Tag Archives: 40

Tafsir Ibnu Katsir Surah At-Taubah ayat 40

3 Nov

Tafsir Ibnu Katsir Surah At-Taubah ayat 40
Tafsir Al-Qur’an Surah At-Taubah (Pengampunan)
Surah Madaniyyah; surah ke 9: 129 ayat

tulisan arab alquran surat at taubah ayat 40

“Jikalau kalian tidak menolongnya(Muhammad), maka sesungguh­nya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrik Mekah) mengusirnya (dari Mekah), sedangkan dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya, “Janganlah kamu berdukacita, sesungguhnya Allah beserta kita.” Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepadanya (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kalian tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang yang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”

Firman Allah Swt.:

{إِلا تَنْصُرُوهُ}

Jikalau kalian tidak menolongnya. (At-Taubah: 40)

Yakni jika kalian tidak menolong Rasul-Nya, maka sesungguhnya Allah-lah yang menolong, yang membantu. yang mencukupi, dan yang memeliharanya, seperti yang telah dilakukan-Nya:

{إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ}

ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Mekah), sedangkan dia salah seorang dari dua orang. (At-Taubah: 40)

Hal ini terjadi pada tahun beliau Saw. melakukan hijrahnya. Saat itu orang-orang musyrikin bertekad hendak membunuhnya atau menahannya atau mengusirnya. Maka Nabi Saw. lari dari mereka bersama sahabatnya, yaitu Abu Bakar As-Siddiq. Lalu keduanya berlindung di dalam Gua Sur selama tiga hari, menunggu agar orang-orang yang mencari dan menelusuri jejaknya kembali ke Mekah. Sesudah itu beliau bersama Abu Bakar meneruskan perjalanan ke Madinah.

Abu Bakar merasa takut bila seseorang dari kaum musyrik yang mengejarnya itu dapat melihatnya yang akhirnya nanti Rasulullah Saw. akan disakiti oleh mereka. Maka Nabi Saw. menenangkan hatinya dan meneguhkannya seraya bersabda:

” يَا أَبَا بَكْرٍ، مَا ظَنُّكَ بِاثْنَيْنِ اللَّهُ ثَالِثُهُمَا”

Hai Abu Bakar, bagaimanakah dugaanmu terhadap dua orang yang ketiganya adalah Allah?

Sehubungan dengan hal ini Imam Ahmad mengatakan bahwa:

حَدَّثَنَا عَفَّانُ، حَدَّثَنَا هَمَّامٌ، أَنْبَأَنَا ثَابِتٌ، عَنْ أَنَسٍ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ حَدَّثَهُ قَالَ: قُلْتُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَنَحْنُ فِي الْغَارِ: لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ نَظَرَ إِلَى قَدَمَيْهِ لَأَبْصَرَنَا تَحْتَ قَدَمَيْهِ. قَالَ: فَقَالَ: “يَا أَبَا بَكْرٍ، مَا ظَنُّكَ بِاثْنَيْنِ اللَّهُ ثَالِثُهُمَا”.

telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Hammam, telah menceritakan kepada kami Sabit, dari Anas; Abu Bakar telah bercerita kepadanya bahwa ketika ia berada di dalam gua bersama Nabi Saw., ia berkata kepada Nabi Saw., “Seandainya seseorang dari mereka itu memandang ke arah kedua telapak kakinya, niscaya dia akan dapat melihat kita berada di bawah kedua telapak kakinya.” Maka Nabi Saw. bersabda: Hai Abu Bakar, apakah dugaanmu tentang dua orang, sedangkan yang ketiganya adalah Allah?

Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkan hadis ini di dalam kitab Sahih-nya masing-masing. Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:

{فَأَنزلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ}

Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepadanya (Muhammad). (At-Taubah: 40)

Maksudnya, dukungan dan pertolongan Allah diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. Demikianlah menurut salah satu di antara dua pendapat yang terkenal. Menurut pendapat lain, ketenangan-Nya itu diturunkan kepada Abu Bakar. Telah diriwayatkan pula dari Ibnu Abbas dan lain-lainnya yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. selalu disertai oleh ketenangan. Akan tetapi, hal ini tidaklah bertentangan bila dikatakan bahwa ketenangan tersebut diperbarui dalam keadaan yang khusus itu. Dalam firman selanjutnya disebutkan:

{وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا}

dan membantunya dengan tentara yang kalian tidak melihatnya. (At-Taubah: 40)

Yaitu para malaikat.

{وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا}

dan Allah menjadikan seruan orang-orang yang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. (At-Taubah: 40)

Ibnu Abbas mengatakan, makna yang dimaksud ialah kalimat orang-orang kafir adalah kemusyrikan. sedangkan kalimat Allah ialah kalimat “Tidak ada Tuhan selain Allah””.

Di dalam kitab Sahihain disebutkan dari Abu Musa Al-Asy’ari r.a. bahwa Rasulullah Saw. pernah ditanya tentang seorang lelaki yang berperang karena pemberani dan seorang lelaki yang berperang karena fanatisme dan pamer, manakah di antara keduanya yang termasuk di jalan Allah Swt.? Rasulullah Saw. menjawab:

“مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ”

Barang siapa yang berperang untuk membela agar kalimat Allah tinggi, maka dialah yang berada di jalan Allah.

*******

Firman Allah Swt.:

{وَاللَّهُ عَزِيزٌ}

Allah Mahaperkasa. (At-Taubah: 40)

Yakni dalam pembalasan dan pertolongan-Nya, lagi Mahakebal Zat-Nya, tidak akan tertimpa bahaya orangyang berlindung kepada naungan-Nya dan mengungsi kepada-Nya dengan berpegang kepada khitab (perintah)-Nya.

{حَكِيمٌ}

lagi Mahabijaksana. (At-Taubah: 40)

Mahabijaksana dalam semua perbuatan dan ucapan-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 40-41

12 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 40-41“Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk Surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan. (QS. 7:40) Mereka mempunyai tikar tidur dari api nereka dan di atas mereka ada selimut (api nereka). Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang zhalim. (QS. 7:41)” (al-A’raaf: 40-41)

Firman Allah: laa tufattahu laHum abwaabus samaa-i (“Sekali-sekali tidak dibukakan pintu-pintu langit bagi mereka.”) Ibnu Juraij mengatakan: “Pintu-pintu langit itu tidak dibuka untuk amal perbuatan mereka dan juga ruh-ruh mereka.” Di dalam hal ini terdapat penggabungan antara dua pendapat. Wallahu a’lam.

Firman Allah Ta’ala: walaa yadkhuluunal jannata hattaa yalijul jamalu fii sammil khiyaath (“Dan tidak pula mereka masuk Surga, sehingga unta masuk ke lubang jarum.”) Demikian itulah yang dibaca dan ditafsirkan oleh jumhur ulama, yaitu unta. Ibnu Mas’ud mengatakan: “Yaitu unta jantan, anak unta betina.” Sedangkan dalam sebuah riwayat disebutkan: “Yaitu unta jantan pasangan (suami) unta betina.”

