Tag Archives: 112

Tafsir Ibnu Katsir Surah At-Taubah ayat 112

5 Nov

Tafsir Ibnu Katsir Surah At-Taubah ayat 112
Tafsir Al-Qur’an Surah At-Taubah (Pengampunan)
Surah Madaniyyah; surah ke 9: 129 ayat

tulisan arab alquran surat at taubah ayat 112

“Mereka itu adalah orang-orang yang bertobat, yang beribadah, yang memuji (Allah), yang berpuasa, yang rukuk, yang sujud, yang menyuruh berbuat makruf dan mencegah berbuat mungkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu.” (At-Taubah ayat 112)

Ayat ini menyebutkan sifat orang-orang mukmin yang pengorbanan jiwa dan harta benda mereka diterima Allah SWT mereka mempunyai sifat-sifat yang baik dan pekerti yang agung, yaitu:

{التَّائِبُونَ}

orang-orang yang bertobat. (At-Taubah: 112)

Yakni bertobat dari semua dosa dan meninggalkan semua perbuatan yang keji.

{الْعَابِدُونَ}

orang-orang yang ahli ibadah. (At-Taubah: 112)

Yaitu mereka menegakkan ibadahnya kepada Tuhan mereka dan memeliharanya dengan baik, baik ibadah yang berkaitan dengan ucapan maupun pekerjaan. Secara khusus ibadah lisan ialah membaca hamdalah (pujian) kepada Allah. Karena itu, dalam firman selanjutnya disebutkan:

{الْحَامِدُونَ}

orang-orang yang memuji (Allah). (At-Taubah: 112)

Di antara amal yang paling utama ialah berpuasa, yaitu meninggalkan kelezatan makan dan minum serta bersetubuh. Pengertian inilah yang dimaksud dengan istilah siyahah dalam ayat ini, yaitu firman-Nya:

{السَّائِحُونَ}

orang-orang yang berpuasa. (At-Taubah: 112)

Sama halnya dengan sifat yang dimiliki oleh istri-istri Nabi Saw. yang disebutkan di dalam firman-Nya:

{سَائِحَاتٍ}

Yakni wanita-wanita yang berpuasa. (At Tahrim: 5)

Mengenai rukuk dan sujud, keduanya merupakan bagian dari salat; dan makna yang dimaksud adalah salat itu sendiri, seperti yang disebutkan oleh firman-Nya:

{الرَّاكِعُونَ السَّاجِدُونَ}

yang rukuk dan yang sujud. (At-Taubah: 112)

Sekalipun demikian, mereka memberikan manfaat kepada makhluk Al­lah, membimbing mereka untuk taat kepada Allah, dan memerintahkan mereka untuk mengerjakan hal yang makruf dan melarang mereka dari perbuatan yang mungkar. Mereka juga mengetahui semua hal yang harus mereka kerjakan dan semua hal yang wajib mereka tinggalkan, yakni mereka selalu memelihara hukum-hukum Allah dalam pengharaman dan penghalalan-Nya secara teori dan pengamalannya. Dengan demikian, berarti mereka telah menegakkan ibadah kepada Yang Mahabenar dan memberikan nasihat kepada makhluk-Nya. Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:

{وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ}

Dan gembirakanlah orang-orang yang mukmin itu. (At-Taubah: 112)

Dikatakan demikian karena iman mencakup semua sifat tersebut, dan kebahagiaan yang paling puncak ialah bagi orang yang memiliki sifat-sifat itu.

Keterangan mengenai makna Siyahah dalam ayat ini adalah puasa

Sufyan As-Sauri telah meriwayatkan dari Asim, dari Zar, dari Abdullah ibnu Mas’ud yang mengatakan sehubungan dengan makna lafaz as-saihuna, bahwa makna yang dimaksud adalah orang-orang yang berpuasa. Hal yang sama telah dikatakan oleh riwayat Sa’id ibnu Jubair dan Al-Aufi, dari Ibnu Abbas.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa semua lafaz siyahah yang disebutkan oleh Allah SWT dalam Al Quran artinya puasa. Hal yang sama telah dikatakan oleh Ad-Dahhak rahimahullah.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Ishaq, telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Yazid, dari Al-Walid ibnu Abdullah, dari Aisyah r.a. yang mengatakan bahwa siyahah (pesiar)nya umat ini adalah puasa.

Hal yang sama telah dikatakan ojeh Mujahid, Sa’id ibnu Jubair, Ata, Abdur Rahman As-Sulami, Ad-Dahhak ibnu Muzahim, Sufyan ibnu Uyaynah, dan lain-lainnya. Mereka mengatakan bahwa yang dimaksud dengan as-saihun ialah orang-orang yang berpuasa.

Al-Hasan Al-Basri telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: orang-orang yang berpuasa. (At-Taubah: 112) Menurutnya, mereka adalah orang-orang yang mengerjakan puasa di bulan Ramadan.

Abu Amr Al-Abdi telah mengatakan sehubungan dengan makna firman Allah Swt.: orang-orang yang berpuasa. (At-Taubah: 112) Mereka adalah orang-orang mukmin yang menjalankan puasanya secara terus-menerus.

Di dalam sebuah hadis marfu’ telah disebutkan hal yang se­misal.

قَالَ ابْنُ جَرِيرٍ: حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بن بَزِيع، حَدَّثَنَا حَكِيمُ بْنُ حِزَامٍ، حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “السَّائِحُونَ هُمُ الصَّائِمُونَ”

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Abdullah ibnu Bazi’, telah menceritakan kepada kami Hakim ibnu Hizam, telah menceritakan kepada kami Sulaiman, dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Orang-orang yang ber-siyahah adalah orang-orang yang berpuasa

Tetapi predikat mauquf hadis ini lebih sahih.

