiits (“Banyaknya yang buruk”) yakni bahwa sesuatu yang halal lagi bermanfaat dan berjumlah sedikit adalah lebih baik bagi kalian daripada hal yang haram lagi berbahaya yang berjumlah banyak.

Fat taqullaaHa yaa ulil albaab (“Maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang yang berakal”) maksudnya, hai orang-orang yang berakal yang sehat dan normal, hindari dan tinggalkanlah hal-hal yang haram, serta berpuas diri dari merasa cukuplah dengan hal-hal yang halal.
La’allakum tuflihuun (“Agar kamu mendapat keberuntungan”) yaitu di dunia dan di akhirat.

Yaa ayyuHal ladziina aamanuu laa tas-aluu ‘an asy-yaa-a in tubda lakum tasu’kum (“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan [kepada Muhammad] hal-hal yang tidak diterangkan kepadamu, niscaya menyusahkanmu.”) hal ini merupakan pendidikan dari Allah bagi hamba-hamba-Nya yang beriman. Allah melarang mereka menanyakan hal-hal yang tidak bermanfaat bagi mereka. karena jika hal itu diterangkan kepada mereka, mungkin akan menyusahkan mereka, dan menjadikan orang yang mendengarnya merasa keberatan.

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Anas bin Malik, ia berkata: Nabi berkhutbah yang belum pernah aku mendengarnya sama sekali sebelumnya, beliau bersabda: “Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.”
Anas bin Malik melanjutkan: Maka para sahabat beliau menutupi wajah mereka seraya menangis. Kemudian ada seseorang yang bertanya: “Siapakah ayahku?” Beliau menjawab: “Si Fulan.” Maka turunlah ayat ini: laa yas-aluu ‘an asy-yaa-a (“Janganlah kamu menanyakan [kepada Nabi mu] hal-hal….”
(Hadits tersebut diriwayatkan juga oleh Muslim, Ahmad, at-Tirmidzi dan an-Nasa-i)

Mengenai firman-Nya: Yaa ayyuHal ladziina aamanuu laa tas-aluu ‘an asy-yaa-a in tubda lakum tasu’kum (“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan [kepada Muhammad] hal-hal yang tidak diterangkan kepadamu, niscaya menyusahkanmu.”) Ibnu Jarir mengatakan dari Qatadah: Dia menceritakan kepada kami bahwa Anas bin Malik pernah mengabarkan kepadanya: Para sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah saw. sehingga mereka terlalu berlebihan dalam bertanya. Lalu pada suatu hari beliau menemui mereka, kemudian beliau menaiki mimbar seraya bersabda: “Tidaklah kalian bertanya kepadaku pada hari ini tentang sesuatu, melainkan aku akan menjelaskannya kepada kalian.”

Maka para sahabat Rasulullah saw merasa takut akan mendapatkan suatu perintah yang telah diturunkan. Lalu aku tidak menoleh ke kanan maupun ke kiri melainkan aku melihat setiap orang menyembunyikan kepalanya di balik kainnya seraya menangis. Lalu muncullah seseorang, yang mana ia dicela dan diseru bukan dengan nama ayahnya, kemudian bertanya: “Wahai Nabiyullah [Nabi Allah], siapakah ayahku?” Beliau menjawab: “Ayahmu adalah Hudzaifah.”

Lebih lanjut Anas menceritakan, kemudian ‘Umar bangkit dan berkata: “Kami ridla Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Rasul, dan berlindung kepada Allah –atau ia [‘Umar] mengucapkan: “Aku berlindung kepada Allah –dari keburukan fitnah.”

Selanjutnya Anas menuturkan: maka Rasulullah saw. bersabda: “Aku belum pernah sama sekali menyaksikan kebaikan dan keburukan seperti hari ini. Telah digambarkan kepadaku surga dan neraka sampai aku dapat melihat keduanya tanpa dinding penghalang.”
(Dikeluarkan oleh al-Bukhari dan Muslim melalui jalan Sa’id)

Lahiriyah ayat di atas menunjukkan larangan menanyakan sesuatu, yang jika diberitahukan kepada seseorang hanya akan menjadikannya merasa kesusahan, maka yang lebih baik adalah menghindari dan meninggalkannya.

