Tag Archives: 38

Tafsir Ibnu Katsir Surah At-Taubah ayat 38-39

3 Nov

Tafsir Ibnu Katsir Surah At-Taubah ayat 38-39
Tafsir Al-Qur’an Surah At-Taubah (Pengampunan)
Surah Madaniyyah; surah ke 9: 129 ayat

tulisan arab alquran surat at taubah ayat 38-39

Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kalian, “Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah, kalian merasa berat dan ingin tinggal di tempat kalian?” Apakah kalian puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini(dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. Jika kalian tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kalian dengan siksa yang pedih dan ditukarnya (kalian) dengan kaum yang lain, dan kalian tidak akan dapat memberi kemudaratan kepada-Nya sedikit pun. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

Ini adalah permulaan celaan yang ditujukan kepada orang-orang yang tidak ikut dengan Rasulullah Saw. dalam Perang Tabuk. Saat itu buah-buahan sedang meranum dan masak, dan cuaca sangat terik dan panas. Maka Allah Swt. berfirman:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَا لَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ انْفِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ}

Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kalian, “Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah. (At-Taubah: 38)

Artinya, apabila kalian diseru untuk berperang di jalan Allah.

{اثَّاقَلْتُمْ إِلَى الأرْضِ}

kalian merasa berat dan ingin tinggal di tempat kalian? (At-Taubah: 38)

Yakni kalian malas dan cenderung untuk tetap tinggal di tempat dengan penuh kesantaian dan menikmati buah-buahan yang telah masak.

{أَرَضِيتُمْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الآخِرَةِ}

Apakah kalian puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? (At-Taubah: 38)

Maksudnya, mengapa kalian melakukan demikian; kalian puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan akhirat (Pahala akhirat) ?

Kemudian Allah Swt. memerintahkan berzuhud terhadap kehidupan di dunia dan menganjurkan kepada pahala akhirat. Untuk itu, Allah Swt. berfirman:

{فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الآخِرَةِ إِلا قَلِيلٌ}

padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan)di akhirat hanyalah sedikit. (At-Taubah: 38)

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ. حَدَّثَنَا وَكِيع وَيَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ قَالَا حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي خَالِدٍ، عَنْ قَيْسٍ، عَنِ المستَوْرِد أَخِي بَني فِهْر قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا كَمَا يَجْعَلُ إِصْبَعَهُ هَذِهِ فِي اليم، فلينظر بما تَرْجِعُ؟ وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Waki’ dan Yahya ibnu Sa’id; keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Isma’il ibnu Abu Khalid, dari Qais, dari Al-Mustaurid (saudara lelaki Bani Fihr) yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda: Tiada kehidupan di dunia ini dibandingkan dengan kehidupan di akhirat, melainkan sebagaimana seseorang di antara kalian memasukkan jarinya ke dalam laut, maka hendaklah ia melihat apa yng didapati oleh jarinya? Rasulullah Saw. mengucapkan demikian seraya berisyarat dengan jari telunjuknya.

Hadis ini diketengahkan secara munfarid oleh Imam Muslim.

قَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ مُسْلِمِ بْنِ عَبْدِ الْحَمِيدِ الحِمْصي، حَدَّثَنَا الرَّبِيعُ بْنُ رَوْح، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ خَالِدٍ الْوَهْبِيُّ، حَدَّثَنَا زِيَادٌ -يَعْنِي الْجَصَّاصَ -عَنْ أَبِي عُثْمَانَ قَالَ: قُلْتُ: يَا أَبَا هُرَيْرَةَ، سَمِعْتُ مِنْ إِخْوَانِي بِالْبَصْرَةِ أَنَّكَ تَقُولُ: سَمِعْتُ نَبِيَّ اللَّهِ يَقُولُ: “إِنَّ اللَّهَ يَجْزِي بِالْحَسَنَةِ أَلْفَ أَلْفَ حَسَنَةٍ” قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ: بَلْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: “إِنَّ اللَّهَ يجزي بالحسنة ألفي ألف حَسَنَةٍ” ثُمَّ تَلَا هَذِهِ الْآيَةَ: {فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الآخِرَةِ إِلا قَلِيلٌ}

Ibnu Abu Hatim meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Bisyr ibnu Muslim ibnu Abdul Hamid Al-Himsi di Himsa, telah menceri­takan kepada kami Ar-Rabi’ ibnu Rauh, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Khalid Al-Wahbi, telah menceritakan kepada kami Ziyad (yakni Al-Jassas), dari Abu Usman yang mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Abu Hurairah, “Aku telah mendengar dari teman-temanku di Basrah bahwa engkau pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda:’Sesungguhnya Allah membalas perbuatan kebaikan dengan sejuta pahala kebaikan’.” Abu Hurairah menjawab.”Bahkan aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda: ‘Sesungguhnya Allah membalas kebaikan dengan dua juta pahala kebaikan’.” Selanjutnya beliau membacakan firman-Nya: Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. (At-Taubah: 38)

Kehidupan di dunia yang telah lalu dan yang kemudian tidak ada artinya bila dibandingkan dengan kehidupan di akhirat (yakni pahala-Nya).

As-Sauri telah meriwayatkan dari Al-A’masy sehubungan dengan makna firman-Nya: padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. (At-Taubah: 38) Menurutnya, perumpamaannya sama dengan bekal yang dibawa oleh seorang musafir.

Abdul Aziz ibnu Abu Hazim telah meriwayatkan dari ayahnya, bahwa ketika Abdul Aziz ibnu Marwan menjelang kematiannya, ia mengatakan, “Berikanlah kepadaku kain kafan yang akan dipakai untuk mengafani diriku. untuk aku lihat.” Ketika kain kafan itu diletakkan di hadapannya, maka ia memandang ke arah kain itu dan berkata, “Bukankah aku memiliki yang banyak, tiada yang menemaniku dari dunia ini kecuali hanya kain kafan ini?” Kemudian ia memalingkan punggungnya seraya menangis dan berkata, “Celakalah engkau, hai dunia, sebagai rumah. Sesungguhnya banyakmu hanyalah sedikit, sedikitmu hanyalah kecil, dan sesungguhnya kami yang bergelimang denganmu benar-benar dalam keadaan teperdaya.”

*******

Kemudian Allah Swt. mengancam orang yang meninggalkan jihad melalui firman-Nya:

{إِلا تَنْفِرُوا يُعَذِّبْكُمْ عَذَابًا أَلِيمًا}

Jika kalian tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kalian dengan siksa yang pedih. (At-Taubah: 39)

Ibnu Abbas mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah menyuruh suatu kabilah dari orang-orang Arab untuk berangkat berperang, tetapi mereka merasa keberatan untuk berangkat berjihad. Maka Allah menahan hujan dari mereka, itulah azab yang mereka terima.

{وَيَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ}

dan ditukarnya (kalian) dengan kaum yang lain. (At-Taubah: 39)

untuk menolong Nabi-Nya dan menegakkan agama-Nya, seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

{إِنْ تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُونُوا أَمْثَالَكُمْ}

dan jika kalian berpaling, niscaya Dia akan mengganti (kalian) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kalian (ini). (Muhammad: 38)

*******

Adapun firman Allah Swt.:

{وَلا تَضُرُّوهُ شَيْئًا}

dan kalian tidak akan dapat memberi kemudaratan kepada-Nya sedikit pun.(At-Taubah: 39)

Artinya, kalian sama sekali tidak dapat membahayakan Allah barang sedikit pun dengan berpalingnya kalian dari jihad, pembangkangan kalian, dan keberatan kalian dari melakukannya.

{وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ}

Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (At-Taubah: 39)

Yakni Dia Mahakuasa untuk menang atas musuh-musuh-Nya tanpa kalian. Menurut pendapat lain, ayat ini dan firman-Nya:

{انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالا}

Berangkatlah kalian, baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat. (At-Taubah: 41)

{مَا كَانَ لأهْلِ الْمَدِينَةِ وَمَنْ حَوْلَهُمْ مِنَ الأعْرَابِ أَنْ يَتَخَلَّفُوا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ}

Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinahdan orang-orang Arab Badui yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (untuk pergi berperang). (At-Taubah: 120)

bahwa semuanya itu telah di-mansukh oleh firman Allah Swt. yang mengatakan:

{وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ}

Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang. (At-Taubah: 122)

Pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Ikrimah, Al-Hasan, dan Zaid ibnu Aslam.

