Tag Archives: 31

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 31

12 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 31“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. al-A’raaf: 31)

Ayat ini merupakan bantahan atas tindakan orang-orang musyrik, yang dengan sengaja mengerjakan thawaf di Baitullah dalam keadaan telanjang. Sebagaimana yang diriwayatkan Imam Muslim, an-Nasa’i dan Ibnu Jarir.

Maka Allah berfirman: khudzuu ziinatakum ‘inda kulli masjidin (“Pakailah pakaianmu yang indah di setiap [memasuki] masjid.”)

Demikian yang dikatakan oleh Mujahid, ‘Atha’, Ibrahim an-Nakha’i, Sa’id bin Jubair, Qatadah, as-Suddi, adh-Dhahhak dan Malik, dari az-Zuhri dan beberapa ulama salaf dalam memberikan penafsiran terhadap ayat tersebut.

Karena ayat tersebut di atas dan juga beberapa pengertian (yang menunjukkan) hal itu di dalam Sunnah, yaitu disunnahkan untuk menghias diri ketika hendak mengerjakan shalat, lebih-lebih pada har’ Jum’at dan han raya.

Juga disunnahkan untuk memakai wangi-wangian, karena itu termasuk perhiasan, serta bersiwak, karena merupakan bagian dari kesempurnaan pakaian tersebut. Dan di antara pakaian yang paling baik adalah yang berwarna putih, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Ibnu ‘Abbas, sebagai hadits marfu’, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Pakailah pakaian kalian yang berwarna putih, karena sesungguhnya ia adalah sebaik-baik pakaian kalian. Dan kafanilah orang-orang yang mati di antara kalian dengannya. Dan sesungguhnya sebaik-baik celak mata kalian adalah yang dibuat dari batu itsmid, karena ia dapat memperjelas pandangan mata dan menumbuhkan rambut.” (HR. Ahmad; Hadits tersebut berisnad jayyid dan para perawinya memenuhi syarat Muslim. Juga diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah. Dan Imam at-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits tersebut hasan shahih.)

Dan dan Qatadah, dari Muhammad bin Sirin, bahwa Tamim ad-Dari pernah membeli sebuah rida’ (selendang atau sorban) dengan harga seribu, lalu ia mengerjakan shalat dengan mengenakannya.

Firman Allah Ta’ala selanjutnya: wa kuluu wasyrabuu (“Makan dan minumlah….”). Sebagian ulama salaf mengatakan, Allah Ta’ala telah menyatukan seluruh pengobatan pada setengah ayat ini, Makan dan minumlah dan janganlah kamu berlebih-lebihan.”

Imam al-Bukhari meriwayatkan, Ibnu ‘Abbas berkata: “Makan dan berpakaianlah sesuka kalian, asalkan engkau terhindar dari dua sifat: berlebih-lebihan dan sombong.”

Imam Ahmad meriwayatkan dari `Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Rasululullah saw. pernah bersabda: “Makan, minum, berpakaian dan bersedekahlah kalian dengan tidak sombong dan berlebih-lebihan, karena sesungguhnya Allah suka melihat nikmat-Nya tampak pada hamba-Nya.” (Hadits ini diriwayatkan pula oleh an-Nasa’i dan Ibnu Majah)

Imam Ahmad meriwayatkan, Yahya bin Jabir ath-Thaa-i menceritakan kepada kami, aku pernah mendengar al-Miqdam bin Ma’di Yakrib al-Kindi, ia berkata, aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Tidaklah anak Adam mengisi bejana yang lebih buruk daripada perutnya sendiri. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap makanan untuk menegakkan tulang punggungnya. Kalau ia memang harus melakukannya, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumnya dan sepertiga lagi untuk naasnya.” (Hadits tersebut diriwayatkan pula oleh an-Nasa’i dan at-Tirmidzi. Dan at-Tirmidzi mengatakan, bahwa hadits tersebut hasan dan dalam sebuah naskah lain disebut hasan shahih.)

As-Suddi mengatakan: “Orang-orang yang berthawaf di Baitullah dalam keadaan telanjang, mengharamkan lemak bagi diri mereka sendiri selama mereka berada di musim haji. Kemudian Allah Ta’ala berfirman kepada mereka: kuluu wasyrabuu (“Makan dan minumlah…”) Allah berfirman: “Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam mengharamkan.”

Ibnu Jarir berkata mengenai firman Allah: innallaaHa laa yuhibbul musrifiin (“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang orang yang berlebih-lebihan.”) (Maksudnya), Allah Ta’ala berfirman: innallaaHa laa yuhibbul mu’tadiin (“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”) (QS. Al-Baqarah: 190).

Yaitu ketetapan-Nya dalam hal tindakan penghalalan atau pengharaman orang-orang yang melampaui batas ketika menghalalkan dengan penghalalan yang haram atau pengharaman yang halal, di mana Allah mewajibkan agar menghalalkan apa yang Allah halalkan dan mengharamkan apa yang Allah haramkan, sebab yang demikian itu merupakan keadilan yang diperintahkan-Nya.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yunus ayat 31-33

5 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Yunus
Surah Makkiyyah; surah ke 10: 109 ayat

tulisan arab alquran surat yunus ayat 31-33“Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan.’ Maka mereka pasti menjawab: ‘Allah.’ Maka katakanlah: ‘Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?’ (QS. 10:31) Maka (Dzat yang demikian) itulah Allah, Rabbmu yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran) (QS. 10:32) Demikianlah, telah tetap hukuman Rabbmu terhadap orang-orang yang fasik, karena sesungguhnya mereka tidak beriman. (QS. 10:33)” (Yunus: 31-33)

Allah berhujjah atas orang-orang musyrik dengan pengakuan mereka terhadap Wahdaniyyah (keesaan-Nya) dan Rububiyyah-Nya atas Wahdaniyyah ketuhanan-Nya, maka Allah Ta’ala berfirman: qul may yarzuqukum minas samaa-i wal ardli (“Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi?’”) Maksudnya, siapakah yang menurunkan air hujan dari langit, hingga menyirami bumi dengan kekuasaan-Nya dan kehendak-Nya, maka keluarlah darinya: “Eiji-bijian, anggur, dan sayur sayuran, zaitun dan pohon kurma, kebun-kebun yang lebat dan buah-buahan serta rumput-rumput.” (QS. `Abasa: 28-3 1). Apakah ada Ilah selain Allah? Maka mereka akan menjawab: “Allah saja.”

Firman-Nya: ammay yamlikus sam’a wal abshaara (“Atau siapakah yang berkuasa [menciptakan] pendengaran dan penglihatan?”) maksudnya yang memberimu kekuatan pendengaran dan kekuatan penglihatan ini. Jika Allah berkehendak niscaya menghilangkannya dan mencabutnya darimu.

Sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Katakanlah: ‘Allah lah yang menciptakanmu dan menjadikan bagimu pendengaran dan penglihatan….” (QS. Al-Mulk: 23)

Firman-Nya: wa may yukhrijul hayya minal mayyiti wa yukhrijal mauta minal hayyi (“Dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup.”) Maksudnya, dengan kekuasaan-Nya yang agung dan pemberian-Nya yang luas. Pembicaraan tentang perbedaan pendapat dalam masalah tersebut telah lewat. Dan ayat ini adalah umum untuk hal itu.

Firman-Nya: wa may yudabbirul amra (“Dan siapakah yang mengatur segala urusan?”) maksudnya siapakah Dzat yang di tangan-Nyalah kekuasaan atas segala sesuatu? Dan Dia melindungi dan tidak ada yang dapat dilindungi (adzab)-Nya, Dialah Yang mengatur dan Hakim yang tidak ada yang dapat menolak keputusan-Nya dan Dia tidak ditanya tentang apa yang Dia perbuat, tetapi merekalah yang akan ditanya. Maka semua kerajaan adalah milik-Nya, baik yang di atas maupun yang di bawah dan juga apa yang ada di antara keduanya, dari Malaikat, manusia, jin, semuanya butuh kepada-Nya, sebagai hamba-Nya dan tunduk di hadapan-Nya.

fasayaquuluunallaaH (“Maka mereka akan menjawab: ‘Allah.’”) Maksudnya, mereka mengetahui hal itu dan mengakuinya. Faqul afalaa tattaquun (“Maka katakanlah: ‘Mengapa kamu tidak bertakwa [kepada-Nya]?’”) Maksudnya, apakah kamu tidak takut kepada-Nya, jika kamu menyekutukan-Nya dalam beribadah kepada-Nya dan hanya berdasarkan pendapatmu dan kebodohanmu.

