Tag Archives: 187

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 187

6 Des

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 187“Mereka menanyakan kepadamu tentang Kiamat: ‘Bilakah terjadinya?’ Katakanlah: ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang Kiamat itu adalah pada sisi Rabbku; tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba.’ Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang hari Kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.’” (QS. al-A’raaf: 187)

Firman Allah: yas-aluunaka ‘anis saa’ati (“Mereka menanyakan kepadamu tentang Kiamat: ‘Bilakah terjadinya?’”) Ayat ini sama seperti firman-Nya yang artinya: “Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit.”) (Al-Ahzaab: 63)

Ayat tersebut turun berkenaan dengan orang-orang Quraisy. Mereka bertanya tentang waktu hari kebangkitan, dengan maksud untuk menafikan terjadinya peristiwa tersebut dan untuk mendustakan kejadiannya. Sebagaimana firman Allah yang artinya:

“Orang-orang yang tidak beriman kepada hari Kiamat meminta supaya hari itu segera didatangkan dan orang-orang yang beriman merasa takut kepadanya dan mereka yakin bahwa Kiamat itu adalah benar (akan terjadi). Ketahuilah bahwa sesungguhnya orang-orang yang membantah tentang terjadinya Kiamat itu benar-benar dalam kesesatan yang jauh.” (QS. Asy-Syuura: 18)

Dan firman-Nya: ayyaana mursaaHaa (“Bilakah terjadinya?”) ‘Ali bin Thalhah mengatakan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: “Berarti batas waktunya, maksudnya kapan berakhirnya dan kapan batas akhir masa kehidupan dunia yang merupakan awal dari hari kebangkitan itu?”

Qul innamaa ‘ilmuHaa ‘inda rabbii laa yujalliiHaa liwaqtiHaa illaa Huwa (“Katakanlah: ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang Kiamat itu adalah pada sisi Rabbku. Tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Allah.’”) Allah memerintahkan Rasul-Nya, Muhammad saw, jika ditanya tentang waktu datangnya Kiamat, agar mengembalikan ilmunya kepada Allah Ta’ala, karena hanya Allah yang mampu menjelaskan waktunya, atau mengetahui kejelasan masalah itu. Dan mengenai waktunya secara tepat, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah semata.

Oleh karena itu, Allah berfirman: tsaqulat fis samaawaati wal ardli (“Kiamat itu amat berat [huru haranya bagi makhluk] yang di langit dan di bumi.”) Mengenai firman-Nya ini, `Abdur Razzaq mengatakan dari Ma’mar, dari Qatadah, ia berkata: “Ilmu mengenai hari Kiamat itu terasa berat diketahui oleh penghuni langit dan bumi ini.” Sedangkan Ma’mar mengatakan dari al-Hasan, ia berkata: “Jika hari Kiamat itu tiba, maka terasa berat bagi penghuni langit dan bumi.”

Sedangkan Ibnu Jarir memilih bahwa yang dimaksudkan adalah, terlalu berat ilmu tentang waktunya untuk diketahui oleh penduduk langit dan bumi ini, sebagaimana dikatakan oleh Qatadah. Perkataan keduanya sama seperti firman-Nya: laa ta’tiikum illaa baghtatan (“Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba.”) Dan hal itu tidak menafikan beratnya waktu kedatangannya bagi penghuni langit dan bumi. Wallahu a’lam.

Dan firman-Nya: laa ta’tiikum illaa baghtatan (“Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba.”) Hari Kiamat itu akan datang secara tiba-tiba dan mendatangi manusia ketika mereka dalam keadaan lengah.

Al-Bukhari mengatakan dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw. bersabda:
“Hari Kiamat itu tidak datang sehingga matahari terbit dari arah barat, maka apabila matahari itu telah terbit dan manusia melihatnya, mereka akan beriman semuanya. Yang demikian itu tatkala tidak bermanfaat lagi keimanan seseorang yang belum pernah beriman sebelumnya, atau belum berbuat kebaikan dalam keimanannya. Hari Kiamat itu akan datang saat dua orang telah membentangkan pakaian mereka, maka tidak sempat lagi mereka berjual-beli dan tidak juga sempat melipat pakaian itu. Kiamat itu akan datang ketika ada seseorang telah kembali membawa susu perahannya dan ia tidak sempat meminumnya. Kiamat akan datang ketika ada seseorang telah memperbaiki kolam aimya dan ia tidak sempat mengairinya. Dan hari Kiamat akan datang pada saat seseorang telah mengangkat suapan makanan ke mulutnya dan ia tidak sempat memakannya.” (HR. Al-Bukhari)

Dan firman-Nya: yas-aluunaka ka-annaka hafiyyun ‘anHaa (“Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinnya.”) Abdurrahman bin Zaid bin Aslam mengatakan, seolah-olah engkau (Muhammad) mengetahuinya, padahal Allah telah menyembunyikan ilmunya atas semua makhluk-Nya. Lalu ia membaca firman-Nya: innallaaHa ‘indaHuu ‘ilmus saa’ati (“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya saja pengetahuan tentang hari Kiamat.”) (QS. Luqman: 34)

