Tag Archives: 55

Tafsir Ibnu Katsir Surah At-Taubah ayat 55

3 Nov

Tafsir Ibnu Katsir Surah At-Taubah ayat 55
Tafsir Al-Qur’an Surah At-Taubah (Pengampunan)
Surah Madaniyyah; surah ke 9: 129 ayat

tulisan arab alquran surat at taubah ayat 55

“Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedangkan mereka dalam keadaan kafir.” (at-Taubah: 55)

Allah Swt. berfirman kepada Rasul-Nya:

{فَلا تُعْجِبْكَ أَمْوَالُهُمْ وَلا أَوْلادُهُمْ}

Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu.(At-Taubah: 55)

Ayat ini sama dengan firman Allah Swt. yang mengatakan:

{وَلا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى}

Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal. (Thaha: 131)

{أَيَحْسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُمْ بِهِ مِنْ مَالٍ وَبَنِينَ نُسَارِعُ لَهُمْ فِي الْخَيْرَاتِ بَل لَا يَشْعُرُونَ}

Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa) Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar. (Al-Mu’minun: 55-56)

*******

Adapun firman Allah Swt.:

{إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ بِهَا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا}

Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia. (At-Taubah: 55)

Al-Hasan Al-Basri mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah mereka dibebani untuk membayar zakatnya dan menginfakkan sebagian darinya di jalan Allah (padahal semuanya itu tidak diterima dari mereka).

Qatadah mengatakan bahwa di dalam ayat ini terkandung taqdim dan takhir. Bentuk lengkapnya ialah, “Janganlah kamu terpesona dengan harta dan anak-anak mereka di dalam kehidupan dunia ini. Sesungguhnya Allah hanya menghendaki untuk mengazab mereka di akhirat nanti dengan harta dan anak-anak mereka itu.”

Tetapi Ibnu Jarir memilih pendapat yang dikatakan oleh Al-Hasan. Apa yang dikatakan oleh Al-Hasan kuat lagi baik.

*******

Firman Allah Swt.:

{وَتَزْهَقَ أَنْفُسُهُمْ وَهُمْ كَافِرُونَ}

dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedangkan mereka dalam keadaan kafir. (At-Taubah: 55)

Artinya, Allah menghendaki agar mereka mati dalam keadaan kafir. Dengan demikian, hal tersebut lebih pedih dan lebih keras bagi siksaan yang akan diterima mereka; semoga Allah melindungi kita dari hal tersebut. Apa yang disebutkan oleh ayat ini merupakan istidraj bagi mereka.

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 55-56

14 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 55-56“Berdo’alah kepada Rabbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS. 7:55) Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya. Dan berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. 7:56)” (al-A’raaf: 55-56)

Allah Tabaaraka wa Ta’ala membimbing hamba-hamba-Nya supaya berdo’a kepada-Nya, yaitu do’a untuk kebaikan mereka di dunia dan akhirat mereka. Di mana Allah berfirman: ud’uu rabbakum ta-dlarru’aw wa khufyatan (“Berdo alah kepada Rabbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut.”) Ada yang mengatakan, maksudnya dengan merendahkan diri dan penuh ketenangan, serta suara lembut. Yang demikian itu adalah seperti firman Allah Ta’ala yang artinya berikut ini: “Dan sebutlah nama Rabbmu dalam hatimu.” (QS. Al-A’raaf: 205)

Dan dalam ash-Shahihain (kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim) disebutkan sebuah hadits yang diriwayatkan dart Abu Musa al-Asy’ari, ia mengatakan, orang-orang mengangkat suara mereka sambil berdo’a. Kemudian Rasulullah : bersabda:
“Hai sekalian manusia, kasihanilah diri kalian, sesungguhnya kalian tidak berdo’a kepada Rabb yang tuli dan tidak juga jauh. Sesungguhnya yang kalian seru itu adalah Mahamendengar lagi sangat dekat.”

Abdullah Ibnul Mubarak meriwayatkan dari Mubarak bin Fadhalah, dari al-Hasan, ia berkata, “Dahulu adakalanya seseorang hafal seluruh isi al-Qur’an, tetapi orang-orang tidak mengetahuinya. Ada juga seseorang yang sangat pandai dalam banyak ilmu fiqih, tetapi orang-orang pun tidak menyadarinya. Dan sampai-sampai adakalanya seseorang mengerjakan shalat yang panjang di rumahnya sedangkan ia memiliki tamu, tetapi para tamu itu tidak mengetahuinya. Dan kami telah menyaksikan beberapa kaum yang tidak ada suatu amal di muka bumi ini yang mereka mampu mengerjakannya secara sembunyi-sembunyi, lalu menjadi terang-terangan selamanya. Dan sesungguhnya pada zaman dahulu kaum muslimin berusaha keras dalam berdo’a, sedangkan suara mereka tidak terdengar melainkan hanya bisik-bisik antara mereka dengan Rabb mereka. Yang demikian itu karena Allah telah berfirman: ‘Berdo’alah kepada Rabbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut.’ Hal itu karena Allah menyebutkan seorang hamba yang shalih (Zakaria) yang Allah ridha pada perbuatannya, Allah berfirman, ‘Yaitu ketika ia berdo’a kepada Rabbnya dengan suara yang lembut.’” (QS. Maryam: 3)

Ibnu Juraij berkata: “Mengangkat suara, berseru dengan suara keras dan berteriak di dalam do’a adalah makruh hukumnya. Dan diperintahkan untuk berendah diri dan tenang.”