Firman-Nya: fadzaalikumullaaHu rabbukumul haqqu (“Maka [Dzat yang demikian] itulah Allah, Rabbmu yang sebenarnya…”). Maksudnya, maka inilah yang kamu akui bahwa sesungguhnya Dialah yang melakukan itu semua, Dialah Rabb dan Ilah kalian yang sebenarnya, yang berhak untuk diesakan dalam peribadahan. Famaa dzaa ba’dal haqqi illadl-dlalaal (“Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, selain Allah adalah bathil,”) tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi) selain Allah yang Mahaesa, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Fa annaa tushrafuun (“Maka bagaimanakah kamu dapat dipalingkan [dari kebenaran]?”) maksudnya bagaimana kamu dapat dipalingkan dari beribadah kepada-Nya lalu beribadah kepada selain-Nya, sedangkan kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah adalah Rabb yang menciptakan segala sesuatu dan mengaturnya.

Firman-Nya: kadzaalika haqqat kalimatu rabbika ‘alal ladziina fasaquu (“Demikianlah telah tetap hukuman Rabbmu terhadap orang-orang yang fasik…”) sebagaimana halnya orang-orang musyrik berbuat kufur dan mereka terus-menerus dalam kemusyrikan dan menyekutukan Allah dalam ibadah mereka, padahal mereka mengetahui bahwa sesungguhnya Allahlah Dzat Yang menciptakan, Yang memberi rizki, Yang mengatur dalam kerajaan-Nya seorang diri (dan juga) Yang mengutus para Rasul-Nya untuk mentauhidkan-Nya. Maka dari itu telah nyatalah kalimat Allah atas mereka, maka sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang celaka, di antara penghuni-penghuni neraka.

MakaSebagaimana firman-Nya yang artinya: “Mereka menjawab: ‘Benar [telah datang]’ tetapi pasti berlaku ketetapan adzab terhadap orang-orang yang kafir.’” (Az-Zumar. 71)

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Huud ayat 31

28 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Huud
Surah Makkiyyah; surah ke 11: 123 ayat

tulisan arab alquran surat huud ayat 31“Dan aku tidak mengatakan kepada kamu (bahwa) aku mempunyai gudang-gudang rizki dan kekayaan dari Allah dan aku tidak juga mengetahui yang ghaib, dan tidak (pula) aku mengatakan: ‘Bahwa sesungguhnya aku adalah Malaikat,’ dan tidak juga aku mengatakan kepada orang-orang yang dipandang hina oleh penglihatanmu; ‘Sekali-kali Allah tidak akan mendatangkan kebaikan kepada mereka.’ Allah lebih mengetahui apa yang ada pada diri mereka; sesungguhnya aku, kalau begitu benar-benar termasuk orang-orang yang dhalim.” (QS. Huud: 31)

Lebih lanjut, Nuh as. memberitahu mereka bahwa dirinya adalah Rasul utusan Allah yang mengajak mereka beribadah kepada Allah Ta’ala semata, yang tiada sekutu bagi-Nya. Dan dalam hal itu, ia telah mendapatkan izin dari Allah.

Selain itu ia juga memberitahu mereka bahwa dirinya tidak mempunyai kemampuan untuk mengatur berbagai perbendaharaan Allah dan tidak juga ia mengetahui hal-hal yang ghaib kecuali sedikit yang Allah perlihatkan kepadanya, juga bahwasanya ia bukanlah seorang Malaikat, tetapi ia hanyalah manusia biasa yang diutus dengan didukung oleh mukjizat.

Ia juga memberitahukan, bahwa dirinya tidak mengatakan, bahwa orang-orang yang mereka hinakan dan usir itu tidak memperoleh pahala di sisi Allah atas amal perbuatan mereka. Allah lebih mengetahui apa yang ada pada diri mereka. Jika mereka beriman secara batiniyah sesuai dengan yang ada pada lahiriyahnya, maka bagi mereka adalah balasan yang baik. Jika seseorang memutuskan dengan tuduhan yang buruk kepada mereka yang telah beriman, maka orang tersebut telah berbuat dhalim dengan mengatakan apa yang sebenarnya tidak ia ketahui.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ar-Ra’du ayat 31

24 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Ar-Ra’du (Guruh)
Surah Madaniyyah; surah ke 13: 43 ayat

tulisan arab alquran surat ar ra'du ayat 31“Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan atau bumi jadi terbelah atau oleh karenanya orang yang sudah mati dapat berbicara, (tentu al-Qur’an itulah dia). Sebenarnya segala urusan itu adalah kepunyaan Allah. Maka apakah orang-orang yang beriman itu tidak mengetahui bahwa seandainya Allah menghendaki (semua manusia beriman), tentu Allah memberi petunjuk kepada manusia semuanya. Dan orang-orang yang kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri atau bencana itu terjadi (di) dekat tempat kediaman mereka, sehingga datanglah janji Allah. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.” (QS. ar-Ra’du: 31)

Allah berfirman, memuji al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. dan mengutamakannya di atas semua kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya: walau anna qur-aanan suyyirat biHil jibaalu ( “Dan sekiranya ada suatu bacaan [kitab suci] yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan.”) Maksudnya kalau di antara kitab-kitab suci terdahulu ada kitab yang dapat menggoncangkan gunung-gunung dari tempatnya, atau bumi dapat terbelah oleh karenanya orang-orang yang telah mati dapat berbicara dalam kuburnya tentu al-Qur’an itulah yang mempunyai hal seperti itu, bukan yang lain, lebih berhak bersifat demikian, karena mukjizat-mukjizat yang terkandung dalamnya. Walaupun demikian, orang-orang musyrik itu tetap kafir,tidak percaya dan mengingkarinya.

Bal lillaaHi amru jamii’an (“Sebenarnya segala urusan itu adalah kepunyaan Allah.”) Maksudnya, segala urusan itu kembali kepada Allah, apa yang Allah kehendaki pasti terjadi, dan apa yang tidak dikendaki-Nya pasti tidak terjadi. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada yang dapat menunjukinya. Dan barangsiapa yang ditunjuki Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya.

Nama al-Qur’an terkadang digunakan untuk menyebut semua kitab terdahulu, karena asal kata Qur’an itu jama’, sebagaimana diriwayatkan Imam Ahmad dari Abu Hurairah ra, ia mengatakan, Rasulullah saw. bersabda: “Al-Qur’an itu meringankan bagi Dawud. la memerintahkan agar dipasangkan pelana pada kudanya, dan ia membaca al-Qur’an sebelum pelana itu terpasang, dan ia (Dawud) tidak makan kecuali dari hasil kerja tangannya.”
Hadits ini hanya diriwayatkan oleh al-Bukhari. Sedangkan yang di-maksud dengan al-Qur’an di sini adalah kitab Zabur.

Afalam yai-asil ladziina aamanuu (“Maka tidakkah orang-orang yang beriman itu rnengetahui,”) dari berimannya semua makhluk manusia dan mengetahui atau mengerti; al lau yasyaa-ullaaHu laHadan naasas jamii’an (“Bahwa seandainya Allah menghendaki semua manusia beriman tentu Allah memberi petunjuk kepada manusia semuanya. Karena tidak ada alasan atau mukjizat yang lebih kuat dan lebih berguna akal dan jiwa daripada al-Qur’an ini, yang seandainya diturunkan kepada gunung pasti akan tunduk, luluh berantakan karena takutnya kepada Allah.

Disebutkan dalam hadits shahih bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Setiap Nabi pasti diberi oleh Allah apa yang (membuat) manusia percaya terhadap hal-hal seperti itu, tetapi apa yang diberikan kepadaku adalah wahyu, yang diwahyukan Allah kepadaku, maka aku mengharapkan menjadi Nabi yang terbanyak pengikutnya pada hari Kiamat nanti.” (Muttafaq `alaih)

Maksudnya, mukjizat setiap Nabi itu habis (berakhir) setelah Nabi tersebut wafat, sedangkan al-Qur’an ini adalah hujjah (argumentasi) yang tetap kekal sepanjang masa yang tidak habis-habis keajaibannya. Tidak usang karena banyak diulang, dan ulama tidak akan merasa kenyang dengannya. Ia adalah pemisah antara yang haq dan yang bathil, bukan senda gurau. Barangsiapa yang meninggalkannya karena pengaruh orang yang dhalim, maka Allah pasti akan menghancurkannya, dan barangsiapa mencari petunjuk selain dari al-Qur’an, pasti Allah akan menyesatkannya.

