Tag Archives: 41

Tafsir Ibnu Katsir Surah At-Taubah ayat 41

3 Nov

Tafsir Ibnu Katsir Surah At-Taubah ayat 41
Tafsir Al-Qur’an Surah At-Taubah (Pengampunan)
Surah Madaniyyah; surah ke 9: 129 ayat

tulisan arab alquran surat at taubah ayat 41

“Berangkatlah kalian, baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan diri kalian di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui.”

Sufyan As-Sauri telah meriwayatkan dari ayahnya, dari Abud Duha Muslim ibnu Sabih sehubungan dengan makna ayat ini, yaitu firman-Nya: Berangkatlah kalian, baik dalam keadan merasa ringan ataupun merasa berat. (At-Taubah: 4l) Ayat ini adalah ayat yang mula-mula diturunkan dari surat Bara’ah.

Mu’tamir ibnu Sulaiman telah meriwayatkan dari ayahnya yang mengatakan bahwa Hadrami menduga sejumlah orang telah menceritakan kepadanya bahwa barangkali ada seseorang di antara mereka yang sakit dan berusia lanjut. Lalu ia mengatakan, “Sesungguhnya aku tidak berdosa.” Maka Allah menurunkan firman-Nya:

{انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالا}

Berangkatlah kalian, baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat. (At-Taubah: 41)

Maka Allah Swt. memerintahkan untuk mobilisasi umum ikut dengan Rasulullah Saw. pada tahun Perang Tabuk untuk memerangi musuh-musuh Allah dari kalangan orang-orang Romawi yang kafir dari Ahli Kitab. Allah mengharuskan kaum mukmin untuk berangkat berperang bersama Rasulullah Saw. dalam keadaan apa pun, baik ia dalam keadaan semangat maupun dalam keadaan malas, dan baik dalam keadaan sulit maupun dalam keadaan mudah. Maka Allah Swt. berfirman:

{انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالا}

Berangkatlah kalian, baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat. (At-Taubah: 41)

Ali ibnu Zaid telah meriwayatkan dari Anas, dari Abu Talhah, bahwa baik telah berusia tua maupun masih berusia muda semuanya harus berangkat; Allah tidak mau mendengar alasan dari seseorang pun. Kemudian Abu Talhah berangkat menuju Syam dan berjihad hingga gugur.

Menurut riwayat lain, Abu Talhah membaca surat Bara’ah, lalu bacaannya itu sampai pada firman-Nya:

{انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ}

Berangkatlah kalian, baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan diri kalian di jalan Allah.(At-Taubah: 41)

Lalu ia berkata, “Saya berpendapat bahwa Tuhan kita telah meme­rintahkan kepada kita untuk berangkat berperang, baik yang telah berusia tua maupun yang masih muda. Hai anak-anakku persiapkanlah perbekalan untukku!” Maka anak-anaknya berkata, “Semoga Allah merahmatimu. Sesungguhnya engkau telah ikut berperang bersama Rasulullah Saw. hingga beliau wafat, dan bersama Abu Bakar hingga ia wafat, juga bersama Umar hingga ia wafat. Maka biarkanlah kami yang berperang sebagai ganti darimu, wahai ayah.” Tetapi Abu Talhah menolak. Maka ia pergi berjihad dengan menaiki kapal laut, lalu ia gugur. Mereka yang bersamanya tidak menemukan suatu pulau pun untuk mengebumikan jenazahnya, kecuali sesudah sembilan hari. Tetapi selama itu jenazahnya tidak membusuk. Lalu mereka mengebumikannya di pulau yang baru mereka jumpai itu.

Hal yang sama telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Ikrimah, Abu Saleh, Al-Hasan Al-Basri. Suhail ibnu Atiyyah, Muqatil ibnu Hayyan, Asy-Sya’bi, dan Zaid ibnu Aslam, bahwa mereka telah mengatakan sehubungan dengan makna ayat ini:Berangkatlah kalian, baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat. ( At-Taubah: 41) Yakni baik telah berusia lanjut maupun berusia muda, semuanya harus berangkat.

Hal yang sama telah dikatakan oleh Ikrimah, Ad-Dahhak, Muqatil ibnu Hayyan dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang, Mujahid mengatakan bahwa baik berusia muda maupun berusia tua. dan baik kaya maupun miskin, semuanya harus berangkat. Hal yang sama telah dikatakan oleh Abu Saleh dan lain-lainnya. Al-Hakam ibnu Utaibah mengatakan, baik dalam keadaan sibuk maupun dalam keadaan tidak sibuk.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Berangkatlah kalian, baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat. (At-Taubah: 41) Artinya, berangkatlah kalian, baik dalam keadaan semangat ataupun dalam keadaan tidak bersemangat. Hal yang sama telah dikatakan oleh Qatadah.

Ibnu Abu Najih telah meriwayatkan dari Mujahid sehubungan dengan firman-Nya: Berangkatlah kalian, baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat. (At-Taubah: 41) Para sahabat mengatakan, di kalangan kami terdapat orang yang keberatan, orang yang mempunyai keperluan, orang yang miskin, orang yang sibuk, dan orang yang keadaannya mudah. Maka Allah menurunkan firman-Nya menolak alasan mereka. Tiada lain bagi mereka kecuali harus berangkat, baik dalam keadaan ringan ataupun merasa berat. Yakni mereka tetap harus berangkat dalam keadaan apa pun yang mereka alami.

Al-Hasan ibnu Abul Hasan Al-Basri mengatakan pula bahwa baik dalam keadaan mudah ataupun dalam keadaan sulit, tetap harus berangkat. Semua pendapat di atas berpandangan kepada pengertian umum yang terkandung di dalam ayat, dan pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir.

Imam Abu Amr Al-Auza’i mengatakan, “Apabila perintah untuk berangkat berjihad ke arah negeri Romawi, maka semua orang yang merasa ringan dan berkendaraan harus berangkat. Dan apabila perintah untuk berangkat berjihad ditujukan ke arah pantai-pantai ini, maka semua orang harus berangkat, baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan baik mempunyai kendaraan ataupun jalan kaki.” Pendapat ini mengandung pengertian rincian tentang masalah tersebut.

Ibnu Abbas, Muhammad ibnu Ka’b, Ata Al-Khurrasani, dan lain-lainnya mengatakan bahwa ayat ini telah di-mansukh oleh firman Allah Swt.:

{فَلَوْلا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ}

Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang. (At-Taubah: 122)

Pembahasannya akan diterangkan kemudian.