Oleh karena itu, Allah berfirman: qul innamaa ilmuHaa ‘indallaaHi wa laakinna aktsaran naasi laa ya’lamuun (“Katakanlah: ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang hari Kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”)

Maka tatkala Jibril datang dengan menyerupai seorang Arab untuk mengajarkan kepada mereka tentang agama mereka. la duduk di hadapan Rasulullah seperti duduknya orang yang bertanya sambil memohon bimbingan. Kemudian ia bertanya kepada Rasulullah mengenai Islam, lalu iman, setelah itu ihsan, kemudian ia bertanya: “Kapankah hari Kiamat tiba?” Lalu Rasulullah saw berkata kepadanya: “Yang ditanya tidak lebih mengetahui daripada yang bertanya.”
Maksudnya, aku tidak lebih tahu darimu dan tidak seorang pun lebih tahu dari yang lainnya. Kemudian Nabi membaca ayat: innallaaHa ‘indaHuu ‘ilmus saa’ati (“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya saja pengetahuan tentang hari Kiamat.”) (QS. Luqman: 34)

Dalam riwayat lain disebutkan, lalu bertanya kepada beliau tentang tanda-tanda hari Kiamat. Maka beliau menjelaskan tanda-tanda hari Kiamat, kemudian berkata: “Ada pada lima hal yang tidak diketahui, kecuali hanya oleh Allah saja.” Selanjutnya beliau membacakan ayat tersebut. Setiap jawaban yang disampaikan oleh Rasulullah saw, orang itu (Jibril) berkata: shadaqta (“Engkau benar”). Oleh karena itu, Para Sahabat merasa heran terhadap orang yang bertanya kepada beliau ini, ia bertanya kepada beliau dan ia pun membenarkannya. Kemudian setelah orang itu pergi, Rasulullah a bersabda: “la itu adalah Jibril, yang datang untuk mengajarkan kepada kalian agama kalian.”

Dan dalam sebuah riwayat disebutkan, beliau bersabda: “la (Jibril) tidak mendatangiku dalam suatu bentuk melainkan aku mengenalinya, kecuali dalam wujudnya yang ini.”

Hadits ini telah aku (Ibnu Katsir) sebutkan melalui beberapa jalan dan berbagai lafazh baik yang shahih, maupun hasan, pada bagian awal Syarh al-Bukhari. Dan segala puji dan kebaikan hanya milik Allah.

Dan tatkala ada seorang Arab Badui menanyakan hal tersebut kepada Rasulullah saw. dan memanggil beliau dengan suara lantang: “Hai Muhammad!” Lalu beliau mengatakan kepadanya: “Ya, apa?” Dengan suara selantang suaranya. Kemudian orang itu bertanya: “Kapan hari Kiamat itu tiba?” Maka Rasulullah AW, berkata kepadanya: “Celaka engkau, sesungguhnya hari Kiamat itu pasti datang, lalu apa yang sudah engkau persiapkan untuk menyambutnya?” la menjawab: “Aku tidak mempersiapkan untuknya berupa shalat dan puasa yang banyak, tetapi aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Setelah itu, Rasulullah berkata kepadanya: “Seseorang itu akan bersama dengan yang dicintai.”

Dan tidaklah kaum muslimin berbahagia dengan sesuatu, sebagaimana bahagianya mereka dengan hadits tersebut. (Hadits ini mempunyai berbagai jalan dalam ash-Shahihain [Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim] dan kitab-kitab lainnya, dari sejumlah Sahabat, dari Rasulullah saw., di mana beliau bersabda: “Seseorang itu akan bersama dengan yang dicintai.” Menurut para huffazh yang teliti, hadits tersebut mutawatir.

Di dalamnya disebutkan, bahwa Rasulullah jika ditanya tentang hal ini (Kiamat), yang mana mereka tidak perlu mengetahui tentang ilmunya, maka beliau akan membimbing mereka kepada suatu yang lebih penting bagi mereka, yaitu mempersiapkan diri untuk menghadapi hart Kiamat itu sebelum tibanya, meskipun mereka tidak mengetahui waktu kedatangannya secara pasti.

Oleh karena itu Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahihnya, dari ‘Aisyah, ia berkata: “Ketika orang-orang Arab Badui menghadapRasulullah saw, mereka bertanya kepada beliau mengenai hari Kiamat: ‘Kapankah hari Kiamat itu tiba?’ Lalu beliau melihat ke arah orang yang paling muda di antara mereka, lalu beliau bersabda: ‘Jika orang ini hidup, maka ia belum mencapai masa tua sehingga telah tiba Kiamat kalian kepada kalian.’”

Maksud dari kata “Kiamat kalian” adalah, kematian mereka yang membawa mereka ke alam barzakh, alam akhirat.

