Tag Archives: 130

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-An’am ayat 130

19 Des

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-An’am (Binatang Ternak)
Surah Makkiyyah; surah ke 6: 165 ayat

tulisan arab alquran surat al an'am ayat 130“Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu Rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayat-Ku dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini? Mereka berkata: ‘Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri,’ kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir.” (QS. al-An’aam: 130)

Ini pun termasuk peringatan keras dari Allah Ta’ala kepada orang-orang kafir dari kalangan bangsa jin dan manusia pada hari Kiamat kelak, yaitu Dia bertanya kepada mereka, padahal Dia lebih mengetahui, apakah para Rasul telah menyampaikan kepada mereka risalah-Nya. Dan inilah pertanyaan yang sifatnya memastikan:

Yaa ma’syaral jinni wal insi alam ya’tikum rusulum minkum (“Wahai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu Rasul-Rasul dari golongan kamu sendiri.”) Yaitu, Rasul-Rasul dari golongan kalian sendiri, sedangkan para Rasul itu berasal dari golongan manusia saja, dan tidak ada Rasul dari golongan jin, sebagaimana hal itu telah dinashkan oleh Mujahid, Ibnu Juraij, serta beberapa imam salaf maupun khalaf.

Ibnu `Abbas berkata, “Para Rasul itu berasal dari kalangan anak cucu Adam (manusia), sedang dari kalangan jin adalah sedikit sekali.”
Ibnu Jarir menceritakan dart adh-Dhahhak bin Muzahim, dia berpendapat bahwa dari golongan jin itu terdapat Rasul, dia menggunakan ayat di atas sebagai dalil. Dan pendapat tersebut perlu ditinjau.

Dalil yang menunjukkan bahwa para Rasul itu berasal dari golongan manusia adalah firman Allah yang artinya berikut ini:

“Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nub dan Nabi-Nabi setelahnya, dan kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun, dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Dawud Dan (Kami telah mengutus) Rasul-Rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka itu kepadamu dahulu, dan Rasul-Rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa secara langsung. (Mereka Kami utus) selaku Rasul-Rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya Rasul-Rasul itu. Dan adalah Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS.
An-Nisaa’: 163-165).

Demikian juga firman-Nya mengenai Ibrahim, yang artinya:
“Dan Kami jadikan kenabian dan al-Kitab pada keturunannya.” (QS. Al-‘Ankabuut: 27).

Dengan demikian, kenabian dan al-Kitab itu setelah Nabi Ibrahim hanya diberikan kepada anak keturunannya. Dan tidak ada seorang pun yang mengatakan bahwa sebelum Ibrahim, kenabian itu diberikan kepada bangsa jin dan berakhir dengan diangkatnya Ibrahim sebagai Rasul.

Allah Ta’ala sendiri telah berfirman yang artinya: “Dan Kami tidak mengutus Rasul-Rasul sebelummu melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan dipasar-pasar.” (QS. Al-Furqaan: 20).

Allah juga berfirman yang artinya: “Kami tidak mengutus sebelum kamu melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya di antara penduduk negeri.” (QS. Yusuf: 109).

Sebagaimana diketahui bahwa hal ini jin itu mengikuti manusia. Oleh karena itu untuk memberitahukan mengenai mereka, Allah berfirman yang artinya:

“Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan al-Qur’an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata, ‘Diamlah kamu (untuk mendengarkannya).’ Ketika pembacaan telah selesai, mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata, ‘Wahai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (al-Qur’an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Wahai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan melepaskanmu dari adzab yang pedih. Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah, maka dia tidak akan melepaskan diri dari adzab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.’” (QS. Al-Ahqaaf: 29-32).

Dalam hadits yang diriwayatkan at-Tirmidzi dan perawi lainnya disebutkan, bahwa Rasulullah membacakan kepada mereka (para Sahabat) surat ar-Rahman yang di dalamnya terdapat firman-Nya [yang artinya]: “Kami akan memperhatikan sepenuhnya kepadamu, wahai manusia dan jin. Maka nikmat Rabbmu yang manakah yang kamu dustakan?” (ar-Rahmaan: 31-32). Berkenaan dengan ayat ini Allah berfirman:

Yaa ma’syaral jinni wal insi alam ya’tikum rusulum minkum yaqushshuuna ‘alaikum aayaatii wa yundziruunakum liqaa-a yaumikum Haadzaa qaaluu syaHidnaa ‘alaa anfusinaa (“Wahai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu Rasul-Rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayat-Ku dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini? Mereka berkata, ‘Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri.”)

