Tag Archives: 36

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nisaa’ ayat 36

8 Feb

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nisaa’ (Wanita)
Surah Madaniyyah; surah ke 4: 176 ayat

tulisan arab alquran surat an nisaa' ayat 36“Beribadahlah kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (QS. an-Nisaa’: 36)

Ibnu sabil ialah, seorang musafir yang terputus (terhenti) perjalanan kembali ke tempat asal-nya, karena kehabisan bekal.

Allah memerintahkan untuk beribadah hanya kepada-Nya, yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Sebab Dia-lah Pencipta, Pemberi rizki, Pemberi nikmat dan Pemberi karunia terhadap makhluk-Nya, di dalam seluruh keadaan. Maka Dia-lah yang berhak agar mereka meng-Esakan, dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun dari makhluk-Nya, sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw. kepada Mu’adz bin Jabal:

“Tahukah engkau, apa hak Allah atas hamba-hamba-Nya?” Mu’adz menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda: “Hendaknya mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” Kemudian beliau bertanya lagi: “Tahukah engkau, apa hak hamba atas Allah, jika mereka melakukannya?” Beliau menjawab: “Yaitu Dia tidak akan mengadzab mereka.”

Kemudian Allah mewasiatkan untuk berbuat baik kepada kedua orang tua. Karena Allah menjadikan keduanya sebagai sebab yang mengeluarkan kamu, dari tidak ada menjadi ada. Banyak sekali Allah menyandingkan antara ibadah kepada-Nya dan berbuat baik kepada orang tua. Seperti firman Allah, “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu-bapakmu.” (QS. Luqman: 14)

Kemudian setelah perintah berbuat baik kepada kedua orang tua, dilanjutkan dengan berbuat baik kepada kerabat, baik laki-laki maupun perempuan. Kemudian Allah berfirman: wal yataamaa (“Dan anak-anak yatim.”) Hal itu dikarenakan mereka kehilangan orang yang menjaga kemaslahatan dan nafkah mereka, maka Allah perintahkan untuk berbuat baik dan lemah lembut kepada mereka.

Kemudian Allah berfirman: wal masaakiini (“Dan orang-orang miskin.”) Yaitu orang-orang yang sangat butuh dimana mereka tidak mendapatkan orang-orang yang dapat mencukupi mereka, maka Allah perintahkan untuk membantu mencukupi kebutuhan mereka dan menghilangkan kesulitan mereka. Pembicaraan tentang fakir dan miskin akan diuraikan pada surat Bara’ah (at-Taubah).

Firman-Nya: wal jaari dzil qurbaa wal jaaril junubi (“Tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh.”) Tetangga yang dekat yaitu orang yang antara kamu dan dia memiliki hubungan kekerabatan. Sedangkan antara kamu dan dia tidak memiliki hubungan kerabat. Demikian pendapat yang diriwayatkan dari `Ikrimah, Mujahid, Maimun bin Mahran, adh-Dhahhak, Zaid bin Aslam, Muqatil bin Hayyan, dan Qatadah. Abu Ishaq mengatakan, dari Nauf al-Bakkali tentang firman Allah: “tetangga yang dekat,” yaitu tetangga muslim sedangkan “tetangga jauh” yaitu orang Yahudi dan Nasrani. (HR. Ibnu Jarii dan Ibnu Abi Hatim).

Jabir al-Ju’fi mengatakan dari asy-Sya’bi dari Ali dan ibnu Mas’ud bahwa “jaari dzil qurbaa” yaitu wanita. Sedangkan Mujahid berkata pula tentang “wal jaaril junubi” yaitu teman dalam perjalanan. Banyak hadits yang menjelaskan tentang wasiat untuk tetangga. Kita akan sebutkan beberapa yang mudah dan hanya kepada Allah tempat memohon pertolongan.

Hadits pertama, Imam Ahmad meriwayatkan dari `Abdullah bin `Umar, bahwa Rasulullah bersabda: “Jibril senantiasa mewasiatkan aku tentang tetangga, hingga aku menyangka akan mewariskannya.” (Dikeluarkan oleh al-Bukhari dan Muslim di dalam ash-Shahihain, juga Abu Dawud dan at-Tirmidzi meriwayatkan yang sama).

Hadits kedua, Imam Ahmad meriwayatkan pula dari `Umar, ia berkata, Rasulullah bersabda: “Janganlah seseorang kenyang tanpa (memperhatikan) tetangganya.” (Hanya Imam Ahmad yang meriwayatkan)

Hadits ketiga, Imam Ahmad meriwayatkan, `Ali bin `Abdullah telah menceritakan kepada kami, Muhammad bin Fudhail bin Ghazwan telah menceritakan kepada kami, Muhammad bin Sa’ad al-Anshari telah menceritakan kepada kami, aku mendengar Abu Zhabyah al-Kala-i berkata, Aku mendengar al-Miqdad bin al-Aswad berkata: Rasulullah saw. bersabda kepada para Sahabatnya: “Apa yang kalian katakana tentang zina?” Mereka menjawab: “Perilaku yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya, maka hal itu akan tetap haram hingga hari Kiamat.” Beliau bersabda: “Zinanya seseorang dengan sepuluh wanita, lebih ringan baginya daripada berzina dengan isteri tetangga.” Beliau melanjutkan pertanyaannya: “Apa yang kalian katakan tentang pencurian?” Mereka menjawab: “Perilaku yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya, maka hal itu akan tetap haram hingga hari Kiamat.” Beliau bersabda: “Seseorang yang mencuri di sepuluh buah rumah lebih ringan baginya dari pada mencuri dari rumah tetangganya.” (Hanya Imam Ahmad yang meriwayatkan).

Hadits ini memiliki syahid (penguat) dalam kitab ash-Shahihain dari hadits Ibnu Mas’ud, aku bertanya: “Ya Rasulullah. Apakah dosa yang paling besar?” Beliau menjawab: “Engkau menjadikan tandingan bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakanmu.” Aku bertanya lagi: “Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab: “Engkau bunuh anakmu, karena takut makan bersamamu”. Aku melanjutkan pertanyaan: “Lalu apa lagi?” Beliau pun menjawab: “Engkau berzina dengan isteri tetanggamu.”

Hadits keempat, Imam Ahmad meriwayatkan, bahwa `Aisyah bertanya kepada Rasulullah saw.: “Sesungguhnya aku memiliki dua orang tetangga, mana di antara keduanya yang paling berhak aku beri hadiah?” Beliau menjawab: “Orang yang pintunya paling dekat denganmu.” (HR. Al-Bukhari).