Sungguh amat baik hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda kepada para sahabat beliau: “Janganlah ada seseorang yang menyampaikan kepadaku sesuatu tentang orang lain. Aku lebih suka menemui kalian, sementara itu hatiku dalam keadaan bersih.” (hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi)

Firman-Nya: wa in tas-aluu ‘anHaa hiina yunazzalul qur-aanu tubda lakum (“Dan jika kamu menanyakan pada waktu al-Qur’an itu sedang diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu.”)
Maksudnya jika kalian menanyakan tentang sesuatu yang kalian telah dilarang untuk menanyakannya ketika diturunkan wahyu kepada Rasulullah saw, wahyu itu akan menjelaskan kepada kalian.

Kemudian Allah berfirman: ‘afallaaHu ‘anHaa (“Allah memaafkan [kamu] tentang hal-hal itu”) maksudnya hal-hal yang telah berlalu dari kalian sebelum itu. wallaaHu ghafuurun haliim (“Dan Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang”)

Ada yang menyatakan, bahwa maksud firman Allah: wa in tas-aluu ‘anHaa hiina yunazzalul qur-aanu tubda lakum (“Dan jika kamu menanyakan pada waktu al-Qur’an itu sedang diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu.”) yaitu janganlah kalian menanyakan segala sesuatu yang kalian memang ingin menyegerakannya, karena mungkin dengan pertanyaan itu akan turun kepada kalian keberatan dan kesempitan.

Diriwayatkan dalam sebuah hadits: “Orang Muslim yang paling besar kesalahannya adalah orang yang menanyakan tentang sesuatu yang tidak diharamkan sebelumnya, lalu menjadi haram serbab pertanyaannya tersebut.” (Muttafaq ‘alaiHi)

Tetapi jika al-Qur’an menurunkan perkara itu secara global lalu kalian menanyakan penjelasannya, pada saat itu akan dijelaskan kepada kalian. Karena kalian memang membutuhkannya.

‘afallaaHu ‘anHaa (“Allah memaafkan [kamu] tentang hal-hal itu.”) maksudnya apa-apa yang tidak Allah sebutkan di dalam kitab-Nya, adalah dari sesuatu yang Allah maafkan. Maka diamlah kalian darinya, sebagaimana Allah diam.

Disebutkan dalam hadits shahih dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda: “Janganlah kalian bertanya kepadaku mengenai apa yang aku diamkan pada kalian. Sesungguhnya binasanya orang-orang sebelum kalian, karena mereka banyak bertanya dan menyalahi Nabi-Nabi mereka.”

Dalam hadits shahih juga disebutkan: “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban, maka janganlah kalian menyia-nyiakannya. Allah juga menetapkan beberapa batasan maka janganlah kalian melampauinya. Allah juga mengharamkan beberapa hal maka janganlah kalian melanggarnya. Dan Allah mendiamkan beberapa hal sebagai rahmat bagi kalian, bukan karena lupa, maka janganlah kalian menanyakannya.”

Setelah itu firman Allah: qad sa-alaHaa qaumum min qablikum tsumma ash-bahuu biHaa kaafiriin (“Sesungguhnya telah ada segolongan manusia sebelum kamu, menanyakan hal-hal yang serupa itu [kepada Nabi mereka], kemudian mereka tidak percaya kepadanya.”)

Maksudnya: ada suatu kaum sebelum kalian yang menanyakan hal-hal yang dilarang, lalu diberikan jawaban kepada mereka atas pertanyaan tersebut, tetapi setelah itu mereka tidak mempercayainya. Sehingga dengan demikian mereka menjadi kafir, yaitu sebab pertanyaan tersebut. Maksudnya, mereka diberi penjelasan, tetapi mereka tidak memanfaatkan hal itu karena mereka menanyakan hal itu bukan untuk mencari petunjuk, tetapi hanya sebagai bentuk keingkaran dan pembangkangan.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-An’am ayat 100

18 Des

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-An’am (Binatang Ternak)
Surah Makkiyyah; surah ke 6: 165 ayat

tulisan arab alquran surat al an'am ayat 100“Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakan jin jin itu, dan mereka berbohong (dengan mengatakan): ‘Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan,’ tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan. Mahasuci Allah dan Mahatinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan.” (QS. al-An’aam: 100)

Ini merupakan bantahan terhadap orang-orang musyrik yang beribadah kepada ilah-ilah selain Allah. Mereka juga menyekutukan-Nya dalam menjalankan ibadah, yaitu mereka beribadah kepada jin dan menjadikannya sebagai sekutu bagi-Nya dalam beribadah, Mahatinggi Allah dari kemusyrikan dan kekafiran mereka. Jika dikatakan: “Bagaimana bisa jin itu diibadahi, padahal mereka itu beribadah kepada berhala?” Jawabannya adalah, bahwa mereka itu tidak beribadah kepada mereka (patung atau berhala), melainkan sebagai
wujud ketaatan mereka kepada jin, yang telah menyuruh mereka melakukan hal itu.

Sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Patutkah kamu mengambil dia dan keturunannya sebagai pemimpin selain dari-Ku.” (QS. Al-Kahfi: 50). Dan pada hari Kiamat kelak, para Malaikat berkata yang artinya: “Maha suci Engkau, Engkaulah pelindung Kami bukan mereka, bahkan mereka telah menyembah jin dan kebanyakan mereka beriman kepada jin itu.” (Saba’: 41)

Oleh karena itu Allah berfirman: wa ja’alullaaHi syurakaa-al jinna wa khalaqaHum (“Dan mereka [orang-orang musyrik] menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allahlah yang menciptakan jin-jin itu.”) Maksudnya, padahal Allahlah yang telah menciptakan mereka, Dialah Yang Mahapencipta yang tiada sekutu bagi-Nya, lalu bagaimana bisa selain diri-Nya diibadahi bersama dengan ibadah kepada-Nya.

Sebagaimana ucapan Ibrahim yang artinya: “Apakah kamu beribadah kepada patung-patung yang kamu pahat itu? Padahal Allahlah yang menciptakanmu dan apa yang kamu perbuat itu.” (QS. Ash-Shaaffaat: 95-96). Makna ayat tersebut adalah bahwa Allah berdiri sendiri dalam menciptakan semua makhluk. Oleh karena itu Dia harus diesakan dalam ibadah, hanya Dia saja, tiada sekutu bagi-Nya.

Firman-Nya: wa kharaquu laHuu baniina wa banaatim bighairi ‘ilmi (“Dan mereka membuat kebohongan [dengan mengatakan] ‘Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan, ‘tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan.”)

Dengan (ayat) ini, Allah mengingatkan kesesatan orang-orang yang sesat yang menyatakan, bahwa Allah mempunyai anak, sebagaimana yang dikatakan oleh kalangan orang-orang Yahudi terhadap ‘Uzair, dan orang-orang Nasrani terhadap `Isa, serta anggapan di kalangan orang-orang musyrik Arab bahwa Malaikat itu anak perempuan Allah. Mahatinggi Allah dari apa yang dikatakan oleh orang-orang dhalim dengan ketinggian yang setinggi-tingginya.

Makna firman-Nya: “wa kharaquu” yaitu, mereka mengada-ada dan berdusta, sebagaimana yang dikatakan oleh para ulama Salaf. Jadi penafsirannya adalah, bahwa mereka telah menjadikan jin sebagai sekutu Allah dalam ibadah mereka, padahal Allah Ta’ala hanya sendiri dalam menciptakan mereka tanpa adanya sekutu, pembantu, dan pendukung.

wa kharaquu laHuu baniina wa banaatim bighairi ‘ilmi (“Dan mereka membuat kebohongan [dengan mengatakan] ‘Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan, ‘tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan.”) Yaitu, tanpa adanya (ilmu) pengetahuan terhadap hakikat apa yang mereka katakan, tetapi mereka katakana itu karena kejahilan (kebodohan) mereka akan Allah Ta’ala serta keagungan-Nya. Sesungguhnya tidak layak bagi Rabb sebagai Ilah untuk memiliki anak, laki-laki maupun perempuan, dan tidak juga isteri, dan tidak juga sekutu yang bersekutu dengan-Nya dalam penciptaan.

Oleh karena itu Allah berfirman: subhaanaHuu wa ta’aalaa ‘ammaa yashifuun (“Mahasuci Allah dan Mahatinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan.”) Maksudnya, Mahasuci dan Mahaagung dari disifati dengan sifat-sifat yang diberikan oleh orang-orang bodoh lagi sesat, yaitu sifat kepemilikan anak, tandingan yang setara dan sekutu.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 100

29 Nov

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 100“Dan apakah belum jelas bagi orang-orang yang mempusakai suatu negeri sesudah [lenyap] penduduknya, bahwa kalau Kami menghendaki tentu Kami adzab mereka karena dosa-dosanya; dan Kami kunci hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran lagi)?” (QS. al-A’raaf: 100)

