Tag Archives: 28

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 28-30

12 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 28-30“Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata: ‘Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu dan Allah menyuruh kami mengerjakannya.’ Katakanlah: ‘Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji.’ Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui? (QS. 7:28) Katakanlah: ‘Rabbku menyuruh menjalankan keadilan.’ Dan (katakanlah): ‘Luruskan muka (diri)mu di setiap shalat dan beribadahlah kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya. Sebagaimana Allah telah menciptakanmu pada permulaan (demikian pulalah) kamu akan kembali kepada-Nya.’ (QS. 7:29) Sebahagian diberi-Nya petunjuk, dan sebahagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka. Sesungguhnya mereka menjadikan syaitan-syaitan pelindung (mereka) selain Allah dan mereka mengira bahwa mereka mendapatpetunjuk. (QS. 7:30)” (al-A’raaf: 28-30)

Saya (Ibnu Katsir) katakan, dahulu masyarakat Arab selain suku Quraisy, tidak mengerjakan thawaf di Baitullah dengan mengenakan pakaian yang sedang mereka kenakan. Mereka menakwilkan bahwa mereka tidak akan mengerjakan thawaf dengan mengenakan pakaian yang telah digunakan untuk bermaksiat kepada Allah. Sedangkan bangsa Quraisy, yang mereka adalah penduduk al-humus, mengerjakan thawaf dengan pakaian yang sedang dikenakannya.

Dan orang yang diberikan pinjaman pakaian oleh Ahmasi (seorang humus), maka ia pun berthawaf dengan memakai pakaian itu. Dan orang yang membawa pakaian baru, ia juga mengerjakan thawaf di sana, setelah itu melepaskannya kembali dan tidak boleh dimiliki oleh seorang pun.

(Dahulu orang Quraisy berwukuf di Muzdalifah dan mereka menamakannya al-Humus,-ed)

Dan barangsiapa yang tidak memiliki pakaian baru dan tidak juga diberikan pinjaman oleh Ahmasi, maka ia mengerjakan thawaf dengan telanjang. Bahkan terkadang juga wanita mengerjakan thawaf dengan telanjang, hanya dengan memberikan sedikit penutup pada bagian kemaluannya guna menutupi sebagaiannya saja seraya mengatakan:
“Pada hari ini tampaklah sebagian atau seluruhnya.
Dan apa yang tampak darinya, maka aku tidak menghalalkannya.”

Kebanyakan wanita mengerjakan thawaf dalam keadaan telanjang pada malam hari. Yang demikian itu adalah sesuatu yang mereka buat-buat sendiri dan hanya mengikuti nenek moyang mereka. Dan mereka berkeyakinan bahwa apa yang dikerjakan oleh nenek moyang mereka itu bersandar kepada perintah dan syari’at dari Allah.

Maka Allah Ta’ ala pun mengingkari keyakinan mereka itu, di mana Allah berfirman: wa idzaa fa’aluu faahisatan qaaluu wajanaa ‘alaiHaa aabaa-anaa wallaaHu amaranaa biHaa (“Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata: ‘Kami mendapatkan nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu dan Allah menyuruh kami mengerjakannya.’”)

Maka Allah berfirman, menolak pernyataan mereka tersebut: qul (“Katakanlah”) hai Muhammad, kepada orang yang mengaku demikian; innallaaHa laa ya’muru bil fahsyaa-i (“Sesungguhnya Allah tidak menyuruh [mengerjakan] perbuatan yang keji.”) Maksudnya, apa yang kalian perbuat itu merupakan perbuatan keji dan munkar sedangkan Allah sama sekali tidak menyuruh yang demikian itu.

Ataquuluuna ‘alallaaHi maa laa ta’lamuun (“Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?”) Maksudnya, mengapa kalian menisbatkan kepada Allah Ta’ala berbagai ucapan yang kalian tidak mengetahui kebenarannya.

Dan firman-Nya: qul amara rabbii bil qisthi (“Katakanlah: ‘Rabbku menyuruhku menjalankan keadilan.”) Maksudnya, dengan keadilan dan istiqamah.
Wa aqiimuu wujuuHakum ‘inda kulli masjidiw wad’uuHu mukhlishiina laHud diina (“Luruskanlah mukamu pada setiap shalat dan beribadahlah kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu
kepada-Nya.”) Maksudnya, Allah memerintah kalian untuk beristiqamah dalam beribadah kepada-Nya sesuai dengan porsinya, yaitu dengan bermutaba’ah (mengikuti) apa yang dibawa para Rasul yang telah diperkuat dengan berbagai macam mukjizat, dalam menyampaikan risalah dan syariat dari Allah, serta dengan tulus ikhlas dalam beribadah kepada-Nya. Sebab sesungguhnya Allah tidak akan menerima suatu amal sehingga kedua hal tersebut (mutaba’ah dan ikhlas) menyatu di dalamnya, benar sesuai dengan syari’at dan bersih dari segala macam kemusyrikan.