قَالَ أَيْضًا: حَدَّثَنِي يُونُسُ، عَنِ ابْنِ وَهْبٍ، عَنْ عُمَرَ بْنِ الْحَارِثِ، عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ، عَنْ عُبَيد بْنِ عُمَير قَالَ: سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ السَّائِحِينَ فَقَالَ: “هُمُ الصَّائِمُونَ”

Ibnu Jarir mengatakan pula bahwa telah menceritakan kepadaku Yunus, dari Ibnu Wahb, dari Umar ibnul Hari s, dari Amr ibnu Dinar, dari Ubaid ibnu Umair yang mengatakan bahwa Nabi Saw. pernah ditanya mengenai makna as-saihun. Maka beliau menjawab: Mereka adalah orang-orang yang berpuasa.

Hadis ini berpredikat mursal lagi jayyid. Pendapat ini adalah pendapat yang paling sahih dan paling terkenal.

Akan tetapi, ada pendapat yang menunjukkan bahwa makna siyahah adalah jihad, seperti apa yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud di dalam kitab Sunan-nya melalui hadis Abu Umamah, bahwa ada seorang lelaki bertanya, “Wahai Rasulullah, izinkanlah saya untuk ber-siyahah.” Maka Nabi Saw. menjawab melalui sabdanya:

“سِيَاحَةُ أُمَّتَيِ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ”

Siyahah umatku adalah berjihad di jalan Allah.

Ibnul Mubarak telah meriwayatkan dari Ibnu Lahi’ah, bahwa telah menceritakan kepadaku Imarah ibnu Gazyah; pernah disebutkan masalah siyahah di hadapan Rasulullah Saw., maka Rasulullah Saw. bersabda:

“أَبْدَلَنَا اللَّهُ بِذَلِكَ الْجِهَادَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَالتَّكْبِيرَ عَلَى كُلِّ شَرَفٍ”.

Allah telah menggantikannya buat kita dengan berjihad di jalan Allah dan bertakbir di atas setiap tanjakan (tempat yang tinggi).

Dari Ikrimah, disebutkan bahwa orang-orang yang ber-siyahah adalah nara penuntut ilmu.

Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang berhijrah.

Kedua riwayat di atas diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim. Tetapi bukanlah yang dimaksud dengan siyahah apa yang dipahami oleh sebagian orang, bahwa mereka adalah orang-orang yang melakukan ibadah seraya ber-siyahah di muka bumi dengan menyendiri di puncak-puncak bukit, atau di gua-gua, atau di tempat-tempat yang sepi. Karena sesungguhnya hal ini tidaklah disyariatkan kecuali hanya dalam masa fitnah sedang melanda umat dan terjadi keguncangan dalam agama.

Di dalam kitab Sahih Bukhari disebutkan sebuah hadis melalui Abu Sa’id Al-Khudri r.a., bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:

“يُوشِكُ أَنْ يَكُونَ خَيْرَ مَالِ الرَّجُلِ غَنَم يَتْبَع بِهَا شَعفَ الْجِبَالِ، وَمَوَاقِعَ القَطْر، يَفِرُّ بِدِينِهِ مِنَ الْفِتَنِ”.

Hampir tiba masanya di mana sebaik-baik harta seseorang berupa ternak kambing yang ia ikuti sampai ke lereng-lereng bukit dan tempat-tempat yang berhujan, seraya melarikan diri menyelamatkan agamanya dari fitnah-fitnah (yang sedang melanda).

Al-Aufi dan Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:

{وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ}

dan orang-orang yang memelihara hukum-hukum Allah. (At-Taubah: 112)

Maksudnya adalah orang-orang yang menjalankan ketaatan kepada Al­lah. Hal yang sama telah dikatakan oleh Al-Hasan Al-Basri.

Dan dari Al-Hasan Al-Basri dalam riwayat yang lain sehubungan dengan makna firman-Nya: orang-orang yang memelihara hukum-hukum Allah. (At-Taubah: 112) Dalam riwayat itu disebutkan bahwa yang dimaksud adalah memelihara hal-hal yang difardukan oleh Allah Swt. Dan dalam riwayat lainnya lagi disebutkan orang-orang yang menegakkan perintah Allah.

Tafsir Ibnu Katsir Surah Huud ayat 112-113

1 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Huud
Surah Makkiyyah; surah ke 11: 123 ayat

tulisan arab alquran surat huud ayat 112-113“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertaubat besertamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah Mahamelihat apa yang kamu kerjakan. (QS. 11:112) Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang dhalim yang menyebabkanmu disentuh api neraka dan sekali-kali kamu tidak mempunyai seorang penolong pun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan. (QS. 11:113)” (Huud: 112-113)

Allah memerintahkan Rasul dan hamba-hamba-Nya yang beriman untuk teguh dan selalu tetap dalam istiqamah, itu merupakan sebab yang dapat memberikan pertolongan yang besar dalam meraih kemenangan atas musuh-musuh dan dapat menghindari bentrokan serta dapat terhindar dari perbuatan melampaui batas, karena melampaui batas itu merupakan kehancuran, meskipun terhadap orang musyrik dan Allah memberi tahu bahwa Allah adalah Mahamelihat kepada perbuatan hamba-hamba-Nya, Allah tidak lalai dan tidak tersamar sedikit pun (dari-Nya).

