Tag Archives: 34

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nisaa’ ayat 34

7 Feb

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nisaa’ (Wanita)
Surah Madaniyyah; surah ke 4: 176 ayat

tulisan arab alquran surat an nisaa' ayat 34“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain(wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebahagian dari harta mereka. Sebab itu, maka wanita yang shalih, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuz-nya, maka nasehatilah mereka dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Mahatinggi lagi Mababesar.” (QS. an-Nisaa’: 34)

Allah berfirman: ar riajaalu qawwaamuuna ‘alan nisaa-i (“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita.”) Yaitu laki-laki adalah pemimpin kaum wanita dalam arti pemimpin, kepala, hakim dan pendidik wanita, jika ia menyimpang; bimaa fadl-dlalallaaHu ba’dlaHum ‘alaa ba’dlin (“Oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka [laki-laki] atas sebahagian yang lain [wanita].”)

Yaitu karena laki-laki lebih utama dari wanita dan laki-laki lebih baik daripada wanita. Karena itu, kenabian dikhususkan untuk laki-laki. Begitu pula raja (Presiden), berdasarkan sabda Rasulullah: “Tidak akan pernah beruntung suatu kaum yang mengangkat wanita (sebagai pemimpin) dalam urusan mereka.” (HR. Al-Bukhari).

Begitu pula dengan jabatan kehakiman dan lain-lain.

Wa bimaa anfaquu min amwaaliHim (“Dan karena mereka telah menafkahkan sebagian harta mereka.”) Yang berupa mahar, nafkah dan berbagai tanggung jawab yang diwajibkan Allah kepada mereka dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Maka, laki-laki lebih utama dari wanita dalam hal jiwanya dan laki-laki memiliki keutamaan dan kelebihan sehingga cocok menjadi penanggung jawab atas wanita, sebagaimana firman Allah: “Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya.”(QS. Al-Baqarah: 228)

`Ali bin Abi Thalhah menceritakan dari Ibnu `Abbas tentang: ar riajaalu qawwaamuuna ‘alan nisaa-i (“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita.”) Yaitu, pemimpin-pemimpin atas wanita yang harus ditaati sesuai perintah Allah untuk mentaatinya. Dan ketaatan padanya adalah berbuat baik terhadap keluarganya dan memelihara hartanya. Demikian pendapat Muqatil, as-Suddi dan adh-Dhahhak.

Asy-Sya’bi berkata tentan ayat ini: ar riajaalu qawwaamuuna ‘alan nisaa-i bimaa fadl-dlalallaaHu ba’dlaHum ‘alaa ba’dliw Wa bimaa anfaquu min amwaaliHim (“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka [laki-laki] atas sebahagian yang lain [wanita], dan karena mereka [laki-laki] telah menafkahkan sebahagian harta mereka.”) Yaitu, berupa mahar suami kepada isterinya. Apakah tidak engkau lihat seandainya suami menuduh isterinya berzina, maka terjadilah li’an. Dan jika si isteri yang menuduhnya, maka dikenakan hukum jild (cambuk).”

(Li’an menurut bahasa, kutuk-mengutuk. Menurut syara’: menuduh isteri berzina. Lihat surat an-Nuur, ayat 6-10)

Firman Allah: fash shaalihaatu (“Maka orang-orang shalih,”) maksudnya, dari kaum wanita. Qaanitaatun (“Yang taat.”) Ibnu `Abbas dan banyak ulama berkata, artinya wanita-wanita yang taat pada suaminya. Haafidhaatul lilghaibi (“Lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada.”) As-Suddi dan ulama yang lain berkata: “Yaitu wanita yang menjaga suaminya di waktu tidak ada (di samping-nya) dengan menjaga dirinya sendiri dan harta suaminya.”

Firman Allah: bimaa hafidhallaaHu (“Oleh karena Allah telah memelihara mereka.”) Yaitu, orang yang terpelihara adalah orang yang dijaga oleh Allah.

Imam Ahmad meriwayatkan, dari `Abdullah bin Abu Ja’far, Ibnu Qaridz mengabarkan kepadanya bahwa `Abdurrahman bin `Auf berkata, Rasulullah saw. bersabda: “
“Apabila seorang wanita menjaga shalat yang lima waktu, puasa Ramadhannya, menjaga farjinya (kemaluannya) dan mentaati suaminya, niscaya akan dikatakan kepadanya; ‘Masuklah ke dal am jannah (Surga) dari pintu mana saja yang kamu kehendaki.’”
Hanya Ahmad yang meriwayatkan dari jalan`Abdullah bin Qaridzdari `Abdurrahman bin `Auf.

Firman Allah: wal laatii takhaafuuna nusyuuzaHunna (“Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya.”) Yaitu, wanita-wanita yang kalian khawatirkan nusyuznya kepada suami mereka. An-Nusyuz adalah merasa lebih tinggi. Berarti wanita yang nusyuz adalah wanita yang merasa tinggi di atas suami-nya dengan meninggalkan perintahnya, berpaling dan membencinya. Kapansaja tanda-tanda nusyuz itu timbul, maka nasehatilah dia dan takut-takutilah dengan siksa Allah, jika maksiat kepada suaminya. Karena Allah telah mewajibkan hak suami atas isteri, dengan ketaatan isteri kepada suami, serta mengharamkan maksiat kepadanya, karena keutamaan dan kelebihan yang dimiliki suami atas isteri.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Apabila seorang suami mengajak isterinya ke pembaringan, lalu ia tidak mau, maka para Malaikat akan melaknatnya sampai pagi.” (HR. Muslim).

Karena itu Allah berfirman: wal laatii takhaafuuna nusyuuzaHunna fa-‘idhuHunna (“Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka.”)

Sedangkan firman Allah: waHjuruuHunna fil madlaaji’i (“Dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka”) `Ali bin Abi Thalhah menceritakan dari Ibnu`Abbas: “Al-hajru yaitu tidak menjima’ (menyetubuhi) dan tidak tidur dengan dia di atas pembaringannya, serta berupaya membelakanginya.”