Maksudnya, kami mengakui bahwa para Rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah-Mu kepada kami, serta memperingatkan kami, akan pertemuan dengan-Mu. Dan hari pertemuan itu benar-benar terjadi.

Sedangkan firman-Nya: wa gharratHumul hayaatud dun-yaa (“Kehidupan dunia telah menipu mereka.”) Yaitu, mereka telah lengah dan lalai dalam kehidupan mereka di dunia, dan mereka binasa karena pendustaan mereka terhadap para Rasul, serta penolakan mereka terhadap mukjizat karena mereka tertipu oleh keindahan dan perhiasan kehidupan dunia.

Wa syaHiduu ‘alaa anfusiHim (“Dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri.”) Yakni, pada hari Kiamat kelak; annaHum kaanuu kaafiriin (“Bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir.”) Yaitu kufur di dunia terhadap apa yang dibawa oleh para Rasul, semoga shalawat dan salam Allah atas para Rasul-Nya.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 130-132

31 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 130-132“Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, kecuali orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang yang shaleh. (QS. Al-Baqarah: 130) Ketika Rabb-nya berfirman kepadanya: ‘Tunduk patuhlah!’ Ibrahim menjawab: ‘Aku tunduk patuh kepada Rabb semesta alam.’ (QS. Al-Baqarah: 131) Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’kub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.” (QS. Al-Baqarah:132)

Allah swt. berfirman sebagai bantahan terhadap orang-orang kafir atas berbagai bid’ah yang mereka ada-adakan berupa syirik kepada-Nya, yang bertentangan dengan agama Ibrahim, khalilullah (kekasih Allah), dan imam orang-orang yang hanif (lurus). Ia telah memurnikan tauhid kepada Rabb-nya, Allah. Maka ia tidak pernah menyeru Ilah selain Dia, tidak pula ia menyekutukan-Nya meski hanya sekejap mata, serta ia berlepas diri dari setiap sesembahan selain diri-Nya. Namun sikap Ibrahim ditentang oleh kaumnya, bahkan hingga ia pun berlepas diri dari ayahnya sendiri. Ibrahim berkata:

“Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku mengahadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mempersekutukan Rabb.” (QS. Al-An’aam: 78-79)

Oleh karena itu, Allah berfirman: wa may yarghabu ‘am milati ibraaHiima illa man safiHa nafsaHu (“Dan tak ada yang benci kepada agama Ibrahim melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri.”) Artinya, menzhalimi dirinya sendiri dengan kebodohannya itu dan buruknya perhatian mereka dengan meninggalkan kebenaran dan memilih kesesatan. Mereka menyalahi jalan orang yang sudah dipilih Allah swt. di dunia untuk memberi petunjuk dan bimbingan dari sejak masa mudanya hingga ia (Ibrahim) dijadikan Allah sebagai khalil (kekasih)-Nya. Dan di akhirat kelak, ia termasuk orang-orang yang shalih dan bahagia.

Maka orang yang meninggalkan jalan dan agamanya lalu mengikuti jalan kesesatan, maka adakah kebodohan yang lebih parah darinya? Atau adakah kezhaliman yang lebih berat darinya? Sebagaimana firman Allah Ta’ala: innasy syirka ladhulmun ‘adhiim (“Sesungguhnya kemusyrikan [menyekutukan Allah] itu benar-benar merupakan kezhaliman yang sangat besar.” (QS. Luqman: 13)

Abul ‘Aliyah dan Qatadah mengatakan: “Ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang Yahudi yang membuat cara baru yang bukan dari sisi Allah serta menyalahi agama Ibrahim.” Yang mendukung kebenaran tafsiran ini adalah firman Allah Ta’ala yang artinya: “Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi ia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik. Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim adalab orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad). Dan Allah adalah pelindung seluruh orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imraan: 67-68)

Firman-Nya: idz qaala laHuu rabbuHuu aslimu qaala aslamtu lirabbil ‘aalamiin (“Ketika Rabb-nya berfirman kepadanya: ‘Tunduk patuhlah!’ Ibrahim menjawab: ‘Aku tunduk patuh kepada Rabb semesta alam.’” Maksudnya, Allah Ta’ala menyuruhnya untuk ikhlas, tunduk, dan patuh kepada-Nya. Maka Ibrahim pun memenuhi perintah itu sesuai dengan syari’at dan ketetapan-Nya.