As-Saddi telah mengatakan sehubungan dengan firman Allah Swt.: Berangkatlah kalian, baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat. (At-Taubah: 41) Baik dalam keadaan kaya ataupun miskin, dan baik dalam keadaan kuat ataupun lemah. Pernah datang kepada beliau Saw. seorang lelaki pada hari itu juga. Mereka (para perawi) menduga bahwa lelaki itu adalah Al-Miqdad, seorang yang gemuk lagi besar. Lalu Al-Miqdad mengadu kepada Rasulullah Saw. tentang kegemukannya itu, dan meminta izin kepada beliau untuk tidak ikut berangkat. Tetapi beliau menolak, dan pada hari itu juga turunlah firman Allah Swt.: Berangkatlah kalian, baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat. (At-Taubah: 41). Setelah ayat ini diturunkan, para sahabat merasa keberatan dengan perintah itu. Maka Allah me-mansukh-nya dengan firman Allah Swt.:

{لَيْسَ عَلَى الضُّعَفَاءِ وَلا عَلَى الْمَرْضَى وَلا عَلَى الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ مَا يُنْفِقُونَ حَرَجٌ إِذَا نَصَحُوا لِلَّهِ وَرَسُولِهِ}

Tidak dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, atas orang-orang yang sakit, dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. (At-Taubah: 91)

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ya’qub, telah menceritakan kepada kami Ibnu Ulayyah, telah menceritakan kepada kami Ayyub, dari Muhammad yang mengatakan bahwa Abu Ayyub ikut bersama Rasulullah Saw. dalam Perang Badar, kemudian ia tidak pernah ketinggalan dalam suatu peperangan pun bersama kaum muslim, kecuali sekali. Abu Ayyub apabila membacakan firman Allah Swt.: Berangkatlah kalian, baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat. (At-Taubah: 41) Lalu ia berkata, “Tiada pilihan lain bagiku kecuali harus berangkat berperang, baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat.”

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Sa’id ibnu Amr As-Sukuni, telah menceritakan kepada kami Baqiyyah, telah menceritakan kepada kami Jarir, telah menceritakan kepadaku Abdur Rahman ibnu Maisarah, telah menceritakan kepadaku Abu Rasyid Al-Harrani yang mengatakan bahwa ia bersua dengan Al-Miqdad ibnul Aswad —seorang pasukan berkuda Rasulullah Saw.— sedang duduk di atas sebuah peti uang di Himsa. Ia kelihatan jauh lebih besar daripada peti yang didudukinya itu karena tubuhnya yang gemuk lagi besar; saat itu ia hendak pergi berperang. Lalu aku (perawi) bertanya, “Sesungguh­nya Allah telah memberi maaf terhadap orang yang keadaannya seperti engkau ini.” Maka ia menjawab, “Telah diturunkan kepada kami surat Al-Bu’us (yakni ayat yang memerintahkan berangkat untuk berperang),” yaitu firman-Nya: Berangkatlah kalian, baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat. (At-Taubah: 41)

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Hibban ibnu Zaid Asy-Syar’ubi yang’mengatakan, “Kami berangkat berperang bersama Safwan ibnu Amr yang saat itu menjabat sebagai wali kota Himsa. Kami akan menuju ke arah Afsus sampai ke Jarajimah. Kemudian di antara orang-orang yang berangkat itu aku melihat seorang lelaki yang sangat tua. Karena usianya yang sangat tua itu kedua alis matanya hampir menutupi kedua matanya. Ia dari kalangan penduduk kota Dimasyq. Ia datang dengan mengendarai unta kendaraannya. Lalu aku menghadap (mendekat) kepadanya dan berkata, ‘Hai paman sesungguhnya Allah telah memberi maaf kepada orang yang seusiamu ini.’ Lelaki tua itu menjawab seraya mengerenyitkan kedua alisnya, ‘Hai anak saudaraku, Allah telah memerintahkan kepada kita untuk berangkat berperang, baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat. Ingatlah, sesungguhnya orang yang disukai oleh Allah pasti akan diberi cobaan, kemudian Allah mengembalikannya dan mengekalkannya. Dan sesungguhnya Allah itu mencoba hamba-hamba-Nya hanyalah kepada orang yang bersyukur, bersabar, dan berzikir, dan tidak menyembah kecuali hanya kepada Allah Swt.’.”

*******

Kemudian Allah Swt. menganjurkan untuk berinfak di jalan-Nya dan mengorbankan jiwa dan raga untuk memperoleh rida Allah dan Rasul-Nya.

Allah Swt. berfirman:

{وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ}

dan berjihadlah dengan harta dan diri kalian di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui. (At-Taubah: 41)

Maksudnya, hal itu lebih baik bagi kalian di dunia dan akhirat, karena kalian membelanjakan harta yang sedikit, lalu Allah memberi kalian ganimah yang banyak dari musuh kalian di dunia, selain pahala kemulia-an yang kalian simpan di akhirat nanti di sisi-Nya, seperti apa yang telah disebutkan oleh Nabi Saw. dalam salah satu hadisnya:

“وتَكفَّل اللَّهُ لِلْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِهِ إِنْ تَوَفَّاهُ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ، أَوْ يَرُدَّهُ إِلَى مَنْزِلِهِ نَائِلًا مَا نَالَ مِنْ أَجْرٍ أَوْ غَنِيمَةٍ”

Allah menjamin bagi orang yang berjihad di jalan-Nya, jika Allah mewafatkannya, bahwa Dia akan memasukkannya ke dalam surga, atau mengembalikannya ke rumahnya (dalam keadaan selamat) dengan menggondolpahala atau ganimah (harta rampasan perang).

Karena itulah dalam ayat lain disebutkan oleh firman-Nya:

{كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ}

Diwajibkan atas kalian berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kalian benci. Boleh jadi kalian membenci sesuatu padahal ia amat baik bagi kalian; dan boleh jadi (pula) kalian menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi kalian. Allah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui. (Al-Baqarah: 216)

Termasuk pula ke dalam pengertian ini sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Ia mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abu Addi, dari Humaid, dari Anas, dari Rasulullah Saw. yang telah bersabda kepada seorang lelaki, “Masuk Islamlah kamu!” Lelaki itu menjawab, “Saya masih belum suka.” Rasulullah Saw. bersabda:

“أَسْلِمْ وَإِنْ كُنْتَ كَارِهًا”

Masuk Islamlah kamu, sekalipun dirimu belum suka.

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 40-41

12 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 40-41“Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk Surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan. (QS. 7:40) Mereka mempunyai tikar tidur dari api nereka dan di atas mereka ada selimut (api nereka). Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang zhalim. (QS. 7:41)” (al-A’raaf: 40-41)

Firman Allah: laa tufattahu laHum abwaabus samaa-i (“Sekali-sekali tidak dibukakan pintu-pintu langit bagi mereka.”) Ibnu Juraij mengatakan: “Pintu-pintu langit itu tidak dibuka untuk amal perbuatan mereka dan juga ruh-ruh mereka.” Di dalam hal ini terdapat penggabungan antara dua pendapat. Wallahu a’lam.

Firman Allah Ta’ala: walaa yadkhuluunal jannata hattaa yalijul jamalu fii sammil khiyaath (“Dan tidak pula mereka masuk Surga, sehingga unta masuk ke lubang jarum.”) Demikian itulah yang dibaca dan ditafsirkan oleh jumhur ulama, yaitu unta. Ibnu Mas’ud mengatakan: “Yaitu unta jantan, anak unta betina.” Sedangkan dalam sebuah riwayat disebutkan: “Yaitu unta jantan pasangan (suami) unta betina.”

Al-Hasan al-Bashri mengatakan: “Sehingga seekor unta dapat masuk ke dalam lubang jarum.”
Hal yang sama juga dikemukakan oleh Abut `Aliyah dan adh-Dhahhak.