Firman Allah selanjutnya: kamaa bada-akum ta’uuduuna fariiqan Hadaa wa fariiqan ‘alaiHimudl dlalaalata (“Sebagaimana Allah telah menciptakanmu pada permulaan, [demikian pula] kamu akan kembali kepada-Nya. Sebagian Allah berikan petunjuk dan sebagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka.”) Para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai firman-Nya: kamaa bada-akum ta’uuduuna (“Sebagaimana Allah telah menciptakanmu pada permulaan, [demikian pula] kamu akan kembali kepada-Nya.”) Mujahid mengatakan: “Yaitu, Allah menghidupkan kalian setelah kematian kalian.”

Abdurrahman bin Zaid bin Aslam mengatakan: “Sebagaimana Allah telah menciptakan kalian pada permulaan, maka demikian juga Allah akan mengembalikan kalian pada akhimya.” Pendapat yang ini pun menjadi pilihan Abu Ja’far bin Jarir. Hal itu diperkuat dengan hadits yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, di mana ia berkata: “Rasulullah pernah memberikan nasihat kepada kami, di mana beliau bersabda:
“Hai sekalian manusia, kalian akan dikumpulkan menghadap Allah dalam keadaan tanpa alas kaki dan telanjang bulat, serta tidak terkhitan; kamaa bada’naa awwala khalqin nu’iiduHu wa’dan ‘alainaa innaa kunnaa faa’iliin (“Sebagaimana Kami jadikan pada awal mulanya, maka seperti itu pula Kami mengembalikannya, sebagai janji Kami. Sesungguhnya Kami akan melaksanakan.”)” (HR. Al-Bukhari dan Muslim; Hadits tersebut di atas dikeluarkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim.)

Mengenai firman Allah: kamaa bada-akum ta’uuduuna fariiqan Hadaa wa fariiqan ‘alaiHimudl dlalaalata (“Sebagaimana Allah telah menciptakanmu pada permulaan, [demikian pula] kamu akan kembali kepada-Nya. Sebagian Allah berikan petunjuk dan sebagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka.”) ‘Ali bin Abi Thalhah mengatakan dari Ibnu’Abbas, ia berkata: “Sesungguhnya Allah telah memulai penciptaan anak cucu Adam dalam keadaan mukmin dan kafir, Sebagaimana yang difirmankan-Nya yang artinya: “Allahlah yang menciptakanmu, maka di antaramu ada yang kafir dan di antaramu ada yang beriman.” (QS. At-Taghaabun: 2)

Kemudian Allah akan mengembalikan mereka pada hari Kiamat kelak, sebagaimana Allah telah menciptakan mereka pada awal permulaan, ada yang kafir dan ada pula yang mukmin.”
Aku (Ibnu Katsir) mengatakan: “Pendapat tersebut diperkuat dengan hadits Ibnu Mas’ud yang disebutkan dalam kitab Shabib al-Bukhari, di mana Rasulullah saw. bersabda:

“Demi Dzat yang tiada Ilah (yang berhak untuk diibadahi) selain Dia. Sesungguhnya salah seorang di antara kalian mengerjakan amal penghuni Surga, sehingga antara dirinya dengan Surga hanya berjarak satu hasta -atau satu depa-. Lalu ketetapan takdir mendahuluinya, maka ia mengerjakan amal penghuni Neraka dan akhirnya ia masuk ke dalamnya. Dan sesungguhnya salah seorang di antara kalian akan mengerjakan amal penghuni Neraka, sehingga antara dirinya dengan Neraka itu hanya berjarak satu hasta -atau satu depa-, lalu ketetapan takdir mendahuluinya, maka ia mengerjakan amal penghuni Surga dan akhirnya ia pun masuk Surga.” (HR. Al-Bukhari)

Dari Jabir, dari Nabi saw. beliau bersabda:
“Setiap jiwa akan dibangkitkan sesuai dengan keadaannya ketika mati.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Ibnu Majah. Hadits senada juga diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas.)

Aku (Ibnu Katsir) berkata: Hal tersebut diperkuat juga dengan hadits Ibnu Mas’ud. Dan merupakan suatu keharusan untuk menyatukan antara pendapat tersebut di atas -jika hal itu yang dimaksudkan oleh ayat tersebut- dengan firman Allah Ta’ala berikut ini yang artinya: “Maka hadapkanlah wajah kalian dengan lurus kepada agama Allah. (Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.” (QS. Ar-Ruum: 30)

Dan juga dengan hadits yang disebutkan dalam ash-Shahihain (kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim) yang diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah telah bersabda:
“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah (Islam). Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani dan Majusi.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Juga hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, dari Iyadh bin Himar, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: ‘Sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hamba-
Ku dalam keadaan hanif (lurus/Islam), lalu datang syaitan kepada mereka dan mengalihkan mereka dari agama mereka” (HR. Muslim)

