Tag Archives: 30

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 28-30

12 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 28-30“Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata: ‘Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu dan Allah menyuruh kami mengerjakannya.’ Katakanlah: ‘Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji.’ Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui? (QS. 7:28) Katakanlah: ‘Rabbku menyuruh menjalankan keadilan.’ Dan (katakanlah): ‘Luruskan muka (diri)mu di setiap shalat dan beribadahlah kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya. Sebagaimana Allah telah menciptakanmu pada permulaan (demikian pulalah) kamu akan kembali kepada-Nya.’ (QS. 7:29) Sebahagian diberi-Nya petunjuk, dan sebahagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka. Sesungguhnya mereka menjadikan syaitan-syaitan pelindung (mereka) selain Allah dan mereka mengira bahwa mereka mendapatpetunjuk. (QS. 7:30)” (al-A’raaf: 28-30)

Saya (Ibnu Katsir) katakan, dahulu masyarakat Arab selain suku Quraisy, tidak mengerjakan thawaf di Baitullah dengan mengenakan pakaian yang sedang mereka kenakan. Mereka menakwilkan bahwa mereka tidak akan mengerjakan thawaf dengan mengenakan pakaian yang telah digunakan untuk bermaksiat kepada Allah. Sedangkan bangsa Quraisy, yang mereka adalah penduduk al-humus, mengerjakan thawaf dengan pakaian yang sedang dikenakannya.

Dan orang yang diberikan pinjaman pakaian oleh Ahmasi (seorang humus), maka ia pun berthawaf dengan memakai pakaian itu. Dan orang yang membawa pakaian baru, ia juga mengerjakan thawaf di sana, setelah itu melepaskannya kembali dan tidak boleh dimiliki oleh seorang pun.

(Dahulu orang Quraisy berwukuf di Muzdalifah dan mereka menamakannya al-Humus,-ed)

Dan barangsiapa yang tidak memiliki pakaian baru dan tidak juga diberikan pinjaman oleh Ahmasi, maka ia mengerjakan thawaf dengan telanjang. Bahkan terkadang juga wanita mengerjakan thawaf dengan telanjang, hanya dengan memberikan sedikit penutup pada bagian kemaluannya guna menutupi sebagaiannya saja seraya mengatakan:
“Pada hari ini tampaklah sebagian atau seluruhnya.
Dan apa yang tampak darinya, maka aku tidak menghalalkannya.”

Kebanyakan wanita mengerjakan thawaf dalam keadaan telanjang pada malam hari. Yang demikian itu adalah sesuatu yang mereka buat-buat sendiri dan hanya mengikuti nenek moyang mereka. Dan mereka berkeyakinan bahwa apa yang dikerjakan oleh nenek moyang mereka itu bersandar kepada perintah dan syari’at dari Allah.

Maka Allah Ta’ ala pun mengingkari keyakinan mereka itu, di mana Allah berfirman: wa idzaa fa’aluu faahisatan qaaluu wajanaa ‘alaiHaa aabaa-anaa wallaaHu amaranaa biHaa (“Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata: ‘Kami mendapatkan nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu dan Allah menyuruh kami mengerjakannya.’”)

Maka Allah berfirman, menolak pernyataan mereka tersebut: qul (“Katakanlah”) hai Muhammad, kepada orang yang mengaku demikian; innallaaHa laa ya’muru bil fahsyaa-i (“Sesungguhnya Allah tidak menyuruh [mengerjakan] perbuatan yang keji.”) Maksudnya, apa yang kalian perbuat itu merupakan perbuatan keji dan munkar sedangkan Allah sama sekali tidak menyuruh yang demikian itu.

Ataquuluuna ‘alallaaHi maa laa ta’lamuun (“Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?”) Maksudnya, mengapa kalian menisbatkan kepada Allah Ta’ala berbagai ucapan yang kalian tidak mengetahui kebenarannya.

Dan firman-Nya: qul amara rabbii bil qisthi (“Katakanlah: ‘Rabbku menyuruhku menjalankan keadilan.”) Maksudnya, dengan keadilan dan istiqamah.
Wa aqiimuu wujuuHakum ‘inda kulli masjidiw wad’uuHu mukhlishiina laHud diina (“Luruskanlah mukamu pada setiap shalat dan beribadahlah kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu
kepada-Nya.”) Maksudnya, Allah memerintah kalian untuk beristiqamah dalam beribadah kepada-Nya sesuai dengan porsinya, yaitu dengan bermutaba’ah (mengikuti) apa yang dibawa para Rasul yang telah diperkuat dengan berbagai macam mukjizat, dalam menyampaikan risalah dan syariat dari Allah, serta dengan tulus ikhlas dalam beribadah kepada-Nya. Sebab sesungguhnya Allah tidak akan menerima suatu amal sehingga kedua hal tersebut (mutaba’ah dan ikhlas) menyatu di dalamnya, benar sesuai dengan syari’at dan bersih dari segala macam kemusyrikan.

Firman Allah selanjutnya: kamaa bada-akum ta’uuduuna fariiqan Hadaa wa fariiqan ‘alaiHimudl dlalaalata (“Sebagaimana Allah telah menciptakanmu pada permulaan, [demikian pula] kamu akan kembali kepada-Nya. Sebagian Allah berikan petunjuk dan sebagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka.”) Para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai firman-Nya: kamaa bada-akum ta’uuduuna (“Sebagaimana Allah telah menciptakanmu pada permulaan, [demikian pula] kamu akan kembali kepada-Nya.”) Mujahid mengatakan: “Yaitu, Allah menghidupkan kalian setelah kematian kalian.”

Abdurrahman bin Zaid bin Aslam mengatakan: “Sebagaimana Allah telah menciptakan kalian pada permulaan, maka demikian juga Allah akan mengembalikan kalian pada akhimya.” Pendapat yang ini pun menjadi pilihan Abu Ja’far bin Jarir. Hal itu diperkuat dengan hadits yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, di mana ia berkata: “Rasulullah pernah memberikan nasihat kepada kami, di mana beliau bersabda:
“Hai sekalian manusia, kalian akan dikumpulkan menghadap Allah dalam keadaan tanpa alas kaki dan telanjang bulat, serta tidak terkhitan; kamaa bada’naa awwala khalqin nu’iiduHu wa’dan ‘alainaa innaa kunnaa faa’iliin (“Sebagaimana Kami jadikan pada awal mulanya, maka seperti itu pula Kami mengembalikannya, sebagai janji Kami. Sesungguhnya Kami akan melaksanakan.”)” (HR. Al-Bukhari dan Muslim; Hadits tersebut di atas dikeluarkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim.)

Mengenai firman Allah: kamaa bada-akum ta’uuduuna fariiqan Hadaa wa fariiqan ‘alaiHimudl dlalaalata (“Sebagaimana Allah telah menciptakanmu pada permulaan, [demikian pula] kamu akan kembali kepada-Nya. Sebagian Allah berikan petunjuk dan sebagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka.”) ‘Ali bin Abi Thalhah mengatakan dari Ibnu’Abbas, ia berkata: “Sesungguhnya Allah telah memulai penciptaan anak cucu Adam dalam keadaan mukmin dan kafir, Sebagaimana yang difirmankan-Nya yang artinya: “Allahlah yang menciptakanmu, maka di antaramu ada yang kafir dan di antaramu ada yang beriman.” (QS. At-Taghaabun: 2)

Kemudian Allah akan mengembalikan mereka pada hari Kiamat kelak, sebagaimana Allah telah menciptakan mereka pada awal permulaan, ada yang kafir dan ada pula yang mukmin.”
Aku (Ibnu Katsir) mengatakan: “Pendapat tersebut diperkuat dengan hadits Ibnu Mas’ud yang disebutkan dalam kitab Shabib al-Bukhari, di mana Rasulullah saw. bersabda:

“Demi Dzat yang tiada Ilah (yang berhak untuk diibadahi) selain Dia. Sesungguhnya salah seorang di antara kalian mengerjakan amal penghuni Surga, sehingga antara dirinya dengan Surga hanya berjarak satu hasta -atau satu depa-. Lalu ketetapan takdir mendahuluinya, maka ia mengerjakan amal penghuni Neraka dan akhirnya ia masuk ke dalamnya. Dan sesungguhnya salah seorang di antara kalian akan mengerjakan amal penghuni Neraka, sehingga antara dirinya dengan Neraka itu hanya berjarak satu hasta -atau satu depa-, lalu ketetapan takdir mendahuluinya, maka ia mengerjakan amal penghuni Surga dan akhirnya ia pun masuk Surga.” (HR. Al-Bukhari)

Dari Jabir, dari Nabi saw. beliau bersabda:
“Setiap jiwa akan dibangkitkan sesuai dengan keadaannya ketika mati.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Ibnu Majah. Hadits senada juga diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas.)

