Tag Archives: 117

Tafsir Ibnu Katsir Surah At-Taubah ayat 117

5 Nov

Tafsir Ibnu Katsir Surah At-Taubah ayat 117
Tafsir Al-Qur’an Surah At-Taubah (Pengampunan)
Surah Madaniyyah; surah ke 9: 129 ayat

tulisan arab alquran surat at taubah ayat 117

“Sesungguhnya Allah telah menerima tobat Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Ansar, yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima tobat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka.” (At-Taubah ayat 117)

Mujahid dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang mengatakan bahwa ayat ini diturunkan dalam Perang Tabuk. Demikian itu karena mereka berangkat menuju medan Tabuk dalam situasi yang sangat berat, yaitu di musim kering, panas yang terik, serta sulit untuk mendapat bekal dan air.

Qatadah mengatakan bahwa mereka berangkat menuju negeri Syam —yaitu medan Tabuk— dalam musim panas yang sangat terik dan musim paceklik. Mereka mengalami musim paceklik yang berat tahun itu, sehingga disebutkan bahwa ada dua orang lelaki membagi dua sebiji buah kurma di antara keduanya. Tersebut pula bahwa sejumlah pasukan terbiasa silih berganti mengisap sebiji kurma di antara sesama mereka, setelah itu barulah minum air. Kemudian sebiji kurma itu berpindah tangan ke yang lain, setelah minum diberikannya kepada yang belum. Akhirnya Allah menerima tobat mereka dan memulangkan mereka dari medan perangnya.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Yunus ibnu Abdul A’la, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Amr ibnul Hari s, dari Sa’id ibnu Abu Hilal, dari Atabah, dari Nafi’ ibnu Jubair ibnu Mut’im, dari Abdullah ibnu Abbas, bahwa pernah ditanyakan kepada Umar ibnul Khattab tentang kisah pasukan Usrah. Maka Umar ibnul Khattab menjawab, “Kami berangkat ke medan Perang Tabuk dengan Rasulullah Saw. di tengah musim panas yang keras. Lalu kami turun istirahat di suatu tempat, karena saat itu kami mengalami kehausan, sehingga kami merasa seakan-akan leher kami akan terputus (mati kehausan). Sesungguhnya seseorang di antara kami pergi untuk mencari air, tetapi ia tidak mendapatkannya sehingga ia menduga bahwa lehernya terputus. Dan ada seorang lelaki menyembelih untanya, lalu memeras bagian perut unta yang mengandung air, kemudian meminumnya, lalu sisanya ia siramkan ke dadanya. Maka Abu Bakar berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah telah menjanjikan kebaikan kepadamu dalam berdoa, maka doakanlah buat kami.’ Rasul Saw. bertanya, ‘Apakah kamu suka hal itu?’ Abu Bakar menjawab, ‘Ya.’ Maka Rasulullah Saw. mengangkat kedua tangannya untuk berdoa. Sebelum beliau menurunkan kedua tangannya, langit menurunkan hujan yang lebat, kemudian keadaan menjadi tenang. Maka mereka memenuhi semua wadah yang mereka bawa dengan air. Kemudian kami berangkat memeriksa, dan ternyata hujan itu tidak melampaui markas pasukan kaum muslim.”

Ibnu Jarir mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Sesungguhnya Allah telah menerima tobat Nabi, orang-orang Muhajirin, dan orang-orang Ansar yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan. (At-Taubah: 117) Yakni sulit mendapat biaya, kendaraan, bekal, dan air. setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling. (At-Taubah: 117) Artinya, berpaling dari kebenaran, merasa ragu kepada agama Rasulullah Saw., serta bimbang karena masyaqat dan kesengsaraan yang mereka alami dalam perjalanan mereka menuju medan perang. kemudian Allah menerima tobat mereka itu. (At-Taubah: 117) Yakni kemudian Allah mengilhamkan kepada mereka bertobat kepada-Nya dan kembali teguh dalam membela agama-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka. (At-Taubah: 117)

Tafsir Ibnu Katsir Surah Huud ayat 116-117

1 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Huud
Surah Makkiyyah; surah ke 11: 123 ayat

tulisan arab alquran surat huud ayat 116-117“Maka mengapa tidak ada dari umat-umat sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan, yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka dan orang-orang yang dhalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka dan mereka adalah orang-orang yang berdosa. (QS. 11:116) Dan Rabbmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara dhalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS. 11:117)” (Huud: 116-117)

