Tag Archives: 136

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nisaa’ ayat 136

12 Nov

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nisaa’ ayat 136
Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nisaa’ (Wanita)
Surah Madaniyyah; surah ke 4: 176 ayat

tulisan arab alquran surat an nisaa' ayat 136

“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barang siapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (An-Nisaa’ ayat 136)

Allah Swt. memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman untuk mengamalkan semua syariat iman dan cabang-cabangnya, rukun-rukunnya serta semua penyanggahnya. Tetapi hal ini bukan termasuk ke dalam pengertian perintah yang menganjurkan untuk merealisasikan hal tersebut, melainkan termasuk ke dalam Bab “Menyempurnakan Hal yang Telah Sempurna, Mengukuhkannya, dan Melestarikannya”.

Perihalnya sama dengan apa yang diucapkan oleh seorang mukmin dalam setiap salatnya, yaitu bacaan firman-Nya:

اهْدِنَا الصِّراطَ الْمُسْتَقِيمَ

Tunjukilah kami ke jalan yang lurus. (Al-Fatihah: 6)

Dengan kata lain, terangilah kami ke jalan yang lurus, dan tambahkanlah kepada kami hidayah serta mantapkanlah kami di jalan yang lurus. Allah Swt. memerintahkan kepada mereka untuk beriman kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya, seperti pengertian yang terkandung di dalam ayat lain, yaitu firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya. (Al-Hadid: 28)

*******

Adapun firman Allah Swt.:

{وَالْكِتَابِ الَّذِي نزلَ عَلَى رَسُولِهِ}

dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya. (An-Nisa: 136)

Yakni Al-Qur’an.

{وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنزلَ مِنْ قَبْلُ}

serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. (An-Nisa: 136)

Makna yang dimaksud ialah semua jenis kitab yang terdahulu. Sedangkan mengenai kitab Al-Qur’an, hal ini diungkapkan dengan memakai lafaz nazzala, karena Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur lagi terpisah-pisah disesuaikan dengan kejadian-kejadiannya menurut apa yang diperlukan oleh semua hamba dalam kehidupan di dunia dan kehidupan akhirat mereka. Adapun kitab-kitab terdahulu, maka semuanya diturunkan sekaligus. Karena itulah dalam ayat ini disebutkan:

{وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنزلَ مِنْ قَبْلُ}

serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. (An-Nisa: 136)

Kemudian Allah Swt. berfirman:

{وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالا بَعِيدًا}

Barang siapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya. (An-Nisa: 136)

Dia telah keluar dari jalan hidayah dan jauh dari jalan yang benar dengan kejauhan yang sangat.

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-An’am ayat 136

19 Des

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-An’am (Binatang Ternak)
Surah Makkiyyah; surah ke 6: 165 ayat

tulisan arab alquran surat al an'am ayat 136“Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka: ‘Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami.’ Maka sajian-sajian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah; dan sajian-sajian yang diperuntukan bagi Allah, maka sajian itu sampai kepada berhala-berhala mereka. Amat buruklah ketetapan mereka itu.” (QS. al-An’aam: 136)

Hal itu merupakan celaan dan penghinaan dari Allah bagi orang-orang musyrik yang telah berbuat bid’ah, kufur, dan syirik. Mereka telah menjadikan satu bagian dari ciptaan-Nya untuk dipersembahkan kepada Allah, padahal Allah adalah Pencipta segala sesuatu. Oleh karena itu Allah berfirman: wa ja’ala lillaaHi mimmaa dzara-a (“Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bagian.”) yaitu dari apa yang telah diciptakan-Nya. Minal hartsi (“dari tanaman”) yaitu hasil sawah dan buah-buahan. Wal an’aami nashiiban (“dan ternak”) yaitu bagian darinya.
Wa qaaluu Haadzaa lillaaHi biza’miHim wa Haadzaa lisyurakaa-inaa (“Lalu mereka berkata sesuai prasangkaan mereka, ‘Ini urituk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami.’”)

Firman-Nya: fa maa kaana lisyurakaa-iHim falaa yashilu ilallaaHi wa maa kaanallaaHi faHuwa yashilu ilaa syurakaa-iHim (“Maka saji-sajian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah. Dan sajian yang diperuntukkan bagi Allah, maka sajian itu sampai kepada berhala-berhala mereka.”)

