Tag Archives: 122

Tafsir Ibnu Katsir Surah At-Taubah ayat 122

5 Nov

Tafsir Ibnu Katsir Surah At-Taubah ayat 122
Tafsir Al-Qur’an Surah At-Taubah (Pengampunan)
Surah Madaniyyah; surah ke 9: 129 ayat

tulisan arab alquran surat at taubah ayat 122

“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (At-Taubah ayat 122)

Hal ini merupakan penjelasan dari Allah Swt. mengenai apa yang dikehendaki-Nya, yaitu berkenaan dengan keberangkatan semua kabilah bersama Rasulullah Saw. ke medan Tabuk.

Segolongan ulama Salaf ada yang berpendapat bahwa setiap muslim diwajibkan berangkat dengan Rasulullah Saw. apabila beliau keluar (berangkat ke medan perang). Untuk itulah dalam firman yang lain disebutkan:

{انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالا}

Berangkatlah kalian, baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat. (At-Taubah: 41)

Kemudian dalam ayat berikutnya disebutkan oleh firman-Nya:

{مَا كَانَ لأهْلِ الْمَدِينَةِ وَمَنْ حَوْلَهُمْ مِنَ الأعْرَابِ أَنْ يَتَخَلَّفُوا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ}

Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badui yang berdiam di sekitar mereka. (At-Taubah: 120), hingga akhir ayat.

Selanjutnya ayat-ayat di atas di-mansukh oleh ayat ini (At-Taubah: 122).

Dapat pula ditakwilkan bahwa ayat ini merupakan penjelasan dari apa yang dimaksud oleh Allah Swt. sehubungan dengan keberangkatan semua kabilah, dan sejumlah kecil dari tiap-tiap kabilah apabila mereka tidak keluar semuanya (boleh tidak berangkat). Dimaksudkan agar mereka yang berangkat bersama Rasul Saw. memperdalam agamanya melalui wahyu-wahyu yang diturunkan kepada Rasul. Selanjutnya apabila mereka kembali kepada kaumnya memberikan peringatan kepada kaumnya tentang segala sesuatu yang menyangkut musuh mereka (agar mereka waspada). Dengan demikian, maka golongan yang tertentu ini memikul dua tugas sekaligus. Tetapi sesudah masa Nabi Saw., maka tugas mereka yang berangkat dari kabilah-kabilah itu tiada lain adakala­nya untuk belajar agama atau untuk berjihad, karena sesungguhnya hal tersebut fardu kifayah bagi mereka.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas se­hubungan dengan firman-Nya: Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). (At-Taubah: 122) Yakni tidaklah sepatutnya orang-orang mukmin berangkat semuanya ke medan perang dan meninggalkan Nabi Saw. sendirian. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang. (At-Taubah: 122) Yaitu suatu golongan.

Makna yang dimaksud ialah sepasukan Sariyyah (pasukan khusus) yang mereka tidak berangkat kecuali dengan seizin Nabi Saw. Apabila pasukan Sariyyah itu kembali kepada kaumnya, sedangkan setelah keberangkatan mereka diturunkan ayat-ayat Al-Qur’an yang telah dipelajari oleh mereka yang tinggal bersama Nabi Saw. Maka mereka yang bersama Nabi Saw. akan mengatakan kepada Sariyyah, “Sesungguhnya Allah telah menurunkan ayat-ayat Al-Qur’an kepada Nabi kalian dan telah kami pelajari.”

Selanjutnya Sariyyah itu tinggal untuk mempelajari apa yang telah diturunkan oleh Allah kepada Nabi mereka, sesudah keberangkatan mereka; dan Nabi pun mengirimkan Sariyyah lainnya. Yang demikian itulah pengertian firman Allah Swt.:

{لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ}

untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama. (At-Taubah: 122)

Yakni agar mereka mempelajari apa yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi mereka. Selanjutnya mereka akan mengajarkannya kepada Sariyyah apabila telah kembali kepada mereka.

{لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ}

supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (At-Taubah: 122)

Mujahid mengatakan bahwa ayat ini diturunkan sehubungan dengan sejumlah orang dari kalangan sahabat Nabi Saw. yang pergi ke daerah-daerah pedalaman, lalu mereka beroleh kebajikan dari para penduduknya dan beroleh manfaat dari kesuburannya, serta menyeru orang-orang yang mereka jumpai ke jalan petunjuk (hidayah). Maka orang-orang pedalaman berkata kepada mereka, “Tiada yang kami lihat dari kalian melainkan kalian telah meninggalkan teman kalian (Nabi Saw.) dan kalian datang kepada kami.” Maka timbullah rasa berdosa dalam hati mereka, lalu mereka pergi dari daerah pedalaman seluruhnya dan menghadap Nabi Saw. Maka Allah Swt. berfirman: Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang. (At-Taubah: 122) untuk mencari kebaikan. untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama. (At-Taubah: 122) dan untuk mendengarkan apa yang terjadi di kalangan orang-orang serta apa yang telah diturunkan oleh Allah. Allah memaafkan mereka. dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya. (At-Taubah: 122) Yakni semua orang apabila mereka kembali kepada kaumnya masing-masing. supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (At-Taubah: 122)

Qatadah mengatakan sehubungan dengan takwil ayat ini, bahwa apabila Rasulullah Saw. mengirimkan pasukan, Allah memerintahkan kepada kaum muslim agar pergi berperang, tetapi sebagian dari mereka harus tinggal bersama Rasul Saw. untuk memperdalam pengetahuan agama: sedangkan segolongan yang lainnya menyeru kaumnya dan mem­peringatkan mereka akan azab-azab Allah yang telah menimpa umat-umat sebelum mereka.

Ad-Dahhak mengatakan bahwa Rasulullah Saw. apabila ikut dalam peperangan, maka beliau tidak mengizinkan seorang pun dari kalangan kaum muslim untuk tidak ikut bersamanya, kecuali orang-orang yang berhalangan. Dan Rasulullah Saw. apabila mempersiapkan suatu pasukan Sariyyah, beliau tidak membolehkan mereka langsung berangkat melainkan dengan seizinnya. Dan apabila mereka sudah berangkat, lalu diturunkan kepada Nabi-Nya ayat-ayat Al-Qur’an, maka Nabi Saw. Membacakannya kepada sahabat-sahabatnya yang tinggal bersamanya. Apabila pasukan Sariyyah itu kembali, maka mereka yang tinggal bersama Nabi Saw. berkata, “Sesungguhnya Allah telah menurunkan ayat-ayat Al-Qur’an kepada Nabi-Nya sesudah kalian berangkat.” Lalu mereka yang tinggal mengajarkan ayat-ayat itu kepada mereka yang baru tiba dan memperdalam pengetahuan agama mereka. Hal inilah yang dimaksudkan oleh firman Allah Swt.: Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). (At-Taubah: 122) Yaitu apabila Rasulullah Saw. tidak ikut berangkat dalam pasukan tersebut. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang. (At-Taubah: 122) Dengan kata lain, tidak sepatutnya kaum muslim berangkat seluruhnya bila Nabi Saw. tinggal di tempat. Apabila Nabi Saw. tinggal di tempat, hendaklah yang berangkat hanyalah Sariyyah (pasukan khusus)nya saja, sedangkan sebagian besar orang-orang harus tetap ada bersama Nabi Saw.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan pula dari Ibnu Abbas sehubungan dengan ayat ini, yaitu firman-Nya: Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). (At-Taubah: 122) Ayat ini bukan berkenaan dengan masalah jihad, tetapi ketika Rasulullah Saw. mendoakan musim paceklik bagi orang-orang Mudar, maka negeri mereka menjadi kekeringan dan paceklik. Dan tersebutlah bahwa ada salah satu kabilah dari mereka berikut semua keluarganya datang ke Madinah dan tinggal padanya karena kelaparan yang mereka derita, lalu mereka berpura-pura masuk Islam, padahal mereka dusta. Keadaan itu membuat sahabat-sahabat Rasul Saw. menjadi terganggu dan membuat mereka kewalahan. Maka Allah menurunkan kepada Rasul Saw. wahyu-Nya yang mengabarkan bahwa mereka bukanlah orang-orang mukmin. Lalu Rasulullah Saw. memulangkan mereka kepada induk kabilahnya dan memperingatkan kepada kaumnya agar jangan melakukan perbuatan yang sama. Yang demikian itulah maksud dari firman Allah Swt.: dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya. (At-Taubah: 122). hingga akhir ayat.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna ayat ini, bahwa segolongan orang dari tiap-tiap kabilah Arab Badui berangkat meninggalkan daerahnya, lalu menghadap Nabi Saw. Mereka menanyakan kepada Nabi Saw. banyak hal yang mereka kehendaki menyangkut urusan agama mereka. Dengan demikian, mereka memperdalam pengetahuan agamanya. Dan mereka bertanya kepada Nabi Saw., “Apakah yang akan engkau perintahkan kepada kami untuk mengerjakannya? Dan perintahkanlah kepada kami apa yang harus kami lakukan kepada keluarga dan kaum kami apabila kami kembali kepada mereka!” Maka Nabi Saw. memerintahkan kepada mereka untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Nabi Saw. juga mengutus mereka kepada kaumnya untuk menyeru mereka agar mendirikan salat dan menunaikan zakat. Dan tersebutlah bahwa apabila mereka telah kembali kepada kaumnya, maka mereka mengatakan, “Barang siapa yang mau masuk Islam, sesungguhnya dia termasuk golongan kami.” Lalu mereka memberikan peringatan kepada kaumnya, sehingga seseorang (dari kaumnya) yang masuk Islam benar-benar rela berpisah dari ayah dan ibunya (yang tidak mau masuk) Islam.

