Tag Archives: 109-110

Tafsir Ibnu Katsir Surah At-Taubah ayat 109-110

5 Nov

Tafsir Ibnu Katsir Surah At-Taubah ayat 109-110
Tafsir Al-Qur’an Surah At-Taubah (Pengampunan)
Surah Madaniyyah; surah ke 9: 129 ayat

tulisan arab alquran surat at taubah ayat 109-110

“Maka apakah orang-orang yang mendirikan masjidnya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridaan-(Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dia ke dalam neraka Jahanam? Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim. Bangunan-bangunan yang mereka dirikan itu senantiasa menjadi pangkal keraguan dalam hati mereka, kecuali bila hati mereka itu telah hancur. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (At-Taubah ayat 109-110)

Allah Swt. berfirman bahwa tidak sama antara orang yang membangun bangunannya atas dasar takwa dan rida Allah dengan orang yang membangun Masjid Dirar karena kekafirannya dan untuk memecah belah orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Karena sesungguhnya mereka yang kafir itu membangun bangunannya di tepi jurang yang runtuh, yakni perumpamaannya sama dengan orang yang membangun bangunannya di tepi jurang yang longsor.

{عَلَى شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فِي نَارِ جَهَنَّمَ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ}

lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dia ke dalam neraka Jahanam. Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (At-Taubah: 109)

Artinya, Allah tidak akan memperbaiki amal perbuatan orang-orang yang merusak.

Jabir ibnu Abdullah mengatakan bahwa ia melihat masjid yang dibangun untuk menimbulkan mudarat terhadap orang-orang mukmin itu keluar asap dari dalamnya di masa Rasulullah Saw.

Ibnu Juraij mengatakan, telah diceritakan kepada kami bahwa pernah ada sejumlah kaum laki-laki membuat galian, dan mereka menjumpai sumber asap yang keluar darinya.

Hal yang sama telah dikatakan oleh Qatadah. Khalaf ibnu Yasin Al-Kufi mengatakan bahwa ia melihat masjid orang-orang munafik yang disebutkan oleh Allah di dalam Al-Qur’an, di dalamnya terdapat sebuah liang yang mengeluarkan asap. Di masa sekarang tempat itu menjadi tempat pembuangan sampah. Demikianlah menurut apa yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir rahimahulldh.

*******

Firman Allah Swt.:

{لَا يَزَالُ بُنْيَانُهُمُ الَّذِي بَنَوْا رِيبَةً فِي قُلُوبِهِمْ}

Bangunan-bangunan yang mereka dirikan itu senantiasa menjadi pangkal keraguan dalam hati mereka. (At-Taubah: 110)

Yakni menjadi keraguan dan kemunafikan dalam hati mereka disebabkan kekurangajaran mereka yang berani melakukan perbuatan jahat itu. Hal tersebut meninggalkan kemunafikan dalam hati mereka. Sebagaimana para penyembah anak lembu di masa Nabi Musa, hati mereka dijadikan senang dengan penyembahan mereka terhadap anak lembu itu.

*******

Firman Allah Swt.:

{إِلا أَنْ تَقَطَّعَ قُلُوبُهُمْ}

kecuali bila hati mereka itu telah hancur. (At-Taubah: 110)

Yaitu dengan kematian mereka. Demikianlah menurut Ibnu Abbas, Mujahid, Qatadah, Zaid ibnu Aslam, As-Saddi, Habib ibnu Abu Sabit, Ad-Dahhak, Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam, dan lain-lainnya dari kalangan ulama Salaf yang bukan hanya seorang.

{وَاللَّهُ عَلِيمٌ}

Dan Allah Maha Mengetahui. (At-Taubah: 110)

Allah Maha Mengetahui semua amal perbuatan makhluk-Nya.

{حَكِيمٌ}

lagi Mahabijaksana. (At-Taubah: 110)

dalam memberikan balasan terhadap perbuatan mereka, yang baik ataupun yang buruk.

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-An’am ayat 109-110

18 Des

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-An’am (Binatang Ternak)
Surah Makkiyyah; surah ke 6: 165 ayat

tulisan arab alquran surat al an'am ayat 109-110“Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan segala kesungguhan, bahwa sungguh jika datang kepada mereka suatu mukjizat, pastilah mereka beriman kepada-Nya. Katakanlah: ‘Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu hanya berada di sisi Allah.’ Dan apakah yang memberitahukan kepadamu bahwa apabila mukjizat datang mereka tidak akan beriman. (QS. 6:109) Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (al-Qur’an) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat. (QS. 6:110)” (al-An’aam: 109-110)

Allah berfirman, memberitahukan tentang orang-orang musyrik, bahwa mereka telah bersumpah dengan menyebut nama Allah dengan segala kesungguhan mereka. Artinya, mereka bersumpah dengan sumpah-sumpah yang penuh kesungguhan; la in jaa-atHum aayatun (“Bahwa sungguh jika datang kepada mereka suatu tanda.”) Yaitu, mukjizat atau suatu hal yang di luar kebiasaan.
La yu’minuuna biHaa (“Pastilah mereka beriman k pada-Nya.”) Maksudnya, pasti mereka akan membenarkannya.