Demikianlah yang dikatakan banyak ulama, sedangkan ulama lain seperti as-Suddi, adh-Dhahhak, `Ikrimah dan Ibnu `Abbas dalam satu riwayatnya menambahkan: “Tidak berbicara dan tidak bercengkrama.” `Ali bin Abi Thalhah pun menceritakan dari Ibnu `Abbas: “Yaitu, hendaklah ia nasehati, jika ia terima. Jika tidak, hendaklah ia pisahkan tempat tidurnya dan tidak berbicara dengannya tanpa terjadi perceraian. Dan hal tersebut sudah pasti memberatkannya.”

Abu Dawud meriwayatkan dari Abu Murrah ar-Raqqasyi dari paman-nya, bahwa Nabi saw. bersabda: “Jika kalian khawatir nusyuznya mereka para isteri, maka berpisahlah dari tempat tidurnya.” Hammad berkata: “Yaitu, (tidak) menggaulinya (menyetubuhinya).”

Di dalam Sunan dan Musnad, dari Mu’awiyah bin Haidah al-Qusyairi bahwa ia berkata: “Ya Rasulullah, Apakah hak isteri atas suaminya?” Beliau menjawab: “Hendaklah engkau memberinya makan jika engkau makan, memberinya pakaian jika engkau berpakaian, jangan memukul wajah, jangan mencelanya dan jangan pisah ranjang kecuali di dalam rumah.”

Firman-Nya: wadl-ribuuHunna (“pukullah mereka”) yaitu jika nasehat dan pemisahan tempat tidur tidak menggentarkannya, maka kalian boleh memukulnya dengan tidak melukai. Sebagaimana hadits dalam Shahih Muslim dari Jabir, bahwa Nabi dalam Haji Wada’ bersabda: “Bertakwalah kepada Allah tentang wanita, sesungguhnya mereka adalah pendamping kalian, kalian mempunyai hak terhadap mereka. Yaitu, mereka tidak boleh membiarkan seorangpun yang kalian benci menginjak hamparan kalian (masuk ke rumah kalian). Jika mereka melakukannya, pukullah mereka dengan pukulan yang tidak melukai dan mereka memiliki hak untuk mendapatkan rizki dan pakaian dengan cara yang ma’ruf.”

Ibnu `Abbas dan ulama-ulama lain berkata: “Yaitu pukulan yang tidak melukai.” Al-Hasan al-Bashri berkata: “Yaitu, (pukulan yang) tidak meninggalkan bekas.” Para fuqaha berkata: “Yaitu tidak melukai anggota badan dan tidak meninggalkan bekas sedikitpun.” `Ali bin Abi Thalhah mengatakan dari Ibnu`Abbas: “Yaitu, memisahkannya dari tempat tidur, jika ia terima. Jika tidak, Allah mengizinkanmu untuk memukulnya, dengan pukulan yang tidak mencederai dan tidak melukai tulang, jika ia terima. Dan jika tidak juga, maka Allah menghalalkanmu untuk mendapatkan tebusan darinya.”

Sufyan bin `Uyainah mengatakan dari Iyas bin `Abdullah bin Abu Dzu-ab, ia berkata, Nabi bersabda: “Janganlah kalian memukul isteri-isteri kalian.” Lalu datanglah `Umar ra. kepada Rasulullah dan berkata: “Para wanita mulai membangkang kepada suami-suaminya. Maka Rasulullah memberikan rukhshah (keringanan hukum) untuk memukul mereka.

Lalu datanglah banyak wanita kepada isteri-isteri Rasulullah saw, mengadukan tentang pemukulan suami mereka. Maka bersabdalah Rasulullah saw: “Sungguh banyak wanita yang berdatangan kepada isteri-isteri Muhammad, mengadukan tentang pemukulan suami mereka. Mereka itu bukanlah yang terbaik di antara kalian”. Hadits ini riwayat Abu Dawud, an-Nasa’i dan Ibnu Majah.

Firman Allah: fa in atha’nakum falaa tabghuu ‘alaiHinna sabiilan (“Jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya.”) Yaitu jika isteri mentaati suaminya dalam semua kehendak yang dibolehkan oleh Allah, maka tidak boleh mencari-cari jalan lain setelah itu, serta tidak boleh memukul dan menjauhi tempat tidurnya.”

Firman-Nya: innallaaHa kaana ‘aliyyan kabiiran (“Sesungguhnya Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.”) (Hal ini) adalah ancaman untuk laki-laki, jika mereka berbuat zhalim kepada para isteri tanpa sebab, maka Allah Mahatinggi lagi Mahabesar. Allah yang akan menjaga mereka dan Allah akan menghukum orang yang berbuat zhalim kepada mereka.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 34-36

12 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 34-36“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya. (QS. 7:34) Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu Rasul-rasul daripadamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah
ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. 7:35) Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni Neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS. 7:36)” (al-A’raaf: 34-36)

Allah berfirman: wa likulli ummatin (“Tiap-tiap umat memiliki”) yaitu kurun dan generasi; ajalun fa idzaa jaa-a ajaluHum (“Batas waktu tertentu. Jika telah datang kepada mereka waktu tersebut.”) yakni batas waktu yang telah ditentukan kepada mereka. laa yasta’khiruuna saa’ataw walaa yastaqdimuun (“Maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sedikit pun dan tidak dapat pula memajukannya.”)

Kemudian Allah mengingatkan anak cucu Adam, bahwa Allah akan mengutus kepada mereka para Rasul, yang menceritakan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan-Nya, dan menyampaikan berita gembira serta peringatan. Dimana Allah berfirman: fa manit taqaa wa ash-lahaa (“Barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan,”) yaitu meninggalkan berbagai hal yang diharamkan dan berbuat ketaatan,

Falaa khaufun ‘alaiHim walaa Hum yahzanuuna. Wal ladziina kadzdzabuu bi-aayaatinaa wastakbaruu ‘anHaa (“Maka tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya.”) Maksudnya, hati mereka mendustakan ayat-ayat itu dan mereka sombong untuk mengerjakannya; ulaa-ika ash-haabun naari Hum fiiHaa khaaliduun (“Mereka itu adalah para penghuni Neraka, mereka kekal di dalamnya.”)