Al-Hasan al-Bashri mengatakan: “Sehingga seekor unta dapat masuk ke dalam lubang jarum.”
Hal yang sama juga dikemukakan oleh Abut `Aliyah dan adh-Dhahhak.

Dan firman Nya: laHum min jaHannama miHaadun (“Mereka mempunyai tikar tidur dari api Neraka.”) Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi mengatakan: “Yaitu alas tidur.”
Wa min fauqiHim ghawaasy (“Dan di atas mereka ada selimut [api Neraka]”) Dia mengatakan: “Yaitu, kain selimut.” Hal yang senada juga dikemukakan oleh adh-Dhahhak bin Muzahim dan juga as-Suddi.

Wa kadzaalika najzidh dhaalimiin (“Demikianlah Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang dhalim.”)

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yunus ayat 37-40

5 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Yunus
Surah Makkiyyah; surah ke 10: 109 ayat

tulisan arab alquran surat yunus ayat 37-40“Tidaklah mungkin al-Qur’an ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (al-Qur’an itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Rabb semesta alam. (QS. 10:37) Atau (patutkah) mereka mengatakan: ‘Muhammad membuat-buatnya.’ Katakanlah: ‘(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang yang benar.’ (QS. 10:38) Bahkan yang sebenarnya, mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya dengan sempurna, padahal belum datang kepada mereka penjelasannya. Demikianlah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (Rasul). Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang dhalim itu. (QS. 10:39) Di antara mereka ada orang-orang yang beriman kepada al-Qur’an, dan di antaranya ada (pula) orang-orang yang tidak beriman kepadanya. Rabbmu lebih mengetahui tentang orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. 10:40)” (Yunus: 37-40)

Ini merupakan pejelasan untuk kemukjizatan al-Qur’an, bahwa sesungguhnya manusia tidak mampu mendatangkan ayat-ayat yang serupa dengannya, sepuluh surat, bahkan satu surat pun. Maka dari itu Allah Ta’ala berfirman: wa maa kaana Haadzal qur-aanu ay yuftaraa min duunillaaHi (“Tidaklah mungkin al-Qur’an ini dibuat oleh selain Allah.”) Maksudnya, yang seperti al-Qur’an ini, tidak ada kecuali dari sisi Allah dan ini tidak menyerupai perkataan manusia.

Wa laakin tashdiiqal ladzii baina yadaiHi (“Akan tetapi [al-Qur’an itu] membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya.”) Maksudnya, kitab-kitab terdahulu, batu ujian terhadap itu dan penjelasan terhadap apa yang telah terjadi pada kitab-kitab berupa tahrif (penyelewengan), ta’wil dan perubahan.

Firman-Nya: wa tafshiilal kitaabi laa raiba fiiHi mir rabbil ‘aalamiin (“Dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya [turunkan] dari Rabb semesta alam.”) Maksudnya, keterangan hukum-hukum, halal dan haram, (diterangkan) dengan keterangan yang memuaskan, mencukupi, nyata dan tidak ada keraguan di dalamnya, diturunkan dari Rabb semesta alam.

Firman-Nya: am yaquuluunaf taraaHu qul fa’tuu bisuuratim mitsliHii wad’uu manis tatha’tum min duunillaaHi in kuntum shaadiqiin (“Atau [patutkah] mereka mengatakan: ‘Muhammad membuat-buatnya,’ Katakanlah: ‘[kalau benar yang kamu katakan itu], maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil [untuk membuatnya] selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.”)

Maksudnya, kalian mendakwakan, mendustakan dan meragukan, bahwa sesungguhnya al-Qur’an ini dari sisi Allah dan kalian berkata dengan bohong dan dusta: “Bahwa al-Qur’an ini adalah karangan Muhammad,” maka Muhammad adalah manusia sepertimu dan dia telah membawa al-Qur’an yang kamu tuduhkan itu; maka buatlah olehmu satu surat yang menyerupainya! Maksudnya, jenis al-Qur’an ini dan mintalah pertolongan kepada siapa saja yang kamu mampu, baik dari manusia ataupun dari kalangan jin.

Ini adalah peringkat yang ke tiga dalam hal tantangan, sesungguhnya Allah Ta’ala menantang dan mengajak mereka, jika mereka benar dalam dakwaannya, bahwa al-Qur’an itu adalah buatan Muhammad, hendaklah mereka mendebatnya, dengan hal yang sebanding dengan apa yang dia bawa itu hendaklah mereka meminta bantuan kepada siapa saja yang mereka kehendaki dan Allah memberi kabar, bahwa sesungguhnya mereka tidak akan mampu dan tidak akan menemukan jalan untuk itu.

Maka Allah Ta’ala berfirman:
“Katakanlah, `Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain.’” (QS. Al-Israa’: 88)

Kemudian Allah meringankan untuk mereka hingga sepuluh surat dari al-Qur’an, maka Allah berfirman di awal surat Huud yang artinya:
“Bahkan mereka mengatakan: ‘Muhammad telah membuat-buat al-Qur’an itu.’ Katakanlah: ‘[Kalau demikian], maka datangkanlah sepuluh surat yang dibuat-buat yang menyamainya dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup [memanggilanya] selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar.’” (Huud: 13)

Kemudian Allah menguranginya lagi hingga satu surat saja, maka Allah berfirman dalam surat ini: am yaquuluunaf taraaHu qul fa’tuu bisuuratim mitsliHii wad’uu manis tatha’tum min duunillaaHi in kuntum shaadiqiin (“Atau [patutkah] mereka mengatakan: ‘Muhammad membuat-buatnya,’ Katakanlah: ‘[kalau benar yang kamu katakan itu], maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil [untuk membuatnya] selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.”)

Begitu juga dalam surat al-Baqarah, -yang mana surat itu termasuk surat Madaniyyah-, yang
menantang mereka dengan satu surat darinya. Dan Allah memberi kabar bahwa sesungguhnya mereka tidak akan bisa melakukan itu selarna-lamanya, Allah berfirman, “Maka jika kamu tidakdapat membuat(nya) danpasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka,” (QS. Al-Bagarah: 24)

Inilah al-Qur’an, padahal kefashihan adalah ciri khas mereka, dan mu’allaqat (sya’ir-sya’ir pilihan yang digantungkan) mereka adalah contoh yang paling kongkrit dalam hal ini, akan tetapi mereka didatangkan sesuatu dari Allah yang belum pernah dikatakan oleh seorang pun, maka itu berimanlah orang yang beriman dari mereka, karena telah mengetahui balaghahnya, manisnya, kebesarannya, keindahannya, faedahnya dan bagusnya.