Mengenai firman Allah: awalam yaHdii lilladziina yaritsuunal ardla mim ba’di aHliHaa (“Dan apakah belum jelas bagi orang-orang yang mempusakai suatu negeri sesudah [lenyap] penduduknya”) Ibnu ‘Abbas mengatakan: (Makna: awalam yaHdii…. adalah) awalam yatabayyana laHum (atau apakah belum jelas bagi mereka)
Al lay nasyaa-u ashabnaaHum bidzunuubiHim (“Bahwa kalau Kami menghendaki tentu Kami adzab mereka karena dosa-dosa mereka”) yakni Allah berfirman, jika Kami menghendaki pasti Kami akan bertindak terhadap mereka, seperti apa yang sudah Kami lakukan terhadap orang-orang sebelum mereka.

Wa nathma’u ‘alaa quluubiHim (“dan Kami kunci mati hati mereka”) Allah berfirman, [yaitu] Kami tutup rapat-rapat hati mereka. faHum laa yasma’uun (“sehingga mereka tidak dapat mendengar”) yakni terhadap pelajaran dan juga peringatan.

(Mengenai hal tersebut di atas), aku (Ibnu Katsir) katakan: “Demikian pula Allah telah berfirman:
“Bukankah kamu telah bersumpah dahulu (di dunia) bahwa sekali-kali tidak akan binasa ? Dan kamu telah berdiam di tempat-tempat kediaman orang-orang yang menganiaya diri mereka sendiri.” (QS. Ibrahim: 44-45). Dan ayat-ayat al-Qur’an lainnya, yang menunjukkan penimpaan siksaan kepada musuh-musuh-Nya dan pemberian nikmat kepada para wall-Nya. Oleh karena itu, Dia mengiringi ayat tersebut dengan firman-Nya setelahnya -dan Dialah yang Mahabenar firman-Nya dan Rabb semesta alam-:

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yunus ayat 99-100

8 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Yunus
Surah Makkiyyah; surah ke 10: 109 ayat

tulisan arab alquran surat yunus ayat 99-100“Dan jikalau Rabbmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya. (QS. 10:99) Dan tidak ada seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya. (QS. 10:100)” (Yunus: 99-100)

Allah berfirman: walau syaa-a rabbuka (“Jikalau Rabbmu menghendaki,”) hai Muhammad! Niscaya Allah mengizinkan penduduk bumi semuanya untuk beriman kepada apa yang kamu bawa kepada mereka, lalu mereka beriman semuanya. Akan tetapi Allah mempunyai hikmah dalam apa yang dilakukan-Nya. Mahatinggi Allah.

Untuk itu, Allah Ta’ala berfirman: afa anta tukriHun naasa (“Maka apakah kamu [hendak] memaksa manusia.”) Maksudnya, kamu mewajibkan dan memaksa mereka. hattaa yakuunuu mu’miniin (“Supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?”) Maksudnya, hal itu bukan tugasmu dan tidak dibebankan atasmu, akan tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya, maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. ” (QS. Faathir: 8)

Dan lain sebagainya dari ayat-ayat yang menunjukkan, bahwa sesungguhnya Allah-lah Dzat yang melakukan apa yang Dia kehendaki, Yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, karena pengetahuan-Nya, hikmah-Nya dan keadilan-Nya. Maka dari itu Allah Ta’ala berfirman: wa maa kaana linafsin an tu’mina illaa bi-idznillaaHi waj’alur rijsa ‘alal ladziina ya’qiluun (“Dan tidak ada seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah, dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya,”) yaitu gila dan sesat, maksudnya terhadap hujjah-hujjah Allah dan dalil-dalil-Nya.

Allah adalah yang Mahaadil dalam segala sesuatu, dalam memberi petunjuk kepada siapa yang berhak ditunjuki dan menyesatkan siapa yang patut disesatkan.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Huud ayat 100-101

1 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Huud
Surah Makkiyyah; surah ke 11: 123 ayat

tulisan arab alquran surat huud ayat 100-101“Itu adalah sebahagian dari berita-berita negeri (yang telah dibinasakan) yang Kami ceritakan kepadamu (Muhammad); di antara negeri-negeri itu ada yang masih terdapat bekas-bekasnya dan ada (pula) yang telah musnah. (QS. 11:100) Dan Kami tidaklah menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri, karena tiadalah bermanfaat sedikitpun kepada mereka ilah-ilah yang mereka seru selain Allah, di waktu adzab Rabbmu datang. Dan ilah-ilah itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali kebinasaan belaka. (QS. 11:101)” (Huud: 100-101)