Bentuk penyatuan untuk hal di atas adalah, bahwa Allah Ta’ala telah menciptakan mereka supaya di antara mereka ada yang mukmin dan ada pula yang kafir, meskipun Allah telah menciptakan mereka secara keseluruhan di atas ma’rifah (mengenal kepada-Nya), mentauhidkan-Nya dan pengetahuan, bahwasanya tidak ada Ilah (yang berhak untuk diibadahi) selain Dia. Sebagaimana Allah telah mengambil perjanjian dalam sulbi bapak-bapak mereka mengenai hal itu dan menjadikannya dalam tabi’at dan fitrah mereka. Dan bersama itu pula, Allah menetapkan bahwa di antara mereka ada yang bahagia dan ada Pula yang sengsara;

“Allahlah yang menciptakanmu, maka di antaramu ada yang kafir dan di antaramu ada yang beriman.” (QS. At-Taghaabun: 2)

Dan dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: “Semua manusia berangkat pagi hari dan menjual dirinya, maka ia akan memerdekakannya atau membinasakannya.” (HR. Muslim)

Maka takdir Allah itu berlaku bagi seluruh umat manusia, sebab sesungguhnya Dialah; “Yang telah menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk.” (QS. Al-A’laa: 3). Dan:
“Yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian Allah memberinya petunjuk.” (QS. Thaahaa: 50)

Dalam ash-Shahihain (kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim) juga disebutkan sebuah hadits, di mana Rasulullah bersabda:
“Adapun barangsiapa di antara kalian yang termasuk golongan orang-orang berbahagia, maka ia akan dimudahkan untuk mengerjakan amal perbuatan orang-orang yang berbahagia. Dan barangsiapa yang termasuk golongan orang-orang celaka, maka ia akan dimudahkan untuk mengerjakan amal perbuatan orang-orang yang celaka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Oleh karena itu, Allah berfirman: fariiqan Hadaa wa fariiqan ‘alaiHimudl dlalaalata (“Sebagian Allah berikan petunjuk dan sebagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka.”) Kemudian Allah memberikan penjelasan mengenai hal itu seraya berfirman: innaHumut takhadzusy syayaathiina auliyaa-a min duunillaaHi… (“Sesungguhnya mereka menjadikan syaitan-syaitan sebagai pelindung mereka selain Allah…”)

Ibnu Jarir mengatakan, “Yang demikian itu merupakan dalil yang paling jelas yang menunjukkan kesalahan orang yang menyangka, bahwa Allah tidak akan mengadzab seseorang atas kemaksiatan yang dilakukannya, atau kesesatan yang diyakininya, kecuali setelah mengetahui yang benar, lalu dia melakukan kemaksiatan itu untuk menentang kehendak Allah. Sebab jika demikian keadaannya, maka berarti tidak ada bedanya antara kelompok yang sesat yang mengira mendapat petunjuk, dengan kelompok yang mendapat petunjuk. Padahal Allah telah membedakan antara nama-nama dan hukum-hukum keduanya di dalam ayat mi.

bersambung

Iklan

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yunus ayat 28-30

5 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Yunus
Surah Makkiyyah; surah ke 10: 109 ayat

tulisan arab alquran surat yunus ayat 28-30“[Ingatlah] suatu hari [ketika itu] Kami mengumpulkan mereka semua, kemudian Kami berkata kepada orang-orang yang mempersekutukan [Allah]: ‘Tetaplah kamu dan sekutu-sekutumu di tempat itu.’ Lalu Kami pisahkan mereka dan berkatalah sekutu-sekutu itu: ‘Kamu sekali-sekali tidak pernah beribadah kepada kami. (QS. 10:28) Dan cukuplah Allah menjadi saksi antara kami dan kamu, bahwa kami tidak tahu menahu tentang peribadatan kamu (kepada kami).’ (QS. 10:29) Di tempat itu (padang Mahsyar), tiap-tiap diri merasakan pembalasan dari apa yang telah dikerjakannya dahulu dan mereka dikembalikan kepada Allah Pelindung mereka yang sebenarnya dan lenyaplah dari mereka apa yang mereka ada-adakan. (QS. 10: 30)” (Yunus: 28-30)

Firman Allah: wa yauma nahsyuruHum (“[Ingatlah] suatu hari [ketika itu] Kami mengumpulkan mereka semua.”) Maksudnya, penduduk bumi seluruhnya dari golongan jin dan manusia yang baik dan yang jahat, sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Dan Kami kumpulkan seluruh manusia, dan tidak kami tinggalkan satu pun dari mereka.” (QS. Al-Kahfi: 47)

Tsumma naquulu lilladiina asy-rakuu (“Kemudian Kami berkata kepada orang-orang yang mempersekutukan Allah…”). Maksudnya, tetaplah kamu tempatmu dan untuk mereka ada tempat tersendiri yang berbeda dengan tempat orang-orang mukmin, sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Dan (dikatakan kepada orang orang kafir): ‘Berpisahlah kamu dari orang-orang mukmin pada hari ini hai orang-orang yang berbuat jahat.” (QS. Yaasiin: 59)