Dan firman Nya: laHum min jaHannama miHaadun (“Mereka mempunyai tikar tidur dari api Neraka.”) Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi mengatakan: “Yaitu alas tidur.”
Wa min fauqiHim ghawaasy (“Dan di atas mereka ada selimut [api Neraka]”) Dia mengatakan: “Yaitu, kain selimut.” Hal yang senada juga dikemukakan oleh adh-Dhahhak bin Muzahim dan juga as-Suddi.

Wa kadzaalika najzidh dhaalimiin (“Demikianlah Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang dhalim.”)

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yunus ayat 41-44

5 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Yunus
Surah Makkiyyah; surah ke 10: 109 ayat

tulisan arab alquran surat yunus ayat 41-44“Jika mereka mendustakan kamu, maka katakanlah: ‘Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu berlepas diii terhadap apa yang aku kerjakan dan aku berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan.’ (QS. 10:4 1) Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkanmu. Apakah kamu dapat menjadikan orang-orang tuli itu mendengar, walaupun mereka tidak mengerti. (QS. 10:42) Dan di antara mereka ada orang yang melihat kepadamu, apakah kamu dapat memberi petunjuk kepada orang-orang yang buta, walaupun mereka tidak dapat memperhatikan. (QS. 10:43) Sesungguhnya Allah tidak berbuat dhalim kepada manusia sedikit pun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat dhalim kepada diri mereka sendiri. (QS. 10:44)” (Yunus: 41-44)

Allah berfirman kepada Nabi-Nya Muhammad saw. “Jika orang musyrik mendustakanmu, maka berlepas dirilah dari mereka dan amal mereka.” fa qullii ‘amalii wa lakum ‘amalukum (“Maka katakanlah: ‘Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu.’”) Sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Katakanlah: ‘Hai orang-orang kafir, aku tidak akan beribadah kepada apa yang kamu ibadahi…”) (QS. Al-Kaafiruun: 1-2)

Ibrahim dan pengikut-pengikutnya pun berkata kepada kaumnya yang musyrikin: “Sesungguhnya kami berlepas diri darimu dan dari apa yang kamu ibadahi selain Allah….” (QS. Al-Mumtahanah: 4)

Firman-Nya: wa min Hum may yastami’u ilaika (“Dan di antara mereka ada yang mendengarkanmu.”) Maksudnya, mereka mendengarkan perkataanmu yang baik, al-Qur’an yang agung, hadits-hadits yang shahih, fashih, yang bermanfaat bagi hati, agama dan badan. Dan di sini sudah ada kecukupan yang agung/besar. Akan tetapi hat itu bukanlah urusanmu dan juga bukan urusan mereka, karena sesungguhnya kamu tidak mampu untuk membuat orang yang tuli menjadi mendengar, begitu juga untuk memberi petunjuk kepada mereka, kecuali jika Allah berkendak.

Wa min Hum may yandhuru ilaika (“Dan di antara mereka ada orang yang melihat kepadamu.”) Maksudnya, mereka melihat kepadamu dan kepada apa yang Allah berikan kepadamu, berupa ketenangan, perilaku yang baik dan akhlak yang mulia dan juga berupa bukti yang jelas atas kenabianmu, untuk orang-orang yang mempunyai pandangan dan akal, akan tetapi mereka memandang sebagaimana yang lainnya memandang, mereka tidak mendapatkan petunjuk sama sekali seperti yang telah didapatkan oleh yang lainnya. Akan tetapi orang-orang mukmin memandangmu dengan mata penghormatan dan orang-orang kafir memandangmu dengan mata penghinaan.
“Dan apabila mereka melihatmu (Muhammad), mereka hanyalah menjadikanmu sebagai ejekan…” (QS. Al-Furqaan: 41)

Kemudian Allah Ta’ala memberi kabar, bahwa sesungguhnya Allah tidak mendhalimi seorang pun, meskipun Allah telah memberi petunjuk kepada orang yang diberi petunjuk karenanya (Muhammad), menjadikan penglihatan kepada orang yang buta karenanya, membuka mata-mata yang buta, telinga-telinga yang tuli, hati-hati yang lalai dan menyesatkan banyak orang karenanya, maka Allahlah Hakim yang mengatur dalam kerajaan-Nya, dengan kehendak-Nya, Allah tidak ditanya tentang apa yang Allah perbuat, bahkan merekalah yang ditanya, karena ilmu-Nya, hikmah dan keadilan-Nya.

Karena itu Allah berfirman: innallaaHa laa yadhlimun naasa syai-aw wa laakinnan naasa anfusaHum yadhlimuun (“Sesungguhnya Allah tidak berbuat dhalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat dhalim kepada diri mereka sendiri.”)

Di dalam hadits dari Abu Dzar dari Nabi saw. apa yang beliau riwayatkan dari Rabbnya:
“Hai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kedhaliman atas diri-Ku. Aku menjadikannya haram di antara kamu, maka janganlah kamu saling mendhalimi, [-hingga akhir perkataan-Nya-] hai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya inilah amal-amalmu, Aku hitung untukmu, kemudian Aku membalasnya. Maka barangsiapa yang mendapatkan kebaikan, maka hendaklah ia memuji Allah. Dan barangsiapa yang mendapatkan selain itu, maka janganlah ia menyesali kecuali dirinya sendiri.” (HR. Muslim)

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Huud ayat 41-43

30 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Huud
Surah Makkiyyah; surah ke 11: 123 ayat

tulisan arab alquran surat huud ayat 41-43“Dan Nuh berkata: ‘Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya.’ Sesungguhnya Rabbku benar-benar Mahapengampun lagi Mahapenyayang. (QS. 11:41) Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: ‘Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.’ (QS. 11:42) Anaknya menjawab: ‘Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!’ Nuh berkata: ‘Tidak ada yang (dapat) melindungi (di) hari ini dari adzab Allah selain Allah (saja) yang Mahapenyayang.’ Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan. (QS. 11:43)” (Huud: 41-43)

Allah berfirman seraya memberi kabar tentang Nuh as, bahwa sesungguhnya Allah berfirman kepada orang-orang yang diperintah membawanya (naik) ke dalam perahu bersamanya: irkabuu fiiHaa bismillaaHi majreeHaa wa mursaaHaa (“Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya.”) Maksudnya, dengan (menyebut) nama Allah untuk perjalanannya di atas permukaan air dan dengan (menyebut) nama Allah untuk akhir perjalanannya, yaitu waktu pendaratannya.

Allah Ta’ala berfirman:
“Apabila kamu dan orang-orang yang bersamamu telah berada di atas bahtera itu, maka ucapkanlah: ‘Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami dari orang-orang yang dhalim’. Dan berdo’alah: ‘Ya Rabbku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik Pemberi tempat.’” (QS. Al-Mu’minuun: 28-29)

Untuk itu, disunnahkan membaca basmalah dalam permulaan segala sesuatu, baik ketika menaiki perahu maupun ketika menaiki binatang, sebagaimana keterangannya akan ditemui dalam Surat az-Zukhruf, insya Allah dan kepada-Nyalah kita yakin.