Mereka adalah orang yang paling tahu, paling faham, paling mudah untuk mengikuti dan paling tunduk dalam masalah ini. Sebagaimana tukang-tukang sihir dengan ilmu mereka dalam masalah sihir mengetahui, bahwa yang dilakukan Musa as. tidak akan keluar kecuali dari orang yang diberi kekuatan, ditunjuki dan diutus dari Allah dan bahwa sesungguhnya ini tidak dapat dilakukan oleh manusia kecuali dengan izin Allah. Begitu juga `Isa as. diutus pada zaman kejayaan ilmu kedokteran dan pengobatan terhadap orang-orang sakit, waktu itu beliau menyembuhkan orang buta, orang berpenyakit kusta dan menghidupkan orang mati dengan izin Allah. Hal seperti ini tidak dapat dilakukan dengan pengobatan dan obat-obatan, maka sebagian mereka mengetahui bahwa sesungguhnya dia adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.

Maka dari itu telah ada riwayat dalam kitab ash-Shahih dari Rasulullah saw. sesungguhnya beliau bersabda: “Tidak ada seorang Nabi pun dari para Nabi melainkan telah diberi tanda-tanda, yang manusia telah mempercayainya. Dan sesungguhnya yang diberikan kepadaku adalah wahyu, yang Allah wahyukan kepadaku, maka aku berharap agar aku menjadi Nabi yang paling banyak pengikutnya.” (Muttafaq `alaiH)

Firman-Nya: bal kadzdzabuu bimaa lam yuhiithuu bi’ilmiHii wa lammaa ya’tiHim ta’wiiluHu (“Bahkan sebenarnya, mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya dengan sempurna padahal belum datang kepada mereka penjelasannya.”) Allah berfirman, bahkan mereka mendustakan al-Qur’an, tanpa memahami dan mengetahuinya.

Wa lamma ta’tiHim ta’wiiluHu (“Padahal belum datang kepada mereka penjelasannya.”) Maksudnya; mereka belum mendapatkan petunjuk dan agama yang benar darinya, sampai mereka mendustakannya, secara bodoh dan tolol.

Kadzaalika kadzdzabal ladziina min qabliHim (“Demikianlah orang orang yang sebelum mereka telah mendustakan [Rasul].”) Maksudnya, umat-umat terdahulu. Fandhur kaifa kaana ‘aaqibatudh dhaalimiin (“Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang dhalim itu.”) Maksudnya, maka perhatikanlah bagaimana Kami membinasakan mereka karena kedustaan mereka terhadap para Rasul Kami secara dhalim, sombong, kafir, menentang dan bodoh. Maka berhati-hatilah wahai para pendusta, bahwa kalian akan ditimpa apa yang telah menimpa mereka.

Firman-Nya: wa min Hum may yu’minu biHi (“Di antara mereka ada orang-orang yang beriman kepada al-Qur’an…”) Maksudnya, di antara mereka yang kamu diutus kepada mereka, hai Muhammad, ada yang beriman dengan al-Qur’an ini, dia mengikutimu dan mengambil manfaat dengan apa yang kamu diutus dengannya.

Wa min Hum mal laa yu’minu biHi (“Dan di antaranya ada [pula] orang-orang yang tidak beriman kepadanya.”) Bahkan dia mati dalam keadaan seperti itu dan dibangkitkan dalam keadaan seperti itu Pula.

Wa rabbuka a’lamu bil mufsidiin (“Dan Rabbmu lebih mengetahui tentang orang-orang yang berbuat kerusakan.”) Maksudnya, Allah lebih mengetahui siapa yang berhak mendapat petunjuk, maka Allah memberinya petunjuk. Dan siapa yang berhak mendapatkan kesesatan, maka Allah menyesatkannya. Allahlah yang Mahaadil yang tidak berbuat dhalim, akan tetapi Allah memberi masing-masing sesuai haknya, Mahasuci Allah Ta’ala Yang Mahatinggi dan Mahabersih, tiada Ilah (yang berhak diibadahi) selain Dia.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Huud ayat 40

28 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Huud
Surah Makkiyyah; surah ke 11: 123 ayat

tulisan arab alquran surat huud ayat 40“Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur telah memancarkan air, Kami berfirman: ‘Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina) dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman.’ Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.” (QS. Huud: 40)

Ini adalah janji Allah kepada Nuh as, ketika datang perintah Allah yang berupa hujan secara terus-menerus dan sumber air yang tiada henti dan tidak surut, bahkan sebagaimana Allah Ta’ala berfirman yang artinya:
“Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemulah air-air itu untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan.” (QS. Al-Qamar: 11-12)

Adapun firman-Nya: wa farrat tannuuru (“Dan dapur telah memancarkan air,”) dari Ibnu `Abbas bahwa [arti] “at tannuuru” adalah permukaan bumi. Maksudnya bahwa di bumi itu terjadi mata air-mata air yang bergolak, sehingga air itu memancar dari dapur-dapur, yaitu tempat-tempat api yang berubah menjadi mata air. Ini adalah perkataan sebagian besar ulama salaf dan khalaf. Maka, pada waktu itulah Allah Ta’ala memerintahkan Nuh as. agar beliau membawa dalam perahu itu sepasang-sepasang dari berbagai macam makhluk yang bernyawa. Pendapat lain mengatakan, juga termasuk tumbuh-tumbuhan dari jenis jantan dan betina.

Firman-Nya: wa aHlaka illaa man sabaqa ‘alaiHil qulu (“Dan keluargamu, kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya.”) Maksudnya, dan bawalah keluargamu ke dalamnya, mereka adalah keluarganya dan kerabatnya, kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan baginya untuk tidak beriman kepada Allah, di antara mereka adalah anaknya yang mengasingkan diri serta isteri Nuh yang kafir terhadap Allah dan Rasul-Nya.

Dan firman-Nya: wa man aaman (“Dan [muatkan pula] orang-orang yang beriman.”) Maksudnya, dari kaummu.
Wa maa aamana ma’aHuu illaa qaliil (“Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.”) Maksudnya, sekelompok kecil saja, sedangkan waktu (zaman) dan keberadaannya bersama mereka sangatlah panjang, yaitu seribu tahun kurang lima puluh tahun.

Satu riwayat dari Ibnu `Abbas: “Mereka adalah (berjumlah) delapan puluh orang, termasuk wanitanya.”