Firman-Nya: walaa tarkanuu ilal ladziina dhalamuu (“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang dhalim.”)

`Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu `Abbas: “Janganlah kamu bermanis mulut.” Abul `Aliyah berkata: “Janganlah kamu rela dengan perbuatan mereka.” Ibnu Jarir berkata dari Ibnu `Abbas: “Janganlah kamu tertarik kepada orang-orang yang dhalim.” Ucapan ini adalah baik, maksudnya; “Janganlah kalian meminta tolong dengan kedhaliman, maka seolah-olah kamu rela dengan perbuatan mereka.”

Fatamassakumun naaru wa maa lakum min duunillaaHi min auliyaa-a tsumma laa tunsharuun (“Yang menyebabkan kamu disentuh api neraka dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.”)
Maksudnya, kamu tidak mempunyai penolong yang menyelamatkan dan menolong kamu dari siksa-Nya selain Allah.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 111-113

31 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 111-113“Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi dan Nasrani.” Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: “Tunjukkan kebenaranmu jika kamu adalah orang-orang yang benar.” (QS. 2:111) (Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Rabb-nya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. 2:112) Dan orang-orang Yahudi berkata: “Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan,” dan orang-orang Nasrani berkata: “Orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu pegangan,” padahal mereka (sama-sama) membaca al-Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui, mengucapkan seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili di antara mereka pada hari kiamat, tentang apa-apa yang mereka berselisih padanya.” (QS. 2:113)

Allah menjelaskan ketertipuan orang-orang Yahudi dan Nasrani oleh apa yang ada pada diri mereka, dimana setiap kelompok dari keduanya (Yahudi dan Nasrani) mengaku bahwasanya tidak akan ada yang masuk surga kecuali memeluk agama mereka, sebagaimana yang diberitahukan Allah Tabaraka wa Ta’ala melalui firman-Nya dalam Surat al-Maa-idah berikut ini, mereka menyatakan, “Kami anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya.” (QS. A1-Maa-idah: 18)

Kemudian Allah Ta’ala mendustakan pengakuan mereka itu melalui pemberitahuan yang disampaikan dalam firman-Nya bahwa Dia akan mengadzab mereka akibat dosa yang mereka perbuat. Seandainya keadaan mereka sebagaimana yang mereka katakan, niscaya keadaannya tidak demikian. Sebagaimana pengakuan mereka sebelumnya yang menyatakan bahwa mereka
tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali beberapa hari saja. Kemudian mereka masuk ke surga. Tetapi pengakuan mereka ini pun mendapat bantahan dari Allah swt. Berikut ini adalah bantahan Allah Ta’ala berkenaan dengan pengakuan mereka yang tidak berdasarkan dalil, hujjah, dan keterangan yang jelas, di mana Dia berfirman, tilka ammaaniyyuHum (“Itulah angan-angan mereka.”)

Abul ‘Aliyah mengatakan: “Artinya, yaitu angan-angan yang mereka dambakan dari Allah tanpa alasan yang benar.” Hal senada juga dikemukakan oleh Qatadah dan ar-Rabi’ bin Anas.

Selanjutnya Allah swt. berfirman: qul (“Katakan,”) hai Muhammad, Haatuu burHaanakum (“Kemukakanlah penjelasan kalian.”) Abul ‘Aliyah, Mujahid, as-Suddi, dan ar-Rab’i bin Anas mengatakan, “(Artinya) kemukakanlah hujjah kalian.” Sedangkan Qatadah mengatakan: “Berikanlah keterangan mengenai pengakuan kalian itu, ‘Jika kalian orang-orang yang benar, dalam pengakuan kalian ini.’”

Setelah itu Allah Ta’ala berfirman: balaa man as-lama waj-HaHu lillaaHi wa Huwa muhsinun (“Bahkan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang ia berbuat baik.”) Maksudnya, barangsiapa yang mengikhlaskan amalnya hanya untuk Allah semata, yang tiada sekutu bagi-Nya.

Berkaitan dengan firman-Nya, balaa man as-lama waj-HaHu lillaaHi wa Huwa muhsinun (“Bahkan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang ia berbuat baik.”) Abu al-Aliyah dan ar-Rabi’ bin Anas mengatakan, “(Yaitu), barangsiapa yang benar-benar tulus karena Allah. ”

Masih berkenaan dengan ayat tersebut, “wajHaHu” (dirinya) Jubair mengatakan, yaitu yang tulus ikhlas menyerahkan “agamanya”. Sedang “wa Huwa muhsinun” (Ia berbuat baik) artinya, mengikuti Rasulullah saw. Karena amal perbuatan yang diterima itu harus memenuhi dua syarat, yaitu harus didasarkan pada ketulusan karena Allah Ta’ala semata, dan syarat kedua, harus benar dan sejalan dengan syari’at Allah. Jika suatu amalan sudah didasarkan pada keikhlasan hanya karena Allah, tetapi tidak benar dan tidak sesuai dengan syariat, maka amalan tersebut tidak diterima.

Oleh karena itu, Rasulullah bersabda: “Barangsiapa mengerjakan suatu amal yang tidak sejalan dengan perintah kami, maka amal itu tertolak.” (HR. Imam Muslim, dari hadits ‘Aisyah ra.)