Aku (Ibnu Katsir) berkata: Hal tersebut diperkuat juga dengan hadits Ibnu Mas’ud. Dan merupakan suatu keharusan untuk menyatukan antara pendapat tersebut di atas -jika hal itu yang dimaksudkan oleh ayat tersebut- dengan firman Allah Ta’ala berikut ini yang artinya: “Maka hadapkanlah wajah kalian dengan lurus kepada agama Allah. (Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.” (QS. Ar-Ruum: 30)

Dan juga dengan hadits yang disebutkan dalam ash-Shahihain (kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim) yang diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah telah bersabda:
“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah (Islam). Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani dan Majusi.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Juga hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, dari Iyadh bin Himar, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: ‘Sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hamba-
Ku dalam keadaan hanif (lurus/Islam), lalu datang syaitan kepada mereka dan mengalihkan mereka dari agama mereka” (HR. Muslim)

Bentuk penyatuan untuk hal di atas adalah, bahwa Allah Ta’ala telah menciptakan mereka supaya di antara mereka ada yang mukmin dan ada pula yang kafir, meskipun Allah telah menciptakan mereka secara keseluruhan di atas ma’rifah (mengenal kepada-Nya), mentauhidkan-Nya dan pengetahuan, bahwasanya tidak ada Ilah (yang berhak untuk diibadahi) selain Dia. Sebagaimana Allah telah mengambil perjanjian dalam sulbi bapak-bapak mereka mengenai hal itu dan menjadikannya dalam tabi’at dan fitrah mereka. Dan bersama itu pula, Allah menetapkan bahwa di antara mereka ada yang bahagia dan ada Pula yang sengsara;

“Allahlah yang menciptakanmu, maka di antaramu ada yang kafir dan di antaramu ada yang beriman.” (QS. At-Taghaabun: 2)

Dan dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: “Semua manusia berangkat pagi hari dan menjual dirinya, maka ia akan memerdekakannya atau membinasakannya.” (HR. Muslim)

Maka takdir Allah itu berlaku bagi seluruh umat manusia, sebab sesungguhnya Dialah; “Yang telah menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk.” (QS. Al-A’laa: 3). Dan:
“Yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian Allah memberinya petunjuk.” (QS. Thaahaa: 50)

Dalam ash-Shahihain (kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim) juga disebutkan sebuah hadits, di mana Rasulullah bersabda:
“Adapun barangsiapa di antara kalian yang termasuk golongan orang-orang berbahagia, maka ia akan dimudahkan untuk mengerjakan amal perbuatan orang-orang yang berbahagia. Dan barangsiapa yang termasuk golongan orang-orang celaka, maka ia akan dimudahkan untuk mengerjakan amal perbuatan orang-orang yang celaka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Oleh karena itu, Allah berfirman: fariiqan Hadaa wa fariiqan ‘alaiHimudl dlalaalata (“Sebagian Allah berikan petunjuk dan sebagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka.”) Kemudian Allah memberikan penjelasan mengenai hal itu seraya berfirman: innaHumut takhadzusy syayaathiina auliyaa-a min duunillaaHi… (“Sesungguhnya mereka menjadikan syaitan-syaitan sebagai pelindung mereka selain Allah…”)

Ibnu Jarir mengatakan, “Yang demikian itu merupakan dalil yang paling jelas yang menunjukkan kesalahan orang yang menyangka, bahwa Allah tidak akan mengadzab seseorang atas kemaksiatan yang dilakukannya, atau kesesatan yang diyakininya, kecuali setelah mengetahui yang benar, lalu dia melakukan kemaksiatan itu untuk menentang kehendak Allah. Sebab jika demikian keadaannya, maka berarti tidak ada bedanya antara kelompok yang sesat yang mengira mendapat petunjuk, dengan kelompok yang mendapat petunjuk. Padahal Allah telah membedakan antara nama-nama dan hukum-hukum keduanya di dalam ayat mi.

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yunus ayat 28-30

5 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Yunus
Surah Makkiyyah; surah ke 10: 109 ayat

tulisan arab alquran surat yunus ayat 28-30“[Ingatlah] suatu hari [ketika itu] Kami mengumpulkan mereka semua, kemudian Kami berkata kepada orang-orang yang mempersekutukan [Allah]: ‘Tetaplah kamu dan sekutu-sekutumu di tempat itu.’ Lalu Kami pisahkan mereka dan berkatalah sekutu-sekutu itu: ‘Kamu sekali-sekali tidak pernah beribadah kepada kami. (QS. 10:28) Dan cukuplah Allah menjadi saksi antara kami dan kamu, bahwa kami tidak tahu menahu tentang peribadatan kamu (kepada kami).’ (QS. 10:29) Di tempat itu (padang Mahsyar), tiap-tiap diri merasakan pembalasan dari apa yang telah dikerjakannya dahulu dan mereka dikembalikan kepada Allah Pelindung mereka yang sebenarnya dan lenyaplah dari mereka apa yang mereka ada-adakan. (QS. 10: 30)” (Yunus: 28-30)

Firman Allah: wa yauma nahsyuruHum (“[Ingatlah] suatu hari [ketika itu] Kami mengumpulkan mereka semua.”) Maksudnya, penduduk bumi seluruhnya dari golongan jin dan manusia yang baik dan yang jahat, sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Dan Kami kumpulkan seluruh manusia, dan tidak kami tinggalkan satu pun dari mereka.” (QS. Al-Kahfi: 47)

Tsumma naquulu lilladiina asy-rakuu (“Kemudian Kami berkata kepada orang-orang yang mempersekutukan Allah…”). Maksudnya, tetaplah kamu tempatmu dan untuk mereka ada tempat tersendiri yang berbeda dengan tempat orang-orang mukmin, sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Dan (dikatakan kepada orang orang kafir): ‘Berpisahlah kamu dari orang-orang mukmin pada hari ini hai orang-orang yang berbuat jahat.” (QS. Yaasiin: 59)

Hal ini terjadi ketika Rabb Tabaraka wa Ta’ala datang untuk memutuskan hukuman. Dan Allah berfirman dalam ayat yang mulia ini, member kabar tentang apa yang diperintahkan kepada orang-orang musyrik dan patung-patung mereka pada hari Kiamat.
Makaanakum antum wa syurakaa-ukum fazayyalnaa bainaHum.. (“Tetaplah kamu dan sekutu-sekutumu di tempat itu,’ lalu Kami pisahkan mereka.”)
Sesungguhnya sekutu-sekutu itu mengingkari peribadahan mereka dan berlepas diri dari mereka, sebagaimana firman-Nya: “Sekali-sekali tidak, kelak mereka [ilah-ilah] itu akan mengingkari peribadahan [pengikut-pengikutnya] terhadapnya.” (QS. Maryam: 82)

Firman-Nya dalam ayat ini memberi kabar tentang ucapan ilah-ilah itu, hal yang mereka sanggah terhadap penyembah-penyembahnya ketika mereka mengaku menyembahnya. Fa kafaa billaaHi syahiidam bainanaa wa bainakum (“Dan cukuplah Allah menjadi saksi antara kami dengan kamu.”) Maksudnya, kami tidak merasa dan tidak mengetahui adanya peribadahan, akan tetapi kamu beribadah kepada kami, sedangkan kami tidak tahu menahu denganmu dan Allah adalah saksi antara kami dan kamu, kami tidak mengajakmu untuk beribadah kepada kami, kami tidak pula menyuruhmu dan kami pun tidak rela untuk itu.

Disinilah celaan yang besar bagi kaum musyrikin yang beribadah kepada Allah beserta ilah yang lainnya, berupa sesuatu yang tidak dapat mendengar, tidak melihat dan tidak ada manfaatnya sama sekali dan tidak memerintahkan mereka, tidak ridha dan tidak butuh untuk itu semua, bahkan mereka membebaskan dirinya di saat penyembah-penyembahnya membutuhkannya.

Mereka telah meninggalkan ibadah kepada Dzat Yang Mahahidup, Yang berdiri sendiri, Yang Mahamendengar, Yang Mahamelihat, Yang Mahakuasa dan Yang Mahamengetahui segala sesuatu. Allah telah mengutus para Rasul-Nya dan menurunkan Kitab-Kitab-Nya seraya memerintahkan untuk beribadah kepada-Nya yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan beribadah kepada yang lain-Nya, sebagaimana Allah berfirman:
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus pada tiap-tiap umat seorang Rasul (untuk menyerukan): `Beribadahlah kepada Allah (saja), dan jauhilah tbaghut itu.’ maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya.” (An-Nahl: 36)

Orang-orang musyrik itu bermacam-macam dan banyak kelompoknya. Allah telah menyebutkannya dalam Kitab-Nya, telah menerangkan perilaku dan ucapan mereka dan Allah telah membantah pemahaman mereka dengan sebaik-baik bantahan.

Firman Allah Ta’ala: Hunaalika tabluu kullu nafsim maa aslafat (“Di tempat itu [padang mahsyar] tiap-tiap diri merasakan pembalasan dari apa yang telah dikerjakan dahulu.”) Maksudnya, di tempat hisab pada hari Kiamat, tiap-tiap diri dan dia mengetahui apa yang telah dikerjakan dahulu, dari kebaikan dan kejahatan, sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Pada hari dinampakkan segala rahasia.” (QS. Ath-Thaariq: 9)

Firman Allah Ta’ala: wa rudduu ilallaaHi maulaa Humul haqqi (“Dan mereka dikembalikan kepada Allah Pelindung mereka yang sebenarnya.”) Maksudnya, semua urusan dikembalikan kepada Allah, Hakim Yang Adil, mengadili semua urusan dan memasukkan ahli surga ke surga dan ahli neraka ke neraka.

Wa dlalla ‘anHum (“Dan lenyaplah dari mereka.”) Maksudnya, hilang dari orang-orang musyrik itu. Maa kaanuu yaftaruun (“Apa yang mereka ada-adakan”) maksudnya apa yang dahulu mereka ibadahi selain Allah karena mengada-ada.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Huud ayat 29-30

28 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Huud
Surah Makkiyyah; surah ke 11: 123 ayat

tulisan arab alquran surat huud ayat 29-30“Dia [berkata]: ‘Hai kaumku, aku tidak meminta harta benda kepada kamu [sebagai upah] bagi seruanku. Upahku hanyalah dari Allah dan aku sekali-sekali tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya mereka akan bertemu dengan Rabb-nya, akan tetapi aku memandang kalian sebagai kaum yang tidak mengetahui.’ (QS. 11:29) Dan (dia berkata): ‘Hai kaumku, siapakah yang akan menolongku dari [adzab] Allah jika aku mengusir mereka. Maka tidakkah kamu mengambil pelajaran?’ (QS 11: 30)” (Huud: 29-30)

Nuh as. berkata kepada kaumnya, aku tidak minta harta benda kepada kalian atas pelajaran yang kuberikan kepada kalian. Yakni aku tidak meminta upah yang kuambil dari kalian. Tetapi aku hanya mengharapkan balasan dari Allah;

Wa maa ana bithaaridil ladziina aamanuu (“Dan aku sekali-sekali tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman.”)