Ibnu Jarir menyanggahnya dan mengatakan bahwa sesungguhnya hal ini hanyalah ditujukan kepada orang-orang yang diperintahkan oleh Rasulullah Saw. untuk berangkat jihad, maka sudah merupakan suatu keharusan bagi mereka untuk memperkenankan seruannya. Jikalau mereka tidak menuruti seruannya, niscaya mereka akan mendapat siksaan. Pendapat yang diketengahkan oleh Ibnu Jarir ini mempunyai alasan yang tepat.

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 38-39

12 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 38-39“Allah berfirman: ‘Masuklah kamu sekalian ke dalam Neraka bersama umat-umat jin dan manusia yang telah terdahulu sebelum kamu. Setiap suatu umat masuk (ke dalam Neraka), dia mengutuk kawannya (yang menyesatkannya); sehingga apabila mereka masuk semuanya, berkatalah orang-orang yang masuk kemudian di antara mereka kepada orang-orang yang masuk terdahulu: ‘Ya Rabb kami, mereka inilah yang telah menyesatkan kami, sebab itu datangkanlah kepada mereka siksaan yang berlipat-ganda dari Neraka.’ Allah berfirman: ‘Masing-masing mendapat (siksaan), yang berlipatganda akan tetapi kamu tidak mengetahui.’ (QS. 7:38) Dan berkata orang-orang yang masuk terdahulu di antara mereka kepada orang-orang yang masuk kemudian: ‘Kamu tidak mempunyai kelebihan sedikit pun atas kami, maka rasakanlah siksaan karena perbuatan yang telah kamu lakukan.’ (QS. 7:39)” (al-A’raaf: 38-39)

Allah berfirman, memberitahukan apa yang Allah katakan kepada orang-orang musyrik, yang telah mengada-ada terhadap Allah Ta’ala, dan mendustakan ayat-ayat-Nya: udkhuluu fii umamin (“Masuklah kamu sekalian ke dalam Neraka bersama umat-umat”) Yaitu umat-umat yang seperti kalian dan juga bersifat seperti kalian.

Qad khalat min qablikum (“Yang telah terdahulu sebelummu.”) Yaitu dari umat-umat terdahulu yang kafir. Minal jinni wal insi fin naari (“Dari kalangan jin dan manusia ke dalam Neraka.”) Kalimat ini bisa berarti sebagai ganti dari firman-Nya: fii umamin (“Ke dalam umat-umat”) Maksudnya yaitu bersama umat-umat.

Firman-Nya: kullamaa dakhalat ummatul la’anat ukhtaHaa (“Setiap umat masuk [ke dalam neraka] ia mengutuk kawannya [yang menyesatkan]”) seperti yang dikatakan khalilullah, Ibrahim as.: “Kemudian pada hari kiamat kelak, sebagian kamu mengingkari sebagian yang lain.” (Al-‘Ankabuut: 25)

Dan firman-Nya lebih lanjut: hattaa idzad daarakuu fiiHaa jamii’an (“Sehingga apabila mereka masuk semuanya”) maksudnya mereka sudah berkumpul semuanya di dalam Neraka. Qaalat ukhraaHum li uulaaHum (“Orang-orang yang masuk kemudian di antara mereka berkata kepada orang-orang yang telah masuk ter-dahulu.”) Maksudnya, orang-orang yang paling akhir masuk ke dalam Neraka, yaitu para pengikut orang-orang yang telah masuk pertama kali. Mereka inilah yang menjadi panutan, karena mereka lebih jahat daripada para pengikut mereka, sehingga mereka memasuki Neraka sebelum mereka. Lalu orang-orang yang jadi pengikut mengadukan mereka ini kepada Allah Ta’ala pada hari Kiamat kelak, karena mereka itulah yang telah menyesatkan mereka dari jalan yang lurus.

Mereka berkata: rabbanaa Haa-ulaa-i adlalluunaa fa aatiHim ‘adzaaban dli’fam minan naari (“Ya Rabb kami, mereka inilah yang telah menyesatkan kami, sebab itu datangkanlah kepada mereka siksaan yang berlipatganda dari Neraka.”) Maksudnya, lipatgandakanlah hukuman kepada mereka.

Dan firman-Nya: qaala likulli dli’fun (“Allah berfirman: ‘Masing-masing mendapat [siksaan] yang berlipatganda.’”) Maksudnya, Kami telah melakukan hal itu dan Kami akan memberikan balasan sesuai dengan amal perbuatannya.

Kemudian: wa qaalat uulaaHum li ukhraaHum (“Orang-orang yang telah masuk terdahulu di antara mereka pun berkata kepada orang-orang yang masuk kemudian.”) Maksudnya mereka yang menjadi panutan, berkata kepada para pengikutnya. Famaa kaana lakum ‘alainaa min fadl-lin (“Kamu tidak mempunyai kelebihan sedikit pun atas kami.”) As-Suddi mengatakan: “Artinya kalian telah tersesat sebagaimana yang kami alami.”

Fadzuuqul ‘adzaaba bimaa kuntum taksibuun (“Maka rasakanlah siksaan karena perbuatan yang telah kamu kerjakan.”) Yang demikian itu sama seperti firman Allah yang artinya: “’Ketika kamu menyuruh kami supaya kafir kepada Allah dan menjadikan sekutu-sekutu bagi-Nya.’ Kedua belah pihak menyatakan penyesalan ktika mereka menyaksikan adzab. Dan Kami pasang belenggu di leher orang-orang yang kafir. Mereka tidak dibalas melainkan dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Saba’: 33)

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yusuf ayat 37-38

27 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Yusuf
Surah Makkiyyah; surah ke 12: 111 ayat

tulisan arab alquran surat yusuf ayat 37-38“Yusuf berkata: ‘Tidak disampaikan kepada kamu berdua makanan yang akan diberikan kepadamu melainkan aku telah dapat menerangakan jenis makanan itu, sebelum makanan itu sampai kepadamu. Yang demikian itu adalah sebagian dari apa yang diajarkan kepadaku oleh Rabbku. Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, sedang mereka ingkar kepada had kemudian. (QS. 12:37) Dan aku mengikut agama bapak-bapakku yaitu Ibrahim, Ishaq, Ya’qub. Tiadalah patut bagi kami (para Nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah. Yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya); tetapi kebanyakan manusia itu tidak bersyukur.’ (QS. 12:38)” (Yusuf: 37-38)

Yusuf as. memberitahukan kepada mereka berdua bahwa apapun mimpi mereka, dia dapat mengetahui tafsirannya dan memberitahukan ta’birnya sebelum hal itu terjadi. Oleh karena itu, ia mengatakan: laa ya’tiikumaa tha’aamun turzaqaaniHii illaa nabba’tukumaa bita’wiiliHii (“Tidak disampaikan kepada kalian berdua makanan yang akan diberikan kepada kalian melainkan aku telah dapat menerangkan jenis makanan itu sebelum makanan itu sampai kepadamu.”)

Mujahid mengatakan: laa ya’tiikumaa tha’aamun turzaqaaniHii (“Tidak disampaikan kepada kalian berdua makanan yang akan diberikan kepada kalian.”) pada hari ini; illaa nabba’tukumaa bita’wiiliHii (“Melainkan aku dapat menerangkan jenis makanan itu sebelum makanan itu sampai kepadamu”) kemudian Yusuf berkata: “Hal ini semata-mata karena pemberitahuan Allah kepadaku, karena aku menjauhi agama orang-orang yang kafir kepada Allah dan kepada hari akhir; mereka tdak mengharapkan pahala atau hukuman di akhirat.”

Wattaba’tu millata aabaa-ii ibraaHiima wa ishaaqa wa ya’quuba (“Dan aku mengikuti agama bapak-bapakku, yaitu Ibrahim; Ishaq dan Ya’qub.”) Maksudnya, aku menjauhi jalan kekafiran dan kemusyrikan serta memilih untuk mengikuti jalan para Rasul tersebut. Semoga shalawat dan salam dilimpahkan atas mereka semua.

Demikianlah keadaan orang yang mengikuti jalan petunjuk dan jalan para Rasul serta keadaan orang yang berpaling dari jalan orang-orang yang sesat, Allah pasti memberikan petunjuk kepada hatinya dan mengajari yang tidak diketahuinya, lalu menjadikannya pemimpin yang diikuti dalam berbuat kebaikan dan berdakwah ke jalan yang benar.

Maa kaana lanaa an nusyrika billaaHi min syai-in dzaalika min fadl-lillaaHi ‘alainaa wa ‘alan naasi (“Tidaklah patut bagi kami [para Nabi] mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah, yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia seluruhnya.”)