Dengan demikian, perbuatan para pendeta ahli ibadah dan yang semisalnya, meskipun mereka tulus ikhlas dalam mengerjakannya karena Allah, namun perbuatan mereka itu tidak akan diterima hingga mereka mengikuti ajaran Rasulullah yang diutus kepada mereka dan kepada seluruh umat manusia. Mengenai mereka dan orang yang semisalnya, Allah berfirman: “Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu bagaikan debu yang berterbangan.” (QS. Al-Furqaan: 23)

Sedangkan amal yang secara lahiriyah sejalan dengan syariat tetapi pelakunya tidak mendasarinya dengan keikhlasan karena Allah Ta’ala, maka amal perbuatan seperti itu ditolak. Demikian itulah keadaan orang-orang yang riya dan orang-orang munafik, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya’ dan enggan menolong dengan barang berguna.” (QS. Al-Maa’uun: 4-7).

Oleh karena itu, Dia berfirman yang artinya: “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (QS. Al-Kahfi: 110)

Dalam surat al-Baqarah ini, Allah Ta’ala berfirman: balaa man as-lama waj-HaHu lillaaHi wa Huwa muhsinun (“Bahkan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang ia berbuat baik.”)

Dan firman-Nya: falaHuu ajruHuu ‘inda rabbiHii walaa khaufun ‘alaiHim wa laa Hum yahzanuun (“Maka baginya pahala di sisi rabbn dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak [pula] mereka bersedih hati.”) Dengan amal perbuatan itu Allah menjamin sampainya pahala pada mereka serta memberikan rasa aman dari hal-hal yang mereka khawatirkan. “wa laa khaufun ‘alaiHim” (dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka) dari yang mereka hadapi; “wa laa Hum yahzanuun” (dan tidak pula mereka bersedih hati) atas apa yang mereka tinggalkan di masa lalu. Sebagaimana dikatakan oleh Sa’id bin Jubair: “wa laa khaufun ‘alaiHim” (dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka) yaitu di akhirat kelak. “wa laa Hum yahzanuun” (dan tidak pula mereka bersedih hati) atas datangnya kematian.

Dan firman Allah: wa qaalatil yaHuudu laisatin nashaaraa ‘alaa syai-iw wa qaalatin nashaaraa laisatil yaHuudu ‘alaa syai-iw wa Hum yatluunal kitaab (“Dan orang-orang Yahudi berkata: ‘Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan.’ Dan orang-orang Nasrani berkata: ‘Orang-orang Yahudi itu tidak mempunyai suatu pegangan.’ Padahal mereka (sama-sama) membaca al-Kitab.”) Allah Ta’ala menjelaskan mengenai pertentangan, kebencian, permusuhan, dan keingkaran di antara orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani.

Sebagaimana yang diriwayatkan Muhammad bin Ishak, dari Ibnu Abbas, ia menceritakan ketika orang-orang Nasrani Najran menghadap Rasulullah Allah Ta’ala, datang pula kepada mereka para pendeta dari Yahudi. Lalu mereka saling berselisih di hadapan Rasulullah saw. Maka Rafi’ bin Ramalah (salah seorang pendeta Yahudi) mengatakan, “Kalian tidak mempunyai pegangan apapu. Dan mengingkari Isa dan Injil.” Lalu salah seorang dari Nasrani Najran itu berkata kepada orang-orang Yahudi: “Kalian tidak mempunyai pegangan apapun, dan mengingkari kenabian Musa dan kufur terhadap Taurat.” Berkenaan dengan hal itu Allah berfirman:

wa qaalatil yaHuudu laisatin nashaaraa ‘alaa syai-iw wa qaalatin nashaaraa laisatil yaHuudu ‘alaa syai-iw wa Hum yatluunal kitaab (“Dan orang-orang Yahudi berkata: ‘Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan.’ Dan orang-orang Nasrani berkata: ‘Orang-orang Yahudi itu tidak mempunyai suatu pegangan.’ Padahal mereka (sama-sama) membaca al-Kitab.”)

Kemudian Ibnu Abbas berkata, “Masing-masing kelompok itu membaca dalam kitabnya membenarkan orang yang mereka ingkari. Orang-orang Yahudi kufur terhadap Isa padahal di tangan mereka terdapat Taurat yang di dalamnya Allah mengambil janji melalui lisan Musa as. untuk membenarkan Isa as. Sedangkan dalam kitab Injil yang dibawa Isa as. terdapat perintah untuk membenarkan Musa dalam kitab Taurat yang diturunkan dari sisi Allah swt. Masing-masing kelompok mengingkari kitab yang ada di tangan mereka sendiri. Mereka itu ahlul kitab yang hidup di zaman Rasulullah saw.

pernyataan di atas mengandung pengertian bahwa masing-masing dari kedua kelompok membenarkan apa yang mereka tuduhkan kepada kelompok lain. Namun secara lahiriyah redaksi ayat di atas mengandung celaan terhadap apa yang mereka ucapkan, padahal mereka mengetahui kebalikan apa yang mereka ucapkan tersebut. Oleh karena itu Allah berfirman: wa Hum yatluunal kitaab (“Padahal mereka [sama-sama] membaca kitab”) maksudnya mereka mengetahui syariat Taurat dan Injil. Kedua kitab tersebut telah disyariatkan pada waktu tertentu, tetapi mereka saling mengingkari karena membangkang dan kufur serta menghadapkan suatu kebatilan dengan kebatilan yang lain. wallaaHu a’lam.

Firman Allah: kadzaalika qaalal ladziina laa ya’lamuuna mitsla qauliHim (“Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui, mengatakan seperti perkataan mereka itu.”) dengan ayat ini Allah menjelaskan kebodohan orang-orang Yahudi dan Nasrani karena mereka saling melempar ucapan. Dan ini adalah nada yang bernada isyarat.

