Tag Archives: 43

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nisaa’ ayat 43

8 Feb

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nisaa’ (Wanita)
Surah Madaniyyah; surah ke 4: 176 ayat

tulisan arab alquran surat an nisaa' ayat 43“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau kembali dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Mahapemaaf lagi Mahapengampun.” (QS. an-Nisaa’: 43)

Allah melarang hamba-hamba-Nya yang beriman, mengerjakan shalat dalam keadaan mabuk yang menyebabkan ia tidak tahu apa yang diucapkannya, serta melarang mendekati tempat shalat, yaitu masjid bagi orang yang junub, kecuali sekedar melintas dari satu pintu ke pintu lainnya, tanpa diam di dalamnya. Hal ini ada, sebelum diharamkannya khamr, sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadits yang telah kami sebutkan di dalam surat al-Baqarah: “Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan Judi.” (QS. Al1Bagarah: 219)

Sesungguhnya Rasulullah membacakan ayat ini (al-Baqarah: 219) kepada `Umar, yang kemudian berdo’a: “Ya Allah, jelaskanlah kepada kami tentang khamr secara tuntas.” Maka ketika turun ayat ini, beliau pun membacakannya kepada `Umar, lalu ia pun berdo’a: “Ya Allah, jelaskanlah kepada kami tentang khamr secara tuntas.”

Di saat itu mereka tidak meminum khamr di waktu shalat, sehingga turun ayat, “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkurban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-Maa-idah: 90) sampai pada firman-Nya: “Apakah kamu berhenti?” (QS. Al-Maa-idah: 91).

Maka `Umar berkata: “Kami telah berhenti, kami telah berhenti.”

Ibnu Abi Syaibah dalam sebab turunnya ayat ini, menyebutkan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, dari Sa’ad, ia berkata: “Empat ayat turun berkenaan dengan saya: Seorang Anshar membuat makanan, lalu ia memanggil orang-orang Muhajirin dan Anshar, kemudian kami makan dan minum hingga mabuk, lalu kami berbangga-bangga, hingga ada laki-laki yang mengangkat rahang unta menusuk hidung Sa’ad. Maka jadilah Sa’ad orang yang bolong hidungnya. Kejadian itu sebelum diharamkannya khamr, lalu turun ayat:

Yaa ayyuHal ladziina aamanuu laa taqrabush shalaata wa antum sukaaraa (“Hai orang-ornag yang beriman, janganlah kamu shalat sedang kamu dalam keadaan mabuk.”)

Hadits-nya secara panjang diriwayatkan oleh Muslim dan diriwayatkan pula oleh Ahlus Sunan kecuali Ibnu Majah.

(Sebab lain) Ibnu Abi Hatim mengatakan dari `Ali bin Abi Thalib, ia berkata: `Abdurrahman bin `Auf membuat makanan untuk kami, lalu mengundang kami dan menuangkan minuman khamr untuk kami, kemudian sebagian dari kami mulai mabuk dan waktu shalat pun tiba. Maka mereka mempersilahkan seseorang menjadi imam, sehingga terdengar bacaannya: qul yaa ayyuHal kaafiruun. Maa a’budu maa ta’buduun. Wa nahnu na’budu maa ta’buduun (“Katakanlah: `Wahai orang-orang kafir, aku tidak menyembah apa yang kamu sembah. Dan kami menyembah apa yang kamu sembah.'”)

Maka Allah menurunkan: Yaa ayyuHal ladziina aamanuu laa taqrabush shalaata wa antum sukaaraa hattaa ta’lamuu maa taquuluun (“Hai orang-orang yangberiman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehinggakamu mengerti apa yang kamu ucapkan.”) Demikianlah yang diriwayatkan olehat-Tirmidzi dan ia berkata: Hasan shahih.

Firman-Nya: hattaa ta’lamuu maa taquuluun (“Sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan”), ini ungkapan yang paling baik untuk batasan mabuk, yaitu tidak mengetahui apa yang diucapkannya. Karena orang yang sedang mabuk di waktu shalat, akan mencampur adukkan bacaan, tidak merenungkannya dan tidak khusyu’.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Anas, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Jika salah seorang kalian mengantuk dalam keadaan shalat, maka hendaklah ia kembali dan tidur, hingga mengetahui apa yang diucapkan.” Hadits ini hanya diriwayatkan oleh al-Bukhari, tanpa Muslim.

Adapun Muslim, ia meriwayatkannya bersama an-Nasa’i dari Ayyub dengan lafazh yang sama, dan pada sebagian lafazh hadits disebutkan: “Boleh jadi ketika istighfar ternyata ia mencaci dirinya sendiri.”

Firman Allah: walaa junuban illaa ‘aabirii sabiilin hattaa taghtasiluu (“[Jangan pula kamu hampiri masjid] sedang kamu dalam keadaan junub, kecuali sekedar berlalu saja.”)

Ibnu Abi Hatim mengatakan dari Ibnu `Abbas, ia berkata tentang firman Allah ini: “Janganlah kalian masuk ke dalam masjid, sedangkan kalian dalam keadaan junub, kecuali sekedar berlalu saja.” Dan ia pun berkata: “Engkau lewat selintas dan jangan duduk.”
Pendapat ini diriwayatkan dari `Abdullah bin Mas’ud, Anas, Abu`Ubaidah, Sa’id bin al-Musayyab, adh-Dhahhak, `Atha’, Mujahid, Masruq, Ibrahim an-Nakha’i, Zaid bin Aslam, Abu Malik, `Amr bin Dinar, al-Hakambin `Utbah, `Ikrimah, al-Hasan al-Bashri, Yahya bin Sa’id al-Anshari, Ibnu Syihab dan Qatadah.

Ibnu Jarir berkata: “Yazid bin Abi Hubaib menceritakan kepada kami tentang firman Allah “(Jangan pula kamu hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, kecuali sekedar berlalu saja.” Bahwa beberapa laki-laki Anshar, pintu keluarnya ada di dalam masjid. Di saat mereka terkena junub dan mereka tidak menemukan air, lalu mereka mencarinya dan mereka tidak mendapatkan jalan manapun kecuali melalui masjid”, maka Allah turunkan ayat tersebut, walaa junuban illaa ‘aabirii sabiilin hattaa taghtasiluu (“[Jangan pula kamu hampiri masjid] sedang kamu dalam keadaan junub, kecuali sekedar berlalu saja.”)

Dari ayat ini banyak imam berdalil, bahwa haram bagi orang yang junub diam di dalam masjid, dan dibolehkan sekedar melintas saja. Demikian pula dengan wanita haid atau nifas.

Di dalam Shahih Muslim riwayat dari`Aisyah, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda kepadaku: “Ambilkan aku tikar di dalam masjid.” Aku berkata: “Aku dalam keadaan haid.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya haidmu itu bukan di tanganmu.”

(Hadits lain), tentang makna ayat. Ibnu Abi Hatim mengatakan dari`Ali: walaa junuban illaa ‘aabirii sabiilin hattaa taghtasiluu (“[Jangan pula kamu hampiri masjid] sedang kamu dalam keadaan junub, kecuali sekedar berlalu saja.”) Ia tidak boleh mendekati shalat kecuali seorang musafir yang terkena junub, lalu tidak menemukan air, maka ia boleh shalat hingga menemukan air.”

Hadits serupa juga diriwayatkan dari Ibnu `Abbas dalam salah satu riwayatnya, Sa’id bin Jubair dan adh-Dhahhak. Pendapat ini didukung oleh hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Ahlus Sunan, dari Abu Dzar, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Tanah yang bersih adalah alat bersucinya seorang muslim, sekalipun kamu tidak menemukan air 10 musim haji (10 tahun). Apabila engkau telah menemukan air, maka usapkanlah ke kulitmu (berwudhulah), karena hal itu lebih baik bagimu.”