Sebelum itu Nabi Saw. telah berpesan dan memperingatkan mereka akan kaumnya, bahwa apabila mereka kembali kepada kaumnya, hendaklah mereka menyeru kaumnya untuk masuk Islam dan mem­peringatkan kaumnya akan neraka serta menyampaikan berita gembira kepada mereka akan surga (bila mereka mau masuk Islam).

Ikrimah mengatakan ketika ayat berikut diturunkan, yaitu firman Allah Swt.: Jika kalian tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kalian dengan siksa yang pedih. (At-Taubah: 39) Dan firman Allah Swt.: Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah. (At-Taubah: 120), hingga akhir ayat. Orang-orang munafik mengatakan, “Binasalah orang-orang Badui yang tidak ikut berperang dengan Muhammad dan tidak ikut berangkat bersamanya.” Dikatakan demikian karena ada sejumlah sahabat Nabi Saw. yang pergi ke daerah pedalaman, pulang kepada kaumnya masing-masing dalam rangka memperdalam pegetahuan agama buat kaumnya. Maka Allah Swt. menurunkan firman-Nya: Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). (At-Taubah: 122), hingga akhir ayat.

Turun pula firman Allah Swt. yang mengatakan:

{وَالَّذِينَ يُحَاجُّونَ فِي اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا اسْتُجِيبَ لَهُ}

Dan orang-orang yang membantah (agama) Allah sesudah agama itu diterima, maka bantahan mereka itu sia-sia saja, di sisi Tuhan mereka. Mereka mendapat kemurkaan (Allah) dan bagi mereka azab yang sangat keras. (Asy-Syura: 16)

Al-Hasan Al-Basri telah mengatakan sehubungan dengan makna ayat. bahwa makna yang dimaksud ialah agar orang-orang yang berangkat ke medan perang belajar melalui apa yang telah diperlihatkan oleh Allah kepada mereka, yaitu menguasai musuh dan dapat mengalahkan mereka. Kemudian bila mereka kembali kepada kaumnya, maka mereka memperingatkan kaumnya untuk bersikap waspada.

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-An’am ayat 122

18 Des

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-An’am (Binatang Ternak)
Surah Makkiyyah; surah ke 6: 165 ayat

tulisan arab alquran surat al an'am ayat 122“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan, dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita, yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. al-An’aam: 122)

Ini merupakan perumpamaan yang diberikan Allah bagi orang mukmin, yang sebelumnya dalam keadaan mati, maksudnya dalam kesesatan, ia binasa dan bingung, lalu Allah menghidupkannya kembali, yakni menghidupkan hatinya dengan iman, serta menunjuki dan menuntunnya untuk mengikuti para Rasul-Nya.

Wa ja’alnaa laHuu nuuray yamsyii biHii fin naasi (“Dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia.”) Artinya, dia mendapatkan petunjuk bagaimana harus berjalan dan bertindak dengan cahaya itu. Cahaya tersebut adalah al-Qur’an, sebagaimana yang diriwayatkan al-‘Aufi dan Ibnu Abi Thalhah dari Ibnu `Abbas. Sedangkan menurut as-Suddi (adalah) Islam. Dan semuanya itu benar.