Allah berfirman, apakah tidak ditemukan orang-orang baik dari sisa-sisa generasi terdahulu yang melarang kejahatan, kemungkaran dan kerusakan di muka bumi yang ada di antara mereka. Dan firman-Nya: illaa qaliilan (“Kecuali sebagian kecil.”) Maksudnya, telah ditemukan orang yang mempunyai sifat seperti ini, sedikit dan tidak banyak, mereka adalah orang-orang yang diselamatkan Allah di saat datang kemarahan-Nya dan tibanya siksaan-Nya, maka dari itu Allah menyuruh umat yang mulia ini, supaya ada di antara mereka yang menyeru kepada kebaikan dan melarang kemungkaran.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali-`Imran: 104)

Untuk itu Allah berfirman: falau laa kaana minal quruuni min qablikum uluu baqiyyatiy yanHauna ‘anil fasaadi fil ardli illaa qaliilam mimman anjainaa minHum (“Maka mengapa tidak ada dari umat-umat sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan, yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka.”)

Dan firman-Nya: wat taba’al ladziina dhalamuu maa ut-rifuu fiiHi (“Dan orang-orang yang dhalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka.”) Maksudnya, mereka selalu berada dalam perbuatan maksiat dan perbuatan mungkar dan tidak ada orang-orang yang menegur perbuatan ingkar mereka itu sampai adzab datang kepada mereka dengan serentak.

Wa kaanuu mujrimiin (“Dan mereka adalah orang-orang yang berdosa,”) kemudian Allah Ta’ala memberitakan, bahwasanya Allah tidak membinasakan suatu negeri kecuali negeri itu berbuat dhalim terhadap dirinya sendiri (melakukan maksiat). Dan adzab-Nya tidak menimpa suatu negeri yang baik (penduduknya orang-orang yang baik), kecuali mereka (penduduknya) sudah menjadi orang-orang yang dhalim.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 116-117

31 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 116-117“Mereka (orang-orang kafir) berkata: ‘Allah mempunyai anak’. Mahasuci Allah, bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah; semua tunduk kepada-Nya. (QS. Al-Baqarah: 116) Allah pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: ‘Jadilah’ lalu jadilah ia.” (QS. Al-Baqarah: 117)

Ayat ini dan yang berikutnya mencakup bantahan terhadap orang-orang Nasrani serta yang serupa dengan mereka dari kalangan orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik Arab yang menjadikan Para malaikat sebagai anak-anak perempuan Allah. Maka Allah mendustakan pengakuan dan pernyataan mereka bahwa Allah mempunyai anak. Maka Dia pun berfirman: subhaanaHu (“Mahasuci Allah”) Artinya, Allah Mahatinggi, dan bersih dari semuanya itu.

Bal laHuu fis samaawaati wal ardli (“Bahkan apa yang ada di dalam langit dan bumi adalah kepunyaan-Nya.”) Artinya, persoalaannya tidak seperti yang diada-adakan oleh mereka, tetapi kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi serta segala sesuatu yang ada di dalamnya. Dia-lah yang mengendalikan, menciptakan, memberikan rizki, menentukan takdir, dan memperjalankan mereka sesuai dengan kehendak-Nya. Segala sesuatu adalah hamba dan kepunyaan-Nya, dan semua kerajaan adalah milik-Nya. Bagaimana mungkin Dia memiliki anak dari kalangan mereka, padahal seorang anak itu lahir dari dua hal (jenis) yang sama (sebanding), sedang Allah Mahasuci lagi Mahatinggi dan tidak mempunyai tandingan, tidak pula memiliki sekutu dalam keagungan dan kebesaran-Nya, serta tidak pula Dia mempunyai isteri, lalu bagaimana Dia memiliki anak?

