Tag Archives: 107

Tafsir Ibnu Katsir Surah Huud ayat 106-107

1 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Huud
Surah Makkiyyah; surah ke 11: 123 ayat

tulisan arab alquran surat huud ayat 106-107“Adapun orang-orang yang celaka, maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan nafas dan menariknya dengan (merintih), (QS. 11:106) mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Rabbmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Rabbmu Mahapelaksana terhadap apa yang Dia dikehendaki. (QS. 11:107)” (Huud: 106-107)

Allah Ta’ala berfirman: laHum fiiHaa zafiiruw wa saHiiq (“Di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas [dengan merintih].”) Ibnu `Abbas berkata: “Az-Zafair tempatnya di tenggorokan dan asy-SyaHiiq tempatnya di dada, maksudnya, mereka mengeluarkan nafas dengan merintih dan menarik nafas dengan sesak, karena siksaan yang menimpa mereka, semoga Allah melindungi kita dari siksa itu.

Khaalidiina fiiHaa maa daamatis samaawaatu wal ardlu (“Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi.”) Imam Abu Ja’far bin Jarir berkata: “Kebiasaan orang Arab, jika hendak memberi sifat kepada sesuatu dengan sifat abadi, mereka selalu berkata: ‘Ini kekal seperti kekalnya langit dan bumi,’ begitu juga mereka berkata: ‘Ia adalah tetap selama malam dan Siang silih berganti,’ dan ‘selama orang yang begadang berbicara sepanjang malam,’ juga `selama keledai menggerakkan ekornya,’ bahwa yang dimaksud dengan semua itu adalah abadi, Allah yang Mahaterpuji berbicara kepada mereka dengan sesuatu yang mereka saling mengetahuinya.

Maka Allah berfirman: Khaalidiina fiiHaa maa daamatis samaawaatu wal ardlu (“Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi.”) Aku (Ibnu Katsir) berkata: “Dan bisa juga yang dimaksud dengan ‘selama langit dan bumi masih ada’ adalah jenisnya, karena di alam akhirat ada langit dan bumi.” Sebagaimana firman-Nya yang artinya: “[Yaitu] pada hari [ketika] bumi diganti dengan bumi yang lain dan [demikian pula] langit.”) (QS. Ibrahim: 48)

Untuk itu al-Hasan al-Bashri berkata tentang firman-Nya: maa daamatis samaawaatu wal ardlu (“selama ada langit dan bumi.”) ia berkata: yang bukan langit ini dan bumi yang bukan bumi ini, karena langit dan bumi itu adalah tidak kekal.”

Ibnu Abi Hatim berkata, disebutkan dari Sufyan bin Husain dari al-Hakam, dari Mujahid, dari Ibnu `Abbas, bahwa firman-Nya: maa daamatis samaawaatu wal ardlu (“selama ada langit dan bumi.”) Abdur Rahman bin Zaid bin Aslam berkata: “Bahwa senantiasa bumi adalah bumi dan langit adalah langit.”

Firman-Nya: illaa maasyaa-a rabbuka inna rabbaka fa’-‘al limaa yuriid (“Kecuali jika Rabbmu menghendaki [yang lain]. Sesungguhnya Rabbmu Mahapelaksana terhadap apa Allah kehendaki.”) Seperti firman-Nya yang artinya: “Neraka itu tempat diam kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali jika Allah menghendaki (yang lain) Sesungguhnya Rabbmu Mahabijaksana lagi Mahamengetahui.” (QS. Al-An’aam: 128)

Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang maksud dari pengecualian ini, mereka mempunyai banyak pendapat, hal ini menurut Syaikh Abu: Faraj bin al-Jauzi dalam kitabnya “Zadul Masir” dan ulama-ulama tafsir lainnya. Imam Abu Ja’far bin Jarir rahimahullah telah banyak menukilnya dalam kitabnya dan ia memilih pendapat yang dinukilnya dari Khalid bin Ma’dan, adh-Dhahhak, Qatadah dan Ibnu Sinan.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu `Abbas dan juga al-Hasan, bahwa pengecualian itu adalah kembali kepada ahli maksiat dari ahli tauhid, yaitu orang-orang yang dikeluarkan oleh Allah dari neraka dengan syafaatnya orang yang memberi syafa’at, yaitu Para Malaikat, Para Nabi dan orang-orang mukmin, hingga mereka memberi syafa’at kepada para pelaku dosa besar.
Kemudian, datanglah rahmat Allah yang Mahapenyayang, maka dikeluarkanlah orang yang tidak melakukan kebaikan sama sekali dan ia berkata: “Suatu dalam suatu masa: `Laa Ilaaha Illallaah’.” Sebagaimana telah diriwayatkan dalam hadits-hadits shahih yang masyhur dari Rasulullah tentang dari hadits Anas, Jabir, Abu Said, Abu Hurairah dan sahabat-sahabat lainnya, yaitu: “Tidak ada dalam neraka setelah itu, kecuali orang yang harus kekal di dalamnya dan yang tidak ada keringanan lama sekali baginya.”

Qatadah berkata: “Allah lebih mengetahui dengan kandungannya.”

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yusuf ayat 105-107

27 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Yusuf
Surah Makkiyyah; surah ke 12: 111 ayat

tulisan arab alquran surat yusuf ayat 105-107“Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka lalui, sedang mereka berpaling daripadanya. (QS. 12:105) Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan ilah-ilah lain). (QS. 12:106) Apakah mereka merasa aman dari kedatangan siksa Allah yang meliputi mereka, atau dari kedatangan Kiamat kepada mereka secara mendadak, sedang mereka tidak menyadarinya. (QS. 12:107)” (Yusuf: 105-107)

Allah memberitahukan bahwa kebanyakan manusia lalai berfikir tentang ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) Allah dan dalil-dalil keesaan-Nya dengan berbagai macam ciptaan Allah di langit dan di bumi, berupa bintang-bintang yang berkerlap-kerlip cemerlang yang tetap maupun yang berjalan, dan falak yang berputar dalam peredarannya, yang semuanya dikendalikan oleh Allah. Betapa banyak di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, kebun-kebun dan taman, gunung-gunung yang tegak kuat, lautan yang mengandung banyak kekayaan, gelombang yang saling menghantam, dan padang kering yang luas.

Dan berapa banyak makhluk yang hidup dan yang mati, binatang dan tumbuh-tumbuhan, buah-buahan yang serupa tetapi berbeda-beda rasanya, baunya, warnanya, dan sifatnya. Mahasuci Allah yang Mahaesa, Pencipta segala makhluk, satu-satunya yang kekal, abadi, dan tempat berlindung dan Esa dalam nama dan sifat-sifat-Nya, dan lain-lainnya.

Firman Allah: wa maa yu’minu aktsaruHum billaaHi illaa wa Hum musyrikuun (“Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Alah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah [dengan ilah-ilah lain].”) Ibnu `Abbas berkata: “Di antara iman mereka adalah apabila mereka ditanya: ‘Siapakah yang menciptakan langit, siapakah yang menciptakan bumi, siapakah yang menciptakan gunung-gunung mereka pasti menjawab, `Allah.’ Sedangkan mereka tetap menyekutukan (musyrik) kepada Allah.”

Mujahid, `Atha’, `Ikrimah, asy-Sya’bi, Qatadah, adh-Dhahhak, ‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam mengatakan seperti itu juga.

Disebutkan dalam shahih al-Bukhari dan shahih Muslim, bahwa orang-orang musyrik mengatakan dalam talbiyah mereka: “Aku memenuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, kecuali sekutu yang memang dia milik-Mu. Engkau memilikinya dan apa yang dimilikinya.” Disebutkan dalam shahih Muslim bahwa bila mereka mengatakan: “Aku memenuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu,” Rasulullah bersabda: “Cukup, cukup, jangan kalian tambah lagi!”

Allah berfirman: innasy syirka ladhulmun ‘adhiim (“Sesungguhnya syirik itu adalah benar-benar kedhaliman yang besar.”) Ini adalah syirik besar, yaitu beribadah kepadia Allah juga kepada ilah yang lain.

Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud, aku bertanya kepada Rasulullah saw: “Apakah dosa yang paling besar?” Beliau menjawab: “Kamu menjadikan sekutu bagi Allah, sedang Dia-lah yang menciptakanmu.”

Al-Hasan al-Bashri mengatakan tentang firman Allah: wa maa yu’minu aktsaruHum billaaHi illaa wa Hum musyrikuun (“Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Alah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah [dengan ilah-ilah lain].”) yang dimaksud adalah orang munafik, kalau ia berbuat sesuatu, hal itu karena pamer (riya’) kepada orang lain, dengan demikian ia mempersekutukan Allah dalam amal perbuatannya tadi, sebagaimana firmanAllah:

“Sesunggubnya orang-orang munafik itu menipu Allah, sedang Allah menipu mereka. Bila mereka mengerjakan shalat mereka mengerjakannya dengan malas-malasan, mereka pamer (riya) kepada orang lain dan mereka tidak mengingat Allah kecuali hanya sedikit saja.” (QS. An-Nisaa’: 142)

Kemudian macam lain dari syirik yaitu syirik yang tersembunyi yang biasanya tidak dirasakan (disadari) oleh pelakunya, sebagaimana diriwayatkan oleh Hammad bin Salamah dari `Ashim bin Abi an-Najud, dari `Urwah ia berkata: “Hudzaifah menjenguk seorang yang sakit dan ia melihat ikatan pada pangkal lengannya, maka ia memotong, atau melepaskannya, lalu berkata: wa maa yu’minu aktsaruHum billaaHi illaa wa Hum musyrikuun (“Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Alah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah [dengan ilah-ilah lain].”)

Disebutkan dalam hadits bahwa: “Barangsiapa bersumpah selain dengan nama Allah, maka dia telah berbuat syirik (mempersekutukan Allah).” Hadits tersebut diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dari Ibnu `Umar, dan dinilainya sebagai hadits hasan.

Dan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, dan lain-lain dari Ibnu Masud ia berkata: Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya ar-ruqa’ (mantra/jampi), at-tamaim (jimat untuk menolak hasad) dan at-tiwalah (sihir pengasih) itu adalah perbuatan syirik (mempersekutukan Allah).”

Keduanya juga meriwayatkan dengan lafazh lain: “Thiyarah (berfirasat buruk, merasa bernasib sial) itu adalah perbuatan syirik, tidak ada orang di antara kita yang tidak melakukannya, tetapi Allah menghilangkannya dengan tawakkal.”

Riwayat Imam Ahmad lebih luas (lengkap) lagi. Dari Zainab, isteri `Abdullah bin Mas’ud berkata: “Setiap kali `Abdullah pulang dari suatu keperluan, sesampainya di pintu ia berdehem dan meludah supaya tidak ada di antara kami yang tertimpa sesuatu yang tidak menyenangkan.” Zainab berkata: “Pada suatu hari ia datang dan berdehem seperti biasanya, sedang di rumah ada seorang wanita tua yang sedang mengobatiku dari merah-merah (di kulitku), maka ia segera kumasukkan (sembunyikan) di bawah tempat tidur. `Abdullah pun masuk dan duduk di sampingku dan melihat benang melingkar di leherku.” Ia bertanya: “Benang apa ini?” Aku menjawab: “Ini benang ruqyah untukku.” Maka ia segera memutuskannya sambil berkata: “Sesungguhnya keluarga `Abdullah tidak memerlukan perbuatan syirik, karena aku mendengar Rasulullah bersabda: ‘Sesungguhnya ar-ruqa’, at-tamaim, dan at-tiwalah itu perbuatan syirik (mempersekutukan Allah).’” Aku bertanya kepadanya: “Mengapa engkau mengatakan demikian, padahal dulu mataku pernah sakit, lalu aku pergi kepada seorang Yahudi untuk mengobatinya dengan ruqyah, dan setelah diobati pun sembuh.” Ia menjawab: “Hal itu disebabkan oleh syaitan, ia mencolok (matamu)
itu dengan tangannya, maka jika dijampinya, syaitan pun berhenti mengganggu matamu. Cukuplah bagimu mengatakan seperti yang dikatakan Rasulullah saw: ‘Hilangkanlah penyakit, wahai Rabb manusia, sembuhkanlah, karena Engkau-lah penyembuh, tidak ada kesembuhan kecuali (dengan) kesembuhan-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit apapun.”

Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari `Isa bin `Abdurrahman berkata: Saya masuk ke tempat `Abdullah bin `Ukaim yang sedang sakit untuk menjenguknya. Lalu, ada orang yang menasehatinya supaya mengalungkan sesuatu pada lehernya. Maka ia berkata: “Bagaimana aku mengalungkan sesuatu, sedang Rasulullah pernah bersabda: ‘Barangsiapa mengalungkan sesuatu, maka ia dibuat bergantung kepadanya.’

Hadits ini juga diriwayatkan oleh an-Nasa’i dari Abu Hurairah ra. Disebutkan dalam Musnad al-Imam Ahmad dari `Uqbah bin `Amir, Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa mengalungkan tamimah (jimat untuk menolak hasad dan lain-lain), maka dia telah berbuat syirik (mempersekutukan Allah).”

Dalam riwayat lain disebutkan: “Barangsiapa menggantungkan tamimah, maka Allah tidak menyempurnakan (kesembuhan) baginya, dan barangsiapa menggantungkan wada’ah (sejenis jimat), maka Allah tidak memberikan ketenangan baginya.”

Dan hadits dari al-‘Ala’, dari ayahnya, dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda:
“Allah berfirman: `Aku adalah sekutu yang paling kaya, tidak memerlukan sekutu lagi. Barangsiapa berbuat suatu amal perbuatan dan ia menyekutukan-Ku dengan yang lain, maka akan Aku tinggalkan dia bersama sekutunya.’” (Hadits diriwayatkan oleh Muslim)

Dari Mahmud bin Labid, bahwasanya Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya sesuatu yang paling aku khawatirkan atas diri kalian adalah syirik kecil.” Mereka bertanya: “Apakah syirik kecil itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Yaitu riya’ (pamer), Allah pada hari Kiamat nanti, ketika membalas amal perbuatan manusia, mengatakan: `Pergilah kepada orang-orang yang kalian pameri waktu di dunia dahulu, dan lihatlah apakah mereka menyediakan balasan untuk kalian?’”) Hadits diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

A fa aminuu an ta’tiyaHum ghaasyiyatum min ‘adzaabillaaHi (“Apakah mereka merasa aman dari kedatangan siksa Allah”) maksudnya, apakah orang-orang yang mempersekutukan Allah itu merasa aman dari kedatangan sesuatu yang meliputi mereka, sedang mereka tidak menyadarinya.

Ini seperti firman Allah Ta’ala yang artinya: “Apakah orang-orang yang berbuat kejahatan itu merasa aman jika Allah melenyapkan bumi ini, atau (merasa aman dari) kedatangan siksa secara mendadak yang tidak mereka sadari?” (QS. An-Nahl: 45)

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Israa’ Ayat 107-109

14 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Israa’
(Memperjalankan di Malam Hari)
Surah Makkiyyah; surah ke 17: 111 ayat

tulisan arab alquran surat al israa ayat 107-109“Katakanlah: ‘Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, (QS. 17:107) dan mereka berkata: ‘Mahasuci Rabb kami; sesungguhnya janji Rabb kami pasti dipenuhi.’ (QS. 17:108) Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’. (QS. 17:109)” (al-Israa’: 107-109)

Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya, Muhammad saw, “Hai Muhammad,” qul (“Katakanlah”) kepada orang-orang kafir tentang al-Qur’an yang engkau bawa kepada mereka ini; aaminuu biHii au laa tu’minuu (“Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman.”) Maksudnya, kalian beriman atau tidak adalah sama saja bagi Allah Ta’ala, ia tetap merupakan kebenaran yang Dia turunkan dan telah disebutkan pada zaman-zaman terdahulu melalui kitab-
kitab yang diturunkan kepada para Rasul-Nya sebelumnya.