Kamam matsaluHuu fidh dhulumaaati (“Serupa keadaannya dengan orang yang berada dalam gelap gulita.”) Yaitu kebodohan, hawa nafsu, dan kesesatan yang beraneka ragam. Laisa bikhaarijiina minHaa (“Yang sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya?”)
Artinya, tidak mendapatkan petunjuk kepada jalan keluar dan juga jalan menuju keselamatan.

Sebagaimana firman Allah yang artinya:
“Allah pelindung orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya adalah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni Neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 257). Ayat-ayat mengenai hal ini sangat banyak.

Letak kesesuaian perumpamaan dengan cahaya, dan kegelapan di sini terdapat pada permulaan surat al-An’aam. Allah berfirman: wa ja’aladh dhulumaati wan nuur (“Dan menjadikan gelap dan terang.”) Dan yang benar adalah, bahwa ayat ini bersifat umum tercakup di dalamnya orang mukmin dan orang kafir.

Firman-Nya: kadzaalika zuyyina lil kaafiriina maa kaanuu ya’maluun (“Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.”) Maksudnya, Kami menjadikan kebodohan dan kesesatan mereka itu sesuatu yang indah. bagi mereka, sebagai ketentuan dan hikmah yang sempurna dari Allah, tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi) selain Dia, Yang Esa, (dan) tidak ada sekutu bagi-Nya.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Huud ayat 121-122

3 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Huud
Surah Makkiyyah; surah ke 11: 123 ayat

tulisan arab alquran surat huud ayat 121-122“Dan katakanlah kepada orang-orang yang tidak beriman: ‘Berbuatlah menurut kemampuanmu; sesungguhnya Kami pun berbuat (pula).’ (QS. 11:121) Dan tunggulah (akibat perbuatanmu); sesungguhnya Kami pun menunggu (pula).’ (QS. 11:122)” (Huud: 121-122)

Allah berfirman seraya menyuruh Rasul-Nya, supaya dia berkata kepada orang orang yang tidak beriman kepada apa yang dia bawa dari Rabbnya, dengan nada mengancam: i’maluu ‘alaa makaanatikum (“Berbuatlah menurut kemampuanmu”) maksudnya di atas jalan dan caramu; innaa ‘aamiluun (“Sesungguhnya Kami pun berbuat pula”) maksudnya atas jalan dan cara kami. Wantadhiruu innaa muntadhiruun (“Dan tunggulah [akibat perbuatanmu]; sesungguhnya kami pun menunggu [pula].”) maksudnya: “Kelak kamu akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik dari dunia ini. Sesungguhnya orang-orang yang dhalim itu tidak akan mendapat keberuntungan.” (QS. Al-An’aam: 135)

Allah telah menepati janji terhadap Rasul-Nya, Allah menolongnya dan menguatkannya dan Allah menjadikan kalimat-Nya adalah yang paling tinggi dan kalimat orang-orang yang kafir adalah rendah, Allah adalah Mahamulia dan Mahabijaksana.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 122-123

31 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 122-123“Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Ku-anugerahkan kepadamu dan Aku telah melebihkan kamu atas segala umat. (QS. Al-Baqarah: 122) Dan takutlah kamu kepada suatu hari di waktu seseorang tidak dapat menggantikan orang lain sedikitpun dan tidak akan diterima suatu tebusan daripadanya dan tidak akan memberi manfa’at suatu syafa’at kepadanya dan tidak (pula) mereka akan ditolong.” (QS. Al-Baqarah: 123)

Ayat yang serupa dengan ayat ini telah dikemukakan penafsirannya pada bagian awal dari surat al-Baqarah. Diulangnya ayat ini di sini dimaksudkan untuk memberikan penegasan sekaligus perintah untuk mengikuti Rasulullah seorang nabi yang ummi (tidak bisa baca-tulis).

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 121-123

16 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan)
Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat

tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 121-123Selanjutnya Allah menjelaskan penyebutan kisah perang Uhud, di mana di dalamnya terkandung ujian bagi kaum mukminin dan pembeda antara orang-orang yang beriman dan orang-orang munafik serta bukti kesabarannya orang-orang yang bersabar, seraya Allah berfirman:

“Dan (ingatlah), ketika kamu berangkat pada pagi hari dari (rumah) keluargamu akan menempatkan orang-orang yang beriman pada beberapa posisi untuk berperang. Dan Allah Mahamendengar lagi Mahamengetahui, (QS. 3:121). Ketika dua golongan dari padamu ingin (mundur) karena takut, padahal Allah adalah penolong bagi kedua golongan itu. Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal. (QS. 3:122). Sungguh Allah telah menolongmu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah [ketika itu] orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukurinya.” (QS 3: 123)

Menurut jumhur ulama, yang dimaksud dengan peristiwa tersebut adalah perang Uhud. Demikian dikatakan oleh Ibnu Abbas, al-Hasan al-Bashri, Qatadah, as-Suddi dan yang lainnya. Peristiwa itu terjadi pada hari sabtu, bulan Syawal pada tahun ke 3 Hijrah.