Tauhid seperti itu, yaitu: mengakui bahwa tidak ada ilah yang haq selain Allah, satu-satunya, tanpa sekutu bagi-Nya adalah: min fadl-lillaaHi (“Dari karunia Allah”) kepada kita, maksudnya diwahyukan dan diperintahkan kepada kami; wa ‘alan naasi (“dan kepada semua manusia”) dengan menjadikan kami sebagai juru dakwah yang mengajak kepada tauhid itu; wa laakinna aktsaran naasi laa yasykuruun (“Tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur”) maksudnya mereka tidak mengetahui nikmat Allah yang telah diberikan kepada mereka dengan diutusnya para Rasul kepada mereka.

“Bahkan mereka menggantikan nikmat Allah itu dengan kekafiran dan menempatkan kaum mereka di kampung kehancuran.” (QS. Ibrahim: 28)

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu `Abbas, bahwa ia menyebut kakek sebagai bapak; dan ia (Ibnu `Abbas) mengatakan: “Demi Allah, siapa yang menghendaki, akan kulaknat di dekat Hajar Aswad (Ka’bah), Allah tidak menyebutkan kakek atau nenek (di dalam al-Qur’an).” Allah berfirman, yakni memberitakan tentang Yusuf as: Wattaba’tu millata aabaa-ii ibraaHiima wa ishaaqa wa ya’quuba (“Dan aku mengikuti agama bapak-bapakku, yaitu Ibrahim; Ishaq dan Ya’qub.”)

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ar-Ra’du ayat 38-39

24 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Ar-Ra’du (Guruh)
Surah Madaniyyah; surah ke 13: 43 ayat

tulisan arab alquran surat ar ra'du ayat 38-39“Dan esungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan. Dan tidak ada hak bagi seorang Rasul pun mendatangkan suatu ayat (mukjizat) melainkan dengan izin Allah. Bagi tiap-tiap masa ada kitab (yang tertentu) (QS. 13:38) Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nyalah terdapat Ummul-Kitab (Lauh mahfudh). (QS. 13:39)” (ar-Ra’du: 38-39)

Allah berfirman, sebagaimana Kami mengutusmu, hai Muhammad, sebagai Rasul yang berupa manusia, demikian pula Kami mengutus Para Rasul sebelummu berupa manusia juga, mereka makan makanan dan mereka pun bejalan di pasar. Mereka juga berkumpul dengan isteri mereka dan mempunyai anak, dan Kami jadikan untuk mereka isteri-isteri dan keturunan. Allah Ta’ala telah berfirman kepada Rasul termulia dan terakhir yang artinya: “Katakanlah [wahai Muhammad, ‘Sesungguhnya aku ini manusia seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku.’” (Kahfi: 110)

Disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah bersabda: “Adapun aku, aku pun puasa dan berbuka, aku juga berdiri shalat malam dan tidur, makan daging dan menikah dengan perempuan. Barangsiapa yang membenci sunnahku, maka dia bukan dari golonganku.”

Firman Allah: wamaa kaana lirasuulin ay ya’tiya bi-aayaatin illaa bi-idznillaaH (“Dan tidak ada hak bagi seorang Rasul mendatangkari suatu ayat [mukjizat] melainkan dengan Allah.”) Maksudnya adalah, bahwa Rasul itu tidak dapat mendatangkan hal-hal yang luar biasa (mukjizat) kepada kaumnya, kecuali jika Allah mengizinkan baginya. Hal itu bukan kembali kepada Rasul itu, tetapi kepada Allah yang dapat berbuat apa saja yang dikendaki-Nya, dan menetapkan apa yang diinginkan-Nya.

Likulli ajalin kitaab (“Bagi tiap-tiap masa ada kitab [yang ditentukan].”) maksudnya bagi tiap waktu yang dibuat itu mempunyai kitab tertentu, dan segala sesuatu itu sudah ditentukan kadarnya di sisi Allah.

“Tidak tahukah kamu bahwa Allah itu mengetahui apa yang di langit dan bumi. Sesungguhnya hal itu terdapat dalam sebuah kitab. Sesungguhnya hal itu bagi Allah hanyalah sesuatu yang mudah.” (QS. Al-Hajj: 70)

Adh-Dhahhak bin Muzahim berkata tentang firman Allah: Likulli ajalin kitaab (“Bagi tiap-tiap masa ada kitab [yang ditentukan].”) Maksudnya, masing-masing kitab itu mempunyai waktu tertentu. Setiap kitab yang diturunkan Allah dari langit itu mempunyai waktu dan batas tertentu di sisi Allah. Oleh karena itu: yamhullaaHu may yasyaa-u (“Allah menghapuskan apa yang Ia kehendaki”) Darinya. Wa yutsbitu (“Dan menetapkan [apa yang Ia kehendaki].”) Sampai semuanya dihapus dengan al-Qur’an yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya, Muhammad Saw.

Para mufassir berbeda pendapat tentang firman Allah: yamhullaaHu may yasyaa-u Wa yutsbitu (“Allah menghapuskan apa yang Ia kehendaki, dan menetapkan [apa yang Ia kehendaki].”)

Ats-Tsauri, Waqi’, dan Hasyim meriwayatkan dari Ibnu Abi Laila, al-Minhal bin `Amr, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu `Abbas: “Allah mengatur urusan yang berlaku dalam tahun tersebut, maka Ia menghapuskan apa yang kehendaki, kecuali yang berkaitan dengan celaka dan bahagia, hidup dan Maka dari pendapat-pendapat tersebut bahwa semua ketentuan (takdir) ada yang dihapus oleh Allah dan ada yang ditetapkan oleh-Nya sesuai dengan kehendak-Nya.

Pendapat ini bisa didukung dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Tsauban berkata, Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya seseorang itu terhalang rizkinya disebabkan dosa yang dilakukannya, dan tidak ada yang dapat menolak qadar selain do’a, dan tidak ada yang dapat menambah umur selain kebajikan.”

Diriwayatkan oleh an-Nasa’i dan Ibnu Majah dan dinyatakan dalam hadits yang shahih, bahwa silaturrahim (menghubungkan persaudaraan) itu menambah umur.

Sedangkan al-‘Aufi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas mengenai firman Allah: yamhullaaHu may yasyaa-u Wa yutsbitu wa ‘indaHuu ummul kitaab (“Allah menghapuskan apa yang Ia kehendaki, dan menetapkan [apa yang Ia kehendaki] dan di sisinyalah terdapat Ummul Kitab”) ia mengatakan: “Yaitu orang yang sepanjang hidupnya taat kepada Allah, kemudian kembali berbuat maksiat (durhaka) kepada Allah, dan mati dalam keadaan sesat, itulah yang dihapuskan Allah.

Sedangkan yang ditetapkan adalah orang yang selalu berbuat maksiat (durhaka) kepada Allah tetapi baginya telah dicatat/ditakdirkan baik sehingga ketika hendak meninggal, dia dalam keadaan taat kepada Allah, itulah yang ditetapkan Allah.”

Diriwayatkan dari Sa’id bin jubair mengatakan, bahwa artinya sama dengan ayat yang artinya: “Allah mengampuni siapa yang Ia kehendaki dan menyiksa siapa yang Ia kehendaki. Dan Allah itu Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 284)

‘Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang firman AllaH: yamhullaaHu may yasyaa-u Wa yutsbitu (“Allah menghapuskan apa yang Ia kehendaki, dan menetapkan [apa yang Ia kehendaki].”) ia mengatakan: Allah mengganti apa yang dikehendaki-Nya dengan menghapusnya dan menetapkan apa yang dikehendaki-Nya dengan tidak merubahnya. Wa ‘indaHuu ummul kitaab (“dan pada sisi-Nya lah terdapat umul kitab”) hal itu semua terdapat dalam Ummul Kitab di sisi-Nya yang menghapus. Dan apa yang dirubah [dihapus] dan ditetapkan semuanya terdapat dalam suatu kitab.

Tentang firman Allah: yamhullaaHu may yasyaa-u Wa yutsbitu (“Allah menghapuskan apa yang Ia kehendaki, dan menetapkan [apa yang Ia kehendaki].”) Qatadah mengatakan bahwa artinya sama dengan ayat: “Ayat apapun yang Kami nasakh [nasakh] atau Kami jadikan [manusia] lupa kepadanya…” (al-Baqarah: 106)

Sedangkan Hasan al-Bashri berkata: “Siapa yang telah tiba ajalnya, pergilah ia dan tetaplah siaap yang masih hidup untuk berjalan menuju ajalnya.” Pendapat ini dipilih oleh Abu Ja’far bin Jarir.