Kemudian diriwayatkan dari ‘Atha’ al-Khurasani, dari Ibnu ‘Abbas, mengenai firman Allah Ta’ala: innaHuu laa yuhibbul mu’tadiin (“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”) Yaitu dalam do’a dan juga dalam hal-hal lainnya.

Mengenai firman Allah Ta’ala: innaHuu laa yuhibbul mu’tadiin (“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”) Abu Mijlaz mengatakan, yaitu dengan tidak meminta kedudukan para Nabi, karena aku pernah mendengar Rasulullah bersabda:

“Akan ada suatu kaum yang berlebih-lebihan dalam do’a dan bersuci.” (Demikian pula hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah, dari Abu Bakar bin Abi Syaibah, dari `Affan, juga dikeluarkan oleh Abu Dawud dari Musa bin Isma’il, dari Hammad bin Salamah, dari Sa’id bin Iyas al-Jurairi, dari Abu Na’amah, dan namanya adalah Qais bin ‘Abayah al-Hanafi al-Bashri. Dan hadits tersebut berisnad hasan la ba’sa bihi [haditsnya bisa dipakai]. Wallahu a’lam.)

Firman Allah selanjutnya: wa laa tufsiduu fil ardli ba’da ishlaahiHaa (“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya.”) Allah Ta’ala melarang dari melakukan perusakan dan hal-hal yang membahayakannya, setelah dilakukan perbaikan atasnya. Karena jika berbagai macam urusan sudah berjalan dengan baik dan setelah itu terjadi perusakan, maka yang demikian itu lebih berbahaya bagi umat manusia. Maka Allah Ta’ala melarang hal itu, dan memenintahkan hamba-hamba-Nya untuk beribadah, berdo’a dan merendahkan diri kepada-Nya, serta menundukkan diri di hadapan-Nya. Maka Allah pun berfirman: wad’uuHu khaufaw wathama’an (“Dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut [khawatir tidak diterima] dan harapan [akan dikabulkan].”) maksudnya, takut memperoleh apa yang ada di sisi-Nya berupa siksaan, dan berharap pada pahala yang banyak dari sisi-Nya.

Kemudian Allah berfirman: inna rahmatallaaHi qariibum minal muhsiniin (“Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”) artinya rahmat-Nya diperuntukkan bagi orang-orang yang berbuat baik yang mengikuti berbagai perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya. Sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku itu untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-A’raaf: 156)

Dan dalam surah al-A’raaf ayat 56 itu, Allah menggunakan kata “qariibun” dan bukan “qariibatun” karena kata “rahmat” itu mengandung tsawab [pahala] atau karena rahmat itu disandarkan kepada Allah. Oleh karena itu, Allah berfirman: qariibum minal muhsiniin (“Amat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik”)

Mathar al-Warraq mengatakan: “Tuntutlah janji Allah dengan mentaati-Nya, karena Allah telah menetapkan bahwa rahmat-Nya sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik (taat).” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim)

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yunus ayat 55-56

6 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Yunus
Surah Makkiyyah; surah ke 10: 109 ayat

tulisan arab alquran surat yunus ayat 55-56“Ingatlah, sesungguhnya kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan di bumi. Ingatlah, sesungguhnya janji Allah itu benar, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui(nya). (QS. 10:55) Allahlah yang menghidupkan dan mematikan dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan. (QS. 10:56)” (Yunus: 55-56)

Allah memberi kabar, bahwa sesungguhnya la adalah pemilik langit dan bumi dan bahwa janji-Nya adalah benar, pasti, tidak diragukan lagi, dan bahwa Dia adalah Yang menghidupkan dan Yang mematikan, kepada-Nyalah kembalinya para makhluk. Bahwasanya yang mampu untuk itu adalah Dzat yang Mahamengetahui terhadap apa yang terpisah dari badan dan tercerai-berainya badan di berbagai tempat di bumi, lautan dan gurun pasir yang tandus.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yusuf ayat 54-55

27 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Yusuf
Surah Makkiyyah; surah ke 12: 111 ayat

tulisan arab alquran surat yusuf ayat 54-55“Dan raja berkata: ‘Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku.’ Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengannya, dia berkata: ‘Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi orang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami.’ (QS. 12:54) Berkata Yusuf. ‘Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku
adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.’ (QS. 12:55)” (Yusuf: 54-55)

Allah memberitakan tentang raja setelah ia memastikan bahwa Yusuf as. bebas dari tuduhan dan dirinya bersih dari apa yang dikatakan orang-orang terhadapnya. Raja mengatakan: iituunii biHii astakh-lish-Hu linafsii (“Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapai kepadaku.”) maksudnya ia akan kujadikan orang yang dekat denganku dan dijadikan sebagai penasehatku.