Oleh karena Dia berfirman: innal ladziina uutul kitaaba minn qabliHi (“Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya,”) yakni, orang-orang shalih dari kalangan Ahlul Kitab yang berpegang teguh kepada kitab mereka, menegakkan, serta tidak mengganti dan merubahnya; idzaa yutlaa ‘alaiHim (“Apabila dibacakan kepada mereka,”) yakni, al-Qur’an ini, yakhirruuna lil adzqaani sujjadan (“Mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud.”) Adzqaan adalah jamak dari dziqn, yaitu bagian dari wajah (dagu). Yakni, sujud kepada Allah seraya bersyukur atas yang Dia anugerahkan kepada mereka, yakni berupa dijadikannya mereka sebagai orang-orang yang mengetahui para Rasul yang diturunkan kepadanya kitab ini.

Oleh karena itu, mereka berkata: Subhaana rabbinaa (“Mahasuci Rabb kami.”) Yakni, sebagai penghormatan dan penyanjungan atas kekuasaan-Nya yang sangat sempurna. Dan bahwasanya Dia tidak pernah menyalahi yang telah dijanjikan kepada mereka melalui lisan para Nabi-Nya terdahulu mengenai pengutusan Muhammad saw. Oleh karena itu, mereka pun berkata: subhaana rabbinaa inkaana wa’du rabbinaa lamaf’uulan (“Mahasuci Rabb kami, sesungguhnya Rabb kami pasti dipenuhi.”)

Dan firman-Nya: wa yakhirruuna lil adzqaani yabkuuna (“Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis.”) Yakni, sebagai bentuk ketundukan mereka kepada Allah sekaligus sebagai keimanan dan pembenaran terhadap al-Qur’an dan Rasul-Nya. Wa yaziiduHum khusyuu’an (“Dan mereka bertambah khusyu.”) Yakni, bertambahnya iman dan penyerahan diri. Firman-Nya: “Wa yakhirruuna” merupakan ‘athaf sifat atas sifat lainnya.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 106-107

25 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 106-107“Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. tidakkah kamu mengetahui bahwa Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu? (al-Baqarah: 106) Tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong.” (al-Baqarah: 107)

Mengenai firman Allah: maa nansakh min aayatin (“Ayat mana saja yang Kami nasakh-kan”) Ibnu Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas ia mengatakan, “Artinya yang Kami [Allah] gantikan.”

Dari Mujahid, Ibnu Juraij meriwayatkan, maa nansakh min aayatin (“Ayat mana saja yang Kami nasakh-kan”) maksudnya adalah: ayat mana saja yang Kami [Allah] hapuskan.

Ibnu Abi Nujaih meriwayatkan dari Mujahid, bahwa ia menuturkan: maa nansakh min aayatin; artinya: “Kami [Allah] biarkan tulisannya, tetapi kami ubah hukumnya.” Hal itu diriwayatkan dari beberapa shahabat Abdullah bin Mas’ud.

maa nansakh min aayatin; as-Suddi mengatakan: “Nasakh berarti menarik [menggenggamnya].”

Sedangkan Ibnu Abi Hatim mengatakan, yakni menggenggam dan mengangkatnya. Seperti firman-Nya: asy-syaikhu wasy-syaikhatu idzaa jayanaa farjumuuHumaa battata (“Orang yang sudah tua, baik laki-laki maupun perempuan yang berzina, maka rajamlah keduanya.”) demikian juga dengan firman-Nya: lau kaana libni aadama waadiyani min dzaHabil labtaghaa laHumaa tsaalitsan (“Seandainya ibnu Adam mempunya dua lembah emas, niscaya mereka akan mencari lembah yang ketiga.”)

Masih berhubungan dengan firman-Nya: maa nansakh min aayatin (“Ayat mana saja yang Kami nasakh-kan”) Ibnu Jarir mengatakan: artinya hukum suatu ayat yang Kami [Allah] pindahkan kepada lainnya dan Kami ganti dan ubah, yaitu mengubah yang haram menjadi halal, yang halal menjadi haram, yang boleh menjadi tidak boleh dan yang tidak boleh menjadi boleh. Dan hal itu tidak terjadi kecuali dalam perintah, larangan, keharusan, mutlaq dan ibadah [kebolehan]. Sedangkan ayat-ayat yang berkenaan dengan kisah-kisah tidak mengalami nasikh maupun mansukh.