‘Ali bin Abi Thalhah dan al-‘Aufi mengatakan dari Ibnu `Abbas, bahwa ia berkata dalam tafsir ayat ini, “Sesungguhnya musuh-musuh Allah itu, jika mereka menanam tanaman atau mempunyai buah-buahan, maka mereka mengambil sebagian darinya untuk dipersembahkan kepada Allah dan sebagian lagi untuk berhala-berhala. Bagian dari tanaman, buah-buahan maka mereka mengambil sebagian darinya untuk dipersembahkan kepada Allah dan sebagian lagi untuk berhala-berhala. Bagian dari tanaman, buah-buahan, atau yang lainnya yang diperuntukkan bagi berhala senantiasa mereka jaga dan perhatikan. Jika dari bagian yang diperuntukkan bagi Allah ada yang jatuh, maka mereka akan mengembalikannya ke bagian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala.

Jika jatah air untuk berhala datang lebih dahulu, lalu air itu menyirami sesuatu bagian yang diperuntukkan bagi Allah, maka bagian tersebut mereka persembahkan untuk berhala. Jika ada sesuatu dari tanaman dan buah yang mereka peruntukkan bagi Allah jatuh, lalu bercampur dengan bagian yang diperuntukkan bagi berhala, maka mereka mengatakan, “Berhala ini miskin,” dan mereka tidak mengembalikannya ke bagian yang mereka peruntukkan bagi Allah. Dan jika jatah air untuk Allah datang lebih dahulu, maka mereka akan menggunakan bagian yang mereka peruntukkan bagi Allah untuk berhala. Dan mereka mengharamkan harta kekayaan yang mereka miliki, berupa unta bahiirah, saa-ibah, washiilah, dan ham [lihat al-Maa-idah: 103]. Karena mereka telah memperuntukkan semuanya itu untuk berhala-berhala mereka. Dan mereka menganggap tindakan mengharamkan harta kekayaan itu sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.

Maka Allah berfirman: wa ja’aluu lillaaHi mimmaa dzara-a minal hartsi wal an’aami nashiiban (“Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah.”)

Demikian juga yang dikatakan oleh Mujahid, Qatadah, as-Suddi, dan beberapa ulama lainnya.

Mengenai ayat ini, `Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata: “Segala sesuatu dari binatang sembelihan yang dipersembahkan untuk Allah lama sekali tidak mereka makan sehingga mereka menyebut bersamanya nama berhala-berhala. Sedangkan pada bagian yang diperuntukkan berhala mereka tidak menyebut nama Allah.” Setelah itu ia membacakan ayat di atas sampai pada firman-Nya: saa-a maa yahkumuun (“Amat buruklah ketetapan mereka itu.”) Maksudnya, begitu jelek pembagian mereka itu, sebab mereka telah berbuat kesalahan dalam pembagian secara alas sejak pemula, karena Allah Ta’ala adalah Rabb, Pemilik, dan Pencipta segala sesuatu, maka Allahlah Pemilik kerajaan ini, segala sesuatu adalah milik-Nya dan semua berada dalam kendali, kekuasaan, dan kehendak-Nya, di mana tidak ada Ilah (yang berhak untuk diibadahi) dan tidak pula ada Rabb selain Allah.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 136

31 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 136“Katakanlah (hai orang-orang mukmin): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’kub dan anak cucunya, dan apa yang telah diberikan kepada Musa dan ‘Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Rabb-nya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya “. (QS. Al-Baqarah: 136)

Allah Ta’ala membimbing hamba-hamba-Nya yang beriman untuk senantiasa beriman kepada apa yang diturunkan kepada mereka melalui Rasul-Nya, Muhammad secara rinci, serta apa yang diturunkan kepada para nabi yang terdahulu secara global. Allah Ta’ala telah menyebutkan beberapa nama rasul, menyebutkan secara global nabi-nabi lainnya. Dan hendaklah mereka tidak membeda-bedakan salah satu di antara mereka, bahkan hendaklah mereka beriman kepada seluruh rasul, serta tidak menjadi seperti orang yang difirmankan oleh Allah Ta’ala:

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya dengan mengatakan: ‘Kami beriman kepada yang sebagian dan kami kafir terhadap sebagian (lainnya).’ Serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir). Merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya.” (QS. An-Nisaa’: 150-151)

Dalam kitab Shahih Bukhari diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. ia mengatakan, para ahlul kitab itu membaca Taurat dengan menggunakan bahasa Ibrani dan menafsirkannya dengan menggunakan bahasa Arab untuk orang-orang yang memeluk Islam, maka Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah kalian membenarkan Ahlul Kitab dan jangan pula kalian mendustakan mereka, namun katakanlah, Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan-Nya.” (HR. Al-Bukhari).