Selanjutnya Muslim meriwayatkan dari Anas bin Malik, bahwasanya ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah saw mengenai hari Kiamat, maka Rasulullah menjawab: “Jika anak ini hidup, mudah-mudahan ia belum mencapai usia tua sehingga telah datang Kiamat.” (Hanya Muslim saja yang meriwayatkannya)

Diriwayatkan pula dari Anas bin Malik, ia berkata: Ada seorang budak milik al-Mughirah bin Syu’bah yang sebaya denganku sedang lewat, lalu Nabi saw. bersabda: “Jika dia ini dipanjangkan umurnya, maka dia belum mencapai usia tua sehingga datang Kiamat.” (Hadits ini diriwayatkan al-Bukhari dalam kitab [bab] al-Adab dalam Shahihnya)

Penyebutan Kiamat secara mutlak dalam riwayat-riwayat tadi, hendaklah dipahami secara muqayyad (terbatas). Yaitu, “Kiamat kalian.” Sebagaimana dalam hadits `Aisyah ra.

Inilah Nabi yang ummi, penghulu dan penutup para Rasul, Muhammad shalawaatullaah alaihi wa Salaamuh. Seorang Nabi pembawa rahmat dan pintu taubat, Nabi yang mengobarkan perjuangan, Nabi terakhir dan yang dimuliakan, dihadapannya dikumpulkan umat manusia. Di mana beliau menyatakan. dalam hadits shahih dari Arias, dan Sahl bin Sa’ad:
“Jarak waktu antara aku diutus dan terjadinya Kiamat, adalah seperti ini.” Seraya beliau mendekatkan kedua jarinya, jari telunjuk dan jari tengah.

Namun demikian, Allah telah memerintahkan beliau agar mengembalikan ilmu tentang waktu hari Kiamat itu kepada-Nya, jika ditanya oleh umatnya. Allah berfirman: qul innamaa ilmuHaa ‘indallaaHi wa laakinna aktsaran naasi laa ya’lamuun (“Katakanlah: ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang hari Kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”)

&

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 187

6 Apr

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 187“Dihalalkan bagimu pada malam hari puasa bercampur dengan isteri-isterimu, mereka itu adalah pakaian bagi kamu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlab hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa. (QS. Al-Baqarah: 187)

Ini merupakan rukhsah (keringanan) dari Allah swt. bagi kaum muslimin serta penghapusan hukum yang sebelumnya berlaku pada permulaan Islam. Pada saat itu, jika seorang dari kaum muslimin berbuka puasa, maka dihalalkan baginya makan, minum, dan berhubungan badan sampai shalat isya’ atau ia tidur sebelum itu. Jika ia sudah tidur atau shalat Isya’, maka diharamkan baginya makan, minum dan berhubungan badan sarnpai malam berikutnya. Karena itu, mereka pun merasa sangat berat. Yang dimaksudkan dengan ar-rafats pada ayat tersebut adalah al Jima’ (hubungan badan).

Firman Allah Ta’ala: Hunna libaasul lakum wa antum libaasul laHunn (“Mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.”) Ibnu Abbas mengatakan: “Artinya, mereka itu sebagai pemberi ketenangan bagi kalian, dan kalian pun sebagai pemberi ketenangan bagi mereka.”

Sedangkan Rabi’ bin Anas mengatakan, “Mereka itu sebagai selimut bagi kalian, dan kalian pun merupakan selimut bagi mereka.”

Sebab turunnya ayat ini sebagaimana dikatakan oleh Ishak dari al-Bar bin Azib, bahwa pada waktu itu para sahabat Nabi, jika seorang berpuasa lalu ia tidur sebelum berbuka, maka ia tidak makan sampai malam berikutnya. Qais bin Sharimah al-Anshar pernah dalam keadaan puasa bekerja seharian di ladang miliknya, dan ketika waktu buka tiba, ia menemui isterinya dan bertanya, “Apakah engkau punya makanan?” Isterinya menjawab, “Tidak, tetapi aku akan pergi mencarikan makanan untukmu.” Maka Qais terkantuk sehingga ia tertidur. Ketika isterinya datang, dan melihat suaminya tidur, ia pun berkata, “Rugilah engkau mengapa engkau tidur?” Pada waktu tengah hari Qais pun jatuh pingsan. Lalu hal itu diceritakan kepada Rasulullah maka turunlah ayat tersebut. Dan karenanya orang-orang pun merasa senang sekali.

Tebtabg nama Qais bin Sharimah al-Anshar; Terjadi perbedaan pendapat mengenai namanya ini, karena adanya perbedaan riwayat. Ada juga yang mengatakan bernama Sharimah bin Qais, atau Ibnu Anas. Dan ada juga yang mengatakan, Dhamurah bin Anas. Ini disebutkan dalam catatan pinggir Manuskrip al-Azhar. Silahkan lihat nama-nama ini dalam kitab al-Ishabah fii tamyiz ash-Shahabah.

Menurut lafadz al-Bukhari di sini, diperoleh melalui jalur Abu Ishak, katanya, “Aku pernah mendengar al-Bara’ menceritakan: Ketika turun perintah puasa Ramadhan, para sahabat tidak mencampuri isteri mereka selama satu bulan Ramadhan penuh. Dan ada beberapa orang yang tidak sanggup menahan nafsu mereka, lalu Allah menurunkan firman-Nya: ‘alimallaaHu annakum kuntum takhtaanuuna anfusakum fataaba ‘alaikum wa ‘afaa ‘ankum (“Allah mengetahui bahwasannya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampunimu dan memberi maaf kepadamu.”)