Ketika Allah telah menyebutkan kabar para Nabi dan apa yang dihadapi mereka bersama umatnya dan bagaimana Allah membinasakan orang-orang kafir dan menyelamatkan orang-orang mukmin, Allah berfirman: dzaalika min amba-il quraa (“Itu adalah sebahagian dari berita-berita negeri [yang telah dibinasakan].”) Maksudnya, kabar tentang mereka.
Naqshush-Hu ‘alaika (“Kami ceritakan kepadamu [Muhammad]”) di antara negeri-negeri itu ada yang masih terdapat bekas-bekasnya. ” Maksudnya, masih ada. Wa hashiid (“Dan ada [pula] yang telah musnah.”) Maksudnya, telah hancur.

Wa maa dhalamnaaHum (“Dan Kami tidaklah menganiaya mereka,”) maksudnya jika Kami membinasakan mereka. Wa laakin dhalamuu anfusaHum (“Tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.”) Dengan kedustaan dan kekafiran mereka terhadap utusan-utusan Kami. Wamaa aghnat ‘anHum aaliHatuHum (“Karena itulah tidak bermanfaat sedikit pun kepada mereka ilah-ilah mereka.”) Berhala-berhala mereka yang mereka beribadah dan berdo’a kepadanya; min duunillaaHi min syai-in (“Sesuatupun selain Allah.”) Berhala-berhala itu tidak berguna dan tidak menyelamatkan mereka ketika mereka dibinasakan.

Wamaa zaaduuHum ghaira tatbiib (“Dan ilah-ilah itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali kebinasaan belaka.”) Mujahid, Qatadah dan yang lainnya berkata: “Maksudnya, kecuali kerugian, itulah sebab kebinasaan dan kehancuran mereka, yaitu karena mereka mengikuti ilah-ilah itu, maka dari itu mereka rugi di dunia dan akhirat.”

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yusuf ayat 99-100

27 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Yusuf
Surah Makkiyyah; surah ke 12: 111 ayat

tulisan arab alquran surat yusuf ayat 99-100“Maka tatkala mereka masuk ke (tempat) Yusuf. Yusuf merangkul ibu-bapaknya dan dia berkata: ‘Masuklah kamu ke negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman.’ (QS. 12:99) Dan ia menaikkan kedua ibu-bapaknya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf. Dan berkata Yusuf. ‘Wahai ayahku inilah ta`bir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Rabbku telah menjadikan suatu kenyataan. Dan sesungguhnya Rabbku telah berbuat baik kepadaku, ketika dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa kamu dari dusun Badui yaitu padang pasir, setelah syaitan merusakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Rabbku Mahalembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia-lah yang Mahamengetahui lagi Mahabijaksana.’ (QS. 12:100)” (Yusuf: 99-100)

Allah memberitakan tentang kedatangan Ya’qub as. ke tempat Yusuf as. dan masuknya ia ke negeri Mesir, setelah Yusuf meminta kepada saudara-saudaranya supaya mereka membawa seluruh keluarganya. Maka mereka semua berangkat, meninggalkan negeri Kan’an menuju negeri Mesir.

Setelah Yusuf as. diberi kabar bahwa mereka hampir sampai di Mesir, dia segera keluar untuk menerima mereka. Dan sang Raja pun memerintahkan semua pejabat negara dan tokoh masyarakat agar keluar bersama Yusuf untuk menyambut Nabi Ya’qub as. bahkan ada yang mengatakan bahwa sang Raja pun keluar untuk menyambutnya, dan pendapat inilah yang lebih cocok.

Terdapat kemusykilan (masalah/persoalan) dalam firman Allah: aawaa ilaiHi abawaiHi wa qaaladkhulu mishra (“Setelah mereka masuk ke tempat Yusuf, Yusuf merangkul ibu bapaknya, dan dia berkata: ‘Masuklah kalian ke negeri Mesir.’)
Bagi banyak mufassir, sebagian mengatakan bahwa hal ini termasuk kategori mendahulukan yang seharusnya diakhirkan dan mengakhirkan yang seharusnya didahulukan, dan artinya adalah: “Masuklah Mesir insya Allah kalian dalam keadaan aman, dan ia merangkul ibu bapaknya. Dan dia menaikkan ibu bapaknya ke atas singgasana.”