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yunus ayat 34-36

5 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Yunus
Surah Makkiyyah; surah ke 10: 109 ayat

tulisan arab alquran surat yunus ayat 34-36“Katakanlah: ‘Apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang dapat memulai penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali?’ Katakanlah: ‘Allahlah yang memulai penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali; maka bagaimanakah kamu dipalingkan (kepada beribadah kepada selain Allah).’ (QS.10:34) Katakanlah: ‘Apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang menunjuki kepada kebenaran.’ Katakanlah: ‘Allahlah yang menunjuki kepada kebenaran.’ Maka apakah orang-orang yang menunjuki kepada kebenaran itu lebih berhak diikuti ataukah orang yang tidak dapat memberi petunjuk kecuali (bila) diberi petunjuk. Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimanakah kamu mengambil keputusan? (QS. 10:35) Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikit pun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui apa yang mereka kerjakan. (QS. 10:36)” (Yunus: 34-36)

Ini merupakan pembatalan terhadap pengakuan mereka dalam hal penyekutuan mereka terhadap Allah dan (terhadap) peribadahan mereka kepada berhala-berhala dan sekutu-sekutu.

Qul Hal min syurakaa-ikum may yabda-ul khalqa tsumma yu’iiduHu (“Katakanlah: ‘Apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang dapat memulai penciptaan makhluk? Kemudian mengulanginya [menghidupkannya] kembali.’”) Maksudnya, siapakah yang memulai penciptaan langit dan bumi, kemudian menghidupkan makhluk-makhluk di dalamnya, membedakan bentuk langit dan bumi dan menggantinya jika terjadi kerusakan di dalamnya, kemudian mengembalikan suatu makhluk berupa makhluk baru?

qulillaaHu (“Katakanlah: ‘Allah.’”) Hanya Allahlah yang melakukan itu semuanya sendiri, hanya Dia saja, tidak ada sekutu bagi-Nya. Fa annaa tu’fakuun (“Maka bagaimanakah kamu dipalingkan [kepada penyembahan kepada yang selain Allah].”) Maksudnya, bagaimanakah kamu dipalingkan dari jalan yang benar kepada jalan yang bathil.

Qul Hal min syurakaa-ikum may yaHdii ilal haqqi qulillaaHu yaHdii lilhaqqi (“Katakanlah: ‘Apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang menunjuki kepada kebenaran. Katakanlah: ‘Allahlah yang menunjuki kepada kebenaran.’”) Maksudnya, kamu mengetahui bahwa sesungguhnya sekutu-sekutumu tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang tersesat. Akan tetapi yang memberi petunjuk kepada orang bingung, orang tersesat dan yang membolak-balikkan hati dari kesesatan kepada an adalah Allah, yang tiada Ilah (yang berhak diibadahi) melainkan hanya Dia.

Afa may yaHdii ilal haqqi ahaqqu ay yuttaba’a ammal laa yaHiddii illaa ay yuHdaa (“Maka apakah orang yang menunjuki kepada kebenaran itu lebih berhak diikuti ataukah orang yang tidak dapat memberi petunjuk kecuali [bila] diberi pentnjuk?”) Maksudnya, manakah yang diikuti, hamba yang menunjuki kepada kebenaran dan melihat setelah buta, ataukah yang tidak menunjuki kepada sesuatu pun kecuali ditunjuki karena kebutaan dan ketuliannya?

Sebagaimana Allah berfirman tentang Ibrahim, bahwa sesungguhnya dia berkata: “Wahai bapakku mengapa kamu beribadah kepada sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolongmu sedikit pun.” (QS. Maryam: 42)
Dan dia berkata kepada kaumnya: “Apakah kamu beribadah kepada patung-patung yang kamu pahat itu? Padahal Allahlah yang menciptakanmu dan apa yang kamu perbuat itu?” (QS. Ash-Shaaffaat: 95-96). Dan beberapa ayat lainnya.

Firman-Nya: famaa lakum kaifa tahkumuun (“Mengapa kamu berbuat demikian? Bagaimanakah kamu mengambil keputusan?”) Maksudnya, bagaimanakah kamu berfikir dengan akalmu? Bagaimanakah kamu menyamakan antara Allah dengan makhluk-Nya, kamu berpaling dari yang ini ke yang itu dan kamu beribadah kepada ini dan itu (kepada Allah, juga kepada berhala-berhala) kenapa kamu tidak mengesakan Rabb Yang Mahaagung, Yang Mahamengetahui, Yang Mahamenghakimi, Yang Mahamemberi petunjuk dari kesesatan, dengan beribadah, mengikhlaskan do’a dan bertaubat hanya kepada-Nya saja.

Kemudian Allah Ta’ala menerangkan, bahwa sesungguhnya mereka menganut agama mereka ini bukan karena dalil dan bukti, akan tetapi hanyalah sangkaan saja, maksudnya dugaan dan khayalan. Maka dari itu tidak ada manfaat sama sekali bagi mereka.

innallaaHa ‘aliimum bimaa yaf’aluun (“Sesungguhnya Allah Mahamengetahui apa yang mereka kerjakan.”) Ini merupakan ancaman yang keras untuk mereka. Karena sesungguhnya Allah Ta’ala telah memberi kabar bahwa sesungguhnya Allah akan membalas mereka dengan balasan yang setimpal atas semua itu.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Huud ayat 32-34

28 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Huud
Surah Makkiyyah; surah ke 11: 123 ayat

tulisan arab alquran surat huud ayat 32-34“Mereka berkata: ‘Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami adzab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.’ (QS. 11:32) Nuh menjawab: ‘Hanyalah Allah yang akan mendatangkan adzab itu kepadamu jika Allah menghendaki dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri. (QS. 11:33) Dan tidaklah bermanfaat kepadamu nasehatku jika aku hendak memberi nasehat kepada kamu, sekiranya Allah hendak menyesatkan kamu, Dia adalah Rabbmu dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.’ (QS. 11:34)” (Huud: 32-34)

Allah berfirman dengan mengabarkan tentang tuntutan penyegeraan siksa, adzab dan murka Allah oleh kaum Nuh as.
Qaaluu yaa nuuhu qad jaadaltanaa fa aktsarta jidaalanaa (“Mereka berkata: ‘Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami dan kamu memperpanjang bantahanmu terhadap kami.’”) Maksudnya, engkau telah melontarkan bantahan berulang kali dan kami tidak akan mengikutimu.