Sedangkan firman Allah: wa ‘indaHuu ummul kitaab (“Dan di sisi-Nya lah terdapat ummul Kitaab”) maksudnya adalah yang halal dan yang haram. Sedangkan Qatadah berkata: “Maksudnya adalah induk kitab dan asalnya.”

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ibrahim ayat 38-41

24 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Ibrahim
Surah Makkiyyah; surah ke 14: 52 ayat

tulisan arab alquran surat ibrahim ayat 38-41“Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan, dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit. (QS. 14:38) Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Isma’il dan Ishaq. Sesungguhnya Rabbku benar-benar Mahamendengar (memperkenankan) do’a. (QS. 14:39) Ya Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Rabb kami, perkenankan do’aku. (QS. 14:40) Ya Rabb kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari Kiamat).” (QS. 14:41)” (QS. Ibrahim: 38-41)

Ibnu Jarir mengatakan, firman Allah ini memberitakan tentang Ibrahim al-Khalil, bahwa ia berkata: rabbanaa innaka ta’lamu maa tukhfii wa maa tu’lin (“Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan.”) Maksudnya, Engkau mengetahui maksud dan tujuanku dalam do’aku, dan apa yang kuinginkan dengan do’aku untuk penduduk negeri ini, yaitu semata-mata hanya mengharapkan keridhaan-Mu dan keikhlasan untuk-Mu, karena Engkau mengetahui segala sesuatu baik lahir maupun bathinnya, tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Mu, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit.

Kemudian Ibrahim bersyukur memuji Allah atas karunia-Nya berupa anak-anak yang diberikan kepadanya pada usianya yang sudah lanjut itu, dengan berkata: alhamdu lillaaHil ladzii waHabalii ‘alal kibari ismaa’iila wa ishaaqa inna rabbii lasamii’ud du’aa’ (“Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di ban’ tua [ku] Isma’il dan Ishaq. Sesungguhnya Rabbku benar-benar Mahamendengar [memperkenankan] doa.”) Maksudnya, Allah mengabulkan permintaan orang yang berdo’a kepada-Nya dan Dia telah mengabulkan apa yang kuharapkan, yaitu mendapatkan anak.

Selanjutnya ia berkata: rabbij’alnii muqiimash shalaati (“Ya Rabbku, jadikanlah aku orang yang tetap mendirikani shalat.”) Maksudnya, selalu menjaganya dan melaksanakan semua ketentuan (syarat/rukun)nya. Wa min dzurriyyatii (“Dan anak cucuku,”) jadikanlah mereka orang-orang yang tetap mendirikan shalat juga.
Rabbanaa wa taqabbal du’aa’ (“Ya Rabb kami perkenankanlah do aku,”) yaitu semua yang kumohon-kan kepada-Mu.

Rabbanaghfirlii waliwaalidayya wa lil mu’miniina (“Ya Rabb kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu-bapakku dan orang-orang mukmin,”) semuanya; yauma yaquumul hisaab (“Pada hari terjadinya hisab [hari Kiamat].”) Maksudnya, pada hari Engkau mengadakan perhitungan terhadap hamba-hamba-Mu, lalu memberikan balasan yang sesuai dengan amal perbuatan mereka, yang baik mendapat balasan kebaikan dan yang buruk mendapat balasan yang buruk pula.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nahl ayat 38-40

16 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nahl (Lebah)
Surah Makkiyyah; surah ke 16: 128 ayat

tulisan arab alquran surat an nahl ayat 38-40“Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpahnya yang sungguh-sungguh: ‘Allah tidak akan membangkitkan orang yang mati.’ (Tidak demikian), bahkan (pasti Allah akan membangkitkannya), sebagai suatu janji yang benar dari Allah, akan tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui, (QS. 16:38) agar Allah menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu, dan agar orang-orang kafir itu mengetahui bahwasanya mereka adalah orang-orang yang berdusta. (QS. 16:39) Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: ‘Kun (jadilah),” maka jadilah ia. (QS. 16:40)” (an-Nahl: 38-40)

Allah Ta’ala berfirman seraya memberi khabar tentang orang-orang musyrik, bahwa sesungguhnya mereka telah bersumpah dengan nama Allah dengan sebenar-benarnya sumpah. Maksudnya bersungguh-sungguh dalam sumpah, bahwa sesungguhnya Allah tidak membangkitkan orang-orang yang telah mati, maksudnya mereka menjauhkan keyakinan itu dan mendustakan para Rasul, ketika para Rasul itu memberi khabar kepada mereka dengan hal itu dan mereka bersumpah untuk melanggarnya, maka Allah berfirman seraya menyangkal dan menolak mereka: balaa (“Tidak demikian”) maksudnya bahkan akan ada; wa’dan ‘alaiHi haqqan (“sebagai suatu janji [pasti Allah akan membangkitkannya] yang benar dari Allah,”) maksudnya pasti ada.

Wa laakinna aktsaran naasi laa ya’lamuun (“Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”) maksudnya karena kebodohan mereka, mereka menetang para Rasul, danmereka berada dalam kekafiran. Kemudian Allah Ta’ala menyebutkan hikmah-Nya pada hari dikembalikannya semua makhluk, dan hari bangkitnya jasad-jasad, yaitu hari Kiamat. Maka Allah menjelaskan kepada mereka: liyubayyina laHum (“Agar Allah menjelaskan kepada mereka.”) maksudnya kepada manusia; alladzii yakhtalifuuna fiiHi (“Apa yang mereka perselisihkan itu,”) maksudnya dari setiap sesuatu.

“Supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat, dan terhadap apa yang telah mereka kerjakan, dan memberi balasan kepada orang orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga).” (QS. An-Najm: 31)

Wa liya’lamal ladziina kafaruu annaHum kaanuu kaadzibiin (“Dan agar orang-orang kafir itu mengetahui bahwasanya mereka adalah orang-orang yang berdusta,”) maksudnya dalam sumpah mereka bahwasanya Allah tidak membangkitkan orang yang telah mati. Maka dari itu mereka akan digiring pada hari Kiamat ke neraka Jahannam, Malaikat Zabaniyah berkata kepada mereka:
“(Dikatakan kepada mereka): ‘Inilah neraka yang dahulu kamu selalu mendustakannya.’ Maka apakah ini sihir ataukah kamu tidak melihat? Masuklah kamu ke dalamnya (rasakanlah panas apinya); maka baik kamu bersabar atau tidak sama saja bagimu; kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Ath-Thuur: 14-16)

Kemudian Allah Ta’ala memberi khabar tentang kekuasaan-Nya atas apa yang Dia kehendaki. Dan sesungguhnya tidak ada sesuatu apapun yang mampu melemahkan-Nya baik di bumi maupun di iangit, akan tetapi perintah-Nya, jika Dia menghendaki sesuatu, Dia berfirman: kun fayakuun (“Jadilah! Maka jadilah sesuatu itu,”) dan kebangkitan manusia kelak apabila Allah menghendaki keadaan seperti itu, maka Dia memerintahkan dalam satu kali perintah, terjadilah sesuatu yang Dia kehendaki.

Innamaa qaulunaa lisyai-in idzaa aradnaaHu an naquula laHuu kun fayakuun (“Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: ‘Kun (jadilah)!’ Maka jadilah ia.”) Maksudnya, Allah Ta’ala tidak membutuhkan pengukuhan terhadap apa yang Dia perintahkan, karena sesungguhnya Allah Ta’ala tidak ada yang mampu melarang dan tidak ada yang mampu menentang, karena Dia yang Mahaesa, Mahaperkasa dan Mahaagung, yang kerajaan-Nya, kekuasaan-Nya, dan wibawa-Nya mengalahkan segala sesuatu. Maka tidak ada Ilah selain Dia, dan tidak ada Rabb selain-Nya.

Dan berkata Ibnu Abi Hatim bahwa al-Hasan Ibnu Muhammad lbnu ash-Shabah menyebutkan, Hajjaj mengisahkan kepadaku dari Ibnu Juraij, ia berkata, ‘Atha’ memberi khabar kepadaku bahwa sesungguhnya dia mendengar Abu Hurairah ra. berkata, “Allah Ta’ala berfirman: ‘Anak Adam mencaci-maki Aku dan itu tidak layak baginya, dan anak Adam mendustai Aku dan itu tidak layak baginya. Adapun dustanya terhadap-Ku, maka Allah berfirman: ‘Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpahnya yang sungguh-sungguh: Allah tidak akan membangkitkan orang yang mati.’”