Muslim, Abu Daud, dan an-Nasa’i, meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah dalam mengerjakan shalat sunat dua rakaat sebelum shalat Subuh, lebih sering membaca (pada rakaat pertama) ayat: aamannaa billaaHi wamaa unzila ilainaa (“Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami.”)(al-Baqarah: 136) dan pada rakaat kedua membaca: aamannaa billaaHi wasy-Had bi-annaa muslimuun (“Kami beriman kepada Allah dan saksikanlah sesungguhnya kami adalab orang-orang yang berserah diri.”) (QS. Ali Imraan: 52).

Al-Khalil bin Ahmad dan juga lainnya mengatakan: “Al-Asbath di kalangan Bani Israil adalah seperti kabilah-kabilah yang ada di tengah mereka.”
Imam al-Bukhari mengatakan, “Al-Asbath adalah kabilah-kabilah Bani Israil.”
Hal itu menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan al-Asbath di sini adalah suku-suku Bani Israil dan wahyu yang diturunkan Allah Ta’ala kepada para nabi yang ada dari kalangan mereka.

Dan Allah berfirman: wa qatha’naa bainaHumuts natai ‘asy-ratan asbaathan (“Dan mereka Kami bagi menjadi dua belas suku.”) (QS. Al-A’raaf: 160).

Al-Qurthubi mengemukakan: Mereka disebut “al asbaathu” diambil dari kata “as sabthu” (berurutan), jadi mereka itu merupakan kelompok. Ada juga yang mengatakan, “al asbaathu” berasal dari kata “as sabthu” yang berarti pohon, artinya mereka itu banyak bagaikan pohon. Bentuk tunggalnya yaitu “sibathatun”

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 130-136

16 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan)
Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat

tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 130-136“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. (QS. 3:130). Dan peliharalah dirimu dari api Neraka, yang disediakan untuk orang-orang kafir. (QS. 3:131). Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat. (QS. 3:132). Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabb-mu dan kepada Surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (QS.3:133). (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS. 3:134). Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari Allah. Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. (QS. 3:135). Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Rabb mereka dan Surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (QS. 3:136)

Melalui firman-Nya di atas, Allah melarang hamba-hamba-Nya yang beriman melakukan riba dan memakannya dengan berlipat ganda. Sebagaimana pada masa Jahiliyyah dulu mereka mengatakan: “Jika hutang sudah jatuh tempo ,maka ada dua kemungkinan; dibayar atau dibungakan. Jika dibayar, maka selesai sudah urusan. Dan jika tidak dibayar, maka ditetapkan tambahan untuk jangka waktu tertentu dan kemudian ditambahkan pada pinjaman pokok.” Demikian seterusnya pada setiap tahunnya. Mungkin jumlah sedikit bisa berlipat ganda menjadi banyak.

Dan Allah memerintahkan hamba hamba Nya untuk bertakwa agarmereka beruntung di dunia dan di akhirat.

Selanjutnya Allah mengancam dan memperingatkan dari api Neraka: wattaqun naaral lataii u-‘iddat lil kaafiriin. Wa athii’ullaaHa war rasuulaHuu la’allakum turhamuun (“Dan peliharalah dirimu dari api Neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir. Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat.”)

Kemudian Allah menganjurkan agar mereka segera berbuat baik dan mendekatkan diri kepada-Nya. Allah berfirman: wa saari’uu ilaa maghfiraatim mir rabbikum wa jannatin ‘ardluHas samaawaatu wal ardlu u-‘iddat lilmuttaqiin (“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabb-mu dan kepada Surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.”) Maksudnya, sebagaimana telah disediakan Neraka bagi orang-orang kafir.

Ada yang mengatakan bahwa firman Allah: jannatin ‘ardluHas samaawaatu wal ardlu (“Surga yang luasnya seluas langit dan bumi.”) dimaksudkan sebagai kabar akan keluasan Surga tersebut. Sebagaimana firman-Nya yang mensifati perlengkapan Surga, “Yang sebelah dalamnya terbuat dari sutera.” (QS. Ar-Rahmaan: 54) Lalu bagaimana dugaan anda mengenai bagian luarnya?

Ada juga yang mengatakan bahwa lebarnya lama dengan panjangnya, karena ia berbentuk kubah yang berada di bawah `Arsy. Dan sesuatu yang berbentuk seperti kubah dan bundar itu mempunyai lebar yang sama dengan panjangnya.