Tentang firman Allah: bal lillaaHi amru jamii’an (“Sebenarnya segala urusan itu lalah kepunyaan Allah,”) Ibnu `Abbas mengatakan: “Maksudnya, Allah tidak berbuat dari hal-hal tersebut kecuali apa yang dikehendaki-Nya dan Allah tidak melakukannya (bila Dia tidak menghendaki).”

Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dengan sanadnya dari Ibnu ‘Abbas mengatakan, bahwa tidak sedikit dari ulama salaf yang mengatakan tentang firman Allah: Afalam yai-asil ladziina aamanuu (“Maka tidakkah orang-orang yang beriman itu rnengetahui,”) Bahwa yaias di sini artinya mengetahui.

Walaa yazaalul ladziina kafaruu tushiibuHum bimaa shana’uu qaari’atun au tahullu qariibam min diyaariHim (“Dan orang-orang yang kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri, atau bencana itu terjadi didekat tempat kediaman mereka.”) Maksudnya, disebabkan oleh pendustaan mereka, bencana selalu menimpa mereka di dunia, menimpa orang-orang di sekitar mereka agar mereka mengambil nasehat pelaiaran darinya, sebagaimana firman Allah:
“Sesungguhnya Kami hancurkan kampung-kampung yang ada di sekitarmu, dan Kami telah mendatangkan tanda-tanda (kekuasaan Allah) berulang-ulang agar mereka bertaubat.” (Al-Ahqaaf: 27)

Oatadah meriwavatkan dari al-Hasan, ia mengatakan: au tahullu qariibam min diyaariHim (“Atau bencana itu terjadi dekat tempat kediaman mereka.”) Maksudnya adalah bencana itu, dan inilah arti yang nampak dari susunan kalimat. Abu Dawud ath-Thayalisi meriwayatkan dari Ibnu `Abbas, tentang firman Allah Ta’ala: Walaa yazaalul ladziina kafaruu tushiibuHum bimaa shana’uu qaari’atun (“Dan orang-orang yang kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri.”) berkata, maksudnya serangan pasukan.

au tahullu qariibam min diyaariHim (“Atau bencana itu terjadi dekat tempat kediaman mereka.”) Maksudnya, Muhammad saw. hattaa ya’tiya wa’dullaaHi (“Sehingga datanglah janji Allah,”) yaitu Fathu Makkah (penundukan kota Makkah). Demikian yang dikatakan oleh `Ikrimah
bin Jubair dan Mujahid menurut satu riwayat.

Sedangkan al-‘Aufi dari Ibnu `Abbas mengatakan: Qari’ah maksudnya adzab dari langit yang turun menimpa mereka. au tahullu qariibam min diyaariHim (“Atau bencana itu terjadi dekat tempat kediaman mereka.”) Maksudnya, Rasulullah turun kepada mereka dan memerangi mereka. Demikian pula dikatakan oleh Mujahid dan Qatadah. `Ikrimah menurut satu riwayat mengatakan, dari Ibnu `Abbas: “Qari’ah artinya bencana.” Dan mereka semua mengatakan: hattaa ya’tiya wa’dullaaHi (“Sehingga datanglah janji Allah,”) Yaitu, Fathu Makkah (penundukan kota Makkah). Al-Hasan al-Bashri mengatakan: “Yaitu datangnya hari Kiamat.”

Firman Allah: innallaaHa laa yukhliful mii’aad (“Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.”) Maksudnya yaitu, tidak melanggar janji-Nya kepada para Rasul untuk menolong mereka dan pengikut mereka di dunia dan akhirat.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ibrahim ayat 31

24 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Ibrahim
Surah Makkiyyah; surah ke 14: 52 ayat

tulisan arab alquran surat ibrahim ayat 31“Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: ‘Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rizki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi-sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (Kiamat) yang pada hari itu tidak adajual-beli dan persahabatan.” (QS. Ibrahim: 31)

Allah memerintahkan kepada para hamba-Nya agar taat kepada Allah, melaksanakan hak-Nya dan berbuat baik kepada makhluk, yaitu dengan mendirikan shalat yang merupakan ibadah kepada Allah yang Mahaesa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan menafkahkan sebagian dari rizki yang diberikan Allah kepada mereka dengan membayar zakat, memberikan nafkah kepada kerabat serta berbuat baik kepada orang-orang yang lainnya.

Yang dimaksud dengan mendirikan shalat adalah menjaga waktu, ketentuan-ketentuan, ruku’, sujud dan kekhusyu’annya. Allah Ta’ala juga memerintahkan agar menafkahkan sebagian dari rizki mereka dengan cara sembunyi-sembunyi atau diam-diam maupun terang-terangan yang diketahui oleh orang lain, supaya mereka cepat-cepat melaksanakannya untuk membebaskan diri mereka; min qabli ay ya’tiya yaumun (“sebelum datang hari”) yaitu hari Kiamat.
Laa bai’un fiiHi wa laa khilaal (“Yang pada hari itu tidak ada jual-beli dan persahabatan,”) maksudnya, tidak ada tebusan dari seorangpun dengan membeli dirinya, sebagaimana firman Allah yang artinya: “Maka pada hari ini tidak diambil darimu tebusan dan tidak pula dari orang-
orang kafir.” (QS. Al-Hadiid: 15)

Firman Allah: wa laa khilaal (“Dan tidak ada persahabatan,”) Ibnu Jarir mengatakan: “Di sana tidak ada persahabatan dengan sahabat sehingga dapat membebaskan seseorang dari hukuman yang semestinya diterima akibat pelanggarannya. Tetapi yang ada adalah keadilan.”

Qatadah mengatakan: “Sesungguhnya Allah mengetahui, bahwa di dunia ini terdapat jual-beli dan persahabatan yang terjalin antar manusia yang satu dengan yang lain. Maka, seseorang akan diperhatikan siapa yang dijadikannya sahabat dan berdasar atas apa dia berkawan. Bila persahabatan itu karena Allah, maka hendaknya dilanggengkan (diteruskan), bila karena hal lain, maka supaya diputuskannya.

Aku (Ibnu Katsir) berpendapat, maksud ayat ini adalah bahwasanya Allah memberitahukan bahwa jual-beli dan tebusan itu sama sekali tidak ada gunanya bagi seseorang, walaupun tebusan itu dengan emas sepenuh bumi kalau memang ada. Demikian pula tidak berguna persahabatan dengan seseorang atau syafa’at dari seseorang, bila ia mati dalam keadan kafir.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nahl ayat 30-32

16 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nahl (Lebah)
Surah Makkiyyah; surah ke 16: 128 ayat

tulisan arab alquran surat an nahl ayat 30-32“Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa: ‘Apakah yang telah diturunkan oleh Rabbmu.’ Mereka menjawab: ‘(Allah telah menurunkan) kebaikan.’ Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa, (QS. 16:30) (yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalam surga itu mereka mendapat segala apa yang mereka kehendaki. Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa, (QS. 16:31) (yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para Malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): ‘Salaamun alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. 16:32) (an-Nahl: 30-32)

Ini adalah khabar tentang orang-orang yang beruntung, kebalikan dari apa yang telah Allah khabarkan sebelumnya, yaitu tentang orang-orang yang celaka, yang apabila di katakan kepada mereka: maa dzaa anzala rabbukum (“Apakah yang diturunkan oleh Rabbmu?”) mereka menjawab seraya berpaling dari jawaban, Rabb tidak menurunkan apa-apa, sesungguhnya (al-Qur’an) ini adalah dongengan-dongengan orang-orang terdahulu.

Sedangkan orang-orang yang beruntung (orang-orang yang bertakwa) menjawab: “Baik,” maksudnya, Allah menurunkan kebaikan, yaitu rahmat dan barakah untuk orang yang mengikuti-Nya dan beriman kepada-Nya. Kemudian Allah memberi khabar tentang apa yang dijanjikan oleh Allah untuk hamba-hamba-Nya, di dalam apa yang telah Allah turunkan kepada para Rasul-Nya, maka Allah berfirman: lil ladziina ahsanuu fii HaadziHid dun-yaa hasanatun… (“Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat pembalasan yang baik..”) dan ayat seterusnya.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala yang artinya: “Barangsiapa yang mengamalkan amal shalih baik laki-laki maupun perempuan (sedang) dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan,” (QS. An-Nahl: 97)

Maksudnya, dari kebaikan amalnya di dunia, Allah memberikan kepadanya kebaikan di dunia dan akhirat. Kemudian Allah memberi khabar bahwa sesungguhnya negeri akhirat lebih baik, maksudnya dari kehidupan di dunia dan pembalasan di dalamnya lebih sempurna daripada pembalasan di dunia. Kemudian Allah memberi kriteria negeri akhirat, maka Allah berfirman: wa lani’ma daarul muttaqiin (“Dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang-orang yang bertakwa,”) dan firman-Nya: jannaatu ‘adnin (“Yaitu surga Adn,”) kalimat ini adalah badal dari kalimat “Darul mut’taqiin” (tempat bagi orang-orang yang bertakwa), maksudnya di akhirat mereka mendapatkan surga `Adn, yaitu tempat yang mereka masuk ke dalamnya; tajrii min tahtiHal anHaaru (“Mengalir di bawahnya sungai-sungai,”) maksudnya di antara pohon-pohonnya dan istana-istananya.

laHum fiiHaa maa yasyaa-uuna (“Di dalam surga itu mereka mendapat segala apa yang mereka kehendaki,”) kadzaalika yajzillaaHul muttaqiin (“Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa,”) maksudnya begitulah Allah membalas setiap orang yang beriman dan bertakwa kepada-Nya dan berbuat baik atas perbuatannya.