Fa’tinaa bimaa ta-‘idunaa (“Maka datangkanlah kepada kami adzab yang kamu ancamkan kepada kami.”) Yakni, berupa murka dan adzab. Kutuklah kami sesuka hatimu, lalu datangkanlah kutukan tersebut kepada kami.

In kunta minash shaadiqiina qaala innamaa ya’tiikum biHillaaHi insyaa-a wamaa antum bimu’jiziin (“’Jika kamu temasuk orang-orang yang benar.’ Nuh menjawab: ‘Hanya Allah yang akan mendatangkan adzab itu kepadamu jika Allah menghendaki dan kamu sekali-kali
tidak dapat melepaskan diri.’”) Maksudnya, sesungguhnya yang menimpakan siksaan dan menyegerakannya untuk kalian itu adalah Allah Ta’ala, yang tidak akan pernah dapat dipaksakan oleh sesuatu apa pun.

Wa laa tanfa’ukum nush-hii in aradtu an anshaha lakum in kaanallaaHu yuriidu ay yughwiyakum (“Dan nasihatku tidak bermanfaat bagi kalian jika aku hendak memberi nasihat kepada kalian. Sekiranya Allah hendak menyesatkan kalian.”) Yakni, jika Allah hendak menyesatkan kalian, apakah masih bisa berguna bagi kalian akan peringatanku dan nasihatku?

Huwa rabbukum wa ilaiHi turja’uun (“Allah adalah Rabbmu dan kepada-Nyalah kalian dikembalikan.”) Maksudnya, Allah adalah Raja pengendali segala sesuatu, Hakim yang adil yang tidak akan pernah berbuat lalim. Hak penciptaan dan perintah itu hanya ada pada-Nya, Allahlah yang mengawali semua ciptaan dan Allah pula yang akan mengembalikan ciptaan setelah hancurnya. Allah adalah Raja dunia dan akhirat.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yusuf ayat 30-34

26 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Yusuf
Surah Makkiyyah; surah ke 12: 111 ayat

tulisan arab alquran surat yusuf ayat 30-34“Dan wanita-wanita di kota berkata: ‘Isteri al-`Aziz menggoda bujangnya untuk menundukkan dirinya (kepadanya), sesungguhnya cintanya kepada bujangnya itu adalah sangat mendalam. Sesungguhnya kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata.’ (QS. 12:30) Maka tatkala wanita itu (Zulaikha) mendengar cercaan mereka, diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk, dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan), kemudian dia berkata (kepada Yusu): ‘Keluarlah (nampakkanlah dirimu) kepada mereka.’ Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa)nya, dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata: ‘Mahasempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah Malaikat yang mulia.’ (QS. 12:3 1) Wanita itu berkata: ‘Itulah dia orang yang kalian cela aku karena (tertarik) kepadanya, dan sesungguhnya aku telah menggoda dia untuk menundukkan dirinya (kepadaku) akan tetapi dia menolak. Dan sesungguhnya jika dia tidak mentaati apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan dan dia akan termasuk golongan orang-orang yang hina.’ (QS. 12:32) Yusuf berkata: ‘Wahai Rabbku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan daripadaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.’ (QS. 12:33) Maka Rabbnya perkenankan do’a Yusuf, dan Allah menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Sesungguhnya Dia-lah yangMahamendengar lagi Mahamengetahui. (QS. 12:34)” (Yusuf: 30-34)

Allah menyatakan bahwa berita tentang Yusuf dan isteri al-‘Aziz tersebar di kota Mesir sehingga semua orang menggunjingkannya. Wa qaala niswatun fil madiinati (“Wanita-wanita di kota itu mengatakan,”) seperti isteri para pembesar dan pejabat mengingkari dan mencela isteri al-‘Aziz atas perbuatannya terhadap Yusuf karena dia adalah isteri seorang menteri.

Imra-atul ‘aziizi turaawidu fataaHaa ‘an nafsiHi (“Isteri al- Aziz menggoda bujangnya untuk menundukkan dirinya [kepadanya]”) maksudnya yaitu berusaha merayu bujangnya dan mengajaknya agar mendekati dirinya; qad syaghafaHaa hubban (“Sesungguhnya cintanya kepada bujangnya itu sangat mendalam,”) cintanya sudah sampai ke lubuk hatinya, menembus kulit hatinya.

Adh-Dhahhak mengatakan dari Ibnu `Abbas: “Asy-syaghaf adalah cinta yang membunuh (mendalam), juga cinta di bawah itu, sedang asy-Syaghaaf adalah dinding hati (qalbu).”

Innaa lanaraaHaa fii dlalaalim mubiin (“Sesungguhnya kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata.”) dengan perbuatan itu, karena jatuh cinta kepada bujangnya dan merayunya untuk berbuat serong dengannya.

Falammaa sami’at bimakriHinna (“Maka tatkala dia [Zulaikha] mendengar cercaan wanita-wanita itu”) sebagian ahli tafsir mengatakan: “Mendengar perkataan wanita-wanita bahwa cinta telah membawanya untuk berbuat demikian.” Muhammad bin Ishaq mengatakan: “Setelah sampai kepada mereka berita tentang eloknya rupa Yusuf as. maka mereka ingin menyaksikannya.” Mereka mengatakan hal itu agar mereka dapat melihat dan menyaksikannya sendiri.