Seolah-olah mereka mengajukan tuntutan kepadanya agar ia mengusir orang-orang yang beriman dari sisinya sebagai bentuk penghormatannya terhadap mereka dan supaya mereka [orang-orang yang beriman] tidak duduk bersama mereka. sebagaimana orang-orang yang serupa dengan mereka mengajukan tuntutan kepada Rasulullah saw. agar mengusir sekelompok du’afa dari mereka, kemudian beliau duduk bersama mereka dalam majelis tersendiri.

Maka Allah menurunkan firman-Nya yang artinya: “Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Rabb-nya pada pagi hari dan pada petang hari, sedang mereka menghendaki keridlaan-Nya.” (al-An’am: 62)

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yusuf ayat 30-34

26 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Yusuf
Surah Makkiyyah; surah ke 12: 111 ayat

tulisan arab alquran surat yusuf ayat 30-34“Dan wanita-wanita di kota berkata: ‘Isteri al-`Aziz menggoda bujangnya untuk menundukkan dirinya (kepadanya), sesungguhnya cintanya kepada bujangnya itu adalah sangat mendalam. Sesungguhnya kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata.’ (QS. 12:30) Maka tatkala wanita itu (Zulaikha) mendengar cercaan mereka, diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk, dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan), kemudian dia berkata (kepada Yusu): ‘Keluarlah (nampakkanlah dirimu) kepada mereka.’ Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa)nya, dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata: ‘Mahasempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah Malaikat yang mulia.’ (QS. 12:3 1) Wanita itu berkata: ‘Itulah dia orang yang kalian cela aku karena (tertarik) kepadanya, dan sesungguhnya aku telah menggoda dia untuk menundukkan dirinya (kepadaku) akan tetapi dia menolak. Dan sesungguhnya jika dia tidak mentaati apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan dan dia akan termasuk golongan orang-orang yang hina.’ (QS. 12:32) Yusuf berkata: ‘Wahai Rabbku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan daripadaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.’ (QS. 12:33) Maka Rabbnya perkenankan do’a Yusuf, dan Allah menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Sesungguhnya Dia-lah yangMahamendengar lagi Mahamengetahui. (QS. 12:34)” (Yusuf: 30-34)

Allah menyatakan bahwa berita tentang Yusuf dan isteri al-‘Aziz tersebar di kota Mesir sehingga semua orang menggunjingkannya. Wa qaala niswatun fil madiinati (“Wanita-wanita di kota itu mengatakan,”) seperti isteri para pembesar dan pejabat mengingkari dan mencela isteri al-‘Aziz atas perbuatannya terhadap Yusuf karena dia adalah isteri seorang menteri.

Imra-atul ‘aziizi turaawidu fataaHaa ‘an nafsiHi (“Isteri al- Aziz menggoda bujangnya untuk menundukkan dirinya [kepadanya]”) maksudnya yaitu berusaha merayu bujangnya dan mengajaknya agar mendekati dirinya; qad syaghafaHaa hubban (“Sesungguhnya cintanya kepada bujangnya itu sangat mendalam,”) cintanya sudah sampai ke lubuk hatinya, menembus kulit hatinya.

Adh-Dhahhak mengatakan dari Ibnu `Abbas: “Asy-syaghaf adalah cinta yang membunuh (mendalam), juga cinta di bawah itu, sedang asy-Syaghaaf adalah dinding hati (qalbu).”

Innaa lanaraaHaa fii dlalaalim mubiin (“Sesungguhnya kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata.”) dengan perbuatan itu, karena jatuh cinta kepada bujangnya dan merayunya untuk berbuat serong dengannya.

Falammaa sami’at bimakriHinna (“Maka tatkala dia [Zulaikha] mendengar cercaan wanita-wanita itu”) sebagian ahli tafsir mengatakan: “Mendengar perkataan wanita-wanita bahwa cinta telah membawanya untuk berbuat demikian.” Muhammad bin Ishaq mengatakan: “Setelah sampai kepada mereka berita tentang eloknya rupa Yusuf as. maka mereka ingin menyaksikannya.” Mereka mengatakan hal itu agar mereka dapat melihat dan menyaksikannya sendiri.

Setelah itu: arsalat ilaiHinna (“Dia [Zulaikha] mengutus kepada mereka.”) maksudnya mengundang mereka ke rumah untuk menjamu mereka. wa a’tadat laHunna muttaka-an (“Dan disediakan untuk mereka tempat duduk”) Ibnu Abbas, Sa’id bin Jubair, Mujahid, al-Hasan, as-Suddi, dan lain-lainnya ngatakan: “Yaitu tempat duduk yang disediakan, dilengkapi dengan karpet (Permadani), bantal, dan makanan, di antaranya ada yang harus dipotong dengan pisau seperti buah citrun (semacam buah jeruk) dan lain-lainnya.”

Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman: wa aatat kulla waahidatim min Hunna sikkiinan (“Dan diberikannya kepada masing-masing wanita itu sebuah pisau”) ini merupakan tipudaya dari wanita al-‘Aziz, sebagai balasan dari upaya mereka untuk dapat melihat Yusuf.

Wa qaalatikhruj ‘alaiHinna (“Dia berkata [kepada Yusuf]: ‘Keluarlah [nampakkanlah dirimu] kepada mereka.’”) karena ia menyembunyikannya di tempat lain. Falammaa (“Tatkala”) ia keluar, dan: ra ainaHuu akbarnaHu (“Mereka melihatnya, mereka tercengang kagum kepada [keelokan rupa]nya,”) mengagumi keadaan Yusuf yang sangat agung dan menarik, sehingga dengan tidak terasa, mereka memotong jari-jari tangan mereka [dengan pisau] karena tertegun, mengagumi apa yang mereka lihat dari keelokan Yusuf as. Mereka mengira bahwa mereka sedang memotong buah-buahan yang ada di tangan mereka dengan pisau. Maksudnya, mereka melukai tangan mereka dengan pisau tersebut. Demikian menurut pendapat kebanyakan ahli tafsir.

Qulna haasya lillaaHi maa Haadzaa basyaran in Haadzaa illaa malakun kariim (“Mereka berkata: ‘Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia.”) Kemudian mereka berkata kepada isteri al-‘Aziz: “Kami tidak menyalahkanmu setelah kami melihat sendiri bahwa kenyataannya seperti ini.” Mereka tidak pernah melihat keelokan rupa pada manusia seperti dia atau yang mendekatinya, karena Yusuf as. diberi separuh dari keelokan manusia seluruhnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih yang berkaitan dengan peristiwa Isra’, bahwa Rasulullah saw. bertemu dengan Yusuf as. langit ketiga, beliau mengatakan bahwa Yusuf diberi separuh dari keelokan. (Diriwayatkan oleh Muslim di kitab al-Iman, dalam bab al-Israa’.)

Imam Abul Qasim as-Suhaili mengatakan: “Artinya, bahwa Yusuf itu mempunyai separuh dari keelokan Adam as, karena Allah menciptakan Adam dengan tangan-Nya dalam bentuk yang paling sempurna dan paling baik, dan tidak ada seorang pun dari keturunannya yang menyamai keelokannya, sedang Yusuf as. diberi setengah dari keelokan Adam as. Oleh karena itu ketika melihatnya, wanita-wanita itu berkata: “Mahasempurna Allah.”

Mujahid dan lain-lain mengatakan: “Kami berlindung kepada Allah; maa Haadzaa basyaran in Haadzaa illaa malakun kariim (“Ini bukanlah manusia, sesungguhnya ini tidak lain hanyalah Malaikat yang mulia.”) qaalat fadzalikunnal ladzii lumtunnanii fiiHi (“Ia [Zulaikha] berkata: ‘Itulah yang menyebabkan kalian mencerca diriku.’”)
Dia mengatakan demikian sebagai alasan kepada mereka karena memang Yusuf as. layak dicintai karena keelokan [ketampanannya] dan kesempurnaan rupa yang dimilikinya.
Wa laqad raawadtuHuu ‘an nafsiHii fasta’sham (“Memang aku telah menggodanya untuk menundukkan dirinya [kepadaku] akan tetapi dia menolak.”)

Ista’shama artinya menolak, sebagian ahli tafsir mengatakan: “Tatkala wanita-wanita itu menyaksikan keelokan (ketampanan) lahiriyah Yusuf, isteri al-‘Aziz memberitahukan pula kepada mereka sifat-sifatnya yang baik yang belum mereka ketahui, yaitu menjaga diri dari yang terlarang di samping keelokan rupa (ketampanan) yang ia miliki itu.

Kemudian dia mengatakan dengan nada mengancam Yusuf: wa la il lam yaf’al maa aamuruHu layusjananna wa layakuunam minash shaaghiriin (“Jika tidak menaati apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan dan dia akan termasuk golongan orang-orang hina.”)

