Tag Archives: 102

Tafsir Ibnu Katsir Surah At-Taubah ayat 102

4 Nov

Tafsir Ibnu Katsir Surah At-Taubah ayat 102
Tafsir Al-Qur’an Surah At-Taubah (Pengampunan)
Surah Madaniyyah; surah ke 9: 129 ayat

tulisan arab alquran surat at taubah ayat 102

“Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka yang mencampurbaurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima tobat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (At-Taubah ayat 102)

Setelah Allah menjelaskan keadaan orang-orang munafik yang tidak ikut berperang karena tidak suka berjihad, dan mendustakan serta meragu­kannya, maka Allah menerangkan tentang keadaan orang-orang yang berdosa, yaitu mereka yang tidak ikut berjihad karena malas dan cenderung kepada keadaan yang santai, padahal mereka beriman dan membenarkan perkara yang hak.

Allah Swt. berfirman:

{وَآخَرُونَ اعْتَرَفُوا بِذُنُوبِهِمْ}

Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka. (At-Taubah: 102)

Maksudnya, mereka mengakui dosa-dosa yang mereka lakukan terhadap Tuhannya, tetapi mereka mempunyai amal perbuatan lain yang saleh. Mereka mencampurbaurkan amal yang baik dan yang buruk. Mereka adalah orang-orang yang masih berada di bawah pemaafan dan pengam­punan Allah Swt.

Ayat ini sekalipun diturunkan berkenaan dengan orang-orang ter­tentu, tetapi pengertiannya umum mencakup seluruh orang yang berbuat dosa lagi bergelimang dalam kesalahannya, serta mencampurbaurkan amal baik dan amal buruknya, hingga diri mereka tercemari oleh dosa-dosa.

Mujahid mengatakan, sesungguhnya ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abu Lubabah, yaitu ketika ia berkata kepada Bani Quraizah melalui isyarat tangannya yang ditujukan ke arah lehernya, dengan maksud bahwa perdamaian yang diketengahkan oleh Nabi Saw. terhadap mereka akan membuat mereka tersembelih.

Ibnu Abbas telah mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: dan (ada pula) orang-orang lain. (At-Taubah: 102) Menurutnya ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abu Lubabah dan sejumlah orang dari kalangan teman-temannya yang tidak ikut perang dengan Rasulullah Saw. dalam Perang Tabuk.

Menurut sebagian ulama, mereka terdiri atas Abu Lubabah dan lima orang temannya. Sedangkan pendapat yang lainnya lagi mengatakan tujuh orang bersama Abu Lubabah, dan menurut yang lainnya lagi adalah sembilan orang bersama Abu Lubabah.

Ketika Rasulullah Saw. kembali dari perangnya, mereka meng­ikatkan diri ke tiang-tiang masjid dan bersumpah bahwa tidak boleh ada orang yang melepaskan mereka kecuali Rasulullah Saw. sendiri.

Ketika Allah Swt. menurunkan ayat ini, yaitu firman-Nya: Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka. (At-Taubah: 102) Maka Rasulullah Saw. melepaskan ikatan mereka dan memaafkan mereka.

قَالَ الْبُخَارِيُّ: حَدَّثَنَا مُؤمَّل بْنُ هِشَامٍ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، حَدَّثَنَا عَوْفٌ، حَدَّثَنَا أَبُو رَجَاءٍ، حَدَّثَنَا سَمُرَة بْنِ جُنْدَب قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَنَا: “أَتَانِي اللَّيْلَةَ آتِيَانِ فَابْتَعَثَانِي فَانْتَهَيْنَا إِلَى مَدِينَةٍ مَبْنِيَّةٍ بِلَبِنٍ ذَهَبٍ ولَبِن فِضَّةٍ، فَتَلَقَّانَا رِجَالٌ شَطْر مِنْ خَلْقِهِمْ كَأَحْسَنِ مَا أَنْتَ رَاء، وَشَطْرٌ كَأَقْبَحِ مَا أَنْتَ رَاءٍ، قَالَا لَهُمْ: اذْهَبُوا فَقَعُوا فِي ذَلِكَ النَّهْرِ. فَوَقَعُوا فِيهِ، ثُمَّ رَجَعُوا إِلَيْنَا قَدْ ذَهَبَ ذَلِكَ السُّوءُ عَنْهُمْ، فَصَارُوا فِي أَحْسَنِ صُورَةٍ، قَالَا لِي: هَذِهِ جَنَّةُ عَدْنٍ، وَهَذَا مَنْزِلُكَ. قَالَا أَمَّا الْقَوْمُ الَّذِينَ كَانُوا شَطر مِنْهُمْ حَسَن وَشَطْرٌ مِنْهُمْ قَبِيحٌ، فَإِنَّهُمْ خَلَطُوا عَمَلًا صَالِحًا وَآخَرَ سَيِّئًا، فَتَجَاوَزَ اللَّهُ عَنْهُمْ”.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muammal ibnu Hisyam, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Auf, telah menceritakan kepada kami Abu Raja, telah menceritakan kepada kami Samurah ibnu Jundub yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. bersabda kepada kami: Tadi malam aku kedatangan dua orang, keduanya membawaku pergi, dan akhirnya keduanya membawaku ke suatu kota yang dibangun dengan bata emas dan bata perak. Lalu kami disambut oleh banyak kaum lelaki yang separo dari tubuh mereka berupa orang yang paling tampon yang pernah engkau lihat,. sedangkan separo tubuh mereka berupa orang yang paling buruk yang pernah engkau lihat. Lalu keduanya berkata kepada mereka ‘Pergilah kalian dan masukkanlah diri kalian ke sungai itu!” Maka mereka memasukkan diri ke dalam sungai itu. Kemudian mereka kembali kepada kami. sedangkan tampang yang buruk itu telah lenyap dari mereka, sehingga mereka secara utuh dalam tampang yang sangat tampan. Kemudian keduanya berkata kepadaku.”Ini adalah surga ‘Adn, dan ini adalah tempatmu.” Keduanya mengatakan, “Adapun mengenai kaum yang separo dari tubuh mereka berpenampilan baik dan separo yang lainnya berpenampilan buruk, karena sesungguhnya mereka telah mencampurbaurkan amal yang saleh dan amal lainnya yang buruk, lalu Allah memaafkan mereka..

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari secara ringkas dalam tafsir ayat ini.

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Maa-idah ayat 100-102

26 Jun

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Maa-idah (Hidangan)
Surah Madaniyyah; surah ke 5: 120 ayat

tulisan arab alquran surat al maidah ayat 100-102“100. Katakanlah: ‘Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, Maka bertakwalah kepada Allah Hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.’ 101. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al Quran itu diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu, Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. 102. Sesungguhnya telah ada segolongsn manusia sebelum kamu menanyakan hal-hal yang serupa itu (kepada Nabi mereka), kemudian mereka tidak percaya kepadanya.” (Al-Maaidah: 100-102)

Allah berfirman kepada Rasul-Nya, Muhammad saw.: Qul (“Katakanlah”) hai Muhammad: laa yastawil khabiitsu wath thayyibu wa lau a’jabaka (“Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun menarik hatimu.”) hai sekalian manusia, kats-ratul khabiits (“Banyaknya yang buruk”) yakni bahwa sesuatu yang halal lagi bermanfaat dan berjumlah sedikit adalah lebih baik bagi kalian daripada hal yang haram lagi berbahaya yang berjumlah banyak.

Fat taqullaaHa yaa ulil albaab (“Maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang yang berakal”) maksudnya, hai orang-orang yang berakal yang sehat dan normal, hindari dan tinggalkanlah hal-hal yang haram, serta berpuas diri dari merasa cukuplah dengan hal-hal yang halal.
La’allakum tuflihuun (“Agar kamu mendapat keberuntungan”) yaitu di dunia dan di akhirat.

Yaa ayyuHal ladziina aamanuu laa tas-aluu ‘an asy-yaa-a in tubda lakum tasu’kum (“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan [kepada Muhammad] hal-hal yang tidak diterangkan kepadamu, niscaya menyusahkanmu.”) hal ini merupakan pendidikan dari Allah bagi hamba-hamba-Nya yang beriman. Allah melarang mereka menanyakan hal-hal yang tidak bermanfaat bagi mereka. karena jika hal itu diterangkan kepada mereka, mungkin akan menyusahkan mereka, dan menjadikan orang yang mendengarnya merasa keberatan.

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Anas bin Malik, ia berkata: Nabi berkhutbah yang belum pernah aku mendengarnya sama sekali sebelumnya, beliau bersabda: “Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.”
Anas bin Malik melanjutkan: Maka para sahabat beliau menutupi wajah mereka seraya menangis. Kemudian ada seseorang yang bertanya: “Siapakah ayahku?” Beliau menjawab: “Si Fulan.” Maka turunlah ayat ini: laa yas-aluu ‘an asy-yaa-a (“Janganlah kamu menanyakan [kepada Nabi mu] hal-hal….”
(Hadits tersebut diriwayatkan juga oleh Muslim, Ahmad, at-Tirmidzi dan an-Nasa-i)

Mengenai firman-Nya: Yaa ayyuHal ladziina aamanuu laa tas-aluu ‘an asy-yaa-a in tubda lakum tasu’kum (“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan [kepada Muhammad] hal-hal yang tidak diterangkan kepadamu, niscaya menyusahkanmu.”) Ibnu Jarir mengatakan dari Qatadah: Dia menceritakan kepada kami bahwa Anas bin Malik pernah mengabarkan kepadanya: Para sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah saw. sehingga mereka terlalu berlebihan dalam bertanya. Lalu pada suatu hari beliau menemui mereka, kemudian beliau menaiki mimbar seraya bersabda: “Tidaklah kalian bertanya kepadaku pada hari ini tentang sesuatu, melainkan aku akan menjelaskannya kepada kalian.”

Maka para sahabat Rasulullah saw merasa takut akan mendapatkan suatu perintah yang telah diturunkan. Lalu aku tidak menoleh ke kanan maupun ke kiri melainkan aku melihat setiap orang menyembunyikan kepalanya di balik kainnya seraya menangis. Lalu muncullah seseorang, yang mana ia dicela dan diseru bukan dengan nama ayahnya, kemudian bertanya: “Wahai Nabiyullah [Nabi Allah], siapakah ayahku?” Beliau menjawab: “Ayahmu adalah Hudzaifah.”

Lebih lanjut Anas menceritakan, kemudian ‘Umar bangkit dan berkata: “Kami ridla Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Rasul, dan berlindung kepada Allah –atau ia [‘Umar] mengucapkan: “Aku berlindung kepada Allah –dari keburukan fitnah.”

Selanjutnya Anas menuturkan: maka Rasulullah saw. bersabda: “Aku belum pernah sama sekali menyaksikan kebaikan dan keburukan seperti hari ini. Telah digambarkan kepadaku surga dan neraka sampai aku dapat melihat keduanya tanpa dinding penghalang.”
(Dikeluarkan oleh al-Bukhari dan Muslim melalui jalan Sa’id)

Lahiriyah ayat di atas menunjukkan larangan menanyakan sesuatu, yang jika diberitahukan kepada seseorang hanya akan menjadikannya merasa kesusahan, maka yang lebih baik adalah menghindari dan meninggalkannya.

Sungguh amat baik hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda kepada para sahabat beliau: “Janganlah ada seseorang yang menyampaikan kepadaku sesuatu tentang orang lain. Aku lebih suka menemui kalian, sementara itu hatiku dalam keadaan bersih.” (hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi)

Firman-Nya: wa in tas-aluu ‘anHaa hiina yunazzalul qur-aanu tubda lakum (“Dan jika kamu menanyakan pada waktu al-Qur’an itu sedang diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu.”)
Maksudnya jika kalian menanyakan tentang sesuatu yang kalian telah dilarang untuk menanyakannya ketika diturunkan wahyu kepada Rasulullah saw, wahyu itu akan menjelaskan kepada kalian.