Dan firman-Nya: uhilla lakum lailatash shiyaamir rafatsu ilaa nisaa-ikum (“Dihalalkan bagimu pada malam bulan puasa bercampur dengan istri-istrimu.”) yang dimaksud dengan ar rafats adalah mencampuri istri.

Hunna libaasul lakum wa antum libaasul laHunna ‘alimallaaHu annakum kuntum takhtaanuuna anfusakum (“Mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu.”) Yakni, kalian boleh mencampuri isteri, makan, dan minum setelah shalat Isya’.

fataaba ‘alaikum wa ‘afaa ‘ankum fal aana baasyiruuHunna (“Karena itu Allah mengampuni dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka.”) artinya gaulilah mereka. wabtaghuu maa kataballaaHu lakum (“Dan carilah apa yang telah ditetapkan oleh Allah untukmu”) yaitu anak.

Wakuluu wasy-rabuu hattaa yatabayyana lakumul khaithul abyadlu minal khaithil aswadi minal fajri tsumma atimmush shiyaama ilal laili (“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dan benang hitam, yaitu fajar, kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai [datang] malam.”) itu adalah pemaafan dan rahmat dari Allah.

Abdurrahman bin Zaid bin Aslam mengatakan: wabtaghuu maa kataballaaHu lakum (“Dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu.”) yaitu jima’ (hubungan badan). Sedangkan Amr bin Malik al-Bakri meriwayatkan, dari Abu al-Jauza’ dari Ibnu Abbas, wabtaghuu maa kataballaaHu lakum (“Dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untuk kalian”) ia mengatakan, yaitu lailatul qadar. Ibnu Jarir lebih memilih pendapat yang mengatakan bahwa ayat ini lebih umum dari semua pengertian tersebut.

Firman-Nya: Wakuluu wasy-rabuu hattaa yatabayyana lakumul khaithul abyadlu minal khaithil aswadi minal fajri tsumma atimmush shiyaama ilal laili (“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dan benang hitam, yaitu fajar, kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai [datang] malam.”) Allah Ta’ala membolehkan makan, minum dan juga menggauli isteri pada malam hari kapan saja seorang yang berpuasa menghendaki sampai tampak jelas sinar pagi dari gelapnya malam. Dan hal itu Dia ungkapkan dengan benang putih dan benang hitam. Kemudian kesamaran ini dijelaskan dengan, firman-Nya, “Yaitu fajar.”

Imam Ahmad meriwayatkan, dari asy-Sya’abi, dari Adi bin Hatim katanya; Ketika ayat: “Wakuluu wasy-rabuu hattaa yatabayyana lakumul khaithul abyadlu minal khaithil aswadi” ini turun aku sengaja mengambil dua ikat tali, satu berwarna putih dan satu lagi berwarna hitam, lalu aku letakkan keduanya di bawah bantalku. Setelah itu aku melihat keduanya, dan ketika sudah tampak olehku secara jelas antara tali yang putih dari yang hitam, maka aku langsung menahan diri (tidak makan, minum dan berjima’). Dan keesokan harinya aku pergi menemui Rasulullah dan kuberitahukan kepada beliau apa yang telah aku lakukan itu.” Maka beliau pun bersabda, “Kalau demikian tentulah bantalmu itu sangat lebar, sebenarnya yang dimaksud adalah terangnya Siang dari gelapnya malam.” (Diwayatkan al-Bukhari dan Muslim.)

Dan sabda beliau, “Kalau demikian tentulah bantalmu sangat lebar,” maksudnya, jika dapat meliputi kedua benang putih dan hitam yang dimaksudkan dalam ayat tersebut, yakni terangnya Siang dan gelapnya malam, bararti bantalmu itu seluas timur dan barat.

Diperbolehkannya makan sampai terbit fajar merupakan dalil disunnahkannya sahur, karena itu termasuk bagian dari rukhsah, dan mengerjakannya adalah dianjurkan. Oleh karena itu dalam sunnah Rasulullah ditegaskan anjuran bersahur. Dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Muslim diriwayatkan, dari Anas bin Malik, bahwa, Rasulullah bersabda: “Makan sahurlah kalian; karena di dalam sahur itu terdapat berkah.” (HR. al- Bukhari dan Muslim)

Dan diriwayatkan dalam Shahih Muslim, dari Amr bin al-‘Ash. nya, Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya pembeda antara puasa kita dengan puasa Ahlul Kitab adalah makan sahur.” (HR. Muslim)

Mengenai anjuran makan sahur ini sudah diterangkan oleh banyak hadits, meski sahur itu hanya dengan satu teguk air, karena hal itu disamakan dengan yang makan. Disunnahkan mengakhirkan makan sahur sampai pada saat munculnya fajar, sebagaimana diriwayatkan dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik, dari Zaid bin Tsabit, ia menceritakan, “Kami pernah makan sahur bersama Rasulullah, dan setelah itu kami berdiri untuk mengerjakan shalat.” Anas pun bertanya kepada Zaid, “Berapa lama jarak antara adzan dan sahur?” Zaid menjawab, “Sekitar lima puluh ayat.”

Sedangkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, an-Nasa’i dan Ibnu Majah, dari Hudzaifah katanya, “Kami pernah makan sahur bersama Rasulullah saw. dan hari sudah siang tetapi matahari belum terbit. Hadits tersebut diriwayatkan sendiri oleh Ashim bin Abu Najud. Demikian dikatakan oleh an-Nasa’i, dan dia mengartikan bahwa yang dimaksudkan adalah mendekati siang hari sebagaimana firman Allah yang artinya:

“Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik” (Qs. Ath-Thalaq: 2)

Artinya, mereka sudah mendekati masa berakhirnya iddah. Maka merujuklah mereka dengan baik atau ceraikan mereka dengan cara yang baik pula. Dan apa yang dikemukakan inilah yang pasti, yaitu mengartikan hadits tersebut dengan pengertian bahwa mereka makan sahur, namun mereka tidak yakin akan terbitnya fajar, sampai sebagian di antara mereka menyangka sudah terbit fajar, dan sebagian lainnya belum meyakini terbitnya fajar.

Dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Muslim diriwayatkan dari al-Qasim, dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, bahwa Rasulullah pernah bersabda: “Adzan Bilal tidak menghalangi makan sahur kalian, karena ia mengumandangkan adzan pada malam hari. Maka makan dan minumlah sehingga mendengar adzan Ibnu Ummi Maktum, karena ia tidak mengumandangkan adzan melainkan waktu fajar telah terbit.” (Demikian menurut teks al-Bukhari)

Sedangkan Imam Ahmad meriwayatkan, dari Qais bin Thalaq, dari ayahnya, bahwa Rasulullah bersabda: “Fajar itu bukanlah garis memanjang di ufuk, tetapi ia adalah melintang berwarna merah.” (HR. Imam Ahmad dan at-Tirmidzi)

Dan diriwayatkan dari Samurah bin Jundab, bahwa Rasulullah bersabda: “Janganlah kalian tertipu oleh adzan Bilal dan tidak juga oleh warna putih ini, maksudnya cahaya subuh, sehingga merekah.” (HR. Muslim)

Permasalahan.

Allah menjadikan fajar sebagai batas akhir diperbolehkannya jima’, makan dan minum bagi orang yang hendak berpuasa, merupakan dalil bahwa orang yang bangun pagi dalam keadaan junub, maka hendaklah ia mandi serta menyempurnakan puasanya, dan tidak ada dosa baginya. Demikian madzhab empat imam dan jumhur ulama, baik salaf maupun khalaf. Hal itu didasarkan pads hadits yang diriwayatkan al-Bukhari dan Muslim, dari Aisyah dan Ummu Salamah radhiyallahu anhuma, keduanya pernah bercerita, “Rasulullah pernah bangun pagi (setelah terbit fajar) dalam keadaan junub karena hubungan badan dan bukan karena mimpi, lalu beliau mandi dan berpuasa.”

Dan dalam hadits Ummu Salamah disebutkan, “Kemudian beliau tidak berbuka (sebelum maghrib) dan tidak juga mengqadhanya.”

Tsumma atimmush shiyaama ilal laili (“Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai [datang] malam.”) Berbuka puasa pada saat matahari terbenam merupakan tuntutan hukum syar’i, sebagaimana diriwayatkan dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim dari Amirul Mukminin Umar bin Khaththab, katanya, Rasulullah pernah bersabda: “Jika malam telah tiba dari sini, dan siang pun telah berlalu dari sini, maka orang yang berpuasa dapat berbuka.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Dan dari Sahal bin Sa’ad as-Sa’di, Rasulullah bersabda: “Kaum muslimin tetap berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Dalam hadits-hadits Shahih disebutkan secara tegas larangan wishal, yaitu menyambung puasa hari ini dengan hari berikutnya, dan tidak makan suatu apapun di antara kedua hari tersebut. Imam Ahmad meriwayatkan, dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda: “Janganlah kalian melakukan wishal.” Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, sesungguhnya engkau melakukan wishal.” Beliaupun menjawab, “Sesungguhnya aku tidak seperti kalian, pada malam hari aku diberi makan dan juga minum oleh Rabbku.”

Abu Hurairah berkata, ketika mereka tidak juga menghentikan wishal, Nabi melakukan wishal bersama mereka selama dua hari dua malam. Kemudian mereka melihat hilal, maka beliau pun bersabda, “Seandainya hilal itu tidak segera datang, niscaya akan kutambah wishal ini.” Hal itu beliau lakukan sebagai peringatan dan pelajaran bagi mereka. Hadits ini diriwayatkan pula oleh al-Bukhari dan Muslim dalam kitab Shahih mereka.

Telah ditegaskan melalui berbagai jalur, bahwa wishal itu dilarang. Di lain pihak ditegaskan pula, bahwa wishal itu hanya dikhususkan bagi Nabi , karena beliau tahan atas hal itu dan diberi pertolongan (oleh Allah).