Sebagaimana yang difirmankan Allah yang artinya: “Dia pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai istri. Dia menciptakan segala sesuatu, dan Dia mengetahui Segala sesuatu.” (QS. Al-An’aam: 101)

Melalui ayat-ayat tersebut, Allah telah menetapkan bahwa Dia Rabb yang Mahaagung, tiada yang setara dan menyerupai-Nya. Dan segala sesuatu selain diri-Nya adalah makluk ciptaan-Nya dan berada di bawah pemeliharaan-Nya, lalu bagaimana mungkin Dia mempunyai anak dari kalangan mereka itu?

Oleh karena itu, dalam menafsirkan ayat dan surat al-Baqarah ini, Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dari Nabi saw, beliau bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: ‘(Manusia) mendustakari-Ku, padahal tidak sepatutnya dia berbuat demikian. Dan dia mencaci-Ku, padahal tidak sepatutnya dia berbuat demikian. Adapun perbuatan dustanya terhadap-Ku adalah anggapan bahwa Aku tidak sanggup mengembalikannya seperti semula. Sedangkan celaaannya terhadap-Ku adalah pernyataannya bahwa Aku mempunyai anak. Mahasuci Aku dari mengambil istri dan anak.’” (HR. Al-Bukhari).

Dalam kitab Shahihain terdapat sebuah hadits yang diriwayatkan dari Nabi beliau bersabda: “Tidak ada seorang pun yang lebih sabar atas gangguan yang didengarnya daripada Allah, mereka menganggap Allah mempunyai anak, padahal Dia-lah yang Memberi rizki dan kesehatan kepada mereka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dan firman-Nya, kullu laHuu qaanituun (“Semua tunduk kepadan-Nya”) Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas, mengenai firman-Nya, qaanituun, “(Yaitu) yang mengerjakan shalat.” Dan berkenaan dengan firman-Nya, kullu laHuu qaanituun (“Semua tunduk kepada-Nya,”) Ikrimah dan Abu Malik mengatakan: “Mereka mengakui bahwa Dia-lah yang berhak diibadahi.”

Ibnu Abi Nujaih meriwayatkan dari Mujahid bahwa ayat: kullu laHuu qaanituun “(Yaitu), bahwa mereka senantiasa berbuat taat.” la mengemukakan: “Taatnya orang kafir ialah dengan sujud bayangannya, sedangkan orang kafir itu sendiri tidak mau sujud.” Pendapat ini bersumber dari Mujahid dan merupakan pilihan Ibnu Jarir. Semua pendapat ini disatukan dalam satu ungkapan, yaitu: Bahwa al-qunut berarti ketaatan dan ketundukan kepada Allah. Dan hal itu terbagi dua, yaitu Syar’i (berdasarkan syari’at) dan Qadari (berdasarkan sunnatullah).

Sebagaimana yang difirmankan Allah swt yang artinya: “Hanya kepada Allah segala apa yang ada di langit dan bumi ini bersujud (tunduk patuh), baik dengan kemauan sendiri maupun terpaksa (dan sujud) pula bayang-bayangannya pada waktu pagi dan petang hari.” (QS. Ar-Ra’ad: 15)

Firman Allah: badii-‘us samaawati wal ardli (“Allah menciptakan langit dan bumi”) artinya Dia lah yang menciptakan keduanya. dengan tanpa adanya contoh sebelumnya. Mujahid dan as-Suddi menyatakan: “Hal ini sesuai dengan makna yang dituntut sesuai bahasa.”

Mengenai firman-Nya: badii-‘us samaawati wal ardli (“Allah menciptakan langit dan bumi”) Ibnu Jarir mengatakan, “Makna ayat tersebut adalah mubdi-‘uHumaa [yang menciptakan keduanya]”, karena sesungguhnya bentuk awal berwazan “muf-‘ilu” lalu ditashrif menjadi “fa-‘iilun” [yang berbuat], sebagaimana “mu’limu” ditasrfi menjadi “al-aaliimu” dan pembuatannya tidak meniru bentuk yang sama dan tidak didahului oleh seorang pun.