Para ulama masih berbeda pendapat siapakah yang dimaksud dalam firman Allah: alladziina laa ya’lamuun (“Orang-orang yang tidak mengetahui.”) mengenai ayat ini ar-Rabi’ bin Anas dan Qatadah mengatakan: “Orang-orang Nasrani mengatakan hal yang sama seperti yang dikatakan oleh orang Yahudi.”

Masih mengenai firman-Nya: kadzaalika qaalal ladziina laa ya’lamuuna mitsla qauliHim (“Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui, mengatakan seperti perkataan mereka itu.”) as-Suddi mengatakan: “Mereka itu adalah orang-orang Arab yang mengatakan bahwa Muhammad tidak mempunyai pegangan apapun.”

Sedangkan Abu Ja’far bin Jabir berpendapat bahwa hal itu bersifat umum berlaku bagi semua umat manusia. Dan tidak ada dalil pasti yang menetapkan salah satu dari beberapa pendapat tersebut. Maka membawa makna untuk semua pendapat di atas adalah lebih tepat. wallaaHu a’lam.

Firman Allah: fallaaHu yahkumu bainaHum yaumal qiyaamati fiimaa kaanuu fiiHi yakhtalifuun (“Maka Allah akan mengadili di antara mereka di hari kiamat, tentang apa-apa yang mereka berselisih tentangnya.”) artinya Allah akan mengumpulkan mereka pada hari kiamat kelak, serta memutuskan hukum di antara mereka dengan keputusan-Nya yang adil serta tidak ada kedhaliman serta mereka tidak akan didhalimi sedikitpun.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 110-112

6 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan)
Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat

tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 110-112“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; diantara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. 3:110). Mereka sekali-kali tidak akan dapat membuat mudharat kepada kamu, selain dari gangguan-gangguan, celaan saja, dan jika mereka berperang dengan kamu, pastilah mereka berbalik melarikan diri kebelakang (kalah). Kemudian mereka tidak mendapat pertolongan. (QS. 3:111). Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.” (QS. 3:112)

Allah swt. memberitahukan mengenai umat Muhammad, bahwa mereka adalah sebaik-baik umat seraya berfirman, kuntum khaira ummatin ukhrijat linnaasi (“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia.”)

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah, mengenai ayat ini, kuntum khaira ummatin ukhrijat linnaasi (“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia,”) ia berkata: “Kalian adalah sebaik-baik manusia untuk manusia lain. Kalian datang membawa mereka dengan belenggu yang melilit di leher mereka sehingga mereka masuk Islam.”

Demikian juga yang dikatakan Ibnu ‘Abbas, Mujahid, `Athiyyah al-Aufi, ‘Ikrimah, ‘Atha’, dan Rabi’ bin Anas.

Karena itu Dia berfirman, ta’muruuna bil ma’ruufi wa tanHauna ‘anil munkari wa tu’minuuna billaaHi (“Menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, serta beriman kepada Allah.”)

Imam Ahmad meriwayatkan dari Durrah binti Abu Lahab, ia berkata ada seseorang berdiri menghadap Nabi, ketika itu beliau berada di mimbar, lalu orang itu berkata, ‘Ya Rasulullah, siapakah manusia terbaik itu?’ Beliau bersabda: `Sebaik-baik manusia adalah yang paling hafal al-Qur’an, paling bertakwa kepada Allah, paling giat menyuruh berbuat yang ma’ruf dan paling gencar mencegah kemunkaran dan paling rajin bersilaturahmi di antara mereka.” (HR. Ahmad)

An-Nasa’i dalam kitab Sunan dan al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak meriwayatkan dari hadits Samak, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbas, mengenai firman Allah: kuntum khaira ummatin ukhrijat linnaasi (“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia.”) Ia berkata: “Mereka itu adalah orang-orang yang berhijrah bersama Rasulullah dari Makkah menuju Madinah.”

Yang benar bahwa ayat ini bersifat umum mencakup seluruh umat pada setiap generasi berdasarkan tingkatannya. Dan sebaik-baik generasi mereka adalah para Sahabat Rasulullah, kemudian yang setelah mereka, lalu generasi berikutnya. Sebagaimana firman-Nya, dalam ayat yang lain, wa kadzaalika ja’alnaakum ummataw wasathal litakuunu syuHadaa-a ‘alan naasi (“Dan demikian [pula] Kami telah menjadikan kamu [umat Islam], umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas [perbuatan] manusia.”) (QS. Al-Baqarah: 143)

Dalam Musnad Imam Ahmad, , jaami’ at-Tirmidzi, Sunan Ibnu Majah, dan Mustadrak al-Hakim, diriwayatkan dari Hakim bin Mu’awiyah bin Haidah, dari ayahnya, ia berkata, Rasulullah bersabda: “Kalian sebanding dengan 70 (tujuh puluh) umat dan kalian adalah sebaik-baik dan semulia-mulia umat bagi Allah swt.” (Hadits di atas masyhur, dan dinyatakan hasan oleh at-Tirmidzi.)

Umat ini menjadi sang juara dalam menuju kepada kebaikan tiada lain karena Nabinya, Muhammad saw. Sebab beliau adalah makhluk paling terhormat dan Rasul yang paling mulia di hadapan Allah swt. Beliau diutus Allah dengan syari’at yang sempurna nan agung yang belum pernah diberikan kepada seorang Nabi maupun Rasul sebelumnya. Maka pengamalan sedikit dari manhaj dan jalannya menempati posisi yang tidak dicapai oleh pengamalan banyak dari manhaj dan jalan umat lainnya.