Kemudian Allah berfirman: ‘afallaaHu ‘anHaa (“Allah memaafkan [kamu] tentang hal-hal itu”) maksudnya hal-hal yang telah berlalu dari kalian sebelum itu. wallaaHu ghafuurun haliim (“Dan Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang”)

Ada yang menyatakan, bahwa maksud firman Allah: wa in tas-aluu ‘anHaa hiina yunazzalul qur-aanu tubda lakum (“Dan jika kamu menanyakan pada waktu al-Qur’an itu sedang diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu.”) yaitu janganlah kalian menanyakan segala sesuatu yang kalian memang ingin menyegerakannya, karena mungkin dengan pertanyaan itu akan turun kepada kalian keberatan dan kesempitan.

Diriwayatkan dalam sebuah hadits: “Orang Muslim yang paling besar kesalahannya adalah orang yang menanyakan tentang sesuatu yang tidak diharamkan sebelumnya, lalu menjadi haram serbab pertanyaannya tersebut.” (Muttafaq ‘alaiHi)

Tetapi jika al-Qur’an menurunkan perkara itu secara global lalu kalian menanyakan penjelasannya, pada saat itu akan dijelaskan kepada kalian. Karena kalian memang membutuhkannya.

‘afallaaHu ‘anHaa (“Allah memaafkan [kamu] tentang hal-hal itu.”) maksudnya apa-apa yang tidak Allah sebutkan di dalam kitab-Nya, adalah dari sesuatu yang Allah maafkan. Maka diamlah kalian darinya, sebagaimana Allah diam.

Disebutkan dalam hadits shahih dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda: “Janganlah kalian bertanya kepadaku mengenai apa yang aku diamkan pada kalian. Sesungguhnya binasanya orang-orang sebelum kalian, karena mereka banyak bertanya dan menyalahi Nabi-Nabi mereka.”

Dalam hadits shahih juga disebutkan: “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban, maka janganlah kalian menyia-nyiakannya. Allah juga menetapkan beberapa batasan maka janganlah kalian melampauinya. Allah juga mengharamkan beberapa hal maka janganlah kalian melanggarnya. Dan Allah mendiamkan beberapa hal sebagai rahmat bagi kalian, bukan karena lupa, maka janganlah kalian menanyakannya.”

Setelah itu firman Allah: qad sa-alaHaa qaumum min qablikum tsumma ash-bahuu biHaa kaafiriin (“Sesungguhnya telah ada segolongan manusia sebelum kamu, menanyakan hal-hal yang serupa itu [kepada Nabi mereka], kemudian mereka tidak percaya kepadanya.”)

Maksudnya: ada suatu kaum sebelum kalian yang menanyakan hal-hal yang dilarang, lalu diberikan jawaban kepada mereka atas pertanyaan tersebut, tetapi setelah itu mereka tidak mempercayainya. Sehingga dengan demikian mereka menjadi kafir, yaitu sebab pertanyaan tersebut. Maksudnya, mereka diberi penjelasan, tetapi mereka tidak memanfaatkan hal itu karena mereka menanyakan hal itu bukan untuk mencari petunjuk, tetapi hanya sebagai bentuk keingkaran dan pembangkangan.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nisaa’ ayat 102

27 Feb

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nisaa’ (Wanita)
Surah Madaniyyah; surah ke 4: 176 ayat

tulisan arab alquran surat an nisaa' ayat 102“Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan serakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan kedua yang belum shalat, lalu shalatlah mereka denganmu dan hendaklah mereka bersiap-siaga dan menyandang senjata. Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus. Dan tidak ada dosa atasmu meletakkan senjata-senjatamu, jika mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena kamu memang sakit; dan siap-siagalah kamu. Sesungguhnya Allah telah menyediakan adzab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu.” (QS. an-Nisaa’: 102)

Shalat khauf mempunyai banyak cara (macam). Terkadang musuh berada di arah kiblat dan terkadang berada bukan di arah kiblat. Shalatnya terkadang empat rakaat, terkadang tiga rakaat seperti Maghrib dan terkadang dua seperti Shubuh dan shalat safar. Terkadang mereka shalat berjama’ah dan terkadang perang sedang berkecamuk, sehingga mereka tidak sanggup berjama’ah, bahkan shalat sendiri-sendiri menghadap kiblat atau tidak, serta berjalan atau naik kendaraan dan pada keadaan seperti (perang), mereka boleh berjalan, keadaan ini sambil memukul dengan berturut-turut dalam keadaan shalat.

Sebagian ulama ada yang berkata bahwa dalam keadaan demikian mereka shalat hanya satu rakaat, berdasarkan hadits Ibnu `Abbas yang lalu. Itulah pendapat Ahmad bin Hanbal. Ada pula yang membolehkan menta’khirkan shalat karena udzur peperangan dan pertempuran, sebagaimana Nabi mengakhirkan shalat Zhuhur dan `Ashar pada perang Ahzab, di mana beliau shalat setelah matahari terbenam. Kemudian setelah itu, shalat Maghrib dan `Isya. Sebagaimana perkataan beliau sesudahnya (sesudah perang Ahzab), pada perang Bani Quraizhah ketika tentara dipersiapkan: “Kalian tidak boleh shalat Ashar kecuali di Bani Quraizhah.” Lalu mereka mendapatkan waktu shalat di tengah jalan. Sebagian orang berpandangan, “Rasulullah tidak menghendaki dari kita kecuali agar kita mempercepat perjalanan, dan tidak bermaksud agar kita mengakhirkan shalat dari waktunya. Maka mereka shalat pada waktunya dijalan.” Sedangkan yang lain melaksanakan shalat `Ashar di Bani Quraizhah setelah tenggelam.” Rasulullah tidak mencela seorang pun di antara dua kelompok itu.

Kami telah membicarakan hal ini di dalam kitab Sirah dan telah pula kami jelaskan bahwa orang-orang yang shalat `Ashar pada waktunya lebih mendekati kebenaran, sekalipun pendapat yang lain dimaafkan pula. Hujjah (Mereka) dalam hal ini, dalam udzur mereka menta’khirkan shalat, adalah karena jihad dan penyegeraan (mereka) dalam mengepung orang-orang yang melanggar perjanjian terhadap sekelompok orang-orang Yahudi yang terkutuk. Sedangkan Jumhur berkata: “Semua ini dinasakh dengan shalat khauf, karena waktu itu shalat khauf belum turun. Maka ketika ia turun, berarti menasakh ta’khir shalat. Pendapat ini lebih jelas pada hadits Abu Sa’id al-Khudri yang diriwayatkan oleh asy-Syafi’i dan Ahlus Sunan.

Wa idzaa kunta fiiHim fa aqamta laHumush shalaata (“Dan apabila kamu berada ditengah mereka, lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka.”) Yaitu engkau shalat bersama mereka menjadi imam dalam shalat khauf. Keadaan (qashar yang dikemukakan) ini berbeda dengan keadaan pertama. Karena pada keadaan yang pertama shalat diqashar hingga satu rakaat, sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadits (sendiri-sendiri, berjalan kaki dan berkendaraan, menghadap kiblat dan tidak menghadap kiblat).

Kemudian, Dia menyebutkan situasi berjama’ah dan bermakmum dengan satu imam. Alangkah baiknya pengambilan dalil yang dilakukan oleh orang yang berpendapat wajibnya shalat berjama’ah dengan ayat yang mulia ini, di mana banyak perbuatan yang diringankan karena berjama’ah. Seandainya shalat berjama’ah itu bukan kewajiban, niscaya tidak mungkin dibolehkan hal itu. Sedangkan orang yang mengambil dalil dengan ayat ini bahwa shalat khauf dinasakh setelah (wafatnya) Rasulullah saw. karena berdasarkan firman-Nya: wa idzaa kunta fiiHim (“Apabila kamu berada di tengah-tengah mereka”) sehingga setelah beliau tidak ada, maka cara seperti ini hilang.

Sesungguhnya, penyimpulan seperti ini merupakan cara pengambilan dalil yang lemah. Tertolaknya pendapat ini sama dengan tertolaknya pendapat orang yang enggan berzakat, di mana ia berdalil dengan firman-Nya, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdo’alah untuk mereka, sesungguhnya do’a mu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka.” (QS. At-Taubah: 103).

Mereka mengatakan bahwa kita tidak perlu membayar zakat kepada seorangpun setelah Nabi saw. wafat. Akan tetapi kita langsung mengeluarkannya kepada orang yang kita pandang do’anya menenteramkan kita. Dalam hal ini, para Sahabat menolak pendapat mereka dan menolak cara pendalilan mereka, serta memaksa mereka untuk membayar zakat dan memerangi orang yang enggan membayarnya diantara mereka.

Pertama-tama kita akan menceritakan sebab turunnya ayat yang mulia ini, sebelum menceritakan cara-caranya. Dari Abu `Iyasy az-Zarqa ia berkata: “Dahulu kami bersama Rasulullah saw. di `Asfan, di saat kaum musyrikin pimpinan Khalid bin al-Walid berhadapan dengan kami. Sedangkan mereka berada di arah kiblat, lalu Nabi saw. shalat Zhuhur bersama kami. Mereka berkata: `Sesungguhnya mereka dalam keadaan dimana seandainya kita bisa mendapatkan kesempatan lengah mereka. Kemudian mereka berkata: `Sekarang telah datang waktu shalat yang mereka lebih cintai dibandingkan anak-anak dan jiwa mereka’. Maka Jibril turun membawa ayat-ayat ini antara Zhuhur dan `Ashar: wa idzaa kunta fiiHim (“Apabila kamu berada ditengah-tengah mereka.”) Maka waktunya tiba, dan Rasulullah saw. memerintahkan mereka untuk mengambil senjata, lalu kami membuat dua shaf di belakang beliau. Kemudian beliau ruku’ dan kami pun ruku’ seluruhnya, lalu beliau bangkit dan kami pun bangkit seluruhnya. Kemudian Nabi sujud dengan shaf yang pertama, sedangkan shaf kedua berdiri menjaga mereka. Ketika shaf pertama selesai sujud dan berdiri, maka shaf kedua sujud menempati shaf pertama, kemudian setelah itu mereka menempati kembali shaf masing-masing, lalu beliau ruku’ bersama mereka seluruhnya. Kemudian beliau bangkit dan mereka bangkit seluruhnya, lalu di saat Nabi saw. sujud dan (diikuti) shaf yang pertama, maka shaf kedua berdiri menjaga mereka. Di saat mereka duduk, maka shaf kedua duduk, lalu sujud. Kemudian beliau salam, lalu pergi. Nabi saw. melaksanakan hal tersebut dua kali. Satu kali di `Asfan dan satu kali di tempat Bani Sulaim.”

Hadits ini diriwayatkan pula oleh Abu Dawud dan an-Nasa’idari hadits Syu’bah dan `Abdul `Aziz bin `Abdush shamad, isnad hadits ini shahih dan memiliki banyak saksi.

Di antaranya adalah riwayat al-Bukhari, dari Ibnu `Abbas, ia berkata: “Nabi berdiri dan diiringi oleh para Sahabat. Di saat beliau takbir, merekapun takbir. Di saat beliau ruku’, sebagian di antara mereka rukuk, kemudian beliau sujud dan mereka sujud. Lalu beliau berdiri untuk raka’at kedua, maka jama’ah yang pertama sujud tadi bangun menjaga saudara-saudara mereka. Lalu datanglah bagian yang lain, lalu mereka ruku’ dan sujud bersama beliau. Semua orang berada dalam shalat, akan tetapi sebagian mereka menjaga sebagian lainnya.”