Ibnu Jarir menuturkan, dengan demikian, makna ayat ini adalah bahwa Allah Mahasuci dari memiliki anak. Dia-lah pemilik semua apa yang ada di langit dan bumi ini yang seluruhnya memberikan kesaksian akan keesaan-Nya serta mengakui hal itu dengan bersikap taat kepada-Nya. Dia-lah yang menciptakan dan mengadakan semua itu tanpa adanya asal dan contoh sebelumnya. Yang demikian itu merupakan pemberitahuan yang disampaikan Allah kepada hamba-hamba-Nya bahwa di antara yang memberikan kesaksian semacam itu adalah Nabi Isa al-Masih yang mereka menisbatkan sebagai anak Allah, sekaligus sebagai pemberitahuan kepada mereka bahwa yang menciptakan langit dan bumi tanpa asal-usul dan contoh adalah Rabb yang juga menciptakan al-Masih Isa as tanpa seorang bapak dengan kekuasaan-Nya. Ungkapan yang bersumber dari Ibnu Jarir rahimahullah ini, adalah ungkapan yang bagus dan benar.

Dan firman-Nya: wa idzaa qadlaa amran fa innamaa yaquulu laHuu kun fayakuun (“Dan jika Dia berkehendak [untuk menciptakan sesuatu], maka cukuplah Dia hanya mengatakan kepadanya, ‘jadilah,’ maka jadilah ia.”) Dengan ayat ini, Allah menjelaskan kesempurnaan, kemampuan dan keagungan kekuasaan-Nya, di mana jika Dia menetapkan sesuatu hal dan menghendaki wujudnya, maka Dia hanya cukup mengatakan: “Jadilah, ” maka jadi dan terwujudlah sesuatu itu sesuai dengan yang dikehendaki-Nya.

Allah berfirman yang artinya: “[penciptaan] ‘Isa di sisi Allah adalah seperti [penciptaan] Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya, ‘Jadilah’ [seorang manusia], maka jadilah ia. ” (QS. Ali Imraan: 59).

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 113-117

6 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan)
Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat

tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 113-117“Mereka itu tidak sama; di antara Ahlul Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (shalat). (QS. 3:113). Mereka berimankepada Allah dan hari penghabisan, mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) ber-
bagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang shalih. (QS. 3:114). Dan apa saja kebajikan yang mereka kerjakan, maka sekali-kali merekatidak dihalangi (menerima pahala)nya; dan Allah Mahamengetahui orang-orang yang bertakwa. (QS. 3:115). Sesungguhnya orang orang yang kafir, baik harta mereka maupun anak-anak mereka, sekali-kali tidak dapat menolak adzab Allah dari mereka sedikitpun. Dan mereka adalab penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS. 3:116). Perumpamaan harta yang mereka nafkahkan di dalam kehidupan dunia ini, adalah seperti perumpamaan angin yang mengandung hawa yang sangat dingin, yang me-nimpa tanaman kaum yang menganiaya diri sendiri, lalu angin itu merusaknya. Allah tidak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri sendiri.” (QS. 3:117)

Yang masyhur menurut para mufassir, sebagaimana disebutkan oleh Muhammad bin Ishaq dan ulama lainnya dan diriwayatkan oleh al-‘Aufi dari Ibnu ‘Abbas, bahwa ayat-ayat ini turun berkenaan dengan para pendeta Ahlul Kitab yang beriman kepada Nabi Muhammad seperti, ‘Abdullah bin Salam, Asad bin `Ubaid, Tsa’labah bin Syu’bah dan yang lainnya. Maksudnya, tidak sama antara Ahlul Kitab yang telah dicela oleh ayat sebelumnya dengan Ahlul Kitab yang masuk agama Islam. Oleh karena itu Allah berfirman: laisuu sawaa-an (“Mereka itu tidak sama.”) Artinya, mereka itu tidak berada pada tingkatan yang sama, ada yang beriman dan ada juga yang jahat.

Oleh karena itu Allah berfirman: min aHlil kitaabi ummatun (“Di antara ahlul Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus.”) Golongan yang senantiasa menjalankan perintah Allah swt, mentaati syari’at-Nya, serta mengikuti Nabi-Nya, dan mereka beristiqamah: yat-luuna aayaatillaaHi aanaa-al laili wa Hum yasjuduun (“membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (shalat).” Yaitu shalat Tahajjud dan membaca al-Qur’an di dalamnya.

