Tag Archives: 156

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 156

3 Des

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 156“Allah berfirman: ‘Siksaku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” (QS. al-A’raaf: 156)

Dengan maksud memberikan jawaban bagi firman-Nya yang sebelumnya yaitu: in Hiya illaa fitnatuka (“Itu tidak lain banyalah cobaan dari-Mu,”) Allah berfirman: ‘adzaabii ushiibu biHii man asyaa-u wa rahmatii wasi’at kulla syai-in (“Siksa-Ku akan Ku-timpakan kepada siapa yang Aku kehendaki Ilan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.”) Maksudnya, Aku dapat berbuat apa saja yang Aku kehendaki dan menetapkan apa saja yang Aku inginkan. Dan Aku mempunyai hikmah dan keadilan dalam semuanya itu. Mahasuci Allah, tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi) selain Dia.

Firman Allah: wa rahmatii wasi’at kulla syai-in (“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu,”) merupakan ayat yang sangat agung kandungan dan cakupannya, sebagaimana firman Allah Ta’ala yang memberitahukan tentang para Malaikat pemikul ‘Arsy dan Malaikat-malaikat lain yang berada di sekelilingnya, di mana mereka mengatakan:
“Ya Rabb kami, rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu.” (QS. Al-Mu’min: 7)

Imam Ahmad meriwayatkan dari Salman, dari Nabi saw, beliau bersabda:
“Sesungguhnya Allah mempunyai seratus rahmat, di antaranya satu rahmat yang menyebabkan makhluk saling berkasih sayang, dan dengannya binatang-binatang buas mengasihi anak-anaknya. Dan sembilan puluh Sembilan ditangguhkan sampai hari Kiamat kelak.” (HR. Ahmad, hadits tersebut keluarkan pula oleh Muslim)

Firman Allah selanjutnya: fa sa aktubuHaa lilladziina yattaquun (“Maka akan Aku tetapkan ahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa.”) Yakni, akan Aku pastikan tercapainya rahmat itu dari-Ku sebagai karunia dan kebaikan dari-Ku kepada mereka. Sebagaimana firman-Nya dalam ayat yang lain:
“Rabbmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang [rahmat].” (QS. Al-An’aam: 54)

Firman-Nya: lilladziina yattaquun (“Untuk orang-orang yang bertakwa.”) maksudnya, Aku akan jadikan rahmat itu bagi orang-orang yang menghiasi din dengan sifat-sifat ini, mereka adalah umat Muhammad saw.
Alladziina yattaquun (“Yaitu yang bertakwa,”) yaitu (orang-orang yang) menjaga diri dari kemusyrikan dan dosa-dosa besar.

Firman-Nya: wa yu’tuunaz zakaata (“Yang menunaikan zakat.”) Ada pendapat yang mengatakan, yang dimaksudkan adalah zakaatun nufuus (penyucian diri). Ada juga yang mengatakan zakaatul amwaal. Namun bisa mencakup makna keduanya secara umum. Karena ayat ini adalah Makkiyyah (diturunkan di Makkah);
Wal ladziina Hum bi-aayaatinaa yu’minuun (“Dan orang-orang yang beriman kepada Kami,”) yakni yang membenarkannya.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 155-157

6 Apr

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 155-157“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (QS. Al-Baqarah: 155) (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. (QS. Al-Baqarah: 156) Mereka itulah yang mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 157)

Allah swt. memberitahukan bahwa Dia akan menguji hamba-hamba-Nya. Sebagaimana yang difirmankan-Nya dalam surat lain yang artinya: “Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan mengujimu agar Kami mengetabui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antaramu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu.” (QS. Muhammad: 31)

Terkadang Dia memberikan ujian berupa kebahagiaan dan pada saat yang lain Dia juga memberikan ujian berupa kesusahan, seperti rasa takut dan kelaparan. Firman-Nya: fa adzaaqaHallaaHu libaasal juu’i wal khaufi (“Oleh karena itu, Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan.”)(QS. An-Nahl: 112)

Karena orang yang sedang dalam keadaan lapar dan takut, ujian pada keduanya akan sangat terlihat jelas. Oleh karena itu Dia berfirman, “Pakaian kelaparan dan ketakutan.”