Qatadah berkata, “Terjadi pada tanggal 11 bulan Syawal.” Sedang ‘Ikrimah berkata, “Terjadi pada hari Sabtu, pertengahan bulan syawal.” WallaaHu a’lam.

Sebab terjadinya perang Uhud ini karena orang-orang Musyrik bermaksud menuntut balas atas terbunuhnya pemuka-pemuka mereka pada perang Badar. Di perang Badar tersebut dapat diselamatkan unta-unta yang membawa barang dagangan yang ada bersama Abu Sufyan.

Anak-anak yang ayahnya terbunuh dan para pemimpin mereka yang tersisa berkata kepada Abu Sufyan: “Sediakan harta ini untuk memerangi Muhammad.” Mereka pun membelanjakannya untuk tujuan itu. Kemudian mereka merekrut orang-orang, termasuk utusan dari setiap kabilah, hingga mencapai tiga ribu orang. Selanjutnya mereka berangkat dan singgah di dekat Uhud, sisi kota Madinah.

Ketika Rasulullah saw. selesai menunaikan shalat Jum’at, beliau menshalatkan jenazah seseorang dari bani Najjar yang bernama Malik bin ‘Amr. Selanjutnya beliau mengajak orang-orang untuk bermusyawarah seraya bertanya: “Apakah harus pergi menghadapi mereka atau di tetap tinggal di Madinah.”

Abdullah bin Ubay menyarankan agar tetap tinggal di Madinah. Jika orang-orang kafir tetap berada di tempat mereka, maka mereka berada di tempat pemberhentian yang amat buruk. Tetapi jika mereka memasuki kota Madinah, maka akan diperangi oleh kaum lelaki dari depan, dilempari oleh kaum wanita dan anak-anak dari atas. Sedangkan jika pulang, maka mereka akan pulang dengan kegagalan.

Sedangkan para shahabat yang tidak ikut perang Badar, menyarankan agar berangkat untuk menghadapi mereka. kemudian beliau masuk dan mengenakan pakaian perangnya, lalu keluar untuk menemui para shahabatnya. Namun sebagian mereka yang menyarankan untuk menyongsong musuh merasa menyesal dengan usulan itu, mereka mengatakan, “Sepertinya kita selalu memaksa Rasulullah saw.” mereka pun berkata, “Ya Rasulallah, jika engkau berkenan, lebih baik kita tetap tinggal di Madinah.” Maka beliau pun bersabda, “Tidak layak bagi seorang Nabi yang telah mengenakan pakaian besinya untuk kembali, sampai Allah memberikan keputusan kepadanya.”

Maka beliau berangkat bersama 1000 orang Sahabat. Ketika mereka sampai di batas kota, ‘Abdullah bin Ubay -tokoh kaum munafik- membawa pulang sepertiga pasukan dalam keadan marah, karena pendapatnya tidak dipakai. Lalu bersama-sama komplotannya ia mengatakan: “Seandainya hari ini kami menyaksikan pertempuran, pasti kami akan bergabung dengan kalian,
namun kami tidak melihat kalian berperang.”

Rasulullah terus melanjutkan perjalanannya hingga menempati salah satu bukit pada gunung Uhud di tepi lembah, dengan posisi membelakangi pasukan dan gunung Uhud, beliau pun bersabda, “Jangan sekali-kali melakukan penyerangan sebelum kami perintahkan.”

Bersama 700 (tujuh ratus) orang Sahabatnya, Rasulullah siap berperang. Beliau mengangkat ‘Abdullah bin Jubair, saudara Bani ‘Amr bin `Auf, untuk memimpin pasukan pemanah. Pasukan pemanah pada saat itu berjumlah lima puluh orang. Beliau menyampaikan pesan kepada mereka: “Hujanilah pasukan berkuda musuh dengan panah untuk melindungi kami dan jangan sampai kami diserang dari arah depan kalian. Tetaplah kalian pada posisi kalian, bagaimana pun kondisi yang kita hadapi; menang atau kalah, sekalipun kalian menyaksikan kami disambar burung, maka jangan sekali-kali kalian meninggalkan posisi kalian.”