Firman-Nya: inna rabbii laghafuurur rahiim (“Sesungguhnya Rabbku benar-benar Mahapengampun lagi Mahapenyayang.”) Hal ini berhubungan dengan penyebutan tentang pembalasan terhadap orang-orang kafir, yaitu dengan menenggelamkan mereka semuanya, Allah menyebutkan bahwa sesungguhnya Dia adalah Mahapengampun lagi Mahapenyayang, sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Sesungguhnya Rabbku amat cepat siksa-Nya,dan sesungguhnya Allah adalah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.” (QS. Al-A’raaf: 167)

Firman-Nya: wa Hiya tajrii biHim fii maujin kal jibaali (“Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung.”) Maksudnya, perahu itu berjalan membawa mereka di atas permukaan air yang (tingginya) telah melebihi semua daratan bumi hingga menutupi puncak-puncak gunung. Dan perahu ini berjalan di atas air dengan izin Allah, pengayoman-Nya, perlindungan-Nya, pertolongan-Nya dan anugerah-Nya.

Firman-Nya: wa naadaa nuuhunibnaHuu (“Dan Nuh memanggil anaknya,”) dan ayat seterusnya. Anaknya ini adalah anak yang ke empat yang bernama Yaam, dia adalah kafir, ayahnya memanggilnya untuk naik perahu dan beriman bersama-sama mereka dan agar tidak tenggelam sebagaimana orang-orang kafir tenggelam.

Qaala sa-aawii ilaa jabaliy ya’shimunii minal maa-i (“Anaknya menjawab: ‘Aku akan mencari perlindungan ke gunung yan dapat memeliharaku dari air bah.’”) Dia yakin karena kebodohannya, bahwa air bah tidak akan sampai ke puncak gunung, dan bahwa dia akan aman di sana dari bahaya ketenggelaman. Maka ayahnya, Nuh as. berkata kepadanya: laa ‘aashimal yauma min amrillaaHi illaa mar rahim (“Tidak ada yang melindungi hari ini dari adzab Allah, selain Allah [saja] yang Mahapenyayang.”) maksudnya, pada hari ini [hari ketika terjadinya air bah] tidak ada satupun yang dapat melindungi diri dari siksa Allah.

Dikatakan bahwa, kata “’Aashimun” [pelindung] mempunyuai arti “ma’shuumun” (yang dilindungi), sebagaimana dikatakan “thaa’imun” [pemberi makan] dan kalimat “kaasan” (pemberi pakaian) mempunyai arti “math’uumun” (yang diberi pakaian), dan “maksuu” [yang diberi pakaian].

Wa haala baina Humal mauju fa kaana minal mughraqiin (“Dan gelombang menjadi penghalang di antara keduanya, maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.”)

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yusuf ayat 41

27 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Yusuf
Surah Makkiyyah; surah ke 12: 111 ayat

tulisan arab alquran surat yusuf ayat 41“Hai kedua temanku dalam penjara, adapun salah seorang di antara kamu berdua akan memberi minum tuannya dengan khamr; adapun yang seorang lagi maka ia akan disalib, lalu burung memakan sebagian dari kepalanya. Telah diputuskan perkara yang kamu berdua menanyakannya (kepadaku).” (Yusuf: 41)

Yusuf mengatakan kepada mereka berdua: yaa shaahibayis sijni ammaa ahadukumaa fayasqii rabbaHuu khamran (“Hai kedua temanku dalam penjara, adapun salah seorang dari kalian berdua maka akan memberi minum tuannya dengan khamr”) yaitu bagi yang bermimpi bahwa dia memeras anggur, tetapi tidak menentukan orangnya agar tidak membuatnya berduka. Oleh karena itu, ia tidak menjelaskannya dalam kata-kata selanjutnya: wa ammal aakharu fayush-labu fata’kuluth thairu mir ra’siHi (“Adapun yang seorang lagi maka dia akan disalib, lalu burung akan memakan sebagian dari kepalanya”) yaitu untuk orang yang bermimpi bahwa dia membawa roti di atas kepalanya. Lalu memberitahukan kepada mereka berdua bahwa hal itu sudah ditakdirkan demikian dan pasti akan terjadi, karena mimpi seseorang itu merupakan nasib selama belum dita’birkan, tetapi bila sudah dita’birkan, maka pasti terjadi.

Ats-Tsauri meriwayatkan dari `Ammarah bin al-Qa’qa’, dari Ibrahim bin ‘Abdullah mengatakan: “Setelah mereka berdua mengatakan apa yang dikatakan dan dijawab oleh Yusuf, mereka kemudian mengatakan: “Kami tidak bermimpi apa-apa.” Maka Yusuf menjawab: qudliyal amrul ladzii fiiHi tastaftiyaan (“Telah diputuskan perkara yang kalian berdua menanyakannya kepadaku.”)

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ar-Ra’du ayat 40-41

24 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Ar-Ra’du (Guruh)
Surah Madaniyyah; surah ke 13: 43 ayat

tulisan arab alquran surat ar ra'du ayat 40-41“Dan jika Kami perlihatkan kepadamu sebagian (siksa) yang Kami ancamkan kepada mereka atau Kami wafatkan kamu (hal itu tidak penting bagimu) karena sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja, sedang Kami-lah yang menghisab amalan mereka. (QS. 13:40) Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah (orang-orang kafir), lain Kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya? Dan Allah menetapkan hukum (menurut kehendak-Nya), tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya, dan Allah-lah yang Mahacepat hisab-Nya. (QS. 13:41)” (ar-Ra’du: 40-41)

Allah berfirman kepada Rasul-Nya: wa im maa nuriyannaka (“Dan jika Kami perlihatkan kepadamu.”) Wahai Muhammad sebagian dari (siksa) yang Kami ancamkan kepada mereka, musuh-musuhmu berupa kehinaan dan musibah di dunia ini; au natawaffannaka (“Atau Kami wafatkan kamu.”) Sebelum hal tersebut terjadi, hal itu tidak penting bagimu. Fa innamaa ‘alaikal balaagh (“Karena sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja.”) Maksudnya, Kami mengutusmu hanyalah untuk menyampaikan risalah (mis) Allah kepada mereka, dan kamu telah melaksanakan perintah tersebut. Wa ‘alainal hisaab (“Sedang Kami lah yang menghisab amalan mereka.”) Maksudnya, memperhitungkan perbuatan mereka, lalu membalasnya.

Firman Allah: awalam yarau annaa na’til ardla nanqushuHaa min ath-raafiHaa (“Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah [orang-orang kafir], lalu Kami kurangi daerah-daerah itu [sedikit demi sedikit] dari tepi-tepinya?”) Ibnu `Abbas berkata: “Apakah mereka tidak melihat, bahwa Kami membukakan bagi Muhammad daerah demi daerah.” Dalam satu riwayat dari Ibnu `Abbas, ia mengatakan: “Yaitu rusaknya bumi dengan kematian para ulama, fuqaha’, dan orang-orang baik dari bumi ini.”