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yusuf ayat 39-40

27 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Yusuf
Surah Makkiyyah; surah ke 12: 111 ayat

tulisan arab alquran surat yusuf ayat 39-40“Hai kedua temanku dalam penjara, manakah yang baik, rabb-rabb yang bermacam-macam itu ataukah Allah yang Mahaesa lagi Mahaperkasa (QS. 12: 39) Kamu tidak beribadah kepada yang selain Allah kecuali hanya (beribadah kepada) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu, Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Allah telah memerintahkan agar kamu tidak beribadah kepada selain Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS. 12:40)” (Yusuf: 39-40)

Kemudian Yusuf as. berbicara dan mengajak kedua pemuda itu untuk beribadah kepada Allah saja yang tidak punya sekutu sama sekali, dan ninggalkan sesembahan lain, berupa berhala dan patung yang diibadahi kaum mereka. Ia mengatakan: a arbaabum mutafarriquuna khairun aillaaHu waahidul qaHHaar (“Manakah yang lebih baik, rabb-rabb yang bermacam-macam itu ataukah Allah yang Mahaesa lagi lahaperkasa?”) maksudnya Rabb yang segala sesuatu tunduk di bawah kehebatan, keperkasaan dan kebesaran kekuasaan-Nya.

Kemudian Yusuf menerangkan kepada mereka berdua bahwa apa yang mereka sembah dan mereka sebut sebagai tuhan-tuhan itu hanyalah buatan belaka dan penamaan tuhan-tuhan itu mereka dapatkan (warisi) dari nenek moyang mereka, yang tidak punya dasar kebenaran dari Allah. Oleh karena itu ia mengatakan: maa anzalallaaHu biHaa min sulthaan (“Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama itu”) maksudnya tentang alasan dan bukti yang benar.

Kemudian ia memberitahukan kepada mereka bahwa keputusan, pelaksanaan yang terjadi, kehendak yang berlaku dan kekuasaan (terhadap alam ini, itu semuanya hanya milik Allah, dan Allah memerintahkan kepada semua hamba-Nya agar tidak beribadah kepada selain-Nya, setelah itu Allah berfirman: dzaalikad diinul qayyimu (“Itulah agama yang lurus”) maksudnya, agama yang kudakwahkan kepada kalian, yang mengesakan Allah dan berbuat sesuatu semata-mata karena Allah, itulah agama yang lurus yang diperintahkan Allah, dan diturunkan bersamanya alasan dan bukti kebenarannya, serta dicintai dan diridhai oleh Allah. Wa laakinna aktsaran naasi laa ya’lamuun (“Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”) karena itu kebanyakan mereka berbuat syirik (Menyekutukan Allah)

Pertanyaan mereka berdua kepada Yusuf dijawabnya dengan penuh rasa hormat dan dijadikannya sarana dan sebab untuk mengajak mereka kepada tauhid (meng-Esakan) Allah dan kepada agama Islam, setelah melihat dalam diri mereka ada kesiapan untuk menerimanya dengan baik, antusias dan mendengar sungguh-sungguh terhadapnya. Oleh karena itu, setelah berdakwah kepada mereka berdua, Yusuf segera menafsirkan mimpi mereka masing-masing, tanpa mengulangi pertanyaan, seraya mengatakan:

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ar-Ra’du ayat 40-41

24 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Ar-Ra’du (Guruh)
Surah Madaniyyah; surah ke 13: 43 ayat

tulisan arab alquran surat ar ra'du ayat 40-41“Dan jika Kami perlihatkan kepadamu sebagian (siksa) yang Kami ancamkan kepada mereka atau Kami wafatkan kamu (hal itu tidak penting bagimu) karena sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja, sedang Kami-lah yang menghisab amalan mereka. (QS. 13:40) Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah (orang-orang kafir), lain Kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya? Dan Allah menetapkan hukum (menurut kehendak-Nya), tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya, dan Allah-lah yang Mahacepat hisab-Nya. (QS. 13:41)” (ar-Ra’du: 40-41)

Allah berfirman kepada Rasul-Nya: wa im maa nuriyannaka (“Dan jika Kami perlihatkan kepadamu.”) Wahai Muhammad sebagian dari (siksa) yang Kami ancamkan kepada mereka, musuh-musuhmu berupa kehinaan dan musibah di dunia ini; au natawaffannaka (“Atau Kami wafatkan kamu.”) Sebelum hal tersebut terjadi, hal itu tidak penting bagimu. Fa innamaa ‘alaikal balaagh (“Karena sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja.”) Maksudnya, Kami mengutusmu hanyalah untuk menyampaikan risalah (mis) Allah kepada mereka, dan kamu telah melaksanakan perintah tersebut. Wa ‘alainal hisaab (“Sedang Kami lah yang menghisab amalan mereka.”) Maksudnya, memperhitungkan perbuatan mereka, lalu membalasnya.

Firman Allah: awalam yarau annaa na’til ardla nanqushuHaa min ath-raafiHaa (“Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah [orang-orang kafir], lalu Kami kurangi daerah-daerah itu [sedikit demi sedikit] dari tepi-tepinya?”) Ibnu `Abbas berkata: “Apakah mereka tidak melihat, bahwa Kami membukakan bagi Muhammad daerah demi daerah.” Dalam satu riwayat dari Ibnu `Abbas, ia mengatakan: “Yaitu rusaknya bumi dengan kematian para ulama, fuqaha’, dan orang-orang baik dari bumi ini.”

Pendapat pertama lebih utama, yaitu dengan kemenangan Islam atas kemusyrikan, daerah demi daerah, sebagaimana firman Allah: “Dan sesungguhnya telah Kami binasakan kampung-kampung yang ada di sekitarmu.” (QS. Al-Ahqaaf: 27). Pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nahl ayat 38-40

16 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nahl (Lebah)
Surah Makkiyyah; surah ke 16: 128 ayat

tulisan arab alquran surat an nahl ayat 38-40“Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpahnya yang sungguh-sungguh: ‘Allah tidak akan membangkitkan orang yang mati.’ (Tidak demikian), bahkan (pasti Allah akan membangkitkannya), sebagai suatu janji yang benar dari Allah, akan tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui, (QS. 16:38) agar Allah menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu, dan agar orang-orang kafir itu mengetahui bahwasanya mereka adalah orang-orang yang berdusta. (QS. 16:39) Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: ‘Kun (jadilah),” maka jadilah ia. (QS. 16:40)” (an-Nahl: 38-40)

Allah Ta’ala berfirman seraya memberi khabar tentang orang-orang musyrik, bahwa sesungguhnya mereka telah bersumpah dengan nama Allah dengan sebenar-benarnya sumpah. Maksudnya bersungguh-sungguh dalam sumpah, bahwa sesungguhnya Allah tidak membangkitkan orang-orang yang telah mati, maksudnya mereka menjauhkan keyakinan itu dan mendustakan para Rasul, ketika para Rasul itu memberi khabar kepada mereka dengan hal itu dan mereka bersumpah untuk melanggarnya, maka Allah berfirman seraya menyangkal dan menolak mereka: balaa (“Tidak demikian”) maksudnya bahkan akan ada; wa’dan ‘alaiHi haqqan (“sebagai suatu janji [pasti Allah akan membangkitkannya] yang benar dari Allah,”) maksudnya pasti ada.

