Tag Archives: 115

Tafsir Ibnu Katsir Surah Huud ayat 114-115

1 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Huud
Surah Makkiyyah; surah ke 11: 123 ayat

tulisan arab alquran surat huud ayat 114-115“Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. (QS. 11:114) Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS. 11:115)” (Huud: 114-115)

`Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu `Abbas: wa aqiimush shalaata tharafayin naHaari (“Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang [pagi dari petang]”) ia berkata: “Yakni shubuh dan maghrib,” begitu juga yang dikatakan oleh al-Hasan dan `Abdur Rahman bin Zaid bin Aslam.

Al-Hasan berkata dalam riwayat Qatadah, adh-Dhahhak dan lain-lainnya: “Ia adalah shubuh dan ashar.” Dan Mujahid berkata: la adalah shubuh pada awal siang dan selanjutnya zhuhur dan ashar.”

Wa zulafam minal lail (“Dan pada bahagian permulaan daripada malam.”) Ibnu `Abbas, Mujahid, al-Hasan dan lain-lainnya berkata: “Yaitu shalat isya.”
Al-Hasan berkata dalam riwayat Ibnul Mubarak, dari Mubarak bin Fadhalah, darinya: Wa zulafam minal lail (“Dan pada bahagian permulaan daripada malam.”) yakni maghrib dan isya’.

Kemungkinan ayat ini turun sebelum diwajibkannya shalat lima waktu pada malam Isra’, karena sesungguhnya shalat yang diwajibkan hanyalah dua, yaitu shalat sebelum terbit matahari dan shalat setelah terbenamnya matahari. Pada pertengahan malam, wajib atasnya dan juga umatnya melaksanakan shalat qiyamul lail, lalu dihapuskan kewajiban tersebut dari umatnya, akan tetapi tetap kewajiban itu untuk beliau, juga ada yang berpendapat, dihapuskan pula kewajiban itu atas beliau setelah itu. Wallahu a’lam.

Firman-Nya: innal hasanaati yudzHibnas sayyi-aat (“Sesungguhnya perbuatan perbuatan yang baik menghapuskan [dosa] perbuatan perbuatan yang buruk.”) Allah berfirman: “Sesungguhnya melakukan kebaikan adalah menghapus dosa-dosa yang telah lewat.”

Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan ahli hadits dari Amirul Mukminin `Ali bin Abi Thalib, ia berkata: “Dulu aku mendengar suatu hadits dari Rasululah saw, maka Allah memberiku manfaat darinya dengan sebaik-baik manfaat, jika seseorang membicarakan hadits kepadaku, aku meminta ia untuk bersumpah. Dan jika ia telah bersumpah, aku mempercayainya. Abu Bakar membicarakan hadits kepadaku dan ia adalah seorang yang jujur, bahwasanya ia telah mendengar Rasulullah bersabda: “Tidak ada seorang muslim yang melakukan dosa, kemudian ia berwudhu dan shalat dua rakaat, melainkan ia diampuni.”

Dalam ash-shahihain dari Amirul Mukminin `Utsman bin ‘Affan bahwasanya dia berwudhu seperti wudhunya Rasulullah di hadapan para sahabat, kemudian dia berkata: “Beginilah aku melihat Rasulullah berwudhu dan beliau saw. bersabda: ‘Barangsiapa berwudhu seperti wudhuku, kemudian ia shalat dua rakaat yang ia tidak membicarakan dirinya dalam shalatnya, maka diampuni dosanya yang telah lewat.’”

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Ja’far bin Jarir dari hadits Abu ‘Uqail Zahrah bin Ma’bad, bahwasanya dia mendengar al-Harits, budak yang dimerdekakan `Utsman, ia berkata: `Utsman pada suatu hari sedang duduk, kemudian kami duduk bersamanya, lalu datanglah seorang muadzdzin kepadanya, maka dia meminta air dalam bejana, saya kira air itu sebanyak mud, lalu dia berwudhu, kemudian berkata: “Aku telah melihat Rasulullah berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian beliau besabda: ‘Barangsiapa berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian berdiri dan melakukan shalat dhuhur, maka ia diampuni dosanya yang (dilakukan) antara (waktu) shalat dhuhur dan shalat shubuh. Kemudian ia shalat ashar, maka diampuni dosanya yang (dilakukan) antara (waktu) shalat ashar dan shalat dhuhur. Kemudian ia shalat maghrib, maka diampuni dosanya yang (dilakukan) antara (waktu) shalat maghrib dan shalat ashar. Kemudian ia shalat isya’, maka diampuni dosanya yang (dilakukan) antara (waktu) shalat isya’ dan shalat maghrib. Kemudian barangkali ia mengotori kehormatannya pada malam harinya, kemudian jika ia bangun lalu berwudhu dan shalat shubuh, maka ia diampuni dosanya yang (dilakukan) antara (waktu) shalat shubuh dan isya’ dan itu semua adalah kebaikan yang menghapus keburukan.”