Pendapat pertama lebih utama, yaitu dengan kemenangan Islam atas kemusyrikan, daerah demi daerah, sebagaimana firman Allah: “Dan sesungguhnya telah Kami binasakan kampung-kampung yang ada di sekitarmu.” (QS. Al-Ahqaaf: 27). Pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ibrahim ayat 38-41

24 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Ibrahim
Surah Makkiyyah; surah ke 14: 52 ayat

tulisan arab alquran surat ibrahim ayat 38-41“Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan, dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit. (QS. 14:38) Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Isma’il dan Ishaq. Sesungguhnya Rabbku benar-benar Mahamendengar (memperkenankan) do’a. (QS. 14:39) Ya Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Rabb kami, perkenankan do’aku. (QS. 14:40) Ya Rabb kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari Kiamat).” (QS. 14:41)” (QS. Ibrahim: 38-41)

Ibnu Jarir mengatakan, firman Allah ini memberitakan tentang Ibrahim al-Khalil, bahwa ia berkata: rabbanaa innaka ta’lamu maa tukhfii wa maa tu’lin (“Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan.”) Maksudnya, Engkau mengetahui maksud dan tujuanku dalam do’aku, dan apa yang kuinginkan dengan do’aku untuk penduduk negeri ini, yaitu semata-mata hanya mengharapkan keridhaan-Mu dan keikhlasan untuk-Mu, karena Engkau mengetahui segala sesuatu baik lahir maupun bathinnya, tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Mu, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit.

Kemudian Ibrahim bersyukur memuji Allah atas karunia-Nya berupa anak-anak yang diberikan kepadanya pada usianya yang sudah lanjut itu, dengan berkata: alhamdu lillaaHil ladzii waHabalii ‘alal kibari ismaa’iila wa ishaaqa inna rabbii lasamii’ud du’aa’ (“Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di ban’ tua [ku] Isma’il dan Ishaq. Sesungguhnya Rabbku benar-benar Mahamendengar [memperkenankan] doa.”) Maksudnya, Allah mengabulkan permintaan orang yang berdo’a kepada-Nya dan Dia telah mengabulkan apa yang kuharapkan, yaitu mendapatkan anak.

Selanjutnya ia berkata: rabbij’alnii muqiimash shalaati (“Ya Rabbku, jadikanlah aku orang yang tetap mendirikani shalat.”) Maksudnya, selalu menjaganya dan melaksanakan semua ketentuan (syarat/rukun)nya. Wa min dzurriyyatii (“Dan anak cucuku,”) jadikanlah mereka orang-orang yang tetap mendirikan shalat juga.
Rabbanaa wa taqabbal du’aa’ (“Ya Rabb kami perkenankanlah do aku,”) yaitu semua yang kumohon-kan kepada-Mu.

Rabbanaghfirlii waliwaalidayya wa lil mu’miniina (“Ya Rabb kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu-bapakku dan orang-orang mukmin,”) semuanya; yauma yaquumul hisaab (“Pada hari terjadinya hisab [hari Kiamat].”) Maksudnya, pada hari Engkau mengadakan perhitungan terhadap hamba-hamba-Mu, lalu memberikan balasan yang sesuai dengan amal perbuatan mereka, yang baik mendapat balasan kebaikan dan yang buruk mendapat balasan yang buruk pula.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nahl ayat 41-42

16 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nahl (Lebah)
Surah Makkiyyah; surah ke 16: 128 ayat

tulisan arab alquran surat an nahl ayat 41-42“Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui, (QS. 16:41) (yaitu) orang-orang yang sabar dan hanya kepada Rabb saja mereka bertawakkal. (QS. 16:42)” (an-Nahl: 41-42)

Allah memberi kabar tentang balasan-Nya yang diperuntukkan bagi orang-orang yang hijrah di jalan-Nya untuk mencari keridhaan-Nya, yaitu orang-orang yang meninggalkan rumah, saudara dan teman dekat, demi mengharapkan pahala Allah dan ganjaran-Nya.

Dimungkinkan pula bahwa sebab turunnya ayat adalah berkenaan dengan orang-orang yang hijrah ke Habasyah, yaitu orang-orang yang disakiti secara kejam oleh kaumnya di Makkah, sehingga mereka keluar dari tengah-tengah mereka menuju negeri Habasyah, agar mereka dapat melaksanakan ibadah kepada Rabbnya, dan di antara tokoh mereka adalah `Utsman bin `Affan yang disertai isterinya Ruqayyah binti Rasulullah saw, dan Ja’far bin Abi Thalib, anak paman Rasulullah dan Abu Salamah bin `Abdil Aswad, mereka dalam satu kelompok yang berjumlah sekitar delapan puluh orang laki-laki dan perempuan yang mereka semua adalah orang-orang jujur.

Mudah-mudahan Allah meridhai mereka dan Allah membuat mereka ridha, dan Allah telah melaksanakan hal itu, Allah Ta’ala menjanjikan untuk mereka balasan yang baik di dunia dan di akhirat, maka Allah berfirman: lanubawwa-annaHum fid-dun-yaa hasanatun (“Pasti Kami akan memberi tempat yang bagus kepada mereka di dunia.”)

Ibnu `Abbas, asy-Sya’bi dan Qatadah berkata: “Yaitu Madinah,” dan Mujahid berkata: “Berupa rizki yang baik,” dan kedua pendapat ini tidak saling bertentangan, karena sesungguhnya mereka meninggalkan rumah dan harta, kemudian Allah mengganti mereka dengan yang lebih baik di dunia, karena sesungguhnya orang yang meninggalkan sesuatu demi Allah, Allah menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik dari sesuatu itu untuknya.

Dan itu semua telah terjadi, karena sesungguhnya Allah telah menempatkan mereka di berbagai negeri, dan Allah jadikan mereka menguasai penduduknya, dan jadilah mereka pemimpin-pemimpin dan hakim-hakim. Masing-masing dari mereka adalah pemimpin untuk orang-orang yang bertakwa.

Dan Allah memberi khabar bahwa pahala yang Dia berikan untuk orang-orang Muhajirin di negeri akhirat adalah lebih besar daripada yang Dia berikan kepada mereka di dunia, maka Allah berfirman: wa la ajrul aakhirati akbaru (“Dan sesunguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar,”) maksudnya daripada sesuatu yang Kami berikan kepada mereka di dunia: lau kaanuu ya’lamuun (“Kalau mereka mengetahui,”) maksudnya, jika orang-orang yang tidak mau hijrah bersama mereka, mengetahui apa yang Allah simpan untuk orang-orang yang mentaati-Nya dan mengikuti Rasul-Nya.

Maka dari itu berkata Husyaim, dari al-‘Awwam dari seseorang yang bercerita kepadanya, sesunguhnya `Umar Ibnul Khaththab bila memberi suatu pemberian kepada orang laki-laki dari kaum Muhajirin, beliau berkata: “Ambillah, mudah-mudahan Allah memberi barakah untukrnu di dalamnya, inilah yang Allah janjikan untukmu di dunia, dan yang Allah simpan untukmu di akhirat lebih mulia.” Kemudian beliau membaca ayat ini: “Pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia, dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui.”