Wa laakinna aktsaran naasi laa ya’lamuun (“Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”) maksudnya karena kebodohan mereka, mereka menetang para Rasul, danmereka berada dalam kekafiran. Kemudian Allah Ta’ala menyebutkan hikmah-Nya pada hari dikembalikannya semua makhluk, dan hari bangkitnya jasad-jasad, yaitu hari Kiamat. Maka Allah menjelaskan kepada mereka: liyubayyina laHum (“Agar Allah menjelaskan kepada mereka.”) maksudnya kepada manusia; alladzii yakhtalifuuna fiiHi (“Apa yang mereka perselisihkan itu,”) maksudnya dari setiap sesuatu.

“Supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat, dan terhadap apa yang telah mereka kerjakan, dan memberi balasan kepada orang orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga).” (QS. An-Najm: 31)

Wa liya’lamal ladziina kafaruu annaHum kaanuu kaadzibiin (“Dan agar orang-orang kafir itu mengetahui bahwasanya mereka adalah orang-orang yang berdusta,”) maksudnya dalam sumpah mereka bahwasanya Allah tidak membangkitkan orang yang telah mati. Maka dari itu mereka akan digiring pada hari Kiamat ke neraka Jahannam, Malaikat Zabaniyah berkata kepada mereka:
“(Dikatakan kepada mereka): ‘Inilah neraka yang dahulu kamu selalu mendustakannya.’ Maka apakah ini sihir ataukah kamu tidak melihat? Masuklah kamu ke dalamnya (rasakanlah panas apinya); maka baik kamu bersabar atau tidak sama saja bagimu; kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Ath-Thuur: 14-16)

Kemudian Allah Ta’ala memberi khabar tentang kekuasaan-Nya atas apa yang Dia kehendaki. Dan sesungguhnya tidak ada sesuatu apapun yang mampu melemahkan-Nya baik di bumi maupun di iangit, akan tetapi perintah-Nya, jika Dia menghendaki sesuatu, Dia berfirman: kun fayakuun (“Jadilah! Maka jadilah sesuatu itu,”) dan kebangkitan manusia kelak apabila Allah menghendaki keadaan seperti itu, maka Dia memerintahkan dalam satu kali perintah, terjadilah sesuatu yang Dia kehendaki.

Innamaa qaulunaa lisyai-in idzaa aradnaaHu an naquula laHuu kun fayakuun (“Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: ‘Kun (jadilah)!’ Maka jadilah ia.”) Maksudnya, Allah Ta’ala tidak membutuhkan pengukuhan terhadap apa yang Dia perintahkan, karena sesungguhnya Allah Ta’ala tidak ada yang mampu melarang dan tidak ada yang mampu menentang, karena Dia yang Mahaesa, Mahaperkasa dan Mahaagung, yang kerajaan-Nya, kekuasaan-Nya, dan wibawa-Nya mengalahkan segala sesuatu. Maka tidak ada Ilah selain Dia, dan tidak ada Rabb selain-Nya.

Dan berkata Ibnu Abi Hatim bahwa al-Hasan Ibnu Muhammad lbnu ash-Shabah menyebutkan, Hajjaj mengisahkan kepadaku dari Ibnu Juraij, ia berkata, ‘Atha’ memberi khabar kepadaku bahwa sesungguhnya dia mendengar Abu Hurairah ra. berkata, “Allah Ta’ala berfirman: ‘Anak Adam mencaci-maki Aku dan itu tidak layak baginya, dan anak Adam mendustai Aku dan itu tidak layak baginya. Adapun dustanya terhadap-Ku, maka Allah berfirman: ‘Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpahnya yang sungguh-sungguh: Allah tidak akan membangkitkan orang yang mati.’”

Abu Hurairah berkata: “Aku (Allah) berfirman: ‘(Tidak demikian), bahkan (pasti Allah akan membangkitkannya), sebagai suatu janji yang benar dari Allah, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Adapun cacimakinya terhadap-Ku, maka Allah berfirman: ‘Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga,’ (QS. Al-Maa-idah: 73). Dan aku katakan: ‘Katakanlah: Dialah Allah yang Mahaesa, Allah adalah Rabb yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.’ (QS. Al-Ikhlas: 1-4)

Demikianlah Ibnu Abi Hatim meriwayatkan hadits secara mauquf, dan hadits itu diriwayatkan dalam ash-Shahihain secara marfu’ dengan lafazh yang berbeda.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Israa’ Ayat 40

13 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Israa’
(Memperjalankan di Malam Hari)
Surah Makkiyyah; surah ke 17: 111 ayat

tulisan arab alquran surat al israa ayat 40“Maka apakah patut Rabb memilihkan bagimu anak-anak laki-laki sedang Dia sendiri mengambil anak-anak perempuan di antara para Malaikat, sesungguhnya kamu benar-benar mengucapkan kata-kata yang besar (dosa-nya).” (QS. Al-Israa’: 40)

Allah berfirman seraya membantah orang-orang musyrik yang berdusta dan yang mengatakan bahwa para Malaikat adalah anak perempuan Allah Ta’ala. Dengan demikian, mereka telah menganggap para Malaikat itu berkelamin perempuan. Selanjutnya mereka menuduh bahwa para Malaikat itu adalah anak perempuan Allah, lalu mereka jadikan sebagai sembahan. Dengan demikian, mereka telah melakukan kesalahan besar pada ketiga kesempatan di atas.

Allah berfirman dalam mengingkari mereka: afa ash-faakum rabbukum bil baniin (“Maka apakah patut Rabb memilihkan bagi kamu anak-anak laki-laki.”) Maksudnya, mengkhususkan bagi kalian anak laki-laki. Wattakhdza minal malaa-ikati inaatsan (“Sedang Dia sendiri mengambil anak-anak perempuan di antara para Malaikat?”) Maksudnya, Dia memilih untuk diri-Nya sendiri seperti yang kalian katakan, yaitu anak perempuan.