Sebagaimana yang diriwayatkan Imam Ahmad dari Muhammad bin `Ali Ibnu al-Hanafiyah, bahwa ia pernah mendengar ‘Ali bin Abi Thalib berkata, Rasulullah bersabda: “Aku telah diberi sesuatu yang tidak diberikan kepada seorang Nabi pun.” Lalu kami bertanya: “Apakah sesuatu itu, ya Rasulallah?” Beliau bersabda: “Aku dimenangkan dengan ketakutan (musuh), aku diberi kunci-kunci bumi, diberikan kepadaku nama Ahmad, dan dijadikan tanah ini bagiku suci, serta dijadikan umatku ini sebagai umat yang terbaik.” (Melalui jalan tersebut hadits ini hanya diriwayatkan Ahmad dengan isnad hasan).

Imam Ahmad meriwayatkan dari Dhamdham bin Zar’ah, ia berkata, Syuraih bin `Ubaidah berkata: Tsauban jatuh sakit di Himsha, dan Gubernur Himsha ketika itu ‘Abdullah bin Qarath al-Azdi, tidak menjenguknya. Lalu ada seseorang dari Kala’iyyin datang menjenguknya, Tsauban pun berkata kepada orang itu: “Apakah engkau bisa menulis?” “Bisa,” jawabnya. “Tulislah,” kata Tsauban. Maka ia pun menulis surat yang dikatakan Tsauban:
Kepada al-Amir ‘Abdullah bin Qarath.
Dari Tsauban, (pembantu) Rasulullah, amma ba’du.
Seandainya Musa dan `Isa as. mempunyai seorang pembantu yang berada di dekatmu, maka tentulah engkau akan menjenguknya.”

Kemudian Tsauban melipat suratnya, dan bertanya kepada orang itu: “Apakah engkau dapat mengirimkan kepadanya?” “Ya,” jawabnya. Maka orang itu berangkat dengan membawa surat tersebut dan menyerahkannya kepada Abdullah Ibnu Qarath. Ketika Ibnu Qarath melihatnya, maka ia pun bangkit dalam keadaan terkejut, lalu orang-orang pun bertanya: “Mengapa dia, apakah terjadi sesuatu?” Lalu ia berangkat mendatangi Tsauban dan menemuinya serta duduk di sisinya sejenak. Ketika ia bangkit, Tsauban pun memegang pakaiannya seraya berkata: “Duduklah sehingga aku dapat memberitahukan sebuah hadits yang pernah aku dengar langsung dari Rasulullah, beliau bersabda: “Akan masuk Surga dari umatku tujuh puluh ribu orang tanpa hisab dan adzab bagi mereka, setiap seribu orang disertai lagi tujuh puluh ribu orang.”

Dengan jalan tersebut, hadits ini diriwayatkan Imam Ahmad sendirian. Dan sanad para perawinya tsiqat (dapat dipercaya), mereka dari orang-orang Syam dan Himsha, maka hadits ini adalah shahih.

Abu Qasim ath-Thabrani meriwayatkan dari Abu Hazim, dari Sahlbin Sa’ad, bahwa Nabi bersabda: “Akan masuk Surga dari umatku tujuh puluh ribu orang -atau tujuh ratus ribu orang-, mereka saling bergandengan sehingga yang pertama masuk Surga bersama yang terakhir. Wajah mereka seperti bulan pada malam purnama.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Muslim bin al-Hajjaj meriwayatkan dalam kitab Shahihnya, Sa’id bin Mashur, menceritakan kepada kami dari Hasyim, dari Hushain bin ‘Abdur-rahman, ia berkata, aku pernah bersama Sa’id bin Jubair, lalu ia bertanya: “Siapa di antara kalian yang melihat bintang jatuh tadi malam?” “Aku,” jawabku. Lalu kukatakan: “Adapun aku waktu itu tidak sedang mengerjakan shalat, tetapi aku tersengat.” Ia pun bertanya: “Lalu apa yang engkau lakukan?” “Aku bacakan rugyah (jampi-jampi),” jawabku. Kemudian ia bertanya: “Apa yang mendorongmu melakukan hal tersebut?” Aku katakan: “Sebuah hadits yangdiberitahukan kepada kami oleh asy-Sya’bi.” “Apa yang dikatakan asy-Sya’bi kepadamu?” Tanyanya lebih lanjut. Aku pun menjawab: “Kami diberitahu oleh Buraidah bin al-Hushaib al-Aslami, bahwa Rasulullah bersabda: “Telah diperlihatkan kepadaku berbagai umat, lalu aku melihat seorang Nabi yang bersamanya sekelompok orang, seorang Nabi lain yang bersamanya satu atau dua orang dan seorang Nabi yang tidak mempunyai seorang pengikutpun. Tiba-tiba muncul sekumpulan manusia yang sangat banyak, aku mereka itu adalah umatku. Lalu dikatakan kepadaku: “Ini adalah Musa dan kaumnya, tetapi lihatlah ke ufuk.” Kemudian aku melihat ke ufuk, ternyata ada sekumpulan umat dalam jumlah yang sangat besar. Selanjutnya dikatakan kepadaku: “Lihatlah ke ufuk yang lain.” Tiba-tiba ada kumpulan manusia dalam jumlah yang sangat besar pula, dan dikatakan kepadaku: “Itulah umatmu dan bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang yang masuk Surga tanpahisab dan tanpa adzab.”