Kemudian Allah mensifati mereka, Allah berfirman: alladziina shabaruu wa ‘alaa rabbiHim yatawakkaluun (“[Yaitu] orang-orang yang sabar dan hanya kepada Rabb saja mereka bertawakkal.”) Maksudnya, mereka bersabar atas siksaan dari kaumnya, sambil bertawakkal
kepada Allah yang membuat akibat lebih baik di dunia dan akhirat.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Israa’ Ayat 41

13 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Israa’
(Memperjalankan di Malam Hari)
Surah Makkiyyah; surah ke 17: 111 ayat

tulisan arab alquran surat al israa ayat 41“Dan sesungguhnya dalam al-Qur’an ini Kami telah ulang-ulangi (peringatan-peringatan), agar mereka selalu ingat. Dan ulangan peringatan itu tidak lain hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran).” (QS. Al-Israa’: 41)

Allah berfirman yang artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulang kepada manusia dalam al-Qur’an ini tiap-tiap macam perumpamaan.” (QS. Al-Israa’: 89)

Maksudnya, Kami (Allah) telah mengulang-ulang ancaman di dalamnya agar mereka mengingat hujjah-hujjah, penjelasan-penjelasan, dan berbagai pelajaran, sehingga mereka akan menjauhkan din dari kemusyrikan, kedhaliman dan pembuatan berita bohong yang mereka lakukan.

Wamaa yaziiduHum (“Dan ulangan peringatan itu tidak menambah mereka,”) yaitu orang-orang dhalim di antara mereka; illaa nufuuran (“Melainkan melarikan diri,”) yakni dari kebenaran, dan jauh dari kebenaran itu.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Anfaal Ayat 41

9 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anfaal
(Harta Rampasan Perang)
Surah Madaniyyah; surah ke 8: 75 ayat

tulisan arab alquran surat al anfaal ayat 41“Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnus sabil, jika kamu beriman ‘kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) dihari al-Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Anfaal: 41)

Allah menjelaskan rincian mengenai apa yang telah Allah syari’atkan secara khusus untuk umat yang mulia ini daripada seluruh umat terdahulu, yaitu penghalalan harta rampasan perang. Kata ghanimah berarti harta benda yang diambil dari orang-orang kafir, dengan mengerahkan kuda dan para penunggangnya (setelah berperang). Sedangkan al fai’ adalah harta benda yang diperoleh dari orang-orang kafir tanpa melalui peperangan terlebih dahulu, misalnya harta benda yang diserahkan dengan jalan damai atau ditinggal mati dan tidak ada pewarisnya, jizyah, pajak dan lain sebagainya, demikian menurut madzhab Imam asy-Syafi’i dan seluruh ulama Salaf dan Khalaf.

Di antara ulama ada yang mengartikan fai’ sama seperti pengertian yang diberikan pada ghanimah, demikian juga sebaliknya.

Orang yang membedakan antara pengertianfai’ dan ghanimah mengatakan, surah al-Hasyr ayat 6-8 diturunkan berkenaan dengan harta benda fai’, sedangkan al-Anfaal ayat 41 diturunkan berkenaan dengan ghanimah.

Adapun orang yang menyerahkan masalah ghanimah dan fai’ kepada pendapat Imam (pemimpin), ia mengatakan: “Tidak ada perbedaan antara al-Hasyr dan ayat yang membahas tentang pembagian harta rampasan menjadi lima bagian, jika ditentukan melalui pandangan Imam. Wallahu a’lam.

Dengan demikian, firman Allah: wa’lamuu anna maa ghanimtum min syai-in fa anna lillaaHi khumusaHu (“Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kalian peroleh sebagai rampasan perang maka sesungguhnya seperlima untuk Allah,”) merupakan penekanan untuk membagi harta rampasan perang menjadi lima bagian, berapa pun jumlahnya, meskipun hanya benang dan jarum.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari kiamat kelak ia akan datang membawa apa yang dikhinatinya itu. Kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan atas apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan)
setimpal, sedang mereka tidak dianiaya.” (QS. Ali-‘Imraan: 161)

Dan firman-Nya: fa anna lillaaHi khumusaHuu wa lir rasuuli (“Maka sesungguhnya seperlima untuk Allah dan Rasul.”) Dalam hal ini, para’ulama telah berbeda pendapat.

Adh-Dhahhak menceritakan dari Ibnu `Abbas radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah jika mengirim pasukan, lalu mereka kembali dengan membawa harta rampasan perang, maka beliau membagi ghanimah itu menjadi lima dan yang seperlima dibagi lima, setelah itu beliau membaca ayat: wa’lamuu anna maa ghanimtum min syai-in fa anna lillaaHi khumusaHu wa lir rasuuli (“Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kalian peroleh sebagai rampasan perang maka sesungguhnya seperlima untuk Allah dan Rasul,”) Dengan demikian, kalimat: “Bagian untuk Allah adalah seperlima,” merupakan kata kunci. (Karena): lillaaHi maa fis samaawaati wa maa fil ardli (“Hanya kepunyaan Allahlah apa yang ada di langit dan di bumi.” (QS. Al-Bagarah: 284).
Sehingga dengan demikian, bagian Allah dan bagian Rasul dijadikan satu.

Demikian juga pendapat Ibrahim an-Nakha’i, Hasan bin Muhammad bin al-Hanafiyyah, al-Hasan al-Bashri, asy-Sya’bi, `Atha’ bin Abi Rabah, Abdullah bin Buraidah, Qatadah, Mughirah dan beberapa ulama lainnya, bahwa bagian Allah dan Rasul-Nya adalah satu. Dan hal itu diperkuat oleh apa yang diriwayatkan oleh Imam al-Hafizh Abu Bakar al-Baihaqi dengan isnad shahih, dari `Abdullah bin Syaqiq, dari seseorang, di mana ia mengatakan: Aku pernah mendatangi Nabi saw. ketika beliau berada di lembah al-Qura dan beliau sedang menawarkan seekor kuda. Lalu kukatakan: “Ya Rasulallah, bagaimana pendapatmu mengenai ghanimah?” Beliau menjawab: “Seperlimanya untuk Allah dan empat seperlimanya untuk yang ikut perang.” Kutanyakan: “Apakah tidak ada seseorang yang lebih berhak atasnya dari yang lain?” Beliau menjawab: “Tidak, dan tidak juga bagian yang engkau keluarkan dari sakumu, maka engkau tidak lebih berhak dari saudaramu yang muslim.”

Ibnu Jarir menceritakan, `Imran bin Musa memberitahu kami, kami diberitahu oleh `Abdul Warits, kami diberitahu oleh Abban, dari al-Hasan, ia mengatakan bahwa al-Hasan pernah mewasiatkan seperlima dari hartanya seraya berkata: “Ketahuilah, aku merelakan hartaku pada apa yang Allah ridha terhadap diri-Nya sendiri.”

Kemudian orang-orang yang mengatakan hal di atas berbeda pendapat. Telah diriwayatkan oleh `Ali bin Abi Thalhah, dari Ibnu `Abbas, ia mengatakan, ghanimah itu dibagi menjadi lima bagian. Empat dari seperlima itu diserahkan kepada orang yang berperang, satu dari seperlima lainnya dibagi lagi menjadi empat perlima. Maka, seperempat untuk Allah dan Rasulullah. Apa yang menjadi bagian Allah dan Rasul-Nya diperuntukkan untuk kerabat Nabi saw. dan beliau tidak mengambil sedikit pun dari seperlima itu.