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Sulaiman bin Qais al-Yasykuri bahwa dia bertanya kepada Jabir bin `Abdillah tentang qashar shalat, pada hari apakah hal itu diturunkan atau hari apakah itu? Jabir berkata: “Kami bertolak untuk menghadang satu kafilah Quraisy yang datang dari Syam. Hingga setibanya kami di Nikhlah, seorang laki-laki datang kepada Nabi dan berkata: ‘Hai Muhammad, apakah engkau takut padaku?’ Beliau menjawab: `Tidak.’ Dia berkata: `Siapakah yang dapat menghalangimu dariku?’ Beliau menjawab: ‘Allah yang melindungiku darimu.’ Lalu beliau menghunus pedangnya laki-laki itu digertak dan diancam, lalu beliau menyuruh kami berangkaat dan beliau sudah mengambil senjata. Kemudian diserukan panggilan shalat. Maka Rasulullah saw. shalat dengan satu kelompok, sedangkan kelompok lain menjaga mereka. Beliau saw. shalat dengan kelompok pertama dua rakaat. Kemudian kelompok pertama mundur ke belakang untuk berjaga, lalu datang kelompok yang sebelumnya dan berjaga, maka beliau shalat bersama mereka dua rakaat. Sedangkan kelompok yang lain berjaga. Kemudian beliau salam. Nabi shalat empat rakaat. Sedangkan kelompok tadi masing-masing dua rakaat. Pada waktu itulah Allah menurunkan ayat tentang qashar shalat dan memerintahkan kaum mukminm untuk membawa senjata.”

Hadits ini diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Jabir bin `Abdillah, bahwa Rasulullah saw. melaksanakan shalat khauf bersama para Sahabat. Dalam hal ini, ada yang berada di depan beliau dan ada shaf yang di belakang beliau. Beliau shalat ma shaf yang di belakang satu rakaat dan dua sujud. Kemudian shaf belakang maju menempati shaf depan yang belum shalat. Sedangkan shaf depan mundur untuk shalat bersama Rasulullah satu rakaat dan dua sujud kemudian beliau salam. Maka Nabi shalat dua rakaat, sedangkan mereka masing-masing satu raka’at.

Hadits ini diriwayatkan pula oleh an-Nasai. Hadits ini memiliki banyak jalan dari Jabir, dan terdapat dalam kitab Shahih Muslim melalui sanad yang lain, dengan lafazh yang lain pula. Banyak ahli hadits yang meriwayatkan dari Jabir dalam kitab-kitab Shahih Sunan, dan Shahih Musnad.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Salim, dari bapaknya, ia berkata: wa idzaa kunta fiiHim fa aqamta Humush shalaata (“jika engkau berada bersama mereka, lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama mereka”) yaitu shalat khauf. Dan Rasulullah shalat dengan salah satu dari dua kelompok satu rakaat dan kelompok lain menghadapi musuh. Kemudian kelompok yang berhadapan dengan musuh itu shalat bersama Rasullullah satu rakaat, kemudian beliau salam bersama mereka. Kemudian setiap kelompok berdiri shalat satu rakaat, satu rakaat.

Hadits ini diriwayatkan oleh jama’ah dalam kitab-kitab mereka dari jalan Ma’mar. Hadits ini memiliki banyak jalan dari banyak Sahabat.

Sedangkan perintah membawa senjata di waktu shalat khauf, menurut sekelompok para ulama adalah wajib berdasarkan zhahir ayat. Hal itu adalah salah satu pendapat dari Imam asy-Syafi’i. Hal tersebut ditunjukkan oleh firman Allah: walaa junaaha ‘alaikum in kaana bikum adzam mim matharin au kuntum mardlaa an tadla’uu aslihatakum wa khudzuu hidz-rakum (“Dan tidak ada dosa atasmu meletakkan senjata-senjatarnu, jika kamu mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena kamu memang sakit; dan siap-siagalah kamu.”) Di mana saja kalian berada, hendaklah selalu siap siaga. Jika kalian membutuhkannya, kalian dapat langsung memakainya tanpa kesulitan.

innallaaHa a-‘adda lil kaafiriina ‘adzaabam muHiinan (“Sesungguhnya Allah telah menyediakan adzab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu.”)

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yusuf ayat 102-104

27 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Yusuf
Surah Makkiyyah; surah ke 12: 111 ayat

tulisan arab alquran surat yusuf ayat 102-104“Demikian itu (adalah) di antara berita-berita yang ghaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), padahal kamu tidak berada pada sisi mereka, ketika mereka memutuskan rencananya (untuk memasukkan Yusuf ke dalam sumur) dan mereka sedang mengatur tipu daya. (QS. 12:102) Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman walaupun kamu sangat menginginkannya. 12:103) Dan kamu sekali-kali tidak meminta upah kepada mereka
(terbadap seruanmu ini), itu tidak lain hanyalah pengajaran bagi semesta alam. (QS. 12:104)” (Yusuf: 102-104)

Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi Muhammad setelah menceritakan saudara-saudara Yusuf, bagaimana Allah meninggikan Yusuf di atas mereka dan menjadikan untuknya akibat yang baik, kemenangan, kerajaan, dan kekuasaan, padahal mereka bermaksud berbuat kejahatan, kehancuran, dan kematian baginya.

Kisah ini dan kisah-kisah serupa adalah sebagian dari kabar ghaib yang terjadi pada masa lampau; nuuhiiHi ilaika (“Kami beritahukan kepadamu wahai Muhammad,”) karena di dalamnya terdapat suri tauladan bagimu, dan nasehat bagi orang-orang yang menyelisihimu. Wa maa kunta ladaiHim (“Padahal kamu tidak berada di sisi mereka”) tidak hadir di sisi mereka tidak pula menyaksikan mereka.

Idz ajma’uu amraHum (“Ketika mereka memutuskan rencana mereka”) untuk memasukkannya ke dalam sumur; wa Hum yamkuruun (“Dan mereka sedang mengatur tipu daya,”) terhadapnya (Yusuf), tetapi Kami memberitahukannya melalui wahyu yang diturunkan kepadamu, seperti firman Allah lainnya: “Padahal kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (mengundi),” (QS. Ali-‘Imran: 44)

Allah berfirman bahwa dia adalah Rasul-Nya dan diberitahukan-Nya berita-berita masa lampau yang mengandung suri tauladan dan keselamatan agama dan dunia bagi manusia. Walaupun demikian, tetap sebagian besar di antara mereka masih tidak mau beriman. Karena itu Allah berfirman: wa maa aktsarun naasi wa lau harashta bimu’miniin (“Dan sebagian besar manusia tidak beriman walau kamu sangat menginginkannya.”) ini seperti firman Allah: “Sebenarnya dalam hal demikian itu terdapat tanda (kekuasaan Allah) tetapi kebanyakan mereka tidak beriman (percaya).” (Asy-Syu’araa’: 8)

Firman Allah: wa maa tas-aluHum ‘alaiHi min ajrin (“Dan kamu sekali-kali tidak meminta upah.”) Maksudnya, kamu wahai Muhammad tidak meminta dari mereka upah sebagai imbalan dari nasehat dan seruan kepada kebaikan serta petunjuk ini, tetapi kamu melakukannya hanya karena mengharapkan ridha Allah dan kasih yang tulus kepada makhluk-Nya.

In Huwa illaa dzikrul lil ‘aalamiin (“Itu tidak lain hanyalah pengajaran bagi semesta alam”) agar mereka menjadikannya peringatan, petunjuk dan dapat selamat di dunia dan akhirat.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Israa’ Ayat 101-104

14 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Israa’
(Memperjalankan di Malam Hari)
Surah Makkiyyah; surah ke 17: 111 ayat

tulisan arab alquran surat al israa ayat 101-104“Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Musa sembilan buah mukjizat yang nyata, maka tanyakanlah kepada Bani Israil, tatkala Musa datang kepada mereka, lalu Fir’aun berkata kepadanya: ‘Sesungguhnya aku sangka kamu, hai Musa, seorang yang kena sihir.’ (QS. 17:101) Musa menjawab: ‘Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Rabb yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata; dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Fir’aun, seorang yang akan binasa.’ (QS. 17:102) Kemudian (Fir’aun) hendak mengusir mereka (Musa dan pengikut pengikutnya) dari bumi (Mesir) itu, maka Kami tenggelamkan dia (Fir’aun) serta orang-orang yang bersama-sama dia seluruhnya, (QS. 17:103) dan Kami berfirman sesudah itu kepada Bani Israil: ‘Diamlah di negeri ini, maka apabila datang masa berbangkit, niscaya Kami datangkan kamu dalam keadaan bercampur baur (dengan musuhmu).’ (QS. 17:104)” (al-Israa’: 101-104)

Allah memberitahukan bahwa Dia telah mengutus Musa as. dengan sembilan ayat yang menjelaskan tanda-tanda kekuasaan yang merupakan dalil-dalil pasti yang menunjukkan benarnya kenabian Musa dan kebenarannya pada apa yang ia sampaikan dari Yang mengutusnya kepada Fir’aun. Kesembilan mukjizat Musa’ tersebut adalah tongkat, tangan, bukit Thur, laut, topan, belalang, kutu, katak dan darah. Semuanya itu merupakan tanda-tanda kekuasaan-Nya yang sudah terrerinci. Demikian yang dikemukakan oleh Ibnu `Abbas: “Tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.” (QS. Al-A’raaf: 133)

Maksudnya, meskipun telah datang kepada mereka berbagai tanda-tanda kekuasaan tersebut dan bahkan secara langsung mereka melihatnya, namun mereka tetap kafir dan mengingkarinya karena kezhaliman dan kesombongan mereka, padahal hati mereka meyakini kebenarannya.

Demikian juga seandainya Kami penuhi orang-orang yang meminta kepadamu dan mengatakan: “Kami tidak akan beriman kepadamu sehingga kamu memancarkan mata air bagi kami di muka bumi,” niscaya mereka tidak akan memenuhi seruan dan tidak pula beriman kecuali jika Allah menghendaki.
Sebagaimana yang dikemukakan Fir’aun kepada Musa as, sedang ia telah menyaksikan salah satu dari tanda-tanda kekuasaan tersebut: “Sesungguhnya aku sangka kamu, hai Musa, seorang
yang kena sihir.” Ada yang mengatakan, hal itu berarti tukang sihir. Wallahu a’lam.

Oleh karena itu, Musa pun berkata kepada Fir’aun: laqad ‘alimta maa anzala Haa-ulaa-i illaa rabbus samaawaati wal ardli bashaa-ira (“Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang rnenurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Rabb Yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata.”) Maksudnya, sebagai,hujjah dan dalil atas kebenaran apa yang aku (Musa) bawa kepadamu.
Wa innii la-adhunnuka yaa fir’auna matsbuuran (“Dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Fir’aun, seorang yang akan binasa.”) Maksudnya, seorang yang hancur binasa. Demikian yang dikemukakan oleh Mujahid dan Qatadah. Sedangkan menurut Ibnu `Abbas, hal itu berarti orang yang terlaknat.

Semuanya itu menunjukkan bahwa yang dimaksudkan dengan Sembilan tanda-tanda kekuasaan adalah apa yang telah disebutkan di depan. WallaHu a’lam.

Firman-Nya: fa araada ay yastafizzaHum minal aardli (“Kemudian [Fir’aun] hendak mengusir mereka [Musa dan pengikut-pengikutnya] dari bumi [Mesir] itu,”) yakni, akan menyingkirkan dan melenyapkan mereka dari negeri tersebut.

Fa aghraqnaaHu wa mam ma’aHu jamii’aw wa qulnaa mim ba’diHii li banii israa-iilas kunul ardla (“Maka Kami tenggelamkan dia [Fir’aun] serta orang-orang yang bersama-sama dia seluruhnya. Dan Kami berfirman sesudah itu kepada Bani Israil: ‘Diamlah di negeri ini.’”)