Falammaa kallamaHuu (“Tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia,”) maksudnya, raja berbicara dengan Yusuf dan mengenal serta melihat pandaian, mengetahui profil, akhlak, dan kesempurnaannya, raja berkata: innakal yauma ladainaa makiinun amiin (“Sesungguhnya kamu [mulai] hari ini menjadi orang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya di sisi kami”) maksudnya, sesungguhnya engkau sekarang telah mendapatkan kedudukan dan kepercayaan di sisi kami.

Lalu Yusuf as. menjawab: ij’alnii ‘alaa khazaa-inil ardli innii hafiidhun ‘aliim (“Jadikanlah aku bendaharawan negara [Mesir], sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengalaman [berpengetahuan].”) la memuji dirinya sendiri. Hal ini boleh bila diperlukan, sedangkan pihak lain tidak mengetahui kelebihannya.

la menyebutkan bahwa dirinya hafiidh artinya penyimpan yang dapat dipercaya, `aliim artinya memiliki pengetahuan dan mengerti tugas yang diembannya.

Syaibah bin Ni’amah mengatakan, maksudnya menjaga apa yang engkau titipkan padaku dan mengetahui tahun-tahun paceklik itu, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim. Ia minta pekerjaan tersebut karena ia tahu kemampuan dirinya di samping bahwa pekerjaannya itu mendatangkan maslahat bagi orang banyak. Ia meminta dijadikan bendaharawan gudang, yaitu piramid tempat menyimpan hasil bumi sebagai persediaan untuk menghadapi tahun-tahun paceklik yang sulit seperti yang diceritakannya, sehingga ia dapat berbuat dengan cara yang lebih hati-hati, lebih baik, dan lebih tepat bagi mereka.

Sang raja pun mengabulkan permintaannya, karena senang kepadanya dan sebagai penghormatan baginya. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman:

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nahl ayat 51-55

18 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nahl (Lebah)
Surah Makkiyyah; surah ke 16: 128 ayat

tulisan arab alquran surat an nahl ayat 51-55“Allah berfirman: ‘Janganlah kamu menyembah dua ilah; sesungguhnya Dialah Rabb Yang Mahaesa, maka hendaklah kepada-Ku saja kamu takut.’ (QS. 16:51) Dan kepunyaan-Nyalah segala apa yang ada di langit dan di bumi, dan untuk-Nyalah ketaatan itu selama-lamanya. Maka mengapa kamu bertakwa kepada selain Allah (QS. 16:52) Dan apa saja nikmat yang ada padamu, maka dari Allahlah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan. (QS. 16:53) Kemudian apabila Dia telah menghilangkan kemudharatan itu daripadamu, tiba-tiba sebahagian daripada kamu mempersekutukan Rabbnya dengan (yang lain), (QS. 16:54) biarlah mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka; maka bersenang-senanglah kamu. Kelak kamu akan mengetahui (akibatnya). (QS. 16:55)” (an-Nahl: 51-55)

Allah Ta’ala memberitahukan bahwasanya Dia adalah Rabb yang tiada Ilah melainkan hanya Dia semata, dan sesungguhnya tidak selayaknya ibadah itu dilakukan kecuali hanya untuk-Nya semata, yang tiada sekutu bagi-Nya. Sebab, Dia adalah Pemilik dari Pencipta segala sesuatu dan juga Pemeliharanya.

Wa laHud diinu waashiban (“Dan untuk-Nyalah ketaatan itu selama-lamanya.”) Ibnu `Abbas, Mujahid, `Ikrimah, Maimun bin Mihran, as-Suddi, Qatadah, dan lain-lainnya mengatakan: “Yakni, untuk selama-lamanya.”

Dari Ibnu `Abbas juga: “Yakni wajib.” Mujahid mengatakan: “Yakni, murni hanya karena-Nya. Artinya, ibadah itu hanya ditujukan kepada-Nya semata, dari semua makhluk yang ada di langit dan bumi.” Mengenai ungkapan Mujahid tersebut, maka ia termasuk dalam bab tuntutan, yakni, takutlah kalian untuk menyekutukan diri-Ku, dan tulus ikhlaskan ketaatan hanya untuk-Ku. Yang demikian itu seperti firman-Nya: “Ingatlah, hanya kepunyaan Allahlah agama yang bersih (dari syirik).” (QS. Az-Zumar: 3)

Kemudian Dia memberitahukan bahwa Dia adalah Pemilik manfaat dan mudharat. Dan bahwasanya segala macam rizki, kenikmatan, kesehatan, dan kemenangan yang ada pada hamba-hamba-Nya adalah anugerah-Nya yang Dia limpahkan kepada mereka sekaligus sebagai bentuk kebaikan-Nya kepada mereka.

Tsumma idzaa massakumudl-durru fa ilaiHi taj-aruun (“Dan bila kalian ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya kalian meminta pertolongan.”) Maksudnya, hal itu
seperti yang kalian ketahui bahwasanya tidak ada satu pihak pun yang mampu menghapuskan mudharat itu kecuali hanya Dia semata. Dan pada saat darurat, kalian berlindung kepada-Nya, memohon kepada-Nya, terus-menerus berharap kepada-Nya, serta meminta pertolongan kepada-Nya.