Dalam surat al-Baqarah ini, Allah swt. berfirman: bi syai-im minal minal khaufi wal juu-‘i (“Dengan sedikit ketakutan dan kelaparan.”) wa naqshim minal amwaali (“Dan kekurangan harta.”) Artinya, hilangnya sebagian harta. Wal anfusi (“serta jiwa”) misalnya meninggalnya para sahabat, kerabat, dan orang-orang yang dicintai. Wats-tsamaraaat (“Dan buah-buahan.”) Yaitu kebun dan sawah tidak dapat diolah sebagaimana mestinya. Sebagaimana ulama mengemukakan: “Di antara pohon kurma ada yang tidak berbuah kecuali hanya satu buah saja.”

Semua hal di atas dan yang semisalnya adalah bagian dari ujian Allah Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya. Barangsiapa bersabar, maka Dia akan memberikan pahala baginya, dan barangsiapa berputus asa karenanya maka Dia akan menimpakan siksaan terhadapnya. Oleh karena itu, di sini Allah Ta’ala berfirman: wa basy-syirish shaabiriin (“Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang yang sabar.”)

Setelah itu Allah menjelaskan tentang orang-orang yang sabar yang dipuji-Nya, dengan firman-Nya: alladziina idzaa ashaabatHum mushiibatun qaaluu innaa lillaaHi wa innaa ilaiHi raaji’uun (“Yaitu orang-orang yang apaabila ditimpa musibah mereka mengucapkan: Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’un. [Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan hanya kepada-Nya kami kembali].”)

Artinya, mereka menghibur diri dengan ucapan ini atas apa yang menimpa mereka dan mereka mengetahui bahwa diri mereka adalah milik Allah Ta’ala, la memperlakukan hamba-Nya sesuai dengan kehendak-Nya. Selain itu, mereka juga mengetahui bahwa Dia tidak akan menyia-nyiakan amalan mereka meski hanya sebesar biji sawi pada hari kiamat kelak. Dan hal itu menjadikan mereka mengakui dirinya hanyalah seorang hamba di hadapan-Nya, dan mereka akan kembali kepada-Nya kelak di akhirat. Oleh karena itu, Allah swt. memberitahukan mengenai apa yang diberikan kepada mereka itu, di mana Dia berfirman: ulaa-ika ‘alaiHim shalawaatum mir rabbiHim wa rahmatun (“Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka.”) Artinya, pujian dari Allah Ta’ala atas mereka. Dan menurut Sa’id bin Jubair, “Artinya, keselamatan dari adzab.”

Firman-Nya: ulaa-ika Humul muHtaduun (“Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”) Amirul Mu’minin Umar ra. mengatakan: “Alangkah nikmatnya dua balasan itu, dan betapa menyenangkan [anugerah] tambahan itu.” ulaa-ika ‘alaiHim shalawaatum mir rabbiHim wa rahmatun (“Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka.”) inilah tambahan. Mereka itulah orang-orang yang diberi pahala-pahala dan diberikan pula tambahan.

Mengenai pahala mengucapkan “Innaa lillaaHi wa innaa ilaiHi raaji’uun” ketika tertimpa musibah telah banyak dimuat di banyak hadits. Di antaranya hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Ummu Salamah ia bercerita, pada suatu hari Abu Salamah mendatangiku dari tempat Rasulullah saw. lalu ia menceritakan, aku telah mendengar ucapan Rasulullah saw. yang membuatku merasa senang, beliau bersabda:

“Tidaklah seseorang dari kaum Muslimin ditimpa musibah, lalu ia membaca =innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’un= kemudian mengucapkan, (Ya Allah, berikanlah pahala dalam musibahku ini dan berikanlah ganti padaku yang lebih baik darinya) melainkan akan dikabulkan doanya itu.” Ummu Salamah bertutur, kemudian aku menghafal doa dari beliau itu, dan ketika Abu Salamah meninggal dunia, maka aku pun mengucapkan, innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’un, dan mengucapkan, ‘Ya Allah, berikanlah pahala dalam musibahku ini dan berikanlah ganti kepadaku yang lebih baik darinya.’ Kemudian mengintrospeksi diri, dengan bertanya, “Dari mana aku akan memperoleh yang lebih baik dari Abu Salamah?” Setelah masa iddahku berakhir, Rasulullah izin kepadaku. Ketika itu aku sedang menyamak kulit milikku, lalu aku mencuci tanganku dari qaradz (daun yang digunakan menyamak).
Lalu kuizinkan beliau masuk dan kusiapkan untuknya bantal tempat duduk yang isinya dari sabut, maka beliau pun duduk di atasnya. Lalu beliau menyampaikan lamaran kepada diriku. Setelah selesai beliau berbicara, kukatakan, “Ya Rasulullah, kondisiku akan membuat Anda tak berminat. Aku ini seorang wanita yang sangat pecemburu, maka aku takut Anda mendapatkan diriku sesuatu, yang karenanya Allah akan mengadzabku, dan aku sendiri sudah tua dan mempunyai banyak anak.” Maka beliau bersabda, “Mengenai kecemburuanmu yang engkau sebutkan, maka semoga Allah melenyapkannya dari dirimu. Dan usia tua yang engkau sebutkan, maka aku pun juga mengalami apa yang engkau alami. Dan mengenai keluarga yang engkau sebutkan itu, maka sesungguhnya keluargamu adalah keluargaku juga.”