Hal seperti itu telah ditegaskan dalam hadits shahih: “Jika kalian memohon Surga kepada Allah, maka mintalah Surga Firdaus, karena ia adalah Surga yang paling tinggi dan paling tengah. Darinya mengalir sungai-sungai Surga, sedang atapnya adalah ‘Arsy ar-Rahmaan.”

Ayat ini seperti firman-Nya pada surat al-Hadiid: saabiquu ilaa maghfiratim mirrabbikum wa jannatin ‘ardluHaa ka-‘ardlis samaa-i wal ardli (“Berlomba-lombalah kamu untuk [mendapatkan] ampunan dari Rabb-mu dan Surga yang luasnya seluas langit dan bumi.”) (QS. Al-Hadiid: 21).

Dalam Musnad Imam Ahmad telah diriwayatkan bahwa Heraclius pernah mengirimkan surat kepada Nabi, yang isinya: “Engkau telah mengajakku ke Surga yang luasnya seluas langit dan bumi, lalu di mana letak Neraka?” Maka Nabi saw. pun menjawab: “Mahasuci Allah, lalu di mana malam jika siang telah tiba?” Maksudnya ialah, bahwa waktu siang itu jika telah me-nutupi permukaan bumi dari satu sisinya, maka malam berada di sisi yang lain. Demikian juga dengan Surga, yang berada di tempat yang paling tinggi, di atas langit dan di bawah ‘Arsy, dan luasnya seperti yang difirmankan-Nya,”Seluas langit dan bumi.” Sedangkan Neraka berada ditempat yang paling bawah. Dengan demikian, tidak ada pertentangan antara keluasan Surga yang luasnya seluas langit dan bumi dengan keberadaan Neraka. Wallahu a’lam.

Selanjutnya Allah menyebutkan sifat para penghuni Surga. Firman: alladziin ayunfiquuna fis sarraa-i wadl-dlarraa-i (“Yaitu orang-orang yang menafkahkan [harta-nya], baik pada waktu lapang maupun sempit.”) Yakni, pada waktu susah dan senang, dalam keadaan suka maupun terpaksa, sehat maupun sakit dan dalam seluruh keadaan, sebagaimana firman-Nya, alladziina yunfiquuna amwaalaHum bil laili wan naHaari sirraw wa ‘alaa niyyatan (“Orang-orang yang menginfakkan harta-nya pada malam dan siang hari, secara rahasia maupun terang-terangan.”) (QS.Al-Baqarah: 274) Artinya, mereka tidak disibukkan oleh sesuatu pun untuk berbuat taat kepada Allah, berinfak di jalan-Nya dan juga berbuat baik dengan segala macam kebajikan, baik kepada kerabat maupun kepada yang lainnya.

Dan firman-Nya, wal kaadhimiinal ghaidha wal ‘aafiina ‘anin naasi (“Dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan [kesalahan] orang.”) Artinya, jika mereka marah, maka mereka menahannya, yakni menutupinya dan tidak melampiaskannya. Selain itu mereka pun memberikan maaf kepada orang-orang yang berbuat jahat kepadanya.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, Nabi saw. bersabda: “Orang yang kuat itu bukan terletak pada kemampuan berkelahi, tetapi orang yang kuat itu adalah yang dapat mengendalikan diri ketika sedang marah.”

Hadits ini juga diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Malik bin Anas.

Imam Ahmad juga meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Siapakah di antara kalian yang harta pewarisnya lebih ia cintai daripada hartanya sendiri?” Para Sahabat menjawab: “Ya Rasulullah, tidak seorang pun dari kami melainkan hartanya lebih ia cintai daripada harta pewarisnya.” Kemudian beliau bersabda: “Ketahuilah, bahwasanya tidak ada seorang pun dari kalian melainkan harta pewarisnya lebih ia cintai daripada hartanya sendiri. Engkau tidak mendapatkan apa-apa dari hartamu itu melainkan apa yang telah engkau berikan dan pewarismu tidak mendapatkan apa-apa kecuali harta yang engkau tinggalkan.” Dan Rasulullah saw. juga bersabda: “Siapakah orang yang paling kuat di antara kalian?” Mereka menjawab: “Yaitu orang yang tidak seorang pun berani menantangnya berkelahi.” Beliau pun ber-sabda:
“Bukan, tetapi orang kuat adalah yang dapat mengendalikan dirinya ketika sedang marah.”