Sedang firman-Nya selanjutnya: wa wasshaa biHaa ibraaHiimu baniiHi wa ya’quubu (“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub”) artinya, Ibrahim telah mewasiatkan agama ini, yakni Islam. Atau dlamir [kata ganti] itu kembali pada kalimat yang tersebut dalam firman-Nya: qaala aslamtu lirabbil ‘aalamiin (“Aku tunduk patuh kepada Rabb semesta alam.”) karena kesungguhan mereka memeluk Islam dan kecintaan mereka kepadanya, mereka benar-benar memeliharanya sampai wafatnya. Dan mereka pun mewasiatkannya kepada anak cucu mereka yang lahir setelah itu. Sebagaimana firman Allah: wa ja’alaHaa kalimatam baqiyyatan fii ‘aqibiHii (“Dan Ibrahim menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya.”)(QS az-Zukhruf: 28)

Ibrahim berkata: Yaa baniyya innallaaHash tafaa lakumud diina walaa tamuutunna illaa wa antum muslimuun (“Hai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan memeluk agama Islam.”) Artinya, berbuat baiklah kalian ketika menjalani kehidupan ini, dan berpegang teguhlah pada agama ini, niscaya Allah Ta’ala akan menganugerahkan kematian kepada kalian dalam keadaan itu (dalam Islam), karena seringkali seseorang meninggal dunia dalam agama yang diyakininya dan dibangkitkan dalam agama yang dianutnya hingga meninggal. Dan Allah telah menggariskan sunnah-Nya, bahwa siapa yang menghendaki kebaikan akan diberi taufik dan dimudahkan baginya oleh Allah, dan siapa berniat kepada kebaikan, maka akan diteguhkan pada-Nya.

Yang demikian itu tidak bertentangan dengan apa yang diterangkan dalam hadits shahih, di mana Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya seseorang itu benar-benar mengerjakan amalan penghuni surga, hingga jarak antara dirinya dengan surga tinggal satu depa atau satu hasta, tetapi ia didahului oleh kitab (yang berada di Lauhul Mahfud: catatan takdir), maka ia pun mengerjakan amalan penghuni neraka, sehingga ia pun masuk neraka. Dan sesungguhnya seseorang itu benar-benar mengerjakan amalan penghuni neraka hingga antara dirinya dengan neraka tinggal satu depa atau satu hasta, tetapi ia didahului oleh kitab. Maka ia pun mengerjakan amalan penghuni surga hingga ia pun masuk surga.” (Muttafaq ‘alaih)

Karenanya dalam beberapa riwayat lain, hadits tersebut berbunyi sebagai berikut: “Seseorang mengerjakan satu amalan yang tampak oleh orang lain sebagai amalan penghuni surga, dan ia mengerjakan suatu amalan yang tampak oleh orang lain sebagai amalan penghuni neraka.”

Dan Allah Ta’ala sendiri telah berfirman dalam surat yang lain yang artinya: “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan bagi mereka (jalan) yang sukar.” (QS. Al-Lail: 5-10)

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 130-136

16 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan)
Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat

tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 130-136“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. (QS. 3:130). Dan peliharalah dirimu dari api Neraka, yang disediakan untuk orang-orang kafir. (QS. 3:131). Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat. (QS. 3:132). Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabb-mu dan kepada Surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (QS.3:133). (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS. 3:134). Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari Allah. Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. (QS. 3:135). Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Rabb mereka dan Surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (QS. 3:136)

Melalui firman-Nya di atas, Allah melarang hamba-hamba-Nya yang beriman melakukan riba dan memakannya dengan berlipat ganda. Sebagaimana pada masa Jahiliyyah dulu mereka mengatakan: “Jika hutang sudah jatuh tempo ,maka ada dua kemungkinan; dibayar atau dibungakan. Jika dibayar, maka selesai sudah urusan. Dan jika tidak dibayar, maka ditetapkan tambahan untuk jangka waktu tertentu dan kemudian ditambahkan pada pinjaman pokok.” Demikian seterusnya pada setiap tahunnya. Mungkin jumlah sedikit bisa berlipat ganda menjadi banyak.

Dan Allah memerintahkan hamba hamba Nya untuk bertakwa agarmereka beruntung di dunia dan di akhirat.

Selanjutnya Allah mengancam dan memperingatkan dari api Neraka: wattaqun naaral lataii u-‘iddat lil kaafiriin. Wa athii’ullaaHa war rasuulaHuu la’allakum turhamuun (“Dan peliharalah dirimu dari api Neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir. Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat.”)

Kemudian Allah menganjurkan agar mereka segera berbuat baik dan mendekatkan diri kepada-Nya. Allah berfirman: wa saari’uu ilaa maghfiraatim mir rabbikum wa jannatin ‘ardluHas samaawaatu wal ardlu u-‘iddat lilmuttaqiin (“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabb-mu dan kepada Surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.”) Maksudnya, sebagaimana telah disediakan Neraka bagi orang-orang kafir.