Kemudian setelah menyebutkan dua pendapat itu, Ibnu Jarir berkata: “Pendapat yang lebih tepat adalah yang mengatakan: yaitu, walaa junuban illaa ‘aabirii sabiilin (“[Jangan pula kamu hampiri masjid] sedang kamu dalam keadaan junub, kecuali sekedar berlalu saja.”) Maka tafsirnya ialih, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendekati masjid untuk shalat, sedangkan kalian dalam keadaan mabuk hingga kalian mengetahui apa yang kalian ucapkan. Dan jangan pula kalian mendekatinya dalam keadaan junub, hingga kalian mandi, kecuali sekedar melintas saja.

Al-‘Abiris-Sabil adalah orang yang melintas, lewat dan menyeberang. Inilah yang didukung oleh pendapat jumhur dan ini pula makna zhahir ayat tersebut. Seakan-akan Allah melarang melakukan shalat dengan cara kurang yang bertentangan dengan tujuannya, serta masuk ke tempat shalat dengan cara yang tidak sempurna, yaitu dalam keadaan junub yang menjauhkan shalat dan tempatnya, Wallahu a’lam.

Firman Allah: hattaa taghtasiluu (“Hingga kamu mandi”), merupakan dalil pendapat tiga imam, yaitu Abu Hanifah, Malik dan asy-Syafi’i, bahwa haram bagi orang yang junub berdiam di dalam masjid hingga ia mandi, atau tayamum jika tidak ada air atau tidak mampu menggunakannya.

Sedangkan Imam Ahmad berpendapat: “Bahwa ketika seseorang yang junub sudah berwudhu, maka boleh baginya diam di dalam masjid.” Sebagaimana yang diriwayatkan oleh dia sendiri (Ahmad) dan Sa’id bin Mansur di dalam sunannya dengan sanad yang shahih, bahwa para Sahabat, dahulu mereka melakukan hal itu. Sa’id bin Manshur berkata dalam sunannya dari `Atha’ bin Yasar, ia berkata: “Aku melihat beberapa Sahabat Rasulullah saw. duduk di dalam masjid dalam keadaan junub, ketika mereka telah berwudhu untuk shalat.” (Hadits ini berisnad shahih, menurut syarat Muslim). Wallahua’lam.

Firman Allah: wa in kuntum mardlaa au ‘alaa safarin au jaa-a ahadum minkum minal ghaa-ithi au laamastumun nisaa-a falam tajiduu maa-an fatayammamuu sha’iidan thayyiban (“Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau kembali dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mnndapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci).”)

Adapun penyakit yang dibolehkan untuk tayamum adalah penyakit yang apabila menggunakan air dikhawatirkan tidak sampainya air pada anggota wudhu (contoh: tangan yang diperban, memperparah atau menambah lama penyakitnya. Sedangkan safar adalah hal yang sudah dikenal tidak ada perbedaan antara perjalanan jauh atau pendek.

Firman-Nya: au jaa-a ahadum minkum minal ghaa-ithi (“Atau kembali dari tempat buang air.”) Al-Ghaith adalah lokasi tanah yang rendah (turun). Kemudian dipakai untuk istilah buang air besar dan itu adalah hadats kecil. Adapun firman Allah: au lamastumun nisaa-a, dibaca (lamastum) dan (laamastum). Para ahli tafsir dan para imam berbeda pendapat tentang maknanya, yang terbagi menjadi dua golongan:

Pertama, bahwa hal itu adalah kiasan dari Jima’, berdasarkan firman Allah: “Jika kamu menceraikan isteri-isterimu sebelum kamu bercampur dengan mereka, padahal sesungguhnya kamu sudah menentukan maharnya, maka bayarlah seperdua dari mahar itu yang telah kamu tentukan itu.” (QS. Al-Baqarah: 237).

Ibnu Abi Hatim mengatakan dari Ibnu `Abbas tentang ayat ini ia berkata: “Yaitu jima’.” Pendapat seperti ini juga diriwayatkan dari `Ali, Ubay bin Ka’ab, Mu-jahid, Thawus, al-Hasan, `Ubaid bin `Umair, Sa’id bin Jubair, asy-Sya’bi, Qatadah dan Muqatil bin Hayyan. Ibnu `Abbas berkata: “adalah jima’, akan tetapi Allah yang Mahamulia menggunakan kiasan sesuai kehendak-Nya.” Dan terdapat pula riwayat shahih lainnya dari Ibnu `Abbas, selain dari jalan ini.

Kedua, kemudian Ibnu Jarir berkata, ulama yang lain berpendapat: “Yang dikehendaki oleh Allah adalah setiap orang yang menyentuh dengan tangan atau anggota tubuh lainnya. Dan Allah mewajibkan wudhu bagi setiap orang yang menyentuhkan bagian badannya kepada bagian badan perempuan.” Kemudian beliau melanjutkan bahwa `Abdullah bin Masud berkata: al-lamsu, adalah sesuatu yang selain dari jima’.” Hal serupa ini diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud dari berbagai jalan.

Diriwayatkan pula dari Ibnu Masud bahwa ia berkata: “Ciuman adalah bagian dari sentuhan dan hal itu mewajibkan wudhu.”

Ath-Thabrani meriwayatkan dengan sanadnya, bahwa `Abdullah bin Mas’ud berkata: “Seorang laki-laki harus wudhu dengan sebab bersenggama, menyentuh dengan tangan atau mencium. Tentang ayat ini beliau berkata: “Yaitu menyentuh.”

Ibnu AbiHatim, dan Ibnu Jarir mengatakan dari `Abdullah bin Mas’ud, ia berkata: “al-lamsu, adalah sesuatu yang selain dari jima’.” Kemudian Ibnu Abi Hatim berkata: “Pendapat serupa juga diriwayatkan dari Ibnu `Amr, `Ubaidah, Abu ‘Utsman an-Nahdi, Abu `Ubaidah bin `Abdullah bin Masud, Amir asy-Sya’bi, Tsabit bin al-Hajjaj, Ibrahim an-Nakha’i dan Zaid binAslam.”

Aku berkata; Malik meriwayatkan dari az-Zuhri dari Salim bin`Abdullah bin `Umar dari bapaknya bahwa ia berkata: “Kecupan seoranglaki-laki kepada isterinya dan sentuhan tangannya adalah bagian dari maknaal-mulaamasah (hal saling bersentuhan). Barangsiapa yang mengecup isterinya atau menyentuhnya dengan tangan maka wajib wudhu. Wajibnya wudhu karena sentuhan adalah pendapat asy-Syafi’i dan para pengikutnya, Malik dan pendapat yang masyhur dari pendapat Ahmad bin Hanbal. Para pendukungnya berkata ayat ini terkadang dibaca (lamastum) dan (laamastum). Al-Lamsu menurut syari’at di-sebut menyentuh dengan tangan.

Allah berfirman: “Dan kalau Kami turunkan kepadamu tulisan di atas lertas, lalu mereka dapat memegangnya dengan tangan mereka sendiri.” (QS. AI-An’aam: 7) Artinya, “Mereka menyentuhnya.” Rasulullah saw. bersabda kepada al-Ma’iz ketika mengakui zina, menawarkan kepadanya agar mencabut pengakuannya itu: “Boleh jadi engkau hanya mencium atau menyentuhnya”.

Di dalam sebuah hadits shahih: “Zina tangan adalah menyentuh.” Aisyah berkata: “Jarang sekali pada setiap harinya, kecuali Rasulullah saw. berkeliling kepada kami lalu beliau mencium dan menyentuh.” Di antaranya lagi hadits yang diriwayatkan dalam kitab ash-Shahihain, bahwa Rasulullah saw. melarang jual-beli al-mulaamasah.

Berdasarkan kedua tafsir di atas, menunjukan terhadap menyentuh dengan tangan. Mereka berkata: “Al-lamsu dalam bahasa Arab berarti menyentuh dengan tangan dan juga berarti jima’.” Seorang penya’ir berkata:
Telapak tanganku menyentuh telapak tangannya, aku meminta ke-cukupan.”