Kemudian dengan keras menolak anggapan mereka itu seraya berfirman: innakum lataquuluuna qaulan ‘adhiiman (“Sesungguhnya kamu benar-benar mengucapkan kata-kata yang besar [dosanya].”) Yakni, dalam tindakan kalian bahwa Allah mempunyai anak laki-laki. Kemudian kalian menjadikan anak laki-laki-Nya itu menjadi anak perempuan, sedangkan kalian tidak menginginkan mereka (anak-anak perempuan) sebagai anak bagi kalian, bahkan kalian akan menguburkan anak perempuan itu hidup-hidup. Itu merupakan pembagian yang curang.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 40-41

9 Feb

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 40-41“Hai Bani Israil, ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut [tunduk]. (QS. Al-Baqarah: 40). Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan [al-Qur’an] yang membenarkan apa yang ada padamu [Taurat], dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang murah, dan hanya kepada Aku-lah kamu harus bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 41)

Melalui firman-Nya ini, Allah memerintahkan Bani Israil untuk masuk agama Islam dan mengikuti Nabi Muhammad serta menggugah mereka dengan menyebut bapak mereka, Israil, yaitu Nabi Ya’qub as. Pengertiannya, “Hai anak-anak hamba shalih yang taat kepada Allah, jadilah kalian seperti ayah kalian (Ya’qub) dalam mengikuti kebenaran.” Hal itu seperti jika anda mengatakan, “Wahai anak orang yang mulia, berbuatlah seperti ini. Wahai anak si pemberani, tandingilah para pahlawan,” atau juga, “Hai anak orang alim, tuntutlah ilmu.” Dan lain sebagainya.

Dan di antara hal itu juga adalah firman Allah: “Yaitu anak cucu dari orang-orang yang kami bawa bersama-sama Nub. Sesungguhnya ia adalah hamba (Allah) yang banyak besyukur.” (QS. Al-Israa’: 3).

Dengan demikian yang dimaksud dengan Israil adalah Ya’qub. Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas, bahwa Israil seperti ungkapan anda, Abdullah.

Dan firman-Nya, “Ingatlah akan nikmat-Ku yang Aku anugerahkan kepadamu.” Mujahid mengatakan, yaitu nikmat yang dikaruniakan Allah swt. kepada mereka, baik yang disebutkan maupun tidak, di antaranya berupa memancarnya mata air dari batu, turunnya manna (makanan manis seperti madu) dan salwa (burung sebangsa puyuh) dan selamatnya mereka dari perbudakan Fir’aun.

Abu al-Aliyah mengatakan: “Nikmat Allah itu berupa ketetapan-Nya untuk menjadikan di antara mereka para nabi dan rasul serta menurunkan kepada mereka kitab-kitab.” Mengenai hal ini, penulis katakan bahwa yang demikian itu seperti ucapan Musa as. kepada mereka (Bani Isra’il):
“Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah yang diberikan kepadamu ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antara kamu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepada-mu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun di antara umat-umat yang lain.” (QS. Al-Maa-idah: 20),. Yaitu pada zaman mereka.

Firman-Nya, “Dan penuhilah janjimu kepadaKu, niscaya Aku penuhi janji-ku kepadamu. ” Yaitu janji yang telah Aku ambil darimu untuk mengikuti Nabi Muhammad saw. ketika datang kepadamu, maka Aku akan memenuhi apa yang telah Aku janjikan kepadamu, jika engkau membenarkan dan mengikutinya, dengan melepaskan beban dan belenggu yang menjeratmu dikarenakan dosa-dosamu.

Al-Hasan al-Bashri mengatakan, itulah makna firman Allah swt:
“Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian dari Bani Israil dan telah Kami angkat di antara mereka 12 orang pemimpin dan Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik; sesungguhnya Aku akan menghapus dosa-dosamu. Dan sesungguhnya kamu akan Aku masukkan ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai.” (QS. Al-Maa-idah: 12).

Dan firman-Nya, “Dan hanya kepada-Ku kamu harus- takut (tunduk). ” Artinya, hendaklah kalian takut Aku akan menurunkan kepada kalian apa yang aku turunkan kepada nenek moyang sebelum kalian berupa berbagai macam musibah yang kalian sendiri telah mengetahuinya, seperti perubahan bentuk muka dan lain-lainnya. Ini merupakan perpindahan dari targhib ke tarhib. Dengan targhib dan tarhib itu Allah menyeru mereka untuk kembali kepada kebenaran, mengikuti Rasulullah, berpegang pada al-Qur’an, menaati perintah-Nya, membenarkan berita-berita yang disampaikan-Nya, dan Allah menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus.

Oleh karena itu Dia berfirman: “Dan berimanlah kepada apa yang Aku turunkan, yang membenarkan apa yang ada padamu.” Artinya, wahai sekalian Ahlul Kitab, berimanlah kepada kitab yang telah Aku turunkan, yang membenarkan apa yang ada pada kalian. Yang demikian itu karena mereka mendapatkan Muhammad saw. tertulis di dalam kitab Taurat dan Injil yang ada pada mereka.

Firman-Nya, “Dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya. ” Sebagian ahli tafsir mengatakan: “Yaitu satu kelompok yang pertama kali kafir terhadapnya.” Ibnu Abbas mengatakan: artinya, janganlah kalian menjadi orang yang pertama kali kafir terhadapnya sedang kalian memiliki pengetahuan tentang hal itu yang tidak dimiliki oleh orang lain.

Abu al-Aliyah mengatakan, artinya, janganlah kalian menjadi orang yang pertama kali kafir kepada Muhammad, dari golongan ahli kitab setelah kalian mendengar pengutusannya. Demikian juga yang dikemukakan oleh Hasan al-Bashri, as-Suddi dan Rabi’ bin Anas. Dan yang menjadi pilihan Ibnu Jarir bahwa dhamir (kata ganti) dalam “biHi”itu kembali kepada al-Qur’an yang telah disebutkan pada firman-Nya, “Yang telah Aku turunkan. ”

Kedua pendapat di atas seluruhnya benar, sebab keduanya saling berkaitan. Karena orang yang kafir terhadap al-Qur’an berarti telah kafir kepada Muhammad saw. Dan orang yang kafir kepada Muhammad saw. berarti telah kafir kepada al-Qur’an.

Sedangkan firman-Nya, “Orang yang pertama kali kafir kepadanya.” Yakni orang yang pertama kali kafir kepadanya dari Bani Israil. Karena banyak orang yang telah kafir sebelum mereka, yakni orang-orang kafir Quraisy dan suku Arab. Dan yang dimaksud dengan orang yang pertama kali kafir kepadanya adalah orang dari kalangan Bani Israil. Karena orang Yahudi Madinah merupakan Bani Israil yang pertama kali menjadi sasaran Allah di dalam al-Qur’an. Maka kekafiran mereka kepadanya menunjukkan bahwa mereka adalah yang pertama kali kafir kepadanya dari bangsa mereka.

Dan firman-Nya, “Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang murah.” Artinya, janganlah kalian menukar iman kalian kepada ayat-ayat-Ku dan pembenaran terhadap Rasul-Ku dengan dunia dan segala isinya yang menggiurkan, karena ia merupakan suatu yang sedikit lagi binasa (tidak kekal).

Sebagaimana diriwayatkan Abdullah bin al Mubarak, dari Abdur Rahman bin Zaid bin Jabir, dari Harun bin Yazid, bahwa Hasan al Bashri pemah ditanya mengenai firman Allah “Harga yang murah,” maka ia pun menjawab, “Harga yang murah adalah dunia dan segala isinya.”