Kemudian Allah Ta’ala memberi khabar tentang keadaan mereka di saat mereka menghadapi kematian, bahwa sesungguhnya mereka itu dalam keadaan thayyib, maksudnya mereka bebas dari kemusyrikan, kekotoran dan dari setiap kejahatan, dan bahwasanya para Malaikat memberi salam dan khabar gembira kepada mereka dengan surga. Dan telah kami sebutkan hadits-hadits yang menerangkan tentang di cabutnya ruh orang mukmin dan ruh orang kafir di dalam firman Allah Ta’ala: yutsabbitullaaHul ladziina aamanuu bil qaulits tsaabiti (“Allah meneguhkan [iman] orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh.” (QS. Ibrahim: 27)

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Israa’ Ayat 31

13 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Israa’
(Memperjalankan di Malam Hari)
Surah Makkiyyah; surah ke 17: 111 ayat

tulisan arab alquran surat al israa ayat 31“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rizki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar. (QS. Al-Israa’: 31)

Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa Allah sangat sayang kepada hamba-hamba-Nya, lebih dari kasih sayang orang tua kepada anaknya, karena Dia telah melarang umat manusia membunuh anak-anak mereka. Sebagaimana pula Allah mewasiatkan kepada orang tua terhadap anak-anaknya dalam pembagian waris. Dulu, orang-orang Jahiliyah tidak memberikan
warisan kepada anak perempuan. Bahkan ada salah seorang di antara mereka yang membunuh anak perempuannya dengan tujuan agar tidak semakin banyak beban hidupnya. Lalu Allah melarang perbuatan tersebut seraya berfirman: wa laa taqtuluu aulaadakum khasy-yata imlaaq (“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan.”) Maksudnya, karena kalian takut menjadi miskin dalam keadaan yang kedua.

Oleh karena itu, Dia mengedepankan perhatian terhadap rizki mereka, di mana Dia berfirman: nahnu narzuquHum wa iyaaHum (“Kamilah yang memberi rizki kepada mereka dan juga kepada kalian.”)

Dan dalam surat Al-An’aam, Allah berfirman: “Dan janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rizki kepada kalian dan kepada mereka.” (QS. Al-An’aam: 151)

Firman-Nya: inna qatlaHum kaana khith-an kabiiran (“Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu kesalahan yang besar.”) Yakni, dosa yang besar. Sebagian ulama membacanya dengan bacaan “khath-an” yang mempunyai arti sama dengan bacaan khith-an kabiran.

Dan dalam kitab ash-Shahihain disebutkan, dari `Abdullah bin Mas’ud, aku pernah bertanya: “Ya Rasulullah, apakah dosa yang paling besar?” Beliau menjawab: “Yakni engkau menjadikan sekutu bagi Allah, padahal Dia yang telah menciptakanmu.” “Kemudian apa lagi?” Tanyaku lebih lanjut. Beliau menjawab: “Yakni, engkau membunuh anakmu karena takut ia akan makan bersamamu.” “Lalu apa lagi?” Tanyaku. Beliau menjawab: “Yakni, engkau berzina dengan isteri tetanggamu.”

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nisaa’ ayat 29-31

5 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nisaa’ (Wanita)
Surah Madaniyyah; surah ke 4: 176 ayat

tulisan arab alquran surat an nisaa' ayat 29-31“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Mahapenyayang kepadamu. (QS. 4:29) Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam Neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (QS. 4:30) Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (Surga). (QS. 4:31)” (an-Nisaa’: 29-31)

Allah melarang hamba-hamba-Nya yang beriman memakan harta sebagian mereka tehadap sebagian lainnya dengan bathil, yaitu dengan berbagai macam usaha yang tidak syar’i seperti riba, Judi dan berbagai hal serupa yang penuh tipu daya, sekalipun pada lahiriahnya cara-cara tersebut berdasarkan keumuman hukum syar’i, tetapi diketahui oleh Allah dengan jelas bahwa pelakunya hendak melakukan tipu muslihat terhadap riba. Sehingga Ibnu Jarirberkata: “Diriwayatkan dari Ibnu `Abbas tentang seseorang yang membeli baju dari orang lain dengan mengatakan jika anda senang, anda dapat mengambilnya, dan jika tidak, anda dapat mengembalikannya dan tambahkan satu dirham.” Itulah yang difirmankan oleh Allah: laa ta’kuluu amwaalakum bainakum bil baathili (“Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil.”).”

`Ali bin Abi Thalhah mengatakan dari Ibnu `Abbas, ia berkata: “Ketika diturunkan oleh Allah: yaa ayyuHal ladziina aamanuu laa ta’kuluu amwaalakum bainakum bil baathili (“Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil,”) kaum muslimin berkata, “Sesungguhnya Allah telah melarang kita untuk memakan harta di antara kita dengan bathil. Sedangkan makanan adalah harta kita yang paling utama, untuk itu tidak halal bagi kita makan di tempat orang lain, maka bagaimana dengan seluruh manusia?” Maka, Allah setelah itu menurunkan ayat yang artinya:
“Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit dan tidak (pula) bagi dirimu sendiri, makan (bersama-sama mereka) di rumahmu sendiri atau di rumah bapak-bapakmu, di rumah ibu-ibumu, di rumah saudara-saudaramu yang laki-laki, di rumah saudara-saudaramu yang perempuan, di rumah saudara-saudara bapakmu yang laki-laki, di rumah saudara-saudara bapakmu yang perempuan, di rumah saudara-saudara ibumu yang laki-laki, di rumah saudara-saudara ibumu yang perempuan, di rumah yang kamu miliki kuncinya atau di rumah kawan-kawanmu. Tidak ada halangan bagi kamu makan bersama-sama mereka atau sendirian. Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada penghuninya salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberkati lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat(Nya) bagimu, agar kamu memahaminya.” (QS. An-Nuur: 61)
Demikianlah kata Qatadah.

Firman Allah: illaa an takuuna tijaaratan ‘an taraadlim minkum (“Kecuali dengan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka.”) Lafazd (tijaaratan) dibaca dengan rafa’ (dhammah) atau nashab (fathah) yaitu, menjadi istitsna munqathi’ (pengecualian terpisah). Seakan-akan Allah berfirman: “Janganlah kalian menjalankan (melakukan) sebab-sebab yang diharamkan dalam mencari harta, akan tetapi dengan perniagaan yang disyari’atkan, yang terjadi dengan saling meridhai antara penjual dan pembeli, maka lakukanlah hal itu dan jadikanlah hal itu sebagai sebab dalam memperoleh harta benda. Sebagaimana Allah berfirman, “Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar.” (QS. Al-An’aam: 151)

Dari ayat yang mulia ini, asy-Syafi’i berhujjah bahwa jual-beli tidak sah kecuali dengan qabul (sikap menerima). Karena qabul itulah petunjuk nyata suka sama suka, berbeda dengan mu aathaat yang terkadang tidak menunjukkanadanya suka sama suka. Dalam hal ini Malik, Abu Hanifah dan Ahmad berbeda pendapat dengan Jumhur ulama, bahwa mereka melihat perkataan merupakan tanda suka sama suka, begitu pula dengan perbuatan, pada sebagian kondisi secara pasti menunjukkan keridhaan, sehingga mereka menilai sah jual-beli mu’aathaat. Mujahid berkata, “Kecuali perniagaan yang mengandung suka sama suka,” menjual atau membeli antara satu orang dengan yang lainnya. (Begitu juga Ibnu Jarir meriwayatkan).