Yang demikian itu merupakan berita gembira bagi Nabi Muhammad saw, mengenai pembebasan kota Makkah, padahal surat ini Makkiyyah dan turun sebelum Hijrah. Itulah yang terjadi, di mana penduduk Makkah berkeinginan keras untuk mengusir Rasulullah dari Makkah. Oleh karena itu, Allah , mewariskan Makkah kepada beliau, lalu beliau memasukinya kembali.

Demikian menurut dua pendapat yang masyhur, dan beliau mengalahkan penduduknya dan kemudian melepaskan mereka dengan penuh kasih sayang dan kemurahan. Sebagaimana Allah Ta’ala mewariskan bumi belahan barat dan timur kepada orang-orang mustadl’afiin (lemah) dari kalangan Bani Israil. Dan Dia mewariskan kepada mereka negeri, harta kekayaan, sawah, ladang, buah-buahan, dan berbagai simpanan Fir’aun. Sebagaimana yang difirmankan-Nya berikut ini: “Demikian halnya dan Kami anugerahkan semuanya itu kepada Bani Israil.” (QS. Asy-Syu’araa’: 59)

Sedangkan di sini Dia berfirman: wa qulnaa mim ba’diHii li banii israa-iilas kunul ardla wa idzaa jaa-a wa’dul aakhirati ji’naa bikum lafiifan (“Dan Kami berfirman sesudah itu kepada Bani Israil: ‘Diamlah di negeri ini, maka apabila datang masa berbangkit, niscaya Kami datangkan kamu dalam keadaan bercampur baur [dengan musuhmu].’”) Yakni, kalian dan musuh-musuh kalian secara keseluruhan. Ibnu `Abbas, Mujahid, Qatadah dan adh-Dhahhak mengatakan: “Kata lafiifan berarti jamii’an (semuanya).”

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 99-103

23 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 99-102“Dan Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu ayat-ayat yang jelas; dan tak ada yang ingkar kepadanya, melainkan orang-orang yang fasik. (QS. Al-Baqarah: 99) Patutkah (mereka ingkar kepada ayat-ayat Allah), dan Setiap kali mereka mengikat janji, segolongan mereka melemparkannya? bahkan sebagian besar dari mereka tidak beriman. (QS. Al-Baqarah: 100) Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa (Kitab) yang ada pada mereka, sebahagian dari orang-orang yang diberi kitab (Taurat) melemparkan kitab Allah ke belakang (punggung)nya, seolah-olah mereka tidak mengetahui (bahwa itu adalah kitab Allah). (QS. Al-Baqarah: 101) Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir ngerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan: ‘Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir.’ Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorang pun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya sendiri dengan sihir, kalau mereka mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 102) Sesungguhnya kalau mereka beriman dan bertakwa, (niscaya mereka akan mendapat pahala), dan sesungguhnya pahala dari sisi Allah adalah lebih baik, kalau mereka mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 103)

Mengenai firman Allah Tabaraka wa Ta’ala: laqad anzalnaa ilaika aayaatim bayyinaatin (“Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadmu ay`at-ayat yang jelas,”) Imam Abu Ja’far bin Jarir mengatakan, artinya Kami (Allah) telah menurunkan kepadamu, hai Muhammad, beberapa tanda yang sangat jelas yang menunjukkan kenabianmu.

Ayat-ayat itu adalah di antara berbagai ilmu orang-orang Yahudi yang di dalamnya tersembunyi bermacam-macam unsur rahasia berita mereka dan berita mengenai para pendahulu mereka dari kalangan Bani Israil, yang semuanya itu terkandung di dalam al-Qur’an. Selain itu, juga berita mengenai hal-hal yang yang dikandung oleh kitab-kitab mereka yang tidak diketahui kecuali oleh para pendeta dan pemuka agama mereka, serta hukum-hukum yang terdapat di dalam kitab Taurat yang diselewengkan dan diubah oleh para pendahulu mereka. Kemudian Allah memperlihatkan semua itu di dalam kitab (al-Qur’an) yang diturunkan kepada nabi-Nya, Muhammad saw.

Dalam hal itu terdapat ayat-ayat yang jelas bagi orang yang adil terhadap diri sendiri dan tidak membiarkannya binasa karena rasa dengki dan sikap melampaui batas. Orang yang memiliki fitrah yang lurus pasti akan membenarkan ayat-ayat yang jelas yang dibawa oleh nabi Muhammad saw. yang diperolehnya tanpa melalui proses belajar atau mengambil kabar dari seseorang.

Sebagaimana yang dikatakan adh-Dhahhak, dari Ibnu Abbas, mengenai firman-Nya: laqad anzalnaa ilaika aayaatim bayyinaatin (“Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadmu ay`at-ayat yang jelas,”), ia mengatakan, “Engkau yang membacakan dan memberitahukannya kepada mereka pada pagi dan petang dan di antara keduanya. Sedang dalam pandangan mereka, engkau adalah orang yang ummi, yang tidak dapat membaca kitab, tetapi engkau dapat memberitahukan apa yang ada pada mereka dengan tepat. Allah swt. mengatakan hal itu kepada mereka sebagai ibrah (pelajaran), bayan (penjelasan), dan menjadi hujjah (bukti) yang nyata jika mereka mengetahui.”

Muhammad bin Ishaq meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia menceritakan, baha Ibnu Shuriya al-Quthwaini pernah berkata kepada Rasulullah saw., “Hai Muhammad, engkau tidak datang kepada kami dengan membawa sesuatu yang kami ketahui. Dan Allah tidak menurunkan ayat yang jelas kepadamu sehingga kami dapat mengikutimu.”

Maka berkenaan dengan hal itu Allah menurunkan ayat: wa laqad anzalnaa ilaika aayaatim bayyinaatiw wa maa yakfuru biHaa illal faasiquun (“Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadmu ay`at-ayat yang jelas, dan tidak mengingkarinya kecuali orang-orang fasik”), ketika Rasulullah saw. diutus, dan beliau mengingatkan orang-orang Yahudi dan janji mereka kepada Allah serta perintah-Nya agar mereka beriman kepada Nabi Muhammad saw., Malik bin Shaif mengatakan: “Demi Allah, Allah tidak memerintahkan kami untuk beriman kepada Muhammad dan Allah juga tidak mengambil janji dari kami [untuk hal itu].”

Maka Allah pun menurunkan ayat: awa kullamaa ‘aaHaduu ‘aHdan nabadzaHuu fariiqum minHum (“Patutkan [mereka ingkar kepada ayat-ayat Allah], dan setiap kali mereka mengikat janji, segolongan mereka melemparkannya?”)

Sedangkan mengenai firman-Nya: bal aktsaruHum laa yu’minuun (“Bahkan sebagian besar dari mereka tidak beriman.”) Al-Hasan al-Bashri mengatakan, “Memang benar, tidak ada perjanjian yang mereka adakan melainkan mereka membatalkan dan melemparkannya, hari ini mereka berjanji, esok dibatalkannya.”
As-Suddi berkata: “Mereka tidak beriman kepada apa yang dibawa oleh Muhammad.” Dan Qatadah berkata: “Segolongan mereka melemparkannya”, maksudnya, segolongan mereka membatalkannya.

Ibnu Jarir mengatakan, asal kata “an-nabdzu” itu berarti melempar dan mencampakkan. Bertolak dari hal tersebut, kurma dan anggur yang ditaruh di air disebut “nabiidzun”. Abu Aswad ad-Du’ali pernah menuturkan pernah menuturkan:
“Aku melihat ke alamatnya lalu mencampakkannya, seperti engkau
mencampakkan sandalmu yang telah rusak.”

Aku (Ibnu Katsir) katakan; Allah swt. mencela kaum Yahudi karena mereka telah mencampakkan berbagai perjanjian, yang Dia meminta mereka agar berpegang teguh padanya serta menunaikan hak-hak-Nya. Oleh karena itu pada ayat berikutnya Allah mengungkapkan kedustaan mereka terhadap Rasul yang diutus kepada mereka dan kepada seluruh umat manusia, yang di dalam kitab-kitab mereka sudah tertulis mengenai sifat-sifat dan berita-berita mengenainya. Dan melalui kitab-kitab tersebut mereka telah diperintah untuk mengikuti, mendukung, dan menolongnya. Sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Yaitu orang-orang yang mengikuti Rasul, dan Nabi yang ummi yang namanya mereka dapati tertulis dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka.” (al-A’raaf: 157)

Dalam surat al-Baqarah ini, Allah berfirman: wa lam maa jaa-aHum rasuulum min ‘indillaaHi mushaddiqul limaa ma’ahum (“Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa [kitab] yang ada pada mereka.”) Maksudnya, sekelompok dari mereka melemparkan ke belakang kitab Allah yang berada di tangan mereka yang di dalamnya terdapat berita mengenai kedatangan Nabi Muhammad saw. Dengan pengertian lain, mereka meninggalkannya seolah-olah mereka tidak mengetahui sama sekali isinya. Kemudian mereka mengarahkan perhatiannya untuk belajar dan melakukan sihir. Oleh karena itu, mereka bermaksud menipu Rasulullah dan menyihirnya melalui sisir dan mayang kurma yang kering yang diletakkan di pinggir sumur Arwan. Penyihiran itu dilakukan oleh salah seorang Yahudi yang bernama Labid bin A’sham -semoga Allah melaknatnya dan mejelekkannya. Tetapi Allah , memperlihatkan hal itu kepada Rasul-Nya, Muhammad sekaligus menyembuhkan dan menyelamatkannya dari sihir tersebut. Sebagaimana hal itu telah diuraikan secara panjang lebar dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, diriwayatkan dari Aisyah Ummul Mukminin radhiallahuanha, yang insya Allah akan kami kemukakan pada pembahasan berikutnya.

Mengenai firman-Nya: wa lam maa jaa-aHum rasuulum min ‘indillaaHi mushaddiqul limaa ma’ahum (“Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa [kitab] yang ada pada mereka.”) As-Suddi mengatakan, “Ketika Muhammad saw. datang kepada mereka, mereka menentang dan menyerangnya dengan menggunakan kitab Taurat, dan ketika terbukti tidak ada pertentangan antara Taurat dengan al-Qur’an, maka mereka pun melemparkan Taurat. Kemudian mereka mengambil kitab Ashif dan sihir Harut dan Marut, yang jelas tidak sesuai dengan al-Qur’an. Itulah makna firman-Nya: ka-annaHum laa ya’lamuun (“Seolah-olah mereka tidak mengetahui.”)

Berkenaan dengan firman-Nya: ka-annaHum laa ya’lamuun (“Seolah-olah mereka tidak mengetahui.”) Qatadah mengatakan: “Sebenarnya kaum Yahudi itu mengetahui tetapi mereka membuang dan menyembunyikan pengetahuan itu dan mengingkarinya.”

Sedangkan sehubungan dengan firman-Nya: wat taba’uu maa tatluusy-syayaathiinu (“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan,”) di dalam tafsirnya, dari Ibnu Abbas, al-‘Aufi mengatakan, “Yaitu ketika kerajaan Nabi Sulaiman sirna, sekelompok jin dan manusia murtad dan mengikuti hawa nafsu mereka. Namun setelah Allah mengembalikan kerajaan itu kepada Nabi Sulaiman, maka orang-orang tetap berpegang pada agama seperti sediakala (Islam). Kemudian Nabi Sulaiman menyita kitab-kitab mereka dan menguburnya di bawah singgasananya. Setelah itu Nabi Sulaiman meninggal dunia, maka sebagian manusia dan jin menguasai kitab-kitab itu seraya mengatakan bahwa kitab ini berasal dari Allah yang diturunkan kepada Nabi Sulaiman, dan ia menyembunyikannya dari kami. Lalu mereka pun mengambil dan menjadikan kitab itu sebagai suatu ajaran.