Ibnu Jarir menyanggah pendapat ini dengan baik, kemudian ia memilih pendapat yang dikemukakan oleh as-Suddi, bahwa Yusuf merangkul ibu bapaknya ketika bertemu dengan mereka, kemudian setelah mereka sampai di pintu gerbang negeri ini, Yusuf berkata: udkhulu mishra insyaa AllaaHu aaminiin (“Masuklah kalian ke negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman”) Pendapat ini pun masih perlu diteliti lagi, karena tindakan merangkul hanya terjadi di rumah, seperti ditunjukkan firman Allah: aawaa ilaiHi akhaaHu (“Merangkul saudaranya kepada dirinya.”)

Apa yang menghalangi jika kita katakan bahwa Yusuf, setelah sampai di rumah dan merangkul mereka mengatakan: “Masuklah ke Mesir!” dan iapun memberikan jaminan dengan mengatakan: “Tinggalah di Mesir insya Allah kalian aman dari penderitaan disebabkan oleh kekeringan dan paceklik.”

Firman Allah: aawaa ilaiHi abawaiHi (“Yusuf merangkul ibu bapaknya”) As-Suddi dan `Abdurrahman bin Zaid bin Aslam mengatakan: “Sesungguhnya mereka adalah bapak dan bibi (saudari ibu)nya, karena ibunya sudah meninggal sejak lama. Sedang Muhammad bin Ishaq dan Ibnu Jarir mengatakan, ayah dan ibunya masih hidup. Dan Ibnu Jarir mengatakan: “Tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa ibunya sudah meninggal, dan teks al-Qur’an menunjukkan bahwa ibunya masih hidup.” Pendapat yang didukungnya inilah yang kuat dan merupakan pendapat yang ditunjukkan oleh susunan kalimatnya.

Dan firman Allah: wa rafa’a abawaiHi ‘alal ‘arsy (“Dia menaikkan ibu-bapaknya ke atas singgasana.”) Ibnu `Abbas, Mujahid dan lain-lainnya mengatakan: “Maksudnya adalah kursi kerajaan, Yusuf mendudukkan mereka berdua di atas kursi kerajaan bersama dia.”
Wa kharruu laHuu sujjadan (“Dan mereka semua merebahkan diri sujud kepada Yusuf”) maksudnya, ayah, ibu, dan saudara-saudaranya yang lain yang berjumlah sebelas orang sujud kepadanya.

Wa qaala yaa abati Haadzaa ta’wiilu ru’yaaya min qablu (“Dan Yusuf berkata: ‘Wahai ayahku, inilah ta’bir mimpiku yang dahulu itu”) yaitu yang diceritakan kepada ayahnya dahulu, Hal ini diperbolehkan dalam syari’at mereka, bila mereka memberi salam kepada orang besar mereka sujud kepadanya, dan hal ini berlaku sejak Nabi Adam sampai syari’at Nabi `Isa as. Tetapi cara seperti itu diharamkan dalam agama Islam, yang menjadikan sujud hanya milik Allah saja. Inilah inti dari pendapat Qatadah dan lain-lainnya.

Disebutkan dalam hadits bahwa Mu’adz datang ke negeri Syam dan melihat penduduknya bersujud kepada uskup-uskup mereka. Setelah kembali, ia segera sujud kepada Rasulullah saw, maka beliau bertanya: “Apa yang kamu perbuat ini hai Mu’adz?” la menjawab: “Saya melihat mereka bersujud kepada uskup-uskup mereka, sedang engkau wahai Rasulullah, lebih berhak disujudi daripada mereka,” maka beliau bersabda: “Andaikata aku boleh menyuruh seseorang bersujud kepada orang lain, pasti aku menyuruh wanita bersujud kepada suaminya karena besarnya hak suami terhadap isterinya.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah, hadits nomor 1853, dan Imam Ahmad.)

Kesimpulannya, sujud kepada orang lain itu diperbolehkan dalam syari’at mereka. Oleh karena itu mereka merebahkan diri bersujud kepada Yusuf, kemudian ia berkata: yaa abati Haadzaa ta’wiilu ru’yaaya min qablu qad ja’alaHaa rabbii haqqan (“‘Wahai ayahku, inilah ta’bir mimpiku yang dahulu itu. Sesungguhnya Rabbku telah menjadikannya suatu kenyataan.”) Maksudnya, inilah kenyataan dari mimpiku dahulu itu, karena ta’wil itu berarti kenyataan sebenarnya yang terjadi dari mimpi atau hal-hal lainnya.