Ada yang mengatakan bahwa firman Allah: jannatin ‘ardluHas samaawaatu wal ardlu (“Surga yang luasnya seluas langit dan bumi.”) dimaksudkan sebagai kabar akan keluasan Surga tersebut. Sebagaimana firman-Nya yang mensifati perlengkapan Surga, “Yang sebelah dalamnya terbuat dari sutera.” (QS. Ar-Rahmaan: 54) Lalu bagaimana dugaan anda mengenai bagian luarnya?

Ada juga yang mengatakan bahwa lebarnya lama dengan panjangnya, karena ia berbentuk kubah yang berada di bawah `Arsy. Dan sesuatu yang berbentuk seperti kubah dan bundar itu mempunyai lebar yang sama dengan panjangnya.

Hal seperti itu telah ditegaskan dalam hadits shahih: “Jika kalian memohon Surga kepada Allah, maka mintalah Surga Firdaus, karena ia adalah Surga yang paling tinggi dan paling tengah. Darinya mengalir sungai-sungai Surga, sedang atapnya adalah ‘Arsy ar-Rahmaan.”

Ayat ini seperti firman-Nya pada surat al-Hadiid: saabiquu ilaa maghfiratim mirrabbikum wa jannatin ‘ardluHaa ka-‘ardlis samaa-i wal ardli (“Berlomba-lombalah kamu untuk [mendapatkan] ampunan dari Rabb-mu dan Surga yang luasnya seluas langit dan bumi.”) (QS. Al-Hadiid: 21).

Dalam Musnad Imam Ahmad telah diriwayatkan bahwa Heraclius pernah mengirimkan surat kepada Nabi, yang isinya: “Engkau telah mengajakku ke Surga yang luasnya seluas langit dan bumi, lalu di mana letak Neraka?” Maka Nabi saw. pun menjawab: “Mahasuci Allah, lalu di mana malam jika siang telah tiba?” Maksudnya ialah, bahwa waktu siang itu jika telah me-nutupi permukaan bumi dari satu sisinya, maka malam berada di sisi yang lain. Demikian juga dengan Surga, yang berada di tempat yang paling tinggi, di atas langit dan di bawah ‘Arsy, dan luasnya seperti yang difirmankan-Nya,”Seluas langit dan bumi.” Sedangkan Neraka berada ditempat yang paling bawah. Dengan demikian, tidak ada pertentangan antara keluasan Surga yang luasnya seluas langit dan bumi dengan keberadaan Neraka. Wallahu a’lam.

Selanjutnya Allah menyebutkan sifat para penghuni Surga. Firman: alladziin ayunfiquuna fis sarraa-i wadl-dlarraa-i (“Yaitu orang-orang yang menafkahkan [harta-nya], baik pada waktu lapang maupun sempit.”) Yakni, pada waktu susah dan senang, dalam keadaan suka maupun terpaksa, sehat maupun sakit dan dalam seluruh keadaan, sebagaimana firman-Nya, alladziina yunfiquuna amwaalaHum bil laili wan naHaari sirraw wa ‘alaa niyyatan (“Orang-orang yang menginfakkan harta-nya pada malam dan siang hari, secara rahasia maupun terang-terangan.”) (QS.Al-Baqarah: 274) Artinya, mereka tidak disibukkan oleh sesuatu pun untuk berbuat taat kepada Allah, berinfak di jalan-Nya dan juga berbuat baik dengan segala macam kebajikan, baik kepada kerabat maupun kepada yang lainnya.

Dan firman-Nya, wal kaadhimiinal ghaidha wal ‘aafiina ‘anin naasi (“Dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan [kesalahan] orang.”) Artinya, jika mereka marah, maka mereka menahannya, yakni menutupinya dan tidak melampiaskannya. Selain itu mereka pun memberikan maaf kepada orang-orang yang berbuat jahat kepadanya.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, Nabi saw. bersabda: “Orang yang kuat itu bukan terletak pada kemampuan berkelahi, tetapi orang yang kuat itu adalah yang dapat mengendalikan diri ketika sedang marah.”

Hadits ini juga diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Malik bin Anas.