Kemudian beliau bangkit dan memasuki rumahnya. Maka orang-orangpun beramai-ramai membicarakan mereka yang disebut masuk Surga tanpa hisab dan tanpa adzab tersebut. Sebagian mereka mengatakan: “Boleh jadi mereka itu adalah orang-orang yang menjadi Sahabat Rasulullah.” Sebagian lainnya mengatakan: “Mungkin juga mereka itu adalah orang-orang yang di-lahirkan pada masa Islam dan tidak menyekutukan Allah sedikit pun.” Mereka menyebutkan beberapa hal, hingga akhirnya Rasulullah keluar menemui mereka seraya bertanya: “Apa yang kalian perbincangkan?” Maka mereka pun memberitahukannya, kemudian beliau bersabda:

“Mereka itu adalah orang-orang yang tidak melakukan ruqyah dan tidak minta diruqyah, tidak berobat dengan kayy (besi panas) dan tidak bertathayyur, serta hanya kepada Allah mereka bertawakkal.”

Ukkasyah bin Mihshan pun berdiri seraya berkata: “Mohonkanlah kepada Allah agar Dia berkenan menjadikanku termasuk golongan mereka.” Beliau menjawab: “Engkau termasuk salah satu dari mereka.” Selanjutnyaada orang lain berdiri lalu berkata: “Mohonkanlah kepada Allah agar aku juga termasuk dari mereka.” Beliau menjawab: “Engkau telah didahului oleh Ukkasyah.” (HR. Muslim)

Dan al-Bukhari meriwayatkan dari Usaid bin Zaid, dari Hasyim, di dalam haditsnya tidak disebutkan kalimat “laa yarquuna” (Tidak melakukan ruqyah). Dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, disebutkan sebuah hadits dari Abu Ishaq as-Subai’i, dari ‘Amr bin Maimun, dari ‘Abdullah binMas’ud, ia berkata, Rasulullah bersabda kepada kami: “Apakah kalian senang menjadi seperempat penghuni Surga?” Maka kami pun bertakbir. Lalu beliau bersabda: “Apakah kalian senang menjadi sepertiga penghuni Surga?” Kami pun bertakbir lagi. Kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya aku sangat berharap kalian menjadi setengah penghuni Surga.”

Abdurrazzaq meriwayatkan dari Abu Hurairah, dari Nabi saw. beliau bersabda: “Kami adalah umat terakhir, tetapi yang pertama pada hari Kiamat kelak. Kami adalah orang yang pertama kali masuk Surga, meskipun mereka diberikan Kitab sebelum kita, sedang kita diberi Kitab setelah mereka. Lalu Allah menunjukkan kepada kita kebenaran yang mereka perselisihkan, maka hari ini( hari Jum’at) yang mereka perselisihkan (diberikan untuk kita), manusia tentang hal ini mengikuti kita, sedangkan untuk Yahudi adalah besok (hari Sabtu), dan untuk Nasrani adalah lusa (hari Ahad).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Hadits-hadits di atas berkenaan dengan makna firman Allah: kuntum khaira ummatin ukhrijat linnaasi ta’muruuna bil ma’ruufi wa tanHauna ‘anil munkari wa tu’minuuna billaaHi (“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, serta beriman kepada Allah.”) Dengan demikian, barangsiapa dari umat ini yang memiliki sifat-sifat di atas, maka ia termasuk mereka yang mendapatkan pujian tersebut. Sebagaimana yang dikatakan Qatadah: “Pernah sampai kepada kami berita bahwa Umar bin al-Khaththab ra. ketika menunaikan ibadah haji, melihat di antara orang-orang itu hidup dalam ketenteraman, maka ‘Umar membaca ayat ini, kuntum khaira ummatin ukhrijat linnaasi (“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untukmanusia,”) kemudian ‘Umar berkata: “Barangsiapa yang ingin menjadi bagian dariumat ini, maka ia harus memenuhi syarat yang telah ditetapkan Allah dalam ayat tersebut.” (HR. Ibnu Jarir)

Dan barangsiapa tidak memiliki sifat-sifat tersebut di atas, maka ia seperti Ahlul Kitab yang dicela Allah melalui firman-Nya, kaanuu laa yatanaaHauna munkarin fa’aluuHu (“Mereka tidak saling melarang dari kemunkaran yang mereka lakukan.”) (QS.Al-Maa-idah: 79)

Oleh karena itu, ketika Allah memberikan pujian kepada umat ini atas sifat-sifat yang dimilikinya, Dia pun mencela Ahlul Kitab seraya berfirman, wa law aamana aHlul kitaabi (“Seandainya Ahlul Kitab itu beriman.”) Yaitu beriman kepada apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.

La kaana khaira laHum min Humul mu’minuuna wa aktsara Humul faasiquun (“Niscaya hal itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada orang yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang fasik.”) Maksudnya, sedikit sekali dari mereka yang beriman kepada Allah swt. dan kepada apa yang diturunkan untuk mereka. Dan kebanyakan dari mereka berada dalam kesesatan, kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan.

Selanjutnya Allah memberitahukan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, sekaligus menyampaikan kabar gembira kepada mereka, bahwa kemenangan dan keberuntungan ada pada kaum mukminin terhadap Ahlul Kitab, yang kafir dan ingkar kepada Allah.