Sebagaimana Allah berfirman, “Tiadalah mereka menunggu-nunggu kecuali ta’wil (terlaksananya kebenaran) al-Qur’an, pada hari datangnya kebenaran pemberitaan al-Quran itu.” (QS. Al-A’raaf: 53). Maksudnya, pada hari Kiamat akan terjadi pada mereka apa yang telah dijanjikan kepada mereka berupa kebaikan maupun keburukan.

Qad ja’alaHaa rabbii haqqan (“Sesungguhnya Rabbku telah menjadikannya suatu kenyataan,”) maksudnya, benar-benar menjadi kenyataan. Dia menyebutkan nikmat-nikmat Allah yang telah didapatkannya: wa qad ahsanabii idz akhrajanii minas sijni wa jaa-a bikum minal badwi (“Dan sesungguhnya Rabbku telah berbuat baik kepadaku, ketika mereka membebaskanku dari rumah penjara dan ketika membawa kalian dari dusun Badui,”) yaitu padang pasir. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Juraij dan lain-lain bahwa mereka itu hidup di padang pasir dan hidup sebagai penggembala ternak:

Mim ba’di an nazzaghasy syaithaanu bainii wa baina ikhwatii inna rabbii lathiiful limaa yasyaa-u (“Setelah syaitan merusak hubungan antara aku dari saudara-saudaraku. Sesungguhnya Rabbku Mahalembut terhadap apa yang Dia kehendaki.”) Maksudnya, bila menghendaki sesuatu, maka Allah menyiapkan sarana dan sebabnya, mentakdirkan dan memudahkannya.

Inna Huu Huwal ‘aliimu (“Sesungguhnya Dia-lah yang Mahamengetahui”) apa yang baik bagi hamba-Nya; alhakiim (“Lagi Mahabijaksana”) dalam segala perkataan, perbuatan, qadla’ dan qadar-Nya, dan segala yang dipilih dan dikehendaki-Nya.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nahl ayat 98-100

18 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nahl (Lebah)
Surah Makkiyyah; surah ke 16: 128 ayat

tulisan arab alquran surat an nahl ayat 98-100“Apabila kamu membaca al-Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. (QS. 16:98) Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Rabbnya. (QS. 16:99) Sesungguhnya kekuasaannya (syaitan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah. (QS. 16:100)” (an-Nahl: 98-100)

Ini merupakan perintah dari Allah Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya melalui lisan Nabi-Nya, Muhammad, yaitu jika mereka akan membaca al-Qur’an, maka hendaklah mereka meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. Perintah ini bersifat anjuran, bukan kewajiban. Kesepakatan mengenai hal itu diceritakan oleh Abu Ja’far bin Jarir dan imam-imam lainnya. Hadits yang berkenaan dengan permohonan perlindungan ini telah kami kemukakan sebelumnya pada pembahasan pertama. Segala puji dan sanjungan hanya milik Allah.

Firman-Nya: innaHuu laisa laHuu sulthaanun ‘alal ladziina aamanuu wa ‘alaa rabbiHim yatawakkaluun (“Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Rabbnya.”) Ats-Tsauri mengatakan bahwa syaitan itu tidak
memiliki kekuasaan atas mereka (orang yang beriman dan bertawakkal kepada Rabbnya) untuk menjatuhkan mereka ke dalam dosa yang mereka tidak bisa bertaubat darinya. Sedangkan yang lainnya mengatakan, artinya, tidak ada hujjah bagi syaitan atas mereka. Yang lain lagi mengatakan, yang demikian itu sama seperti firman-Nya: “Kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlish di antara mereka.” (QS. Al-Elijr: 40)

innamaa sulthaanuHuu ‘alal ladziina yatawallaunaHu (“Sesungguhnya kekuasaannya [syaitan] banyalah atas orang-orang yang menjadikannya sebagai pemimpin.”) Mujahid mengatakan: “Yakni, mentaatinya [syaitan].” Ulama lainnya mengatakan: “Mereka menjadikannya sebagai pelindung selain Allah:
walladziina Hum biHii musyrikuun (“Dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah.”) Maksudnya, mereka menyekutukan syaitan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala. Huruf ba’ bisa jadi sebagai ba’ sababiyyah, artinya, karena ketaatan mereka kepada syaitan, mereka menjadi musyrik kepada Allah Ta’ala.
Uama lainnya mengatakan bahwa artinya, syaitan itu bersekutu dengan mereka dalam harta benda dan anak-anak.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Israa’ Ayat 100