Imam Ahmad meriwatkan, dari Ibrahim at-Taimi dari, `Aisyah bahwa Rasulullah saw. pernah mencium kemudian shalat dan tidak berwudhu lagi.” (HR. Abu Dawud dan an-Nasa’i, kemudian keduanya berkata: Ibrahim tidak pernah mendengar dari ‘Aisyah).

Firman-Nya: fa lam tajiduu maa-an fatayammamuu sha’iidan thayyiban (“Kemudian kamu tidak mendapatkan air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci).”) Kebanyakan para fuqaha mengambil kesimpulan dari ayat ini, bahwa tayamum tidak boleh dilakukan oleh orang yang tidak memiliki air kecuali setelah mencarinya, dan setelah mencarinya tidak diketemukan, maka boleh saat itu dia bertayamum. Mereka menyebutkan beberapa cara mencari air itu di dalam kitab-kitab fiqh.

Di dalam kitab ash-Shahihain dari hadits `Imran bin Hushain, bahwa Rasulullah saw. melihat laki-laki menyendiri, tidak shalat bersama jama’ah. Lalu beliau bertanya: “Hai Fulan, apa yang mencegahmu untuk shalat berjama’ah, bukankah engkau seorang muslim?” Dia menjawab: “Betul, ya Rasulullah! Akan tetapi saya sedang junub dan tidak menemukan air.” Maka beliau bersabda: “Gunakanlah debu, karena debu itu mencukupimu.”

Untuk itu Allah berfirman: fa lam tajiduu maa-an fatayammamuu sha’iidan thayyiban (“Kemudian kamu tidak mendapatkan air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci).”) Maka tayamum menurut bahasa adalah maksud (kehendak). Orang Arab berkata: tayammamakallaaHu bihifdhiHi (“Semoga Allah berkenan melidungimu.”) Seperti perkataan Imru’ul Qais dalam sya’irnya:
“Setelah dia merasa bahwa kematian menyongsongnya, dan melihat kerikil di bawah kakinya penuh dengan darah.”
“Dia pun menuju mata air yang berada di Dharij, yang dinaungi oleh bayangan (pohon), sedang lumutnya meluap.”

Ash-sha’id menurut satu pendapat, adalah setiap sesuatu yang meninggi di atas permukaan tanah, maka termasuk di dalamnya debu, pasir dan batu. Itulah pendapat Malik. Satu pendapat mengatakan sesuatu yang sejenis dengan debu seperti pasir, granit atau bebatuan. Inilah madzhab Abu Hanifah. Pendapat lain mengatakan debu saja. Inilah pendapat asy-Syafi’i, Ahmad bin Hanbal yang halus dan bersih.

Dalam hadits lain diriwayatkan dalam shahih Muslim dari Hudzaifah bin Yaman, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda:
“Kita dilebihkan dari umat-umat yang lain pada tiga hal; shaf-shaf kita dijadi-kan seperti shaf-shaf para Malaikat, seluruh tanah dijadikan untuk kita sebagai masjid, serta debunya dijadikan suci untuk kita apabila kita tidak menemukan air.”

Di dalam satu lafazh: “Semua debunya dijadikan suci untuk kita, apabila kita tidak menemukan air.” Mereka berkata: “Maka dikhususkan bersuci dengan debu pada posisi mulia, kalau saja ada selain debu tentu akan disebutkan bersama.”

Thayyib yang dimaksud di sini menurut sebagian pendapat adalah halal, dan menurut pendapat yang lain adalah sesuatu yang tidak najis, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ahlus Sunan kecuali Ibnu Majah, dari hadits Abu Qilabah dari ‘Amr bin Najdan, dari Abu Dzar, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Tanah yang bersih adalah alat bersuci seorang muslim, sekalipun ia tidak me-nemukan air 10 musim haji. Apabila dia telah menemukan air, maka hendak-lah ia menyentuhkannya ke kulitnya (berwudhulah), karena hal itu lebih baikbaginya.” (At-Tirmidzi berkata: Hasan shahih, serta dishahihkan oleh Ibnu Hibban.)

Firman Allah: famsahuu biwujuuHikum wa aidiikum (“Sapulah mukamu dan tanganmu.”) Tayamum adalah ganti dari wudhu dalam bersuci, bukan ganti dari wudhu dari seluruh anggotanya, akan tetapi cukup mengusap wajah dan dua tangan saja menurut ijma’. Para Imam berbeda pendapat tentang bagaimana cara tayamum:

1. Madzhab Syafi’i dalam perkataan barunya, bahwa wajib membasuh wajah dan kedua tangannya hingga siku dengan dua kali tepukan, karena lafazh “yadain” (kedua tangan), maknanya dapat ditujukan hingga mencapai dua pundak dan hingga mencapai dua siku sebagaimana ayat wudhu dan dapat pula ditujukan hingga mencapai dua pergelangan tangan sebagaimana dalam ayat pencurian: “Maka potonglah tangan keduanya.” Mereka berpendapat, apa yang di-mutlaqkan dalam ayat ini harus dibawa ke dalam ayat wudhu yang membatasinya itulah penggabungan yang lebih utama dalam bersuci.

Asy-Syafi’i berdalil dengan hadits yang diriwayatkan dari Ibnu ash-Shamah bahwasanya Rasulullah tayamum mengusap wajah dan dua tangannya hingga siku.

2. Bahwa wajib mengusap wajah dan dua tangan, hingga pergelangan tangan dengan dua kali tepukan. Itulah pendapat lama asy-Syafi’i.

3. Cukup membasuh wajah dan dua telapak tangan dengan satu kali tepukan. Imam Ahmad mengatakan dari`Abdurrahman bin Abzi dari bapaknya, bahwa seorang laki-laki datang kepada `Umar dan berkata, “Sesungguhnya aku junub dan tidak menemukan air”. Maka `Umar berkata, “Jangan engkau shalat.” ‘Ammar berkata, “Apakah engkau tidak ingat wahai Amirul Mukminin, ketika aku dan engkau di dalam sekelompok pasukan perang, lalu kita mendapatkan junub dan tidak mendapatkan air. Adapun engkau, maka engkau tidak melakukan shalat, sedangkan aku, maka aku berguling di debu lalu shalat. Ketika kita mendatangi Nabi, hal itu kuceritakan kepada beliau, lalu beliau bersabda: ‘Cukuplah engkau begini,’ beliau memukulkan tangan-nya ke tanah kemudian meniupnya, lalu mengusap wajah dan kedua telapak tangan dengannya.”

Allah berfirman di surat al-Maa-idah: “Sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu.” (QS. Al-Maa-idah: 6). Dengan ayat itu asy-Syafi’i berdalil, bahwa tayamum harus dilakukan dengan menggunakan tanah yang suci, yang mengandung debu, hingga ada sebagian debu yang menempel ke wajah dan kedua tangan.

Sebagaimana asy-Syafi’i meriwayatkan dengan sanadnya yang lalu dari Ibnu ash-Shamah, bahwa ia melewati Nabi yang sedang buang air kecil, lalu ia mengucapkan salam kepada beliau, akan tetapi tidak dijawabnya, hingga ia berdiri menghadap ke dinding, kemudian beliau menggosoknya dengan menggunakan tongkat yang ada di tangannya (mengumpulkan debu/tanah), lalu menepukkan tangannya dan diusapkan ke wajah dan kedua tangannya hingga siku.

Dan firman-Nya: “Allah tidak hendak menyulitkan kamu.” (QS. Al-Maa-idah: 6) Artinya di dalam agama yang di-syari’atkan-Nya untuk kalian. “Akan tetapi Allah hendak membersihkan kamu.” (QS. Al-Maa-idah: 6) Untuk itu dibolehkan-Nya tayamum, jika kalian tidak menemukan air, kalian dapat berpaling kepada tayamum dengan debu. Tayamum adalah nikmat bagi kalian agar kalian bersyukur. Untuk itu umat ini diberi kekhususan dengan syari’at tayamum yang tidak diberikan kepada umat-umat yang lain.