Firman Allah: wash shaahibil bil jambi (“Teman Sejawat.”) Ats-Tsauri mengatakan dari `Ali dan Ibnu Mas’ud, keduanya berkata: “Yaitu wanita.” Ibnu Abi Hatim berkata: “Pendapat serupa diriwayatkan dari `Abdurrahman bin Abi Laila, Ibrahim an-Nakha’i, al-Hasan dan Sa’id bin Jubair dalam salah satu riwayat.” Ibnu `Abbas dan jama’ah berkata: “Yaitu orang yang lemah”. Sedang-kan Ibnu `Abbas, Mujahid, `Ikrimah dan Qatadah berkata: “Yaitu teman dalam perjalanan”. Sedangkan dan jama’ah adalah tamu.

Firman Allah: wa maa malakat aimaanukum (“hamba sahayamu”) ayat ini merupakan wasiat untuk para budak, karena mereka lemah dalam bertindak dan tawanan di tangan manusia. Untuk itu Rasulullah di saat sakit menjelang wafatnya, beliau mewasiatkan umatnya dengan sabdanya: “Jagalah shalat, jagalah shalat, dan hamba sahayamu”. Beliau terus mengulangnya hingga lisannya tidak mampu lagi berucap.

Imam Ahmad meriwayatkan dari al-Miqdam bin Ma’dikarb, ia berkata, Rasulullah bersabda: “Apa yang engkau makan untuk dirimu sendiri, maka itu shadaqah bagimu. Dan makanan yang engkau berikan untuk anakmu, maka itu shadaqah bagi-mu. Makanan yang engkau berikan untuk isterimu, maka itu shadaqah bagi-mu. Dan makanan yang engkau berikan untuk pembantumu, maka itu shadaqah bagimu.” (HR. An-Nasa’i dari hadits Baqiyah dan isnadnya shahih), segala puji hanya bagi Allah.

Dari `Abdullah bin `Amr bahwa ia berkata kepada bendaharanya: “Apakah telah engkau berikan makanan kepada budakmu ?” Dia menjawab: “Tidak.” Beliau pun berkata: “Pergilah dan berikan kepada mereka, karena Rasulullah bersabda: “Cukuplah berdosa bagi seseorang, jika ia menahan makanan orang yang dibawah kepemilikannya.” (HR Muslim).

Dari Abu Hurairah juga, bahwa Nabi bersabda: “Seorang budak berhak mendapatkan makanan dan pakaian. Dan hendaklah ia tidak dibebani pekerjaan kecuali yang dia mampu (mengerjakannya)”. (HR.Muslim).

Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi bersabda: “Apabila pembantu mendatangi salah seorang di antara kalian dengan membawa makanannya, kalau ia tidak mendudukkannya bersamanya, maka berikanlah (ambilkanlah) untuknya satu atau dua jenis makanan, sesuap atau dua suap makanan, karena ia telah mengurusi panasnya dan penghidangannya.” (Dikeluarkan oleh al-Bukhari dan Muslim, dan lafazhnya ini bagi al-Bukhari)

Sedangkan dalam lafazh Muslim: “Maka hendaklah ia mendudukannya dan makan bersamanya, jika makanannya adalah untuk orang banyak, tetapi hanya ada sedikit, maka letakkanlah di tangannya satu atau dua suapan.”

Dari Abu Dzar, bahwa Nabi saw bersabda: “Mereka adalah saudara dan kerabat kalian, yang dijadikan Allah di tangan kalian. Barangsiapa yang saudaranya berada di bawah tangannya, maka berilah makan dari apa yang dia makan, berikanlah pakaian apa yang dia pakai. Dan janganlah kalian tugaskan mereka sesuatu yang mereka tidak mampu dan jika kalian membebankan pekerjaan kepada mereka, maka bantulah mereka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Firman Allah: innallaaHa laa yuhibbu man kaana mukhtaalan fakhuuran (“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.”) Artinya, sombong dalam dirinya, bangga, angkuh dan sombong pada orang lain. Dia melihat dirinya lebih baik dari mereka dan ia merasa besar dalam dirinya, padahal di sisi Allah ia hina dan di sisi manusia ia dibenci.

Mujahid berkata tentang firman-Nya: mukhtaalan; yaitu sombong. Fakhuuran; yaitu setelah diberikan berbagai nikmat, ia tidak bersyukur kepada Allah, yaitu merasa sombong kepada manusia dengan apa yang diberikan Allah berupa nikmat-Nya serta sedikit rasa syukurnya kepada Allah.

&

Iklan

Tafsir Ibnu Katsir Surah At-Taubah / Al-Bara’ah ayat 36

23 Des

Tafsir Al-Qur’an Surah At-Taubah (Pengampunan)
Surah Madaniyyah; surah ke 9: 129 ayat

tulisan arab alquran surat at taubah ayat 36“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Allah menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah menganiaya dirimu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya dan ketahuilah, bahwasannya Allah beserta orang-orang yang bertakwa. (QS. at-Taubah / al-Bara’ah: 36)

Imam Ahmad berkata, Isma’il telah bercerita kepada kami, Ayyub telah mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Sirin memberitahu kami, dari Abi Bakrah, bahwasanya Nabi saw menyampaikan khutbah pada saat haji, seraya bersabda:
“Ketahuilah, bahwa zaman berputar seperti keadaannya pada saat Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun terdiri dari dua belas bulan, empat di antaranya adalah bulan-bulan suci, tiga berurutan; Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, serta Rajab Mudharr yang berada di antarajumadi dan Sya’ban.”

Setelah itu beliau saw. bertanya: “Hari apa ini?” Kami menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Lalu beliau terdiam, hingga kami mengira beliau akan menamainya dengan nama yang lain. Beliau berkata: “Bukankah (ini) hari penyembelihan hewan kurban?” Kami menjawab: “Ya.”

Kemudian beliau bertanya: “Bulan apa ini?” Kami menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau terdiam hingga kami mengira beliau akan menamainya dengan nama yang lain. Beliau bertanya: “Bukankah (ini) bulan Dzulhijjah?” Kami menjawab: “Ya.”

Kemudian beliau bertanya: “Negeri apa ini?” Kami menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau terdiam hingga kami mengira beliau akan menamainya dengan nama yang lain. Beliau bertanya: “Bukankah negeri ini (negeri Haram)?” Kami menjawab: “Ya.”

Beliau bersabda:
“Sesungguhnya darah, harta, -dan aku mengira beliau mengatakan- dan kehormatanmu diharamkan atas kamu seperti diharamkannya hari ini, di bulan ini, di negerimu ini. Kamu akan bertemu dengan Rabbmu dan Allah akan bertanya tentang perbuatanmu. Ingatlah, jangan sampai setelah aku wafat, kamu kembali kepada kesesatan, kamu saling membunuh. Ingatlah, bukankah aku sudah menyampaikan? Ingatlah, yang hadir saat ini hendaknya menyampaikan kepada yang tidak hadir, mudah-mudahan (terkadang) orang yang menyampaikan lebih faham daripada sebagian orang yang mendengar.”