Setelah itu: arsalat ilaiHinna (“Dia [Zulaikha] mengutus kepada mereka.”) maksudnya mengundang mereka ke rumah untuk menjamu mereka. wa a’tadat laHunna muttaka-an (“Dan disediakan untuk mereka tempat duduk”) Ibnu Abbas, Sa’id bin Jubair, Mujahid, al-Hasan, as-Suddi, dan lain-lainnya ngatakan: “Yaitu tempat duduk yang disediakan, dilengkapi dengan karpet (Permadani), bantal, dan makanan, di antaranya ada yang harus dipotong dengan pisau seperti buah citrun (semacam buah jeruk) dan lain-lainnya.”

Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman: wa aatat kulla waahidatim min Hunna sikkiinan (“Dan diberikannya kepada masing-masing wanita itu sebuah pisau”) ini merupakan tipudaya dari wanita al-‘Aziz, sebagai balasan dari upaya mereka untuk dapat melihat Yusuf.

Wa qaalatikhruj ‘alaiHinna (“Dia berkata [kepada Yusuf]: ‘Keluarlah [nampakkanlah dirimu] kepada mereka.’”) karena ia menyembunyikannya di tempat lain. Falammaa (“Tatkala”) ia keluar, dan: ra ainaHuu akbarnaHu (“Mereka melihatnya, mereka tercengang kagum kepada [keelokan rupa]nya,”) mengagumi keadaan Yusuf yang sangat agung dan menarik, sehingga dengan tidak terasa, mereka memotong jari-jari tangan mereka [dengan pisau] karena tertegun, mengagumi apa yang mereka lihat dari keelokan Yusuf as. Mereka mengira bahwa mereka sedang memotong buah-buahan yang ada di tangan mereka dengan pisau. Maksudnya, mereka melukai tangan mereka dengan pisau tersebut. Demikian menurut pendapat kebanyakan ahli tafsir.

Qulna haasya lillaaHi maa Haadzaa basyaran in Haadzaa illaa malakun kariim (“Mereka berkata: ‘Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia.”) Kemudian mereka berkata kepada isteri al-‘Aziz: “Kami tidak menyalahkanmu setelah kami melihat sendiri bahwa kenyataannya seperti ini.” Mereka tidak pernah melihat keelokan rupa pada manusia seperti dia atau yang mendekatinya, karena Yusuf as. diberi separuh dari keelokan manusia seluruhnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih yang berkaitan dengan peristiwa Isra’, bahwa Rasulullah saw. bertemu dengan Yusuf as. langit ketiga, beliau mengatakan bahwa Yusuf diberi separuh dari keelokan. (Diriwayatkan oleh Muslim di kitab al-Iman, dalam bab al-Israa’.)

Imam Abul Qasim as-Suhaili mengatakan: “Artinya, bahwa Yusuf itu mempunyai separuh dari keelokan Adam as, karena Allah menciptakan Adam dengan tangan-Nya dalam bentuk yang paling sempurna dan paling baik, dan tidak ada seorang pun dari keturunannya yang menyamai keelokannya, sedang Yusuf as. diberi setengah dari keelokan Adam as. Oleh karena itu ketika melihatnya, wanita-wanita itu berkata: “Mahasempurna Allah.”

Mujahid dan lain-lain mengatakan: “Kami berlindung kepada Allah; maa Haadzaa basyaran in Haadzaa illaa malakun kariim (“Ini bukanlah manusia, sesungguhnya ini tidak lain hanyalah Malaikat yang mulia.”) qaalat fadzalikunnal ladzii lumtunnanii fiiHi (“Ia [Zulaikha] berkata: ‘Itulah yang menyebabkan kalian mencerca diriku.’”)
Dia mengatakan demikian sebagai alasan kepada mereka karena memang Yusuf as. layak dicintai karena keelokan [ketampanannya] dan kesempurnaan rupa yang dimilikinya.
Wa laqad raawadtuHuu ‘an nafsiHii fasta’sham (“Memang aku telah menggodanya untuk menundukkan dirinya [kepadaku] akan tetapi dia menolak.”)

Ista’shama artinya menolak, sebagian ahli tafsir mengatakan: “Tatkala wanita-wanita itu menyaksikan keelokan (ketampanan) lahiriyah Yusuf, isteri al-‘Aziz memberitahukan pula kepada mereka sifat-sifatnya yang baik yang belum mereka ketahui, yaitu menjaga diri dari yang terlarang di samping keelokan rupa (ketampanan) yang ia miliki itu.

Kemudian dia mengatakan dengan nada mengancam Yusuf: wa la il lam yaf’al maa aamuruHu layusjananna wa layakuunam minash shaaghiriin (“Jika tidak menaati apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan dan dia akan termasuk golongan orang-orang hina.”)

Setelah mendengar ancaman itu, Yusuf as. memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan dan tipu daya mereka, seraya berkata: rabbis sijnu ahabbu ilayya mimmaa yad’uunanii ilaiHi (“Rabbku, penjara lebih aku senangi daripada ajakan mereka terhadapku,”) maksudnya daripada perbuatan keji (kemesuman) itu: wa illaa tash-rif ‘annii kaidaHunna ash-habu ilaiHinna (“Dan jika Engkau tidak hindarkan [menjauhkan] tipu daya mereka dariku, tentu aku cenderung untuk memenuhi keinginan mereka,”) maksudnya, jika Rabb menyerahkan hal itu kepada diriku, pasti aku tidak mampu dan aku tidak dapat mengendalikan apa yang dapat merugikan dan berguna bagi diriku kecuali dengan daya-Mu dan kekuatan-Mu. Engkaulah al-Musta’an (tempat kami meminta pertolongan) dan kepada-Mulah kami bertawakkal, maka janganlah Engkau serahkan (urusan) diriku kepadaku sendiri:

wa akum minal jaaHiliina fastajaaba laHuu rabbuHuu (“’Tentu aku akan cenderung untuk [memenuhi keinginan mereka] dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.’ Maka Rabbnya memperkenankan doa Yusuf…,”) dan seterusnya. Karena Yusuf as. mendapat penjagaan dan perlindungan dari Allah, maka ia menolak dengan penolakan yang keras dan ia lebih memilih untuk dipenjara. Hal ini menunjukkan kedudukan yang sempurna; di samping dia seorang pemuda yang sangat tampan dan sempurna serta diajak oleh tuan putri yang merupakan isteri seorang menteri (pembesar) Mesir yang tentu saja sangat cantik, kaya, dan berkuasa, toh ia menolaknya dan lebih memilih dipenjara, karena ia takut kepada Allah dan mengharap pahala-Nya.