14 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Israa’
(Memperjalankan di Malam Hari)
Surah Makkiyyah; surah ke 17: 111 ayat

tulisan arab alquran surat al israa ayat 100“Katakanlah: ‘Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Rabb-ku, niscaya perbendabaraan itu kamu tahan karena takut membelanjakannya. Dan adalah manusia itu sangat kikir.” (QS. Al-Israa’: 100)

Allah berfirman kepada Rasul-Nya, Muhammad saw, katakanlah hai Muhammad kepada mereka: “Seandainya kalian hai sekalian manusia, dapat menguasai berbagai perbendaharaan Allah, niscaya kalian menahannya karena takut untuk menginfakkannya.”

Ibnu `Abbas dan Qatadah berkata: “Yakni takut miskin. Dengan kata lain, takut perbendaharaan itu akan lenyap, padahal sebenarnya ia tidak akan pernah habis untuk selamanya, karena sesungguhnya yang demikian itu sudah merupakan karakter dan sifat kalian.”

Oleh karena itu, Allah k berfirman: wa kaanal insaanu qatuuran (“Dan adalah manusia itu sangat kikir.”) Berkata Ibnu `Abbas dan’Qatadah: “Qatur ialah sangat kikir.” Dan firman Allah Ta’ala: “Ataukab mereka mempunyai bahagian dari kekuasaan? Walaupun ada, mereka tidak akan memberikan sedikit pun (kebajikan) kepada manusia.” (QS. An-Nisaa’: 53).

Maksudnya, seandainya mereka mempunyai bagian dalam menjalankan kekuasaan Allah, niscaya mereka tidak akan memberi sesuatu pun kepada seorang pun walau sedikit saja. Dan Allah Ta’ala telah menyifati manusia seperti adanya mereka, kecuali orang-orang yang diberi taufik dan hidayah. Sesungguhnya kikir dan bakhil, juga gelisah, merupakan sifat manusia. Hal itu sekaligus menunjukkan kemurahan, kedermawanan dan kebaikan-Nya.

Di dalam kitab ash-Shahihain telah ditegaskan, bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda: “Tangan Allah penuh dengan kekayaan, yang tidak akan berkurang oleh nafkah para dermawan pada malam dan siang hari. Tidakkah kalian mengetahui, apa yang Dia nafkahkan sejak penciptaan langit dan bumi, sama sekali tidak mengurangi apa yang ada di tangan kanan-Nya?”

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 100-101

6 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan)
Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat

tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 100-101“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi al-Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman. (QS. 3:100). Bagaimana kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya is telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. 3:101)

Allah memperingatkan hamba-hamba-Nya yang beriman agar tidak mentaati sekelompok dari Ahli Kitab, yang dengki terhadap orang-orang yang beriman atas keutamaan yang diberikan Allah serta pengutusan Rasul-Nya yang dikaruniakan-Nya kepada mereka.

Lalu Allah berfirman, wa kaifa takfuruun wa antum tutlaa ‘alaikum aayaatullaaHi wa fii kum rasuuluHu (“Bagaimanakah kamu [sampai] menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepadamu dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengahmu?”) Yakni bahwa kekafiran jauh dari kalian dan tidak mungkin kalian melakukannya karena ayat-ayat Allah turun kepada Rasul-Nya pada malam dan siang hari, beliau pun membacakan dan menyampaikannya kepada kalian.

Ini seperti firman-Nya yang artinya: “mengapa kamu tidak beriman kepada Allah padahal Rasul menyeru kamu supaya beriman kepada Rabb-mu. Dan sesungguhnya Dia telah mengambil perjanjianmu jika kamu adalah orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Hadiid: 8)

Selanjutnya Allah berfirman, wa may ya’tashim billaaHi faqad Hudiya ilaa shiraathim mustaqiim (“Barangsiapa yang berpegang teguh kepada [agama] Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”) Artinya, dengan demikian itu, maka berpegang teguh kepada Allah dan tawakkal kepada-Nya merupakan sendi untuk mendapatkan hidayah, bekal untuk menjauhi kesesatan, sarana untuk menuju kepada kebenaran dan jalan lurus mencapai tujuan.

&