Tag Archives: 126-127

Tafsir Ibnu Katsir Surah At-Taubah ayat 126-127

5 Nov

Tafsir Ibnu Katsir Surah At-Taubah ayat 126-127
Tafsir Al-Qur’an Surah At-Taubah (Pengampunan)
Surah Madaniyyah; surah ke 9: 129 ayat

tulisan arab alquran surat at taubah ayat 126-127

“Dan tidakkah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, kemudian mereka tidak (juga) bertobat dan tidak (pula) mengambil pengajaran? Dan apabila diturunkan suatu surat, sebagian mereka memandang kepada sebagian yang lain (sambil berkata), ‘Adakah seorang dari (orang-orang muslim) yang melihat kalian?’ Sesudah itu mereka pun pergi. Allah telah memalingkan hati mereka disebabkan mereka adalah kaum yang tidak mengerti.” (at-Taubah: 126-127)

Allah Swt. berfirman bahwa apakah orang-orang munafik itu tidak merasakan:

{أَنَّهُمْ يُفْتَنُونَ}

bahwa mereka diuji. (At-Taubah: 126)

Yakni mendapat ujian.

{فِي كُلِّ عَامٍ مَرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ لَا يَتُوبُونَ وَلا هُمْ يَذَّكَّرُونَ}

sekali atau dua kali setiap tahun, kemudian mereka tidak (juga bertobat) dan tidak (pula) mengambil pengajaran? (At-Taubah: 126)

Artinya, mereka tidak juga mau bertobat dari dosa-dosa mereka yang terdahulu, tidak pula mengambil pelajaran untuk menghadapi masa mendatang.

Mujahid mengatakan bahwa mereka diuji dengan musim paceklik Dan kelaparan. Menurut Qatadah ujian itu berupa perintah untuk berperang sekali atau dua kali dalam setiap tahunnya.

Syarik telah meriwayatkan dari Jabir, dari Al-Ju’fi, dari Abud Duha, dari Huzaifah sehubungan dengan firman-Nya: Dan tidakkah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun. (At-Taubah: 126) Bahwa kami mendengar setiap tahunnya ada suatu kedustaan atau dua kedustaan yang membuat banyak kalangan orang sesat karenanya. Demikian menurut riwayat Ibnu Jarir.

Di dalam sebuah hadis dari Anas disebutkan bahwa urusan ini tiadalah bertambah melainkan hanya makin keras (parah), dan tiadalah manusia makin bertambah melainkan hanya kekikirannya. Tiada suatu tahun pun yang dilalui melainkan tahun berikutnya lebih parah daripada sebelumnya. Aku mendengar kalimat ini dari Nabi kalian.

*******

Firman Allah Swt.:

{وَإِذَا مَا أُنزلَتْ سُورَةٌ نَظَرَ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ هَلْ يَرَاكُمْ مِنْ أَحَدٍ ثُمَّ انْصَرَفُوا صَرَفَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَفْقَهُونَ}

Dan apabila diturunkan satu surat, sebagian mereka memandang kepada sebagian yang lain (sambil berkata), “Adakah seseorang dari(orang-orang muslim) yang melihat kalian?” Sesudah itu mereka pun pergi. Allah telah memalingkan hati mereka disebabkan mereka adalah kaum yang tidak mengerti. (At-Taubah: 127)

Ayat ini pun menceritakan perihal orang-orang munafik, bahwa apabila diturunkan suatu surat kepada Rasulullah Saw.:

{نَظَرَ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ}

sebagian mereka memandang kepada sebagian yang lain. (At-Taubah: 127)

Yakni saling pandang di antara sesama mereka, seraya berkata:

{هَلْ يَرَاكُمْ مِنْ أَحَدٍ ثُمَّ انْصَرَفُوا}

Adakah seorang dari (orang-orang muslim) yang melihat kalian? Sesudah itu mereka pun pergi. (At-Taubah: 127)

Maksudnya, mereka berpaling dari kebenaran dan pergi darinya. Demikianlah keadaan mereka di dunia, labil dalam menghadapi perkara yang hak. tidak mau menerimanya, dan tidak mau mengerti tentangnya. Perihalnya sama dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat lain:

{فَمَا لَهُمْ عَنِ التَّذْكِرَةِ مُعْرِضِينَ. كَأَنَّهُمْ حُمُرٌ مُسْتَنْفِرَةٌ}

Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan(Allah)? Seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut. (Al-Muddatstsir: 49-50)

Dan firman Allah Swt. yang mengatakan:

{فَمَالِ الَّذِينَ كَفَرُوا قِبَلَكَ مُهْطِعِينَ. عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ عِزِينَ}

Mengapakah orang-orang kafir itu bersegera datang ke arahmu. Dari kanan dan dari kiri dengan berkelompok-kelompok. (Al-Ma’arij: 36-37)

Yakni mengapa orang-orang munafik itu berkelompok-kelompok memisahkan diri darimu di sebelah kanan dan kirimu, mereka lari dari kebenaran dan pergi ke arah kebatilan.