Oleh sebab itu, disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah saw, bersabda: “Ada tujuh orang yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, (mereka itu adalah): Pemimpin (imam) yang adil, pemuda yang hidup (tumbuh) untuk beribadah kepada Allah, orang yang hatinya terpaut dengan masjid, jika keluar darinya pasti kembali ke sana lagi, dua orang yang saling mencintai karena Allah ketika berkumpul maupun berpisah, orang yang bersedekah secara diam-diam sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang telah disedekahkan oleh tangan kanannya, seorang yang dirayu oleh seorang wanita yang berkedudukan tinggi dan berparas ayu, tetapi ia mengatakan; `Aku takut kepada Allah,’ dan seorang yang ingat (berdzikir) kepada Allah (di waktu) sendirian hingga kedua matanya berlinang.”

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ar-Ra’du ayat 34-35

24 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Ar-Ra’du (Guruh)
Surah Madaniyyah; surah ke 13: 43 ayat

tulisan arab alquran surat ar ra'du ayat 34-35“Bagi mereka adzab dalam kehidupan dunia dan sesungguhnya adzab akhirat adalah lebih keras dan tak ada bagi mereka seorang pelindungpun dari (adzab) Allah. (QS. 13:34) Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa ialah (seperti taman), mengalir sungai-sungai di dalamnya; buahnya tak henti-henti sedang naungannya (demikian pula). Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa; sedang tempat kesudahan bagi orang-orang yang kafir ialah neraka. (QS. 13:35)” (ar-Ra’du: 34-35)

Allah menyebutkan siksa orang-orang kafir dan pahala orang-orang yang berbakti, maka setelah Allah memberitakan tentang keadaan orang-orang musyrik dan tentang kekafiran dan kemusyrikan yang ada pada mereka, Allah berfirman: laHum ‘adzaabun fil hayaatid dun-yaa (“Bagi mereka adzab dalam kehidupan dunia.”) Melalui tangan orang-orang mukmin, dengan dibunuh dan ditawan.

Wa la’adzaabul aakhirati (“Dan sesungguhnya adzab akhirat.”) Yang tersimpan bersama kehinaan di dunia ini. Asyaddu (“Adalah lebih keras.”) Maksudnya, jauh lebih pedih daripada siksa di dunia ini. Karena siksa di dunia itu ada batas akhirnya, sedang siksa akhirat itu kekal abadi di neraka. Dibandingkan dengan siksa dunia, siksa akhirat itu berlipat ganda tujuh puluh kali dan tidak dapat dibayangkan kekuatan dan kekencangan belenggunya, sebagaimana firman Allah:

“Perumpamaan (penghuni) surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tidak berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tiada berubah rasanya. Sungai-sungai dari khamr atau arak yang lezat rasanya bagipeminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring, dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka?” (QS. Muhammad: 15)

Dan firman Allah Ta’ala: ukuluHaa daa-imuw wadhilluHaa (“Buahnya tak henti-henti, dan naungannya [demikian pula].”) Maksudnya dalam surga terdapat buah–buahan, makanan dan minuman yang tiada henti dan tidak binasa.

Disebutkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim hadits Ibnu `Abbas tentang shalat gerhana, di dalamnya disebutkan bahwa para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah kami melihatmu menggapai sesuatu di tempatmu ini, kemudian kami melihatmu ketakutan dan mundur.” Maka Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya aku melihat surga, lalu aku menggapai satu tangkai darinya, seandainya aku dapat mengambilnya pasti kalian akan makan darinya selama dunia ini masih ada.”

Dari Jabir bin `Abdullah berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Penghuni surga makan dan minum, mereka tidak beringus, tidak buang air besar dan tidak kencing. Makanan mereka menjadi sendawa seperti bau minyak menjadi minyak wangi atau misik. Mereka mendapat ilham untuk senantiasa memuji dan mensucikan Allah sebagaimana mereka mendapatkan ilham untuk bernafas.” (HR Muslim)

Allah Ta’ala telah berfirman yang artinya: “Dan buah-buahannya banyak, yang tidak pernah berhenti [buahnya] dan tidak terlarang [mengambilnya].”) (QS. Al-Waaqi’ah: 32-33)

Dan berfirman: “Dan naungan [pohon-pohon surga itu] dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya.” (QS. Al-Insan: 14)

Demikian juga naungannya tidak hilang atau habis, dan Allah sering menyertakan sifat-sifat surga dengan sifat-sifat neraka, agar orang senang [berharap] dengan surga dan menghindari [takut] akan neraka.

Oleh karena itu, setelah Allah menyebutkan sifat surga seperti tersebut di atas, Allah berfirman: tilka ‘uqbal ladziinat taqau wa ‘uqbal kaafiriinan naar (“Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa, sedang tempat kesudahan bagi orang kafr adalah neraka.”)

Sebagaimana pula Allah berfirman yang artinya: “Tidak sama penduduk neraka dengan penduduk surga, penduduk surga itulah mereka yang bahagia [beruntung].” (al-Hasyr: 20)

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nahl ayat 33-34

16 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nahl (Lebah)
Surah Makkiyyah; surah ke 16: 128 ayat

tulisan arab alquran surat an nahl ayat 33-34“Tidak ada yang ditunggu-tunggu orang kafir selain dari datangnya para Malaikat kepada mereka atau datangnya perintah Rabbmu. Demikianlah yang telah diperbuat oleh orang-orang (kafir) sebelum mereka. Dan Allah tidak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang selalu menganiaya diri mereka sendiri. (QS. 16:33) Maka mereka ditimpa oleh (akibat) kejahatan perbuatan mereka dan mereka diliputi oleh adzab yang selalu mereka perolok-olokkan. (QS. 16:34)” (an-Nahl: 33-34)

Allah Ta’ala berfirman seraya memberi ancaman terhadap orang-orang musyrik atas bertahannya mereka dalam kebathilan, dan terperdayanya mereka dengan dunia, tidak ada yang ditunggu-tunggu oleh mereka, kecuali Malaikat yang mendatangi mereka untuk mencabut ruh mereka. Qatadah berkata: au ya’tiya amru rabbika (“Atau datangnya perintah Rabbmu,”) maksudnya hari Kiamat dan apa yang mereka saksikan dari yang sangat menakutkan.