Di dalam ash-Shahihain, diriwayatkan dari Jabir bin `Abdullah, ia berkata, Rasulullah bersabda: “Aku diberi lima hal yang tidak diberikan kepada seseorang (Nabi) sebelum-ku; Aku dibantu dengan (ditanamkan) rasa gentar (pada diri musuh) sepanjang perjalanan satu bulan, tanah dijadikan untukku masjid dan alat untuk bersuci. Maka siapa saja di antara umatku yang mendapatkan waktu shalat, maka shalatlah.”

Dalam satu lafazh tercantum: “(Dijadikan tanah sebagai) masjid dan alat bersuci, dihalalkan ghanimah (harta rampasan perang) untukku yang tidak dihalalkan untuk seorang pun sebelumku dan aku diberikan syafa’at, dan bahwa para Nabi diutus untuk kaumnya raja, sedangkan aku diutus untuk seluruh manusia.”

Allah berfirman dalam ayat yang mulia ini: famsahuu biwujuuHikum wa aidiikum innallaaHa kaana ‘afuwwan ghafuuran (“Sesungguhnya Allah Mahapemaaf lagi Mahapengampun.”) Yaitu, salah satu wujud pemberian maaf dan pengampunan-Nya bagi kalian adalah, disyari’atkannya tayamum bagi kalian dan dibolehkannya bagi kalian melakukan shalat dengan tayamum apabila kalian kehabisan air, sebagai suatu keluasan dan keringanan bagi kalian.

Oleh karena itu, sesungguhnya ayat yang mulia ini merupakan penyucian shalat dari pelaksanaannya yang kurang layak, berupa mabuk hingga sadar atau hingga memahami apa yang diucapkan, berupa junub hingga mandi atau berupa hadats hingga berwudhu kecuali sakit atau tidak ada air. Sesungguhnya Allah telah memberikan rukhsah dalam hal tayamum dan kondisi-kondisinya ini sebagai rahmat bagi hamba-hamba-Nya, kasih sayang dan keluasan bagi mereka. Hanya bagi Allah segala puji dan anugerah.

SEBAB TURUNNYA SYARIAT TAYAMUM:

AL-Bukhari meriwayatkan, dari `Aisyah ia berkata: “Kami pemah keluar bersama Rasulullah saw. pada sebagian perjalanannya hingga kami berada di sebuah dataran atau di Dzatul Jaisy, lalu kalungku terputus (hilang), maka Rasul berhenti untuk mencarinya, lalu yang lain pun ikut berhenti pula bersama beliau. Saat itu mereka tidak memiliki air, maka mereka mendatangi Abu Bakar dan berkata: “Cobalah kaulihat apa yang dilakukan Aisyah yang menyebabkan Rasul dan seluruh orang mencari-cari, padahal mereka tidak memiliki air.”

Lalu Abu Bakar datang kepada Rasulullah yang saat itu sedang meletakkan kepala beliau di atas pahaku dan tidur. la berkata: “Engkautelah menghalangi Rasulullah saw. dan orang-orang, sedang mereka tidak mendapatkan air dan mereka tidak memiliki air.” ‘Aisyah berkata, Abu Bakar terus mengomeli aku sampai-sampai beliau mengucapkan yang macam-macam dan mencubit pinggangku. Tidak ada yang menghalangi aku bergerak saat itu kecuali karena kepala beliau ada di pangkuanku.

Lalu di waktu pagi Rasul bangun dengan tidak menemukan air. Maka Allah menurunkan ayat tayamum yang kemudian mereka lakukan tayamum. Usaid bin al-Hudhair berkata: “Itu bukanlah awal keberkahan kalian yang pertama kali wahai keluarga Abu Bakar.” `Aisyah berkata: “Lalu kami membangunkan unta yang aku tumpangi, maka kami menemukan kalung itu di bawahnya.” (HR. Al-Bukhari dari Qutaibah dari Isma’il dan Muslim dari Yahya bin Yahya dari Malik).

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 42-43

12 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 42-43“Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shalih, Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sekedar kesanggupannya, mereka itulah penghuni-penghuni Surga; mereka kekal di dalamnya. (QS. 7:42) Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka; mengalir di bawah mereka sungai-sungai dan mereka berkata: ‘Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (Surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. Sesungguhnya telah datang Rasul-Rasul Rabb kami, membawa kebenaran.’ Dan diserukan kepada mereka: ‘Itulah Surga yang telah diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan.’ (QS. 7:43)” (al-A’raaf: 42-43)

Setelah Allah menyebutkan keadaan orang-orang yang sengsara, kemudian Allah menyambungnya dengan menyebutkan keadaan orang-orang yang berbahagia, di mana Allah berfirman: wal ladziina aamanuu wa’amilush shaalihaati (“Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan aumal-amal shalih.”) Yaitu, hati-hati mereka beriman dan mereka pun mengerjakan amal shalih dengan seluruh anggota tubuh mereka. Yang demikian itu bertolak belakang dengan ayat: ulaa-ikal ladziina kafaruu biaayaatillaaHi wastakbaruu ‘anHaa (“Mereka adalah orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah, dan menyombongkan diri terhadapnya.”)

Di sini Allah mengingatkan bahwa beriman dan beramal dengannya merupakan suatu hal yang mudah, karena Allah telah berfirman: laa nukallifu nafsan illaa wus’aHaa ulaa-ika ash-haabul jannati Hum fiiHaa khaaliduuna. Wa naza’naa maa fii shuduuriHim min ghillin (“Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Mereka itulah para penghuni Surga, mereka kekal di dalamnya. Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka.”) Yaitu berupa kedengkian dan kebencian.

Sebagaimana yang diterangkan dalam hadits yang terdapat dalam Shahih al-Bukhari, yang diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Jika orang-orang yang beriman telah selamat dari Neraka, maka mereka akan ditahan di atas jembatan yang terdapat di antara Surga dan Neraka. Di sana mereka akan diqishash untuk setiap perbuatan dhalim yang pernah terjadi di antara sesama mereka ketika di dunia, sehingga jika telah bersih, mereka diizinkan untuk masuk Surga. Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya salah seorang di antara mereka lebih mengenal/mengetahui terhadap rumahnya yang berada di Surga daripada terhadap tempat tinggalnya di dunia.” (HR. Al-Bukhari)

Qatadah mengatakan, ‘Ali ra. pernah berkata: “Aku benar-benar berharap supaya aku, ‘Utsman, Thalhah dan az-Zubair termasuk orang-orang yang oleh Allah disebut dalam firman-Nya ini: Wa naza’naa maa fii shuduuriHim min ghillin (“Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka.”)

Oleh karena itu, setelah mereka diberikan warisan berupa Surga, maka: nuuduu an tilkumul jannatu uurits-tumuuHaa bimaa kuntum ta’maluun (“Diserukan kepada mereka: ‘Itulah Surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan.’”) Maksudnya, disebabkan oleh amal perbuatan kalian, kalian mendapatkan rahmat sehingga kalian bisa masuk Surga dan kalian dapat menempati tempat-tempat kalian sesuai dengan amal perbuatan kalian.