Imam Ahmad juga meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Siapakah di antara kalian yang harta pewarisnya lebih ia cintai daripada hartanya sendiri?” Para Sahabat menjawab: “Ya Rasulullah, tidak seorang pun dari kami melainkan hartanya lebih ia cintai daripada harta pewarisnya.” Kemudian beliau bersabda: “Ketahuilah, bahwasanya tidak ada seorang pun dari kalian melainkan harta pewarisnya lebih ia cintai daripada hartanya sendiri. Engkau tidak mendapatkan apa-apa dari hartamu itu melainkan apa yang telah engkau berikan dan pewarismu tidak mendapatkan apa-apa kecuali harta yang engkau tinggalkan.” Dan Rasulullah saw. juga bersabda: “Siapakah orang yang paling kuat di antara kalian?” Mereka menjawab: “Yaitu orang yang tidak seorang pun berani menantangnya berkelahi.” Beliau pun ber-sabda:
“Bukan, tetapi orang kuat adalah yang dapat mengendalikan dirinya ketika sedang marah.”

Ibnu Mas’ud juga meriwayatkan, Rasulullah bersabda: “Tahukah kalian, siapakah ar-raquub (orang yang mandul) itu?” Mereka men-jawab: “Yaitu orang yang tidak mempunyai anak.” Beliau pun bersabda: “Bukan, tetapi ar-raquub adalah orang yang tidak mendapatkan manfaat (hasil apa pun) dari anaknya.”

Al-Bukhari meriwayatkan bagian pertama dari hadits tersebut. Dan awal hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dari al-A’masy.

Imam Ahmad juga meriwayatkan dari Abu Hishbah atau Ibnu AbiHushain, dari seseorang yang menyaksikan Nabi ketika beliau sedang ber-khutbah, beliau bersabda: “Tahukah kalian siapakah sha’luk (orang yang miskin) itu?” Para Sahabat men-jawab: “Yaitu orang yang tidak mempunyai harta kekayaan.” Maka beliau pun bersabda: “Orang yang miskin adalah orang yang mempunyai harta lalu meninggal dunia, sedangkan ia tidak pernah memberikan sesuatu pun dari harta-nya tersebut.”

Imam Ahmad meriwayatkan pula dari salah seorang Sahabat Nabi saw. ia berkata, ada seseorang berkata: “Ya Rasulullah, berikanlah wasiat kepadaku.” Maka beliau bersabda: “Jangan marah.” Orang itu berkata, “Lalu kurenungkan perkataan beliau itu, ternyata (benarlah, bahwa) marah itu menghimpun seluruh macam keburukan.”

Hadits ini hanya diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Bukhari.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Dzarr, ia berkata, ketika ia sedang mengairi air ke suatu kolamnya, lalu datang suatu kaum dan berkata: “Siapa di antara kalian yang berani mendekati Abu Dzarr dan menghitung beberapa rambut kepalanya?” Lalu ada seseorang yang menjawab: “Aku.” Maka orang itu pun mendatangi kolam itu dan memukulnya. Pada saat itu Abu Dzarr sedang berdiri, lalu duduk dan kemudian berbaring. Maka ditanyakan kepada-nya: “Wahai Abu Dzarr, mengapa engkau duduk, kemudian berbaring?” Maka ia menjawab: “Sesungguhnya Rasulullah pernah menyampaikan kepada kami, “Jika salah seorang di antara kalian marah sedang pada saat itu ia dalam keadaan berdiri, maka hendaklah ia duduk. Namun jika tidak hilang juga marahnya maka hendaklah ia berbaring.” (Hadits ini diriwayatkan juga oleh Abu Dawud dari Ahmad bin Hanbal).

Imam Ahmad meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Khalid, telah menceritakan kepada kami Abu Wa-il ash-Shan’ani, ia berkata, kami pernah duduk-duduk di tempat `Urwah bin Muhammad, tiba-tiba seseorang masuk menemuinya dan berkata dengan kata-kata yang membuatnya marah, ketika hendak marah ia berdiri dan kembali kepada kami dalam keadaan sudah berwudhu. Lalu ia berkata: “Ayahku menceritakan kepadaku dari kakekku, `Athiyyah Ibnu Sa’ad as-Sa’di -salah seorang Sahabat Rasululah, ia berkata, Rasulullah pernah bersabda: “Sesungguhnya marah itu dari syaitan dan sesungguhnya syaitan itu dicipta-kan dari api, dan api itu hanya dapat dipadamkan dengan air. Karenanya, jika salah seorang di antara kalian marah, maka hendaklah ia berwudhu.” Demikian pula niwayat Abu Dawud.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang menangguhkan penagihan terhadap orang yang dalam kesulitan atau bahkan membebaskannya, maka Allah akan melindunginya dari golakan api Neraka Jahannam. Ketahuilah bahwa amalan menuju Surga itu berat dan penuh rintangan.” -Beliau mengulangi ungkapan ini hingga tigakali.- “Dan ketahuilah bahwa amalan menuju Neraka itu ringan dan penuh kemudahan. Orang yang berbahagia adalah yang dipelihara dari fitnah-fitnah. Dan tiada suatu tegukan yang lebih dicintai Allah daripada tegukan amarah yang ditahan seorang hamba karena Allah. Tiada seorang hamba yang menahan amarah karena Allah melainkan Allah akan memenuhi hatinya dengan iman.”