Setelah mendengar ancaman itu, Yusuf as. memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan dan tipu daya mereka, seraya berkata: rabbis sijnu ahabbu ilayya mimmaa yad’uunanii ilaiHi (“Rabbku, penjara lebih aku senangi daripada ajakan mereka terhadapku,”) maksudnya daripada perbuatan keji (kemesuman) itu: wa illaa tash-rif ‘annii kaidaHunna ash-habu ilaiHinna (“Dan jika Engkau tidak hindarkan [menjauhkan] tipu daya mereka dariku, tentu aku cenderung untuk memenuhi keinginan mereka,”) maksudnya, jika Rabb menyerahkan hal itu kepada diriku, pasti aku tidak mampu dan aku tidak dapat mengendalikan apa yang dapat merugikan dan berguna bagi diriku kecuali dengan daya-Mu dan kekuatan-Mu. Engkaulah al-Musta’an (tempat kami meminta pertolongan) dan kepada-Mulah kami bertawakkal, maka janganlah Engkau serahkan (urusan) diriku kepadaku sendiri:

wa akum minal jaaHiliina fastajaaba laHuu rabbuHuu (“’Tentu aku akan cenderung untuk [memenuhi keinginan mereka] dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.’ Maka Rabbnya memperkenankan doa Yusuf…,”) dan seterusnya. Karena Yusuf as. mendapat penjagaan dan perlindungan dari Allah, maka ia menolak dengan penolakan yang keras dan ia lebih memilih untuk dipenjara. Hal ini menunjukkan kedudukan yang sempurna; di samping dia seorang pemuda yang sangat tampan dan sempurna serta diajak oleh tuan putri yang merupakan isteri seorang menteri (pembesar) Mesir yang tentu saja sangat cantik, kaya, dan berkuasa, toh ia menolaknya dan lebih memilih dipenjara, karena ia takut kepada Allah dan mengharap pahala-Nya.

Oleh sebab itu, disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah saw, bersabda: “Ada tujuh orang yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, (mereka itu adalah): Pemimpin (imam) yang adil, pemuda yang hidup (tumbuh) untuk beribadah kepada Allah, orang yang hatinya terpaut dengan masjid, jika keluar darinya pasti kembali ke sana lagi, dua orang yang saling mencintai karena Allah ketika berkumpul maupun berpisah, orang yang bersedekah secara diam-diam sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang telah disedekahkan oleh tangan kanannya, seorang yang dirayu oleh seorang wanita yang berkedudukan tinggi dan berparas ayu, tetapi ia mengatakan; `Aku takut kepada Allah,’ dan seorang yang ingat (berdzikir) kepada Allah (di waktu) sendirian hingga kedua matanya berlinang.”

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ar-Ra’du ayat 30

24 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Ar-Ra’du (Guruh)
Surah Madaniyyah; surah ke 13: 43 ayat

tulisan arab alquran surat ar ra'du ayat 30“Demikianlah, Kami telah mengutusmu pada suatu umat yang sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumnya, supaya kamu membacakan kepada mereka (al-Qur’an) yang Kami wahyukan kepadamu, padahal mereka kafir terhadap Rabb yang Mahapemurah. Katakanlah: ‘Dialah Rabbku, tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi) selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal, dan hanya kepada-Nya aku bertaubat.’” (QS. ar-Ra’du: 30)

Allah berfirman, sebagaimana Kami mengutusmu, wahai Muhammad, kepada umat ini; litat-luwa ‘alaiHimul ladzii au hainaa ilaika (“Supaya kamu membacakan kepada mereka [al-Qur’an] yang Kami wahyukan kepadamu.”) Maksudnya, kamu menyampaikan risalah Allah kepada mereka, demikian juga Kami telah mengutus kepada umat-umat terdahulu yang kafir kepada Allah dan mendustakan para Rasul sebelummu, maka kamu hendaknya mencontoh mereka. Dan sebagaimana Kami menjatuhkan kepada mereka adzab dan murka Kami, maka hendaklah mereka berhati-hati terhadap terjadinya murka Allah kepada mereka, karena pendustaan mereka kepadamu lebih berat daripada pendustaan (mereka) kepada para Rasul yang lain.

Firman Allah: wa Hum yakfuruuna bir rahmaani (“Padahal mereka kafir kepada Rabb yang Mahapemurah.”) Artinya, umat yang kamu diutus Allah kepada mereka itu kafir atau tidak percaya kepada Rabb yang Mahapemurah, tidak mengakui-Nya, karena mereka menolak untuk menyebut Allah yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang. Karena itu mereka menolak menulis “Bismillahirrahmanirrahim” pada hari al-Hudaibiyyah, mereka mengatakan: “Kami tidak mengenal apa ar-Rahman (Rabb yang Mahapemurah) dan ar-Rahim (Mahapenyayang) itu, sebagaimana dikatakan Qatadah. Sedangkan hadits ini terdapat dalam Shahih al-Bukhari.

Allah berfirman yang artinya: “Katakanlah: ‘Berdo alah kepada Allah atau kepada ar-Rahman, dengan nama apa saja, sesungguhnya Allah itu memiliki al-Asma’ al-Husna.’” (QS. Al-Israa’: 110)

Disebutkan dalam kitab Shahih Muslim, dari `Abdullah bin `Umar, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya nama yang paling disenangi Allah adalah ‘Abdullah dan ‘Abdur rahman.”

Qul Huwa rabbii laa ilaaHa illaa Huwa (“Katakanlah: ‘Dia Rabbku, tiada ilah [yang berhak diibadahi] selain Dia.’”) maksudnya apa yang kalian kafir kepada-Nya, itu aku percaya dan aku akui serta mengakuinya sebagai Rabb dan Ilah dan Allah lah Rabbku, tidak ada ilah yang haq selain Allah,
‘alaiHi tawakkaltu (“Hanya kepada-Nya aku bertawakal”) dalam segala hal dan urusanku. Wa ilaiHi mataab (“Dan hanya kepada-Nya aku bertaubat”) maksudnya hanya kepada-Nya aku kembali dan bertaubat, karena tidak ada yang berhak untuk itu selain Dia (Allah).

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ibrahim ayat 28-30

24 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Ibrahim
Surah Makkiyyah; surah ke 14: 52 ayat

tulisan arab alquran surat ibrahim ayat 28-30“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan, (QS. 14:28) yaitu neraka Jahannam, mereka masuk ke dalamnya dan itulah seburuk-buruknya tempat kediaman. (QS. 14:29) Orang-orang kafir itu telah menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah supaya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: ‘Bersenang-senanglah kamu karena sesungguhnya tempat kembalimu ialah neraka.’ (QS. 14:30)” (QS. Ibrahim: 28-30)

Imam al-Bukhari mengatakan: “Firman Allah: alam tara ilal ladziina baddaluu ni’matallaaHi kufran (“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran.”) artinya tidakkah kau tahu, seperti firman-Nya: alam tara kaifa (“Tidakkah kamu tahu bagaimana.”) dan: alam tara ilal ladziina kharajuu (“Tidakkah kamu tahu orang-orang yang keluar.”)

Al bawaar adalah kehancuran/ kebinasaan, qaumam buuran artinya kaum yang hancur binasa.

Ali bin Abdillah meriwayatkan kepada kami dari ‘Atha’ ia mendengar Ibnu `Abbas, tentang firman Allah: alam tara ilal ladziina baddaluu ni’matallaaHi kufran (“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran.”) ia berkata: “Mereka itu adalah kaum kafir Makkah.” Sedang al-‘Aufi meriwayatkan dari Ibnu `Abbas tentang ayat ini, bahwa dia adalah Jabalah Ibnul Aiham dan orang-orang Arab yang mengikutinya yang kemudian bergabung dengan orang-orang Romawi.

Pendapat Ibnu `Abbas yang masyhur dan benar adalah pendapat yang pertama, sekalipun maknanya umum yang mencakup semua orang kafir, karena Allah mengutus Muhammad sebagai rahmat bagi seluruh alam dan sebagai nikmat bagi manusia. Barangsiapa yang menerima dan mensyukurinya, dia pasti masuk surga. Dan barangsiapa menolak dan mengingkarinya, pasti masuk neraka. Diriwayatkan pula dari `Ali seperti pendapat Ibnu `Abbas yang pertama. Adapun yang dimaksud dengan lembah kebinasaan adalah Jahannam.

Firman Allah: wa ja’aluu lillaaHi andadal liyudlilluu ‘an sabiilillaaHi (“Orang-orang kafir itu telah menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah supaya mereka menyesatkan [manusia] dari jalan-Nya.”) Maksudnya, mereka menjadikan sekutu-sekutu yang mereka sembah bersama Allah dan menyeru manusia untuk berbuat seperti itu.

Kemudian Allah berfirman dan mengancam mereka melalui lisan Rasulullah saw.: qul tamatta’uu fa inna mashiirakum ilan naari (“Katakanlah: ‘Bersenang-senanglah kamu karena sesungguhnya teriapat kembalimu adalah neraka.’”) Maksudnya, apa pun yang kalian mampu di dunia ini lakukanlah, karena apa pun yang kalian lakukan, maka akhirnya tempat kembali kalian adalah neraka, seperti firman Allah: “Kami beri sedikit kesenangan, kemuan Kami paksa mereka masuk kepada siksa yang keras (berat).” (QS. Luqman: 24)

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nahl ayat 30-32

16 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nahl (Lebah)
Surah Makkiyyah; surah ke 16: 128 ayat

tulisan arab alquran surat an nahl ayat 30-32“Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa: ‘Apakah yang telah diturunkan oleh Rabbmu.’ Mereka menjawab: ‘(Allah telah menurunkan) kebaikan.’ Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa, (QS. 16:30) (yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalam surga itu mereka mendapat segala apa yang mereka kehendaki. Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa, (QS. 16:31) (yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para Malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): ‘Salaamun alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. 16:32) (an-Nahl: 30-32)

Ini adalah khabar tentang orang-orang yang beruntung, kebalikan dari apa yang telah Allah khabarkan sebelumnya, yaitu tentang orang-orang yang celaka, yang apabila di katakan kepada mereka: maa dzaa anzala rabbukum (“Apakah yang diturunkan oleh Rabbmu?”) mereka menjawab seraya berpaling dari jawaban, Rabb tidak menurunkan apa-apa, sesungguhnya (al-Qur’an) ini adalah dongengan-dongengan orang-orang terdahulu.