Pengertian semacam itu sesuai dengan sabda Rasulullah dalam hadits yang terdapat dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari Nabi saw. beliau bersabda: “Ketahuilah, bahwasanya amal salah seorang di antara kalian tidak akan memasukkannya ke dalam Surga.” Para Sahabat bertanya: “Termasuk juga engkau, ya Rasulullah?” Beliau saw. menjawab: “Tidak juga aku, kecuali jika Allah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepadaku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Huud ayat 41-43

30 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Huud
Surah Makkiyyah; surah ke 11: 123 ayat

tulisan arab alquran surat huud ayat 41-43“Dan Nuh berkata: ‘Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya.’ Sesungguhnya Rabbku benar-benar Mahapengampun lagi Mahapenyayang. (QS. 11:41) Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: ‘Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.’ (QS. 11:42) Anaknya menjawab: ‘Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!’ Nuh berkata: ‘Tidak ada yang (dapat) melindungi (di) hari ini dari adzab Allah selain Allah (saja) yang Mahapenyayang.’ Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan. (QS. 11:43)” (Huud: 41-43)

Allah berfirman seraya memberi kabar tentang Nuh as, bahwa sesungguhnya Allah berfirman kepada orang-orang yang diperintah membawanya (naik) ke dalam perahu bersamanya: irkabuu fiiHaa bismillaaHi majreeHaa wa mursaaHaa (“Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya.”) Maksudnya, dengan (menyebut) nama Allah untuk perjalanannya di atas permukaan air dan dengan (menyebut) nama Allah untuk akhir perjalanannya, yaitu waktu pendaratannya.

Allah Ta’ala berfirman:
“Apabila kamu dan orang-orang yang bersamamu telah berada di atas bahtera itu, maka ucapkanlah: ‘Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami dari orang-orang yang dhalim’. Dan berdo’alah: ‘Ya Rabbku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik Pemberi tempat.’” (QS. Al-Mu’minuun: 28-29)

Untuk itu, disunnahkan membaca basmalah dalam permulaan segala sesuatu, baik ketika menaiki perahu maupun ketika menaiki binatang, sebagaimana keterangannya akan ditemui dalam Surat az-Zukhruf, insya Allah dan kepada-Nyalah kita yakin.

Firman-Nya: inna rabbii laghafuurur rahiim (“Sesungguhnya Rabbku benar-benar Mahapengampun lagi Mahapenyayang.”) Hal ini berhubungan dengan penyebutan tentang pembalasan terhadap orang-orang kafir, yaitu dengan menenggelamkan mereka semuanya, Allah menyebutkan bahwa sesungguhnya Dia adalah Mahapengampun lagi Mahapenyayang, sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Sesungguhnya Rabbku amat cepat siksa-Nya,dan sesungguhnya Allah adalah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.” (QS. Al-A’raaf: 167)

Firman-Nya: wa Hiya tajrii biHim fii maujin kal jibaali (“Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung.”) Maksudnya, perahu itu berjalan membawa mereka di atas permukaan air yang (tingginya) telah melebihi semua daratan bumi hingga menutupi puncak-puncak gunung. Dan perahu ini berjalan di atas air dengan izin Allah, pengayoman-Nya, perlindungan-Nya, pertolongan-Nya dan anugerah-Nya.

Firman-Nya: wa naadaa nuuhunibnaHuu (“Dan Nuh memanggil anaknya,”) dan ayat seterusnya. Anaknya ini adalah anak yang ke empat yang bernama Yaam, dia adalah kafir, ayahnya memanggilnya untuk naik perahu dan beriman bersama-sama mereka dan agar tidak tenggelam sebagaimana orang-orang kafir tenggelam.

Qaala sa-aawii ilaa jabaliy ya’shimunii minal maa-i (“Anaknya menjawab: ‘Aku akan mencari perlindungan ke gunung yan dapat memeliharaku dari air bah.’”) Dia yakin karena kebodohannya, bahwa air bah tidak akan sampai ke puncak gunung, dan bahwa dia akan aman di sana dari bahaya ketenggelaman. Maka ayahnya, Nuh as. berkata kepadanya: laa ‘aashimal yauma min amrillaaHi illaa mar rahim (“Tidak ada yang melindungi hari ini dari adzab Allah, selain Allah [saja] yang Mahapenyayang.”) maksudnya, pada hari ini [hari ketika terjadinya air bah] tidak ada satupun yang dapat melindungi diri dari siksa Allah.

Dikatakan bahwa, kata “’Aashimun” [pelindung] mempunyuai arti “ma’shuumun” (yang dilindungi), sebagaimana dikatakan “thaa’imun” [pemberi makan] dan kalimat “kaasan” (pemberi pakaian) mempunyai arti “math’uumun” (yang diberi pakaian), dan “maksuu” [yang diberi pakaian].

Wa haala baina Humal mauju fa kaana minal mughraqiin (“Dan gelombang menjadi penghalang di antara keduanya, maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.”)

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yusuf ayat 43-49

27 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Yusuf
Surah Makkiyyah; surah ke 12: 111 ayat

tulisan arab alquran surat yusuf ayat 43-49“Raja berkata (kepada orang-orang terkemuka dari kaumnya): ‘Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus, dan tujuh butir (gandum) yang hijau dan tujuh butir lainnya yang kering. Hai orang-orang yang terkemuka, terangkanlah kepadaku tentang ta’bir mimpiku itu jika kamu dapat mena’birkan mimpi.’ (QS. 12:43) Mereka menjawab: ‘(Itu) adalah mimpi-mimpi yang kosong dan kami sekali-kali tidak tahu ta’bir mimpi itu.’ (QS. 12:44) Dan berkatalah orang yang selamat di antara mereka berdua dan teringat (kepada) Yusuf sesudah beberapa waktu lamanya: ‘Aku akan memberitakan kepadamu tentang (orang yang pandai) menabirkan mimpi itu, maka utuslah aku (kepadanya).’ (QS. 12:45) (Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf dia berseru): ‘Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh butir (gandum) yang hijau dan tujuh lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahui.’ (QS. 12:46) Yusuf berkata: ‘Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa, maka apa yang kamu tuai (petik) hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. (QS. 12:47) Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari bibit gandum yang akan kamu simpan. (QS. 12:48) Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan di masa mereka memeras anggur.’ (QS. 12:49)” (Yusuf: 43-49)

Mimpi raja Mesir itu adalah bagian dari takdir Allah sebagai sebab yang mengeluarkan Yusuf dari penjara secara terhormat, karena sang raja setelah bermimpi seperti itu sangat terperanjat ketakutan serta keheranan dan menanyakan apa ta’birnya. Maka ia mengumpulkan para juru nujum, cendikiawan, dan pembesar pemerintahannya, serta pejabat di negara. Lalu sang raja menceritakan mimpinya kepada mereka, kemudian menanyakan a’birnya. Tetapi mereka tidak mengetahuinya, dan beralasan bahwa “Itu hanyalah mimpi yang kosong” yaitu, mimpi yang bercampur aduk yang telah terjadi pada mimpi paduka ini, kami tidak tahu tentang ta’bir mimpi itu,” maksudnya, kalaupun mimpi itu benar, bukan dari pikiran yang kacau, kami pun tidak mengetahui penafsirannya.

Pada saat itulah orang yang selamat dan keluar dari penjara baru teringat kepada Yusuf setelah beberapa waktu lamanya, karena syaitan membuatnya lupa kepada pesan Yusuf untuk menyebutkan perkaranya kepada raja, maka ia berkata kepada raja dan orang-orang yang diundangnya untuk keperluan ini: ana unabbi-ukum bita’wiiliHi (“Aku akan memberitakan kepadamu tentang [orang yang pandai] mena’birkannya.”) yakni penafsiran tentang mimpi itu; fa arsiluun (“Maka utuslah aku kepadanya”), maksudnya utuslah aku kepada Yusuf as. yang terpercaya itu yang sekarang berada di penjara.

Maka mereka pun mengutusnya ke penjara, dan sesampainya di sana, ia berkata: yuusufu ayyuHash shiddiiqu aftinaa (“Yusuf, hai orang yang sangat dipercaya, terangkanlah kepada kami”) selanjutnya ia menyebutkan mimpi raja, dan pada saat itu Yusuf segera menyebutkan ta’birnya, tanpa menyalahkan pemuda itu atas kelalaiannya menyampaikan pesan yang pernah dikatakan kepadanya, dan tanpa meminta dikeluarkan dari penjara sebagai syarat untuk mena’birkan mimpi raja itu.