Maka Ummu Salamah menyerahkan diri kepada Rasulullah saw. lalu beliau menikahinya, dan setelah itu Ummu Salamah berujar: “Allah telah memberikan ganti kepadaku yang lebih baik dari Abu Salamah, yaitu Rasulullah saw.

Dalam kitab Shahih Muslim disebtukan bahwa Ummu Salamah mengatakan: aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda:
“Tidaklah seorang hamba ditimpa musibah, lalu ia mengucapkan: innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’un. Ya Allah, berikanlah pahala dalam musibahku ini dan berikanlah ganti kepadaku yang lebih baik darinya; melainkan Allah akan memberikan pahala kepadanya dalam musibah itu dan memberikan ganti kepadanya dengan yang lebih baik darinya.” Kata Ummu Salamah, ketika Abu Salamah meninggal, maka aku mengucapkan apa yang diperintahkan Rasulullah kepadaku, maka Allah Ta’ala memberikan ganti kepadaku yang lebih baik dari Abu Salamah, yaitu Rasulullah A. (HR. Muslim).

Imam Ahmad meriwayatkan, dari Fatimah binti Husain, dari ayahnya, Husain bin Ali, dari Nabi saw, beliau bersabda: “Tidaklah seorang muslim, laki-laki maupun perempuan ditimpa suatu musibah, lalu ia mengingatnya, meski waktunya sudah lama berlalu, kemudian ia membaca kalimat istirja’ (innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’un) untuknya, melainkan Allah akan memperbaharui pahala baginya pada saat itu, lalu Dia memberikan pahala seperti pahala yang diberikan-Nya pada hari musibah itu menimpa.” (HR. Imam Ahmad dan Ibnu Majah; Dha’if sekali; Dikatakan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab Dha’iiful Jaami’ [5434].-ed.)

Imam Ahmad juga meriwayatkan, dari Abu Sinan, ia menceritakan, Aku sedang menguburkan anakku. Ketika itu aku masih berada di liang kubur, tiba-tiba tanganku ditarik oleh Abu Thalhah al-Khaulani dan mengeluarkan diriku darinya seraya berucap, “Maukah aku sampaikan berita gembira untukmu?” “Mau,” jawabnya. Ia berkata, adh-Dhahhak bin Abdur Rahman bin Auzab telah mengabarkan kepadaku, dari Abu Musa, katanya Rasulullah pernah bersabda:
“Allah berfirman, ‘Hai malaikat maut, apakah engkau sudah mencabut nyawa anak hamba-Ku? Apakah engkau mencabut nyawa anak kesayangannya dan buah hatinya?’ ‘Ya, jawab malaikat. ‘Lalu apa yang ia ucapkan?’ tanya Allah. Malaikat pun menjawab, ‘Ia memuji-Mu dan mengucapkan kalimat istirja’. Maka Allah berfirman (kepada para malaikat): ‘Buatkan untuknya sebuah rumah di surga, dan namailah rumah itu dengan baitul hamdi (rumah pujian).’”

Hadits ini diriwayatkan pula oleh Imam at-Tirmidzi, dari Suwaid bin Nashr, dari Ibnu al-Mubarak. Menurutnya, hadits tersebut hasan gharib. Nama Abu Sinan adalah Isa bin Sinan.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 156-158

18 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan)
Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat

tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 156-158“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang kafir (orang-orang munafik) itu, yang mengatakan kepada saudara-saudara mereka apabila mereka mengadakan perjalanan di muka bumi atau mereka berperang: “Kalau mereka tetap bersama-sama kita tentulah mereka tidak mati dan tidak dibunuh”. Akibat (dari perkataan dan keyakinan mereka) yang demikian itu, Allah menimbulkan rasa penyesalan yang sangat di dalam hati mereka. Allah menghidupkan dan mematikan. Dan Allah melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Ali ‘Imraan: 156) Dan sungguh kalau kamu gugur di jalan Allah atau meninggal, tentulah ampunan Allah dan rahmat-Nya lebih baik (bagimu) dari harta rampasan yang mereka kumpulkan.(QS. Ali ‘Imraan: 157) Dan sungguh jika kamu meninggal atau gugur, tentulah kepada Allah saja kamu dikumpulkan.” (QS. Ali ‘Imraan:158)