Ibnu Mas’ud juga meriwayatkan, Rasulullah bersabda: “Tahukah kalian, siapakah ar-raquub (orang yang mandul) itu?” Mereka men-jawab: “Yaitu orang yang tidak mempunyai anak.” Beliau pun bersabda: “Bukan, tetapi ar-raquub adalah orang yang tidak mendapatkan manfaat (hasil apa pun) dari anaknya.”

Al-Bukhari meriwayatkan bagian pertama dari hadits tersebut. Dan awal hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dari al-A’masy.

Imam Ahmad juga meriwayatkan dari Abu Hishbah atau Ibnu AbiHushain, dari seseorang yang menyaksikan Nabi ketika beliau sedang ber-khutbah, beliau bersabda: “Tahukah kalian siapakah sha’luk (orang yang miskin) itu?” Para Sahabat men-jawab: “Yaitu orang yang tidak mempunyai harta kekayaan.” Maka beliau pun bersabda: “Orang yang miskin adalah orang yang mempunyai harta lalu meninggal dunia, sedangkan ia tidak pernah memberikan sesuatu pun dari harta-nya tersebut.”

Imam Ahmad meriwayatkan pula dari salah seorang Sahabat Nabi saw. ia berkata, ada seseorang berkata: “Ya Rasulullah, berikanlah wasiat kepadaku.” Maka beliau bersabda: “Jangan marah.” Orang itu berkata, “Lalu kurenungkan perkataan beliau itu, ternyata (benarlah, bahwa) marah itu menghimpun seluruh macam keburukan.”

Hadits ini hanya diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Bukhari.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Dzarr, ia berkata, ketika ia sedang mengairi air ke suatu kolamnya, lalu datang suatu kaum dan berkata: “Siapa di antara kalian yang berani mendekati Abu Dzarr dan menghitung beberapa rambut kepalanya?” Lalu ada seseorang yang menjawab: “Aku.” Maka orang itu pun mendatangi kolam itu dan memukulnya. Pada saat itu Abu Dzarr sedang berdiri, lalu duduk dan kemudian berbaring. Maka ditanyakan kepada-nya: “Wahai Abu Dzarr, mengapa engkau duduk, kemudian berbaring?” Maka ia menjawab: “Sesungguhnya Rasulullah pernah menyampaikan kepada kami, “Jika salah seorang di antara kalian marah sedang pada saat itu ia dalam keadaan berdiri, maka hendaklah ia duduk. Namun jika tidak hilang juga marahnya maka hendaklah ia berbaring.” (Hadits ini diriwayatkan juga oleh Abu Dawud dari Ahmad bin Hanbal).

Imam Ahmad meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Khalid, telah menceritakan kepada kami Abu Wa-il ash-Shan’ani, ia berkata, kami pernah duduk-duduk di tempat `Urwah bin Muhammad, tiba-tiba seseorang masuk menemuinya dan berkata dengan kata-kata yang membuatnya marah, ketika hendak marah ia berdiri dan kembali kepada kami dalam keadaan sudah berwudhu. Lalu ia berkata: “Ayahku menceritakan kepadaku dari kakekku, `Athiyyah Ibnu Sa’ad as-Sa’di -salah seorang Sahabat Rasululah, ia berkata, Rasulullah pernah bersabda: “Sesungguhnya marah itu dari syaitan dan sesungguhnya syaitan itu dicipta-kan dari api, dan api itu hanya dapat dipadamkan dengan air. Karenanya, jika salah seorang di antara kalian marah, maka hendaklah ia berwudhu.” Demikian pula niwayat Abu Dawud.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang menangguhkan penagihan terhadap orang yang dalam kesulitan atau bahkan membebaskannya, maka Allah akan melindunginya dari golakan api Neraka Jahannam. Ketahuilah bahwa amalan menuju Surga itu berat dan penuh rintangan.” -Beliau mengulangi ungkapan ini hingga tigakali.- “Dan ketahuilah bahwa amalan menuju Neraka itu ringan dan penuh kemudahan. Orang yang berbahagia adalah yang dipelihara dari fitnah-fitnah. Dan tiada suatu tegukan yang lebih dicintai Allah daripada tegukan amarah yang ditahan seorang hamba karena Allah. Tiada seorang hamba yang menahan amarah karena Allah melainkan Allah akan memenuhi hatinya dengan iman.”