Tetapi Yusuf berkata: tazra’uuna sab’a siniina da-aban (“Hendaknya kalian bercocok tanam selama tujuh tahun sebagaiinana biasa”) maksudnya, akan datang pada kalian kesuburan dan hujan selama tujuh tahun berturut-turut. Yusuf menafsirkan tujuh ekor sapi itu dengan tujuh tahun karena sapi itulah yang digunakan untuk mengolah tanah agar dapat mengeluarkan hasil tanaman yang berupa bulir-bulir gandum yang hijau. Kemudian, ia memberikan petunjuk kepada mereka apa yang harus mereka siapkan pada tahun-tahun itu seraya berkata:

Famaa hashadtum fadzaruuHu fii sunbuliHii illaa qaliilam mimmaa ta’kuluun (“Apa yang kalian tuai [petik] biarkan tetap pada bulirnya kecuali sedikit yang kalian perlukan untuk makan.”) maksudnya adalah berapapun hasil dari tanaman kalian pada tujuh tahun yang subur itu, simpanlah dalam bulir-bulirnya agar lebih awet dan tidak cepat rusak, kecuali sekedar yang kalian perlukan untuk makan, dan makan itupun harus dengan hemat, sedikit-sedikit saja, jangan berlebihan, agar dapat kalian gunakan untuk memenuhi kebutuhan kalian selama tujuh tahun masa peceklik yang akan datang setelah musim subur selama tujuh tahun itu, yang dalam mimpi itu berupa tujuh ekor sapi betina kurus makan tujuh ekor sapi yang gemuk, karena tahun-tahun paceklik itu akan menghabiskan semua yang mereka kumpulkan pada tahun-tahun musim subur, yang dalam mimpi berupa bulir-bulir gandum yang kering.

Yusuf juga memberitahukan bahwa pada tahun-tahun kekeringan itu bumi tidak menumbuhkan tanaman sama sekali, kalaupun mereka menanam, tidak akan menghasilkan apa-apa. Karena itu, ia mengatakan: ya’kulna maa qaddamtum laHunna illaa qaliilam mimmaa tuhshinuun (“Yang menghabiskan apa yang kalian simpan untuk menghadapinya kecuali sedikit dari bibit gandum yang kalian simpan.”)

Kemudian Yusuf memberi kabar gembira kepada mereka bahwa setelah tahun-tahun paceklik yang berturut-turut itu akan datang tahun di mana manusia mendapat siraman hujan yang cukup dan tanah pun dapat digarap untuk bercocok tanam dan mereka dapat memeras, sebagaimana biasa pada masa sebelumnya berupa minyak, gula dan sejenisnya.

Bahkan, ada sebagian mufassir (ahli tafsir) mengatakan: “Termasuk susu ternak juga.” `Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas: ya’shiruuna (“Memeras”) yaitu memerah susu ternak.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ar-Ra’du ayat 43

24 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Ar-Ra’du (Guruh)
Surah Madaniyyah; surah ke 13: 43 ayat

tulisan arab alquran surat ar ra'du ayat 43“Berkatalah orang-orang kafir: ‘Kamu bukan seorang yang dijadikan Rasul.’ Katakanlah: ‘Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan kamu, dan antara orang yang mempunyai ilmu al-Kitab.’” (QS. ar-Ra’du: 43)

Allah berfirman, orang-orang kafir itu mendustakanmu dan mengatakan: lasta mursalan (“Kamu bukan seorang yang dijadikan Rasul.”) Maksudnya Allah tidak mengutusmu menjadi Rasul. Qul kafaa billaaHi syaHiidan bainii wa bainakum (“Katakanlah: ‘Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan kalian.’”) Maksudnya, bahwa Allah cukup bagiku, Dialah saksi terhadapku dan terhadap kalian, yang menyaksikanku atas risalah (misi) yang telah aku sampaikan, dan menyaksikan kalian wahai orang-orang yang mendustakan, atas segala kebathilan yang kalian buat.

Firman Allah: wa man ‘indaHuu ‘ilmul kitaab (“Dan antara orang yang mempunyai ilmu al-Kitab.”) Pendapat yang benar dalam hal ini bahwa: wa man ‘indaHu (“dan orang yang mempunyai.”) Man adalah nama atau kata jenis yang mencakup ulama Ahli Kitab yang mengetahui sifat-sifat Nabi Muhammad yang tertera dalam kitab-kitab mereka terdahulu yang mengandung berita-berita tentang Nabi Muhammad seperti yang difirmankan Allah Ta’ala:

“Dan rahmat-Ku itu luas mencakup segala sesuatu, maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, membayar zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami. Yaitu mereka yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi (tidak dapat membaca dan menulis) yang mereka dapati tertulis sisi mereka, dalam Taurat dan Injil.” (QS. Al-A’raaf: 156-157)

Allah Ta’ala juga berfirman: “Apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka, bahwa para ulama Bani Israil mengetahuinya?” (QS. Asy-Syu’araa’: 197)

Dan (banyak) ayat-ayat lainnya yang memberitakan tentang ulama Bani Israil, bahwa mereka mengetahui hal tersebut (sifat-sifat Muhamma) dari kitab-kitab suci mereka yang telah diturunkan oleh Allah.

Ini adalah akhir dari tafsir surat ar-Ra’d (Guntur). Segala puji dan anugerah hanyalah milik Allah semata.

Selesai

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ibrahim ayat 42-43

24 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Ibrahim
Surah Makkiyyah; surah ke 14: 52 ayat

tulisan arab alquran surat ibrahim ayat 42-43“Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang dhalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak. (QS. 14:42) Mereka datang bergegas memenuhi panggilan dengan mengangkat kepala mereka, sedang mata mereka tidak berkedip dan hati mereka kosong. (QS. 14:43)” (QS. Ibrahim: 42-43)

Allah berfirman: wa laa tahsabanna lillaaHi (“Dan janganlah sekali-kali kamu mengira,”) wahai Muhammad; ghaafilan ‘ammaa ya’maludh dhaalimuun (“Bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang dhalim.”) Maksudnya, jangan mengira bahwa jika Allah menunda dan menunggu mereka itu, berarti Dia lupa dan membiarkan mereka tanpa hukuman atas perbuatan yang mereka lakukan. Tetapi Allah tetap memperhitungkannya.

Innamaa yu-akhkhiruHum liyaumin tasy-khashu fiiHil abshaar (“Sesungguhnya Allah menunda mereka sampai hari yang pada waktu itu mata mereka terbelalak,”) disebabkan oleh dahsyatnya bencana pada hari Kiamat. Kemudian Allah Ta’ala menyebutkan bagaimana manusia bangkit dari kuburan dan bagaimana tergesa-gesanya mereka menuju padang Mahsyar, Allah berfirman: muHthi’iina (“dengan cepat”) yakni cepat sebagaimana firman Allah: “Pada hari mereka keluar dari kubur dengan cepat.” (QS. Al-Ma’aarij: 43).

Firman Allah: muqni’ii ru-uusiHim (“Dengan mengangkat kepala mereka.”) Ibnu `Abbas, Mujahid dari lain-lain mengatakan, bahwa artinya dalam keadaan mengangkat kepala mereka, laa yartaddu ilaiHim tharfuHum (“Sedang mata mereka tidak berkedip.”) Maksudnya, mata mereka itu melotot, melihat terbelalak, terus memandang tanpa berkedip sekejap pun karena begitu banyaknya musibah yang berat, pikiran dan kekhawatiran terhadap apa yang akan menimpa mereka, semoga Allah melindungi kita dari musibah tersebut.