Allah melarang hamba-hamba-Nya yang beriman untuk menyerupai orang-orang kafir dalam keyakinan mereka yang rusak seperti yang tertuang dalam ungkapan mereka mengenai saudara-saudara mereka yang meninggal dalam perjalanan dan peperangan, “Seandainya mereka meninggalkan perang tersebut, pasti mereka tidak akan tertimpa musibah itu.”

Maka Allah berfirman, yaa ayyuHal ladziina aamanuu laa takuunuu kalladziina kafaruu wa qaaluu li ikhwaaniHim (“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang kafir [orang-orang munafik] itu, yang mengadakan kepada saudara-saudara mereka.”) Yakni, mengenai saudara-saudara mereka.

Idzaa dlarabuu fil ardli (“Apabila mereka mengadakan perjalanan di muka bumi.”) Yaitu, ketika mereka mengadakan perjalanan untuk berdagang atau kegiatan lainnya, au kaanuu ghuzzan (“atau mereka berperang.”) Yakni, ketika mereka berada dalam peperangan. Lau kaanuu ‘indanaa (“Kalau mereka tetap bersama-sama kita.”) Yakni, tetap menetap di kampung ini. Maa maatuu wa maa qutiluu (“Tentulah mereka tidak mati dan tidak dibunuh.”) Maksudnya, mereka tidak akan mati dalam perjalanan dan tidak dibunuh dalam peperangan.

Dan firman Allah: liyaj’alallaaHu dzaalika hasratan fii quluubiHim (“Akibat [dari per-kataan dan keyakinan mereka] yang demikian itu, Allah menimbulkan rasa penyesalan yang sangat, di dalam hati mereka.”) Maksudnya, Allah menciptakan keyakinan tersebut dalam diri mereka untuk menambah penyesalan atas orang-orang yang mati dan terbunuh.

Kemudian Allah berfirman sebagai bantahan terhadap mereka: wallaaHu yuhyii wa yumiitu (“Allah menghidupkan dan mematikan.”) Artinya, di tangan-Nya penciptaan itu berada dan kepada-Nya segala sesuatu kembali. Tidak seorang pun hidup dan mati kecuali atas kehendak dan takdir-Nya. Dan tidak akan bertambah atau berkurang umur seseorang, karena semuanya telah ditetapkan melalui qadha dan qadar-Nya.

Firman-Nya, wallaaHu bimaa ta’maluuna bashiir (“Dan Allah melihat apa yang kamu kerjakan.”) Maksudnya, ilmu dan penglihatan-Nya menembus seluruh makhluk-Nya. Tidak ada sesuatu pun dari urusan mereka yang tersembunyi dari-Nya.

Firman-Nya: wa la-in qutiltum fii sabiilillaaHi au muttum lamaghfiratum minallaaHi wa rahmatun khairum mimmaa yajma’uun (“Dan sungguh kalau kamu gugur di jalan Allah atau meninggal, tentulah ampunan Allah dan rahmat-Nya lebih baik [bagimu] dari harta rampasan yang mereka kumpulkan.”) Ayat ini mengandung makna bahwa berperang dan mati di jalan Allah merupakan salah satu sarana mendapatkan rahmat, ampunan, dan ke-ridhaan-Nya. Dan yang demikian itu lebih baik daripada tetap hidup di dunia ini dan memperoleh segala isinya yang fana ini.

Selanjutnya Allah memberitakan bahwa semua orang yang meninggal atau terbunuh tempat kembalinya adalah Allah. Dan Dia akan memberikan balasan sesuai dengan amal yang pernah dikerjakannya, jika berbuat baik, maka kebaikan yang akan diperolehnya. Dan sebaliknya, jika berbuat jahat, maka kejahatan pula yang akan didapatnya. Allah berfirman, wa la-im muttum au qutiltum la-ilallaaHi tuhsyaruun (“Dan sesungguhnya jika kamu meninggal atau gugur, tentulah kepada Allah saja kamu dikumpulkan.”)

&