Sedangkan orang-orang yang beruntung (orang-orang yang bertakwa) menjawab: “Baik,” maksudnya, Allah menurunkan kebaikan, yaitu rahmat dan barakah untuk orang yang mengikuti-Nya dan beriman kepada-Nya. Kemudian Allah memberi khabar tentang apa yang dijanjikan oleh Allah untuk hamba-hamba-Nya, di dalam apa yang telah Allah turunkan kepada para Rasul-Nya, maka Allah berfirman: lil ladziina ahsanuu fii HaadziHid dun-yaa hasanatun… (“Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat pembalasan yang baik..”) dan ayat seterusnya.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala yang artinya: “Barangsiapa yang mengamalkan amal shalih baik laki-laki maupun perempuan (sedang) dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan,” (QS. An-Nahl: 97)

Maksudnya, dari kebaikan amalnya di dunia, Allah memberikan kepadanya kebaikan di dunia dan akhirat. Kemudian Allah memberi khabar bahwa sesungguhnya negeri akhirat lebih baik, maksudnya dari kehidupan di dunia dan pembalasan di dalamnya lebih sempurna daripada pembalasan di dunia. Kemudian Allah memberi kriteria negeri akhirat, maka Allah berfirman: wa lani’ma daarul muttaqiin (“Dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang-orang yang bertakwa,”) dan firman-Nya: jannaatu ‘adnin (“Yaitu surga Adn,”) kalimat ini adalah badal dari kalimat “Darul mut’taqiin” (tempat bagi orang-orang yang bertakwa), maksudnya di akhirat mereka mendapatkan surga `Adn, yaitu tempat yang mereka masuk ke dalamnya; tajrii min tahtiHal anHaaru (“Mengalir di bawahnya sungai-sungai,”) maksudnya di antara pohon-pohonnya dan istana-istananya.

laHum fiiHaa maa yasyaa-uuna (“Di dalam surga itu mereka mendapat segala apa yang mereka kehendaki,”) kadzaalika yajzillaaHul muttaqiin (“Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa,”) maksudnya begitulah Allah membalas setiap orang yang beriman dan bertakwa kepada-Nya dan berbuat baik atas perbuatannya.

Kemudian Allah Ta’ala memberi khabar tentang keadaan mereka di saat mereka menghadapi kematian, bahwa sesungguhnya mereka itu dalam keadaan thayyib, maksudnya mereka bebas dari kemusyrikan, kekotoran dan dari setiap kejahatan, dan bahwasanya para Malaikat memberi salam dan khabar gembira kepada mereka dengan surga. Dan telah kami sebutkan hadits-hadits yang menerangkan tentang di cabutnya ruh orang mukmin dan ruh orang kafir di dalam firman Allah Ta’ala: yutsabbitullaaHul ladziina aamanuu bil qaulits tsaabiti (“Allah meneguhkan [iman] orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh.” (QS. Ibrahim: 27)

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Israa’ Ayat 29-30

13 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Israa’
(Memperjalankan di Malam Hari)
Surah Makkiyyah; surah ke 17: 111 ayat

tulisan arab alquran surat al israa ayat 29-30“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal. (QS. 17:29) Sesungguhnya Rabbmu melapangkan rizki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; sesungguhnya Dia Mahamengetahui lagi Mahamelihat akan hamba-hamba-Nya. (QS. 17:30)” (al-Israa’: 29-30)

Allah berfirman seraya memerintahkan untuk berlaku sederhana dalam menjalani hidup, dan mencela sifat kikir sekaligus melarang bersikap berlebih-lebihan.
Walaa taj’al yadaka maghluulatan ilaa ‘unuqika (“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelengggu pada lehermu.”) Maksudnya, janganlah kamu kikir dan bakhil, tidak pernah memberikan sesuatu pun kepada seseorang.

Sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang Yahudi -la’natullah `alaihim-: “Tangan Allah itu terbelenggu.” Yang mereka maksudkan dengan kalimat itu adalah bahwa Allah itu kikir. Mahatinggi Allah dan Mahasuci serta Mahapemurah lagi Maha-dermawan.

Dan firman-Nya: walaa tabshuth-Haa kullal bashthi (“Dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya.”) Maksudnya, janganlah kamu berlebihan dalam berinfak, di mana kamu memberi di luar kemampuanmu dan mengeluarkan pengeluaran yang lebih banyak daripada pemasukan. Karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal. Artinya, jika kamu kikir, niscaya kamu akan menjadi tercela yang senantiasa mendapat celaan dan hinaan dari orang-orang serta tidak akan dihargai dan mereka tidak memerlukanmu lagi.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Zuhair bin Abi Salma, dalam mu’allaqatnya:
“Barangsiapa yang mempunyai banyak harta lalu ia kikir dengan kekayaannya itu,
niscaya ia akan diabaikan kaumnya, dan mendapat hinaan.”

Bila kamu mengulurkan tanganmu di luar kemampuanmu, maka kamu akan hidup tanpa sesuatu apapun yang dapat kamu nafkahkan, sehingga kamu menjadi seperti hasir, yaitu binatang yang sudah tidak mampu berjalan, yang berhenti, lemah dan tiada daya. Demikianlah yang dinamakan hasir. Ayat di atas ditafsirkan oleh Ibnu `Abbas, al-Hasan, Qatadah, Ibnu juraij, Ibnu Zaid dan lain-lain, bahwa yang dimaksudkan di sini adalah sifat kikir dan sifat berlebih-lebihan.

Dan dalam kitab ash-Shahihain diriwayatkan dari Asma’ binti Abi Bakar, ia bercerita, Rasulullah saw. bersabda: “Berinfaklah kamu begini, begini, dan begini, dan janganlah kamu kikir sehingga Allah pun akan kikir kepadamu, serta janganlah pula kamu enggan memberi orang sehingga Dia pun akan menahan pemberian kepadamu.”

Dalam lafazh yang lain disebutkan: “Dan janganlah kamu menghitung-hitung (pemberian) sehingga Allah pun akan menghitung-hitung (pemberian) kepadamu.”

Dan dalam kitab Shahih Muslim disebutkan, dari Abu Hurairah, ia bercerita, Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah pemah berkata kepadaku, ‘Berinfaklah, maka Aku akan memberi infak kepadamu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Firman-Nya: inna rabbaka yabsuthur rizqa limay yasyaa-u wa yaqdiru (“Sesungguhnya Rabbmu melapangkan rizki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya.”) Hal itu sebagai pemberitahuan bahwa Dia adalah sang Pemberi rizki, Pengambil rizki, Penyalur rizki, serta pengendali segala urusan makhluk-Nya sesuai dengan kehendak-Nya. Dengan demikian, Dia akan menjadikan kaya siapa saja yang dikehendaki-Nya, dan akan menjadikan miskin siapa saja yang dikehendaki-Nya. Karena yang demikian itu terdapat hikmah.

Oleh karena itu, Dia berfirman: innaHuu kaana bi-‘ibaadiHii khabiiram bashiiran (“Sesungguhnya Dia Mahamengetahui lagi Mahamelihat akan hamba-hamba-Nya.”) Yakni, Mahamelihat siapa orang yang berhak memperoleh kekayaan dan siapa juga orang-orang yang layak hidup miskin.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nisaa’ ayat 29-31

5 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nisaa’ (Wanita)
Surah Madaniyyah; surah ke 4: 176 ayat

tulisan arab alquran surat an nisaa' ayat 29-31“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Mahapenyayang kepadamu. (QS. 4:29) Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam Neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (QS. 4:30) Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (Surga). (QS. 4:31)” (an-Nisaa’: 29-31)

Allah melarang hamba-hamba-Nya yang beriman memakan harta sebagian mereka tehadap sebagian lainnya dengan bathil, yaitu dengan berbagai macam usaha yang tidak syar’i seperti riba, Judi dan berbagai hal serupa yang penuh tipu daya, sekalipun pada lahiriahnya cara-cara tersebut berdasarkan keumuman hukum syar’i, tetapi diketahui oleh Allah dengan jelas bahwa pelakunya hendak melakukan tipu muslihat terhadap riba. Sehingga Ibnu Jarirberkata: “Diriwayatkan dari Ibnu `Abbas tentang seseorang yang membeli baju dari orang lain dengan mengatakan jika anda senang, anda dapat mengambilnya, dan jika tidak, anda dapat mengembalikannya dan tambahkan satu dirham.” Itulah yang difirmankan oleh Allah: laa ta’kuluu amwaalakum bainakum bil baathili (“Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil.”).”

`Ali bin Abi Thalhah mengatakan dari Ibnu `Abbas, ia berkata: “Ketika diturunkan oleh Allah: yaa ayyuHal ladziina aamanuu laa ta’kuluu amwaalakum bainakum bil baathili (“Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil,”) kaum muslimin berkata, “Sesungguhnya Allah telah melarang kita untuk memakan harta di antara kita dengan bathil. Sedangkan makanan adalah harta kita yang paling utama, untuk itu tidak halal bagi kita makan di tempat orang lain, maka bagaimana dengan seluruh manusia?” Maka, Allah setelah itu menurunkan ayat yang artinya:
“Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit dan tidak (pula) bagi dirimu sendiri, makan (bersama-sama mereka) di rumahmu sendiri atau di rumah bapak-bapakmu, di rumah ibu-ibumu, di rumah saudara-saudaramu yang laki-laki, di rumah saudara-saudaramu yang perempuan, di rumah saudara-saudara bapakmu yang laki-laki, di rumah saudara-saudara bapakmu yang perempuan, di rumah saudara-saudara ibumu yang laki-laki, di rumah saudara-saudara ibumu yang perempuan, di rumah yang kamu miliki kuncinya atau di rumah kawan-kawanmu. Tidak ada halangan bagi kamu makan bersama-sama mereka atau sendirian. Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada penghuninya salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberkati lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat(Nya) bagimu, agar kamu memahaminya.” (QS. An-Nuur: 61)
Demikianlah kata Qatadah.