Mengenai firman-Nya, “Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang murah,” Abu Ja’far meriwayatkan dari Rabi’ bin Anas, dari Abu al-Aliyah, artinya, “Janganlah kalian mengambil upah dalam mengajarkannya,” hal itu telah tertulis di dalam kitab mereka yang terdahulu: “Hai anak Adam ajarkan (ilmu ini) dengan cuma-cuma sebagaimana diajarkan kepada kalian secara cuma-cuma.”

Dalam kitab Sunan Abi Dawud diriwayatkan hadits dari Abu Hurairah katanya Rasulullah bersabda: “Barangsiapa mempelajari suatu ilmu yang semestinya dicari untuk memperoleh ridha Allah, kemudian ia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan kemewahan dunia, maka ia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud).

Adapun mengajarkan ilmu dengan mengambil upah, jika hal itu merupakan suatu fardhu ain bagi dirinya, maka tidak dibolehkan mengambil upah darinya, tetapi dibolehkan baginya menerima dari Baitul Mal guna memenuhi kebutuhan diri dan keluarganya. Tetapi jika ia tidak memperoleh suatu apa pun dari pengajarannya dan hal itu menghalanginya dari mencari penghasilan, maka berarti pengajaran tersebut tidak menjadi fardhu ain, dan dengan demikian dibolehkan baginya mengambil upah darinya.

Demikian menurut Imam Malik, Syafi’i, Ahmad, dan mayoritas ulama. Sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari, dari Abu Sa’id, tentang kisah orang yang tersengat kalajengking, Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya yang lebih berhak kalian ambil darinya upah adalah Kitabullah.”

Demikian juga tentang kisah seorang wanita yang dilamar, Rasulullah bersabda: “Aku nikahkan engkau kepadanya dengan mahar berupa surat yang engkau hafal dari al-Qur’an.”

Sedangkan hadits Ubadah bin ash-Shamit, yang mengisahkan bahwa ia pernah mengajarkan kepada salah seorang dari ahli Shuffah sesuatu dari al-Qur’an, lalu orang itu memberinya hadiah berupa busur panah. Kemudian ia menanyakan hal itu kepada Rasulullah saw. maka beliau pun bersabda: “Jika engkau suka dikalungi dengan busur dari api neraka, maka terimalah busur tersebut.” (HR. Abu Dawud). Maka akhirnya is menolak pemberian busur itu.

Hal serupa juga diriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab secara marfu’. Jika sanad hadits ini shahih, menurut kebanyakan para ulama, di antaranya Abu Umar bin Abdul Barr, dapat dipahami bahwa yang dimaksud ilmu di sini adalah ilmu yang diajarkan oleh Allah, sehingga tidak diperbolehkan baginya untuk menukar pahala mengajarkannya dengan busur panah. Namun, jika sejak semula ia mengajarkan ilmu dengan mengambil upah, maka hal itu dibenarkan, sebagaimana yang telah diterangkan dalam kedua hadits terakhir di atas. Wallahu a’lam.

Dan firman-Nya: “Dan hanya kepada-Ku kamu harus bertakwa.” Dari Thalq bin Habib, Ibnu Abi Hatim mengatakan: “Takwa berarti berbuat taat kepada Allah dengan mengharap rahmat-Nya atas nur (petunjuk) dari-Nya, dan meninggalkan maksiat kepada Allah di atas nur (petunjuk) dari Allah, karena takut akan siksa-Nya.”

Sedangkan makna firman-Nya, “Dan hanya kepada-Ku kamu harus bertakwa,” itu berarti bahwa Allah swt. mengancam mereka (Bani Israil) atas kesengajaan mereka menyembunyikan kebenaran dan menampakkan yang sebaliknya serta pembangkangan mereka terhadap Rasulullah saw.

&

Hadits Arbain ke 40: Mengambil Dunia untuk Keselamatan di Akhirat

29 Nov

Hadits Arbain ke 40; DR.Musthafa Dieb Al-Bugha Muhyidin Mistu

Hadits Arbain nomor 40 (Keempat puluh)

Ibnu ‘Umar ra. berkata, Rasulullah saw. memegang pundakku seraya berkata: “Dia dunia ini, jadilah kamu seperti orang asing atau penyeberang jalan.” Ibnu Umar berkata, ‘Jika kamu di soren hari, jangan menunggu pagi hari; dan jika berada di pagi hari jangan menunggu sore hari. Manfaatkan waktu sehatmu sebelum kamu sakit, dan waktu hidupnya sebelum kamu mati.” (HR Bukhari)

URGENSI HADITS

Hadits ini mempunyai nilai dan manfaat yang sangat besar. Mencakup berbagai macam kebaikan dan nasehat. Sebagai pijakan bagi seorang muslim untuk tidak terlena dengan dunia. Karena seorang muslim tidak sepatutnya menjadikan dunia sebagai tempat tinggal abadi, tidak bersikap tamak dan berlebih-lebihan. Namun hanya sebatas kebutuhan. Itu pun sebagai bekal perjalanan menuju akhirat.

KANDUNGAN HADITS

1. Rasulullah saw. adalah seorang Murabbi
Rasulullah saw. adalah pengajar dan murabbi (pendidik) bagi para shahabatnya. Bahkan bisa disebut pakar pendidikan. Karena dalam mendidik para shahabat, beliau telah memakai berbagai sistem dan metode yang dipakai oleh praktisi pendidikan dewasa ini.

Beliau memanfaatkan moment-moment yang ada, menggunakan berbagai ilustrasi, mengajarkan sesuai kebutuhan, dengan bahasa yang sesuai dengan tingkat intelektual masyarakat. Semua itu dilakukan dengan keteladanan dan kesabaran yang tinggi. Dalam hadits ini misalnya Rasulullah saw. memegang pundah Abdullah bin Umar ra. agar lebih perhatian terhadap apa yang akan disampaikannya.

Mengenai metode pengajaran Nabi ini, Ibnu Hajar al-Haitami berkata: “Salah satu bentuk metode tersebut adalah pendidik menyentuh salah satu anggota tubuh anak didik, ketika menyampaikan suatu ilmu. Hal ini juga pernah dialami oleh Ibnu Mas’ud ra. ia berkata: “Rasulullah telah mengajarkan kepadaku cara bertasyahud, sambil memegang telapak tanganku.”

Hikmah dari metode ini adalah lahirnya perasaan dekat dan akan lebih perhatian. Sehingga akan senantiasa ingat. Karena hampir mustahil kejadian seperti ini akan dilupakan begitu saja. terlebih hal semacam itu biasanya tidak dilakukan kecuali kepada orang yang disayangi. Dengan demikian, apa yang telah dilakukan Rasulullah saw. juga merupakan tanda bahwa beliau menyayangi Ibnu Umar ra. dan Ibnu Mas’ud ra.” (Fathul Mubin Li Syarhil Arba’in, hal 276).