Kemudian beliau merapatkan antara dua baju besi pasukan (barisan) dan menyerahkan panji kepada Mush’ab bin `Umair, saudara Bani ‘Abdud Daar. Pada saat itu, beliau juga memperkenankan sebagian anak-anak muda untuk ikut berjihad di Uhud dan sebagian yang lainnya baru beliau izinkan untuk ikut berjihad pada perang Khandaq, yang terjadi kurang lebih dua tahun setelah peristiwa Uhud. Sedangkan kaum Quraisy telah mempersiapkan 3000 (tiga ribu) pasukan yang dilengkapi dengan seratus pasukan berkuda yang telah disiagakan di sebelah kanan di bawah komando Khalid bin al-Walid, sedangkan di sebelah kiri di bawah komando ‘Ikrimah bin Abu Jahal. Mereka menyerahkan panji pasukan kepada Bani ‘Abdud Daar.
Antara dua pasukan terjadi perang sengit yang rincinya akan diuraikan pada tempatnya, insya Allah.

Oleh karena itu, Allah berfirman: wa idz ghadauta min aHlika tubawwi-ul mu’miniina maqaa-‘ida lil qitaal (“Dan ingatlah ketika kamu berangkat pada pagi hari dari rumah keluargamu akan menempatkan orang-orang yang beriman pada beberapa posisi untuk berperang.”) Yakni menempatkan mereka pada posisi mereka masing-masing, di sebelah kanan dan sebelah kiri gunung, dan posisi-posisi lain yang telah engkau (Muhammad) perintahkan, wallaaHu samii’un ‘aliim (“Dan Allah Mahamendengar lagi Mahamengetahui,”) Allah Mahamendengar apa yang kamu katakan, dan Mahamengetahui apa yang ada di dalam hatimu.

Dalam hal ini, Ibnu Jarir memunculkan suatu pertanyaan: “Bagaimana kamu mengatakan bahwa Nabi pergi ke Uhud pada hari Jum’at seusai mengerjakan shalat Jum’at?” Padahal Allah berfirman, wa idz ghadauta min aHlika tubawwi-ul mu’miniina maqaa-‘ida lil qitaal (“Dan ingatlah ketika kamu berangkat pada pagi hari dari rumah keluargamu akan menempatkan orang-orang yang beriman pada beberapa posisi untuk berperang.”) untuk menjawab pertanyaan tersebut perlu disampaikan bahwa kepergian beliau pada pagi hari untuk menetapkan posisi-posisi mereka, tiada lain adalah pada Sabtu pagi.

Sedangkan firman-Nya: idz Hammat thaa-ifataani minkum an taf-syalaa (“Ketika dua golongan dari padamu ingin [mundur] karena takut.”) al-Bukhari meriwayatkan dari Ali bin Abdillah, Sufyan telah bercerita kepada kami, ia berkata bahwa ‘Umar berkata, aku pernah mendengar Jabir bin Abdillah mengatakan: “Ayat ini turun berkenaan dengan kami. Kami terdiri dari dua golongan yakni golongan bani Haritsah dan golongan bani Salamah. Kami tidak senang [di saat lain Sufyan mengatakan] dan tidaklah menggembirakan bila ayat ini tidak turun, karena firman-Nya [selanjutnya disebutkan]: wallaaHu waliyyuHumaa (“Padahal Allah adalah penolong dari kedua golongan itu.”)

Demikian pula diriwayatkan oleh Muslim dari Sufyan bin ‘Uyainah. Juga menurut pendapat para ulama salaf bahwa mereka adalah bani Haritsah dan bani Salamh.

Firman-Nya: wa laqad nashara kumullaaHu bibad-rin (“Sungguh Allah telah menolongmu dalam perang Badar”) yakni peristiwa perang Badar yang terjadi pada hari Jum’at bertepatan dengan tanggal 17 Ramadlan tahun ke 2 Hijriyah. Itulah hari al-Furqaan [perbedaan antara kebenaran dan kebathilan] yang di dalamnya Allah memenangkan Islam dan kaum Muslimin. Serta memusnahkan kemusyrikan dan pusatnya serta golongannya, meskipun golongan kaum muslimin sedikit sekali yaitu 313 orang saja. mereka hanya dilengkapi dua ekor kuda dan 70 unta, sedangkan sisanya berjalan kaki tanpa dilengkapi perlengkapan yang memadai.