Ba’i mu’aathaath: Jual-beli dengan cara memberikan barang dan menerima harga, tanpa ijab qabul oleh pihak penjual dan pembeli, seperti yang berlaku di masyarakat sekarang. (Pen-jualan secara tukar-menukar).

Di antara kesempurnaan suka sama suka adalah menetapkan khiyar majelis (memilih barang di tempat). Khiyar majelis: Hak untuk menjadikan suatu akad jual beli atau membatalkannya selama masih berada di tempat jual beli itu.

Sebagaimana terdapat dalam ash-Shahihain,bahwa Rasulullah bersabda: “Penjual dan pembeli berhak memilih (jadi atau batal jual belinya) selama keduanya belum berpisah.”
Di dalam lafazh al-Bukhari; “Jika dua orang melakukan jual-beli, maka masing-masing memiliki hak pilih selama keduanya belum berpisah.”

Di antara ulama yang berpendapat yang sesuai dengan kandungan hadits ini adalah Ahmad, asy-Syafi’i dan para pengikut keduanya serta Jumhur ulama Salaf dan Khalaf. Termasuk di dalamnya disyari’atkannya khiyar syarat (hak pilih dengan menetapkan syarat) hingga tiga hari setelah akad sesuai dengan kejelasan barang yang diperjual belikan, bahkan hingga satu tahun di lokasi, sebagaimana pendapat yang masyhur dari Malik. Mereka menilai sah jual-beli mu’aathaat secara mutlak, yaitu satu pendapat dalam madzhab asy-Syafi’i.

Firman Allah: walaa taqtuluu anfusakum (“janganlah kamu membunuh dirimu.”) Yaitu dengan melakukan hal-hal yang diharamkan Allah, sibuk melakukan kemaksiatan terhadap-Nya dan memakan harta di antara kalian dengan bathil.
innallaaHa kaana bikum rahiiman (“Sesungguhnya Allah Mahapenyayang terhadapmu,”) yaitu pada apa yang diperintahkan dan dilarang-Nya untuk kalian.

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Amr bin al-‘Ash ia berkata, “Ketika Rasulullah mengutusnya pada tahun Dzatus-Salasil, ia berkata: “Di malam yang sangat dingin menggigil aku pernah mimpi jima’, aku khawatir jika mandi aku akan binasa. Maka aku pun tayammum, kemudian shalat Shubuh dengan sahabat-sahabatku. Ketika kami menghadap Rasulullah, aku menceritakan hal tersebut kepada beliau.” Beliau pun bersabda: “Hai `Amr, engkau shalat dengan sahabat-sahabatmu dalam keadaan junub?” Aku menjawab: “Ya Rasulullah! Di malam yang dingin menggigil aku pernah mimpi jima’, lalu aku khawatir jika aku mandi, aku akan binasa. Lalu aku ingat firman Allah: walaa taqtuluu anfusakum innallaaHa kaana bikum rahiiman (“Janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah Mahapenyayang kepadamu.”) Maka aku pun tayammum, kemudian shalat. Maka Rasulullah saw. tertawa dan tidak berkata apa-apa lagi. Demikianlah yang diriwayatkan oleh Abu Dawud. (al-Bukhari meriwayatkannya secara mu’alaq)

Kemudian Ibnu Marudawaih ketika membahas ayat yang mulia ini mengemukakan hadits dari al-A’masy dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah ra ia berkata, Rasulullah saw bersabda:
“Barangsiapa bunuh diri dengan sebuah besi, maka besi itu akan ada di tangannya untuk merobek-robek perutnya pada hari Kiamat kelak di Neraka Jahannam kekal selamanya. Dan barangsiapa membunuh dirinya dengan racun, niscaya racun itu berada di tangannya, dia meneguknya di Neraka Jahannam kekal selamanya.” (Hadits ini terdapat dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim).

Oleh karena itu, Allah berfirman: wa may yaf’al dzaalika ‘udwaanaw wa dhulman (“Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan dhalim.”) Yaitu, barang-siapa yang melakukan apa yang dilarang oleh Allah dengan melampaui batas lagi dhalim dalam melakukannya, dalam arti mengetahui keharamannya tetapi berani melanggarnya; fasaufa nushliiHi naaran (“Maka kelak akan Kami masukkan kedalam Neraka.”) Ayat ini merupakan peringatan keras dan ancaman serius, maka hendaklah waspada setiap orang yang berakal yang menggunakan pendengarannya sedang dia menyaksikannya.

Firman Allah: in tajtanibuu kabaa-ira maa tunHauna ‘anHu nukaffir ‘ankum sayyi-aatikum (“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu [dosa-dosamu yang kecil].”) Artinya, jika kalian menjauhi dosa-dosa besar, niscaya Kami hapuskan dosa-dosa kecil kalian dan Kami masukkan kalian ke dalam Surga. Karena itu, Allah berfirman: wa nud-khilkum mud-khalan kariiman (“Dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia.”) Terdapat hadits-hadits yang berkaitan dengan ayat yang mulia ini, kami akan menyebutkan beberapa di antaranya.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Salman al-Farisi, ia berkata, Nabi saw. bersabda kepadaku: “Apakah engkau tahu, apakah hari Jum’at itu?” Aku menjawab: “Yaitu hari di mana Allah himpunkan bapak-bapak kalian.” Beliau pun bersabda: “Akan tetapi, aku tahu apa itu hari Jum’at. Tidak ada seseorang yang bersuci, lalu membaguskan wudhunya dan pergi melaksanakan shalat Jum’at. Kemudian diam hingga imam menyelesaikan shalatnya, kecuali hal itu menjadi penghapus dosa baginya antara hari itu dan Jum’at sesudahnya selama ia menjauhi dosa-dosa besar.”

Al-Bukhari meriwayatkan dari jalan lain, melalui Sahabat yang sama dengan hadits itu, yakni Salman al-Farisi. Abu Ja’far bin Jarir meriwayatkan dari Nu’aim al-Mujmir, telah mengabarkan kepadaku Shuhaib, maula ash-Shawari, bahwa dia mendengar Abu Hurairah dan Abu Sa’id ra. berkata, suatu hari Rasulullah berkhutbah kepada kami: “Demi Rabb yang jiwaku di tangan-Nya,” kemudian Rasulullah saw. menunduk penuh tangis. Kami tidak tahu apa yang menyebabkan beliau bersumpah. Kemudian, beliau mengangkat kepala dan pada wajahnya tampak keceriaan yang bagi kami hal itu lebih kami senangi daripada unta merah, beliau bersabda: “Tidak ada seorang hamba pun yang shalat lima waktu, puasa Ramadhan, mengeluarkan zakat dan menjauhi tujuh dosa besar, kecuali akan dibukakan untuknya pintu-pintu Surga. Kemudian dikatakan padanya: ‘Masuklah dengan aman.’” Demikian riwayat an-Nasa’i, al-Hakim dalam al-Mustadrak dan Ibnu Hibban dalam shahihnya. Al-Hakim berkata, shahih atas syarat al-Bukhari dan Muslim, akan tetapi keduanya tidak mengeluarkannya.

Penjelasan tentang Tujuh Dosa Besar

Tercantum dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari hadits Sulaiman bin Hilal, dari Tsaur bin Zaid, dari Salim Abil Mughits, dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah bersabda: “Jauhilah tujuh hal yang membinasakan.” Beliau ditanya: “Ya Rasulullah apakah itu?” Beliau bersabda: “Syirik kepada Allah, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan haq, sihir, memakan riba, memakan harta anak yatim, lari dari medan peperangan, serta menuduh berbuat zina pada wanita mukminah yang baik-baik yang suci lagi beriman.”

Nash yang menetapkan tujuh macam ini sebagai dosa-dosa besar, tidak berarti meniadakan dosa-dosa lainnya. Wallahu a’lam.

(Hadits yang lain) dikeluarkan oleh al-Bukhari dan Muslim, dari hadits `Abdurrahman bin Abi Bakar dari ayahnya, ia berkata, Nabi bersabda: “Maukah kuberitahu pada kalian tentang dosa-dosa besar?” Kami menjawab: “Tentu, ya Rasulullah.” Beliau bersabda: “Yaitu-berbuat syirik kepada Allah, dan durhaka kepada orang tua.” [-Tadinya beliau bersandar, kemudian beliau duduk-] dan bersabda: “Hati-hatilah, dan juga persaksian palsu, hati-hatilah dan juga perkataan dusta.” Beliau terus-menerus mengulangnya, hingga kami berkata mudah-mudahan beliau diam.