Hadits di atas hanya diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan ia isadnya hasan, tidak ada seorang pun yang tercela serta matannya pun hasan.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Said bin Mu’adz bin Arias, dari ayahnya, bahwa Rasulullah pernah bersabda: “Barangsiapa menahan amarah padahal ia mampu untuk menumpahkannya, maka Allah akan memanggilnya di hadapan para pemimpin makhluk, lalu Allah memberinya kebebasan untuk memilih bidadari mana yang ia sukai.”

HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah. At-Tirmidzi berkata: “Haditsini hasan gharib.”

Firman-Nya, wal kaadhimiinal ghaidha (“Dan orang-orang yang menahan amarahnya.”) Artinya mereka tidak melampiaskan kemarahannya kepada orang lain, tetapi sebaliknya, mereka menahannya dengan mengharap pahala di sisi Allah. Kemudian firman-Nya, wal ‘aafiina ‘anin naasi (“Serta memaafkan [kesalahan] orang.”) Artinya, di samping menahan amarah, mereka memberi maaf kepada orang-orang yang telah menzhalimi mereka, sehingga tidak ada sedikit pun niat dalam diri mereka untuk balas dendam kepada seseorang. Keadaan itu adalah keadaan yang paling sempurna.

Oleh karena itu Allah berfirman, wallaaHu yuhibbul muhsiniin (“Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”) Ini merupakan salah satu maqam (tingkatan) ihsan. Dalam kitab al-Mustadrak, al-Hakim meriwayatkan dari `Ubadah bin ash-Shamit dari Ubay bin Ka’ab, bahwa Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang ingin dimuliakan tempat tinggalnya dan ditinggikan derajatnya, maka hendaklah ia memberi maaf kepada orang yang telah menzhalimi-nya, memberi orang yang tidak mau memberi kepadanya dan menyambung tali silaturahmi kepada orang yang memutuskannya.”

Al-Hakim berkata, hadits ini shahih sesuai dengan syarat al-Bukhari dan Muslim, tetapi keduanya tidak mengeluarkannya. Hadits senada juga di-riwayatkan oleh Ibnu Mardawaih.

Dan firman-Nya, wal ladziina idzaa fa’aluu faahisyatan au dhalamuu anfusaHum dzakarullaaHa fastaghfaruu lidzunuubiHim (“Dan juga orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu mereka memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka.”) Maksudnya, jika berbuat dosa, maka segera bertaubat dan memohon ampunan.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah. bahwa Nabi saw. bersabda: “Sesungguhnya ada seseorang berbuat dosa lalu ia berkata: `Ya Rabb-ku, aku telah melakukan perbuatan dosa, maka ampunilah dosaku itu.’ Maka Allah swt. berfirman: `Hamba-Ku telah berbuat dosa, dan ia mengetahui bahwa ia mempunyai Rabb yang dapat mengampuni dosa dan memberikan hukuman karenanya. Sungguh Aku telah berikan ampunan kepada hamba-Ku itu.’ Kemudian orang itu berbuat dosa lagi, maka ia berkata: `Ya Rabb-ku, aku telah melakukan suatu dosa, maka ampunilah dosaku itu.’ Maka Allah swt. berfirman: `Hamba-Ku mengetahui bahwa ia mempunyai Rabb yang dapat mengampuni dosa dan memberikan hukuman karenanya. Sungguh Aku telah berikan ampunan kepada hamba-Ku itu.’ Setelah itu ia berbuat dosa lagi, lalu ia berkata: `Ya Rabb-ku, aku telah melakukan suatu dosa, maka ampunilah dosaku itu.’

Maka Allah swt. berfirman: `Hamba-Ku mengetahui bahwa ia mempunyai Rabb yang dapat mengampuni dosa dan memberi hukuman karenanya. Sungguh Aku telah berikan ampunan kepada hamba-Ku itu’. Kemudian orang itu ber-buat dosa lagi, maka ia berkata: `Ya Rabbku, aku telah melakukan suatu dosa, maka ampunilah dosaku itu.’ Maka Allah berfirman: `Hambaku mengetahui bahwa ia mempunyai Rabb yang dapat mengampuni dosa dan memberikan hukuman karenanya. Aku persaksikan kepada kalian bahwa Aku telah mengampuni hamba-Ku, maka ia pun boleh berbuat sesukanya (menurut ketentuan syariat).’” (Diriwayatkan pula oleh al-Bukhari dan Muslim dalam kitab shahih mereka).