Sedangkan musuh pada waktu itu berjumlah 900 sampai 1000 orang yang dilengkapi dengan baju besi, topi baja, peralatan perang yang lengkap, pasukan kuda yang lengkap, serta perhiasan. Namun demikian Allah memenangkan Rasul-Nya dan mengunggulkan wahyu-Nya, serta mencerahkan wajah Nabi-Nya dan pasukannya. Di sisi lain Allah menghinakan syaitan dan para pengikutnya.

Oleh karena itu Allah berfirman dengan menyebutkan karunia-Nya bagi hamba-Nya dan para pendukungnya yang bertakwa. wa laqad nashara kumullaaHu bibad-rin wa antum adzillatun (“Sungguh Allah telah menolongmu dalam perang Badar, padahal kamu [ketika itu] adalah orang yang lemah.”) yakni jumlah kalian yang sangat sedikit, agar kalian mengetahui bahwa kemenangan itu adalah berasal dari sisi Allah, bukan karena banyaknya jumlah dan perlengkapan.

Oleh karena itu dalam surat yang lain Allah berfirman yang artinya:
“Dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kmudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir. Sesudah itu Allah menerima taubat dari orang-orang yang dikehendaki-Nya. Allah Mahapengampun lagi Maha-penyayang.” (QS. At-Taubah: 25-27).

Imam Ahmad meriwayatkan dari Samak, ia berkata, aku pernah mendengar `Iyadh al-Asy’ari berkata, aku pernah mengikuti perang Yarmuk. Bersama kami terdapat lima panglima; Abu `Ubaidah, Yazid bin Abi Sufyan, Ibnu Hasanah, Khalid bin al-Walid, dan `Iyadh [bukan Iyadh yang memberitakan hadits ini kepada Samak]. ‘Umar berkata: “Jika berperang, maka sebagai pemimpin kalian adalah Abu `Ubaidah. Kami pun segera mengirim surat kepadanya memberitahukan bahwa kematian telah menghantui kami dan kami meminta bantuan kepadanya. Maka Abu `Ubaidah pun membalas surat kami itu seraya mengatakan: `Surat kalian yang meminta bantuanku telah sampai ke tanganku. Dan aku ingin menunjukkan kepada kalian siapa yang lebih besar pertolongannya dan memiliki pasukan tentara yang tangguh, itulah Allah. Mohonlah pertolongan kepada-Nya, karena sesungguhnya Nabi Muhammad pernah ditolong-Nya pada waktu perang Badar, padahal jumlah pasukan beliau lebih sedikit dari kalian. Jika suratku telah sampai di tangan kalian, maka seranglah mereka dan jangan kembali kepadaku.”‘

Lebih lanjut `Iyadh menceritakan: “Maka kami pun segera menyerang mereka hingga akhirnya kami berhasil memukul mundur mereka sejauh empat farsakh [1 farsakh: 8 km]. Kemudian kami mendapatkan harta rampasan perang, lalu kami bermusyawarah, hingga akhirnya `Iyadh menyarankan kepada kami agar kami memberikan sepuluh bagian kepada setiap pemimpin suku. Sedang Abu `Ubaidah berkata: `Siapakah yang mau bertanding denganku?’ Seorang pemuda menjawab: `Aku, jika engkau tidak marah.’ Temyata pemuda itu berhasil mengalahkannya, dan aku melihat kedua kepang rambut Abu `Ubaidah kusut, sedang Abu `Ubaidah berada di belakang pemuda itu, di atas kuda seorang badui”. Isnad hadits ini shahih.

Hadits senada juga diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-nya dari Bandar dari Ghandar.

Badar adalah suatu tempat yang terletak di antara Makkah dan Madinah yang dikenal dengan sumurnya. Nama Badar itu dinisbatkan kepada penggali sumur itu, yaitu Badar bin Narin. Asy-Sya’bi berkata: “Badar adalah sebuah sumur milik seorang yang bernama Badar.”

Dan firman-Nya, fattaqullaaHa la’allakum tasykuruun (“Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya”) yakni, agar kalian melaksanakan ketaatan kepada-Nya.

&