Dia berfirman: tsumma idzaa kasyafadl dlurra ‘ankum idzaa fariiqum minkum birabbiHim yusyrikuun. Liyakfuruu bimaa aatainaaHum (“Kemudian apabila Dia telah menghilangkan kemudharatan itu daripadamu, tiba-tiba sebahagian daripada kamu mempersekutukan Rabbnya dengan (yang lain). Biarlah mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka.”)

Ada yang mengatakan: “Huruf laam di sini dimaksudkan sebagai laamul ‘aaqibah (yang berarti akibat).” Ada juga yang menyatakan bahwa laam itu adalah laam ta’lil (sebab), dengan pengertian, hal itu Kami biarkan mereka mengingkari, yakni menutupi dan menolak bahwa semuanya itu adalah nikmat-nikmat Allah yang diberikan kepada mereka. Dialah yang telah melimpahkan berbagai nikmat kepada mereka, dan yang menghilangkan berbagai kesengsaraan dari diri mereka.

Selanjutnya, Allah Ta’ala mengancam mereka seraya berfirman: fatamatta’uu (“Maka bersenang-senanglah kalian,”) maksudnya, berbuatlah sekehendak hati kalian dan bersenang-senanglah dengan apa yang ada pada kalian dalam waktu yang tidak lama; fasaufa ta’lamuun (“Kelak kamu akan mengetahui,”) yaitu, akbat perbuatan kalian tersebut.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Israa’ Ayat 54-55

13 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Israa’
(Memperjalankan di Malam Hari)
Surah Makkiyyah; surah ke 17: 111 ayat

tulisan arab alquran surat al israa ayat 54-55“Rabbmu lebih mengetahui tentang kamu. Dia akan memberi rahmat kepadamu jika Dia menghendaki dan Dia akan mengazabmu, jika Dia menghendaki. Dan Kami tidaklah mengutusmu untuk menjadi penjaga bagi mereka. (QS. 17:54) Dan Rabbmu lebih mengetahui siapa yang (ada) di langit dan di bumi. Dan sesungguhnya telah Kami lebihkan sebagian para Nabi itu atas sebagian (yang lain), dan Kami berikan Zabur (kepada) Dawud. (QS. 17:55)” (al-Israa’: 54-55)

Allah berfirman: rabbukum a’lamu bikum (“Rabbmu lebih mengetahui tentang kamu.”) Wahai sekalian manusia, Aku (Allah) lebih mengetahui siapa di antara kalian yang berhak mendapatkan hidayah, dan siapa pula orang yang tidak berhak mendapatkannya.

Iy yasya’ yarhamakum (“Dia akan memberi rahmat kepadamu jika Dia menghendaki.”) Yakni, jika menghendaki Dia akan menjadikan kalian taat dan kembali kepada-Nya. Au iy yasya’ yua’adzdzibkum wa maa arsalnaaka (“Dan Dia akan mengadzabmu, jika Dia menghendaki. Dan Kami tidaklah mengutusmu,”) hai Muhammad; ‘alaiHim wakiilan (“Untuk menjadi penjaga bagi mereka.”) Maksudnya, tetapi Aku mengutusmu sebagai pemberi peringatan. Barangsiapa mentaatimu, maka ia akan masuk surga, dan barangsiapa yang durhaka kepadamu, maka ia akan masuk neraka.

Dan firman-Nya: wa rabbuka a’lamu biman fis samaawaati wal ardli (“Dan Rabbmu lebih mengetahui siapa yang [ada] di langit dan di bumi.”) Yakni tingkatan mereka dalam ketaatan dan kedurhakaan.

Wa laqad fadl-dlalnaa ba’dlan nabiyyiina ‘alaa ba’dlin (“Dan sesungguhnya telah Kami lebihkan sebagian para Nabi itu atas sebagian yang lain.”) Dan yang terakhir ini tidak bertentangan dengan apa yang ditegaskan dalam kitab ash-Shahihain, bahwa Rasulullah bersabda: “Janganlah kalian saling mengutamakan (melebihkan) di antara para Nabi.”

Yang dimaksudkan dengan pengutamaan dalam ayat di atas adalah pengutamaan dalam batas ashabiyah (kefanatikan), bukan tuntutan dalil. Jika ada dalil yang menunjukkan sesuatu, maka harus diikuti. Tidak ada ikhtilaf bahwa para Rasul itu lebih utama daripada para Nabi. Dan Ulul `Azmi dari mereka adalah lebih utama dari mereka secara keseluruhan.

Ulul `Azmi itu berjumlah lima orang yang disebutkan di dalam dua ayat Al-Qur’an, yaitu dalam surat al-Ahzaab, di mana Allah berfirman: “Dan ingatlah ketika, Kami mengambil perjanjian dari para Nabi dan darimu sendiri, dari Nuh, Ibrahim, Musa dan `Isa putera Maryam.” (QS. AI-Ahzaab: 7)

Tidak ada ikhtilaf bahwa Nabi Muhammad yang paling utama dari para Nabi secara keseluruhan. Dan setelah beliau adalah Ibrahim, lalu Musa dan kemudian`Isa’ as. Demikianlah yang masyhur. Hal itu telah kami jelaskan dengan dalil-dalilnya yang lengkap di beberapa pembahasan.