Hal ini terjadi ketika Rabb Tabaraka wa Ta’ala datang untuk memutuskan hukuman. Dan Allah berfirman dalam ayat yang mulia ini, member kabar tentang apa yang diperintahkan kepada orang-orang musyrik dan patung-patung mereka pada hari Kiamat.
Makaanakum antum wa syurakaa-ukum fazayyalnaa bainaHum.. (“Tetaplah kamu dan sekutu-sekutumu di tempat itu,’ lalu Kami pisahkan mereka.”)
Sesungguhnya sekutu-sekutu itu mengingkari peribadahan mereka dan berlepas diri dari mereka, sebagaimana firman-Nya: “Sekali-sekali tidak, kelak mereka [ilah-ilah] itu akan mengingkari peribadahan [pengikut-pengikutnya] terhadapnya.” (QS. Maryam: 82)

Firman-Nya dalam ayat ini memberi kabar tentang ucapan ilah-ilah itu, hal yang mereka sanggah terhadap penyembah-penyembahnya ketika mereka mengaku menyembahnya. Fa kafaa billaaHi syahiidam bainanaa wa bainakum (“Dan cukuplah Allah menjadi saksi antara kami dengan kamu.”) Maksudnya, kami tidak merasa dan tidak mengetahui adanya peribadahan, akan tetapi kamu beribadah kepada kami, sedangkan kami tidak tahu menahu denganmu dan Allah adalah saksi antara kami dan kamu, kami tidak mengajakmu untuk beribadah kepada kami, kami tidak pula menyuruhmu dan kami pun tidak rela untuk itu.

Disinilah celaan yang besar bagi kaum musyrikin yang beribadah kepada Allah beserta ilah yang lainnya, berupa sesuatu yang tidak dapat mendengar, tidak melihat dan tidak ada manfaatnya sama sekali dan tidak memerintahkan mereka, tidak ridha dan tidak butuh untuk itu semua, bahkan mereka membebaskan dirinya di saat penyembah-penyembahnya membutuhkannya.

Mereka telah meninggalkan ibadah kepada Dzat Yang Mahahidup, Yang berdiri sendiri, Yang Mahamendengar, Yang Mahamelihat, Yang Mahakuasa dan Yang Mahamengetahui segala sesuatu. Allah telah mengutus para Rasul-Nya dan menurunkan Kitab-Kitab-Nya seraya memerintahkan untuk beribadah kepada-Nya yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan beribadah kepada yang lain-Nya, sebagaimana Allah berfirman:
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus pada tiap-tiap umat seorang Rasul (untuk menyerukan): `Beribadahlah kepada Allah (saja), dan jauhilah tbaghut itu.’ maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya.” (An-Nahl: 36)

Orang-orang musyrik itu bermacam-macam dan banyak kelompoknya. Allah telah menyebutkannya dalam Kitab-Nya, telah menerangkan perilaku dan ucapan mereka dan Allah telah membantah pemahaman mereka dengan sebaik-baik bantahan.

Firman Allah Ta’ala: Hunaalika tabluu kullu nafsim maa aslafat (“Di tempat itu [padang mahsyar] tiap-tiap diri merasakan pembalasan dari apa yang telah dikerjakan dahulu.”) Maksudnya, di tempat hisab pada hari Kiamat, tiap-tiap diri dan dia mengetahui apa yang telah dikerjakan dahulu, dari kebaikan dan kejahatan, sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Pada hari dinampakkan segala rahasia.” (QS. Ath-Thaariq: 9)

Firman Allah Ta’ala: wa rudduu ilallaaHi maulaa Humul haqqi (“Dan mereka dikembalikan kepada Allah Pelindung mereka yang sebenarnya.”) Maksudnya, semua urusan dikembalikan kepada Allah, Hakim Yang Adil, mengadili semua urusan dan memasukkan ahli surga ke surga dan ahli neraka ke neraka.

Wa dlalla ‘anHum (“Dan lenyaplah dari mereka.”) Maksudnya, hilang dari orang-orang musyrik itu. Maa kaanuu yaftaruun (“Apa yang mereka ada-adakan”) maksudnya apa yang dahulu mereka ibadahi selain Allah karena mengada-ada.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Huud ayat 28

28 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Huud
Surah Makkiyyah; surah ke 11: 123 ayat

tulisan arab alquran surat huud ayat 28“Berkata Nuh: ‘Hai kaumku, bagaimana pikiranmu, jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Rabbku, dan diberinya aku rahmat dari sisi-Nya, tetapi rahmat itu disamarkan bagimu. Apa akan kami paksakankah kamu menerimanya, padahal kamu tiada menyukainya.” (QS. Huud: 28)

Allah berfirman seraya menceritakan tentang tanggapan Nabi Nuh as. terhadap kaumnya. Dimana ia mengatakan: ara-aitum in kuntu ‘alaa bayyinatim mir rabbii (“Bagaimana pendapat kalian, jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Rabbku.”) Maksudnya, berdasarkan keyakinan dan perintah yang jelas, serta kenabian yang benar, yang mana hal itu merupakan rahmat dari Allah , baginya dan juga bagi mereka.