Dalam ash-shahih dari Abu Hurairah, dari Rasulullah saw, bahwasanya beliau bersabda: “Bagaimana pendapat kalian, jika di pintu salah seorang di antara kalian ada sungai yang banyak airnya, ia mandi di dalamnya setiap hari lima kali, apakah kotorannya masih ada yang tersisa?” Para sahabat menjawab: “Tidak wahai Rasulullah,” beliau bersabda: “Begitu juga shalat lima waktu, Allah akan menghapuskan dosa-dosa kesalahan-kesalahan dengannya.”

Muslim berkata dalam shahihnya dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah saw. pernah bersabda: “Shalat lima waktu, Jum’at hingga jum’at, Ramadhan hingga Ramadhan adalah menghapus dosa-dosa yang ada di antara keduanya selama dosa-dosa besar dihindari (dijauhi).”

Imam Ahmad berkata dari Syuraih bin `Ubaid, bahwa Ibrahim as-Sam’i pernah bercerita, bahwa Abu Ayyub al-Anshari bercerita kepadanya, bahwasanya Rasulullah pernah bersabda: “Sesungguhnya setiap shalat menghapus kesalahan yang ada di hadapannya.”

Abu Ja’far bin Jarir berkata dari Abu Malik al-Asy’ari dia berkata, Rasulullah bersabda: “Shalat itu dijadikan sebagai pelebur dosa yang ada di antaranya. Karena sesungguhnya Allah swt. berfirman: innal hasanaati yudzHibnas sayyi-aat (“Sesungguhnya perbuatan perbuatan yang baik menghapuskan [dosa] perbuatan perbuatan yang buruk.”)”

Imam al-Bukhari berkata dari Ibnu Mas’ud, bahwa seorang laki-laki telah mencium seorang perempuan, maka datanglah ia kepada Nabi saw. dan mengabarinya. Maka Allah menurunkan: wa aqiimish shalaata tharafayin naHaari wa zulafam minal laili innal hasanaati yudzHibnas sayyi-aat (“”Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang [pagi dan petang] dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan [dosa] perbuatan-perbuatan yang buruk.”) Maka berkatalah seorang laki-laki itu: “Wahai Rasulullah, apakah ini hanya untukku?” Beliau menjawab: “Untuk umatku semuanya.” Begitulah ia meriwayatkannya dalam kitab ash-shalah dan juga dalam bab at-tafsir dari Musaddad, dari Zaid bin Zurai’ dengan hadits yang sama. Imam Muslim, Imam Ahmad dan ahlus sunan juga meriwayatkannya, kecuali Abu Dawud.

Imam Ahmad, Muslim, at-Tirmidzi, an-Nasa’i dan Ibnu Jarir meriwayatkannya dengan lafazh dari berbagai jalur, dari Sammak bin Harb, bahwasanya dia mendengar Ibrahim bin Yazid meriwayatkan dari ‘Alqamah dan al-Aswad, dari Ibnu Mas’ud, dia berkata: “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw. lalu berkata: ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah menemukan seorang perempuan di suatu kebun, lalu aku berbuat dengannya segala sesuatu, hanya aku tidak menyetubuhinya, aku menciumnya dan memeluknya dan aku tidak
melakukan selain itu, maka lakukanlah terhadapku apa yang engkau mau.’

Maka Rasulullah tidak berkata apa pun kepadanya, lalu orang laki-laki itu pergi. Maka `Umar berkata: `Sungguh Allah menutupinya, jika ia menutupi perbuatan dirinya.’ Maka Rasulullah mengarahkan pandangan kepadanya, kemudian berkata: `Kembalikanlah ia kepadaku,’ lalu mereka (para sahabat) membawanya kembali ke hadapannya dan beliau membacakan kepadanya: wa aqiimish shalaata tharafayin naHaari wa zulafam minal laili innal hasanaati yudzHibnas sayyi-aati dzaalika dzikraa lidz dzaakiriin (“Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang [pagi dan petang] dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan [dosa] perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.”)

Maka Mu’adz berkata, -riwayat lain mengatakan- Umar: ‘Wahai Rasulullah, apakah (berita ini) hanya untuknya seorang atau untuk semua manusia?’ Maka beliau berkata: ‘Untuk manusia semuanya.’”

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 115

31 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 115“Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Mahaluas (rahmat-Nya) lagi Mahamengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 115)

Ayat ini -wallahu a’lam-, mengandung hiburan bagi Rasulullah dan para sahabatnya yang diusir dari Makkah dan dipisahkan dari masjid dan tempat shalat mereka. Dulu Rasulullah mengerjakan shalat di Makkah dengan menghadap ke Baitulmaqdis, sedang Ka’bah berada di hadapannya. Dan ketika hijrah ke Madinah, beliau di hadapkan langsung ke Baitulmaqdis selama 16 atau 17 bulan. Dan setelah itu, Allah Ta’ala menyuruhnya menghadap Ka’bah.