Hadits ini juga diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam at-Tafsir, begitu juga dengan Muslim.

Firman-Nya: minHaa arba’atun hurum (“Di antaranya empat bulan haram”) ini juga yang dilakukan oleh orang-orang Arab pada zaman Jahiliyyah, mereka mengharamkan bulan-bulan itu keculai sekelompok dari mereka yang disebut dengan al-Basal, dimana mereka mengharamkan delapan bulan dalam setahun karena sikap mereka yang berlebihan. Sedangkan sabda Rasulullah saw:

“Tiga berurutan; Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharram, serta Rajab Mudharr yang berada di antara Jumadi dan Sya’ban.”

Beliau menisbatkan kepada Bani Mudharr untuk menjelaskan kebenaran perkataan mereka tentang Rajab, bahwa bulan ini berada antara Jumadi dengan Sya’ban. Tidak seperti yang dikatakan oleh Bani Rabi’ah, bahwa Rajab yang diharamkan adalah bulan antara Sya’ban dengan Syawwal, yaitu Ramadhan.
Maka Rasulullah menjelaskan, bahwa yang benar adalah Rajab Mudharr dan bukan Rajab Rabi’ah.

Sedangkan bulan-bulan haram itu adalah empat bulan, tiga berurutan dan satu menyendiri adalah untuk pelaksanaan ibadah haji dan umrah. Jadi sebelum bulan-bulan haji, diharamkan satu bulan, Dzulqa’dah karena saat itu mereka berhenti dari peperangan. Dan diharamkan bulan Dzulhijjah, karena mereka melaksanakan ibadah haji. Dan diharamkan satu bulan setelahnya, Muharram, agar mereka bisa pulang ke negeri mereka dengan aman.

Dihar anikan Rajab yang berada di tengah tahun untuk memudahkan yang berada di pinggiran Jazirah Arabia, jika ingin umrah atau berziarah ke Baitullah. Mereka bisa melakukan dan kembali ke negerinya dengan aman.

Firman-Nya: dzaalikad diinul qayyimu (“Itulah agama yang lurus”) yakni inilah syari’at yang lurus, yang berupa pelaksanaan perintah Allah berkaitan dengan bulan-bulan haram dan pelaksanaan syariat yang ada dalam Kitabullah.

Allah berfirman: falaa tadhlimuu fiiHinna anfusakum (“Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan-bulan itu.”) yakni di bulan-bulan haram ini karena (menganiaya diri di bulan itu) lebih besar dosanya, sebagaimana berbuat maksiat di tanah haram lebih besar dosanya, berdasar pada firman Allah yang artinya:
“Barangsiapa yang di dalamnya bermaksud melakukan kejahatan secara dhalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebagian siksa yang pedih.” (QS. Al-Hajj: 25).

Begitu juga di bulan haram, dosa dilipatkan. Oleh karena itu, menurut pendapat Imam asy-Syafi’i dan sebagian besar ulama: “Denda dilipatgandakan jika pelanggaran dilakukan pada bulan haram, begitu juga terhadap orang yang membunuh di tanah haram atau membunuh orang yang sedang berada di bulan haram.”

Berkaitan dengan ayat: falaa tadhlimuu fiiHinna anfusakum (“Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan-bulan itu.”) Hammad bin Salamah berkata, dari `Ali bin Zaid, dari Yusuf bin Mihran dari Ibnu `Abbas: “Dalam seluruh bulan.” Muhammad bin Ishaq berkata: “Maka janganlah kamu menganiaya dirimu dalam bulan-bulan itu.”Yakni, jangan menghalalkan apa yang diharamkan, dan mengharamkan apa yang dihalalkan seperti yang dilakukan oleh orang-orang musyrik, karena sesungguhnya pengunduran waktu yang mereka lakukan hanyalah menambah kekafiran mereka:
“Orang-orang kafir itu disesatkan dengan pengunduran tersebut.” (at-Taubah: 37) pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir.

Firman-Nya: wa qaatilul musyrikiina kaaffatan (“Dan perangilah orang-orang musyrik itu secara keseluruhan.”) yakni semuanya; kamaa yuqaatiluunakum kaaffatan (“Sebagaimana mereka memerangimu secara keseluruhan.”) Yakni semuanya.
Wa’lamuu annallaaHa ma’al muttaqiin (“Dan ketahuilah bahwa Allah bersama orang-orang yang bertakwa.”)

Para ulama berbeda pendapat berkenaan dengan diharamkannya memulai peperangan di bulan haram, apakah sudah mansukh (dihapus) atau masih berlaku. Dalam hal ini ada dua pendapat:

Pertama, merupakan pendapat yang lebih masyhur, bahwa hukum itu telah mansukh (dihapus), karena di sini Allah berfirman, “Maka janganlah kamu menganiaya dirimu dalam bulan-bulan itu,” dan memerintahkan untuk memerangi orang-orang musyrik. Difahami dari konteks ini, bahwa perintah ini berlaku umum, seandainya diharamkan pada bulan-bulan haram, tentu akan ditaqyid (dibatasi) dengan berlalunya bulan-bulan tersebut dan kerena Rasulullah mengepung penduduk Thaif pada bulan haram, yaitu Dzulqa’dah.

Seperti yang disebutkan dalam shahih al-Bukhari dan shahib Muslim, bahwasanya beliau berangkat ke Hawazin pada bulan Syawwal. Setelah kaum muslimin berhasil mengalahkan mereka dan berhasil mengumpulkan harta rampasan, sementara sisa pasukan Hawazin pergi ke Thaif, maka Rasulullah menuju ke Thaif dan mengepungnya selama 40 hari. Setelah itu beliau meninggalkan Thaif dan belum berhasil menaklukkannya. Jadi, di sini disebutkan bahwa Rasulullah melakukan pengepungan pada bulan haram.

Kedua, memulai peperangan di bulan haram tidak diperbolehkan. Hukum ini belum mansukh (dihapus), berdasarkan firman Allah:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syiar-syiar Allah, dan jangan melanggar [kehormatan] bulan-bulan haram.” (QS. Al-Maidah: 2).

Firman-Nya: “Bulan Haram dengan bulan haram], dan pada sesuatu yang patut dihormati, berlaku hukum qishaash. oleh sebab itu Barangsiapa yang menyerang kamu, Maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu. bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (al-Baqarah: 194)

Firman-Nya: “Apabila sudah habis bulan-bulan haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrik itu.” (QS. At-Taubah: 5).

Dan telah lebih dahulu dijelaskan di depan, bahwa yang dimaksud dengan bulan-bulan haram adalah bulan yang empat tersebut dan bukan bulan-bulan pemberlakuan seperti yang disebutkan dalam salah satu pendapat di atas.