Fa ‘ummiyat ‘alaikum (“Tetapi rahmat itu disamarkan bagi kalian.”) Maksudnya, disembunyikan dari kalian, sehingga kalian tidak mendapat petunjuk kepadanya dan tidak juga kalian mengetahui nilainya, bahkan kalian cepat-cepat mendustakannya.

A nulzimukumuuHaa (“Apa akan kami paksakan kalian menerimanya?”) Artinya, apakah kami harus mendesak kalian untuk menerima, sedang kalian tidak menyukainya?

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ibrahim ayat 28-30

24 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Ibrahim
Surah Makkiyyah; surah ke 14: 52 ayat

tulisan arab alquran surat ibrahim ayat 28-30“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan, (QS. 14:28) yaitu neraka Jahannam, mereka masuk ke dalamnya dan itulah seburuk-buruknya tempat kediaman. (QS. 14:29) Orang-orang kafir itu telah menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah supaya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: ‘Bersenang-senanglah kamu karena sesungguhnya tempat kembalimu ialah neraka.’ (QS. 14:30)” (QS. Ibrahim: 28-30)

Imam al-Bukhari mengatakan: “Firman Allah: alam tara ilal ladziina baddaluu ni’matallaaHi kufran (“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran.”) artinya tidakkah kau tahu, seperti firman-Nya: alam tara kaifa (“Tidakkah kamu tahu bagaimana.”) dan: alam tara ilal ladziina kharajuu (“Tidakkah kamu tahu orang-orang yang keluar.”)

Al bawaar adalah kehancuran/ kebinasaan, qaumam buuran artinya kaum yang hancur binasa.

Ali bin Abdillah meriwayatkan kepada kami dari ‘Atha’ ia mendengar Ibnu `Abbas, tentang firman Allah: alam tara ilal ladziina baddaluu ni’matallaaHi kufran (“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran.”) ia berkata: “Mereka itu adalah kaum kafir Makkah.” Sedang al-‘Aufi meriwayatkan dari Ibnu `Abbas tentang ayat ini, bahwa dia adalah Jabalah Ibnul Aiham dan orang-orang Arab yang mengikutinya yang kemudian bergabung dengan orang-orang Romawi.

Pendapat Ibnu `Abbas yang masyhur dan benar adalah pendapat yang pertama, sekalipun maknanya umum yang mencakup semua orang kafir, karena Allah mengutus Muhammad sebagai rahmat bagi seluruh alam dan sebagai nikmat bagi manusia. Barangsiapa yang menerima dan mensyukurinya, dia pasti masuk surga. Dan barangsiapa menolak dan mengingkarinya, pasti masuk neraka. Diriwayatkan pula dari `Ali seperti pendapat Ibnu `Abbas yang pertama. Adapun yang dimaksud dengan lembah kebinasaan adalah Jahannam.

Firman Allah: wa ja’aluu lillaaHi andadal liyudlilluu ‘an sabiilillaaHi (“Orang-orang kafir itu telah menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah supaya mereka menyesatkan [manusia] dari jalan-Nya.”) Maksudnya, mereka menjadikan sekutu-sekutu yang mereka sembah bersama Allah dan menyeru manusia untuk berbuat seperti itu.

Kemudian Allah berfirman dan mengancam mereka melalui lisan Rasulullah saw.: qul tamatta’uu fa inna mashiirakum ilan naari (“Katakanlah: ‘Bersenang-senanglah kamu karena sesungguhnya teriapat kembalimu adalah neraka.’”) Maksudnya, apa pun yang kalian mampu di dunia ini lakukanlah, karena apa pun yang kalian lakukan, maka akhirnya tempat kembali kalian adalah neraka, seperti firman Allah: “Kami beri sedikit kesenangan, kemuan Kami paksa mereka masuk kepada siksa yang keras (berat).” (QS. Luqman: 24)

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hijr ayat 28-33

22 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hijr
Surah Makkiyyah; surah ke 15:99 ayat

tulisan arab alquran surat al hijr ayat 28-33“28. dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk, 29. Maka apabila aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, Maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. 30. Maka bersujudlah Para Malaikat itu semuanya bersama-sama, 31. kecuali iblis. ia enggan ikut besama-sama (malaikat) yang sujud itu. 32. Allah berfirman: “Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu?” 33. berkata Iblis: “Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk” (al-Hijr: 28-33)