Jelas bahwa makan dan minum Rasulullah itu bersifat immaterial dan bukan material. Sebab jika bukan makanan dan minuman immaterial, maka ia tidak dikatakan melakukan wishal, sebagaimana dikatakan seorang penyair:

Ia mempunyai banyak cerita kenangan bersamamu
Yang menjadikannya lupa minum dan perbekalan.

Dan firman Allah Ta’ala: walaa tubaasyiruuHunna wa antum ‘aakifuuna fil masaajid (“Janganlah kamu mencampuri mereka itu sedang kamu beri’tikaf di dalam masjid.”) Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan, dari Ibnu Abbas: “Bahwa ayat ini berkenaan dengan seseorang yang beri’tikaf di masjid pada bulan Ramadhan atau di luar Ramadhan, Allah mengharamkannya mencampuri isteri pada malam atau siang hari sehingga ia menyelesaikan i’tikafnya.”

Adh-Dhahhak mengatakan, Ada seseorang yang jika beri’tikaf keluar dari masjid dan mencampuri isteri sekendak hatinya. Maka Allah swt. pun berfirman: walaa tubaasyiruuHunna wa antum ‘aakifuuna fil masaajid (“Janganlah kamu mencampuri mereka itu sedang kamu beri’tikaf di dalam masjid.”) Artinya, janganlah kalian mendekati mereka selama kalian masih dalam keadaan i’tikaf di dalam masjid dan tidak pula di tempat lainnya.

Hal senada juga dikemukakan oleh Mujahid, Qatadah, dan beberapa ulama lainnya, yaitu bahwa mereka sebelumnya mengerjakan yang demikian itu sehingga turun ayat ini.

Ibnu Abi Hatim menuturkan, diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, Muhammad bin Ka’ab, Mujahid, Atha’, al-Hasan, Qatadah, adh-Dhahhak, as-Suddi, Rabi’ bin Anas, dan Muqatil bin Hayyan, mereka mengatakan, “Seseorang tidak boleh mendekati isterinya ketika ia dalam keadaan beri’tikaf.” Apa yang disebutkan dari mereka inilah yang menjadi kesepakatan para ulama, bahwa orang yang sedang beri’tikaf diharamkan baginya isterinya selama ia masih beri’tikaf di dalam masjid. Kalau ia harus pulang ke rumah karena suatu keperluan, maka tidak diperkenankan baginya berlama-lama di rumah melainkan sekadar untuk keperluannya seperti buang hajat atau makan. Dan tidak diperbolehkan baginya mencium isterinya, juga merangkulnya, serta tidak boleh menyibukkan diri dengan sesuatu selain i’tikaf. Selain itu, ia juga tidak boleh menjenguk orang sakit, tetapi boleh menanyakan keadaannya ketika sedang melewatinya.

I’tikaf ini mempunyai beberapa hukum yang secara rinci diuraikan dalam bab mengenai masalah i’tikaf, di antaranya ada yang telah disepakati para ulama dan ada juga yang masih diperselisihkan. Dan mengenai hal itu telah kami kemukakan pada akhir kitab puasa.

Oleh karena itu, Para fuqaha yang menulil kitab puasa disertai dengan pembahasan tentang i’tikaf, mengikuti cara al-Qur’an yang mengingatkan masalah i’tikaf setelah masalah puasa.

Dalam penyebutan i’tikaf setelah puasa oleh Allah swt. terdapat bimbingan dan peringatan untuk beri’tikaf pada saat puasa atau pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, sebagaimana telah ditetapkan dalam sunnah dari Rasulullah, bahwasanya beliau beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan hingga Allah mencabut nyawanya. Dan sepeninggal beliau, isteri-isteri beliau pun mengerjakan i’tikaf. Hadits tersebut diriwayatkan al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah Ummul Mukminin radhiallahu ‘anHaa.

Juga diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim, bahwa Shafiyah binti Huyay pernah berkunjung kepada Nabi ketika beliau sedang beri’tikaf di dalam masjid. Lalu ia berbicara di sisi beliau beberapa saat. Hal ini terjadi pada malam hari. Setelah itu ia berdiri untuk kembali ke rumahnya, dan Nabi ,’ pun berdiri untuk mengantarnya sampai dirumahnya (Shafiyah). Tempat tinggal Shafiyah ketika itu berada di rumah Usamah bin Zaid, di pinggiran kota Madinah. Di dalam perjalanannya, Rasulullah bertemu dengan dua orang laki-laki dari kaum Anshar. Ketika mereka berdua mengetahui orang itu Nabi, maka keduanya mempercepat langkahnya.

Dalam riwayat lain disebutkan, kedua orang itu bersembunyi karena malu kepada Nabi, karena beliau sedang bersama isterinya, maka Rasulullah bersabda, “Pelanlah kalian, ia ini adalah Shafiyah bin Huyay.” Artinya janganlah kalian mempercepat langkah kalian dan ketahuilah bahwa ia adalah Shafiyah binti Huyay isteriku. Maka keduanya berucap, “Subhanallah, Ya Rasulullah.” Lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya syaitan itu masuk dalam diri anak cucu Adam mengikuti aliran darah. Dan sesungguhnya aku khawatir ia akan melemparkan sesuatu atau keburukan dalam hati kalian.”