Sedangkan firman-Nya: wa qaatilul musyrikiina kaaffatan kamaa yuqaatiluunakum kaaffatan (“Dan perangilah orang-orang musyrik itu secara keseluruhan, sebagaimana mereka memerangimu secara keseluruhan.”) Bisa jadi penggalan ayat ini tidak berkaitan dengan penggalan ayat sebelumnya dan bahwa penggalan ayat ini merupakan hukum tersendiri serta merupakan pemberi dorongan. Yakni sebagaimana ketika mereka memerangimu, mereka saling berhimpun, maka ketika kamu memerangi mereka, kamu juga harus berhimpun dan perangilah mereka seimbang dengan apa yang mereka perbuat.

Atau bisa jadi penggalan ayat ini adalah pemberian izin kepada orang-orang mukmin, untuk memerangi orang-orang musyrik pada bulan haram, jika mereka memulai peperangan. Seperti dalam firman Allah, yang artinya:
“Bulan haram dengan bulan haram, dan pada sesuatu yang patut dihormati berlaku hukum gishash.” (QS. Al-Bagarah: 194). Dan firman-Nya yang artinya:
“Dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidilharam, hingga mereka memerangimu di dalamnya. Jika mereka memerangimu, maka perangilah mereka.” (QS. Al-Baqarah: 191).

Begitu juga dengan peristiwa pengepungan penduduk Thaif yang dilakukan oleh Rasulullah dan pasukan Islam hingga memasuki bulan haram, adalah merupakan kelanjutan perang terhadap orang-orang Hawazin dan sekutunya dari orang-orang Bani Tsagif, di mana merekalah yang memulai peperangan, oleh karena itulah Rasulullah mengepung mereka, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

Ketika mereka berhimpun dan bertahan di Thaif, maka Rasulullah mendatangi dan mengepung mereka seraya melempari mereka dengan majaniq (sejenis tombak) dan senjata semisal, hingga pengepungan itu berlangsung 40 hari. Pengepungan itu dimulai pada bulan halal dan memasuki bulan haram beberapa hari, setelah itu pengepungan berakhir.

Sesuatu yang merupakan kelanjutan itu bisa dimaafkan, berbeda jika sesuatu tersebut adalah sebuah permulaan. Ini kaidah yang sudah disepakati, dan pandangan semacam itu cukup banyak. Wallahu a’lam.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 34-36

12 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 34-36“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya. (QS. 7:34) Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu Rasul-rasul daripadamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah
ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. 7:35) Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni Neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS. 7:36)” (al-A’raaf: 34-36)

Allah berfirman: wa likulli ummatin (“Tiap-tiap umat memiliki”) yaitu kurun dan generasi; ajalun fa idzaa jaa-a ajaluHum (“Batas waktu tertentu. Jika telah datang kepada mereka waktu tersebut.”) yakni batas waktu yang telah ditentukan kepada mereka. laa yasta’khiruuna saa’ataw walaa yastaqdimuun (“Maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sedikit pun dan tidak dapat pula memajukannya.”)

Kemudian Allah mengingatkan anak cucu Adam, bahwa Allah akan mengutus kepada mereka para Rasul, yang menceritakan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan-Nya, dan menyampaikan berita gembira serta peringatan. Dimana Allah berfirman: fa manit taqaa wa ash-lahaa (“Barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan,”) yaitu meninggalkan berbagai hal yang diharamkan dan berbuat ketaatan,

Falaa khaufun ‘alaiHim walaa Hum yahzanuuna. Wal ladziina kadzdzabuu bi-aayaatinaa wastakbaruu ‘anHaa (“Maka tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya.”) Maksudnya, hati mereka mendustakan ayat-ayat itu dan mereka sombong untuk mengerjakannya; ulaa-ika ash-haabun naari Hum fiiHaa khaaliduun (“Mereka itu adalah para penghuni Neraka, mereka kekal di dalamnya.”)

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yunus ayat 34-36

5 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Yunus
Surah Makkiyyah; surah ke 10: 109 ayat

tulisan arab alquran surat yunus ayat 34-36“Katakanlah: ‘Apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang dapat memulai penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali?’ Katakanlah: ‘Allahlah yang memulai penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali; maka bagaimanakah kamu dipalingkan (kepada beribadah kepada selain Allah).’ (QS.10:34) Katakanlah: ‘Apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang menunjuki kepada kebenaran.’ Katakanlah: ‘Allahlah yang menunjuki kepada kebenaran.’ Maka apakah orang-orang yang menunjuki kepada kebenaran itu lebih berhak diikuti ataukah orang yang tidak dapat memberi petunjuk kecuali (bila) diberi petunjuk. Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimanakah kamu mengambil keputusan? (QS. 10:35) Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikit pun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui apa yang mereka kerjakan. (QS. 10:36)” (Yunus: 34-36)

Ini merupakan pembatalan terhadap pengakuan mereka dalam hal penyekutuan mereka terhadap Allah dan (terhadap) peribadahan mereka kepada berhala-berhala dan sekutu-sekutu.

Qul Hal min syurakaa-ikum may yabda-ul khalqa tsumma yu’iiduHu (“Katakanlah: ‘Apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang dapat memulai penciptaan makhluk? Kemudian mengulanginya [menghidupkannya] kembali.’”) Maksudnya, siapakah yang memulai penciptaan langit dan bumi, kemudian menghidupkan makhluk-makhluk di dalamnya, membedakan bentuk langit dan bumi dan menggantinya jika terjadi kerusakan di dalamnya, kemudian mengembalikan suatu makhluk berupa makhluk baru?

qulillaaHu (“Katakanlah: ‘Allah.’”) Hanya Allahlah yang melakukan itu semuanya sendiri, hanya Dia saja, tidak ada sekutu bagi-Nya. Fa annaa tu’fakuun (“Maka bagaimanakah kamu dipalingkan [kepada penyembahan kepada yang selain Allah].”) Maksudnya, bagaimanakah kamu dipalingkan dari jalan yang benar kepada jalan yang bathil.

Qul Hal min syurakaa-ikum may yaHdii ilal haqqi qulillaaHu yaHdii lilhaqqi (“Katakanlah: ‘Apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang menunjuki kepada kebenaran. Katakanlah: ‘Allahlah yang menunjuki kepada kebenaran.’”) Maksudnya, kamu mengetahui bahwa sesungguhnya sekutu-sekutumu tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang tersesat. Akan tetapi yang memberi petunjuk kepada orang bingung, orang tersesat dan yang membolak-balikkan hati dari kesesatan kepada an adalah Allah, yang tiada Ilah (yang berhak diibadahi) melainkan hanya Dia.