Allah menyebutkkan isyarat-Nya dengan menyebutkan Adam di tengah-tengah para malaikat sebelum diciptakannya, dan Allah memberikan kemuliaan kepada Adam dengan memerintahkan Malaikat supaya bersujud kepadanya. Dan menyebutkan keengganan iblis, musuh Adam, bersujud di antara malaikat, disebabkan rasa dengki, kufur/ingkar, keras kepala, sombong dan membanggakan kebathilan. Karena itu iblis berkata: lam akul li asjuda libasyarin khalaqtaHuu min shalshaalim min hama-im masnuun (“Aku sekali-sekali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering [yang berasal] dari tanah lumpur yang diberi bentuk.”) sebagaimana ia berkata: “Aku lebih baik daripadanya, Engkau ciptakan aku dari api dan menciptakan dia dari tanah.” (al-A’raaf: 12)

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nahl ayat 28-29

16 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nahl (Lebah)
Surah Makkiyyah; surah ke 16: 128 ayat

tulisan arab alquran surat an nahl ayat 28-29“(Yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para Malaikat dalam keadaan berbuat dhalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata); ‘Kami sekali-kali tidak mengerjakan suatu kejahatan pun.’ (Malaikat menjawab): ‘Ada, sesungguhnya Allah Mahamengetahui apa yang telah kamu kerjakan.’ (QS. 16:28) Maka masukilah pintu pintu neraka Jahannam, kamu kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri itu. (QS. 16:29)” (an-Nahl: 28-29)

Allah memberi khabar tentang keadaan orang-orang musyrik yang menganiaya diri mereka sendiri, ketika mereka kedatangan Malaikat untuk mencabut ruh-ruh mereka yang jahat: fa alqawus salama (“Mereka menyerah diri [sambil berkata]:”) maksudnya, mereka menampakkan bahwa mereka mendengar, taat, tunduk sambil berkata: maa kunna na’malu min suu-in (“Kami sekali-kali tidak mengerjakan sesuatu kejahatan pun.”) seperti apa yang mereka katakan pada hari Kiamat: “Demi Allah Rabb kami, tiadalah kami mempersekutukan Allah.” (QS. Al-An’aam: 23)

Allah berfirman seraya menolak perkataan mereka itu: balaa innallaaHa ‘aliimum bimaa kuntum ta’maluuna. Fad-khuluu abwaaba jaHannama khaalidiina fiiHaa falabi’sal matswal mutakabbiriin (“Ada, sesungguhnya Allah Mahamengetahui apa yang telah kamu kerjakan, maka masukilah pintu-pintu neraka jahannam, kamu kekal di dalamnya maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri itu,”) maksudnya, alangkah buruknya perkataan, kedudukan dan tempat, dari rumah yang hina untuk orang-orang yang menyombongkan diri dari ayat-ayat Allah, dan dari mengikuti para utusan-Nya.

Dan mereka itu masuk neraka jahannam sejak hari kematian mereka dengan ruh-ruh mereka, dan jasad-jasad mereka mendapatkannya di dalam kubur mereka, panasnya Jahannam dan getirnya. Kemudian pada hari Kiamat, ruh-ruh mereka menyatu dengan jasad-jasad mereka dan kekal abadi di neraka Jahannam.

“Mereka tidak dibinasakan sehingga mereka mati dan tidak (pula) diringankan dari mereka adzab-Nya.” (QS. Faathir: 36)

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Israa’ Ayat 26-28

13 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Israa’
(Memperjalankan di Malam Hari)
Surah Makkiyyah; surah ke 17: 111 ayat

tulisan arab alquran surat al israa ayat 26-28“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. (QS. 17:26) Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya. (QS. 17:27) Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Rabbmu yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas. (QS. 17:28)” (al-Israa’: 26-28)

Setelah Allah menceritakan tentang birrul waalidain (berbakti kepada kedua orang tua), Dia langsung menyambungnya dengan menceritakan tentang berbuat baik kepada kaum kerabat dan tali silaturahmi.

Dalam sebuah hadits disebutkan, bahwa Rasulullah pernah bersabda: “Barangsiapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya), maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Wallahu a’lam.

Sebelumnya telah dikemukakan perbincangan tentang orang-orang miskin dan ibnus sabiil (orang dalam perjalanan jauh), yakni di surat at-Taubah, sehingga tidak perlu mengulanginya kembali di sini.

Dan firman Allah Ta’ala: walaa tubadzdzir tabdziiran (“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan [hartamu] secara boros.”) Setelah menyuruh mengeluarkan infak, Allah Ta’ala melarang berlebih-lebihan dalam berinfak, dan menyuruh melakukannya secara seimbang/pertengahan.

Dengan (perintah untuk) menjauhi tindakan mubadzir dan berlebih-lebihan, Allah berfirman: innal mubadzdziriina kaanuu ikhwaanasy syayaathiina (“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.”) Yakni, dalam hal itu, mereka menjadi orang yang serupa dengan syaitan.