Mengenai firman Allah: wa’lamuu anna maa ghanimtum min syai-in fa anna lillaaHi khumusaHu wa lir rasuuli (“Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kalian peroleh sebagai rampasan perang maka sesungguhnya seperlima untuk Allah dan Rasul,”) Ibnu Abi Hatim menceritakan dari `Abdullah bin Buraidah, ia mengatakan: “Bagian untuk Allah adalah untuk Nabi-Nya, sedangkan bagian untuk Rasulullah adalah untuk isteri-isteri beliau.”

`Abdul Malik bin Abi Sulaiman menceritakan dari `Atha’ bin Abi Rabah, ia mengatakan: “Bagian seperlima bagi Allah dan Rasul adalah satu, beliau boleh membawa dan menggunakannya sekehendak hati beliau.”

Yang demikian ini lebih umum dan mencakup, di mana Rasulullah dapat menggunakan bagian seperlima yang dijadikan Allah Ta’ala sebagai miliknya dan menyerahkannya kepada umatnya sekehendak hatinya. Yang demikian itu diperkuat oleh apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari `Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, `Abdullah bin `Amr, dari Rasulullah saw, yang membahas hal yang sama tentang kisah seperlima harta rampasan dan larangan berkhianat (mengambil harta rampasan).

Dan dari `Amr bin `Anbasah, bahwa Rasulullah saw. pernah mengerjakan shalat bersama para sahabat dengan menghadap ke unta dari harta rampasan. Setelah salam, beliau mengambil satu bulu unta tersebut dan kemudian bersabda:
“Tidak dihalalkan bagiku ghanimah kalian meski hanya (sekecil bulu.P-t-) ini melainkan hanya seperlima dan seperlima itu dikembalikan kepada kalian.” (HR. Abu Dawud dan an-Nasa’i.)

Nabi saw. pernah memiliki sesuatu dari ghanimah yang dipilih untuk dirinya sendiri, berupa budak laki-laki atau budak perempuan atau kuda atau pedang atau semisalnya. Sebagaimana hal tersebut telah ditegaskan oleh Muhammad bin Sirin dan `Amir asy-Sya’bi yang diikuti oleh mayoritas ularna.

Imam Ahmad dan Imam at-Tirmidzi meriwayatkan, dan at-Tirmidzi menghasankannya dari Ibnu `Abbas, bahwa Rasulullah pernah mengambil pedangnya yang bernama dzulfiqar pada waktu perang Badar dan itulah yang beliau pernah mimpikan pada perang Uhud. Oleh karena itu, banyak para ulama menjadikan hal yang demikian itu sebagai bagian dari berbagai keistimewaan untuk beliau. (=Rasulullah saw pernah bermimpi melihat keretakan pada pedangnya pada perang Uhud. Kemudian beliau menafsirkannya dengan kematian salah seorang dari anggota keluarganya. Dan itu dibenarkan dengan kematian yang dialami oleh Hamzah.)

Ulama lainnya berpendapat, bagian seperlima itu dikelola oleh Imam (pemimpin) untuk kepentingan kaum muslimin, sebagaimana ia mengelola harta fai’. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: “Yang demikian itu merupakan pendapat Imam Malik dan mayoritas ulama salaf. Dan inilah yang paling shahih.”

Para ulama telah berbeda pendapat mengenai bagian seperlima yang diterima Rasulullah, apa yang harus dilakukan oleh orang-orang sepeninggal beliau terhadap bagian tersebut.

Ada ulama yang berpendapat, bahwa bagian tersebut diberikan kepada orang yang memegang tampuk kepemimpinan setelah beliau. Pendapat tersebut diriwayatkan dari Abu Bakar, `Ali, Qatadah dan sekelompok ulama. Mengenai hal tersebut, terdapat sebuah hadits marfu’.

Ulama lainnya berpendapat, bagian seperlima tersebut dipergunakan untuk kepentingan kaum muslimin. Sedangkan ulama yang lain lagi berpendapat, bahwa bagian tersebut dikembalikan pada ashnaf lain yang terdiri dari kaum kerabat, anak-anak yatim, orang miskin dan ibnus sabil. Pendapat terakhir inilah yang menjadi pilihan Ibnu Jarir.

Kemudian, para ulama juga berbeda pendapat tentang kedua bagian (bagian Nabi dan kerabat Nabi) itu setelah wafatnya Rasulullah saw. Ada ulama yang berpendapat, bahwa bagian Nabi tersebut diserahkan kepada Khalifah setelah beliau. Sedangkan ulama lainnya berpendapat, bagian tersebut diserahkan kepada kerabat beliau. Dan ulama yang lain lagi berpendapat, bagian kerabat beliau diserahkan kepada kerabat Khalifah. Semua pendapat mereka itu sepakat
untuk menjadikan bagian Nabi dan bagian kerabat Nabi, untuk pengadaan kuda dan persiapan perang di jalan Allah.

Kedua bagian tersebut diputuskan demikian pada masa Khalifah Abu Bakar dan `Umar bin al-Khaththab radhiallahu anhuma. Al-A’masy meriwayatkan dari Ibrahim, bahwa Abu Bakar dan `Umar menggolongkan bagian Nabi untuk persiapan pengadaan kuda dan persenjataan. Kutanyakan (al-A’masy) kepada Ibrahim: “Bagaimana pendapat `Ali bin Abi Thalib mengenai hal
Ibrahim menjawab: “‘Ali adalah orang yang paling tegas dalam masalah Yang demikian itu merupakan pendapat sekelompok ulama rahimahumullah.

Adapun bagian kaum kerabat diberikan kepada Bani Hasyim dan Bani Muththalib, karena Bani Muththalib pernah membantu, menolong Bani Hasyim pada Hasa Jahiliyah dan pada permulaan Islam. Dan mereka secara bersama-sama masuk dalam syi’ib (tempat pemboikotan kaum muslimin pada awal masa Islam) karena marah demi Rasulullah saw, juga untuk menjaga keselamatannya.

Mereka (orang-orang dari Bani Hasyim dan Bani Muththalib) yang muslim, melaksanakan itu sebagai ketaatan kepada Allah dan kepada Rasul-Nya. Sedangkan mereka yang masih kafir, melaksanakan itu untuk melindungi kaum kerabat mereka dan karena rasa simpati dan taat kepada Abu Thalib, paman Nabi saw.

Sedangkan Bani `Abdu Syams dan Bani Naufal, meskipun mereka anak-anak paman Rasulullah dan keluarganya, namun mereka tidak setuju untuk melindungi beliau dan kaum muslimin, bahkan mereka memeranginya serta mencampakkannya dan mendukung kaum Quraisy untuk bermusuhan kepada beliau.

Oleh karena itu, Abu Thalib mencela mereka dalam syairnya lebih keras daripada yang lainnya karena kedekatannya, untuk itu ia berkata tengah-tengah syairnya:

Semoga Allah membalas `Abdu Syams dan Naufal.
Dengan siksaan yang buruk dengan segera, tanpa ditunda.
Dengan timbangan yang adil, yang tidak mengurangi sebesar biji gandum pun.
Peristiwa itu sendiri cukup sebagai saksi tanpa yang lain.
Sungguh sangat bodoh akal suatu kaum yang telah berubah.
Menjadi musuh bagi keluarga sendiri.
Kami adalah inti dari keluarga Bani Hasyim.
Dan keluarga Qushay sebagai tokoh-tokoh pendahulu.