Kata “an-naskhu” berasal dari “naskhul kitaabi” yaitu menukil dari suatu naskah ke naskah lainnya. Demikian halnya “naskhul hukmi” berarti penukilan dan pemindahan redaksi ke redaksi yang lainnya. Baik yang dinasakh itu hukum maupun tulisannya. Karena keduanya tetap kedudukannya sebagai mansukh [yang dinasakh].

Firman-Nya: aw nunsiHaa (“atau Kami jadikan lupa”) bisa dibaca dengan salah satu dari dua bacaan: “nansa-uHaa” dan “nunsiHaa”. Nansa-uHaa berarti: tuakh-kharuHaa [kami akhirkan].

Mengenai firman-Nya: maa nansakh min aayatin aw nunsiHaa; Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia mengemukakan, [artinya] Allah berfirman: “Ayat-ayat yang Kami rubah atau tinggalkan, tidak Kami ganti.”

Sedang Mujahid meriwayatkan dari beberapa sahabat Ibnu Mas’ud, au nunsi-uHaa [berarti] Kami tidak merubah tulisannya dan hanya mengubah hukumnya saja.”

Athiyyah al-Aufi mengatakan, au nunsi-uHaa; [artinya] Kami akhirkan ayat tersebut dan Kami tidak menghapusnya.

Masih berkenaan dengan ayat: maa nansakh min aayatin wa nunsi-uHaa; adh-Dhahhak mengatakan: “Yakni nasikh dari yang dimansukh.”

Mengenai bacaan “nunsiHaa” Abdur Razak meriwayatkan dari Ma’mar, dari Qatadah mengenai firman-Nya: maa nansakh min aayatin aw nunsiHaa; ia mengatakan, “Allah menjadikan Nabi-Nya, Muhammad saw. lupa dan menasakh ayat sesuai dengan kehendak-Nya.”

Ubaid bin Umair mengatakan, au nusiHaa; “Berarti Kami mengangkatnnya dari kalian.”

Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia menceritakan, “Umar bin al-Khaththab mengatakan, ‘Orang yang terbaik bacaannya di antara kami adalah Ubay dan yang paling ahli hukum adalah Ali, dan kami akan meninggalkan kata-kata Ubay, di mana ia mengatakan, ‘Aku tidak akan meninggalkan sesuatu apapun yang aku dengar dari Rasulullah saw. padahal Allah Ta’ala berfirman: maa nansakh min aayatin wa nunsiHaa (“Ayat many saja yang Kami nasakh,”) dan firman-Nya: na’ti bikhairim minHaa au mitsliHaa (“Kami datangkan yang lebih baik darinya atau sepadan dengannya.”) Yaitu hal hukum yang berkaitan dengan kepentingan Para mukallaf.”

Sebagaimana yang dikatakan Ali bin Abi Talhah, dari Ibnu Abbas, mengenai firman-Nya, na’ti bikhairim minHaa au mitsliHaa (“Kami datangkan yang lebih baik darinya atau sepadan dengannya.”) ia mengatakan, “Yaitu memberi manfaat yang lebih baik bagi kalian dan lebih ringan.”

Masih mengenai firman-Nya: na’ti bikhairim minHaa au mitsliHaa (“Kami datangkan yang lebih baik darinya atau sepadan dengannya.”) Qatadah mengatakan, “Yaitu ayat yang di dalamnya mengandung pemberian keringanan, rukhshah, perintah, dan larangan.”

Dan firman Allah swt: alam ta’lam annallaaHa ‘alaa kulli syai-in qadiirun alam ta’lam annallaaHa laHuu mulkus samaawaati wal ardli wa maa lakum min duunillaaHi miw waliyyiw wa laa nashiir (“Tidakkah engkau mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu? Tidakkah engkau mengetahui bahwa kerajaan dan bumi adalah kepunyaan Allah? Dan tidak ada bagi kalian selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong.”)