Imam Ahmad meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Abun-Nadhr dan Abu `Amir, mereka berdua berkata, telah menceritakan kepada kami Zuhair, telah menceritakan kepada kami Sa’ad at-Tha-i, telah menceritakan kepada kami Abul Madlah maula Ummul Mukminin, ia pernah mendengar Abu Hurairah ra. berkata; Kami berkata: “Ya Rasulullah, jika kami melihatmu, maka hati kami menjadi lembut, dan seolah-olah kami telah termasuk ke dalam kelompok orang-orang yang hidup untuk akhirat. Tetapi jika kami berpisah darimu, maka kami diragukan oleh dunia, kami pun menciumi isteri-isteri dan anak-anak kami.” Maka beliau bersabda: “Seandainya kalian pada setiap saat seperti pada saat kalian berada di sisiku, niscaya para Malaikat akan menyalami kalian dengan telapak tangan mereka dan mengunjungi kalian di rumah-rumah kalian. Dan seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan mendatangkan suatu kaum yang berbuat dosa untuk diberikan ampunan.” Kami tanyakan lagi: “Ya Rasulullah, ceritakan kepada kami mengenai Surga, bagaimanakah bangunannya?” Beliau menjawab: “Batu-batanya terbuat dari emas dan perak, cat pewarnanya terbuat dari minyak kesturi yang sangat harum, kerikil-kerikilnya berasal dari mutiara dan permata hijau, tanahnya berupa minyak za’faran. Barangsiapa memasukinya, akan merasakan kenikmatan dan tidak akan sengsara, kekal dan tidak akan pernah mati, pakaiannya tidak akan rusak, dan keremajaannya tidak punah. Ada tiga orang yang tidak akan ditolak do’anya, yaitu (do’a) pemimpin yang adil, do’a orang berpuasa sehingga ia berbuka dan do’a orang yang dizhalimi itu dibawa di atas awan dan dibukakan baginya pintu-pintu langit. Maka Allah akan berkata kepadanya: `Demi kemuliaan-Ku, Aku akan benar-benar memberikan pertolongan kepadamu walaupun saat nanti. “‘

Hadits di atas juga diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan Ibnu Majah.

Ketika bertaubat, dianjurkan sekali untuk berwudhu dan shalat dua rakaat. Hal itu didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari `Ali ra. ia berkata: “Jika aku mendengar sebuah hadits dari Rasulullah maka Allah memberi kami manfaat dari hadits itu menurut apa yang dikehendaki-Nya. Dan jika ada orang selain Nabi yang memberitahu kepadaku sebuah hadits, maka aku meminta orang itu bersumpah. Jika ia bersumpah kepadaku, maka aku pun membenarkannya. Abu Bakar pernah memberitahu kepadaku sebuah hadits, sedangkan Abu Bakar adalah orang yang jujur, ia pernah mendengar Rasulullah bersabda: “Tidaklah seseorang berbuat suatu dosa, lalu ia berwudhu dengan membaguskan wudhunya -berkata Mis’ar; lalu ia shalat, dan berkata Sufyan; kemudian ia shalat dua rakaat- setelah itu memohon ampunan kepada Allah, melain-kan Allah akan mengampuninya.”

Demikian pula diriwayatkan oleh `Ali bin al-Madini, al-Humaidi, Abu Bakar bin Abi Syaibah, Ahlus Sunan, Ibnu Hibban di dalam Shahihnya, al-Bazzar dan ad-Daruquthni melalui beberapa sumber dari ‘Utsman bin al-Mughirah. At-Tirmidzi berkata: “Hadits tersebut hasan.”

Pada prinsipnya hadits tersebut hasan, berasal dari riwayat Amirul Mukminin Ali bin Abai Thalib, dari Khalifah Nabi, Abu Bakar ash-Shiddiq ra.

Keshahihan hadits tersebut di atas diperkuat oleh hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dalam shahihnya dari Amirul Mu’minin ‘Umar bin al-Khaththab, dari Nabi saw. beliau bersabda: “Tidaklah salah seorang di antara kalian berwudhu, lalu ia menyempurnakan wudhunya itu, lalu ia berdo’a: `Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak untuk diibadahi melainkan Allah saja, Yang Esa, yang tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya,’ melainkan dibukakan baginya pintu-pintu Surga yang berjumlah delapan, ia dapat masuk dari pintu mana saja yang ia kehendaki.”

Dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan sebuah hadits dari Amirul Mukminin, ‘Utsman bin ‘Affan ra, bahwa ia pernah mengajarkan wudhu Nabi kepada orang-orang lain dan berkata, aku pernah mendengar Nabi bersabda: “Barangsiapa berwudhu seperti wudhuku ini, lalu mengerjakan shalat dua rakaat dengan khusyu’, maka akan diberikan ampunan atas dosa-dosanya yang telah lalu.”

Hadits ini sangat kuat dari riwayat Imam yang empat, Khulafaa-urRaasyidiin, dari Sayyidul awwaliin wal aakhiriin dan Rasuulu Rabbul `aalamiin, sesuai dengan apa yang ditunjukkan oleh al-Qur’an, bahwa memohon ampunan atas suatu dosa adalah bermanfaat bagi orang yang telah berbuat maksiat.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Sa’id, dari Nabi, ia bersabda: “Iblis berkata: `Ya Rabb-ku, demi kemuliaan-Mu, aku akan terus menggoda anak cucu Adam selama ruh mereka masih berada di tubuh mereka.’ Allah pun menjawab: `Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku tetap akan memberi ampunan kepada mereka selama mereka memohon ampunan kepada-Ku.’”

Dan firman-Nya, wa may yaghfirudz-dzunuuba illallaaHa (“Dan siapa lagi yang dapat me-ngampuni dosa selain dari Allah?”) Artinya, tidak ada yang dapat mengampuni dosa kecuali hanya Allah.

Sebagaimana Imam Ahmad meriwayatkan dari al-Aswad bin Sari’ bahwasanya Nabi pernah datang dengan membawa seorang tawanan, lalu tawanan itu berdo’a: “Ya Allah, aku bertaubat (hanya) kepada-Mu (saja) dan tidak bertaubat kepada Muhammad.” Maka Nabi bersabda: “Ia mengetahui hak itu bagi pemiliknya.”

Firman-Nya, wa lam yushirruu ‘alaa maa fa’aluu wa Hum ya’lamuun (“Dan mereka tidak me-neruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.”) Artinya, mereka bertaubat atas dosa-dosa yang pernah mereka lakukan, segera kembali kepada Allah dan tidak terus menerus berbuat maksiat. Jika mereka mengulanginya (berbuat dosa), maka mereka segera bertaubat darinya. Wallahu a’lam.

Firman-Nya, wa Hum ya’lamuun (“Sedang mereka mengetahui.”) Mujahid dan Abdullah bin `Ubaid bin `Umair berkata: “Mereka mengetahui bahwa siapa yang bertaubat kepada Allah, niscaya Allah akan menerima taubatnya.” Ayat ini seperti firman-Nya: alam ya’lamuu annallaaHa Huwa yaqbalut taubata ‘an ‘ibaadiHi (“Apakah merek tidak mengetahui bahwa Allah akan menerima taubat dari hamba-hamba-Nya.” (QS. At-Taubah: 104). Dan juga firman-Nya yang artinya: “Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan atau menganiaya dirinya sendiri, kemudian ia memohon ampunan kepada Allah, niscaya ia mendapatkan Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.” (QS. An-Nisaa’: 110).

Dan ayat-ayat lain yang senada denganayat di atas banyak sekali.

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr, dari Nabi saw., ketika sedang berada di atas mimbar, beliau bersabda: “Berikanlah kasih sayang, niscaya kalian akan dikasihi dan berikanlah ampunan, niscaya kalian akan diberikan ampunan. Celakalah bagi orang-orang yang mendengar perkataan, tetapi tidak mengamalkan dan celaka pula bagi orang-orang yang terus-menerus berbuat dosa yang mereka kerjakan, sedang mereka mengetahui (larangan berbuat dosa itu).” Hadits ini hanya diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Setelah menyebutkan sifat-sifat mereka, Allah Ta’ ala berfirman, ulaa-ika jazaa-uHum maghfiratum mir rabbiHim (“Mereka itu balasannya adalah ampunan dari Rabb mereka.”) Maksudnya, pahala bagi mereka atas sifat-sifat yang mereka miliki di atas adalah: maghfiratum mir rabbiHim wa jannaatun tajrii min tahtiHal anHaaru (“Ampunan dari Rabb mereka dan Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai,”) yakni, dari berbagai macam minuman. Khaalidiina fiiHaa (“Mereka kekal di dalamnya.”) Artinya, mereka tinggal di sana selamanya; wa ni’ma ajrul ‘aamiliin (“Dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.”) Ini adalah pujian Allah tentang Surga.

&