Oleh karena itu Allah berfirman: wa af-idatuHum Hawaa-un (“Dan hati mereka kosong.”) Artinya, hati mereka kosong, tidak ada apa-apa di dalamnya, karena sangat takut dan khawatir. Karena itu, Qatadah dan sekelompok ulama mengatakan: “Sesungguhnya tempat-tempat hati mereka kosong-melompong, karena hati mereka naik sampai ke kerongkongan, keluar dari tempatnya disebabkan merasa sangat takut.”

Sebagian ulama mengatakan: “Hari mereka tidak sadar lagi karena sangat terkejut dengan berita yang disampaikan Allah tentang mereka.”
Kemudian Allah Ta’ala berfirman kepada Rasulullah saw:

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nahl ayat 43-44

18 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nahl (Lebah)
Surah Makkiyyah; surah ke 16: 128 ayat

tulisan arab alquran surat an nahl ayat 43-44“Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui, (QS. 16:43) keterangan-keterangan (mu’jizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan kepadamu al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka supaya mereka memikirkan, (QS. 16:44)” (an-Nahl: 43-44)

Adh-Dhahhak berkata dari Ibnu `Abbas, bahwa ketika Allah mengutus Muhammad sebagai seorang Rasul, orang-orang Arab atau sebagian dari mereka mengingkari dan berkata: “Allah akan lebih agung kalau Rasul-Nya tidak berupa manusia. Maka Allah menurunkan Ayat yang artinya:
“Patutkah menjadi keheranan bagi manusia bahwa Kami mewahyukan kepada seorang laki-laki di antara mereka: ‘Berilah peringatan kepada manusia,’” (QS. Yunus: 2), dan ayat seterusnya.

Dan Allah berfirman: wa maa arsalnaa min qablika illaa rijaalan nuhii ilaiHim fas-aluu aHladz dzikri in kuntum laa ta’lamuun (“Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui.”) Maksudnya, bertanyalah kepada orang-orang Ahli Kitab terdahulu, apakah para Rasul yang di utus kepada mereka berupa manusia atau Malaikat? Jika para Rasul itu berupa Malaikat, berarti boleh kalian mengingkari dan jika dari manusia, maka janganlah kalian mengingkari kalau Muhammad adalah seorang Rasul.

Allah Ta’ala berfirman: wa maa arsalnaa min qablika illaa rijaalan nuhii ilaiHim min aHlil quraa (“Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepadanya di antara penduduk negeri.”) (Yusuf: 109) mereka bukan penduduk langit seperti yang kalian katakan.

Kemudian Allah menyebutkan bahwa sesungguhnya Dia telah mengutus mereka; bil bayyinaati (“dengan keterangan [mu jizat],”) maksudnya, dengan bukti-bukti dan dalil-dalil; waz zuburi (“Dan Azzubur,”) maksudnya, kitab-kitab. Ini adalah pendapat Ibnu `Abbas, Mujahid, adh-Dhahhak dan lain-lain. Adapun kalimat az-Zubur adalah jamak dari kalimat zabur, orang Arab berkata: “Zabartul Kitab idzaa katabtuhu (saya telah menyusun kitab, apabila saya telah menulisnya),” dan Allah Ta’ala berfirman: wa kullu syai-in fa’aluuHu fiz zubur (“Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan.”) (QS. Al-Qamar: 52)

Kemudian Allah Ta’ala berfirman: wa anzalnaa ilaikadz dzikraa (“Dan Kami turunkan kepadamu adz-Dzikr,”) maksudnya al-Qur’an; litubayyina lin naasi maa nuzzila ilaiHim (“Agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka,”) maksudnya dari Rabb mereka, karena pengetahuanmu dengan arti apa yang telah Allah turunkan kepadamu, karena pemeliharaanmu terhadapnya, karena kamu mengikutinya, dan karena pengetahuan Kami bahwa sesungguhnya kamu adalah orang yang paling mulia di antara para makhluk dan pemimpin anak Adam. Maka dari itu engkau (ya, Muhammad!) harus merinci untuk mereka apa yang mujmal (gobal) dan menerangkan apa yang sulit untuk mereka. La’allaHum yatafakkaruun (“Dan supaya mereka memikirkan,”) maksudnya, supaya mereka melihat diri mereka sendiri agar mendapat petunjuk dan beruntung dengan keselamatan di dunia dan akhirat.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Israa’ Ayat 42-43

13 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Israa’
(Memperjalankan di Malam Hari)
Surah Makkiyyah; surah ke 17: 111 ayat

tulisan arab alquran surat al israa ayat 42-43“Katakanlah: ‘Jikalau ada ilah-ilah di samping-Nya, sebagaimana yang mereka katakan, niscaya ilah-ilah itu mencari jalan kepada (Rabb) Yang mempunyai ‘Arsy.’ (QS. 17:42) Mahasuci dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka katakan dengan ketinggian yang sebesar-besarnya. (QS. 17:43)” (al-Israa’: 42-43)

Allah berfirman: “Hai Muhammad, katakanlah kepada orang-orang musyrik yang mengatakan bahwa Allah mempunyai sekutu dari kalangan makhluk-Nya, dan mereka menyembahnya sebagai ilah selain diri-Nya dengan tujuan agar sesembahan mereka itu dapat mendekatkan kepada Allah sedekat-dekatnya.

Andai kenyataannya seperti yang kalian katakan itu, padahal orang yang kalian sembah itu juga menyembah-Nya dan mendekatkan diri kepada-Nya serta mencari jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Oleh karena itu, sembahlah Allah secara langsung seperti orang yang telah kalian jadikan sembahan selain diri-Nya.

Setelah itu Allah membersihkan dan mensucikan diri-Nya seraya berfirman: subhaanaHuu wa ta’aalaa ‘ammaa yaquuluuna (“Mahasuci dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka katakan,”) yakni orang-orang musyrik yang melampaui batas dan berbuat dhalim, mengatakan dengan persangkaan mereka bahwa ada oknum ilah yang lain beserta Allah.

‘uluwwan kabiiran (“Dengan ketinggian yang sebesar-besarnya,”) yakni dengan ketinggian yang setinggi-tingginya. Bahkan Dialah Allah yang Mahaesa, tempat bergantung semua makhluk, yang tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang sebanding dengan-Nya.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Anfaal Ayat 43-44

9 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anfaal
(Harta Rampasan Perang)
Surah Madaniyyah; surah ke 8: 75 ayat

tulisan arab alquran surat al anfaal ayat 43-44“(Yaitu) ketika Allah menampakkan mereka kepadamu di dalam mimpimu (berjumlah) sedikit. Dan sekiranya Allah memperlihatkan mereka kepadamu (berjumlah) banyak, tentu kamu menjadi gemetar dan tentu saja kamu akan berbantah-bantahan dalam urusan itu, akan tetapi Allah telah menyelamatkan kamu. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui segala isi hati. (QS. 8:43) Dan ketika Allah menampakkan mereka kepadamu sekalian, ketika kamu berjumpa dengan mereka berjumlah sedikit pada penglihatan matamu dan kamu ditampakkan-Nya berjumlah sedikit pada penglihatan mata mereka, karena Allah hendak melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan. Dan hanya kepada Allahlah dikembalikan segala urusan. (QS. 8:44)” (al-Anfaal: 43-44)

Mujahid mengatakan, Allah memperlihatkan kaum Quraisy itu berjumlah sedikit dalam mimpi Nabi saw. Beliau memberitahukan mimpinya itu kepada para sahabatnya dalam rangka meneguhkan hati mereka.

Firman Allah: wa lau araakaHum katsiiral lafasyiltum (“Dan sekiranya Allah memperlihatkan mereka kepada kalian [berjumlah] banyak, tentu saja kalian menjadi gentar.”) Maksudnya, kalian pasti akan merasa takut kepada mereka dan kalian pun akan berselisih di antara kalian sendiri.