Firman Allah: illaa an takuuna tijaaratan ‘an taraadlim minkum (“Kecuali dengan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka.”) Lafazd (tijaaratan) dibaca dengan rafa’ (dhammah) atau nashab (fathah) yaitu, menjadi istitsna munqathi’ (pengecualian terpisah). Seakan-akan Allah berfirman: “Janganlah kalian menjalankan (melakukan) sebab-sebab yang diharamkan dalam mencari harta, akan tetapi dengan perniagaan yang disyari’atkan, yang terjadi dengan saling meridhai antara penjual dan pembeli, maka lakukanlah hal itu dan jadikanlah hal itu sebagai sebab dalam memperoleh harta benda. Sebagaimana Allah berfirman, “Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar.” (QS. Al-An’aam: 151)

Dari ayat yang mulia ini, asy-Syafi’i berhujjah bahwa jual-beli tidak sah kecuali dengan qabul (sikap menerima). Karena qabul itulah petunjuk nyata suka sama suka, berbeda dengan mu aathaat yang terkadang tidak menunjukkanadanya suka sama suka. Dalam hal ini Malik, Abu Hanifah dan Ahmad berbeda pendapat dengan Jumhur ulama, bahwa mereka melihat perkataan merupakan tanda suka sama suka, begitu pula dengan perbuatan, pada sebagian kondisi secara pasti menunjukkan keridhaan, sehingga mereka menilai sah jual-beli mu’aathaat. Mujahid berkata, “Kecuali perniagaan yang mengandung suka sama suka,” menjual atau membeli antara satu orang dengan yang lainnya. (Begitu juga Ibnu Jarir meriwayatkan).

Ba’i mu’aathaath: Jual-beli dengan cara memberikan barang dan menerima harga, tanpa ijab qabul oleh pihak penjual dan pembeli, seperti yang berlaku di masyarakat sekarang. (Pen-jualan secara tukar-menukar).

Di antara kesempurnaan suka sama suka adalah menetapkan khiyar majelis (memilih barang di tempat). Khiyar majelis: Hak untuk menjadikan suatu akad jual beli atau membatalkannya selama masih berada di tempat jual beli itu.

Sebagaimana terdapat dalam ash-Shahihain,bahwa Rasulullah bersabda: “Penjual dan pembeli berhak memilih (jadi atau batal jual belinya) selama keduanya belum berpisah.”
Di dalam lafazh al-Bukhari; “Jika dua orang melakukan jual-beli, maka masing-masing memiliki hak pilih selama keduanya belum berpisah.”

Di antara ulama yang berpendapat yang sesuai dengan kandungan hadits ini adalah Ahmad, asy-Syafi’i dan para pengikut keduanya serta Jumhur ulama Salaf dan Khalaf. Termasuk di dalamnya disyari’atkannya khiyar syarat (hak pilih dengan menetapkan syarat) hingga tiga hari setelah akad sesuai dengan kejelasan barang yang diperjual belikan, bahkan hingga satu tahun di lokasi, sebagaimana pendapat yang masyhur dari Malik. Mereka menilai sah jual-beli mu’aathaat secara mutlak, yaitu satu pendapat dalam madzhab asy-Syafi’i.

Firman Allah: walaa taqtuluu anfusakum (“janganlah kamu membunuh dirimu.”) Yaitu dengan melakukan hal-hal yang diharamkan Allah, sibuk melakukan kemaksiatan terhadap-Nya dan memakan harta di antara kalian dengan bathil.
innallaaHa kaana bikum rahiiman (“Sesungguhnya Allah Mahapenyayang terhadapmu,”) yaitu pada apa yang diperintahkan dan dilarang-Nya untuk kalian.

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Amr bin al-‘Ash ia berkata, “Ketika Rasulullah mengutusnya pada tahun Dzatus-Salasil, ia berkata: “Di malam yang sangat dingin menggigil aku pernah mimpi jima’, aku khawatir jika mandi aku akan binasa. Maka aku pun tayammum, kemudian shalat Shubuh dengan sahabat-sahabatku. Ketika kami menghadap Rasulullah, aku menceritakan hal tersebut kepada beliau.” Beliau pun bersabda: “Hai `Amr, engkau shalat dengan sahabat-sahabatmu dalam keadaan junub?” Aku menjawab: “Ya Rasulullah! Di malam yang dingin menggigil aku pernah mimpi jima’, lalu aku khawatir jika aku mandi, aku akan binasa. Lalu aku ingat firman Allah: walaa taqtuluu anfusakum innallaaHa kaana bikum rahiiman (“Janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah Mahapenyayang kepadamu.”) Maka aku pun tayammum, kemudian shalat. Maka Rasulullah saw. tertawa dan tidak berkata apa-apa lagi. Demikianlah yang diriwayatkan oleh Abu Dawud. (al-Bukhari meriwayatkannya secara mu’alaq)

Kemudian Ibnu Marudawaih ketika membahas ayat yang mulia ini mengemukakan hadits dari al-A’masy dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah ra ia berkata, Rasulullah saw bersabda:
“Barangsiapa bunuh diri dengan sebuah besi, maka besi itu akan ada di tangannya untuk merobek-robek perutnya pada hari Kiamat kelak di Neraka Jahannam kekal selamanya. Dan barangsiapa membunuh dirinya dengan racun, niscaya racun itu berada di tangannya, dia meneguknya di Neraka Jahannam kekal selamanya.” (Hadits ini terdapat dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim).

Oleh karena itu, Allah berfirman: wa may yaf’al dzaalika ‘udwaanaw wa dhulman (“Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan dhalim.”) Yaitu, barang-siapa yang melakukan apa yang dilarang oleh Allah dengan melampaui batas lagi dhalim dalam melakukannya, dalam arti mengetahui keharamannya tetapi berani melanggarnya; fasaufa nushliiHi naaran (“Maka kelak akan Kami masukkan kedalam Neraka.”) Ayat ini merupakan peringatan keras dan ancaman serius, maka hendaklah waspada setiap orang yang berakal yang menggunakan pendengarannya sedang dia menyaksikannya.

Firman Allah: in tajtanibuu kabaa-ira maa tunHauna ‘anHu nukaffir ‘ankum sayyi-aatikum (“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu [dosa-dosamu yang kecil].”) Artinya, jika kalian menjauhi dosa-dosa besar, niscaya Kami hapuskan dosa-dosa kecil kalian dan Kami masukkan kalian ke dalam Surga. Karena itu, Allah berfirman: wa nud-khilkum mud-khalan kariiman (“Dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia.”) Terdapat hadits-hadits yang berkaitan dengan ayat yang mulia ini, kami akan menyebutkan beberapa di antaranya.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Salman al-Farisi, ia berkata, Nabi saw. bersabda kepadaku: “Apakah engkau tahu, apakah hari Jum’at itu?” Aku menjawab: “Yaitu hari di mana Allah himpunkan bapak-bapak kalian.” Beliau pun bersabda: “Akan tetapi, aku tahu apa itu hari Jum’at. Tidak ada seseorang yang bersuci, lalu membaguskan wudhunya dan pergi melaksanakan shalat Jum’at. Kemudian diam hingga imam menyelesaikan shalatnya, kecuali hal itu menjadi penghapus dosa baginya antara hari itu dan Jum’at sesudahnya selama ia menjauhi dosa-dosa besar.”

Al-Bukhari meriwayatkan dari jalan lain, melalui Sahabat yang sama dengan hadits itu, yakni Salman al-Farisi. Abu Ja’far bin Jarir meriwayatkan dari Nu’aim al-Mujmir, telah mengabarkan kepadaku Shuhaib, maula ash-Shawari, bahwa dia mendengar Abu Hurairah dan Abu Sa’id ra. berkata, suatu hari Rasulullah berkhutbah kepada kami: “Demi Rabb yang jiwaku di tangan-Nya,” kemudian Rasulullah saw. menunduk penuh tangis. Kami tidak tahu apa yang menyebabkan beliau bersumpah. Kemudian, beliau mengangkat kepala dan pada wajahnya tampak keceriaan yang bagi kami hal itu lebih kami senangi daripada unta merah, beliau bersabda: “Tidak ada seorang hamba pun yang shalat lima waktu, puasa Ramadhan, mengeluarkan zakat dan menjauhi tujuh dosa besar, kecuali akan dibukakan untuknya pintu-pintu Surga. Kemudian dikatakan padanya: ‘Masuklah dengan aman.’” Demikian riwayat an-Nasa’i, al-Hakim dalam al-Mustadrak dan Ibnu Hibban dalam shahihnya. Al-Hakim berkata, shahih atas syarat al-Bukhari dan Muslim, akan tetapi keduanya tidak mengeluarkannya.

Penjelasan tentang Tujuh Dosa Besar

Tercantum dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari hadits Sulaiman bin Hilal, dari Tsaur bin Zaid, dari Salim Abil Mughits, dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah bersabda: “Jauhilah tujuh hal yang membinasakan.” Beliau ditanya: “Ya Rasulullah apakah itu?” Beliau bersabda: “Syirik kepada Allah, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan haq, sihir, memakan riba, memakan harta anak yatim, lari dari medan peperangan, serta menuduh berbuat zina pada wanita mukminah yang baik-baik yang suci lagi beriman.”

Nash yang menetapkan tujuh macam ini sebagai dosa-dosa besar, tidak berarti meniadakan dosa-dosa lainnya. Wallahu a’lam.