Abu Hurairah berkata: “Aku (Allah) berfirman: ‘(Tidak demikian), bahkan (pasti Allah akan membangkitkannya), sebagai suatu janji yang benar dari Allah, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Adapun cacimakinya terhadap-Ku, maka Allah berfirman: ‘Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga,’ (QS. Al-Maa-idah: 73). Dan aku katakan: ‘Katakanlah: Dialah Allah yang Mahaesa, Allah adalah Rabb yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.’ (QS. Al-Ikhlas: 1-4)

Demikianlah Ibnu Abi Hatim meriwayatkan hadits secara mauquf, dan hadits itu diriwayatkan dalam ash-Shahihain secara marfu’ dengan lafazh yang berbeda.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Israa’ Ayat 37-38

13 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Israa’
(Memperjalankan di Malam Hari)
Surah Makkiyyah; surah ke 17: 111 ayat

tulisan arab alquran surat al israa ayat 37-38“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung. (QS. 17:37) Semua kejahatannya itu amat dibenci di sisi Rabbmu. (QS. 17:38)”  (al-Israa’: 37-38)

Allah berfirman seraya melarang hamba-hamba-Nya berjalan dengan penuh kesombongan dan keangkuhan: walaa tamsyi fil ardli marahan (“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong.”) Yakni, dengan penuh keangkuhan seperti jalannya orang-orang sombong. Innaka lan takhriqal ardla (“Karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi.”) Maksudnya, kamu tidak akan bisa memotong bumi dengan jalanmu itu.

Firman-Nya: wa lan tablughal jibaala thuulan (“Dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.”) Yakni dengan lenggak-lenggok, keangkuhan, dan kebanggaanmu pada diri sendiri. Bahkan, tidak jarang pelaku hal itu akan memperoleh kebalikan dari apa yang diharapkan.

Sebagaimana yang ditegaskan dalam hadits shahih: “Ketika pada masa sebelum kalian, ada seseorang berjalan dengan mengenakan dua pakaian pada tubuhnya. la menyombongkan diri dengan kedua pakaian itu, tiba-tiba ia ditelan oleh bumi, sedang ia terus menjerit-jerit sampai hari Kiamat kelak.”

Selain itu, Allah juga memberitahukan tentang Qarun, di mana ia keluar menemui kaumnya dengan menggunakan perhiasannya, dan bahwasanya Allah Tabaaraka wa Ta ala menenggelamkannya dan juga tempat tinggalnya ke dalam bumi.

Dan firman-Nya: kullu dzaalika kaana sayyi-uHu ‘inda rabbika makruuHan (“Semua itu kejahatannya sangat dibenci di sisi Rabbmu.”) Adapun orang-orang yang membaca “sayyi-atun,” yakni perbuatan keji, artinya bahwa di sisi Allah semuanya itu telah dilarang. Yaitu sejak dari firman-Nya, “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan,” sampai ayat terakhir di atas. Semuanya itu merupakan perbuatan keji yang akan diberikan hukuman atasnya dan dibenci di sisi Allah Ta’ala. Allah sama sekali tidak menyukai dan tidak meridhainya.

Sedangkan orang yang membaca dengan bacaan sayyi-uhu maka artinya bahwa di sisi-Nya, semuanya itu adalah yang telah kami sebutkan dari sejak firman-Nya: “Dan Rabbmu telah memerintabkan supaya kamu jangan beribadah kepada selain-Nya dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya,” sampai pada ayat terakhir di atas. Dengan demikian, kata sayyi-uhu berarti hal-hal yang buruknya benar-benar dibenci di sisi Allah. Demikianlah yang diarahkan oleh Ibnu Jarir.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 38-41

2 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan)
Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat

tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 38-41“Di sanalah Zakariya berdo’a kepada Rabb-nya seraya berkata: ‘Ya Rabbku, berilah aku dari sisi-Mu seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Mahamendengar do’a “. (QS. 3:38) Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya): ‘Sesungguhnya Allah menggembirakanmu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang shalih.’ (QS. 3:39) Zakariya berkata: ‘Ya Rabbku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedang aku telah sangat tua dan isteriku pun seorang yang mandul.’ Allah berfirman: ‘Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya’. (QS. 3:40) Berkata Zakariya: ‘Berilah aku suatu tanda (bahwa isteriku telah mengandung).’ Allah berfirman: ‘Tandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Dan sebutlah (nama) Rabbmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari.’” (QS. 3:41)

Ketika Zakariya melihat bahwa Allah telah memberikan rizki kepada Maryam berupa buah-buahan musim dingin pada musim kemarau dan buah-buahan musim kemarau pada musim dingin, maka pada saat itu ia berkeinginan keras untuk mendapatkan seorang anak meskipun sudah tua, tulang-tulangnya sudah mulai rapuh dan rambutnya pun telah memutih, sedang isterinya sendiri juga sudah tua dan bahkan mandul. Namun demikian, ia tetap memohon kepada Rabbnya dengan suara yang lembut seraya berdo’a: Rabbi Hablii mil ladunka (“Ya Rabb-ku, berikanlah kepadaku dari sisi Mu.”) Yakni dari-Mu, dzurriyyatan thayyiban (“Seorang anak yang baik.”) Maksudnya adalah anak yang shalih. Innaka samii’ud du’aa’ (“Sesungguhnya Engkau Mahamendengar doa.”)

Dia berfirman, fanaadatHul malaa-ikatu wa Huwa qaa-imuy yushallii fil mihraabi (“Kemudian Malaikat [Jibril] memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab.”) Maksudnya, Malaikat menyerukan kepadanya dengan seruan yang didengar olehnya, sedang pada saat itu ia dalam keadaan berdiri mengerjakan shalat di mihrab, tempat di mana ia beribadah, menyendiri, bermunajat, dan mengerjakan shalat. Lalu Allah memberitahukan kabar gembira yang disampaikan oleh Malaikat, “Sesungguhnya Allah menggembirakanmu dengan kelahiran (seorang putramu) Yahya.” Yaitu dengan seorang anak yang lahir dari tulang sulbimu yang diberi nama Yahya.

Qatadah dan yang lainnya berkata, “Diberi nama Yahya, karena Allah menghidupkannya dengan keimanan.”

Firman-Nya, mushaddiqam bikalimaatim minallaaHi (“Yang membenarkan kalimat [yang datang] dari Allah.”) Mengenai firman-Nya di atas ini, al-‘Aufi dan selainnya meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, dan juga al-Hasan, Qatadah, `Ikrimah, Mujahid, Abu asy-Sya’tsa’, as-Suddi, ar-Rabi’ bin Anas, adh-Dhahhak, dan yang lainnya berkata tentang ayat ini, bahwa yang dimaksudkan dengan, Kalimat yang datang dari Allah’ adalah `Isa bin Maryam.

Ar-Rabi’ bin Anas berkata: “Dia (Yahya) adalah orang yang pertama kali percaya akan datangnya `Isa bin Maryam. Dan Qatadah berkata, “(Dia Yahya) diatas Sunnah dan manhajnya.”

Sedangkan Ibnu Juraij meriwayatkan, mengenai firman-Nya: mushaddiqam bikalimaatim minallaaHi (“Yang membenarkan kalimat [yang datang] dari Allah.”) Ibnu `Abbas berkata: “Yahya dan `Isa adalah saudara sepupu. Dan Yahya adalah orang yang pertama kali membenarkan `Isa. Dan kalimat Allah yang dimaksud adalah `Isa itu sendiri. Yahya itu lebih tua daripada `Isa. Hal yang sama juga dikatakan oleh as-Suddi.

Firman-Nya: wa sayyidan (“Menjadi panutan.”) Abul `Aliyah, ar-Rabi’ bin Anas, Qatadah, Sa’id bin Jubair, dan selain mereka berkata: “Yaitu, yang penyantun.” Sedangkan Qatadah berkata: “Ia itu sebagai panutan dalam (hal) ilmu dan ibadah.”

Ibnu ‘Abbas, ats-Tsauri, dan adh-Dhahhak berkata: “Sayyidan berarti yang santun dan penuh ketakwaan.” Sa’id bin al-Musayyab berkata: “Sayyidan berarti orang yang sangat faham dan berilmu.” Dan ‘Athiyyah berkata: “Ia adalah panutan dalam (hal) akhlak dan agamanya.”

‘Ikrimah berkata: “la adalah orang yang tidak pemah dikendalikan oleh amarah.” Sedangkan Ibnu Zaid berkata: “Maksudnya adalah orang yang mulia.” Dan Mujahid serta ulama yang lain berkata: “Artinya adalah, yang mulia di sisi Allah.”