Dan firman Allah: kadzaalika fa’alal ladziina min qabliHim (“Demikianlah yang diperbuat oleh orang-orang [kafir] sebelum mereka,”) maksudnya demikian pula pendahulu-pendahulu, teman-teman dan kawan-kawan mereka yang berkepanjangan dalam kemusyrikan, sehingga mereka mencicipi siksa Allah dan menepati adzab dan hukuman.

Wa maa dhalama HumullaaHu (“Dan Allah tidak menganiaya mereka,”) karena sesungguhnya Allah Ta’ala telah memberi alasan dan mendirikan dalil-dalil kepada mereka dengan mengutus para Rasul dan menurunkan Kitab-Nya.

Walaakin kaanuu anfusaHum yadhlimuun (“Akan tetapi merekalah yang selalu menganiaya diri mereka sendiri,”) maksudnya dengan menentang para Rasul dan mendustakan apa yang dibawa para Rasul itu. Maka dari itu mereka ditimpa siksa Allah atas kejahatan mereka sendiri. Wa haaqa biHim (“Dan mereka diliputi,”) maksudnya siksa yang sangat pedih meliputi mereka; maa kaanuu biHii yastaHzi-uun (“Adzab yang selalu mereka olok-olokkan,”) maksudnya mereka mengejek para Rasul bila para Rasul itu mengancam mereka dengan siksa Allah.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Israa’ Ayat 34-35

13 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Israa’
(Memperjalankan di Malam Hari)
Surah Makkiyyah; surah ke 17: 111 ayat

tulisan arab alquran surat al israa ayat 34-35“Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebib baik (bermanfaat) sampai ia dewasa dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya. (QS. 17:34) Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. 17:35)” (al-Israa’: 34-35)

Allah berfirman: wa laa taqrabuu maalal yatiimi illaa bil latii Hiya ahsanu hattaa yablugha asyuddaHu (“Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik [bermanfaat] sampai ia dewasa.”) Maksudnya, janganlah kalian membelanjakan harta anak-anak yatim kecuali dengan penuh kehati-hatian (tidak iri hati).

Di dalam kitab Shahih Muslim telah disebutkan, bahwa Rasulullah pernah berkata kepada Abu Dzar: “Wahai Abu Dzar, sesungguhnya aku melihatmu dalam keadaan lemah dan sesungguhnya aku mencintai dirimu seperti aku mencintai diriku sendiri, janganlah kamu menjadi pemimpin bagi dua orang dan jangan pula kamu mengurus harta anak yatim.” (HR. Muslim)

Dan firman-Nya: wa aufuu bil ‘aHdi (“Dan penuhilah janji.”) Yaitu, perjanjian yang kalian perbuat kepada manusia, dan ikatan kerja yang kalian pekerjakan mereka dengan ikatan kerja tersebut, karena sesungguhnya kedua hal itu akan dimintai pertanggungan jawab dari pelakunya.

Inna ‘aHda kaana mas-uulan (“Sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya.”)

Dan firman-Nya lebih lanjut: wa auful kaila bil idzaa kiltum (“Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar.”) Yakni, tanpa melakukan kecurangan. Dan janganlah kalian mengurangi timbangan orang lain.

Wa zinuu bil qisthaashi (“Dan timbanglah dengan neraca.”) Ada yang membaca dengan memberikan dhammah pada huruf qaaf dan ada juga yang memberi kasrah pada huruf tersebut, yakni seperti pada kata al-Qirthas, yang berarti mizan (timbangan). Mujahid mengatakan: “Menurut bahasa Romawi, kata itu berarti keadilan.”

Dan firman-Nya: almustaqiim (“Yang benar.”) Yaitu, yang tidak terdapat kebengkokan dan penyimpangan. Dzaalika khairun (“Itulah yang lebih baik,”) bagi kalian dalam kehidupan kalian dan akhirat kalian.

Oleh karena itu, Allah berfirman: wa ahsanu ta’wiilan (“Dan lebih baik akibatnya.”) Yakni, tempat kembali di alam akhirat kalian. Mengenai firman-Nya ini Sa’id menceritakan dari Qatadah, ia mengatakan: “Yakni, sebaik-baik pahala dan akibat yang paling baik.”

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 33-34

2 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan)
Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat

tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 33-34“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing), (QS. 3:33) (Sebagai) satu keturunan yang sebagiannya (keturunan) dari yang lain. Dan Allah Mahamendengar lagi Mahamengetabui.” (QS. 3:34)

Allah swt. memberitahukan bahwa Dia telah memilih beberapa keluarga atas keluarga lainnya di belahan bumi ini. Dia memilih Adam yang Dia telah menciptakannya dengan tangan-Nya sendiri dan ditiupkan ruh-Nya kepadanya, serta memerintahkan para Malaikat bersujud kepadanya. Dia juga mengajarkan kepadanya nama segala sesuatu dan menempatkannya di Surga, kemudian menurunkannya dari Surga, yang dalam peristiwa tersebut mengandung hikmah.

Selanjutnya Allah juga memilih Nuh as. dan menjadikannya Rasul pertama yang diutus kepada penduduk bumi ini, pada saat manusia menyembah berhala dan menyekutukan-Nya, yang mana Dia tidak pernah menurunkan hujjah untuk itu. Lalu Allah mengadzab (mereka, untuk membela Nabi Nuh) ketika dia telah lama terjun di tengah-tengah mereka, menyeru mereka ke jalan Allah pada siang dan malam hari, secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, namun hal itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Kemudian Nuh mendo’akan kejelekan (kebinasaan) atas mereka, maka Allah pun menenggelamkan mereka, tidak ada yang selamat kecuali orang-orang yang mengikuti agama yang dibawanya.