Maka Allah swt. pun menurunkan firman-Nya: wa lam maa jaa-aHum rasuulum min ‘indillaaHi mushaddiqul limaa ma’ahum (“Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa [kitab] yang ada pada mereka.”) Mereka semua mengikuti hawa nafsu yang dibacakan oleh para syaitan. Hawa nafsu itu berupa alat-alat musik, permainan dan segala sesuatu yang menjadikan orang lupa berdzikir kepada Allah swt.

Dari Ibnu Abbas, Ibnu Abi Hatim meriwayatkan, “Ashif adalah juru tulis Nabi Sulaiman, ia mengetahui Ismul a’zham (nama yang paling agung). Dia mencatat segala sesuatu atas perintah Nabi Sulaiman, lalu menguburnya di bawah singgasananya. Setelah Nabi Sulaiman wafat, syaitan-syaitan itu mengeluarkan tulisan-tulisan itu kembali dan mereka menulis sihir dan kekufuran di antara setiap dua barisnya. Kemudian mereka mengatakan: `Inilah kitab pedoman yang diamalkan Sulaiman.’”

Lebih lanjut, Ibnu Abbas menuturkan: Sehingga orang-orang yang bodoh mengingkari Nabi Sulaiman as. dan mencacinya, sedang para ulama diam, sehingga orang-orang bodoh itu masih terus mencaci Sulaiman hingga Allah menurunkan ayat kepada Nabi Muhammad saw: wat taba’uu maa tatlusy-syayaathiinu ‘alaa mulki sulaimaana wa maa kafara sulaimaanu wa laa kinnasy-syayaathiina kafaruu (“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman [dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir] padahal Sulaiman tidaklah kafir [tidak mengerjakan sihir]. Hanya syaitan-syaitan itulah yang kafir [mengerjakan sihir].”)

Dan firman Allah swt.: wat taba’uu maa tatlusy-syayaathiinu ‘alaa mulki sulaimaana (“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman.”) Artinya, setelah orang-orang Yahudi itu menolak kitab Allah yang berada di tangan mereka serta menyelisihi Rasulullah, Muhammad saw., mereka mengikuti yang dibacakan oleh syaitan-syaitan. Yaitu apa yang diceritakan, diberitahukan dan dibacakan oleh syaithan pada masa kerajaan Nabi Sulaiman. Digunakannya karena kata “’alaa” [pada] dalam ayat tersebut karena “tatluu” [dibacakan] pada ayat ini mengandung makna (dibacakan secara) dusta.”

Ibnu Jarir mengatakan, “’alaa” [pada] dalam ayat tersebut bermakna “fii” [di dalam] maksudnya, dibacakan di masa kerajaan Sulaiman. Dia menukil pendapat itu dari Ibnu Juraij dan Ibnu Ishak. Mengenai masalah itu, penulis (Ibnu Katsir), katakana: “at-tadlammunu” (pencakupan) dalam hal ini adalah lebih baik dan lebih utama. Wallahu a’lam.

Sedangkan mengenai ungkapan al-Hasan al-Bashri bahwa sihir itu telah ada sebelum zaman Nabi Sulaiman bin Daud merupakan suatu hal yang benar dan tidak lagi diragukan, karena para tukang sihir itu sudah ada pada zaman Musa as, dan Nabi Sulaiman bin Daud itu setelah Nabi Musa. Sebagaimana yang difirmankan Allah swt. engkau tidak memperhatikan pemuka-pemuka Barii Israil setelah Nabi Musa.”

Alam tara ilal mala-i mim banii israa-iila mim ba’di muusaa (“Apakah engkau tidak memperhatikan pemuka-pemuka bani Israil setelah Nabi Musa.”) (QS. Al-Baqarah: 246)
Kemudian Allah swt. mengisahkan sebuah kisah, sesudah ayat di atas yang di dalamnya disebutkan: wa qatala daawuudu jaaluuta wa aataaHullaaHul mulka wal hikmaH (“Dan Daud [dalam peperangan itu] membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya [Daud] pemerintahan dan hikmah.”) (al-Baqarah: 251) dan kaum Nabi Shalih yang hidup sebelum Nabi Ibrahim as. mengatakan kepada Nabi mereka: innamaa anta minal musah hariin (“Sesungguhnya engkau adalah salah satu dari orang-orang yang kena sihir”) (asy-Syu’ara: 153) menurut pendapat yang masyhur “al musahhariin” adalah bermakna “al mas-huuriinu” (yang terkena sihir)

Adapun firman Allah: wa maa unzila ‘alaal malakaini bibaabiila Haaruuta wa maaruuta wa maa yu’allimaani min ahadin hattaa yaquulaa innamaa nahnu fitnatun falaa takfur. Fa yata’allamuuna minHumaa maa yufarriquuna biHii bainal mar-i wa zaujiHi (“dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan [sesuatu] kepada seorang pun sebelum mengatakan: ‘Sesungguhnya kami hanya cobaan [bagimu], sebab itu janganlah kamu kafir.’ Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang [suami] dengan istrinya.”)

Para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai ayat ini. Ada yang berpendapat bahwa kata “maa” dalam ayat ini berkedudukan sebagai “naafiyatan” (yang meniadakan) yaitu dalam kata “wa maa unzila ‘alaa malakaini”

Al-Qurthubi mengatakan, kata “maa” itu adala “maa naafiyatun” (kata maa yang berfungsi meniadakan) sekaligus “maa ma’thuuf” (berfungsi sebagai kata sambung) untuk firman Allah sebelumnya, yaitu “wa maa kafara sulaimaanu”.

Setelah itu Allah berfirman: wa laakinnasy-syayaathiina kafaruu yu’allimuunan naasas sihra wamaa unzila ‘alaal malakaini (“Tetapi setan-setan itulah yang kafir [mengerjakan sihir]. Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat.”) yang demikian itu karena orang-orang Yahudi beranggapan bahwa sihir itu diturunkan oleh Jibril dan Mikail. Kemudian Allah mendustakan mereka, sedangkan firman-Nya: Haaruuta wa maaruuta; merupakan “badlan” (pengganti) dari “asy-syayaathiin” (setan-setan)

Menurut al-Qurthubi, penafsiran demikian itu benar, karena jamak itu bisa berarti dua, seperti dalam firman Allah: fa in kaana laHuu ikhwatun (“Jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara”) (an-Nisaa’: 11) maupun karena keduanya [Haarut dan Maarut] mempunyai pengikut, atau keduanya disebut dalam ayat tersebut, karena pembangkangan mereka. menurut al-Qurthubi perkiraan ungkapan ayat itu berbunyi: yu’allimuunan naasas sihra bi baabila Haaruuta wa maaruuta (“syaitan-syaitan itu mengajarkan sihir kepada manusia di Babil, yaitu Harut dan Marut”). Lebih lanjut al-Qurthubi berpendapat bahwa penafsiran ini adalah yang terbaik dan paling tepat. Dan untuk itu beliau tidak memilih penafsiran yang lain.

Ibnu Jarir meriwayatkan dengan sanadnya melalui al-‘Aufi, dari Ibnu Abbas, mengenai firman Allah: wa maa unzila ‘alaa malakaini bi baabiil; (“Dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babil,”) ia menuturkan: “Allah tidak menurunkan sihir”.

Masih mengenai ayat yang sama, wa maa unzila ‘alaa malakaini bi baabiil; (“Dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babil,”) dengan sanadnya dari ar-Rabi’ bin Anas, Ibnu Abbas mengatakan, “Allah tidak menurunkan sihir kepada keduanya.”

Ibnu Jarir mengemukakan: “Dengan demikian ta’wil (penafsiran) ayat ini sebagai berikut: wattaba’uu maa tatlusy-syayaathiinu ‘alaa mulki sulaimaan (“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Nabi Sulaiman,”) yaitu berupa sihir. Nabi Sulaiman tidak kafir, dan Allah tidak menurunkan sihir kepada kedua malaikat tersebut, tetapi syaitan-syaitan itu yang kafir. Mereka mengajarkan sihir kepada manusia di negeri Babil, yaitu Harut dan Marut. Dengan demikian kalimat, “Di negeri Babil, yaitu Kepada Harut dan Marut” merupakan ayat yang maknanya didahulukan dan lafazhnya (redaksinya) diakhirkan.

Lebih lanjut Ibnu Jarir mengatakan, jika ada seseorang yang menanyakan kepada kami, “Apa alasan pendahuluan makna tersebut?” Maka alasan pendahuluan itu ialah: wattaba’uu maa tatlusy-syayaathiinu ‘alaa mulki sulaimaan (“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Nabi Sulaiman,”) yaitu berupa sihir. Nabi Sulaiman tidak kafir, dan Allah tidak menurunkan sihir kepada dua malaikat tersebut, tetapi syaitan-syaitan itu yang kafir. Mereka mengajarkan sihir kepada manusia di negeri Babil, yaitu Harut dan Marut.

Dengan demikian, makna malaikat itu adalah Jibril dan Mikail, karena para penyihir dari kalangan orang-orang Yahudi menganggap bahwa Allah telah menurunkan sihir melalui lisan Jibril dan Mikail kepada Nabi Sulaiman bin Daud. Maka Allah swt. pun mendustakan mereka dalam hal itu, dan Dia memberitahukan kepada Nabi Muhammad bahwa Jibril dan Mikail tidak pernah turun dengan membawa sihir, sedang Nabi Sulaiman sendiri terbebas dari sihir yang mereka tuduhkan. Bahkan Dia memberitahu mereka bahwa sihir merupakan perbuatan syaitan,dan syaitan-syaitan itu mengajarkan sihir di negeri Babil.

Dan juga memberitahukan bahwa di antara yang diajari sihir oleh syaitan adalah dua orang yang bernama Harut dan Marut. Maka Harut dan Marut merupakan terjemahan dari kata “manusia” dalam ayat ini, sekaligus sebagai bantahan atas mereka (orang-orang Yahudi). Demikianlah nukilan dari Ibnu Jarir berdasarkan lafadz darinya.

Mayoritas ulama salaf berbendapat bahwa kedua malaikat tersebut berasal dari langit dan diturunkan ke bumi dan terjadilah apa yang terjadi pada mereka berdua.

Mengenai kisah Harut dan Marut ini, telah dikisahkan dari sejumlah tabi’in, misalnya Mujahid, as-Suddi, Hasan al-Bashri, Qatadah, Abul `Aliyah, az-Zuhri, ar-Rabi’ bin Anas, Muqatil bin Hayyan, dan lain-lainnya. Dan dikisahkan pula oleh beberapa orang mufassir mutaqaddimin (ahli tafsir terdahulu) maupun muta akhirin (yang belakangan). Dan hasilnya merujuk kembali kepada beberapa berita mengenai Bani Israil, karena mengenai hal itu tidak ada hadits shahih marfu’ yang memiliki sanad, sampai kepada Rasulullah yang tidak berbicara dengan hawa nafsunya. Dan siyaq (redaksi) al-Qur’an menyampaikan kisah itu secara global, tidak secara rinci. Dan kami jelas lebih percaya kepada apa yang disampaikan al-Qur’an, seperti yang dikehendaki Allah swt, dan Dia Mahamengetahui hakikat kejadian yang sebenarnya.

Firman Allah; wa maa yu’allimaani min ahadin hattaa yaquulaa innamaa nahnu fitnatun falaa takfur (“Sedang keduanya tidak mengajarkan [sesuatu] kepada seorang pun sebelum mengatakan: `Sesungguhnya kami hanya cobaan [bagimu], karena itu janganlah engkau kafir.”‘)

Dari Ibnu Abbas, Abu Ja’far ar-Razi meriwayatkan, “Jika ada seseorang yang mendatangi keduanya karena menghendaki sihir, maka dengan tegas keduanya melarang peminat sihir tersebut seraya berkata, `Sesungguhnya kami ini hanya cobaan bagimu, karena itu janganlah engkau kafir.’ Yang demikian itu karena keduanya mengetahui kebaikan, keburukan, kekufuran, dan keimanan, sehingga mereka berdua mengetahui bahwa sihir merupakan suatu bentuk kekufuran.