Ibnu Mas’ud mengatakan: “Tabdzir ialah infak yang tidak pada tempatnya.” Demikian pula yang dikemukakan oleh Ibnu `Abbas.
Mujahid mengatakan: “Seandainya seseorang menginfakkan hartanya secara keseluruhan menurut haknya, maka ia tidak dikategorikan sebagai pemboros. Dan jika ia menginfakkan satu mud (satu genggam) tetapi tidak sesuai dengan haknya, maka ia termasuk sebagai pemboros.”
Sedangkan Qatadah mengatakan: “Tabdzir ialah, menginfakkan harta dalam maksiat kepada Allah, dalam jalan yang tidak benar dan untuk kerusakan.”

Firman-Nya: innal mubadzdziriina kaanuu ikhwaanasy syayaathiina (“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.”) Yakni, saudara dalam keborosan, kebodohan, pengabaian terhadap ketaatan, dan kemaksiatan kepada Allah.

Oleh karena itu, Dia berfirman: wa kaanasy syaithaanu lirabbiHii kafuuran (“Dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya.”) Maksudnya, benar-benar ingkar, karena syaitan itu telah mengingkari nikmat Allah yang diberikan kepadanya dan sama sekali tidak mau berbuat taat kepada-Nya, bahkan ia cenderung durhaka kepada-Nya dan menyalahi-Nya.

Dan firman Allah Ta’ala: wa immaa ta’ridlanna ‘anHumubtighaa-a rahmatim mir rabbika (“Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Rabbmu.”) Maksudnya, jika kaum kerabatmu dan orang-orang yang Kami perintahkan kamu memberi mereka, mereka meminta kepadamu sedang kamu tidak mempunyai sesuatu pun, lalu kamu berpaling dari mereka karena tidak ada yang dapat dinafkahkan;
Faqul laHum qaulam maisuuran (“Maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas.”) Janjikan kepada dengan janji yang pantas dan lemah lembut, jika rizki Allah datang, niscaya kami akan menghubungi kalian, insya Allah.

Dernikianlah ia menafsirkan firman Allah Ta’ala: Faqul laHum qaulam maisuuran (“Maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas.”) yaitu dengan janji. Demikian dikatakan Mujahid, `Ikrimah, Sa’id bin Jubair, al-Hasan al-Bashri, Qatadah dan beberapa ulama lainnya.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nisaa’ ayat 26-28

5 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nisaa’ (Wanita)
Surah Madaniyyah; surah ke 4: 176 ayat

tulisan arab alquran surat an nisaa' ayat 26-28“Allah hendak menerangkan (hukum syari’at-Nya) kepadamu, dan menunjukimu kepada sunnah-sunnah orang yang sebelum kamu (para Nabi dan shaalihiin) dan (hendak) menerima taubatmu. Dan Allah Mahamengetahui lagi Mahabijaksana. (QS. 4:26) Dan Allah hendak menerima taubatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh jauhnya (dari kebenaran). (QS. 4:27) Allah bendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah. (QS. 4:28)” (an-Nisaa’: 26-28)

Allah mengabarkan bahwa Dia hendak menjelaskan bagi kalian hai orang-orang yang beriman, apa yang dihalalkan dan diharamkan untuk kalian sebagaimana yang telah disebutkan dalam surat ini dan surat-surat lainnya. Wa yaHdiyakum sunanal ladziina min qablikum (“Dan menunjukimu kepada sunah-sunah orang yang sebelum kamu.”) yaitu jalan-jalan mereka yang terpuji mengikuti syari’at yang dicintai dan diridhai-Nya. Wa yatuuba ‘alaikum (“dan hendak menerima taubatmu,”) dari dosa dan pelanggaran perkataan-perkataan-Nya.

Firman Allah: wa yuriidul ladziina yattaba’uunasy-syaHawaati an tamiiluu mailan ‘adhiiman (“Sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh jauhnya.”) Yaitu, para pendukung syaitan dari golongan Yahudi, Nasrani, dan para pezina bermaksud agar kalian berpaling dari kebenaran menuju kebathilan sejauh-jauhnya.

yuriidullaaHu ay yukhaffifa ‘ankum (“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu”) dalam syari’at, perintah-perintah, larangan-larangan dan ketentuan-ketentuan-Nya bagi kalian. Untuk itu, dibolehkan menikahi para budak wanita dengan beberapa syarat, sebagaimana kata Mujahid dan lain-lain.

Wa khuliqal insaanu dla’iifan (“Dan manusia dijadikan bersifat lemah.”) Keringanan itu sesuai dengan kelemahan diri manusia, tekad dan kemauannya. Ibnu Abi Hatim mengatakan dari Ibnu Thawus dari ayahnya, ia berkata tentang: Wa khuliqal insaanu dla’iifan (“Dan manusia dijadikan bersifat lemah.”) Yaitu, dalam urusan wanita. Waki’ berkata: “Akalnya (laki-laki) hilang ketika di sisi wanita.”