(Hadits lain yang di dalamnya terdapat pembunuhan anak). Di dalam kitab ash-Shahihain dari ‘Abdullah bin Masud, ia berkata: Aku bertanya: “Ya Rasulullah, apakah dosa yang paling besar?” Beliau menjawab: “Yaitu, engkau jadikan tandingan bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakanmu.” Aku bertanya: “Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab: “Kamu bunuh anakmu, karena takut makan bersamamu.” Aku bertanya lagi: “Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab: “Kamu berzina dengan isteri tetanggamu.” Lalu beliau membaca: “Dan orang-orang yang tidak menyembah ilah yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya). (Yakni) akan dilipat-gandakan adzab untuknya pada hari Kiamat dan dia akan kekal dalam adzab itu dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat.” (QS. Al-Furqaan: 68-70).

(Hadits lain) dari ‘Abdullah bin `Amr yang di dalamnya terdapat sumpah palsu. Imam Ahmad meriwayatkan, dari `Abdullah bin ‘Amr, bahwa Nabi saw. bersabda: “Dosa besar yang paling besar adalah syirik kepada Allah, durhaka kepada kedua orang tua, atau bunuh diri (dalam hal ini Syu’bah ragu) dan sumpah palsu.” (HR. Al-Bukhari, at-Tirmidzi, dan an-Nasa’i).

(Hadits lain) dari `Abdullah bin ‘Amr, yang di dalamnya terdapat perilaku yang menyebabkan pencelaan kepada kedua orang tua. Ibnu AbiHatim meriwayatkan, dari `Abdullah bin ‘Amr yang dirafa’kan (disambungkan wayatnya) oleh Sufyan kepada Nabi. Sedangkan Mas’ar memauqufkannya (menghentikannya) pada `Abdullah bin ‘Amr: “Di antara dosa besar adalah seseorang yang mencaci-maki kedua orang tuanya.” Mereka bertanya: “Bagaimana seseorang dapat mencaci-maki kedua orang tuanya?” Beliau menjawab: “Yaitu seseorang mencaci-maki ayah orang lain, lalu orang lain itu membalas mencaci-maki ayahnya. Dan seseorang mencaci-maki ibu orang lain, lalu orang lain itu membalas mencaci-maki ibunya.”

Dikeluarkan oleh al-Bukhari dari `Abdullah bin ‘Amr, ia berkata: Rasulullah bersabda: “Di antara dosa besar yang paling besar adalah seseorang melaknat kedua orangtuanya.” Mereka bertanya: “Bagaimana seseorang melaknat kedua orang tuanya?” Beliau menjawab: “seseorang mencaci ayah orang lain lalu orang lain itu mencaci kembali ayahnya. Dan seseorang mencaci ibu orang lain, lalu orang lain itupun mencaci kembali ibunya.” Demikianlah yang diriwayatkan oleh Muslim secara marfu’ (riwayatnya sampai pada Nabi saw) at-Tirmidzi berkata: “Shahih.”

Di dalam hadits shahih dikatakan, bahwa Rasulullah bersabda: “Mencaci orang muslim adalah fasik dan membunuhnya adalah kafir.”

(Hadits lain tentang itu), Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari al-‘Alla bin `Abdurrahman, dari ayahnya dari Abu Hurairah ra, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Di antara dosa besar yang paling besar adalah merampas (mencemarkan) kehormatan seseorang muslim dan dua orang yang saling mencaci dengan cacian.”

Demikian riwayat hadits ini, dikeluarkan oleh Abu Dawud dalam kitab Sunannya, kitab “al Adab”, dari Abu Hurairah ra, bahwa Nabi bersabda: “Di antara dosa besar yang paling besar adalah (mendhalimi) melampaui batas terhadap kehormatan seorang muslim tanpa haq dan termasuk di antara dosa besar, dua orang yang saling mencaci-maki dengan cacian.”

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Abu Qatadah al-‘Adwah, ia berkata: “Kami telah dibacakan surat `Umar yang di dalamnya tertulis; Di antara dosa besar adalah menjamak dua waktu shalat [-yaitu tanpa udzur-], lari dari pertempuran dan merampok,” dan riwayat ini isnadnya shahih. Maksudnya adalah, jika ancaman ditujukan terhadap orang yang menjamak dua waktu shalat, seperti Zhuhur dan `Ashar, baik takdim atau ta-khir, begitu pula Maghrib dan `Isya’, seperti menjamak dengan syar’i, orang yang melakukannya tanpa sebab-sebab tersebut, berarti ia pelaku dosa besar. Maka, bagaimana dengan orang yang meninggalkan shalat secara total. Untuk itu Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahihnya, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Pemisah antara seorang hamba dengan kemusyrikan adalah meninggalkan shalat.”

Di dalam kitab as-Sunan secara marfu’, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Perjanjian yang memisahkan antara kami dan mereka (orang-orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa yang meninggalkannya maka ia kafir.” Beliau pun bersabda: “Barangsiapa yang meninggalkan shalat ‘Ashar, maka terhapuslah amalnya.” Sunan Ibni Majah kitab ash-Shalat: No. 694: 1/227 dan Musnad Ahmad dari Buraidah: 5/361.

“Barangsiapa yang tertinggal (kehabisan waktu) shalat `Ashar, maka seakan ia telah kurangi keluarga dan hartanya.” (Muttafaq ‘alaiHi)

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Abu ath-Thufail, ia berkata, Ibnu Masud berkata: “Dosa besar yang paling besar adalah syirik kepada Allah, putus asa dari nikmat atau karunia Allah dan rahmat Allah, serta merasa aman dari tipu daya Allah.” Kemudian Ibnu Jarir meriwayatkan pula dari berbagai jalan yang berasal dari Abi ath-Thufail dari Ibnu Mas’ud. Dan tidak diragukan lagi, ini shahih dari beliau (Ibnu Mas’ud).

(Hadits lain) Imam Ahmad meriwayatkan dari Salamah bin Qais al-Asyja’i, ia berkata, Rasulullah saw bersabda: “Ketahuilah sesungguhnya dosa besar ada empat; Janganlah kalian menyekutukan Allah dengan sesutu apapun, janganlah kalian membunuh jiwa yang di-haramkan oleh Allah kecuali dengan haq, jangan kalian berzina, dan jangan kalian mencuri.” (HR. An-Nasa’i dan Ibnu Mardawaih).

Perkataan Para Ulama Salaf mengenai Dosa-Dosa Besar

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari ‘Ali ra. ia berkata: “Dosa-dosa besar adalah: berbuat syirik kepada Allah, kembali tinggal di perkampungan (dusun) setelah hijrah, memisahkan diri dari jama’ah, dan melanggar perjanjian.”

Dan telah diketengahkan dari Ibnu Masud, ia berkata: “Dosa besar yang paling besar adalah; syirik kepada Allah, putus asa dari keluasan dan rahmat Allah, serta merasa aman dari makar Allah.”

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibrahim, dari ‘Alqamah, dari Ibnu Masud, ia berkata: “Dosa-dosa besar adalah dari awal an-Nisaa’ hingga 30 ayat.”

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Buraidah dari ayahnya, ia berkata: “Dosa besar yang paling besar adalah syirik kepada Allah, durhaka kepada kedua orang tua, melarang kelebihan air (untuk diambil) setelah kenyang (mencukupinya) dan mencegah pemanfaatan hewan pejantan, kecuali dengan membayar upah.”

Di dalam kitab ash-Shahihain (Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim), bahwa Nabi bersabda: “Tidak boleh melarang (diambilnya) kelebihan air untuk mencegah tumbuhnya rumput.”

Di dalam kitab ash-Shahihain, bahwa Nabi bersabda: “Ada tiga golongan yang tidak dipandang oleh Allah pada han Kiamat, tidak disucikan dan akan mendapatkan adzab yang pedih (di antaranya): seseorang yang memiliki kelebihan air di sebuah gurun (tanah kosong), akan tetapi melarang (diambil) oleh Ibnu sabil (musafir).” Dan beliau menyebutkan kelanjutan hadits ini.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari `Aisyah, ia berkata: “Melanggar bai’at (janji setia) yang diambil atas para wanita adalah termasuk dosa-dosa besar.” Ibnu Abi Hatim berkata, yaitu firman Allah [yang artinya]: “Bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatupun dengan Allah, dan tidak akan mencuri.”