Dan firman-Nya: wa aatainaa daawuuda zabuuran (“Dan Kami berikan Zabur [kepada Dawud].”) Sebagai peringatan akan keutamaan dan kemuliaannya.

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Abudari Nabi,di mana beliau bersabda: “Dawud sangat cepat dalam membaca al-Qur’an. Ia pernah menyuruh menyiapkan binatang kendaraannya, lalu dipasangkan pelana pada binatangnya tersebut, lalu ia berhasil menyelesaikan membaca al-Qur’an sebelum pelana itu selesai dipasang. Yang dimaksud dengan al-Qur’an di sini adalah kitab Zabur.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Anfaal Ayat 55-57

9 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anfaal
(Harta Rampasan Perang)
Surah Madaniyyah; surah ke 8: 75 ayat

tulisan arab alquran surat al anfaal ayat 55-57“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak berirnan. (QS. 8:55) (Yaitu) orang-orang yang kamu telah mengambil perjanjian dari mereka, sesudah itu mereka mengkhianati janjinya pada setiap kalinya dan mereka tidak takut (akibat-akibatnya). (QS. 8:56) Jika kamu menemui mereka dalam peperangan, maka cerai-beraikanlah orang-orang yang di belakang mereka dengan (menumpas) mereka, supaya mereka mengambil pelajaran. (QS. 8:57)” (al-Anfaal: 55-57)

Allah memberitahukan, bahwa seburuk-buruk apa yang berjalan di muka bumi ini adalah orang-orang kafir, karena mereka tidak beriman. Mereka adalah orang-orang yang setiap kali mengadakan perjanjian, mereka selalu melanggar perjanjiannya dan setiap kali menegaskan keimanan, mereka mengabaikannya.

waHum laa yattaquun (“Dan mereka tidak takut.”) Maksudnya, mereka sama sekali tidak takut kepada Allah dalam melakukan perbuatan dosa.
Fa immaa tatsqafannakum fil harb (“Jika engaku menemui mereka dalam peperangan.”) Yakni, kalian dapat memenangkan dan mengalahkan mereka dalam peperangan; fa syarrid biHim man khalfaHum (“Maka cerai-beraikanlah orang-orang yang di belakang mereka dengan [menumpas] mereka.”) Maksudnya, timpakanlah siksaan kepada mereka.

Demikian itulah yang dikatakan oleh Ibnu Abbas, al-Hasan al-Bashri, adh-Dhahhak, as-Suddi, `Atha’ al-Khurasani dan Ibnu `Uyainah. Maknanya adalah, berikanlah siksaan yang keras dan bersikap kasarlah dalam melakukan penyerangan, supaya musuh-musuh yang lain, baik dari kalangan bangsa Arab maupun (selain mereka) menjadi takut dan agar yang demikian itu menjadi pelajaran bagi mereka.

La’allaHum yadzdzakkaruun (“Supaya mereka mengambil pelajaran.”) As-Suddi mengatakan: “Agar mereka berhati-hati dan tidak melakukan pengingkaran, sehingga mereka tidak ditimpa hal yang serupa.”

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 55-58

2 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan)
Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat

tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 55-58“(Ingatlah), ketika Allah berfirman: ‘Hai ‘Isa, sesunggubnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir bingga hari Kiamat. Kemudian hanya kepada Aku-lah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya.’ (QS. 3:55) Adapun orang-orang yang kafir, maka akan Ku-siksa mereka dengan siksa yang sangat keras di dunia dan di akhirat, dan mereka tidak memperoleh penolong. (QS. 3:56) Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shalih, maka Allah akan memberikan kepada mereka dengan sempurna pahala amalan-amalan mereka; dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zhalim. (QS. 3:57) Demikianlab (kisah ‘Isa), Kami membacakannya kepada kamu sebagian dari bukti-bukti (kerasulannya) dan (membacakan) al-Qur’an yang penuh hikmah.” (QS. 3:58)

Para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai firman Allah Ta’ala, innii mutawaffiika wa raafi’uka ilayya (“Sesungguhnya Aku akan menyampaikanmu pada akhir ajalmu dan mengangkatmu kepada-Ku.”)
Menurut Qatadah dan ulama lainnya berkata, “Ini merupakan bentuk kalimat dalam bentuk muqaddam dan muakhkhar (yaitu bentuk kalimat yang mendahulukan apa yang seharusnya ada di akhir, dan mengakhirkan apa yang seharusnya didahulukan). Kedudukan sebenarnya adalah: innii raafi’uka wa mutawaffiika ilayya; yakni “Aku mengangkatmu kepada-Ku dan mewafatkanmu,” yaitu setelah itu.