Oleh karena itu, Allah berfirman: wa lillaaHil masyriqu wal maghribu fa aina maa tuwalluu fa tsamma wajHullaaHi (“Dan kepunyaan Allah timur dan barat, maka kemanapun kalian menghadap disitulah wajah Allah.”)

Dalam kitab “An-Naasikhu sal mansuukh”, Abu Ubaid, Qasim bin Salam meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Ayat al-Qur’an yang pertama kali dinasakh dan yang telah diceritakan kepada kami -wallahu a’lam- adalah masalah kiblat.

Allah berfirman: wa lillaaHil masyriqu wal maghribu fa aina maa tuwalluu fa tsamma wajHullaaHi (“Dan kepunyaan Allah timur dan barat, maka kemanapun kalian menghadap disitulah wajah Allah.”) Maka Rasulullah pun menghadap dan mengerjakan shalat ke arah Baitulmaqdis dan meninggalkan Baitulatiq (Ka’bah). Setelah Allah Ta’ala memerintahkannya untuk menghadap ke Baitulatiq. Dan Dia-pun menasakh perintah-Nya untuk menghadap ke Baitulmaqdis.

Dia pun berfirman yang artinya: Dan dari mana saja engkau keluar, maka palingkanlah wajahmu ke arab Masjidilharam. Dan di mana saja kalian berada, maka palingkanlah wajah kalian ke arahnya.” (QS. Al-Baqarah: 150).

Ibnu Jarir mengatakan, para ulama yang lain mengemukakan: “Ayat ini turun kepada Rasulullah sebagai pemberian izin Bari Allah bagi beliau untuk mengerjakan shalat sunnah dengan menghadap ke arah mana saja ia menghadap, ke barat maupun ke timur, sesuai dengan arah perjalanannya, dalam keadaan perang sedang berkecamuk, dan dalam keadaan sangat takut.”

Abu Kuraib pernah menceritakan kepada kami dari Ibnu Umar, “Bahwasanya ia pernah mengerjakan shalat ke arah mana saja binatang kendaraannya menghadap.”

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah juga melakukan hal seperti itu dalam menafsirkan ayat ini, fa aina maa tuwalluu fa tsamma wajHullaaHi (“Maka kemanapun kalian menghadap disitulah wajah Allah.”) Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu Abi Hatim, Ibnu Mardawaih melalui beberapa jalan dari Abdul Malik bin Abi Sulaiman. Dan dalam Kitab Shahihain, hadits itu berasal dari Ibnu Umar dan Amir bin Rabi’ah tanpa menyebutkan ayat itu.

Sedangkan dalam kitab Shahih al-Bukhari diriwayatkan sebuah hadits dari Nafi’, dari Ibnu Umar, bahwa ia pernah ditanya mengenai shalat Khauf dan (pengaturan) shafnya. Lalu ia mengatakan: “Jika rasa takut sudah demikian mencekam, maka mereka mengerjakannya dalam keadaan berjalan di atas kaki mereka atau sambil berkendaraan, dengan menghadap kiblat atau tidak menghadapnya.”

Nafi’ menuturkan: “Aku tidak mengetahui Ibnu Umar mengatakan hal itu kecuali bersumber dari Nabi saw.”

Permasalahan:
Dalam riwayat yang mashur dari Imam Syafi’i, dia tidak membedakan antara perjalanan biasa maupun perjalanan dalam menghadapi musuh. Keduanya boleh mengerjakan shalat sunnah di atas kendaraan. Demikian pula pendapat Abu Hanifah. Berbeda dengan pendapat Imam Malik dan jama’ahnya. Sedangkan mengenai pengulangan shalat karena adanya kesalahan yang tampak jelas dalam menghadap kiblat, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat.

Imam at-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah, dari Nabi bersabda: “Antara timur dan barat itu adalah kiblat.” Lebih lanjut Imam at-Tirmidzi mengatakan: “Derajat hadits ini adalah hasan shahih.” Diceritakan dari Imam al-Bukhari, ia mengatakan, hadits ini lebih kuat dan lebih shahih dari hadits Abu Ma’syar. Sabda Rasulullah: “Antara timur dan barat itu adalah kiblat,” menurut Imam at-Tirmidzi diriwayatkan dari beberapa sahabat, di antaranya adalah Umar bin al-Khaththab dan Ali bin Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhum.

Ibnu Umar mengatakan: “Jika engkau posisikan arah barat berada di sebelah kananmu dan arah timur berada di sebelah kirimu, maka di antara keduanya adalah kiblat, jika engkau mencari kiblat.”

Makna firman Allah: innallaaHa waasi’un ‘aliim (“Sesungguhnya Allah Mahaluas lagi Mahamengetahui,”) menurut Ibnu Jarir, bahwa Dia meliputi semua makhluk-Nya dengan kecukupan, kedermawanan, dan karunia. Sedangkan makna firman-Nya “’aliimun” yakni Dia mengetahui semua perbuatan makhluk-Nya. Tidak ada satu perbuatan pun yang tersembunyi dan luput dari-Nya, tetapi sebaliknya, Dia Mahamengetahui seluruh perbuatan mereka.

&