Afa may yaHdii ilal haqqi ahaqqu ay yuttaba’a ammal laa yaHiddii illaa ay yuHdaa (“Maka apakah orang yang menunjuki kepada kebenaran itu lebih berhak diikuti ataukah orang yang tidak dapat memberi petunjuk kecuali [bila] diberi pentnjuk?”) Maksudnya, manakah yang diikuti, hamba yang menunjuki kepada kebenaran dan melihat setelah buta, ataukah yang tidak menunjuki kepada sesuatu pun kecuali ditunjuki karena kebutaan dan ketuliannya?

Sebagaimana Allah berfirman tentang Ibrahim, bahwa sesungguhnya dia berkata: “Wahai bapakku mengapa kamu beribadah kepada sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolongmu sedikit pun.” (QS. Maryam: 42)
Dan dia berkata kepada kaumnya: “Apakah kamu beribadah kepada patung-patung yang kamu pahat itu? Padahal Allahlah yang menciptakanmu dan apa yang kamu perbuat itu?” (QS. Ash-Shaaffaat: 95-96). Dan beberapa ayat lainnya.

Firman-Nya: famaa lakum kaifa tahkumuun (“Mengapa kamu berbuat demikian? Bagaimanakah kamu mengambil keputusan?”) Maksudnya, bagaimanakah kamu berfikir dengan akalmu? Bagaimanakah kamu menyamakan antara Allah dengan makhluk-Nya, kamu berpaling dari yang ini ke yang itu dan kamu beribadah kepada ini dan itu (kepada Allah, juga kepada berhala-berhala) kenapa kamu tidak mengesakan Rabb Yang Mahaagung, Yang Mahamengetahui, Yang Mahamenghakimi, Yang Mahamemberi petunjuk dari kesesatan, dengan beribadah, mengikhlaskan do’a dan bertaubat hanya kepada-Nya saja.

Kemudian Allah Ta’ala menerangkan, bahwa sesungguhnya mereka menganut agama mereka ini bukan karena dalil dan bukti, akan tetapi hanyalah sangkaan saja, maksudnya dugaan dan khayalan. Maka dari itu tidak ada manfaat sama sekali bagi mereka.

innallaaHa ‘aliimum bimaa yaf’aluun (“Sesungguhnya Allah Mahamengetahui apa yang mereka kerjakan.”) Ini merupakan ancaman yang keras untuk mereka. Karena sesungguhnya Allah Ta’ala telah memberi kabar bahwa sesungguhnya Allah akan membalas mereka dengan balasan yang setimpal atas semua itu.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Huud ayat 36-39

28 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Huud
Surah Makkiyyah; surah ke 11: 123 ayat

tulisan arab alquran surat huud ayat 36-39“Dan diwahyukan kepada Nuh, bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja), karena itu janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan. (QS.11:36) Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang dhalim itu; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. (QS. 11:37) Dan mulailah Nub membuat bahtera. Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan melewati Nuh, mereka mengejeknya. Berkatalah Nuh: ‘Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami). (QS. 11:38) Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa oleh adzab yang menghinakan(nya) dan yang akan ditimpa adzab yang kekal.’ (QS. 11:39)” (Huud: 36-39)

Allah memberi kabar, bahwa sesungguhnya Dia telah memberi wahyu kepada Nuh, yang berkaitan dengan siksa dan adzab-Nya yang diminta oleh kaumnya untuk menyiksa mereka, maka Nuh berdo’a terhadap mereka dengan do’anya yang Allah Ta’ala kabarkan dalam firman-Nya yang artinya: “Ya Rabbku janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi.” (Nuh: 26)
annaHuu laa yu’mina min qaumika illaa man qad aamana (“Bahwasannya sekali-sekali tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang-orang yang telah beriman [saja].”) maka janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka dan janganlah kau hiraukan urusan mereka.

washna’il fulka (“dan buatlah bahtera itu”) yaitu perahu; bi-a’yunina (“dengan pengawasan”) maksudnya dengan pengawasan Kami; wa wahyinaa (“dan petunjuk wahyu kami”) maksudnya dengan pengajaran Kami kepadamu apa yang harus (bagaimana engkau membuatnya).

Walaa takhaathibnii fil ladziina dhalamuu innaHum mughraquun (“Dan janganlah engkau bicara dengan Aku tentang orang-orang dhalim itu; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.”)

Dan firman-Nya: wa yashna’ul fulka wa kullamaa marra ‘alaiHi mala-um min qaumiHii sakhiruu minHu (“Dan mulailah Nuh membuat bahtera. Dan setiap kalia pemimpin kaumnya melewati Nuh, mereka mengejeknya.”) maksudnya mereka mengolok-olok dan mendustakan ancaman yang ditujukan kepada mereka bahwa mereka akan ditenggelamkan. Qaala in taskharuu minnaa fa innaa naskharu minkum (“Berkata Nuh: ‘Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kamu [pun] mengejekmu.’”) ayat seterusnya.

Ini merupakan ancaman yang keras dan janji yang kokoh. May ya’tiiHi ‘adzaabuy yukhziiHi (“Siapa yang akan ditimpa oleh azab yang menghinakannya”) maksudnya adalah menghinakannya di dunia. Wa yahillu ‘alaiHi ‘adzaabum muqiim (“Dan yang akan ditimpa adzab yang kekal”) yakni abadi, terus-menerus dan selama-lamanya di akherat kelak.

Bersambung

Tafsir Ibnu Ka

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yusuf ayat 36

26 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Yusuf
Surah Makkiyyah; surah ke 12: 111 ayat

tulisan arab alquran surat yusuf ayat 36“Dan bersama dengan dia, masuk pula ke dalam penjara dua orang pemuda. Berkatalah salab seorang di antara keduanya: ‘Sesungguhnya aku bermimpi, babwa aku memeras anggur.’ Dan yang lainnya berkata: ‘Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku membawa roti di atas kepalaku, sebahagiannya dimakan burung.’ Berikanlah kepada kami ta’birnya; sesungguhnya kami memandang kamu termasuk orang-orang yang pandai (mena’birkan mimpi.’) (Yusuf: 36)

Qatadah mengatakan: “Salah seorang dari mereka berdua adalah pelayan minuman raja, sedang yang lain adalah tukang pembuat roti raja.” As-Suddi berkata: “Bahwa mereka dipenjara dengan tuduhan meracuni makanan dan minuman raja.” Sedangkan Yusuf terkenal di penjara itu karena sifat kedermawanan, dapat dipercaya, kejujuran kata-katanya, baik, banyak beribadah, dapat meta’birkan mimpi, suka berbuat baik kepada orang-orang yang dipenjara, menjenguk yang sakit, dan melaksanakan hak-hak mereka.