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 28

2 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan)
Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat

tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 28“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena [siasat] memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkanmu terhadap diri [siksa]-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali[mu.” (QS. 3:28)

Allah swt. melarang hamba-hamba-Nya yang beriman untuk mengangkat orang-orang kafir sebagai wali dan pemimpin dengan kecintaan kepada mereka dan mengabaikan orang-orang yang beriman. Selanjutnya Allah mengancam perbuatan itu seraya berfirman: wa may yaf’al dzaalika falaisa minallaaHi min syai-in (“Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah dari pertolongan Allah.”) Artinya, barangsiapa melanggar larangan Allah tersebut, maka ia benar-benar terlepas dari Allah, sebagaimana firman Allah yang artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin. Sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian lainnya. Barangsiapa di antara kamu menjadikan mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.” (QS. Al-Maa-idah: 51)
Sebagaimana Allah berfirman setelah menyebutkan loyalitas (kesetiaan antara) orang-orang mukmin dari kalangan Muhajirin, Anshar dan orang-orang Arab Badui, “Adapun orang-orang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (wahai kaum muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (QS. Al-Anfaal: 73)

Dan firman-Nya, illaa an tattaquu minHum tuqaatan (“Kecuali karena [siasat] memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka.”) Maksudnya, kecuali bagi orang yang berada di suatu negeri dan pada waktu tertentu, merasa takut terhadap kejahatan orang-orang kafir, maka baginya diperbolehkan bersiasat kepada mereka secara lahirnya raja, bukan secara bathin dan niatnya. Sebagaimana Imam al-Bukhari meriwayatkan dart Abud Darda’, ia berkata: “Sesungguhnya kami menampakkan wajah cerah kepada beberapa orang kafir, sedang hati kami melaknat mereka.”

Sedangkan ats-Tsauri mengatakan, Ibnu ‘Abbas berkata: “Taqiyyah (bersiasat dalam usaha melindungi diri) itu bukan dengan amal, melainkan dengan lisan.” Demikian pula diriwayatkan oleh al-‘Aufi dart Ibnu ‘Abbas bahwa taqiyyah itu dengan lisan.

Hal yang lama juga dikatakan Abul `Aliyah, Abu Sya’tsa’, adh-Dhahhak, dan ar-Rabi’ bin Anas. Pendapat mereka itu diperkuat oleh firman Allah, “Barangsiapa kafir kepada Allah sesudah ia beriman (mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir pedahal hatinya tetap tenang dalam keimanan (dia tidak berdosa).” (QS. An-Nisaa’: 106)

Imam al-Bukhari mengatakan, al-Hasan berkata: “Taqiyyah itu berlaku sampai hari Kiamat kelak.”

Setelah itu Dia berfirman, wa yuhadzdzirukumullaaHu nafsaHu (“Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya.”) Dengan kata lain, Allah memperingatkan kalian akan siksa-Nya di dalam penentangan terhadap-Nya dan adzab-Nya bagi orang-orang yang menjadikan musuh-Nya sebagai wali, dan memusuhi para wali-Nya. Selanjutnya Dia berfirman, wa ilallaaHil mashiir (“Dan hanya kepada Allah kembali(mu).” yaitu kepada-Nya tempat kembali untuk diberikan balasan bagi setiap orang atas amal yang diperbuatnya.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 28

9 Feb

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 28“Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (QS. 2:28)

Allah berfirman untuk menunjukkan keberadaan dan kekuasaan-Nya serta menegaskan bahwa Dialah Rabb Pencipta dan Pengatur hamba-hamba-Nya. Kaifa takfuruuna billaaHi (“Mengapa kamu kafir kepada Allah.”) Artinya, mengapa kamu merigingkari keberadaan-Nya atau menyekutukan-Nya dengan sesuatu. Wa kuntum amwaatan fa ahyaakum (“Padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidup kan kamu.”) Maksudnya, dahulu kamu tidak ada, lalu Dia mengeluarkan kamu ke alam wujud.

Ayat tersebut sama dengan firman Nya: “Ya Rabb kami, Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula).” (QS. Al-Mu’min: 11).

Mengenai firman Allah yang terakhir ini, dengan bersumber dari Ibnu Abbas, ad-Dhahhak mengatakan, “Dulu, sebelum Dia menciptakan kamu, kamu adalah tanah, dan inilah kematian. Kemudian Dia menghidupkan kamu sehingga terciptalah kamu, dan inilah kehidupan. Setelah itu Dia mematikan kamu kembali, sehingga kamu kembali ke alam kubur, dan itulah kematian yang kedua. Selanjutnya Dia akan membangkitkan kamu pada hari kiamat kelak, dan inilah kehidupan yang kedua.”

Demikian itulah dua kematian dan dua kehidupan. Dan itu merupakan pengertian firman-Nya tersebut: “Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal dahulu kamu mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali.”

&