Sedangkan “alfitnatu” berarti cobaan dan ujian. Demikian juga firman-Nya yang menceritakan mengenai Nabi Musa as, di mana Allah Ta’ala berfirman: in Hiya illaa fitnatuka (“Hal itu hanyalah cobaan dari-Mu”)(al-A’raaf: 155)

Sebagian ulama menjadikan ayat ini sebagai dalil untuk mengkafirkan orang yang mempelajari sihir, dan memperkuatnya dengan hadits yang diriwayatkan oleh al-Hafidz Abu Bakar al-Bazzar, dari Abdullah, ia berkata: “Barangsiapa yang mendatangi dukun atau tukang sihir, lalu ia mempercayainya, berarti ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad (Isnad hadits ini shahih dan memiliki beberapa syahid lain.)

Dan firman Allah swt: wa yata’allamuuna minHumaa maa yufarriquuna biHii bainal mar-i wa zaujiHi (“Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seseorang [suami] dengan istrinya.”) Artinya, orang-orang pun mempelajari ilmu sihir dari Harut dan Marut, yang mereka gunakan untuk hal-hal yang sangat tercela, seperti membuat terjadinya perceraian antara pasangan suami istri, padahal tadinya mereka akur dan harmonis dan ini termasuk perbuatan syaitan.

Sebagaimana yang dijelaskan sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dalam kitabnya Shahih Muslim, dari Jabir bin Abdullah dari Nabi saw. beliau bersabda: “Sesungguhnya setan itu meletakkan singgasananya di atas air, kemudian ia mengirim utusannya kepada manusia, maka pasukan yang paling dekat dengannya adalah yang paling besar godaannya kepada manusia. Seorang anggota pasukan datang seraya melaporkan, ‘Aku terus menggoda si fulan sebelum aku meninggalkannya dalam ia mengatakan ini dan itu.’ Lalu iblis berkata, ‘Demi Allah, engkau tidak melakukan apapun kepadanya.’ Setelah itu datang anggota lain yang melapor, ‘Aku tidak meninggalkannya sehingga aku memisahkannya dari istrinya.’ Maka sang iblis mendekatinya dan senantiasa menyertainya serta berkata, ‘Ya, engkaulah yang paling dekat kedudukannya denganku.’” (HR Muslim)

Penyebab perceraian antara suami dan istri yang dilakukan melalui sihir adalah dengan menjadikan suami atau istri melihat pasangannya buruk, tidak bermoral, menyebalkan, dan sebab-sebab lainnya yang menyebabkan perceraian.

“al mar-u” artinya “arrajulu” [laki-laki] sedang untuk perempuan dikatakan “im-ratun”, masing-masing mempunyai bentuk dua, tapi tidak memiliki bentuk jamak [plural].

Firman-Nya: wa maa Hum bidlaarriina biHii min ahadin illaa bi-idznillaaHi (“Dan mereka itu [ahli sihir] tidak memberi mudlarat dengan sihirnya kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah.”) Hasan al-Bashri mengatakan, “Benar, bahwa jika Allah kehendaki maka Allah kuasakan [orang yang akan mereka sihir] kepadanya [tukang sihir]. Dan jika Allah tidak kehendaki, maka Allah tidak biarkan hal itu dan mereka tidak mampu menyihir kecuali atas izin Allah, sebagaimana firman-Nya tersebut. Dan dalam sebuah riwayat dari Hasan al-Bashri disebutkan bahwa ia mengatakan, “Sihir itu tidak dapat memberikan mudlarat kecuali bagi orang yang masuk ke dalamnya (mempelajari).”

Dan firman Allah: wa yata’allamuuna maa yadlurruHum walaa yanfa’uHum (“Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudlarat kepadanya dan tidak memberi manfaat”) maksudnya perbuatan itu dapat membahayakan agamanya dan manfaatnya tidak sepadan dengan mudlaratnya.

Dia berfirman: wa laqad ‘alimuu la manisytaraaHu maa laHuu fil aakhirati min khalaaq (“Sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya [kitab Allah] dengan sihir itu, tiadalah baginya keberuntungan di akhirat.”) Artinya, orang-orang Yahudi sudah mengetahui bahwa orang yang menukar kepatuhan kepada Rasulullah dengan sihir tidak akan mendapat bagian di akhirat.

Sedangkan Ibnu Abbas, Mujahid, dan as-Suddi mengemukakan (bahwa makna “min khalaaq” adalah), “min nashiib” dari [mendapat] bagian.”

Dan firman-Nya: wa labi’sa maa syarau biHii anfusaHum lau kaanuu ya’lamuuna wa lau annaHum aamanuu wat taqau lamatsuubatum min ‘indillaaHi khairul lau kaanuu ya’lamuun (“Dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui. Sesungguhnya seandainya mereka beriman dan bertakwa, [niscaya mereka akan mendapat pahala], dan sesungguhnya pahala dari sisi Allah adalah lebih baik, kalau mereka mengetahui.”)

Allah berfiman: wa labi’sa (“Dan amat jahatlah”) tindakan mereka mengganti keimanan dan kepatuhan kepada Nabi dengan sihir. Seandainya mereka memahami nasihat yang diberikan kepada mereka; wa lau annaHum aamanuu wat taqau lamatsuubatum min ‘indillaaHi khair (“Seandainya mereka beriman dan bertakwa, [niscaya mereka akan mendapat pahala], dan sesungguhnya pahala dari sisi Allah adalah lebih baik.”) Maksudnya, seandainya mereka beriman kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya, maka pahala Allah atas hal itu lebih baik bagi mereka daripada apa yang mereka pilih dan mereka ridhai.

Firman-Nya: lau annaHum aamanuu wat taqau (“Seandainya mereka beriman dan bertakwa,”) dijadikan dalil oleh orang yang berpendapat bahwa tukang sihir itu kafir. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Imam Ahmad bin Hanbal dan beberapa ulama salaf. Ada yang mengatakan, bahwa tukang sihir itu tidak tergolong kafir, tapi hukumannya adalah dipenggal lehernya. Sebagaimana yang diriwayatkan Imam Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal, keduanya menceritakan, Sufyan bin Uyainah pernah memberitahu kami, dari Amr bin Dinar, bahwa ia pernah mendengar Bajalah bin Abdah menceritakan: “Umar bin al-Khaththab pernah mengirimkan surat kepada para gubernur agar menghukum mati setiap tukang sihir, laki-laki maupun perempuan.” Lebih lanjut ia menuturkan, “Maka kami pun menghukum mati tiga orang tukang sihir.”
Imam Bukhari juga meriwayatkannya dalam kitab Shahihnya.

Dan Shahih pula riwayat yang menyebutkan bahwa Hafshah, Ummul Mukminin pernah disihir oleh budak wanitanya. Kemudian ia memerintahkan agar budak itu dihukum mati. Maka budak wanita itupun dibunuh.

Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan: “Dibenarkan dari tiga orang sahabat Nabi, mengenai membunuh tukang sihir.”

Penjelasan

Dan dalam tafsirnya, Abu Abdullah ar-Razi mengisahkan bahwa kaum Mu’tazilah mengingkari adanya sihir. Bahkan mungkin mereka mengkafirkan orang yang meyakini keberadaannya. Sedangkan Ahlus Sunnah mengakui kemungkinan seorang tukang sihir terbang ke udara atau merubah manusia menjadi keledai dan keledai menjadi manusia. Namun dalam hal itu mereka berpendapat bahwa Allah swt. menciptakan dan menetapkan sesuatu ketika tukang sihir itu membaca mantra atau bacaan-bacaan tertentu. Adapun apabila hal itu dipengaruhi oleh benda angkasa dan bintang-bintang, maka hal itu keliru. Dan itu jelas berbeda dengan pendangan para filosuf, ahli nujum, dan kaum Shabi’ah.

Mengenai kemungkinan terjadinya sihir tersebut dan bahwa hal itu adalah ciptaan Allah, ahlus sunnah wal jama’ah berargumentasi dengan dalil: wa maa Hum bidlaarriina biHii min ahadin illaa bi idznillaaHi (“Dan mereka itu [ahli sihir] tidak memberi madharat dengan sihirnya kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah.”) Juga berdasarkan pada beberapa riwayat yang menyatakan bahwa Rasulullah pernah disihir.

Lebih lanjut Abdullah ar-Razi menuturkan bahwa sihir itu ada delapan:

Pertama, sihir para pendusta, dan kaum Kusydani yang terdiri dari penyembah bintang yang tujuh yang dapat berpindah-pindah, yaitu planet. Mereka ini berkeyakinan bahwa planet-planet itulah yang mengatur alam ini dan yang mendatangkan kebaikan dan keburukan. Kepada mereka itulah Allah mengutus Nabi Ibrahim as. untuk membatalkan sekaligus menentang pendapat mereka itu.

Kedua, sihir orang-orang yang penuh hayalan (imajinasi) dan memiliki jiwa yang kuat. Mereka menyatakan bahwa hayalan itu memiliki pengaruh dengan argumen bahwa manusia ini dimungkinkan untuk berjalan di atas jembatan yang diletakkan di atas tanah, tetapi tidak mungkin berjalan di atasnya jika jembatan itu diletakkan di atas sungai atau yang semisalnya. Sebagaimana para dokter sepakat melarang orang yang hidungnya berdarah agar tidak melihat kepada segala sesuatu yang berwarna merah, dan orang yang menderita epilepsy tidak boleh melihat hal-hal yang mempunyai sinar atau putaran yang kuat. Yang demikian itu tidak lain karena jiwa itu diciptakan untuk menaati imajinasi. Menurut mereka ini, para ilmuwan telah sepakat bahwa adanya orang yang terkena (musibah disebabkan pandangan) mata adalah sebuah kenyataan.

(Ibnu Katsir) berkata: Dia (ar-Razi) menjadikan sebagai dasar pendapatnya itu dengan apa yang ditegaskan dalam hadits shahih, bahwa Rasulullah bersabda: “Terkena `ain (pandangan mata) adalah benar adanya, seandainya ada sesuatu yang dapat mendahului takdir, maka pastilah ‘ain itu mendahuluinya.”

Ketiga, sihir yang menggunakan bantuan arwab ardhiyyah (arwah bumi), yaitu para jin. Hal itu berbeda dengan pandangan para filosuf dan mu’tazilah. Jin itu terbagi menjadi dua bagian: Jin mukmin dan jin kafir, jin kafir itu adalah syaitan. Hubungan jiwa manusia dengan para arwah bumi lebih mudah dibanding hubungan mereka dengan arwah langit, karena keduanya mempunyai kesesuaian dan kedekatan. Mereka yang melakukan percobaan dan pengalaman menyatakan bahwa hubungan dengan para arwah bumi ini dapat ditempuh dengan perbuatan-perbuatan yang cukup mudah, berupa mantra, kemenyan, dan pengasingan diri. Inilah yang disebut dengan ‘azaim (jampi-jampi) dan amalut taskhir (tindakan menundukkan jin).

Keempat, sihir dengan tipuan dan sulap mata. Dasarnya adalah bahwa pandangan mata itu bisa dikecohkan karena terfokus pada objek tertentu tanpa memperhatikan yang lainnya. Tidakkah anda melihat orang yang pintar bermain sulap mata memperlihatkan kelihaian menarik perhatian para penonton, hingga apabila mereka asyik memperhatikan hal itu dengan serius, maka ia melakukan hal lain dengan sangat cepat. Dan ketika itu ia memperlihatkan kepada para penonton sesuatu yang tidak ditunggu dan diduga, sehingga mereka pun sangat heran.