Imam Syafi’i rahimahullahu mengatakan, Rasulullah bermaksud mengajarkan kepada umatnya untuk menghindarkan diri dari tuduhan yang tidak pada tempatnya agar keduanya tidak terperangkap ke dalam bahaya, padahal keduanya termasuk orang yang amat takut kepada Allah Ta’ala dari berprasangka buruk terhadap Nabi. Wallahu a’lam.

Dan yang dimaksud dengan kata al-mubasyarah dalam ayat ini adalah Jima’ (bersetubuh) dan berbagai faktor penyebabnya, seperti ciuman, pelukan dan lain sebagainya. Sedangkan sekedar memberikan sesuatu dan yang semisalnya tidak apa-apa hukumnya.

Diriwayatkan dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya, “Rasulullah mendekatkan kepalanya kepadaku lalu aku menyisir rambutnya, sedang aku dalam keadaan haid. Dan beliau tidak masuk rumah kecuali untuk kepentingannya.” Aisyah mengatakan, “Pernah ada orang sakit di rumah, dan aku tidak bertanya mengenai keadaannya kecuali aku dalam keadaan sambil berlalu.”

Firman Allah berikutnya: tilka huduudullaaHi (“Itulah ketentuan-ketentuan Allah.”) Maksudnya, apa yang telah Kami (Allah) jelaskan, wajibkan, dan tentukan, berupa ihwal puasa dan hukum-hukumnya, apa yang Kami bolehkan dan Kami haramkan, dan yang Kami sebutkan pula tujuan-tujuannya, rukhsah dan kewajiban-kewajibannya adalah ketentuan-ketentuan Allah Ta’ala, artinya disyari’atkan dan dijelaskan langsung oleh Allah sendiri.

Falaa taqrabuuHaa (“Maka janganlah kamu mendekatinya”) artinya janganlah kalian melampaui dan melanggarnya. Abdur rahman bin Zaid bin Aslam mengatakan, “Ayahku dan beberapa guru kami mengemukakan hal itu dan membacakan firman Allah kepada kami.”

Kadzaalika yubayyinullaaHu aayaatiHii lin naasi (“Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia.”) artinya sebagaimana Dia telah menjelaskan tentang puasa, [tentang] hukum, syarat dan rinciannya, Dia juga menjelaskan hukum-hukum lainnya melalui hamba dan Rasul-Nya, Muhammad saw.

La’allaHum yattaquun (“Supaya mereka bertakwa”) maksudnya mereka mengetahui bagaimana memperoleh petunjuk dan bagaimana pula berbuat taat. Sebagaimana Allah swt. berfirman yang artinya: “Dialah yang menurunkan kepada hamba-Nya ayat-ayat yang terang (al-Qur’an) supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Mahapenyantun lagi Mahapenyayang kepada kamu “. (QS. Al-Hadiid: 9)

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 187-189

19 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan)
Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat

tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 187-189“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): ‘Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya,” lalu mereka melemparkan janji itu ke belakangpunggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruk tukaran yang mereka terima. (QS. Ali ‘Imraan: 187). Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan. Janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa dan bagi mereka siksa yang pedih. (QS. Ali ‘Imraan: 188). Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi: dan Allah Maha- kuasa atas segala sesuatu. (QS. Ali ‘Imraan: 189)

Yang demikian itu merupakan teguran sekaligus ancaman Allah terhadap Ahlul Kitab, di mana Allah telah mengambil perjanjian terhadap mereka melalui lisan para Nabi, yaitu janji agar mereka beriman kepada Muhammad saw. dan agar menjelaskannya kepada umat manusia. Sehingga keadaaan mereka siap menerima perintahnya, supaya apabila Allah mengutus Muhammad mereka pun mengikutinya. Namun mereka menyembunyikan hal itu dan mengganti apa yang pernah mereka janjikan berupa kebaikan di dunia dan di akhirat dengan sesuatu yang sangat sedikit, serta hal duniawi yang sangat murah. Maka seburuk-buruk sifat adalah sifat mereka, dan seburuk-buruk bai’at adalah bai’at mereka.

Dan dalam hal itu terdapat peringatan bagi para ulama agar jangan mengikuti jejak mereka, sehingga tidak menimpa apa yang telah menimpa mereka. Para ulama hendaknya mengajarkan apa yang ada pada mereka dari ilmu yang bermanfaat yang dapat menunjukkan kepada amal shalih dan tidak menyembunyikan ilmu barang sedikitpun.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari beberapa sumber yang berbeda, dari Nabi saw. Beliau pernah bersabda: “Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu, lalu ia menyembunyikannya, maka pada hari Kiamat kelak ia akan dimasukkan tali kekang kedalam mulutnya dengan kekang dari api.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi dengan sanad hasan)

Firman-Nya, laa tahsabannal ladziina yaf-rahuuna bimaa ataw watuhibbuuna ay yuhmaduu bimaa lam yaf’aluu (“Janganlah sekali-sekali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan, dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan.”) Yakni orang-orang yang suka berbuat riya’, yang ingin dinilai lebih dengan apa-apa yang mereka tidak perbuat.