Hadits di atas hanya diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan ia isadnya hasan, tidak ada seorang pun yang tercela serta matannya pun hasan.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Said bin Mu’adz bin Arias, dari ayahnya, bahwa Rasulullah pernah bersabda: “Barangsiapa menahan amarah padahal ia mampu untuk menumpahkannya, maka Allah akan memanggilnya di hadapan para pemimpin makhluk, lalu Allah memberinya kebebasan untuk memilih bidadari mana yang ia sukai.”

HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah. At-Tirmidzi berkata: “Haditsini hasan gharib.”

Firman-Nya, wal kaadhimiinal ghaidha (“Dan orang-orang yang menahan amarahnya.”) Artinya mereka tidak melampiaskan kemarahannya kepada orang lain, tetapi sebaliknya, mereka menahannya dengan mengharap pahala di sisi Allah. Kemudian firman-Nya, wal ‘aafiina ‘anin naasi (“Serta memaafkan [kesalahan] orang.”) Artinya, di samping menahan amarah, mereka memberi maaf kepada orang-orang yang telah menzhalimi mereka, sehingga tidak ada sedikit pun niat dalam diri mereka untuk balas dendam kepada seseorang. Keadaan itu adalah keadaan yang paling sempurna.

Oleh karena itu Allah berfirman, wallaaHu yuhibbul muhsiniin (“Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”) Ini merupakan salah satu maqam (tingkatan) ihsan. Dalam kitab al-Mustadrak, al-Hakim meriwayatkan dari `Ubadah bin ash-Shamit dari Ubay bin Ka’ab, bahwa Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang ingin dimuliakan tempat tinggalnya dan ditinggikan derajatnya, maka hendaklah ia memberi maaf kepada orang yang telah menzhalimi-nya, memberi orang yang tidak mau memberi kepadanya dan menyambung tali silaturahmi kepada orang yang memutuskannya.”

Al-Hakim berkata, hadits ini shahih sesuai dengan syarat al-Bukhari dan Muslim, tetapi keduanya tidak mengeluarkannya. Hadits senada juga di-riwayatkan oleh Ibnu Mardawaih.

Dan firman-Nya, wal ladziina idzaa fa’aluu faahisyatan au dhalamuu anfusaHum dzakarullaaHa fastaghfaruu lidzunuubiHim (“Dan juga orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu mereka memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka.”) Maksudnya, jika berbuat dosa, maka segera bertaubat dan memohon ampunan.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah. bahwa Nabi saw. bersabda: “Sesungguhnya ada seseorang berbuat dosa lalu ia berkata: `Ya Rabb-ku, aku telah melakukan perbuatan dosa, maka ampunilah dosaku itu.’ Maka Allah swt. berfirman: `Hamba-Ku telah berbuat dosa, dan ia mengetahui bahwa ia mempunyai Rabb yang dapat mengampuni dosa dan memberikan hukuman karenanya. Sungguh Aku telah berikan ampunan kepada hamba-Ku itu.’ Kemudian orang itu berbuat dosa lagi, maka ia berkata: `Ya Rabb-ku, aku telah melakukan suatu dosa, maka ampunilah dosaku itu.’ Maka Allah swt. berfirman: `Hamba-Ku mengetahui bahwa ia mempunyai Rabb yang dapat mengampuni dosa dan memberikan hukuman karenanya. Sungguh Aku telah berikan ampunan kepada hamba-Ku itu.’ Setelah itu ia berbuat dosa lagi, lalu ia berkata: `Ya Rabb-ku, aku telah melakukan suatu dosa, maka ampunilah dosaku itu.’

Maka Allah swt. berfirman: `Hamba-Ku mengetahui bahwa ia mempunyai Rabb yang dapat mengampuni dosa dan memberi hukuman karenanya. Sungguh Aku telah berikan ampunan kepada hamba-Ku itu’. Kemudian orang itu ber-buat dosa lagi, maka ia berkata: `Ya Rabbku, aku telah melakukan suatu dosa, maka ampunilah dosaku itu.’ Maka Allah berfirman: `Hambaku mengetahui bahwa ia mempunyai Rabb yang dapat mengampuni dosa dan memberikan hukuman karenanya. Aku persaksikan kepada kalian bahwa Aku telah mengampuni hamba-Ku, maka ia pun boleh berbuat sesukanya (menurut ketentuan syariat).’” (Diriwayatkan pula oleh al-Bukhari dan Muslim dalam kitab shahih mereka).