Setelah dua pemuda itu masuk penjara, mereka akrab dengan Yusuf dan sangat mencintainya, mereka berdua mengatakan: “Kami sangat mencintaimu.” Yusuf menjawab: “Semoga Allah memberkahi kalian, setiap kali orang mencintaiku pasti aku mendapatkan kerugian (bahaya) karena kecintaan: “Bibiku mencintaiku, kemudian menyebabkan kerugian padaku, ayahku mencintaiku, kemudian menyebabkan aku disakiti saudara-saudaraku, demikian pula setelah isteri al-‘Aziz mencintaiku.” Mereka berdua menjawab: “Demi Allah, kami tidak dapat berbuat selain itu.”

Kemudian mereka bermimpi, penyaji minuman bermimpi bahwa dia memeras khamr, maksudnya anggur (‘inab) Seperti dalam bacaan ‘Abdullah bin Mas’ud: “innii araanii a’sharu ‘inaban” dan beliau mengatakan bahwa penduduk Oman menamakan ‘inab dengan khamr.”

Ikrimah berkata: “pemuda itu berkata kepada Yusuf: ‘Aku bermimpi dalam tidur bahwa aku menanam pohon anggur kemudian tumbuh, berbuah, kuperas dan kupersembahkan kepada raja.’ Pemuda yang lain, tukangroti, mengatakan: ‘Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku membawa roti di atas kepalaku, sebahagiannya dimakan burung. Berikanlah kepada kami ta’birnya,”dan seterusnya.

Yang masyhur bagi kebanyakan ulama tafsir adalah pendapat yang telah kami kemukakan, yaitu bahwa kedua pemuda itu telah bermimpi dan keduanya meminta kepada Yusuf untuk menafsirkan mimpi mereka masing-masing. Ibnu Jarir meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia mengatakan: “Kedua kawan Yusuf tersebut sama sekali tidak bermimpi, tetapi mereka berpura-pura mimpi untuk mengujinya.”

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ar-Ra’du ayat 36-37

24 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Ar-Ra’du (Guruh)
Surah Madaniyyah; surah ke 13: 43 ayat

tulisan arab alquran surat ar ra'du ayat 36-37“Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepada mereka bergembira dengan kitab yang diturunkan kepadamu, dan di antara golongan-golongan (Yahudi dan Nasrani) yang bersekutu, ada yang mengingkari sebahagiannya. Katakanlah: ‘Sesungguhnya aku hanya diperintah untuk beribadah kepada Allah dan tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya. Hanya kepada-Nya aku seru (manusia) dan hanya kepada-Nya aku kembali.’ (QS. 13:36) Dan demikianlah, Kami telah menurunkan al-Qur`an itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah. (QS. 13:37)” (ar-Ra’du: 36-37)

Allah berfirman: wal ladziina aatainaaHumul kitaaba (“Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepada mereka.”) Sedang mereka melakukan sesuai dengan ajarannya [tuntunannya].
Yafrahuuna bimaa unzila ilaika (“bergembira dengan kitab yang diturunkan kepadamu.”) Dari al-Qur’an, karena disebutkan dalam kitab mereka sebagian dari bukti-bukti kebenarannya dan memberikan kabar gembira akan kedatangannya, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Katakanlab: ‘Berimanlah kalian kepadanya atau tidak usah beriman, (sama saja bagi Allah). Sesunggubnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelurnnya, apabila al-Qur’an dibacakan kepada rnereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud. Dan rnereka berkata: ‘Mahasuci Rabb kami, sesungguhnya janji Rabb kami pasti dipenuhi.’” (QS. Al-Israa’: 107-108)

Maksudnya, jika apa yang dijanjikan Allah kepada kita dalam kitab kita, yaitu mengutus Muhammad itu memang benar (haq), betul dan dipenuhi, maka hal itu tidak mustahil dan pasti terjadi. Mahasuci Allah, betapa benar janji-Nya dan hanya bagi-Nyalah segala puji.

“Mereka menyungkur di atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu.” (QS. A1-Israa’: 109)

Dan firman Allah: wa minal ahzaabi may yunkiru ba’dlaHu (“Dan di antara golongan-golongan [Yahudi dan Nasrani] yang bersekutu ada yang mengingkari sebagiannya.”) Maksudnya, di antara golongan-golongan yang mendustakan sebagian dari yang telah diturunkan kepadamu. Mujahid mengatakan, “Bahwa golongan-golongan yang dimaksud adalah, Yahudi dan Nasrani. May yunkira ba’dlaHu (“yang mengingkari sebagiannya.”) Maksudnya adalah, sebagian dari kebenaran yang kamu bawa, sebagaimana dikatakan oleh Qatadah dan `Abdurrahman bin Zaid bin Aslam.

Qul innamaa umirtu an a’budallaaHa walaa usy-riku biHi (“Katakanlah: ‘Sesungguhnya aku hanya diperintah untuk beribadah kepada Allah dan tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya.”) Maksudnya, aku diutus hanya untuk beribadah kepada Allah saja, yang tidak ada sekutu bagi-Nya, seperti halnya para Rasul sebelumku.

ilaiHi ad’uu (“Hanya kepada-Nya aku ajak manusia.”) kepada jalan Allah aku seru manusia. Wa ilaiHi ma-aab (“Dan hanya kepada-Nya aku kembali”) tempat aku pulang dan tempat aku kembali.

Firman Allah: wa kadzaalika anzalnaaHu hukman ‘arabiyyan (“Dan demikianlah Kami telah menurunkan al-Qur’an itu sebagai peraturan [yang benar] dalam bahasa Arab.”) Maksudnya, sebagaimana Kami telah mengutus sebelummu para Rasul dan Kami turunkan kepada mereka kitab-kitab dari langit, Kami juga menurunkan kepadamu al-Qur’an dalam keadaan yang muhkam (sempurna dan jelas) dan berbahasa Arab, Kami berikan kepadamu kemuliaan dan keutamaan (kelebihan) diatas mereka dengan Kitab al-Qur’an yang jelas dan terang serta gamblang.

“Yang tidak datang padanya (al’Qur’an) kebathilan, baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb yang Mahabijaksana lagi Mahaterpuji.” (QS. Fushshilat: 42)

Firman Allah: wa la-init-taba’ta aHwaa-aHum (“Dan seandainya engkau mengikuti hawa nafsu mereka.”) Pendapat-pendapat mereka. Ba’da maa jaa-aka minal ‘ilmi (“Setelah datang pengetahuan kepadamu.”) Dari Allah swt.
Maa laka minallaaHi waliyyiw walaa waaq (“Maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap [siksa] Allah.”) Ini adalah ancaman bagi orang-orang yang berilmu agar tidak mengikuti orang-orang yang sesat, setelah mereka mengikuti sunnah Nabi dan ajaran
Muhammad yang jelas. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam yang paling baik dan utama kepadanya.