Jubair bin Muth’im bin `Adi bin Naufal bercerita: “Aku pernah bersama `Utsman bin `Affan, yakni bin Abi al-‘Ash bin Umayyah Abdu Syams menuju Rasulullah saw. Kemudian kami katakan: `Ya Rasulallah, Bani Muththalib telah engkau beri bagian seperlima Khaibar (maksudnya ghanimah dari perang Khaibar), sedang kami tidak mendapatkannya, padahal kedudukan kami dan mereka adalah sama hadapanmu.’ Maka beliau pun menjawab: ‘Bani Hasyim dan Bani Muththalib adalah satu.’” (HR. Muslim; Begitu juga yang tercantuin dalam seluruh naskah. Sebenarnya hadits itu adalah riwayat al-Bukhari dalam beberapa bab. Hal ini merupakan kelalaian atau kekeliruan dari pengarang.)

Dalam beberapa riwayat hadits ini disebutkan: “Sesungguhnya mereka (Bani Hasyim dan Bani Muththalib) tidak meninggalkan kami pada masa jahiliyah dan juga pada masa Islam.” Demikian itulah jumhurul ulama, yang dimaksudkan dalam hadits tersebut adalah Bani Hasyim dan Bani Muththalib. Ibnu arir mengatakan, ulama lain berpendapat bahwa mereka adalah Bani Hasyim saja.

Kemudian diriwayatkan pula dari Khashif, dari Mujahid, ia mengatakan: “Allah mengetahui bahwa di kalangan Bani Hasyim terdapat orang-orang fakir, lalu Allah berikan kepada mereka bagian seperlima sebagai sedekah.”
Dalam riwayat lain, masih berasal dari Mujahid, ia mengatakan: “Mereka adalah kerabat Rasulullah yang tidak dihalalkan bagi mereka sedekah.”
Selanjutnya, hal yang sama juga diriwayatkan pula dari `Ali bin al-Husain.

Ibnu Jarir mengatakan, ulama lainnya mengatakan: “Mereka itu adalah orang Quraisy semuanya.” Yunus bin `Abdul A’la memberitahuku, ‘Abdullah bin Nafi’ memberitahuku, dari Abu Ma’syar, dari Sa’id al-Maqburi, ia bercerita: “Najdah pernah mengirim surat kepada `Abdullah bin `Abbas menanyakan tentang dzawil qurba (kaum kerabat). Maka surat tersebut dibalas oleh ‘Abdullah bin ‘Abbas seraya menuliskan: `Kami pernah berkata: `Sesungguhnya kami termasuk mereka, namun kaum kami menolak hal itu seraya mengatakan: Kaum Quraisy semuanya adalah kerabat.’”

Hadits terakhir ini derajatnya shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi dan an-Nasai’.

Firman Allah: wal yataamaa (“Dan anak-anak yatim.”) Yaitu, anak-anak yatim dari kaum muslimin. Para ulama masih berbeda pendapat, apakah yatim tersebut dikhususkan bagi yang fakir miskin, ataukah anak yatim secara umum yang mencakup kaya dan miskin? (Mengenai hal ini) terdapat dua pendapat.

Orang-orang miskin adalah, yang mempunyai kebutuhan dan tidak memiliki sesuatu yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pakaian dan tempat tinggal mereka.

Wabnis sabiili (“Dan Ibnus Sabil.”) Yaitu, musafir atau orang yang hendak bepergian menempuh jalan dengan jarak yang membolehkannya mengqashar shalat, sedang ia tidak mempunyai biaya perjalanan. Insya Allah, mengenai hal ini akan kami uraikan lebih lanjut dalam pembahasan ayat (mengenai) sedekah yang terdapat pada surat Bara-ah (at-Taubah). Dan kepada Allah kita berserah diri.

Firman-Nya: in kuntum aamantum billaaHi wa maa anzalnaa ‘alaa ‘abdinaa (“Jika kalian beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami.”) Maksudnya, laksanakanlah bagian seperlima dari ghanimah yang telah Kami syari’atkan kepada kalian, jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir, serta apa yang diturunkan kepada Rasul-Nya.

Oleh karena itu dalam shahihain (Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim), diriwayatkan dalam sebuah hadits dari `Abdullah bin `Abbas mengenai utusan `Abdul Qais, bahwa Rasulullah mengatakan kepada mereka: “Aku memerintahkan kepada kalian empat perkara dan melarang kalian dari empat perkara. Aku perintahkan kepada kalian untuk beriman kepada Allah.” Kemudian beliau saw. bersabda: “Tahukah kalian apakah yang dimaksud dengan iman kepada Allah itu? Yaitu kesaksian bahwa tidak ada Ilah (yang berhak untuk diibadahi) melainkan hanya Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah, mendirikan shalat, membayar zakat dan melaksanakan pembagian seperlima dari ghanimah.”

Rasulullah menjadikan pelaksanaan pembagian bagian seperlima dari ghanimah, sebagai bagian dari iman. Imam al-Bukhari sendiri telah menuliskan dalam bab tersendiri dalam kitab al-Iman, dari shahihnya yang ia beri judul, “Bab mengenai seperlima (dari ghanimah,-Ed) adalah bagian dari iman”.
Mengenai hadits ini, kami telah menguraikannya secara panjang lebar dalam buku Syarhul Bukhari, segala puji dan karunia hanya milik Allah.

Mengenai firman-Nya: wa maa anzalnaa ‘alaa ‘abdinaa yaumal furqaani (“Dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) pada hari al-Furqan.” Muqatil bin Hayyan berkata: “Yaitu, pada hari pembagian ghanimah.”

Firman-Nya: yaumal furqaani yauma taqal jam’aani wallaaHu ‘alaa kulli syai-in qadiir (“Pada hari
al-Furqan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”) Allah swt. mengingatkan akan nikmat dan kebaikan-Nya yang dikaruniakan kepada makhluk-Nya, di mana Allah telah memisahkan antara yang haq dan yang bathil pada perang Badar. Diberi nama al-Furqan, karena Allah Ta’ala pada saat itu meninggikan kalimat iman di atas kalimat kebathilan. Dan itu merupakan pertempuran yang pertama kali disaksikan oleh Rasulullah. Para sahabat beliau pada saat itu berjumlah tiga ratus dan belasan orang, sedangkan orang-orang musyrik berkisar antara seribu dan Sembilan ratus orang. Dan Allah swt. menjadikan orang-orang musyrik itu kalah, dari mereka terbunuh tujuh puluh orang lebih dan sebanyak itu pula yang ditawan.

Dari `Ali, ia menceritakan: “Malam al-Furqan adalah malam bertemunya dua kelompok pada pagi di hari Jum’at, hari ketujuh belas dari bulan Ramadhan.” Itulah yang shahih menurut ahli peperangan dan sejarah.

Bersambung