Ali bin Abu Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, innii mutawaffiika; artinya: Aku mematikanmu. Mayoritas ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan kematian tersebut adalah tidur, sebagaimana firman-Nya, wa Huwal ladzii yatawaffaakum bil laili (“Dan Dia-lah yang menidurkan kalian di malam hari.”) (QS. Al-An’aam: 60)

Juga firman-Nya, AllaaHu yatawaffal anfusa hiina mautiHaa wal latii lam tamut fii manaamiHaa (“yang memegang jiwa [orang] ketika matinya dan [memegang] jiwa [orang] yang belum mati pada waktu tidurnya.”) (QS. Az-Zumar: 42)

Rasulullah jika bangun tidur berdo’a: alhamdu lillaaHil ladzii ahyaanaa ba’da maa amaatanaa (“Segala puji bagi Allah, yang telah menghidupkan kami, setelah mematikan [menidurkan]) kami.”) (Muttafaqun ‘alaih)

Allah berfirman: “Dan karena kekafiran mereka (terhadap `Isa), dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zina). Dan karena ucapan mereka, ‘Sesungguhnya kami telah membunuh al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah.’ Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak juga menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh adalah) orang yang diserupakan dengan `Isa bagi mereka. -sampai dengan firman-Nya- “..mereka tidak pula yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah `Isa.”

“Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat `Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Tidak ada seorang pun dari Ahlul Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan pada hari Kiamat kelak Isa itu akan menjadikan saksi terhadap mereka.” (QS. An-Nisaa’: 156-159).

Dhamir (kata ganti) “Hi” (nya) pada firman Allah “qab-la mautiHi” yaitu kembali kepada `Isa’ as. Artinya, tidak seorang pun dari Ahlul Kitab melainkan akan beriman kepada `Isa pada saat turun ke bumi kelak, sebelum hari Kiamat, sebagaimana akan dijelaskan. Maka pada saat itu, semua Ahlul Kitab akan mempercayainya, karena ia menghapuskan jizyah dan tidak menerima kecuali Islam.

Firman-Nya, wa muthaHHiruka milal ladziin kafaruu (“Serta membersihkan kamu dari orang-orang kafir.”) Yaitu dengan Aku mengangkatmu ke langit.

Wa jaa’ilul ladziinat taba’uuka fauqal ladziina kafaruu ilaa yaumil qiyaamati (“Dan menjadikan orang-orang yang mengikutimu di atas orang-orang yang kafir hingga hari Kiamat.”)

Demikian itulah yang terjadi. Sesungguhnya ketika al-Masih diangkat Allah ke langit, sahabat-sahabatnya tercerai-berai menjadi beberapa golongan. Ada yang beriman kepada apa yang dibawanya bahwa ia adalah hamba dan Rasul-Nya serta seorang anak dari seorang hamba-Nya. Di antara mereka ada juga yang berlebih-lebihan menyanjungnya hingga menjadikannya sebagai anak Allah, adapula yang menganggap bahwa ia adalah Allah dan adapula yang menganggapnya sebagai salah satu dari trinitas.

Allah telah mengisahkan ucapan mereka itu dalam al-Qur’an dan membantah setiap kelompok. Namun mereka tenggelam dalam kondisi seperti itu selama hampir tiga ratus tahun, hingga akhimya muncul di tengah-tengah mereka seorang raja Yunani bernama Constantine, yang memeluk agama Nasrani. Ada juga yang mengatakan, langkahnya masuk dalam agama Nasrani itu sebagai tipu muslihat untuk merusaknya, karena ia adalah seorang filusuf.

Ada juga yang mengatakan, hal itu disebabkan karena dia tidak memahami agama tersebut. Maka Constantine pun merubah, menambah, dan mengurangi beberapa ketetapan yang ada dalam agama `Isa. Selanjutnya ia membuat undang-undang dan amanah agung untuk agama Nasrani, yang sebenarnya hanya merupakan pengkhianatan yang hina.

Pada zamannya, daging babi itu dihalalkan, dan mereka shalat mengikutinya (Constantine) dengan menghadap ke timur. Dan gereja, tempat-tempat ibadah, serta biara diisi dengan patung `Isa. Selain itu Constantine menambah ibadah puasa mereka sebanyak sepuluh hari disebabkan dosa yang dia lakukan, menurut anggapan mereka. Akhirnya agama al-Masih menjadi agama Constantine. Akan tetapi dia telah membangunkan untuk mereka gereja, biara, dan tempat ibadah yang jumlahnya lebih dari 12.000 (dua belas ribu). Selain itu, ia juga membangun sebuah kota yang dikaitkan dengan namanya (Konstantinopel). la diikuti oleh sekelompok kerajaan dari kalangan mereka. Dalam melakukan semuanya itu mereka menekan orang-orang Yahudi, Allah telah memberikan kekuatan kepadanya atas mereka karena dia lebih dekat dengan kebenaran daripada orang-orang Yahudi, meskipun pada dasarnya mereka semua adalah kafir. Semoga laknat Allah atas mereka.

Ketika Allah swt. mengutus Nabi Muhammad, maka orang yang beriman kepada beliau, pasti beriman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan Rasul-Rasul-Nya dengan cara yang benar. Maka mereka itulah pengikut semua Nabi yang ada di muka bumi, karena mereka telah benar-benar membenarkan Rasul, Nabi yang buta huruf yang berasal dari bangsa Arab, penutup para Rasul dan junjungan seluruh anak keturunan Adam, secara mutlak, yang mengajak mereka untuk membenarkan segala yang haq. Maka mereka pulalah yang lebih dekat dengan setiap Nabi dari pada umat Nabi itu sendiri yang mengaku mengikuti agama dan jalan Nabinya, sementara mereka telah menyelewengkan dan merubah ajarannya.