Dan firman-Nya, yu’minuuna billaaHi wal yaumil aakhiri wa ya’muruuna bil ma’ruufi wa yaHauna ‘anil munkari wa yusaari’uuna fil khairaati wa ulaa-ika minash-shaalihiin (“Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan, mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar serta bersegera kepada (mengerjakan) berbagai kebajikan. Mereka itu termasuk orang-orang yang shalih.”) Mereka itulah yang disebutkan pada akhir surat Ali-‘Imran ini: wa inna min aHlil kitaabi lamay yu’minu billaaHi wa maa unzila ilaikum wa maa unzila ilaiHim khaasyi’iina lillaaHi (“Dan sesungguhnya di antara Ahlul Kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepadamu, serta yang diturunkan kepada mereka, sedang mereka berendah hati kepada Allah.”) (QS. Ali-‘Imran: 199).

Oleh karena itu, Allah berfirman di sini: wa maa yaf’aluu min khairin falay yukfaruuHu (“Dan apa saja kebajikan yang mereka kerjakan, maka sekali-kali mereka tidak dihalangi [menerima pahala]nya.”] Yaitu tidak di sia-siakan, bahkan mereka akan mendapatkan balasan pahala yang lebih banyak.

wallaaHu ‘aliimum bil muttaqiin (“Dan Allah Mahamengetahui orang-orang yang bertakwa.”) Artinya, tidak ada satu pun yang tersembunyi bagi Allah dari perbuatan yang dilakukan seseorang. Dan tidak disia-siakan di sisi-Nya pahala bagi orang yang baik amal perbuatannya.

Setelah itu Allah memberitahukan mengenai orang-orang kafir lagimusyrik dalam firman-Nya: lan tughniya ‘anHum amwaaluHum wa laa aulaaduHum minallaaHi syai-an (“Baik harta mereka maupun anak-anak mereka, sekali-kali tidak dapat menolak adzab Allah dari mereka sedikit pun.”) Maksudnya, harta dan anak-anak mereka itu tidak dapat menolak adzab dan siksa Allah (jika Allah menghendaki untukmenimpakannya kepada mereka). Wa ulaa-ika ash-haabun naari Hum fiiHaa khaaliduun (“Mereka adalah penghuni Neraka, mereka kekal di dalamnya.”)

Kemudian Allah, memberikan perumpamaan bagi apa yang dibelanjakan orang-orang kafir di dunia ini. Demikian dikatakan Mujahid, al-Hasan al-Bashri dan as-Suddi, Allah swt. berfirman: matsalu maa yunfiquuna fii HaadziHil hayaatud dun-yaa kamatsali riihin fiiHaa shirrun (“Perumpamaan harta yang mereka nafkahkan di dalam kehidupan dunia ini adalah seperti perumpamaan angin yang mengandung hawa yang sangat dingin.”) Yakni angin yang disertai hawa yang dingin sekali. Demikian juga dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas, ‘Ikrimah, Sa’id bin Jubair, Qatadah, adh-Dhahhak, ar-Rabi’ bin Anas dan yang lainnya.

Sedangkan ‘Atha’ berkata: “Sangat dingin dan membeku.” Adapunmenurut Ibnu ‘Abbas dan juga Mujahid: fiiHaa shirrun, “Shirr” yakni, api. Makna ini merujuk kepada makna pertama, karena dingin yang luar biasa apalagi yang membekukan, dapat menghancurkan tanaman dan buah-buahan, sebagai-mana api dapat membakar sesuatu.

Ashaabat hartsa qaumin dhalamuu anfusaHum fa aHlakat-Hu (“Yang menimpa tanaman kaum yang menganiaya diri sendiri, lalu angin itu merusaknya.”) yaitu membakarnya. Maksudnya, angin tersebut dapat memusnahkan jika menimpa tanaman yang sudah saatnya dipanen. Angin itu memporak porandakan dan memusnahkan buah-buahan dan tanaman yang ada di dalamnya, padahal si pemiliknya justru sangat membutuhkan hasil panennya. Demikian juga halnya dengan orang-orang kafir. Allah akan menghapuskan pahala dan buah semua amalnya selama di dunia, sebagaimana musnahnya tanaman itu akibat dosa-dosa para pemiliknya. Begitu pun orang-orang kafir itu membangun amal mereka tanpa asas dan pondasi.

Wa maa dhalama HumullaaHu wa laakin anfusaHum yadh-limuun (“Dan Allah tidak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.”)

&