Firman-Nya: wa hashuuran (“Yang menahan diri.”) Dalam kitabnya, asy-Syifa’, al-Qadhi ‘Iyadh berkata: “Ketahuilah bahwa pujian Allah pada Yahya bahwa ia sebagai “hashuuran” bukanlah seperti yang dikemukakan oleh sebagian orang, di antara mereka menyebutkan bahwa Yahya itu tidak memiliki kemaluan. Pendapat ini secara tegas ditentang oleh para ahli tafsir yang terkemuka dan ulama yang kritis. Dalam hal ini mereka berkata: “Penafsiran seperti itu merupakan suatu kekurangan dan aib serta tidak layak bagi para Nabi. Dan makna yang benar adalah, bahwa Yahya itu ma’shum (terpelihara) dari perbuatan dosa, seakan-akan Yahya itu dibentengi dari dosa.”

Ada juga yang berpendapat, bahwa Yahya itu menahan dirinya dari nafsu syahwat. Dari sini, tampak bahwa ketidakmampuan untuk menikah itu merupakan suatu kekurangan. Dan yang merupakan keutamaan adalah adanya kemampuan dalam menikah, namun Yahya menolaknya, baik karena melalui mujahadah (usaha keras) seperti yang dilakukan `Isa as. maupun karena diberikan kemampuan oleh Allah untuk melakukan hal tersebut, seperti yang dialami oleh Yahya sendiri.

Menikah itu -bagi orang yang mampu dan sanggup menunaikan semua kewajiban yang timbul akibat menikah dengan tidak melalaikan kewajiban kepada Rabb-nya- adalah merupakan derajat yang tinggi, yaitu derajat yang diperoleh Nabi Muhammad, yang dengan isteri-isteri yang dimilikinya, beliau tidak pernah lalai untuk beribadah kepada Allah. Bahkan hal itu menjadikan beliau bertambah ibadahnya, yaitu dengan memelihara mereka, menunaikan kewajiban kepada mereka, memberikan nafkah, serta memberikan bimbingan kepada mereka. Bahkan secara tegas beliau menyatakan bahwa isteri itu bukan bagian yang diperoleh dari dunianya, meski ia merupakan bagian dunia bagi orang lain.” Lalu beliau bersabda:
“Allah menjadikan aku mencintai sebagian dari urusan dunia kalian.”

Maksud dari ungkapan itu adalah, bahwa beliau memuji Yahya sebagai orang yang terpelihara. Yang demikian itu bukan karena tidak menggauli wanita, melainkan karena ia ma’shum, terpelihara dari berbagai macam perbuatan keji dan kotor. Dan kema’shumannya itu tidak menghalanginya untuk menikahi, mencumbui, dan menjadikan hamil wanita yang halal baginya. Bahkan dapat difahami lahirnya keturunan baginya melalui do’a yang dipanjatkan Zakariya di atas, di mana Zakariya berdo’a, “Berikanlah kepadaku dari sisi-Mu seorang anak yang baik.” Seolah-olah ia (Zakariya) mengucapkan: “Seorang anak yang memiliki anak cucu, keturunan, dan pengganti.” Wallahu a’lam.

Firman-Nya, wa nabiyyam minash shaalihiin (“Dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang yang shalih.”) Ini merupakan kabar gembira kedua, yaitu berita pengangkatan Yahya sebagai Nabi setelah berita gembira sebelumnya, yaitu kelahiran Yahya. Berita kedua ini lebih tinggi kedudukannya daripada berita pertama, sebagaimana firman-Nya kepada ibunya Musa, “Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya salah seorang dari para Rasul,” (QS. Al-Qashash : 7)

Pada saat Zakariya meyakini berita gembira ini, maka ia merasa heran terhadap lahirnya anak dari dirinya setelah usia tua.

Rabbi innii yakuunu lii ghulaamuw wa laqad balaghaniyal kibaru wam ra-atii ‘aaqir. Qaala (“Zakariya berkata: ‘Ya Rabbku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedang aku telah sangat tua dan isteriku pun seorang yang mandul.’ Ia berkata,”) yaitu malaikat: kadzaalikallaaHu yaf’alu maa yasyaa-u (“demikianlah Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya”) artinya, demikian itulah urusan Allah yang besar [agung] itu, tidak ada sesuatu pun yang dapat melemahkan [tidak mampu diperbuat]Nya, dan tidak ada suatu hal [perkara] yang memberatkan-Nya.

Qaala rabbij’al lii aayaH (“Zakaria berkata, ‘Berikanlah kepadaku suatu tanda [bahwa istriku hamil]”) yaitu tanda yang menunjukkan akan lahirnya seorang anak dariku.

Qaala aayatuka allaa tukallimannaasa tsalaatsata ayyaamin illaa ramzan (“Allah berfirman, ‘Tandanya bagimu adalah kamu tidak bisa berkata-kata kepada manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat.’”) yakni hanya berupa isyarat karena kamu tidak bisa berbicara, padahal pada saat itu engkau dalam keadaan sehat dan normal, sebagaimana dalam firman-Nya: tsalaatsa layaalin sawiyyan (“Selama tiga malam, padahal kamu sehat.”)(Maryam: 10)

Kemudian Allah menyuruhnya untuk banyak berdzikir, bertakbir dan bertasbih dalam keadaan seperti itu.

Maka Dia pun berfirman: wadz-kur rabbaka katsiiraw wa sabbih bil ‘asyiyyi wal ibkaar (“Dan sebutlah [nama] Rabb-mu sebanyak-banyaknya serta bertasbih di waktu petang dan pagi hari.”) akan dikemukakan dari sisi lain dalam pembahasan masalah ini pada surah Maryam, insyaa Allaah.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 38-39

9 Feb

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 38-39“Kami berfirman: ‘Turunlah kamu dari surga itu. Kemudian jika dating petunjuk-Ku kepadamu, maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka besedih hati”. (QS. Al-Baqarah: 38) Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS. Al-Baqarah: 39)

Allah memberitahukan tentang peringatan yang pernah diberikan kepada Adam dan isterinya serta Iblis ketika Dia menurunkan mereka dari surga. Yang dimaksudkan yaitu (kepada) anak keturunannya, bahwa Dia akan menurunkan kitab-kitab dan mengutus para nabi dan rasul. Sebagaimana dikatakan Abu al-Aliyah, yang dimaksud al-Hudaa adalah para nabi, rasul, serta penjelasan dan keterangan.

“Maka barangsiapa yang mengikuti petunjukku.” Artinya, orang yang menerima kitab yang diturunkan dan menyambut para rasul yang diutus. “Niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka.” Yaitu dalam hal perkara akhirat yang akan mereka hadapi. “Dan tidak pula mereka bersedih Kati. “Yaitu atas berbagai urusan dunia yang tidak mereka peroleh.

Dan firman-Nya, “Dan orang-orang yang kafr dan mendisstakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya. ” Maksudnya, mereka kekal abadi di dalam neraka itu, tidak akan dapat menghindar dan tidak pula dapat menyelamatkan diri darinya.

Dan diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Abu Sa’id al-Khudri, bahwa Rasulullah bersabda: “Adapun penghuni neraka, yang memang penghuninya, mereka tidak mati dan tidak pula hidup di dalamnya. Namun ada beberapa kaum yang masuk neraka disebabkan oleh dosa-dosa mereka, maka matilah mereka karena api neraka sehinggga tatkala mereka menjadi arang, diizinkanlah untuk mendapatkan syafa’at.” (HR. Muslim).

Disebutkannya kata ihbath (penurunan Adam, Hawa dan Iblis) yang kedua ini karena makna sesudahnya yang berkaitan dengannya berbeda dengan ihbath (penurunan) pertama. Wallahu a’lam.

&

Hadits Arba’in ke 38: Wali Allah dan Sarana-Sarana untuk Mendekatkan Diri kepada Allah

25 Feb

Al-Wafi; Imam Nawawi; DR.Musthafa Dieb al-Bugha

Hadits Arbain nomor 38 (tiga puluh delapan)Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda, Allah berfirman, “Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku menyatakan perang terhadapnya. Tidaklah hamba-Ku mendekati-Ku dengan sesuatu yang lebih Kucintai daripada apa yang telah Aku wajibkan. Hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. Ketika Aku mencintainya, Aku menjadi pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatan yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangan yang dia gunakan untuk menggenggam dan manjadi kaki yang dia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, pasti Ku-beri, dan jika memohon perlindungan-Ku pasti Kulindungi.” (HR Bukhari)

URGENSI HADITS

Allah swt. memberikan mahabbah dan penjagaan terhadap para wali-Nya. Wujud dari penjagaan itu adalah kemarahan Allah bila seseorang berusaha mencelakakan mereka. hadits ini menjelaskan siapa wali Allah dan kekasih-Nya di dunia maupun di akhirat. Karena itu, ada yang berpendapat bahwa hadits ini adalah hadits yang paling mulia, yang berbicara tentang para wali.