Imam Abu Ja’far bin Jarir rahimahullahu mengatakan, “Penafsiran ayat tersebut adalah sebagai berikut: ‘Hai Muhammad, tidakkah engkau mengetahui bahwa hanya Aku (Allah) pemilik kerajaan dan kekuasaan atas langit dan bumi. Di dalamnya Aku putuskan segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Ku, dan di sana Aku mengeluarkan perintah dan larangan, dan (juga) menasakh, mengganti, serta merubah hukum-hukum yang Aku berlakukan di tengah-tengah hamba-Ku sesuai kehendak-Ku, jika Aku menghendaki.’”

Lebih lanjut Abu Ja’far mengatakan, ayat itu meski diarahkan kepada Nabi Muhammad untuk memberitahu keagungan Allah swt, namun sekaligus hal itu dimaksudkan untuk mendustakan orang-orang Yahudi yang mengingkari nasakh (penghapusan) hukum-hukum Taurat dan menolak kenabian Isa as. dan Muhammad saw. karena keduanya datang dengan membawa beberapa perubahan dari sisi Allah untuk merubah hukum-hukum Taurat. Maka Allah memberitahukan kepada mereka bahwa kerajaan dan kekuasaan atas langit dan bumi ini hanyalah milik-Nya, semua makhluk ini berada di bawah kekuasaan-Nya. Mereka harus tunduk dan patuh menjalankan perintah dan menjahui larangan-Nya. Dia mempunyai hak memerintah dan melarang mereka, menasakh, menetapkan, dan membuat segala sesuatu menurut kehendak-Nya.

Berkenaan dengan hal tersebut penulis (Ibnu Katsir) katakan, Yang membawa orang Yahudi membahas masalah nasakh ini adalah semata-mata karena kekufuran dan keingkarannya terhadap adanya nasakh tersebut. Menurut akal sehat, tidak ada suatu hal pun yang melarang adanya nasakh dalam hukum-hukum Allah Ta’ala, karena Dia dapat memutuskan segala sesuatu
sesuai dengan kehendak-Nya, sebagaimana Dia juga dapat berbuat apa saja yang di kehendaki-Nya. Yang demikian itu juga telah terjadi di dalam kitab-kitab dan syari’at-syari’at-Nya yang terdahulu. Misalnya, dahulu Allah swt. membolehkan Nabi Adam mengawinkan putrinya dengan puteranya sendiri, tetapi setelah itu Dia mengharamkan hal itu. Dia juga membolehkan Nabi Nuh setelah keluar dari kapal untuk memakan semua jenis hewan, tetapi setelah itu Dia menghapus penghalalan sebagiannya.

Selain itu, dulu menikahi dua saudara puteri itu diperbolehkan bagi Israil (Nabi Ya’qub) dan anak-anaknya, tetapi hal itu diharamkan di dalam syariat Taurat dan kitab-kitab setelahnya, Dia juga pernah menyuruh Nabi Ibrahim, menyembelih puteranya, tetapi kemudian Dia menasakhnya sebelum perintah itu dilaksanakan. Allah swt. juga memerintahkan mayoritas Bani Israil untuk membunuh orang-orang di antara mereka yang menyembah anak sapi, lalu Dia menarik kembali perintah pembunuhan tersebut agar tidak memusnahkan mereka.

Di samping itu, masih banyak lagi hal-hal yang berkenaan dengan masalah itu, orang-orang Yahudi sendiri mengakui dan membenarkannya. Dan jawaban-jawaban formal yang diberikan berkenaan dengan dalil-dalil ini, tidak dapat memalingkan sasaran maknanya, karena demikian itulah yang dimaksudkan. Dan sebagaimana yang masyhur tertulis di dalam kitab-kitab mereka mengenai kedatangan Nabi Muhammad saw. dan perintah untuk mengikutinya. Hal itu memberikan pengertian yang mengharuskan untuk mengikuti Rasulullah dan bahwa suatu amalan tidak akan diterima kecuali yang didahulukan berdasarkan syariatnya, baik dikatakan bahwa syariat terdahulu itu terbatas sampai pengutusan Rasulullah saw. Dan bahwa suatu amalan tidak akan diterima kecuali yang didahulukan berdasarkan syariatnya, baik dikatakan bahwa syariat terdahulu itu terbatas sampai pengutusan Rasulullah saw. maka yang demikian itu tidak disebut sebagai nasakh. Hal itu didasarkan pada firmari-Nya: tsumma atimmush shiyaama ilal laili (“Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam.”)

Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa syariat itu bersifat mutlak sedangkan syariat Muhammad menasakhnya. Bagaimanapun adanya, mengikutinya (Nabi Muhammad saw.) suatu keharusan, karena beliau datang dengan membawa sebuah kitab yang merupakan kitab terakhir dari Allah Tabaraka wa Ta’ala.

Dalam hal ini, Allah Ta’ala menjelaskan dibolehkannya nasakh sebagai bantahan terhadap orang-orang Yahudi -lanatulah alaihim-, di mana Dia berfirman: alam ta’lam annallaaHa ‘alaa kulli syai-in qadiirun alam ta’lam annallaaHa laHuu mulkus samaawaati wal ardli (“Tidakkah engkau mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu? Tidakkah engkau mengetahui bahwa kerajaan dan bumi adalah kepunyaan Allah?”)

Sebagaimana Dia mempunyai kekuasaan tanpa ada yang menandinginya, demikian pula hanya Dia yang berhak memutuskan hukum menurut kehendak-Nya. “Ketahuilah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah.” (QS. Al-A raaf: 54) Dan di dalam Surat Ali Imran yang mana konteks pembicaraan pada bab awal surat tersebut ditujukan kepada Ahlul Kitab juga terdapat nasakh, yaitu pada firman-Nya: kulluth-tha’aami kaana hillal libanii israa-iila illaa maa harrama israa-iilu ‘alaa nafsiHi (“Semua makanan adalah halal bagi Bani Israil kecuali makanan yang diharamkan oleh Israil [Nabi Ya’qub] untuk dirinya sendiri.”) Sebagaimana penafsiran ayat ini akan kami sampaikan pada pembahasan berikutnya.

Kaum muslimin secara keseluruhan sepakat membolehkan adanya nasakh dalam hukum-hukum Allah Ta’ala, karena di dalamnya terdapat hikmah yang sangat besar. Dan mereka semua mengakui terjadinya nasakh tersebut.

Seorang mufasir, Abu Muslim ash-Ashbahaani mengatakan: “Tidak ada nasakh di dalam al-Qur’an.” Pendapat Abu Muslim itu sangat lemah dan patut ditolak. Dan sangat mengada-ada dalam memberikan jawaban berkenaan dengan terjadinya nasakh. Misalnya (pendapat) mengenai masalah iddah seorang wanita yang berjumlah empat bulan sepuluh hari setelah satu tahun. Dia tidak dapat memberikan jawaban yang dapat diterima. Demikian halnya masalah pemindahan kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah, juga tidak diberikan jawaban sama sekali. Juga penghapusan kewajiban bersabar manghadapi kaum kafir satu lawan sepuluh menjadi satu lawan dua. Dan juga penghapusan (nasakh) kewajiban membayar sedekah sebelum mengadakan pembicaraan khusus dengan Rasulullah, dan lain-lainnya. Wallahu a’lam.

&

107. Surah Al-Maa’uun

4 Des

Pembahasan Tentang Surat-Surat Al-Qur’an (Klik di sini)
Tafsir Ibnu Katsir (Klik di sini)

Surat ini terdiri atas 7 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat At Taakatsur. Nama Al Maa’uun diambil dari kata Al Maa’uun yang terdapat pada ayat 7, artinya barang-barang yang berguna.

Pokok-pokok isinya:
Beberapa sifat manusia yang dipandang sebagai mendustakan agama. Ancaman terhadap orang-orang yang melakukan shalat dengan lalai dan riya.
Surat Al Maa’uun menjelaskan sifat-sifat manusia yang buruk yang membawa mereka ke dalam kesengsaraan.

HUBUNGAN SURAT AL MAA’UUN DENGAN SURAT AL KAUTSAR

Dalam surat Al Maa’uun dikemukakan sifat-sifat manusia yang buruk, sedang dalam surat Al Kautsar ditunjukkan sifat-sifat yang mulia, yang diperintahkan mengerjakannya.