Pendapat Ibnu `Abbas tentang Dosa-Dosa Besar:

Ibnu Abi Hatim meriwatkan dari Thawus, ia berkata, aku bertanya kepada Ibnu `Abbas: “Apakah tujuh dosa-dosa besar itu?” Ibnu `Abbas menjawab: “Dosa besar itu mencapai tujuh puluh macam, hal itu adalah lebih tepat dibandingkan hanya tujuh macam saja.” (HR. Ibnu Jarir)

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Sa’id bin Jubair, bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Ibnu `Abbas: “Apakah dosa-dosa besar itu ada tujuh?” Beliau menjawab: “Dosa besar mencapai tujuh ratus macam lebih tepat(nya), di-bandingkan yang hanya berjumlah tujuh. Akan tetapi, tidak ada dosa besar jika disertai istighfar dan tidak ada dosa kecil jika dilakukan terus menerus.” Demikianlah yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari hadits Syibl.

`Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu `Abbas tentang firman Allah: in tajtanibuu kabaa-ira maa tunHauna ‘anHu (“Dosa-dosa besar adalah setiap dosa yang diancam Allah dengan api Neraka, kemurkaan, laknat atau adzab.”) (HR. Ibnu Jarir).

Ibnu Jarir menceritakan dari Muhammad bin Sirin, ia berkata, Aku diberi kabar bahwa Ibnu `Abbas berkata: “Setiap hal yang dilarang oleh Allah adalah bagian dari dosa besar.” Dia pun berkata, bahwa Abul Walid berkata: “Aku bertanya kepada Ibnu `Abbas tentang dosa-dosa besar.” Beliau menjawab: “Setiap sesuatu yang merupakan kemaksiatan kepada Allah adalah dosa besar.”

Beberapa Perkataan (Pendapat) Para Tabi’in:

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari al-Mughirah, ia berkata: “Dikatakan bahwa mencela Abu bakar dan `Umar merupakan dosa besar.” (Aku berkata): “Sebagian ulama menilai kafir orang yang mencela para Sahabat.” Itulah satu riwayat pendapat dari Malik bin Anas ra. Muhammad bin Sirin berkata: “Aku tidak menduga ada seseorang yang benci kepada Abu Bakar dan `Umar dan bersamaan dengan itu ia mencintai Rasulullah.” (HR. At-Tirmidzi).

`Abdurrazzaq meriwayatkan, bahwa Ma’mar mengabarkan kepada kami dari Tsabit, dari Anas, ia berkata, Rasulullah bersabda: “Syafa’atku untuk para pelaku dosa besar di kalangan umatku.” (Isnadnya shahih menurut syarat al-Bukhari dan Muslim dan diriwayatkan oleh Abu `Isa at-Tirmidzi, kemudian ia berkata: “Hadits ini hasan shahih”).

Di dalam hadits shahih terdapat penguat (saksi) bagi maknanya, yaitu sabda Rasulullah, setelah menyebutkan syafa’at: “Apakah engkau berpendapat bahwa syafa’at itu untuk orang-orang yang beriman lagi bertakwa? Tidak. Akan tetapi syafa’at adalah untuk orang-orang yang bergelimang dosa.”

Para ulama ushul dan furu’ berbeda pendapat tentang batasan dosa besar. Sebagian ada yang berpendapat bahwa batasan dosa besar ialah sesuatu yang memiliki hukuman hadd (yang ditentukan batasannya) dalam syari’at. Ada pula yang berpendapat bahwa dosa besar adalah sesuatu yang memiliki ancaman khusus dalam al-Qur’an dan as-Sunnah. Imam al-Haramain dalam kitab al-Irsyaad dan yang lainnya berkata: “Dosa besar adalah setiap pelanggaran yang menunjukkan minimnya perhatian pelakunya pada agama dan kurangnya sikap keber-agamaan, maka hal itu dapat membatalkan keistiqamahan.”
Furu’: cabang-cabang. Yang dimaksud ulama furu’ yaitu, ulama fiqih. Ulama ushul yaitu, ulama i’tiqad (tauhid) Pent.

Al-Qadhi Abu Said al-Harawi menyatakan: “Dosa besar adalah setiap perilaku yang secara nash oleh al-Qur’an diharamkan dan setiap maksiat yang mendapat konsekuensi hukuman hadd, seperti membunuh atau yang lainnya, meninggalkan setiap fardhu yang diperintahkan agar dilaksanakan dengan segera, serta berdusta dalam persaksian, riwayat dan sumpah.” Inilah yang mereka sebutkan secara akurat.

Al-Qadhi ar-Ruyani berkata secara rinci: “Dosa-dosa besar ada tujuh: Membunuh jiwa tanpa haq, zina, homoseks, minum khamr, mencuri, merampas harta dan menuduh zina.” Di dalam asy-Syaamil ia menambahkan dari yang tujuh tersebut, yaitu saksi palsu.

Pengarang al-‘Uddah menambahkan dengan memakan riba, berbuka puasa di bulan Ramadhan (sebelum waktunya) tanpa udzur, sumpah palsu, memutuskan silaturahmi, mendurhakai kedua orang tua, lari dari pertempuran, memakan harta anak yatim, khianat dalam timbangan dan takaran, mendahului shalat dari waktunya, mengakhirkan waktu shalat tanpa udzur, memukul orang muslim tanpa haq, berdusta dengan sengaja atas nama Rasulullah, mencaci para Sahabat beliau, menyembunyikan persaksian tanpa udzur, menerima suap, melokalisasi lelaki dan wanita (dalam zina/menjadi mucikari), memfitnah di hadapan raja, enggan menunaikan zakat, meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar padahal mampu, melupakan al-Qur’an setelah mempelajarinya, membakar hewan dengan api, penolakan isteri terhadap (ajakan untuk berhubungan dari) suaminya tanpa sebab, putus asa dari rahmat Allah dan merasa aman dari makar Allah.

Dikatakan pula (menurut pendapat yang lain): Menuduh (mencemarkan) ahli ilmu dan ahli al-Qur’an. Di antaranya juga yang dinilai termasuk dosa besar adalah zhihar, memakan daging babi dan bangkai kecuali karena darurat.
Zhihar: Perkataan suami kepada isteri, “Kamu bagiku seperti punggung ibuku,” dengan maksud, dia tidak boleh lagi menggauli isterinya, sebagaimana ia tidak menggauli ibunya. Menurut adat Jahiliyyah, kalimat zhihar ini sama dengan mentalak (mencerai) isteri.

Jika dikatakan, sesungguhnya dosa besar itu adalah apa yang diancam oleh Allah dengan api Neraka secara khusus, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu`Abbas dan yang lainnya, maka hal tersebut akan terhimpun cukup banyak. Dan jika dikatakan, dosa besar itu adalah setiap yang dilarang oleh Allah, maka sangat banyak. Wallahu a’lam.

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 31-32

2 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan)
Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat

tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 31-32“Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang. (QS. 3:31) Katakanlah: “Taatilah Allah dan Rasul-Nya; Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” (QS. 3:32)

Ayat ini sebagai pemutus hukum bagi setiap orang yang mengaku mencintai Allah tetapi tidak menempuh jalan Muhammad, Rasulullah, bahwa dia adalah pembohong dalam pengakuan cintanya itu sehingga dia mengikuti syari’at dan agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad dalam semua ucapan dan perbuatannya. Sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits shahih, dari Rasulullah, beliau bersabda:
“Barangsiapa melakukan suatu amal yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan itu tertolak.”

Oleh karena itu, Allah swt. berfirman, in kuntum tuhibbuunallaaHa fattabi’uuni yuhbib-kumullaaHu (“Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu.”) Maksudnya, kalian akan mendapatkan sesuatu yang lebih dari kecintaan kalian kepada-Nya, yaitu kecintaan-Nya kepada kalian, dan ini lebih besar daripada kecintaan kalian kepada-Nya. Seperti yang diungkapkan sebagian ulama ahli hikmah:
“Yang jadi permasalahan bukanlah jika engkau mencintai, tapi permasalahannya ialah jika engkau dicintai.”

Sedangkan al-Hasan al-Bashri dan beberapa ulama Salaf berkata: “Ada suatu kaum yang mengaku mencintai Allah, lalu Allah menguji mereka melalui ayat ini, di mana Dia berfirman, qul in kuntum tuhibbuunallaaHa fattabi’uuni yuhbib-kumullaaHu (“Katakanlah: ‘Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu.’”)

Setelah itu Dia berfirman, wa yaghfirlakum dzunuubakum wallaaHu ghafuurur rahiim (“Dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.”) Maksudnya, dengan mengikutnya kalian kepada Rasulullah, maka kalian akan memperoleh hal tersebut (pengampunan dosa) berkat keberkahan perantara-Nya (RasulNya).