Firman-Nya, laa yadluurrukum illaa adzaw wa iy yuqaatiluukum yuwalluukumul ad-baara tsumma laa yunsharuun (“Mereka sekali-kali tidak akan dapat membuat mudharat kepadamu selain dari gangguan-gangguan celaan saja. Dan jika mereka berperang melawanmu, pastilah mereka berbalik melarikan diri ke belakang [kalah]. Kemudian mereka tidak mendapat pertolongan.”)

Demikianlah yang terjadi. Pada peristiwa perang Khaibar, mereka benar-benar dihinakan oleh Allah dan dijadikan tidak berkutik. Demikian juga Ahlul Kitab sebelum mereka yang berada di Madinah, yaitu; Bani Qainuqa’, Bani Nadhir dan Bani Quraizhah, mereka semua dihinakan oleh Allah. Sama halnya dengan orang-orang Nasrani yang berada di Syam. Merekad itaklukkan oleh para Sahabat dan kekuasaan di Syam pun direbut dari mereka untuk selama-lamanya. Kekuatan kelompok Islam tetap terus berdiri tegak di Syam sampai turun `Isa bin Maryam pada akhir zaman, sedang mereka tetap dalam keadaan demikian, `Isa pun akan memimpin dengan agama Islam dan syari’at Muhammad. Beliau akan menghancurkan salib, membunuh babi, membatalkan jizyah dan tidak menerima selain Islam.

Kemudian Allah berfirman: dluribat ‘alaiHimudz dzillatu aina maa tsuqifuu illaa bihablim minallaaHi wa hablim minan naasi (“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali [agama] Allah dan tali [perjanjian] dengan manusia.” Yakni Allah menetapkan kehinaan dan kerendahan kepada mereka. Di mana saja berada, mereka tidak akan merasa aman, illaa bi hablim minallaaHi (“Kecuali jika mereka berpegang kepada tali [agama] Allah.”)

Maksudnya, dengan jaminan perlindungan Allah, yaitu berupa perjanjian ber-lakunya jaminan untuk mereka, pemberlakuan jizyah, serta penerapan hukum-hukum Islam terhadap mereka. Wa hablim minan naasi (“Dan tali [perjanjian] dengan manusia.”) Yakni jaminan keamanan dari manusia untuk mereka sendiri, seperti misalnya terhadap orang yang memiliki perjanjian perdamaian atau persekutuan, diberi jaminan keamanan oleh salah seorang dari kaum muslimin, meski hanya seorang wanita. Demikian pula seorang hamba sahaya, menurutsalah satu pendapat para ulama.

Mengenai firman Allah: illaa bihablim minallaaHi wa hablim minan naasi (“Kecuali jika mereka berpegang kepada tali [agama] Allah dan tali [perjanjian] dengan manusia,”) Ibnu ‘Abbas berkata, Maksudnya adalah perjanjian Allah dan perjanjianmanusia. Demikian juga pendapat Mujahid, ‘Ikrimah, ‘Atha’, adh-Dhahhak,as-Suddi dan ar-Rabi’ bin Anas.

Firman-Nya, wabaa-uu bi ghadlabim minallaaHi (“Dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah.”) Yakni mereka dipastikan mendapatkan murka dari Allah, dan mereka memang berhak mendapatkannya. Wa dluribata ‘alaiHimul maskanatu (“Dan mereka diliputi oleh kehinaan.”) Maksudnya, ditetapkan bagi mereka kehinaan sesuai dengan takdir dan hukum syari’at.

Oleh karena itu Allah berfirman: dzaalika bi-annaHum kaanuu yakfuruuna bi-aayaatillaaHi wa yaqtuluunal anbiyaa-a bighairi haqqi (“Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi tanpa alasan yang benar.”) Artinya, yang mendorong mereka melakukan hal tersebut adalah kesombongan, kesewenangan dan kedengkian, oleh karena itu mereka mendapatkan kehinaan, celaan dan kerendahan untuk selama-lamanya yang berlanjut sampai dengan kehinaan di akhirat.

Selanjutnya Allah berfirman, dzaalika bimaa ‘ashau wa kaanuu ya’taduun (“Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.”) Artinya, bahwa yang menyeret mereka berbuat kufur terhadap ayat-ayat Allah dan membunuh para Rasul Allah adalah karena kebiasaan mereka (yang) banyak berbuat durhaka terhadap perintah Allah, senang bergelimang dalam kemaksiatan kepada Allah dan melanggar syari’at-Nya. Semoga Allah melindungi kita dari semua itu. Hanya Allah yang berhak menjadi tumpuan pertolongan.

&

112. Surah Al-Ikhlash

29 Nov

Pembahasan Tentang Surat-Surat Al-Qur’an (Klik di sini)
Tafsir Ibnu Katsir (Klik di sini)

Surat ini terdiri atas 4 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah sesudah surat An Naas. Dinamakan Al Ikhlas karena surat ini sepenuhnya menegaskan kemurnian keesaan Allah s.w.t.

Pokok-pokok isinya:
Penegasan tentang kemurnian keesaan Allah s.w.t. dan menolak segala macam kemusyrikan dan menerangkan bahwa tidak ada sesuatu yang menyamai-Nya.
Surat Al Ikhlash ini menegaskan kemurnian keesaan Allah s.w.t.

HUBUNGAN SURAT AL IKHLASH DENGAN SURAT AL FALAQ

Surat Al Ikhlash menegaskan kemurnian Allah s.w.t. sedang surat Al Falaq memerintahkan agar semata-mata kepada-Nya-lah orang memohon perlindungan dari segala macam kejahatan.