Imam asy-Syaukani berkata, “Hadits ini mengandung banyak faedah berharga, bagi orang yang betul-betul memahami dan mentadabburinya dengan benar.”

Ath-Thukhi berkata, “Hadits ini adalah pijakan menuju Allah, mengenal dan mencitai Allah. Juga merupakan jalan untuk merealisasikan berbagai kewajiban yang sifatnya batin [iman] dan kewajiban yang sifatnya dhahir [Islam] dan gabungan antara keduanya [ihsan]. Sedangkan Ihsan mencakup karakteristik orang-orang yang berusaha menuju Allah swt. Karakteristik tersebut di antaranya: zuhud, ikhlas, muraqabah dan lain sebagainya.

KANDUNGAN HADITS

1. Wali-wali Allah.
Wali Allah adalah orang yang melakukan ketaatan kepada Allah. Dalam al-Qur’an, mereka ini dicirikan dengan dua sifat: iman dan takwa. Firman Allah:
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak [pula] mereka bersedih hati. [yaitu] orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (Yunus: 62-63)

Rukun yang pertama kali harus dipenuhi untuk mendapatkan kewalian adalah keimanan kepada Allah. Sedangkan rukun kedua adalah ketakwaan. Dengan demikian, hal ini akan membuka peluang yang sangat luas bagi orang-orang untuk menjadi wali, sehingga akan mendapat ketenangan. Dari sini, mereka bisa meningkat lagi pada derajat yang lebih tinggi, yaitu orang-orang yang berada dalam baris terdepan dalam melaksanakan setiap kebaikan. Derajat umat Islam tersebut dalam al-Qur’an dikelompokkan menjadi tiga golongan:

“Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang Menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. yang demikian itu adalah karunia yang Amat besar.” (Fathir: 32)

Golongan pertama, orang yang mendhalimi diri sendiri adalah ummat Islam yang masih bergelimang dalam kubangan dosa. Golongan kedua pertengahan, adalah mereka-mereka yang menunaikan kewajiban dan menjauhi larangan. Mereka inilah wali-wali Allah. Namun demikian mereka ini kewaliannya masih berada pada tangga terendah. Sedangkan golongan ketiga, yang senantiasa dalam baris depan dalam melaksanakan kebaikan adalah mereka yang tidak terbatas melakukan kewajiban, akan tetapi berlomba-lomba melakukan perbuatan sunnah. Tidak terbatas menjauhi perkara-perkara haram, namun juga berlomba untuk menjauhi perkara-perakara yang makruh. Mereka inilah yang menempati tangga puncak dalam tangga kewalian.

Wali-wali Allah yang paling mulia adalah para Nabi dan Rasul. Mereka adalah manusia-manusia yang terjaga dari setiap dosa, dan didukung oleh mukjizat Allah swt.
Menempati urutan kedua adalah para shahabat Rasulullah. Mereka adalah orang-orang yang telah merefleksikan al-Qur’an dan Sunnah Nabi saw.
Berikutnya adalah orang-orang yang hidup setelah mereka hingga hari ini. Yang perlu diingat, bahwasannya kewalian tidak akan terealisasi dalam diri siapapun kecuali orang tersebut memiliki keimanan dan ketakwaan, mengikuti dan meneladani Rasulullah saw. dalam setiap ucapan, sikap dan perbuatannya.

Kesalahan paling fatal yang terjadi dalam masyarakat kita dewasa ini, adalah anggapan yang menyatakan bahwa kewalian hanyalah dimiliki orang-orang tertentu dan jumlahnya sedikit. Yang lebih celaka lagi, jika derajat kewalian tersebut diberikan kepada orang-orang yang tidak diketahui keimanan dan ketakwaannya, bahkan lebih pantas disebut sebagai walis setan, karena sikap dan perilakunya yang tidak mencerminkan nilai-nilai Islam sama sekali.

2. Memusuhi wali Allah ??
Siapapun yang menyakiti seorang mukmin, baik jiwa, harta maupun kehormatannya, maka Allah menyatakan perang kepada orang tersebut. Ketika Allah menyatakan perang kepada seseorang, berarti Allah pasti menghancurkannya. Kadang Allah menunda adzab-Nya, bukan berarti melupakan kesalahan orang tersebut. Kadang Allah membiarkan orang dhalim berbuat aniaya di bumi untuk beberapa saat. Setelah itu Allah menimpakan kepadanya adzab yang sangat pedih.

Orang yang memusuhi wali Allah disebut juga telah menyatakan perang kepada Allah. ‘Aisyah ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda, bahwa Allah berfirman, “Barangsiapa yang menyakiti wali-Ku, maka ia telah menyatakan perang kepada-Ku.” (HR Ahmad)
Abu Umamah ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda bahwa Allah swt. berfirman, “Baransiapa yang menghina wali-Ku, berarti ia telah menantang-Ku untuk perang.

3. Amalah yang paling afdlal
Dalam hadits di atas terdapat isyarat yang jelas. “Dan tidaklah hamba-Ku mendekat-Ku dengan sesuatu yang lebih Ku-cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan.”
Umar ra. berkata, “Amalan yang paling afdlal adalah melakukan apa-apa yang telah diwajibkan Allah, meninggalkan perkara-perkara yang telah diharamkan Allah dengan niat yang ikhlas.”

Umar bin Abdul ‘Aziz berkata, “Ibadah yang paling afdlal adalah melakukan kewajiban dan menjauhi berbagai perkara yang diharamkan. Karena Allah, dalam mewajibkan berbagai perkara kepada hamba-Nya, hanyalah semata-mata agar hamba-Nya mendekatkan diri kepada-Nya, mendapatkan keridlaan dan karunia-Nya.

Kewajiban fisik [yang juga merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah] yang paling utama, adalah shalat. Allah swt. berfirman, “Sujudlah dan dekatlah [dirimu kepada Rabb].” (al-‘Alaq: 19)
Rasulullah saw. bersabda, “Saat hamba paling dekat denga Rabbnya adalah ketika ia sujud.”

Termasuk kewajiban yang dapat mendekatkan diri kepada Allah adalah keadilan pemimpin terhadap orang-orang yang dipimpin. Baik pemimpin yang sifatnya umum, misalnya penguasa, atau pun pemimpin yang sifatnya khusus, misalnya seorang suami terhadap istri dan anaknya.

Abu Sa’id al-Khudri berkata, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Hamba yang paling dicintai Allah yang paling dekat tempatnya dengan Allah pada hari kiamat adalah pemimpin yang adil.” (HR Tirmidzi)

Abdullah bin Umar ra. berkata, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya orang-orang yang adil akan berada di sisi Allah, di atas mimbar yang terbuat dari cahaya, persisi di sebelah kanan ar-Rahman [Allah]. Kedua tangan-Nya adalah kanan. Mereka itu adalah orang-orang yang berbuat adil dalam setiap keputusan hukumnya, terhadap keluarga dan orang-orang yang dipimpinnya.” (HR Muslim)

4. Meninggalkan maksiat adalah bagian dari menunaikan kewajiban.
Allah swt. mewajibkan hamba-Nya untuk meninggalkan maksiat. Allah juga telah menjelaskan bahwa siapapun yang melanggar batasan-batasan-Nya dan melakukan kemaksiatan, maka ia layak mendapatkan siksa yang teramat pedih, baik di dunia maupun di akhirat. Karenanya meninggalkan maksiat juga masuk dalam keumuman ucapan, “Dan tidaklah hamba-Ku mendekati-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan.”

Bahkan sebenarnya kewajiban meninggalkan maksiat lebih didahulukan daripada kewajiban untuk melakukan ketaatan. Ini diisyaratkan oleh hadits, “Jika aku perintahkan kepada kalian suatu perintah, maka tunaikanlah semampu kalian. Sedangkan jika aku larang kalian terhadap sesuatu, maka janganlah kalian mendekatinya.”

Dalam menjelaskan hadits ini, Ibnu Rajab berkata, “Semua maksiat pada dasarnya adalah memerangi Allah.” Ibnu Rajab lalu mengutip ucapan Ibnu Adam, “Apakah kamu mampu memerangi Allah? Siapapun yang maksiat kepada Allah, maka ia telah memerangi-Nya. Semakin besar dosa dari kemaksiatan, maka semakin besar pula ia memerangi Allah. Karena itu, Allah menamakan orang-orang yang memakan riba dan perampok sebagai orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya. Karena besarnya kedhaliman kedua perbuatan tersebut bagi ummat manusia.”

5. Mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan sunnah.
Hal ini harus didahului dengan menunaikan semua kewajiban: shalat, puasa, zakat, haji [jika telah mampu], dan kewajiban lainnya. Di samping itu juga menahan diri dari semua perkara yang makruh. Inilah yang layak mendapat mahabbah [kecintaan] Allah swt. Barangsiapa yang dicintai Allah swt. maka Allah akan memberikan karunia untuk selalu mentaati-Nya, senantiasa menyibukkan diri dengan dzikir dan beribadah kepada-Nya. dengan demikian, ia layak dekat dengan Allah swt. Orang-orang seperti inilah yang disinyalir dalam sebuah ayat:

“Hai orang-orang yang beriman, Barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.” (al-Maaidah: 54)

Amalan sunnah yang paling besar, untuk mendekatkan diri kepada Allah adalah banyak membaca al-Qur’an, mendengar, mentadabburi dan memahaminya, sebagaimana dijelaskan dalam hadits riwayat Tirmidzi dari Abu Umamah ra. Karena bagi orang yang mencintai tidak ada sesuatu yang paling indah selain ucapan orang yang dicintainya. Karenanya Ibnu Mas’ud berkata, “Barangsiapa yang mencintai al-Qur’an, maka ia mencintai Allah dan Rasul-Nya.”

Termasuk amalan sunnah yang besar adalah banyak berdzikir. Allah swt. berfirman: “Karena itu, ingatlah kepada-Ku niscaya Aku ingat [pula] kepadamu.” (al-Baqarah: 152)

Dalam sebuah hadits qudsi disebutkan, Allah swt. berfirman, “Aku sejalan dengan dugaan hamba-Ku terhadap-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam kesendiriannya, maka Aku mengingatnya dalam kesendirian-Ku. Jika ia mengingat-Ku di depan umum, maka Aku akan mengingatnya di depan umum yang lebih baik dari mereka.” (HR Bukhari dan Muslim)

6. Dampak kecintaan Allah terhadap para walinya.
Hal ini tergambar dalam hadits di atas, “Ketika Aku mencintainya, Aku menjadi pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatan yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangan yang dia gunakan untuk menggenggam dan manjadi kaki yang dia gunakan untuk berjalan.”
Dalam riwayat lain disebutkan, “Hatinya yang ia pergunakan untuk berfikir, dan lisannya yang ia pergunakan untuk berbicara.”

Ibnu Rajab berkata, “Maksudnya, barangsiapa yang bersungguh-sungguh mendekatkan diri kepada Allah dengan semua amalan wajib, lalu dengan amalan sunnah, maka ia sungguh telah mendekatkan diri kepada Allah. Kemudian naik lebih tinggi dari derajat keimanan ke darajat ihsan. Sehingga ia beribadah kepada Allah seolah-olah ia telah melihat-Nya. Hatinya dipenuhi ma’rifat, kecintaan, pengagungan, rasa takut, dan rindu kepada Allah. Sehingga apa yang ada di dalam hatinya seolah terlihat dengan jelas.”

Ketika hati telah dipenuhi oleh kebesaran Allah, maka apapun selain Allah akan tersingkir dari hati itu. Bahkan hawa nafsunya pun lenyap dan tidak ada sedikitpun keingingan, kecuali apa-apa yang diinginkan oleh Allah. Dalam kondisi seperti inilah, seseorang tidak akan terucap kecuali dalam rangka dzikir kepada Allah, tidak bergerak kecuali dengan perintah-Nya. Jika ia berbicara, maka berbicara karena Allah. Jika ia mendengar maka mendengar karena Allah. Jika ia melihat maka ia melihat karena Allah, jika ia memegang sesuatu maka hanya karena Allah. Inilah yang dimaksud oleh hadits di atas.

Dengan demikian, siapapun yang mengiterpretasikan pada selain hal di atas, misalnya manunggaling kawulo gusti (hamba dan Tuhan jadi satu jasad), maka Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari semua itu.

Imam Syaukani berpendapat bahwa yang dimaksud oleh hadits di atas adalah bahwa Allah akan memberikan cahanya-Nya kepada setiap badan yang disebut dalam hadits. Dengan cahaya itulah anggota badan tersebut akan berjalan menelusuri jalan hidayah dan menjauhi jalan kesesesatan. Al-Qur’an juga telah menegaskan bahwa Allah adalah cahaya langit dan bumi (an-Nuur: 35)

Dalam hadits shahih juga dijelaskan bahwa Rasulullah saw. berdoa, “Ya Allah, jadikanlah di dalam hatiku cahaya, pada mataku, pada pendengaranku…”

7. Doa wali pasti dikabulkan.
Termasuk karunia Allah terhadap para walinya adalah apabila wali tersebut meminta sesuatu, maka Allah akan memberinya. Jika meminta perlindungan maka Allah akan memberinya perlindungan. Jika berdoa kepada-Nya maka akan dikabulkan doanya. Karenanya ia menjadi orang yang dikabulkan doanya. Dalam sejarah Islam, tersebutlah nama-nama yang dikenal dengan orang-orang yang doanya dikabulkan, seperti: Barra’ bin Malik, Sa’ad bin Abi Waqash, dan yang lainnya. Namun demikian, di antara mereka yang selalu dikabulkan doanya, mereka lebih memilih bersabar terhadap ujian yang menimpanya. Mereka mengharapkan pahala dari ujian itu, dan tidak berdoa agar dibebaskan dari ujian yang menimpanya.

Bisa jadi ada wali Allah yang meminta sesuatu kepada Allah. Namun, Allah Maha Mengetahui apa yang baik bagi kekasihnya. Lalu permintaan hamba tersebut tidak dikabulkan dan digantikan dengan sesuatu yang lebih baik. Jika tidak di dunia maka di akhirat.
Abu Sa’id al-Khudri ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah seorang muslim berdoa kepada Allah, yang dalam doa tersebut tidak terdapat unsur dosa atau pun pemutusan tali silaturahim, melainkan Allah akan memberinya salah satu dari ketiga hal berikut ini: mungkin mengabulkannya dengan segera apa yang diminta dalam doanya, atau akan diberikan di akhirat, atau ia akan dihindarkan dari keburukan yang sebanding dengan permintaannya.” (HR Ahmad)

8. Keragu-raguan Allah untuk mencabut nyawa seorang Muslim.
Dalam riwayat Imam Bukhari terdapat tambahan,
“Tidaklah Aku ragu-ragu tentang sesuatu yang Aku pasti melakukannya, seperti keraguan-Ku mencabut nyawa hamba-Ku yang Mukmin. Ia membenci kematian, dan Aku membenci menyakitinya.”

Ibnu Shalah berkata, “Yang dimaksud dengan keraguan disini bukanlah keraguan yang kita kenal. Tetapi keraguan tersebut lebih disebabkan karena cintanya yang amat sangat, sehingga seakan tidak mau menyakitinya dengan kematian. Karena kematian adalah sakit yang maha dahsyat di dunia, kecuali bagi orang-orang tertentu. Namun kematian memang harus terjadi, karena telah menjadi ketentuan Allah.”

Dengan tambahan di atas, maka jelaslah bahwa kematian [bagi orang yang dicintai Allah] bukanlah sesuatu yang bertujuan menghinakannnya, tetapi justru mengangkat derajatnya. Karena kematian merupakan jalan untuk berpindah ke tempat yang mulia dan penuh kenikmatan.

9. Tawadlu’
Imam Bukhari menggunakan hadits di atas sebagai dalil tawadlu’. Beliau menempatkan hadits tersebut dalam bab “tawadlu”. Karena mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan amalan sunnah pada dasarnya adalah karena sikap tawadlu’. Demikian juga, mencintai dan tidak memusuhi wali-wali Allah, juga merupakan sikap tawadlu’ dan kepatuhan kepada Allah.

Iyadh bin Hammar ra. berkata, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian semua bersikap tawadlu’, agar tak ada seorang pun merasa lebih mulia dari yang lain.” (HR Muslim)

Selain itu, hadits di atas juga mengisyaratkan beberapa hal:
a. Wali Allah mempunyai kedudukan yang tinggi, karena ia menyerahkan semua urusan dirinya kepada Allah swt.
b. Seseorang yang menyakiti wali Allah, tetapi tidak segera ditimpa musihab, bukan berarti terlepas dari kemarahan Allah. Bisa jadi musibahnya dalam bentuk yang lain. Karena sesungguhnya kesesatan adalah bentuk dari musibah.

&