Selanjutnya Allah berfirman memerintahkan kepada setiap individu, qul athii’ullaaHa war rasuula fa in tawallaw (“Katakanlah: `Taatilah Allah dan Rasul-Nya, jika kamu berpaling.’”) Yakni melanggar perintah-Nya, fa innallaaHa laa yuhibbul kaafiriin (“Maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang kafir.”) Hal ini menunjukkan bahwa menyalahi Allah dalam menempuh jalan-Nya merupakan perbuatan kufur, sebab Allah tidak menyukai orang-orang yang berpredikat seperti itu, meskipun ia mengaku mencintai Allah dan bertaqarrub kepada-Nya, sampai dia benar-benar mengikuti Rasulullah, Nabi yang ummi, penutup para Rasul yang diutus kepada segenap bangsa jin dan manusia.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 31-33

9 Feb

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 31-33“31. dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!” 32. mereka menjawab: “Maha suci Engkau, tidak ada yang Kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” 33. Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka Nama-nama benda ini.” Maka setelah diberitahukannya kepada mereka Nama-nama benda itu, Allah berfirman: “Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa Sesungguhnya aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?” (al-Baqarah: 31-33)

Inilah maqam (situasi) dimana Allah menyebutkan kemuliaan Adam atas para malaikat karena Dia telah mengkhususkannya dengan mengajarkannya nama-nama segala sesuatu yang tidak diajarkan kepada para malaikat. Hal itu terjadi setelah mereka [para malaikat] sujud kepadanya lalu Allah memberitahukan kepada mereka bahwa Dia mengetahui apa yang tidak mereka ketahui.

Adapun Allah swt, menyebutkan “maqam ” ini setelah firman-Nya, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui,” karena adanya relevansi antara maqam ini dan ketidaktahuan para malaikat tentang hikmah penciptaan khalifah tatkala mereka bertanya tentang hal tersebut, maka Allah pun memberitahu mereka bahwa Dia mengetahui apa yang tidak mereka ketahui. Oleh karena itu setelah Allah menyebutkan maqam ini untuk menerangkan kepada mereka kemuliaan yang dimiliki Adam, karena ia telah diutamakan memperoleh ilmu atas mereka, Allah pun berfirman: “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) seluruhnya.”

Yang benar, Allah mengajari Adam nama segala macam benda, baik dzat, sifat, maupun af’al (perbuatannya). Sebagaimana yang dikatakan Ibnu Abbas, yaitu nama segala benda dan af’al yang besar maupun yang kecil. Oleh karena itu, Dia berfirman, “Kemudian Dia mengemukakannya kepada para malaikat.” Yakni memperlihatkan nama-nama itu sebagaimana yang dikatakan oleh Abdur Razak, dari Ma’mar, dari Qatadah: “Kemudian Allah mengemukakan nama-nama tersebut kepada para malaikat.”

Firman-Nya, “Sebutkanlah kepada-Ku nama bendy-benda tersebut, jika kamu memang orang-orang yang benar.”

Mengenai firman-Nya, in kuntum shaadiqiin (“jika kalian memang orang-orang yang benar,”) dari Ibnu Abbas, adh-Dhahhak mengatakan, artinya, jika kalian memang mengetahui bahwa Aku tidak menjadikan khalifah di muka bumi. As-Suddi meriwayatkan, dari Ibnu Abbas, Murrah, Ibnu Mas’ud, dan dari beberapa orang sahabat: “Jika kalian benar bahwa anak cucu Adam itu akan membuat kerusakan di muka bumi dan menumpahkan darah.”

Ibnu Jarir mengatakan, pendapat yang paling tepat dalam hal ini adalah penafsiran Ibnu Abbas dan orang-orang yang sependapat dengannya, artinya yaitu Allah swt. berfirman: “Sebutkanlah nama-nama benda yang telah Aku perlihatkan kepada kalian, hai para malaikat yang mempertanyakan: `Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi ini orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah?’ Yaitu dari kalangan selain kami, Padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji-Mu?’ Jika ucapan kalian itu benar bahwa jika Aku menciptakan khalifah di muka bumi ini selain dari golongan kalian ini, maka ia dan semua keturunannya akan durhaka kepada-Ku, membuat kerusakan, dan menumpahkan darah. Dan jika Aku menjadikan kalian sebagai khalifah di muka bumi, maka kalian akan senantiasa mentaati-Ku, mengikuti semua perintah-Ku, serta menyucikan diri-Ku. Maka jika kalian tidak mengetahui nama-nama benda yang telah Aku perlihatkan kepada kalian itu, padahal kalian telah menyaksikannya, berarti kalian lebih tidak mengetahui akan sesuatu yang belum ada dari apa-apa yang nantinya bakal terjadi.

“Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telab Engkau beritahukan kepada kami. Sesungguhnya Engkau yangMahamengetahui lagi Maha-bijaksana.” Inilah penyucian dan pembersihan bagi Allah yang dilakukan oleh para malaikat bahwasanya tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui sesuatu dari ilmu-Nya kecuali dengan kehendak-Nya, dan bahwa mereka tidak akan pernah mengetahui sesuatu kecuali apa yang telah diajarkan-Nya.

Oleh karena itu mereka berkata, “Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau beritahukan kepada kami. Sesungguhnya Engkau yang Mahamengetahui lagi Mahabijaksana.” Artinya, Dia Mahamengetahui segala sesuatu dan Mahabijaksana dalam penciptaan, perintah, pengajaran dan pencegahan terhadap apa-apa yang Engkau kehendaki. Bagi-Mu hikmah dan keadilan yang sempurna. “SubhaanallaaH” menurut riwayat Ibnu Abi Hatim, dari Ibnu Abbas, artinya penyucian Allah terhadap diri-Nya sendiri dari segala keburukan.

Umar ra pernah mengatakan kepada Ali dan para sahabat yang ada bersamanya, “Laa Ilaaha Illa Allah (tiada Ilah yang hak selain Allah), kami telah mengetahuinya. Lalu apa itu Subhanallah?” Maka Ali pun berkata kepadanya, “Itulah kalimat yang disukai dan diridhai Allah untuk diri-Nya sendiri serta Dia sukai untuk diucapkan.”

Firman Allah : “Allah berfirman: ‘Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.’ Maka setelah itu diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: ‘bukankah sudah Aku katakan kepadamu bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi serta mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan.”‘

Zaid bin Aslam mengatakan, Adam berkata: “Engkau ini Jibril, engkau Mikail, engkau Israfil, dan seluruh nama-nama, sampai pada burung gagak.”

Mengenai firman Allah : “Allah berfirman: ‘Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda,” Mujahid mengatakan yakni nama-nama burung Merpati, burung gagak, dan nama-nama segala sesuatu.

Setelah keutamaan Adam atas malaikat ini terbukti dengan menyebutkan segala nama yang telah diajarkan oleh Allah kepadanya, maka Allah berfirman kepada para malaikat: “Bukankah sudah Aku katakan kepadamu bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi serta mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan.”

Ibnu Jarir mengatakan, pendapat yang paling tepat mengenai hal itu adalah pendapat Ibnu Abbas, bahwa makna firman-Nya: “Dan Aku mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan, ” Yaitu selain pengetahuan-Ku mengenai segala hal yang ghaib di langit dan di bumi, Aku juga mengetahui apa yang kalian nyatakan melalui lisan kalian dan apa yang kalian sembunyikan dari-Ku, baik itu apa yang kalian sembunyikan atau kalian perlihatkan secara terang-terangan. Yang mereka tampakkan melalui lisan mereka adalah ucapan mereka, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi ini orang yang akan membuat kerusakan padanya.” Sedangkan yang dimaksud dengan apa yang mereka sembunyikan, ialah apa yang disembunyikan oleh Iblis untuk menyalahi (perintah) Allah dan angkuh untuk menaatiNya.

Lebih lanjut Ibnu Jarir mengemukakan, hal ini dibenarkan sebagaimana masyarakat Arab suka mengucapkan, “Pasukan telah terbunuh dan terkalahkan.” Padahal yang terbunuh dan terkalahkan adalah satu atau sebagiannya saja. Lalu berita tentang satu orang yang terkalahkan dan terbunuh itu dinyatakan sebagai berita kekalahan kelompok mereka secara keseluruhan.

Contohnya firman Allah “Sesungguhnya orang-orang yang memanggilmu dari luar kamar(mu).” (QS.’Al-Hujuraat: 3). Disebutkan bahwa yang memanggil itu sebenarnya hanyalah satu orang saja dari Bani Tamim. Demikian juga, lanjut Ibnu Jarir, firman Allah: dan apa yang kamu sembunyikan.”

&