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ibrahim ayat 35-36

24 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Ibrahim
Surah Makkiyyah; surah ke 14: 52 ayat

tulisan arab alquran surat ibrahim ayat 35-36“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: ‘Ya Rabbku, jadikanlah negeri ini (Makkah), negeri yang aman dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala. (QS. 14:35) Ya Rabbku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku dan barangsiapa yang mendurhakaiku, maka sesungguhnya Engkau, Mahapengampun lagi Mahapenyayang. (QS. 14:36)” (QS. Ibrahim: 35-36)

Dalam kesempatan ini, Allah menyebutkan (sebagai) bantahan terhadap orang-orang musyrik Arab bahwa sebenarnya tanah suci Makkah sejak pertama kali diciptakan adalah untuk beribadah kepada Allah yang Mahaesa yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan bahwa Ibrahim yang menyebabkan Makkah itu menjadi kota yang ramai dan berpenduduk, telah menyatakan lepas diri dari orang-orang yang menyembah selain Allah dan dia berdo’a memohon untuk keamanan Makkah, ia berkata: rabbij’al Haadzal balada aaminan (“Ya Rabbku, jadikanlah negeri ini [Makkah] negeri yang aman,”) dan Allah pun mengabulkannya.

Seperti difirmankan Allah: “Belumkah mereka melihat bahwa Kami telah menjadikannya tanah suci yang aman.” (QS. Al-`Ankabuut: 67),
dan firman Allah: “Sesungguhnya rumah yang mula pertama didirikan untuk (tempat beribadah)
umat manusia ialah Baitullah yang ada di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan sebagai petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, di antaranya maqam Ibrahim. Barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia.” (QS. Ali-‘Imran: 96-97)

Dalam kisah ini, dia berkata: rabbij’al Haadzal balada aaminan (“Ya Rabbku, jadikanlah negeri ini [Makkah] negeri yang aman,”) dalam ayat ini digunakan kata definitife [dengan kata al-balad] karena IbraHim berdoa setelah membangunnya. Karena itu ia mengatakan: “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kepadaku pada usia tua ini Isma’il dan Ishaq.” (QS. Ibrahim: 39)

Diketahui bahwa Isma’il lebih tua daripada Ishaq dengan selisih tiga belas tahun. Adapun tatkala ia pergi membawa Isma’il dan ibunya ke Makkah, ia masih bayi yang menyusu kepada ibunya, ia pun berdo’a: “Ya Rabbku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman,” seperti yang telah dijelaskan panjang lebar dalam surat al-Baqarah.
Wajnubnii wa baniyya an na’budal ashnaam (“Dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala.”) Seyogianya, setiap orang yang berdo’a hendaklah ia berdo’a untuk dirinya sendiri, kedua orang tua dan anak cucu keturunannya.

Kemudian ia menyebutkan, bahwa cukup banyak manusia yang terperdaya oleh berhala-berhala, tetapi ia (Ibrahim) membebaskan diri dari orang-orang yang menyembahnya dan menyerahkan urusan mereka kepada kehendak Allah, apakah Allah akan menyiksa atau mengampuni mereka.

Seperti perkataan `Isa as.: “Jika Engkau mengadzab mereka, sesungguhnya mereka adalah hamba-hambaMu. Dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS. Al-Maaidah: 118). Tidak ada cara lain kecuali menyerahkan hal itu kepada kehendak Allah Ta’ala, bukan berarti membolehkan hal (penyembahan berhala) itu terjadi.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nahl ayat 35-37

16 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nahl (Lebah)
Surah Makkiyyah; surah ke 16: 128 ayat

tulisan arab alquran surat an nahl ayat 35-37“Dan berkatalah orang-orang musyrik: ‘Jika Allah menghendaki, niscaya kami tidak akan menyembah sesuatu apa pun selain Dia, baik kami maupun bapak-bapak kami, dan tidak pula kami mengharamkan sesuatu pun tanpa (izin)-Nya.’ Demikianlah yang diperbuat orang-orang sebelum mereka; maka tidak ada kewajiban atas para Rasul, selain dari menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (QS. 16:35) Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu,’ maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (para Rasul). (QS. 16:36) Jika kamu sangat mengharapkan agar mereka dapat petunjuk, maka sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya, dan sekali-kali mereka tiada mempunyai penolong. (QS. 16:37)” (an-Nahl: 35-37)

Allah Ta’ala memberi khabar tentang terperdayanya orang-orang musyrik dengan apa yang mereka berada dalam kemusyrikan dan alasan-alasan kemusyrikan itu, mereka pun berdalil dengan takdir, mereka berkata: lau syaa-allaaHu maa ‘abadnaa min duuniHii min syai-in nahnu walaa abaa-unaa wa laa harramnaa min duuniHii min syai-in (“Jika Allah menghendaki niscaya kami tidak akan menyembah sesuatu apa pun selain Dia baik kami maupun bapak-bapak kami dan tidak pula kami mengharamkan sesuatu tanpa [izin]-Nya.”)

Maksudnya bahaa-ir, sawaa-ib, washaa-il dan lain sebagainya yang mereka ada-adakan dan direka-reka oleh diri mereka sendiri yang Allah tidak menurunkan keterangan lain, dan tidak mengajarkannya. Bahaa-ir adalah jama’ dari kalimat bahiirah, yaitu unta betina yang telah beranak lima kali dan anak kelima itu jantan, lalu unta betina itu dibelah telinganya, dilepaskan, tidak boleh ditunggangi lagi dan tidak boleh diambil air susunya. Dan sawaa-ib adalah jamak dan kalimat saa-ibah, yaitu unta betina yang dibiarkan pergi ke mana saja lantaran sesuatu nadzar. Sedangkan washaa-il adalah jama’ dari kalimat washiilah, yaitu seekor domba betina melahirkan anak kembar yang terdiri dari jantan dan betina, maka yang jantan ini disebut washiilah tidak disembelih dan diserahkan kepada berhala.

Adapun ucapan mereka bahwa seandainya Allah Ta’ala benci terhadap apa
yang kami kerjakan, tentunya Allah telah mengingkarinya dengan menurunkan siksa-Nya, dan mengapa Allah menguasakan hal tersebut kepada kami?

Allah Ta’ala berfirman untuk menolak atas tuduhan mereka: faHal ‘alar rusuli illal balaaghul mubiin (“Maka tidak ada kewajiban atas para Rasul, selain dari menyampaikan [amanat Allah] dengan terang,”) maksudnya, permasalahan bukanlah seperti yang kalian duga, sesungguhnya Allah bukan hanya mengingkari perbuatan kalian, akan tetapi Allah benar-benar mengingkari dan melarang perbuatan itu.