Sebagaimana yang telah ditegaskan dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari Nabi saw, beliau bersabda: “Barangsiapa yang mengaku-ngaku dengan pengakuan dusta supaya memperoleh penilaian lebih yang tidak ada pada dininya, maka Allah tidak akan menambah baginya kecuali kekurangan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Masih dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, beliau bersabda: “Orang yang ingin dinilai lebih dengan apa yang tidak ada pada dirinya, adalah seperti orang yang memakai dua pakaian palsu.”

Imam Ahmad meriwayatkan, Hajjaj telah menceritakan kepada kami, dari Ibnu Juraij, Ibnu Abi Mulaikah memberitahukan kepadaku bahwa Humaid bin ‘Abdurrahman bin ‘Auf pernah memberitahukan kepadanya, bahwa Marwan pernah mengatakan kepada pengawalnya, “Wahai Rafi’, pergilah kepada Ibnu ‘Abbas, dan katakan, jika setiap orang dari kami merasa senang dengan apa yang dilakukannya dan suka mendapat pujian atas sesuatu perbuatan yang tidak dikerjakannya, kemudian kami mendapat siksaan, maka niscaya semua orang akan kena siksa.” Maka Ibnu ‘Abbas menyahut, “Apa yang kalian maksudkan dengan ini? Sesungguhnya ayat ini turun berkenaan dengan Ahlul Kitab.”

Setelah itu Ibnu ‘Abbas membacakan ayat ini [yang artinya], “Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): “Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan janganlah kamu menyembunyikannya. Lalu mereka melemparkan janji itu kebelakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amat buruk tukaran yang mereka terima. Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan.”

Ibnu ‘Abbas berkata, Nabi saw. pernah bertanya kepada mereka mengenai sesuatu, lalu mereka menyembunyikannya dari beliau, dan memberi-tahukan kepada beliau sesuatu hal yang lain. Setelah itu mereka pun pergi dan mengklaim bahwa mereka telah memberitahukan apa yang ditanyakan Nabi saw. Selanjutnya mereka meminta pujian kepada beliau atas apa yang dilakukannya itu, serta mereka merasa gembira atas apa yang mereka sembunyikan kepada Nabi.

Demikian itulah hadits yang diriwayatkan Imam al-Bukhari dalam kitab tafsirnya, Imam Muslim, Imam at-Tirmidzi, an-Nasa’i dalam tafsirnya, Ibnu Abi Hakim, Ibnu Khuzaimah, al-Hakim dan Ibnu Mardawaih, yang semuanya berasal dari hadits ‘Abdul Malik bin Juraij.

Hal yang sama juga diriwayatkan Imam al-Bukhari dari hadits Ibnu Juraij dari Ibnu Abi Mulaikah dari ‘Alqamah bin Waqqash, bahwa Marwan pernah mengatakan kepada penjaganya, “Ya Rafi’, pergilah kepada Ibnu ‘Abbas. Lalu ia menyebutkan hadits di atas.”

Imam al-Bukhari juga meriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri, bahwa pada masa Rasulullah ada beberapa orang munafik, yang jika Rasulullah berangkat perang, mereka enggan menyertai beliau dan merasa gembira dengan ketidak ikutsertaan mereka bersama beliau. Dan ketika Rasulullah datang dari perang, mereka mencari-cari alasan untuk disampaikan kepada beliau, mereka pun bersumpah, serta mereka suka mendapatkan pujian atas suatu hal yang tidak mereka lakukan, maka turunlah ayat ini: laa tahsabannal ladziina yaf-rahuuna bimaa ataw watuhibbuuna ay yuhmaduu bimaa lam yaf’aluu (“Janganlah sekali-sekali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan, dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan.”)

Hadits yang sama juga diriwayatkan Imam Muslim dari Ibnu AbiMaryam.

Dan firman-Nya: falaa tahsabannaHum bimafaazatim minal ‘adzaab (“Janganlah kamu me-nyangka bahwa mereka terlepas dari siksa.”) Artinya, janganlah kalian mengira bahwa mereka akan selamat dari siksa, bahkan mereka pasti mendapatkan siksa.

Oleh karena itu Allah berfirman, wa laHum ‘adzaabun aliim (“Dan bagi mereka siksa yang pedih.”)

Setelah itu Allah berfirman: wa lillaaHi mulkus samaawaati wal ardli wallaaHu ‘alaa kulli syai-in qadiir (“Kepunyaan Allah kerajaan langit dan bumi dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”) Artinya, Allah adalah pemilik segala sesuatu dan berkuasa untuk berbuat segala sesuatu sehingga tidak ada sesuatu pun yang dapat melemahkan-Nya. Karena itu, janganlah kalian menentang-Nya dan hindarilah kemurkaan dan laknat-Nya. Karena Allah adalah Rabb yang Mahaagung yang tidak adasesuatu pun yang lebih agung dari-Nya dan Mahakuasa yang tiada sesuatu pun yang lebih berkuasa dari diri-Nya.

&