Kelima, sihir yang menakjubkan yang timbul dari penyusunan alat-alat yang tersusun berdasarkan susunan geometri yang berkesuaian. Misalnya, penunggang kuda yang berdiri di atas kuda yang di tangannya terdapat terompet, setiap satu jam, terompet itu berbunyi tanpa ada yang menyentuhnya.

Keenam, sihir yang menggunakan bantuan obat-obatan khusus, baik yang berupa obat yang diminum maupun yang dioleskan. Dan ketahuilah bahwasanya tiada jalan untuk mengingkari adanya pengaruh benda-benda khusus tersebut karena terbukti kita dapat menyaksikan adanya pengaruh daya tarik magnit.

Ketujuh, sihir yang berupa penundukan hati. Di mana seorang penyihir mengaku bahwa ia mengetahui Ismul A’zham (nama yang paling agung). Ia juga mengaku bahwa semua jin tunduk dan patuh kepadanya, dalam banyak urusan. Jika orang yang mendengar pengakuan /pemyataan penyihir seperti itu memiliki otak yang lemah dan daya pembeda yang minim, maka ia akan meyakini bahwa pernyataan seperti itu benar. Kemudian hatinya pun tergantung padanya, selanjutnya muncul rasa takut. Dan jika rasa takut sudah muncul, maka semua kekuatan inderawi menjadi lemah, dan pada saat itu si tukang sihir dapat berbuat sekehendak hatinya.

Kedelapan, sihir berupa usaha mengadu domba dengan cara tersembunyi dan lembut. Dan hal ini sudah tersebar luas di tengah-tengah masyarakat. Kemudian ar-Razi mengemukakan: “Demikianlah uraian mengenai macam-macam sihir dan jenis-jenisnya.”

Penulis (Ibnu Katsir) berkata: “Dimasukkannya macam-macam sihir ini ke dalam Ilmu sihir karena kelembutan jangkauannya, sebab menurut bahasa, sihir merupakan ungkapan dari sesuatu yang sebabnya sangat lembut dan tersembunyi”.

Abu Abdillah al-Qurthubi mengatakan: “Menurut kami (Ahlus Sunnah), sihir itu memang ada dan memiliki hakikat, Allah menciptakan apa saja yang dikehendaki-Nya. Hal itu berbeda dengan paham Mu’tazilah dan Abu Ishak Asfarayini, seorang ulama penganut madzhab Syafi’i, di mana mereka mengatakan bahwa sihir itu adalah kepalsuan dan ilusi belaka.” Dia (al-Qurthubi) berkata: “Di antara sihir itu ada yang berupa kelihaian dan kecepatan tangan, misalnya tukang sulap”.

Al-Qurthubi mengemukakan, “Di antara sihir ada yang menggunakan ucapan-ucapan yang dihafal dan mantra mantra yang terdiri dari nama-nama Allah Ta’ala. Ada juga yang berupa perjanjian dengan syaitan, dan ada pula yang menggunakan ramuan, dupa dan lain sebagainya.”

Rasulullah pernah bersabda: “Sesungguhnya di antara bayan itu adalah sihir.” (HR. Abu Daud dengan sanad shahih.)

Hal itu bisa jadi sebagai pujian, sebagaimana yang dikemukakan oleh suatu kelompok. Dan mungkin juga merupakan suatu celaan terhadap balaghah, dan ini, menurut al-Qurthubi yang lebih tepat, karena balaghah itu membenarkan yang batil sebagaimana disabdakan Rasulullah dalam sebuah hadits: “Mungkin sebagian di antara kalian lebih pandai membuat hujjahnya daripada sebagian lainnya, lalu aku mengambil keputusan yang menguntungkannya.”
(HR. Khamsah, Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Daud, Imam at-Tirmidzi, Imam Ibnu Majah, dan Imam an-Nasa’i.)

Dalam bukunya yang berjudul “Madzhab-madzhab yang Mulia”, al-Wazir Abul Mudzafar Yahya bin Muhammad bin Hubairah rahimahullahu telah membahas suatu bab khusus mengenai sihir. Ia mengemukakan, para ulama telah sepakat bahwa sihir itu mempunyai hakikat (berpengaruh), kecuali Abu Hanifah, yang mengatakan: “Sihir itu sama sekali tidak mamiliki hakikat.”

Para ulama, lanjut Ibnu Hubairah, berbeda pendapat mengenai orang yang mempelajari dan mengamalkannya. Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan Imam Ahmad mengemukakan, “Orang yang mempelajari dan mengamalkannya dapat dikategorikan kafir.” Di antara sahabat Abu Hanifah ada juga yang berpendapat bahwa orang yang mempelajari sihir dengan tujuan untuk menjauhi dan menghindarinya, tidak dapat dianggap kafir. Sedangkan orang yang mempelajarinya dengan keyakinan bahwa hal itu dibolehkan dan dapat memberi manfaat baginya, maka ia sudah termasuk kafir. Demikian halnya orang yang berkeyakinan bahwa syaitan-syaitan itu dapat berbuat sekehendak hatinya dalam sihir itu, maka ia juga dapat dikategorikan kafir.

Imam Syafi’i rahimahullahu mengatakan, “Jika ada seseorang yang mempelajari sihir, maka kami akan katakan kepadanya, ‘Terangkan kepada kami sihir yang engkau maksud.’ Jika ia menyebutkan hal-hal yang mengarah pada kekufuran, seperti misalnya apa yang diyakini oleh penduduk negeri Babil, yaitu berupa pendekatan diri pada bintang yang tujuh dan keyakinan bahwa bintang-bintang itu dapat melakukan apa yang diminta kepadanya, maka ia termasuk kafir. Dan jika apa yang dia sebutkan tidak mengarah kepada kekufuran, tapi jika ia menyakini bahwa sihir itu dibolehkan, maka ia juga termasuk kafir.”

Lebih lanjut Ibnu Hubairah mempertanyakan, “Apakah dengan sekedar pengamalan dan penerapan sihir, seorang tukang sihir harus dihukum mati?” Mengenai hal ini, Imam Malik dan Imam Ahmad berpendapat, (bahwa tukang sihir itu harus dihukum mati) pent. Sedangkan Imam Syafi’i dan Abu Hanifah berpendapat lain, “Tidak,” (tidak harus dihukum mati) pent. Tetapi jika dengan sihirnya seorang tukang sihir membunuh seseorang, maka ia harus dihukum mati. Demikian menurut Imam Malik, Syafi’i, dan Ahmad. Abu Hanifah mengemukakan, “Si tukang sihir itu tidak harus dihukum mati kecuali jika ia telah melakukannya berulang-ulang atau mengakui telah melakukan sihir pada orang tertentu.” Menurut keempat imam tersebut di atas kecuali Imam Syafi’i, jika ia dibunuh, maka pembunuhan itu dimaksudkan sebagai hukuman baginya. Sedangkan Imam Syafi’i berpendapat, bahwa ia dibunuh sebagai qishash.

Kemudian Ibnu Hubairah mempertanyakan juga, “Jika seorang tukang sihir bertaubat apakah diterima taubatnya?” Menurut Imam Malik, Abu Hanifah, dan Ahmad: Taubatnya tidak dapat diterima.” Sedangkan Imam Syafi’i dan Ahmad pada riwayat yang lain menyatakan bahwa, “Taubatnya diterima.” Menurut Abu Hanifah, “Tukang sihir dari ahlul kitab harus dibunuh sebagaimana tukang sihir muslim.” Sedangkan menurut Imam Malik, Imam Ahmad, dan Imam Syafi’i, “Tukang sihir dari Ahlul Kitab tidak dibunuh.” Hal itu didasarkan pada kisah Labid bin al-A’sham.

Lebih lanjut para ulama berbeda pendapat mengenai wanita muslimah yang menjadi tukang sihir. Menurut Imam Abu Hanifah, “Wanita penyihir itu tidak dibunuh, tetapi hanya dipenjara. Sedangkan menurut Imam Malik, Imam Ahmad, dan Imam Syafi’i, “Hukum yang diterima tukang sihir wanita itu sama dengan hukuman yang diberlakukan bagi tukang sihir laki-laki.” Wallahu a’lam.

Abu Bakar al-Khallal meriwayatkan dari az-Zuhri, bahwa ia mengatakan: “Tukang sihir dari kalangan orang muslim harus dibunuh, sedangkan penyihir dari kalangan orang musyrik tidak dibunuh, karena Rasulullah saw. pernah disihir oleh seorang wanita Yahudi, tetapi beliau tidak membunuhnya.”

Al-Qurthubi pernah menukil dari Malik rahimahullahu, ia mengatakan, “Tukang sihir dari orang kafir dzimmi harus dibunuh jika sihirnya itu membunuh orang.”

Ibnu Khuwaiz Mindad meriwayatkan dua pendapat dari Imam Malik mengenai orang kafir dzimmi yang melakukan sihir. Pertama, “Ia diminta bertaubat. Jika ia mau bertaubat dan masuk Islam, maka ia tidak dibunuh, dan jika tidak maka ia dibunuh.” Kedua, “Ia harus dibunuh meskipun sudah bertaubat dan masuk Islam.”

Sedangkan mengenai tukang sihir Muslim, jika sihirnya itu mengandung kekufuran, maka menurut empat imam dan juga ulama lainnya orang itu termasuk kafir. Hal itu didasarkan pada firman Allah Ta’ala yang artinya: “Sedang keduanya tidak mengajarkan sesuatu kepada seorang pun sebelum mengatakan, ‘Sesunggguhnya kami hanya cobaan (hagimu), karena itu janganlah engkau kafir.” (QS. Al-Baqarah: 102)

Akan tetapi Imam Malik berkata: “Jika sihir itu tampak padanya, tidak diterima taubatnya karena dia seperti seorang zindiq (kafir). Apabila dia bertaubat sebelum tampak sihir itu padanya dan datang kepada kami dengan bertaubat, kami menerimanya. Dan jika sihirnya membunuh, maka di dibunuh.”

Imam Syafi’i mengatakan, “Jika tukang sihir itu mengatakan, ‘Aku tidak sengaja membunuhnya,’ maka ia termasuk pembunuh yang tidak sengaja dan diharuskan baginya membayar diyah.”

Hal yang paling ampuh untuk mengusir sihir adalah apa yang telah diturunkan Allah kepada Rasul-Nya saw, yaitu mu’awwidzatain (yaitu an-Naas dan al-Falaq). Dalam sebuah hadits disebutkan: “Orang yang berlindung tidak berlindung sekokoh berlindung dengannya (an-Naas dan al-Falaq).”

Demikian juga bacaan ayat Kursi, karena bacaan itu dapat mengusir syaitan.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 102-103

6 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan)
Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat

tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 102-103“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (QS. 3:102). Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang Neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (QS. 3:103)

Mengenai firman Allah: ittaqullaaHa haqqa tuqaatiHi (“Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya.”) Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Abdullah Ibnu Mas’ud, ia berkata: “Agar Dia ditaati dan tidak ditentang, diingat dan tidak dilupakan, disyukuri dan tidak diingkari.” Isnad ini shahih mauquf.

Sa’id bin Jubair, Abul `Aliyah, Rabi’ bin Anas, Qatadah, Muqatil bin Hayyan, Zaid bin Aslam, as-Suddi dan yang lainnya berpendapat, bahwa ayat ini dinasakh dengan firman Allah: fattaqullaaHa mastatha’tum (“Maka bertakwalah kepada Allah menurut kemampuanmu.”) (QS. At-Taghaabun : 16)

Mengenai firman Allah: ittaqullaaHa haqqa tuqaatiHi (“Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya.”) ‘Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Ayat tersebut tidak dinasakh, tetapi yang dimaksud ‘takwa yang sebenar-benarnya’ adalah berjihad di jalan Allah sebenar-benar jihad dengan tidak merasa takut terhadap celaan orang-orang yang suka mencela, berlaku adil meskipun terhadap diri mereka sendiri, orang tua dan anak-anak mereka.”