Kemudian, kalaupun tidak terjadi perubahan dan penyelewengan ini, sesungguhnya Allah telah menghapuskan syari’at seluruh Rasul dengan apa yang dibawa oleh Muhammad berupa agama yang haq yang tidak dapat diubah dan diganti sampai hari Kiamat kelak dan akan tetap tegak, dibela dan menang atas semua agama.

Oleh karena itu, Allah, membukakan bumi belahan timur dan barat bagi para Sahabat beliau, hingga mereka berhasil menundukkan segala kerajaan, menaklukkan seluruh negeri dan mematahkan Kisra (Kerajaan Persi) dan Kaisar (Kerajaan Romawi) serta mengambil alih semua kekayaan mereka untuk selanjutnya mereka nafkahkan di jalan Allah, sebagaimana hal itu telah diberitahukan oleh Nabi mereka sendiri, bersumber dari Rabb mereka, yaitu pada firman-Nya yang artinya:

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar keadaan mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap beribadah kepada-Ku dengan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun.” (QS. An-Nuur: 55)

Oleh karena itulah, tatkala mereka benar-benar beriman kepada al-Masih, maka mereka dapat merampas dari orang-orang Nasrani negeri Syam dan memaksa mereka masuk ke Romawi, lalu mereka bertahan di kota mereka, Konstantinopel. Dan Islam bersama pemeluknya akan senantiasa berada di atas mereka sampai hari Kiamat kelak.

Ash-Shadiqul-Masduq (yang berkata dengan benar [jujur] dan dibenarkan [dipercaya] perkataannya) telah memberitahu umatnya bahwa generasi terakhir dari mereka akan membebaskan kota Konstantinopel dan mengambil kekayaan yang ada di sana, serta memerangi orang-orang Romawi secara besar-besaran yang belum pernah disaksikan manusia sebelumnya dan tidak ada bandingannya setelah itu. Mengenai masalah ini, penulis telah menyusun dalam buku tersendiri.

Karena itu, Allah berfirman: Wa jaa’ilul ladziinat taba’uuka fauqal ladziina kafaruu ilaa yaumil qiyaamati tsumma ilayya marji’ukum fa-ahkumu bainakum fiimaa kuntum fiiHi takhtalifuun. Fa ammal ladziina kafaruu fa-u-‘adzdzibuHum ‘adzaaban syadiidan fid dun-yaa wal aakhirati wamaa laHum min naashiriin (“Dan [Aku] menjadikan orang-orang yang mengikutimu di atas orang-orang yang kafir hingga hari Kiamat. Kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antara kamu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya. Adapun orang-orang kafir, maka akan Ku-siksa mereka dengan siksa yang sangat keras di dunia dan di akhirat, dan mereka tidak memperoleh penolong.”) Demikian juga Allah berbuat terhadap orang-orang yang ingkar kepada `Isa, dari kalangan Yahudi maupun yang bersikap “ghuluw” (berlebih-lebihan) terhadapnya dari kalangan Nasrani, Dia akan mengadzab mereka di dunia dengan dibunuh, ditawan, dirampas harta kekayaannya, serta dicopot kekuasaan mereka dari kerajaan-kerajaan, sedangkan di akhirat, mereka akan mendapatkan adzab yang lebih pedih dan berat, wa maa laHum minallaaHi miw waaq (“Dan tidak ada seorangpun pelindung bagi mereka dari adzab Allah.”) (ar-Ra’du: 34)

Dan firman-Nya, wa ammal ladziina aamanuu wa ‘amilush shaalihaati fa yuwaffiiHim ujuuraHum (“orang-orang yang beriman dan merigerjakan amal-amal yang shalih, maka Allah akan memberikan kepada mereka dengan sempurna pahala amalan-amalan mereka.”) Yaitu di dunia dan di akhirat. Pahala di dunia berupa pertolongan dan kemenangan. Sedangkan di akhirat berupa Surga-Surga yang tinggi. wallaaHu laa yuhibbudh-dhaalimiin (“Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zhalim.”)

Kemudian Dia berfirman, dzaalika natluuHu ‘alaika minal aayaati wa wadz-dzikril hakiim (“Demikianlah [kisah Isa] Kami membacakannya kepadamu sebagian dari bukti-bukti [kerasulannya] dan [membacakan] al-Qur’an yang penuh hikmah.”) Artinya, yang Kami kisahkan kepadamu ini, ya Muhammad mengenai diri `Isa, yang dimulai dari kelahirannya dan bagaimana sifat urusannya adalah di antara yang difirmankan dan diwahyukan, serta diturunkan Allah swt. kepadamu dari Lauhul Mahfuzh, maka tidak ada perbantahan tentang `Isa dan tidak pula keraguan.