Imam Ahmad meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Abun-Nadhr dan Abu `Amir, mereka berdua berkata, telah menceritakan kepada kami Zuhair, telah menceritakan kepada kami Sa’ad at-Tha-i, telah menceritakan kepada kami Abul Madlah maula Ummul Mukminin, ia pernah mendengar Abu Hurairah ra. berkata; Kami berkata: “Ya Rasulullah, jika kami melihatmu, maka hati kami menjadi lembut, dan seolah-olah kami telah termasuk ke dalam kelompok orang-orang yang hidup untuk akhirat. Tetapi jika kami berpisah darimu, maka kami diragukan oleh dunia, kami pun menciumi isteri-isteri dan anak-anak kami.” Maka beliau bersabda: “Seandainya kalian pada setiap saat seperti pada saat kalian berada di sisiku, niscaya para Malaikat akan menyalami kalian dengan telapak tangan mereka dan mengunjungi kalian di rumah-rumah kalian. Dan seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan mendatangkan suatu kaum yang berbuat dosa untuk diberikan ampunan.” Kami tanyakan lagi: “Ya Rasulullah, ceritakan kepada kami mengenai Surga, bagaimanakah bangunannya?” Beliau menjawab: “Batu-batanya terbuat dari emas dan perak, cat pewarnanya terbuat dari minyak kesturi yang sangat harum, kerikil-kerikilnya berasal dari mutiara dan permata hijau, tanahnya berupa minyak za’faran. Barangsiapa memasukinya, akan merasakan kenikmatan dan tidak akan sengsara, kekal dan tidak akan pernah mati, pakaiannya tidak akan rusak, dan keremajaannya tidak punah. Ada tiga orang yang tidak akan ditolak do’anya, yaitu (do’a) pemimpin yang adil, do’a orang berpuasa sehingga ia berbuka dan do’a orang yang dizhalimi itu dibawa di atas awan dan dibukakan baginya pintu-pintu langit. Maka Allah akan berkata kepadanya: `Demi kemuliaan-Ku, Aku akan benar-benar memberikan pertolongan kepadamu walaupun saat nanti. “‘

Hadits di atas juga diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan Ibnu Majah.

Ketika bertaubat, dianjurkan sekali untuk berwudhu dan shalat dua rakaat. Hal itu didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari `Ali ra. ia berkata: “Jika aku mendengar sebuah hadits dari Rasulullah maka Allah memberi kami manfaat dari hadits itu menurut apa yang dikehendaki-Nya. Dan jika ada orang selain Nabi yang memberitahu kepadaku sebuah hadits, maka aku meminta orang itu bersumpah. Jika ia bersumpah kepadaku, maka aku pun membenarkannya. Abu Bakar pernah memberitahu kepadaku sebuah hadits, sedangkan Abu Bakar adalah orang yang jujur, ia pernah mendengar Rasulullah bersabda: “Tidaklah seseorang berbuat suatu dosa, lalu ia berwudhu dengan membaguskan wudhunya -berkata Mis’ar; lalu ia shalat, dan berkata Sufyan; kemudian ia shalat dua rakaat- setelah itu memohon ampunan kepada Allah, melain-kan Allah akan mengampuninya.”

Demikian pula diriwayatkan oleh `Ali bin al-Madini, al-Humaidi, Abu Bakar bin Abi Syaibah, Ahlus Sunan, Ibnu Hibban di dalam Shahihnya, al-Bazzar dan ad-Daruquthni melalui beberapa sumber dari ‘Utsman bin al-Mughirah. At-Tirmidzi berkata: “Hadits tersebut hasan.”

Pada prinsipnya hadits tersebut hasan, berasal dari riwayat Amirul Mukminin Ali bin Abai Thalib, dari Khalifah Nabi, Abu Bakar ash-Shiddiq ra.

Keshahihan hadits tersebut di atas diperkuat oleh hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dalam shahihnya dari Amirul Mu’minin ‘Umar bin al-Khaththab, dari Nabi saw. beliau bersabda: “Tidaklah salah seorang di antara kalian berwudhu, lalu ia menyempurnakan wudhunya itu, lalu ia berdo’a: `Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak untuk diibadahi melainkan Allah saja, Yang Esa, yang tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya,’ melainkan dibukakan baginya pintu-pintu Surga yang berjumlah delapan, ia dapat masuk dari pintu mana saja yang ia kehendaki.”

Dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan sebuah hadits dari Amirul Mukminin, ‘Utsman bin ‘Affan ra, bahwa ia pernah mengajarkan wudhu Nabi kepada orang-orang lain dan berkata, aku pernah mendengar Nabi bersabda: “Barangsiapa berwudhu seperti wudhuku ini, lalu mengerjakan shalat dua rakaat dengan khusyu’, maka akan diberikan ampunan atas dosa-dosanya yang telah lalu.”

Hadits ini sangat kuat dari riwayat Imam yang empat, Khulafaa-urRaasyidiin, dari Sayyidul awwaliin wal aakhiriin dan Rasuulu Rabbul `aalamiin, sesuai dengan apa yang ditunjukkan oleh al-Qur’an, bahwa memohon ampunan atas suatu dosa adalah bermanfaat bagi orang yang telah berbuat maksiat.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Sa’id, dari Nabi, ia bersabda: “Iblis berkata: `Ya Rabb-ku, demi kemuliaan-Mu, aku akan terus menggoda anak cucu Adam selama ruh mereka masih berada di tubuh mereka.’ Allah pun menjawab: `Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku tetap akan memberi ampunan kepada mereka selama mereka memohon ampunan kepada-Ku.’”

Dan firman-Nya, wa may yaghfirudz-dzunuuba illallaaHa (“Dan siapa lagi yang dapat me-ngampuni dosa selain dari Allah?”) Artinya, tidak ada yang dapat mengampuni dosa kecuali hanya Allah.

Sebagaimana Imam Ahmad meriwayatkan dari al-Aswad bin Sari’ bahwasanya Nabi pernah datang dengan membawa seorang tawanan, lalu tawanan itu berdo’a: “Ya Allah, aku bertaubat (hanya) kepada-Mu (saja) dan tidak bertaubat kepada Muhammad.” Maka Nabi bersabda: “Ia mengetahui hak itu bagi pemiliknya.”

Firman-Nya, wa lam yushirruu ‘alaa maa fa’aluu wa Hum ya’lamuun (“Dan mereka tidak me-neruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.”) Artinya, mereka bertaubat atas dosa-dosa yang pernah mereka lakukan, segera kembali kepada Allah dan tidak terus menerus berbuat maksiat. Jika mereka mengulanginya (berbuat dosa), maka mereka segera bertaubat darinya. Wallahu a’lam.

Firman-Nya, wa Hum ya’lamuun (“Sedang mereka mengetahui.”) Mujahid dan Abdullah bin `Ubaid bin `Umair berkata: “Mereka mengetahui bahwa siapa yang bertaubat kepada Allah, niscaya Allah akan menerima taubatnya.” Ayat ini seperti firman-Nya: alam ya’lamuu annallaaHa Huwa yaqbalut taubata ‘an ‘ibaadiHi (“Apakah merek tidak mengetahui bahwa Allah akan menerima taubat dari hamba-hamba-Nya.” (QS. At-Taubah: 104). Dan juga firman-Nya yang artinya: “Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan atau menganiaya dirinya sendiri, kemudian ia memohon ampunan kepada Allah, niscaya ia mendapatkan Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.” (QS. An-Nisaa’: 110).

Dan ayat-ayat lain yang senada denganayat di atas banyak sekali.

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr, dari Nabi saw., ketika sedang berada di atas mimbar, beliau bersabda: “Berikanlah kasih sayang, niscaya kalian akan dikasihi dan berikanlah ampunan, niscaya kalian akan diberikan ampunan. Celakalah bagi orang-orang yang mendengar perkataan, tetapi tidak mengamalkan dan celaka pula bagi orang-orang yang terus-menerus berbuat dosa yang mereka kerjakan, sedang mereka mengetahui (larangan berbuat dosa itu).” Hadits ini hanya diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Setelah menyebutkan sifat-sifat mereka, Allah Ta’ ala berfirman, ulaa-ika jazaa-uHum maghfiratum mir rabbiHim (“Mereka itu balasannya adalah ampunan dari Rabb mereka.”) Maksudnya, pahala bagi mereka atas sifat-sifat yang mereka miliki di atas adalah: maghfiratum mir rabbiHim wa jannaatun tajrii min tahtiHal anHaaru (“Ampunan dari Rabb mereka dan Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai,”) yakni, dari berbagai macam minuman. Khaalidiina fiiHaa (“Mereka kekal di dalamnya.”) Artinya, mereka tinggal di sana selamanya; wa ni’ma ajrul ‘aamiliin (“Dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.”) Ini adalah pujian Allah tentang Surga.

&