Sedangkan firman-Nya, wa laa tamuutunna illaa wa antum muslimuun (“Dan janganlah sekali-kali kamu meninggal dunia melainkan dalam keadaan beragama Islam,”) maksudnya, tetaplah berada dalam Islam semasa kalian masih dalam keadaan sehat dan selamat agar kalian meninggal dunia dalam keadaan Islam. Sebab dengan kemurahan-Nya, Allah yang Mahapemurah telah menjadikan sunnah-Nya bahwa barangsiapa yang hidup di atas suatu keadaan, maka ia pun akan meninggal dunia dalam keadaan tersebut. Dan barangsiapa meninggal dunia di atas sesuatu keadaan, maka ia pun akan dibangkitkan dalam keadaan itu pula. Semoga Allah melindungi kita agar tetap dalam keadaan Islam.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Mujahid, bahwa: “Ketika orang-orang sedang mengerjakan thawaf di Baitullah, Ibnu ‘Abbas sedang duduk dengan memegang tongkat, kemudian ia berkata, Rasululullah saw. bersabda: “Wahai sekalian orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kamu meninggal dunia melainkan kamu dalam keadaan Islam. Seandainya setetes zagqum jatuh ke dunia, maka ia akan merusak kehidupan penghuninya. Lalu bagaimana bagi orang yang tidak mempunyai makanan kecuali zaqqum?”

Demikian pula diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dalam shahihnya dan al-Hakim dalam al-Mustadrak, melalui beberapa jalan dari Syu’bah. At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan shahih.”

Sedangkan menurut al-Hakim, hadits ini shahih sesuai dengan persyaratan al-Bukhari dan Muslim, tetapi keduanya tidak mengeluarkan.

Imam Ahmad meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Waki’ dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata, Rasulullah pernah bersabda: “Barangsiapa yang ingin dijauhkan dari Neraka dan dimasukkan ke dalam Surga, maka jagalah supaya ketika kematiannya tiba ia berada dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari akhir, serta mendatangi orang-orang dengan cara yang ia inginkan ketika didatangi.” (HR. Ahmad)

Imam Ahmad meriwayatkan pula dari Jabir, ia berkata, aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, tiga malam sebelum beliau wafat: “Janganlah salah seorang di antara kalian meninggal dunia melainkan ia dalam keadaan berhusnuzhzhan (berbaik sangka) kepada Allah.”
(Diriwayatkan juga oleh Muslim melalui al-A’masy).

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah telah berfirman: ‘Aku menurut prasangka hamba-Ku kepada-Ku, jika ia berprasangka baik kepada-Ku, maka itulah yang akan didapatinya. Dan jika ia berprasangka buruk kepada-Ku, maka itu pulalah yang akan didapatinya.’” (HR. Ahmad)

Pokok hadits ini telah ditegaskan dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahib Muslim melalui jalan lain dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah bersabda: “Allah berfirman: ‘Aku menurut prasangka hamba-Ku terhadap-Ku.’”

Al-Hafizh Abu Bakar al-Bazzar meriwayatkan dari Anas bin Malik, ia berkata: “Ada seorang dari kalangan Anshar yang jatuh sakit, lalu Nabi saw. berangkat menjenguknya, tiba-tiba beliau bertemu dengannya di pasar, maka beliau pun bertanya: “Bagaimana keadaanmu, hai Fulan?” “Baik, ya Rasulullah. Aku berharap kepada Allah dan takut akan dosa-dosaku,” sahutnya. Kemudian beliau bersabda: “Tidak berpadu kedua hal itu (harap dan takut) pada hati seorang hamba dalam keadaan seperti ini, melainkan Allah akan memberikan apa yang diharapkan dan memberikan rasa aman dari yang menakutkannya.”

Demikian pula diriwayatkan at-Tirmidzi dan an-Nasa’i serta Ibnu Majah. At-Tirmidzi mengatakan, hadits ini gharib. Juga diriwayatkan oleh sebagian ahli hadits sebagai hadits mursal.

Dan firman-Nya, wa’tashimuu bihablillaaHi jamii’aw walaa tafarraquu (“Dan berpegang teguhlah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.”) Ada yang berpendapat, “Kepada tali Allah” berarti kepada janji Allah sebagaimana yang difirmankan-Nya pada ayat setelahnya: dluribat ‘alaiHimudz dzillatu ainamaa tsuqifuu illaa bihablim minallaaHi wa hablim minannaasi (“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia.”) (QS. Ali-‘Imran: 112) Yakni dengan perjanjian dan perlindungan.

Ada yang berpendapat, kepada tali Allah itu maksudnya adalah kepada al-Qur’an, sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan dari al-Harits al-A’war, dari ‘Ali sebagai hadits marfu’, tentang sifat al-Qur’an: “Al-Qur’an itu adalah tali Allah yang paling kuat dan jalan-Nya yang lurus.”

Firman-Nya, wa laa tafarraquu (“Dan janganlah kamu bercerai-berai.”) Allah memerintahkan mereka untuk bersatu dalam jama’ah dan melarang berpecah-belah.

Banyak hadits Rasulullah yang melarang perpecahan dan menyuruh menjalin persatuan. Sebagaimana disebutkan dalam kitab Shahih Muslim dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah meridhai kalian dalam tiga perkara dan membenci kalian dalam tiga perkara. Dia meridhai kalian jika kalian beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, berpegang teguh pada tali Allah dan tidak bercerai-berai dan setia kepada orang yang telah diserahi urusan kalian oleh Allah. Dan Dia membenci kalian dalam tiga perkara, yaitu banyak bicara, membicarakan pembicaraan orang lain, banyak bertanya dan menghamburkan harta.”

Dan mereka (jika berhimpun) telah diberikan jaminan perlindungan dari kesalahan ketika mereka bersepakat. Sebagaimana hal itu telah disebutkan pula dalam banyak hadits.

Dan yang dikhawatirkan terhadap mereka adalah akan terjadi juga perpecahan dan perselisihan. Dan ternyata hal itu memang terjadi pada umat ini, di mana mereka terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Yang dari ke semua golongan itu, terdapat satu golongan yang selamat masuk ke Surga serta selamat dari adzab Neraka, mereka itu adalah orang-orang yang berada di atas jalan Rasulullah dan para Sahabatnya.

Firman-Nya yang artinya: “Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu, ketika dahulu (masa Jahiliyyah) kamu bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu karena nikmat Allah kamu menjadi orang-orang yang bersaudara. Dan kamu telah berada di tepi jurang Neraka, lalu Allah menyelamatkanmu darinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”

Konteks ayat ini berkenaan dengan kaum Aus dan Khazraj, sebab pada masa Jahiliyyah dulu, di antara mereka telah terjadi banyak peperangan, permusuhan yang sangat parah, rasa dengki dan dendam, yang karenanya telah terjadi peperangan dan pembunuhan di antara mereka. Maka ketika Allah menurunkan Islam, di antara mereka pun memeluknya, jadilah mereka bersaudara dan saling mencintai karena Allah, saling menyambung hubungan dan tolong-menolong dalam kebajikan dan ketakwaan.

Allah berfirman yang artinya: “Allah-lah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan orang-orang yang beriman dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang ada di bumi ini, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan Kati mereka. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS. Al-Anfaal: 62-63)

Mereka sebelumnya berada di tepi jurang Neraka disebabkan oleh kekufuran mereka, lalu Allah menyelamatkan mereka dengan memberikan hidayah untuk beriman. Mereka telah dianugerahi kelebihan oleh Rasulullah pada hari pembagian harta rampasan perang Hunain, yaitu pada saat salah seorang di antara mereka mencela Rasul, karena beliau melebihkan yang lain dalam pembagian sesuai dengan yang di tunjukkan Allah kepada beliau.

Kemudian beliau berseru kepada mereka: “Wahai kaum Anshar, bukankah aku telah mendapatkan kalian dalam kesesatan, lalu Allah memberikan petunjuk kepada kalian melalui diriku, dan kalian sebelumnya dalam keadaan terpecah-belah, kemudian Allah menyatukan hati kalian melalui diriku, dan kalian dalam keadaan miskin, lalu Allah menjadikan kalian kaya juga melalui diriku.” Setiapkali beliau mengatakan sesuatu, mereka berucap, “Allah dan Rasul-Nya lebih dermawan.” (HR. Al-Bukhari dan Imam Ahmad)

Muhammad bin Ishaq bin Yasar dan ulama lainnya menyebutkan bahwa: “Ayat ini turun berkaitan dengan keadaan kaum Aus dan Khazraj. Yaitu ada seorang Yahudi yang berjalan melewati sekumpulan orang dari kaum Aus dan Khazraj. Orang Yahudi itu merasa tidak senang dengan keeratan dan kekompakan mereka. Kemudian ia mengirimkan seseorang dan memerintahkannya untuk duduk bersama mereka, serta mengingatkan kembali berbagai peperangan yang pernah terjadi di antara mereka pada peristiwa Bu’ats dan peperangan-peperangan lainnya. Orang itu tidak henti-hentinya melakukan hal tersebut hingga emosi mereka bangkit dan sebagian mereka murka atas sebagian lainnya, masing-masing saling mengobarkan emosinya, meneriakkan slogan-slogan, mengangkat senjata mereka dan saling mengancam untuk ke tanah lapang. Ketika hal itu terdengar oleh Nabi, maka beliau datang dan menenangkan mereka seraya berseru:

“Apakah kalian menanti seruan Jahiliyyah padahal aku masih berada di tengah-tengah kalian?” Beliau pun membacakan ayat di atas, maka mereka pun menyesali apa yang mereka lakukan. Dan akhirnya mereka saling bersalaman, berpelukan dan meletakkan senjata. Mudah-mudahan Allah meridhai mereka semuanya. Ikrimah menyebutkan, bahwa ayat ini turun kepada mereka ketika mereka saling naik pitam dalam masalah berita bohong (yang menimpa diri Aisyah ra.). Wallahu a’lam.

&

102. Surah At-Takaatsur

4 Des

Pembahasan Tentang Surat-Surat Al-Qur’an (Klik di sini)
Tafsir Ibnu Katsir (Klik di sini)

Surat At Takaatsur terdiri atas 8 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al Kautsar. Dinamai At Takaatsur (bermegah-megahan) diambil dari perkataan At Takaatsur yang terdapat pada ayat pertama surat ini.

Pokok-pokok isinya:
Keinginan manusia untuk bermegah-megahan dalam soal duniawi, sering melalaikan manusia dari tujuan hidupnya. Dia baru menyadari kesalahannya itu setelah maut mendatanginya; manusia akan ditanya di akhirat tentang nikmat yang dibangga-banggakannya.
Surat ini mengemukakan celaan dan ancaman terhadap orang-orang yang bermegah-megahan dengan apa yang diperolehnya dan tidak membelanjakannya di jalan Allah. Mereka pasti diazab dan pasti akan ditanya tentang apa yang dimegah-megahkannya itu.

HUBUNGAN SURAT AT TAAKATSUR DENGAN SURAT AL ‘ASHR

1. Pada surat At Taakatsur Allah menerangkan keadaan orang yang bermegah-megahan dan disibukkan oleh harta harta benda sehingga lupa mengingat Allah, sedang surat Al ‘Ashr menerangkan bahwa manusia akan merugi, kecuali mereka beriman, beramal saleh dan nasehat menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.

2. Pada surat At Taakatsur Allah menerangkan sifat orang yang mengikuti hawa nafsunya, sedang pada surat Al ‘Ashr menerangkan sifat orang-orang yang tidak merugi.