Setelah itu Allah memilih keluarga Ibrahim, yang di antara keluarganya adalah Nabi Muhammad, manusia paling mulia, penutup para Nabi. Juga memilih keluarga `Imran. Yang dimaksud dengan `Imran di sini adalah ayah Maryam binti `Imran, ibu `Isa bin Maryam.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 34

9 Feb

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 34“Dan [ingatlah] ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (QS. 2:34)

Ini merupakan kemuliaan besar dari Allah bagi Adam yang juga dianugerahkan kepada anak keturunannya. Dimana Dia memberitahukan bahwa Dia telah menyuruh para malaikat untuk bersujud kepada Adam. Adapun maksudnya, bahwa ketika Allah menyuruh para malaikat bersujud kepada Adam, maka Iblis pun termasuk dalam perintah itu. Karena, meskipun iblis bukan termasuk golongan malaikat, namun ia telah menyerupai dan meniru tingkah laku mereka. Oleh karena itu iblis termasuk dalam perintah yang ditujukan kepada para malaikat, dan tercela atas pelanggaran yang dilakukan terhadap perintah-Nya.
Masalah ini insya Allah akan diuraikan dalam tafsir surah al-Kahfi ayat 50.

Ibnu Jarir meriwayatkan dari al-Hasan al-Bashri, “Iblis itu bukan golongan malaikat, iblis adalah asli golongan jin, sebagaimana Adam adalah asli golongan manusia.” Dan isnad riwayat ini shahih dari al-Hasan al-Bashri.
Hal yang sama juga dikatakan oleh Abdurrahman bin Zaid bin Aslam.

Mengenai firman-Nya: “Dan [ingatlah] ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” Qatadah mengatakan: ketaatan itu untuk Allah sedangkan sujud untuk Adam. Allah memuliakan Adam dengan menyuruh malaikat bersujud kepadanya.

Sebagian orang mengatakan: bersujud itu adalah penghormatan, penghargaan, dan pemuliaan, sebagaimana firman Allah yang artinya: “Dan ia [Yusuf] menaikkan kedua orang tuanya ke atas singgasana, dan mereka [semuanya] merebahkan diri seraya bersujud.” (Yusuf: 100)

Hal itu merupakan syariat umat-umat terdahulu [sebelum umat Nabi Muhammad saw.] Namun cara memuliakan seperti ini dihapus dalam agama kita. Mu’adz pernah bercerita, “Aku pernah datang ke Syam, setibanya disana aku melihat mereka sujud kepada para pendeta dan para pemuka agama mereka. lalu kukatakan, “Engkau ya Rasulallah, lebih berhak untuk dijadikan tempat bersujud.” Maka beliau pun bersabda: “Tidak, seandainya aku diperbolehkan memerintah manusia sujud kepada seseorang, maka aku akan menyuruh seorang istri untuk sujud kepada suaminya karena keagungan haknya [atas] istri.” (HR Abu Daud, al-Hakim, at-Tirmidzi, dengan sanad hasan)
Makna tersebut ditarjih oleh ar-Razi.

Dan sebagian lain mengatakan, sujud tersebut ditujukan kepada Allah, dan Adam as. hanya menjadi tempat kiblat saja. sebagaimana firman Allah: “Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir.” (al-Israa’: 78)
Tetapi perbandingan ini perlu ditinjau ulang, yang jelas pendapat pertama lebih tepat.

Mengenai firman-Nya, “Maka bersujudlah mereka semua kecuali Iblis. la enggan serta takabbur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir, ” Qatadah mengatakan, musuh Allah, Iblis iri terhadap Adam as. atas kemuliaan yang telah dianugerahkan Allah kepadanya. Lalu iblis itu berkata, “Aku diciptakan dari api sedang ia (Adam) diciptakan dari tanah.”

Dosa yang pertama kali terjadi adalah kesombongan musuh Allah, Iblis, yang merasa enggan bersujud kepada Adam as. Dalam hadits shahih telah ditegaskan: “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan meski hanya sebesar biji sawi.”

Di dalam hati Iblis telah terdapat kesombongan, kekufuran, dan keingkaran yang menyebabkan ia terusir dan terjauh dari rahmat Allah dan hadirat Ilahi.

Sebagian mufassir mengatakan, firman-Nya “Dan adalah ia termasuk golongan orang-orang kafir.” Artinya Iblis termasuk dalam golongan orang-orang yang kafir disebabkan karena penolakannya untuk bersujud kepada Adam. Hal itu seperti firman-Nya: “Maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.” (QS. Huud: 43).

Demikian juga firman-Nya: “Yang menjadikan kalian berdua termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 35).

Di padang tandus yang menyesatkan
Sedang tunggangan seakan burung “qata” yang sedih
Yang dahulu induknya pun adalah anak yang baru menetas dari telumya

Maksudnya pernah menjadi.

Ibnu Fawrak mengatakan: “Pengertiannya bahwa Iblis dalam pengetahuan Allah termasuk golongan orang-orang kafir.” Pendapat tersebut ditarjih oleh al-Qurthubi. Ar-Razi dan ulama lainnya telah menyebutkan dua pendapat para ulama, apakah yang diperintah bersujud kepada Adam itu khusus para malaikat bumi ataukah umum mencakup malaikat bumi dan malaikat langit semuanya.

Masing-masing pendapat ada kelompok pendukungnya. Namun ayat ini pada lahimya menunjukkan bahwa hal itu bersifat umum.

Firman-Nya: “Maka bersujudlah malaikat itu semuanya bersama-sama kecuali Iblis.”(QS. Al-Hijr: 30).

Di sini terdapat empat hal yang memperkuat pendapat yang menyatakan bahwa perintah itu bersifat umum. Wallahu a’lam.

&