Dan Allah mengutus pada tiap-tiap umat, maksudnya pada setiap generasi dan golongan manusia seorang Rasul dan masing-masing Rasul itu mengajak beribadah kepada Allah dan melarang beribadah kepada selain-Nya, maka Allah Ta’ala tidak henti-henti mengutus para Rasul-Nya kepada manusia dengan tujuan yang sama, semenjak terjadi kemusyrikan pada anak Adam di zaman Nabi Nuh as. Maka jadilah beliau Rasul pertama yang Allah mengutusnya untuk penduduk bumi, hingga Allah mengakhiri mereka dengan Muhammad yang dakwahnya tersusun untuk manusia dan jin di Timur dan di Barat, dan mereka semua seperti apa yang Allah Ta’ala firmankan yang artinya:

“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwasanya tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi) melainkan Aku maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” (QS. Al-Anbiyaa’: 25)

Dan Allah Ta’ala berfirman dalam ayat yang mulia ini: wa laqad ba’atsnaa fii kulli ummatir rasuulan an a’budullaaHa wajtanibuth-thaaghuut (“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus seorang Rasul pada tiap-tiap umat [untuk menyerukan] sembahlah Allah [saja] dan jauhilah thaghut itu,”) maka bagaimana mungkin setelah itu Allah membiarkan salah seorang dari orang-orang musyrik untuk berkata: lau syaa allaaHu maa ‘abadnaa min duuniHii min syai-in (“Jika Allah menghendaki, niscaya kami tidak akan menyembah sesuatu apa pun selain Dia.”)

Maka kehendak Allah Ta’ ala yang bersifat syar’iyyah, yang mereka gunakan untuk alasan adalah manfiy (tidak ada), karena Allah telah melarang mereka dari itu semua melalui lisan para Rasul-Nya. Adapun kehendak-Nya yang bersifat kauniyyah yaitu penguasaan semua itu terhadap mereka secara takdir, bukanlah merupakan dalil untuk mereka, karena Allah Ta’ala menciptakan neraka dan penghuninya yang berupa syaitan dan orang-orang kafir, sedangkan Dia tidak ridha kekufuran terhadap hamba-Nya. Dan Allah dalam hal itu memiliki hujjah (dalil) yang sangat mengena, dan hikmah yang sangat pasti. Kemudian sesungguhnya
Allah Ta’ala telah memberi khabar, bahwa Dia benar-benar mengingkari mereka dengan menurunkan siksa di dunia setelah para Rasul itu memberi peringatan.

Maka dari itu Allah berfirman: fa minHum man HadallaaHu wa min Hum man haqqat ‘alaiHidl-dlalaalatu fasiiruu fil ardli fandhuruu kaifa kaana ‘aaqibatul mukadz-dzibiin (“Maka di antara umat itu ada orang-orang yang di beri petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya, maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan [para Rasul],”) maksudnya tanyakanlah olehmu bagaimana kesudahan orang-orang yang menentang para Rasul dan mendustakan kebenaran. Bagaimana: “Allah telah menimpakan kebinasaan atas mereka dan orang-orang kafir akan menerima (akibat-akibat) seperti itu.” (QS. Muhammad: 10)

Maka Allah berfirman yang artinya: “Dan sesungguhnya orang-orang yang sehelum mereka telah mendustakan [para Rasul-nya] maka alangkah hebatnya kemurkaan-Ku.” (QS. Al-Mulk: 18)

Kemudian Allah Ta’ala memberi khabar kepada Rasul-Nya bahwa harapannya agar mereka mendapat petunjuk, tidak ada manfaatnya bagi mereka, jika Allah benar-benar berkehendak untuk menyesatkan mereka. Dan Allah telah berfirman dalam ayat yang mulia ini: in tahrish ‘alaa HudaaHum fa innallaaHa laa yaHdii may yu-dlill (“Jika kamu sangat mengharapkan agar
mereka dapat petunjuk, maka sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang di sesatkan-Nya; sebagaimana firman Allah yang artinya: “Barangsiapa yang Allah sesatkan maka baginya tak ada orang yang [dapat] memberi petunjuk, dan Allah membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan.” (QS. Al-A’raaf: 186)

Dan firman Allah: fa innallaaHa (“Maka sesungguhnya Allah,”) maksudnya, kehendak-Nya dan perintah-Nya, bahwa sesuatu yang Dia kehendaki pasti ada. Dan sesuatu yang Dia tidak kehendaki pasti tidak ada. Maka dari itu Allah berfirman: laa yaHdii may yu-dlill (“Allah tiada memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya,”) maksudnya, orang yang Dia sesatkan, lalu siapakah yang dapat memberi petunjuk setelah Allah? Maksudnya, tak seorang pun.

Wa maa laHum min naashiriin (“Dan sekali-kali mereka tiada mempunyai penolong,”) maksudnya, menyelamatkan mereka dari siksa-Nya dan ikatan-Nya.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Israa’ Ayat 36

13 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Israa’
(Memperjalankan di Malam Hari)
Surah Makkiyyah; surah ke 17: 111 ayat

tulisan arab alquran surat al israa ayat 36“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Israa’: 36)

Muhammad bin al-Hanafiyyah berkata: “Yakni kesaksian palsu.”

Qatadah mengatakan: “Janganlah kamu mengatakan: ‘Aku melihat,’ padahal kamu tidak melihat. Atau ‘aku mendengar,’ padahal kamu tidak mendengar. Atau ‘aku mengetahui,’ padahal kamu tidak tahu, karena sesungguhnya Allah akan meminta pertanggunganjawab kepadamu terhadap semua hal tersebut.”

Dan yang terkandung di dalam apa yang mereka sebutkan itu adalah bahwa Allah Tabaaraka wa Ta ala melarang berbicara dengan didasari dengan tetapi tanpa didasari pengetahuan, yang tidak lain hanyalah khayalan belaka.

Dalam sebuah hadits disebutkan, bahwa Rasulullah t bersabda: “Jauhilah oleh kalian prasangka, karena prasangka itu merupakan sedusta-dusta ucapan.” (Muttafaq ‘alaih)

Sedangkan dalam kitab Sunan Abi Dawud diriwayatkan, bahwasanya Rasulullah bersabda: “Seburuk-buruk kendaraan seseorang adalah apa yang mereka duga.”

Dan firman Allah: kullu ulaa-ika (“Semuanya itu,”) yakni pendengaran, penglihatan, dan hati; kaana ‘anHu mas-uulan (“Akan diminta pertanggungan jawabnya.”) Maksudnya, seorang hamba kelak akan dimintai pertanggungan jawab mengenai hal itu pada hari Kiamat serta apa yang telah dilakukan dengan semua anggota tubuh tersebut.

Bersambung