2. Dunia akan sirna dan akhirat kekal abadi.
Manusia hidup di dunia sesuai kehendak Allah swt. Suatu hari nanti ia pasti mati.
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (Ali Imraan: 185)
“Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati [pula].” (az-Zumar: 30)
Namun demikian tak ada seorangpun yang mengetahui kapan ajalnya tiba. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah: “Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui [dengan pasti] apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Luqman: 34)

Berapapun panjangnya usia seseorang, dunia tetap akan berakhir baginya. Ini adalah realita nyata yang bisa kita saksikan. Setelah kematian, setiap manusia mau tidak mau akan merasakan kehidupan yang kekal abadi, itulah kehidupan akhirat. Setelah Allah membangkitkan manusia dari kubur dan memperhitungkan seluruh perbuatan yang telah dilakukan di dunia, lalu memutuskan tempatnya, di surga yang luasnya seluas langit dan bumi atau di neraka yang bara-nya berupa manusia dan batu.

Mukmin yang berakal tidak akan tertipu degan dunia, ia mengangap dunia hanya sebagai ladang untuk menyemai benih-benih amal shalih aga ia bisa memetik buahnya di akhirat kelak. Dunia hanya sebagai bekal agar bisa selamat melewati shirath yang berada di neraka jahanam.

Hakekat ini sudah dipesankan oleh semua nabi. Sebagaimana firman Allah yang menceritakan tentang orang yang beriman dari keluarga Fir’aun: “Sesungguhnya kehidupan ini hanyalah kesenangan [sementara] dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.” (Ghafir: 39)
Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Perumpamaan dunia bagiku adalah ibarat seorang musafir yang istirahat sejenak di bahwa sebuah pohon lalu meneruskan perjalanannya.” (HR Muslim)

3. Dunia Hanyalah Jembatan yang Menghubungkan ke Akhirat.
Seorang mukmin menjalani hidup di dunia ini hanyalah bagaikan orang asing atau seseorang yang menyeberang jalan. Ia tidak menetap di dunia, terlebih disibukkan atau tertipu dengan gemerlap kemewahannya. Baginya, dunia hanyalah tempat untuk sekedar lewat dan bukan tempat tinggal yang abadi.
Firman Allah: “Kehidupan di dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Ali Imraan: 185)

Dengan begitu, seorang mukmin akan senantiasa merasa bahwa ia orang asing yang hanya tinggal sementara, atau orang yang menyeberangi jalan. Ia senantiasa merindukan tempat asalnya, yaitu di sisi Allah swt. Maka ia tidak akan merasakan ketenteraman sejati tinggal di dunia meskipun dikaruniai usia panjang. Ia tidak membangun rumah yang megah dan menumpuk perabotan yang mewah. Ia merasa cukup dengan apa yang didapat. Itupun untuk bekal di tempat tinggal yang sebenarnya. Karena ia tahu persis bahwa di sanalah ia akan tinggal selama-lamanya. Demikian seharusnya sikap seorang mukmin terhadap dunia. Karena dunia bukanlah tempat tinggal yang abadi. Dia hanyalah sepenggal kehidupan yang singkat, jika dibandingkan dengan kehidupan di akhirat.

Firman Allah: “Padahal kenikmatan hidup di dunia [dibandingkan dengan kehidupan] di akhirat hanyalah sedikit.”(at-Taubah: 38)
“Dan Sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.” (al-Mukmin: 39)
Hasan Bashri berkata: “Seorang mukmin ibarat orang asing. Tidak merasa sedih dengan sedikitnya kekayaan di dunia, dan tidak berebut untuk mendapatkannya. Ia sibuk dengan urusannya, ketika orang lain sibuk dengan urusannya masing-masing.”
Ibnu Rajab berkata: “Ketika Allah menciptakan Adam as. ia dan istrinya ditempatkan di surga. Setelah itu keduanya dikeluarkan, dan dijanjikan untuk kembali lagi beserta keturunannya yang shalih. Seorang mukmin tentu akan merindukan tanah airnya. Dan cinta tanah air adalah bagian dari iman.”

4. Nasehat Ibnu Umar
Abdullah bin Umar ra. menerima nasehat dari Rasulullah saw. dengan sepenuh hati dan fikiran, maka ia adalah murid teladan yang kemudian menjadi pemancar cahaya hidayah. Ia menyerukan untuk bersikap zuhud di dunia. Jika di malam hari, seseorang merasa seakan umurnya tidak sampai esok hari. Demikian juga sebaliknya. Bahkan menyangka bahwa ajalnya lebih dekat dari itu.
Ibnu ‘Abbas ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Manfaatkan lima perkara sebelum datangnya lima perkara yang lain: masa muda sebelum masa tua, sehat sebelum sakit, kaya sebelum miskin, luang sebelum sibuk dan hidup sebelum mati.” (HR Hakim)

5. Setiap muslim hendaklah segera melakukan kebaikan, banyak melakukan ketaatan dan berbagai kebaikan lainnya. Juga hendaknya tidak menyia-nyiakan waktu dengan menunda-nunda pekerjaan, karena kita tidak tahu kapan ajal itu akan tiba.

6. Bagi setiap muslim hendaknya memanfaatkan setiap kesempatan yang dimilikinya sebelum terlambat.

7. Hadits di atas merupakan dorongan untuk bersikap zuhud terhadap dunia. Yang dimaksud zuhud di sini bukanlah meninggalkan usaha, akan tetapi mewaspadai dunia agar tidak melupakan akhirat.

8. Seorang muslim adalah orang yang bersungguh-sungguh dalam melakukan amal shalih, memperbanyak kebaikan, di samping itu ia juga senantiasa takut terhadap azab dari Allah swt. atau seperti kondisi seseorang yang sedang menempuh perjalanan. Ia senantiasa bersungguh-sungguh untuk mencapai tujuan. Juga sangat ketakutan kalau-kalau tersesat atau tidak bisa meneruskan perjalanan, sehingga tidak bisa sampai tujuan.

9. Waspada terhadap orang-orang yang berperilaku buruk. Mereka ini ibarat perampok yang senantiasa menghalangi langkah orang-orang yang menempuh perjalanan, agar tidak bisa sampai ke tempat tujuan.

10. Perbuatan yang bersifat duniawi wajib dilakukan, jika dalam rangka mencukupi kebutuhan jiwa dan mendapatkan berbagai manfaat. Bagi seorang muslim, semua itu akan dijadikan jembatan menuju akhirat.

11. Hadits ini mendorong kita untuk bersikap proporsional antara dunia dan akhirat.

&