Wa laakinallaaHa sallam (“Tetapi Allah telah menyelamatkan kalian,”) dari masalah tersebut dengan memperlihatkan mereka kepada kalian dalam jumlah yang sedikit. innallaaHa ‘aliimum bidzaatish shuduur (“Sesungguhnya Allah Mahamengetahui segala isi hati.”) Yaitu, semua yang disembunyikan hati kecil dan yang tersimpan di dada. Yang demikian itu sama seperti firman Allah yang artinya berikut ini: “Allah mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (QS. Al-Mukmin: 19)

Dan firman-Nya: wa idz yuriikumuuHum idzil taqaitum fii a’yunikum qaliilan (“Dan ketika Allah menampakkan mereka kepada kalian, ketika kalian berjumpa dengan mereka berjumlah sedikit pada penglihatan mata kalian.”) Yang demikian itu pun termasuk salah satu kemurahan Allah Ta’ala kepada mereka, di mana Allah memperlihatkan orang-orang kafir berjumlah sedikit dalam pandangan mata. Pandangan ini yang membuat mereka berani dan tetap optimis melakukan perlawanan.

Abu Ishaq as-Subai’i menceritakan dari Abu `Ubaidah Abdullah bin Mas’ud ra, ia mengatakan: “Mereka berjumlah sedikit dalam pandangan mata kami saat terjadi perang Badar, hingga kukatakan kepada seseorang di sampingku: ‘Tidakkah engkau melihat mereka berjumlah tujuh puluh orang.’ Ia menjawab: ‘Tidak, tetapi mereka berjumlah seratus orang hingga kami menangkap salah seorang dari mereka dan kami tanyakan kepadanya, maka ia pun menjawab: ‘Kami berjumlah seribu orang.’ Demikian yang diriwayatkan Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Jarir.

Dan firman Allah selanjutnya: wa yuqallilukum fii a’yuniHim (“Dan kalian ditampakkan oleh-Nya berjumlah sedikit pada penglihatan mata mereka.”) Mengenai firman-Nya: wa idz yuriikumuuHum idzil taqaitum (“Dan ketika Allah menampakkan mereka kepada kalian, ketika kalian berjumpa dengan mereka,”) Ibnu Abi Hatim menceritakan dari `Ikrimah, ia mangatakan: “Masing-masing menganggap sedikit atas lawannya.” Isnad hadits ini derajatnya shahih.

Mengenai firman-Nya: liyaq-dliyallaaHu amran kaana maf’uulan (“Karena Allah hendak melakukan suatu urusan yang mesti dilakukan.”) Muhammad bin Ishaq menceritakan, Yahya bin `Ibad bin `Abdullah bin az-Zubair memberitahuku, dari ayahnya, ia berkata: “Maksudnya, Allahlah yang menjadikan terjadinya peperangan di tengah-tengah mereka sebagai adzab bagi orang-orang yang hendak membalas dendam dan sebagai nikmat bagi orang-orang yang ingin menyempurnakan nikmat, dari kelompok yang Allah kasihi. Yang demikian itu berarti bahwa Allah memotivasi masing-masing pihak. Allah menjadikan musuh sedikit dalam pandangan masing-masing, agar mereka merasa optimis ketika saling berhadapan. Ketika perang berkecamuk, Allah bantu kaum mukminin dengan seribu Malaikat yang datang berturut-turut dan kelompok orang-orang kafir melihat bahwa kaum mukminin berjumlah dua kali lipat dari jumlah mereka. Sebagaimana yang difirmankan Allah yang artinya berikut ini:

“Sesungguhnya telah ada tanda bagi kalian, pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan segolongan yang lain kafir, dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang muslimin dua kali lipat jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya, siapa yang kehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati.” (QS. Ali Imraan: 13)

Demikian itulah penyatuan antara kedua ayat di atas. Masing-masing ayat itu adalah haq dan benar. Segala puji dan karunia hanyalah milik Allah.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 42-43

17 Feb

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 42-43
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 42-43“Dan janganlah kamu campuradukkan yang hak dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui. (QS. Al-Baqarah:42) Dan dirikanlah shalat, tunaikanlab zakat, dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’.” (QS. Al-Baqarah:43)

Melalui firman-Nya ini Allah melarang orang-orang Yahudi dari kesengajaan mereka mencampuradukkan antara kebenaran dengan kebatilan, serta tindakan mereka menyembunyikan kebenaran dan menampakkan kebatilan. “Dia berfirman, janganlah kamu mencampuradukkan antara kebenaran dengan kebatilan. Dan janganlah kamu menyembunyikan kebenaran itu sedang kamu mengetahui.”

Dengan demikian Dia melarang mereka dari dua hal secara bersamaan serta memerintahkan kepada mereka untuk memperlihatkan dan menyatakan kebenaran. Oleh karena itu, dari Ibnu Abbas, adh-Dhahhak menjelaskan ayat ini, ia mengatakan, artinya janganlah kalian mencampuradukkan yang hak dengan yang batil dan kebenaran dengan kebohongan.

Sementara Qatadah mengatakan, Dan janganlah kamu mencampuradukkan antara kebenaran dengan kebatilan.” Artinya janganlah kalian mencampuradukkan antara ajaran Yahudi dan Nasrani dengan ajaran Islam sedang kalian mengetahui bahwa agama Allah adalah Islam.

Sedangkan mengenai firman-Nya, “Dan janganlah kamu menyembunyikan kebenaran itu sedang kamu mengetahui.”

Muhammad bin Ishak meriwayatkan dari Muhammad bin Abu Muhammad, dari Ikrimah atau Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, ia mengatakan: “Artinya, janganlah kalian menyembunyikan pengetahuan yang kalian miliki mengenai kebenaran Rasul-Ku dan juga apa yang dibawanya, sedangkan kalian mendapatkannya tertulis dalam kitab-kitab yang berada di tangan kalian.” Boleh juga ayat tersebut berarti, sedangkan kalian mengetahui bahwa dalam tindakan menyembunyikan pengetahuan tersebut mengandung bahaya yang sangat besar bagi manusia, yaitu tersesatnya mereka dari petunjuk yang dapat menjerumuskan mereka ke neraka jika mereka benar-benar mengikuti kebatilan yang kalian perlihatkan kepada mereka, yang dicampuradukkan dengan kebenaran dengan tujuan agar kalian dapat dengan mudah menyebarluaskannya ke tengah-tengah mereka. Al-Kitman artinya penyembunyian, lawan kata penjelasan dan keterangan.

Firman-Nya, “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku.”

Mengenai firman Allah swt- kepada ahlul kitab; wa aqiimush shalaata (“Dan dirikanlah shalat,”) Muqatil mengatakan, artinya, Allah swt. memerintahkan mereka untuk mengerjakan shalat bersama Nabi “Dan tunaikanlah zakat,” artinya, Allah memerintahkan mereka untuk mengerluarkan zakat, yaitu dengan menyerahkannya kepada Nabi “Dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’,” artinya Allah menyuruh mereka untuk ruku’ bersama orang-orang yang ruku’ dari umat Muhammad, maksudnya Dia berfirman, ikutlah bersama mereka dan bagian dari mereka.

Mengenai firman-Nya, “Tunaikanlah zakat,” Mubarak bin Fudhalah meriwayatkan dari Hasan al-Bashri, katanya: “Pembayaran zakat itu merupakan kewajiban, yang mana amal ibadah tidak akan manfaat kecuali dengan menunaikannya dan dengan mengerjakan shalat.”

Sedangkan firman-Nya: “Dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’. “Artinya, jadilah kalian bersama orang-orang mukmin dalam berbuat yang terbaik, di antara amal kebaikan yang paling khusus dan sempurna itu adalah shalat. Banyak ulama yang menjadikan ayat ini sebagai dalil yang menunjukkan kewajiban shalat berjama’ah. Dan insya Allah, kami akan menguraikannya dalam Kitab al-Ahkam.

&