Qul innamal aayaatu ‘indallaaHi (“Katakanlah: ‘Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu hanya berada di sisi Allah. Maksudnya, katakanlah hai Muhammad, kepada orang-orang yang menanyakan kepadamu tanda-tanda [kekuasaan Allah] dengan penuh keangkuhan, kekafiran, dan keingkaran dan bukan berdasarkan petunjuk dan keinginan untuk memperoleh bimbingan, bahwa tanda-tanda kekuasaan itu berada di tangan Allah. Jika berkehendak Allah akan mendatangkannya kepada kalian, dan jika tida maka Allah akan membiarkan kalian, Allah berfirman yang artinya:
“Dan sekali-sekali tidak ada yang menghalangi Kami untuk mengirimkan [kepadamu] tanda-tanda [kekuasaan Kami] melainkan karena tanda-tanda itu telah didustakan oleh orang-orang dahulu.” (QS. Al-Israa’: 59)

Firman Allah selanjutnya: wa maa yusy’irukum annaHaa idzaa jaa-at laa yu’minuun (“Dan apakah yang memberitahukan kepadamu bahwa apabila mukjizat datang mereka tidak akan beriman.”) Ada yang berpendapat, yang menjadi mukhathab (lawan bicara) dalam kata yusy’irukum adalah orang-orang musyrik. Pendapat itulah yang dikemukakan Mujahid. Seakan-akan Allah berfirman kepada mereka:
“Apakah kalian mengetahui kebenaran sikap kalian terhadap sumpah-sumpah yang kalian ucapkan tersebut.” Berdasarkan hal tersebut, maka dibolehkan membaca “innaHaa” seperti yang dikemukakan yang pertama, atau “annaHaa” dengan menggunakan fathah dengan ma’mul [obyek] dari kata yusyrikuun.

Dengan demikian, kata “laa” dalam firman-Nya: annaHaa idzaa jaa-at laa yu’minuun; merupakan shilah [penyambung] dengan perkiraan redaksi sebagai berikut: “Apakah kalian mengetahui hai orang-orang yang beriman, yang kalian sangat menginginkan lagi antusias agar mereka beriman bahwa jika tanda tanda kekuasaan itu datang kepada mereka, pasti mereka akan beriman?”

Firman-Nya: wa nuqallibu af-idataHum wa abshaaraHum kamaa lam yu’minuu biHii awwala marratin (“Dan [begitu pula] Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya [al-Qur an] pada permulaannya.”)

Mujahid berkata: “Artinya Kami berikan penghalang antara mereka dengan keimanan, sehingga meskipun datang setiap tanda kekuasaan kepada mereka, maka mereka tidak akan beriman, sebagaimana Kami telah menghalangi antara mereka dengan iman sejak pertama kali.” Hal yang demikian juga dikemukakan oleh `Ikrimah dan `Abdurrahman bin Zaid bin Aslam.

Firman-Nya setelah itu: wa nadzaruHum (“Dan Kami biarkan mereka.”) Maksudnya, Kami tinggalkan mereka. Fii tughyaaniHim (“Dalam kesesatannya.”) Ibnu `Abbas dan as-Suddi berkata: “Yaitu dalam kekufuran mereka.”
Abul `Aliyah, ar-Rabi’ bin Anas, dan Qatadah berkata: “Yaitu dalam kesesatan mereka.”

Ya’maHuun (“Bergelimang.”) Al-A’masy berkata: “Berarti bermain-main.”
Sedangkan Ibnu `Abbas, Mujahid, Abul `Aliyah, ar-Rabi’ bin Anas, Abu Malik, dan yang lainnya berkata, “Yaitu di dalam kekufuran mereka, mereka bimbang/bingung.”

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 109-110

29 Nov

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 109-110“Pemuka-pemuka kaum Fir’aun berkata: ‘Sesungguhnya Musa ini adalah ahli sihir yang pandai, (QS. 7:109) yang bermaksud hendak mengeluarkan kamu dari negerimu.’ (Fir’aun berkata): ‘Maka apakah yang kamu anjurkan?’ (QS. 7:110)” (al-A’raaf: 109-110)

Maksudnya, orang-orang terhormat dan terpandang dari kaum Fir’aun mengatakan demikian, seperti apa yang dikatakan oleh Fir’aun terhadap hal itu, setelah ia merasa ketakutan. Lalu ia duduk di kursi kerajaannya dan mengatakan kepada para pemuka kaumnya yang berada di sekelilingnya, “Sesungguhnya Musa ini adalah ahli sihir yang pandai.”

Maka para pemuka kaumnya itu pun sepakat dengannya dan mengatakan seperti apa yang diucapkan Fir’aun itu. Kemudian mereka bermusyawarah, bagaimana mereka harus berbuat terhadap Musa dan bagaimana mereka harus melakukan tipu daya dalam rangka memadamkan cahayanya (Musa), menumpas dakwahnya dan menampakkan kedustaannya. Dan mereka khawatir orang-orang akan terpengaruh oleh sihirnya [menurut anggapan mereka], sehingga hal itu menjadi penyebab kemenangan Musa atas mereka dan kelak akan mengusir mereka dari tanah air mereka.

Dan apa yang mereka khawatirkan itu akhirnya terjadi, sebagaimana firman Allah yang artinya: “Dan akan Kami perlihatkan kepada Fir’aun dan Haman beserta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka itu.” (QS. Al-Qashash: 6)

Setelah mereka bermusyarah dan mengatur strategi mengenai urusannya itu, mereka pun sepakat atas sesuatu pendapat, seperti yang diceritakan Allah dalam firman-Nya dalam ayat selanjutnyai:

&