(Hadits yang lain) dikeluarkan oleh al-Bukhari dan Muslim, dari hadits `Abdurrahman bin Abi Bakar dari ayahnya, ia berkata, Nabi bersabda: “Maukah kuberitahu pada kalian tentang dosa-dosa besar?” Kami menjawab: “Tentu, ya Rasulullah.” Beliau bersabda: “Yaitu-berbuat syirik kepada Allah, dan durhaka kepada orang tua.” [-Tadinya beliau bersandar, kemudian beliau duduk-] dan bersabda: “Hati-hatilah, dan juga persaksian palsu, hati-hatilah dan juga perkataan dusta.” Beliau terus-menerus mengulangnya, hingga kami berkata mudah-mudahan beliau diam.

(Hadits lain yang di dalamnya terdapat pembunuhan anak). Di dalam kitab ash-Shahihain dari ‘Abdullah bin Masud, ia berkata: Aku bertanya: “Ya Rasulullah, apakah dosa yang paling besar?” Beliau menjawab: “Yaitu, engkau jadikan tandingan bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakanmu.” Aku bertanya: “Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab: “Kamu bunuh anakmu, karena takut makan bersamamu.” Aku bertanya lagi: “Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab: “Kamu berzina dengan isteri tetanggamu.” Lalu beliau membaca: “Dan orang-orang yang tidak menyembah ilah yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya). (Yakni) akan dilipat-gandakan adzab untuknya pada hari Kiamat dan dia akan kekal dalam adzab itu dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat.” (QS. Al-Furqaan: 68-70).

(Hadits lain) dari ‘Abdullah bin `Amr yang di dalamnya terdapat sumpah palsu. Imam Ahmad meriwayatkan, dari `Abdullah bin ‘Amr, bahwa Nabi saw. bersabda: “Dosa besar yang paling besar adalah syirik kepada Allah, durhaka kepada kedua orang tua, atau bunuh diri (dalam hal ini Syu’bah ragu) dan sumpah palsu.” (HR. Al-Bukhari, at-Tirmidzi, dan an-Nasa’i).

(Hadits lain) dari `Abdullah bin ‘Amr, yang di dalamnya terdapat perilaku yang menyebabkan pencelaan kepada kedua orang tua. Ibnu AbiHatim meriwayatkan, dari `Abdullah bin ‘Amr yang dirafa’kan (disambungkan wayatnya) oleh Sufyan kepada Nabi. Sedangkan Mas’ar memauqufkannya (menghentikannya) pada `Abdullah bin ‘Amr: “Di antara dosa besar adalah seseorang yang mencaci-maki kedua orang tuanya.” Mereka bertanya: “Bagaimana seseorang dapat mencaci-maki kedua orang tuanya?” Beliau menjawab: “Yaitu seseorang mencaci-maki ayah orang lain, lalu orang lain itu membalas mencaci-maki ayahnya. Dan seseorang mencaci-maki ibu orang lain, lalu orang lain itu membalas mencaci-maki ibunya.”

Dikeluarkan oleh al-Bukhari dari `Abdullah bin ‘Amr, ia berkata: Rasulullah bersabda: “Di antara dosa besar yang paling besar adalah seseorang melaknat kedua orangtuanya.” Mereka bertanya: “Bagaimana seseorang melaknat kedua orang tuanya?” Beliau menjawab: “seseorang mencaci ayah orang lain lalu orang lain itu mencaci kembali ayahnya. Dan seseorang mencaci ibu orang lain, lalu orang lain itupun mencaci kembali ibunya.” Demikianlah yang diriwayatkan oleh Muslim secara marfu’ (riwayatnya sampai pada Nabi saw) at-Tirmidzi berkata: “Shahih.”

Di dalam hadits shahih dikatakan, bahwa Rasulullah bersabda: “Mencaci orang muslim adalah fasik dan membunuhnya adalah kafir.”

(Hadits lain tentang itu), Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari al-‘Alla bin `Abdurrahman, dari ayahnya dari Abu Hurairah ra, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Di antara dosa besar yang paling besar adalah merampas (mencemarkan) kehormatan seseorang muslim dan dua orang yang saling mencaci dengan cacian.”

Demikian riwayat hadits ini, dikeluarkan oleh Abu Dawud dalam kitab Sunannya, kitab “al Adab”, dari Abu Hurairah ra, bahwa Nabi bersabda: “Di antara dosa besar yang paling besar adalah (mendhalimi) melampaui batas terhadap kehormatan seorang muslim tanpa haq dan termasuk di antara dosa besar, dua orang yang saling mencaci-maki dengan cacian.”

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Abu Qatadah al-‘Adwah, ia berkata: “Kami telah dibacakan surat `Umar yang di dalamnya tertulis; Di antara dosa besar adalah menjamak dua waktu shalat [-yaitu tanpa udzur-], lari dari pertempuran dan merampok,” dan riwayat ini isnadnya shahih. Maksudnya adalah, jika ancaman ditujukan terhadap orang yang menjamak dua waktu shalat, seperti Zhuhur dan `Ashar, baik takdim atau ta-khir, begitu pula Maghrib dan `Isya’, seperti menjamak dengan syar’i, orang yang melakukannya tanpa sebab-sebab tersebut, berarti ia pelaku dosa besar. Maka, bagaimana dengan orang yang meninggalkan shalat secara total. Untuk itu Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahihnya, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Pemisah antara seorang hamba dengan kemusyrikan adalah meninggalkan shalat.”

Di dalam kitab as-Sunan secara marfu’, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Perjanjian yang memisahkan antara kami dan mereka (orang-orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa yang meninggalkannya maka ia kafir.” Beliau pun bersabda: “Barangsiapa yang meninggalkan shalat ‘Ashar, maka terhapuslah amalnya.” Sunan Ibni Majah kitab ash-Shalat: No. 694: 1/227 dan Musnad Ahmad dari Buraidah: 5/361.

“Barangsiapa yang tertinggal (kehabisan waktu) shalat `Ashar, maka seakan ia telah kurangi keluarga dan hartanya.” (Muttafaq ‘alaiHi)

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Abu ath-Thufail, ia berkata, Ibnu Masud berkata: “Dosa besar yang paling besar adalah syirik kepada Allah, putus asa dari nikmat atau karunia Allah dan rahmat Allah, serta merasa aman dari tipu daya Allah.” Kemudian Ibnu Jarir meriwayatkan pula dari berbagai jalan yang berasal dari Abi ath-Thufail dari Ibnu Mas’ud. Dan tidak diragukan lagi, ini shahih dari beliau (Ibnu Mas’ud).

(Hadits lain) Imam Ahmad meriwayatkan dari Salamah bin Qais al-Asyja’i, ia berkata, Rasulullah saw bersabda: “Ketahuilah sesungguhnya dosa besar ada empat; Janganlah kalian menyekutukan Allah dengan sesutu apapun, janganlah kalian membunuh jiwa yang di-haramkan oleh Allah kecuali dengan haq, jangan kalian berzina, dan jangan kalian mencuri.” (HR. An-Nasa’i dan Ibnu Mardawaih).

Perkataan Para Ulama Salaf mengenai Dosa-Dosa Besar

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari ‘Ali ra. ia berkata: “Dosa-dosa besar adalah: berbuat syirik kepada Allah, kembali tinggal di perkampungan (dusun) setelah hijrah, memisahkan diri dari jama’ah, dan melanggar perjanjian.”

Dan telah diketengahkan dari Ibnu Masud, ia berkata: “Dosa besar yang paling besar adalah; syirik kepada Allah, putus asa dari keluasan dan rahmat Allah, serta merasa aman dari makar Allah.”

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibrahim, dari ‘Alqamah, dari Ibnu Masud, ia berkata: “Dosa-dosa besar adalah dari awal an-Nisaa’ hingga 30 ayat.”

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Buraidah dari ayahnya, ia berkata: “Dosa besar yang paling besar adalah syirik kepada Allah, durhaka kepada kedua orang tua, melarang kelebihan air (untuk diambil) setelah kenyang (mencukupinya) dan mencegah pemanfaatan hewan pejantan, kecuali dengan membayar upah.”

Di dalam kitab ash-Shahihain (Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim), bahwa Nabi bersabda: “Tidak boleh melarang (diambilnya) kelebihan air untuk mencegah tumbuhnya rumput.”

Di dalam kitab ash-Shahihain, bahwa Nabi bersabda: “Ada tiga golongan yang tidak dipandang oleh Allah pada han Kiamat, tidak disucikan dan akan mendapatkan adzab yang pedih (di antaranya): seseorang yang memiliki kelebihan air di sebuah gurun (tanah kosong), akan tetapi melarang (diambil) oleh Ibnu sabil (musafir).” Dan beliau menyebutkan kelanjutan hadits ini.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari `Aisyah, ia berkata: “Melanggar bai’at (janji setia) yang diambil atas para wanita adalah termasuk dosa-dosa besar.” Ibnu Abi Hatim berkata, yaitu firman Allah [yang artinya]: “Bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatupun dengan Allah, dan tidak akan mencuri.”

Pendapat Ibnu `Abbas tentang Dosa-Dosa Besar:

Ibnu Abi Hatim meriwatkan dari Thawus, ia berkata, aku bertanya kepada Ibnu `Abbas: “Apakah tujuh dosa-dosa besar itu?” Ibnu `Abbas menjawab: “Dosa besar itu mencapai tujuh puluh macam, hal itu adalah lebih tepat dibandingkan hanya tujuh macam saja.” (HR. Ibnu Jarir)

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Sa’id bin Jubair, bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Ibnu `Abbas: “Apakah dosa-dosa besar itu ada tujuh?” Beliau menjawab: “Dosa besar mencapai tujuh ratus macam lebih tepat(nya), di-bandingkan yang hanya berjumlah tujuh. Akan tetapi, tidak ada dosa besar jika disertai istighfar dan tidak ada dosa kecil jika dilakukan terus menerus.” Demikianlah yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari hadits Syibl.

`Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu `Abbas tentang firman Allah: in tajtanibuu kabaa-ira maa tunHauna ‘anHu (“Dosa-dosa besar adalah setiap dosa yang diancam Allah dengan api Neraka, kemurkaan, laknat atau adzab.”) (HR. Ibnu Jarir).

Ibnu Jarir menceritakan dari Muhammad bin Sirin, ia berkata, Aku diberi kabar bahwa Ibnu `Abbas berkata: “Setiap hal yang dilarang oleh Allah adalah bagian dari dosa besar.” Dia pun berkata, bahwa Abul Walid berkata: “Aku bertanya kepada Ibnu `Abbas tentang dosa-dosa besar.” Beliau menjawab: “Setiap sesuatu yang merupakan kemaksiatan kepada Allah adalah dosa besar.”

Beberapa Perkataan (Pendapat) Para Tabi’in:

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari al-Mughirah, ia berkata: “Dikatakan bahwa mencela Abu bakar dan `Umar merupakan dosa besar.” (Aku berkata): “Sebagian ulama menilai kafir orang yang mencela para Sahabat.” Itulah satu riwayat pendapat dari Malik bin Anas ra. Muhammad bin Sirin berkata: “Aku tidak menduga ada seseorang yang benci kepada Abu Bakar dan `Umar dan bersamaan dengan itu ia mencintai Rasulullah.” (HR. At-Tirmidzi).

`Abdurrazzaq meriwayatkan, bahwa Ma’mar mengabarkan kepada kami dari Tsabit, dari Anas, ia berkata, Rasulullah bersabda: “Syafa’atku untuk para pelaku dosa besar di kalangan umatku.” (Isnadnya shahih menurut syarat al-Bukhari dan Muslim dan diriwayatkan oleh Abu `Isa at-Tirmidzi, kemudian ia berkata: “Hadits ini hasan shahih”).

Di dalam hadits shahih terdapat penguat (saksi) bagi maknanya, yaitu sabda Rasulullah, setelah menyebutkan syafa’at: “Apakah engkau berpendapat bahwa syafa’at itu untuk orang-orang yang beriman lagi bertakwa? Tidak. Akan tetapi syafa’at adalah untuk orang-orang yang bergelimang dosa.”

Para ulama ushul dan furu’ berbeda pendapat tentang batasan dosa besar. Sebagian ada yang berpendapat bahwa batasan dosa besar ialah sesuatu yang memiliki hukuman hadd (yang ditentukan batasannya) dalam syari’at. Ada pula yang berpendapat bahwa dosa besar adalah sesuatu yang memiliki ancaman khusus dalam al-Qur’an dan as-Sunnah. Imam al-Haramain dalam kitab al-Irsyaad dan yang lainnya berkata: “Dosa besar adalah setiap pelanggaran yang menunjukkan minimnya perhatian pelakunya pada agama dan kurangnya sikap keber-agamaan, maka hal itu dapat membatalkan keistiqamahan.”
Furu’: cabang-cabang. Yang dimaksud ulama furu’ yaitu, ulama fiqih. Ulama ushul yaitu, ulama i’tiqad (tauhid) Pent.

Al-Qadhi Abu Said al-Harawi menyatakan: “Dosa besar adalah setiap perilaku yang secara nash oleh al-Qur’an diharamkan dan setiap maksiat yang mendapat konsekuensi hukuman hadd, seperti membunuh atau yang lainnya, meninggalkan setiap fardhu yang diperintahkan agar dilaksanakan dengan segera, serta berdusta dalam persaksian, riwayat dan sumpah.” Inilah yang mereka sebutkan secara akurat.

Al-Qadhi ar-Ruyani berkata secara rinci: “Dosa-dosa besar ada tujuh: Membunuh jiwa tanpa haq, zina, homoseks, minum khamr, mencuri, merampas harta dan menuduh zina.” Di dalam asy-Syaamil ia menambahkan dari yang tujuh tersebut, yaitu saksi palsu.

Pengarang al-‘Uddah menambahkan dengan memakan riba, berbuka puasa di bulan Ramadhan (sebelum waktunya) tanpa udzur, sumpah palsu, memutuskan silaturahmi, mendurhakai kedua orang tua, lari dari pertempuran, memakan harta anak yatim, khianat dalam timbangan dan takaran, mendahului shalat dari waktunya, mengakhirkan waktu shalat tanpa udzur, memukul orang muslim tanpa haq, berdusta dengan sengaja atas nama Rasulullah, mencaci para Sahabat beliau, menyembunyikan persaksian tanpa udzur, menerima suap, melokalisasi lelaki dan wanita (dalam zina/menjadi mucikari), memfitnah di hadapan raja, enggan menunaikan zakat, meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar padahal mampu, melupakan al-Qur’an setelah mempelajarinya, membakar hewan dengan api, penolakan isteri terhadap (ajakan untuk berhubungan dari) suaminya tanpa sebab, putus asa dari rahmat Allah dan merasa aman dari makar Allah.

Dikatakan pula (menurut pendapat yang lain): Menuduh (mencemarkan) ahli ilmu dan ahli al-Qur’an. Di antaranya juga yang dinilai termasuk dosa besar adalah zhihar, memakan daging babi dan bangkai kecuali karena darurat.
Zhihar: Perkataan suami kepada isteri, “Kamu bagiku seperti punggung ibuku,” dengan maksud, dia tidak boleh lagi menggauli isterinya, sebagaimana ia tidak menggauli ibunya. Menurut adat Jahiliyyah, kalimat zhihar ini sama dengan mentalak (mencerai) isteri.

Jika dikatakan, sesungguhnya dosa besar itu adalah apa yang diancam oleh Allah dengan api Neraka secara khusus, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu`Abbas dan yang lainnya, maka hal tersebut akan terhimpun cukup banyak. Dan jika dikatakan, dosa besar itu adalah setiap yang dilarang oleh Allah, maka sangat banyak. Wallahu a’lam.

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 29-30

2 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan)
Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat

tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 29-30“Katakanlah: ‘Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah mengetahui’. Allah mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS. 3:29) Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (di mukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh; dan Allah memperingatkanmu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan Allah sangat Penyayang kepada hamba-hamba-Nya.” (QS. 3:30)

Allah swt. memberitahukan kepada hamba-hamba-Nya bahwa Dia mengetahui segala rahasia dan hal yang tersembunyi maupun yang terlihat. Tidak ada sesuatu pun dari mereka yang tersembunyi dari-Nya, bahkan ilmu-Nya meliputi mereka dalam segala kondisi dan waktu. Tidak ada sesuatu pun di langit dan di bumi yang tersembunyi dari-Nya meski hanya sebesar biji atom atau bahkan yang lebih kecil darinya.

wallaaHu ‘alaa kulli syai-in qadiir (“Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”) Yaitu bahwa kekuasaan Allah itu terlaksana atas semua itu. Dan ini merupakan peringatan bagi hamba-hamba-Nya untuk senantiasa takut agar mereka tidak melakukan larangan dan apa yang dimurkai-Nya. Karena sesungguhnya Dia mengetahui semua urusan mereka dan berkuasa untuk menyiksa mereka dengan segera. Kalaupun Dia menangguhkan mereka, maka Dia hanya menangguhkan, kemudian Ia akan menyiksanya sebagai siksaan dari Allah yang Mahaperkasa lagi Mahakuasa.

Oleh karenanya setelah itu Dia berfirman, yauma tajidu kullu nafsim maa ‘amilat min khairim muh-dlaran (“Pada hari ketika setiap diri mendapatkan segala kebajikan dihadapkan [di mukanya].”) Yaitu pada hari Kiamat kelak akan dihadirkan di hadapan seorang hamba semua amal perbuatannya, yang baik maupun yang buruk, sebagaimana firman-Nya, yunabbi-ul insaanu yauma-idzim bimaa qaddama wa akhkhara (“Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakaniya dan apa yang dilalaikannya.”) (QS. Al-Qiyaamah: 13)

Orang yang mendapatkan amal perbuatannya baik, maka amal itu akan membahagiakan dan menyenangkannya. Dan yang menemukan kejelekan dari amal perbuatannya, maka hal itu akan menjadikannya bersedih dan berkeinginan terlepas dari amal jeleknya itu, serta berharap ada jarak yang jauh antara dirinya dengan amal jeleknya itu, sebagaimana dia mengatakan kepada syaitan pendampingnya semasa di dunia dan syaitan itu pula yang menjadikannya berani berbuat jahat: yaa laita bainii wa bainaka bu’dal masyriqaini fabi’sal qariin (“Aduhai, semoga [jarak] antara aku dan kamu seperti jarak antara timur dan barat, maka syaitan itu adalah sejahat-jahat teman [yang menyertai manusia].” (QS. Az-Zukhruf: 38)

Setelah itu Allah mengukuhkan hal tersebut dan mengancam, Allah berfirman, wa yuhadzdzirukumullaaHu nafsaHu (“Dan Allah memperingatkanmu terhadap diri (siksa)-Nya.”) Yaitu Dia menakut-nakuti kalian dengan siksa-Nya. Selanjutnya Allah berfirman, memberikan harapan kepada hamba-hamba-Nya agar tidak bprputus asa dari rahmat dan kelembutan-Nya, dengan firman-Nya, wallaaHu ra-uufum bil’ibaad (“Dan Allah sangat penyayang kepada hamba-hamba-Nya.”) Al-Hasan al-Bashri berkata: “Di antara wujud kasih sayang Allah kepada mereka adalah pemberian peringatan kepada mereka agar takut pada diri-Nya.” Ulama lain berkata: “Maksudnya bahwa Dia sangat penyayang terhadap seluruh makhluk-Nya. Dia menginginkan agar mereka senantiasa beristiqamah di atas jalan-Nya yang lurus dan (dalam) agama-Nya yang benar serta mengikuti Rasul-Nya yang mulia.

&