Firman Allah Swt.:

{ثُمَّ انْصَرَفُوا صَرَفَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ}

Sesudah itu mereka pun pergi. Allah telah memalingkan hati mereka. (At-Taubah: 127)

Ayat ini semakna dengan ayat lain yang disebutkan oleh Allah Swt. melalui firman-Nya:

{فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ}

Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memaling­kan hati mereka. (As-Saff: 5)

{بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَفْقَهُونَ}

disebabkan mereka adalah kaum yang tidak mengerti. (At-Taubah: 127)

Mereka tidak mengerti tentang Allah dan perintah-Nya, dan mereka tidak berupaya untuk memahaminya serta tidak pula menghendakinya. Bahkan mereka sibuk dengan yang lain dan lari darinya. Karena itulah mereka mengalami nasib seperti yang mereka alami itu.

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-An’am ayat 126-127

18 Des

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-An’am (Binatang Ternak)
Surah Makkiyyah; surah ke 6: 165 ayat

tulisan arab alquran surat al an'am ayat 126-127“Dan inilah jalan Rabbmu; (jalan) yang lurus. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan ayat-ayat (Kami) kepada orang-orang yang mengambil pelajaran. (QS. 6:126) Bagi mereka (disediakan) Darussalam (Surga) pada sisi Rabbnya, dan Dialah Pelindung mereka disebabkan amal-aural saleh yang selalu mereka kerjakan. (QS. 6:127)” (al-An’aam: 126-127)

Setelah Allah menyebutkan jalan orang-orang yang tersesat dari jalan-Nya, Allah mengingatkan kemuliaan ajaran yang dibawa oleh Rasul-Nya berupa petunjuk dan agama yang benar, lalu Allah berfirman:

Haadzaa shiraatu rabbika mustaqiiman (“Dan inilah jalan Rabbmu. [jalan] yang lurus.”) Kalimat ini berkedudukan manshub sebagai hal. Maksud (ayat ini adalah): “Inilah agama yang telah Kami tetapkan bagimu, ya Muhammad, melalui apa-apa yang telah Kami wahyukan kepadamu di dalam al-Qur’an ini adalah jalan Allah yang lurus.”

Sebagaimana telah dikemukakan dalam hadits al-Harits dari `Ali, mengenai penyifatan terhadap al-Qur’an: “Dia (al-Qur’an itu) merupakan jalan Allah yang lurus, tali Allah yang sangat kuat, dan kitab yang penuh hikmah.” (Hadits ini selengkapnya diriwayatkan Imam Ahmad dan at-Tirmidzi)

Firman-Nya: qad fash-shalnal aayaati (“Sesungguhnya Kami telah menjelaskan ayat-ayat [Kami].”) Maksudnya, Kami telah menerangkan, dan menafsirkannya; liqaumiy yadzdzakkaruun (“Kepada orang-orang yang mengambil pelajaran.”) Yaitu kepada orang-orang yang memiliki pemahaman, kesadaran dan akal tentang Allah dan Rasul-Nya.

laHum daarus salaami (“Bagi mereka [disediakan] Darussalam.”) Yakni, Surga. ‘inda rabbiHim (“Di sisi Rabb mereka.”) Maksudnya, pada hari Kiamat kelak. Allah menyifati Surga pada ayat ini dengan sebutan “Darussalam” adalah, karena keselamatan mereka dalam perjalanan melewati jalan yang lurus dengan mengikuti jejak dan cara para Nabi. Sebagaimana mereka telah selamat dari bahaya jalan-jalan yang bengkok, maka mereka pun sampai kepada “Darussalam”.

Wa Huwa waliyyuHum (“Dan Dialah pelindung mereka.”) Artinya, Allah adalah penjaga, penolong, dan pendukung mereka. Bimaa kaanuu ya’maluun (“Disebabkan amal-amal saleh yang selalu mereka kerjakan.”) Yakni, sebagai balasan atas amal saleh mereka, Allah melindungi dan memberikan kepada mereka pahala Surga karena kemurahan dan karunia-Nya.

&