Sebagaimana firman-Nya dalam Surat Maryam, dzaalika ‘iisabna maryama qaulal haqqil ladzii fiiHi yamtaruun. Maa kaana lillaaHi ay yattakhida miw waladin subhaanaHu idzaa qadlaa amran fa inna maa yaquulu laHuu kun fayakuun (“Itulah ‘Isa putera Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya. Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Mahasuci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya, ‘Jadilah,’ maka jadilah ia.” (QS. Maryam: 34-35)

&

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 55-56

17 Feb

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 55-56
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 55-56“Kemudian ia membaca firman-Nya, maka Allah akan menerima taubatmu. Sesungguhnya Dia Mahamenerima taubat lagi Mahapenyayang. “Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: ‘Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang”, karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya. (QS. Al-Baqarah: 55) Setelah itu Kami bangkitkan kamu sesudab kamu mati, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 56)

Allah berfirman, “Wahai Bani Israil, ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepada kalian, yaitu ketika Aku membangkitkan kalian setelah peristiwa datangnya petir. Di mana kalian meminta untuk dapat melihat-Ku secara nyata dan kasat mata, suatu permintaan yang tidak akan sanggup kalian tanggung,dan juga makhluk sejenis kalian.”

Berkenaan dengan firman-Nya, “Dan ingatlah ketika kamu berkata, ‘Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang Ibnu Juraij meriwayatkan dari Ibnu Abbas: “Artinya, melihat-Nya secara jelas (kasat mata). Masih mengenai penggalan firman-Nya, “Sampai kami melihat Allah dengan terang” Qatadah dan Rabi’ bin Anas mengatakan: “Yaitu kasat mata.”

Abu Ja’far meriwayatkan dari Rabi’ bin Anas: “Bahwa mereka itulah tujuh puluh orang yang dipilih oleh Musa as. Mereka berjalan bersama Musa hingga akhirnya mereka mendengar sebuah firman, maka mereka pun berkata, `Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan nyata.’ Kemudian, lanjut Rabi’ bin Anas, mereka mendengar suara yang menyambar, dan mereka pun mati.”

Marwan bin al-Hakam mengatakan dalam pidato yang disampaikannya dari atas mimbar di Makkah: “Petir berarti suara keras dari langit.”

Mengenai firman-Nya, “Karena itu kamu disambar ash-Sha’iqah.” As-Suddi mengatakan: “Ash-Sha’iqah berarti api.”

Dan mengenai firman Allah, “Sedang kamu menyaksikan, “Urwah bin Ruwaim mengatakan: “Sebagian dari mereka ada yang disambar petir, dan sebagian lainnya menyaksikan peristiwa tersebut. Kemudian sebagian dari mereka dibangkitkan dan sebagian lainnya disambar petir (bergantian).”

Dan as-Suddi mengenai firman-Nya, “Karena itu kamu disambar petir, ” mengatakan: “Maka mereka pun mati, lalu Musa as bangkit dan menangis seraya memanjatkan do’a, “Ya Rabbku, apa yang harus aku katakan kepada Bani Israil jika aku kembali kepada mereka, sedang Engkau telah membinasakan orang-orang terbaik di antara mereka. Jika Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami.” (QS. Al-A’raaf: 155).

Kemudian Allah mewahyukan kepada Musa bahwa 70 orang yang bersamanya itu telah menyembah anak lembu. Lalu Allah menghidupkan mereka sehingga mereka bangun dan hidup seorang demi seorang dan satu lama lain saling menyaksikan, bagaimana mereka hidup kembali.

Kata as-Suddi selanjutnya: “Itulah makna firman Allah Ta’ala: Setelah itu Kami bangkitkan kamu sesudab kamu mati, supaya kamu bersyukur.’”

Rabi’ bin Anas mengatakan: “Kematian mereka itu merupakan hukuman bagi mereka, lalu dibangkitkan kembali hingga datang ajal hidupnya.”
Hal senada juga disampaikan oleh Qatadah.

&

55. Surah Ar-Rahmaan

28 Nov

Pembahasan Tentang Surat-Surat Al-Qur’an (Klik di sini)
Tafsir Ibnu Katsir (Klik di sini)

Surat Ar Rahmaan terdiri atas 78 ayat, termasuk golongan surat- surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Ar Ra’du. Dinamai Ar Rahmaan (Yang Maha Pemurah), diambil dari perkataan Ar Rahmaan yang terdapat pada ayat pertama surat ini. Ar Rahmaan adalah salah satu dari nama-nama Allah. Sebagian besar dari surat ini menerangkan kepemurahan Allah s.w.t. kepada hamba-hamba-Nya, yaitu dengan memberikan nikmat-nikmat yang tidak terhingga baik di dunia maupun di akhirat nanti.

Pokok-pokok isinya:

1. Keimanan:
Allah mengajar manusia pandai berbicara; pohon- pohonan dan tumbuh-tumbuhan tunduk kepada Allah; Allah selalu dalam kesibukan; seluruh alam meru- pakan nikmat Allah terhadap ummat manusia; manusia diciptakan dari tanah dan jin dari api.
2. Hukum-hukum:
Kewajiban mengukur, menakar, menimbang dengan adil.
3. Dan Lain-lain :
Manusia dan jin tidak dapat melepaskan diri dari kekuasaan Allah s.w.t. banyak dari ummat manusia yang tidak mensyukuri nikmat Tuhan; nubuwat tentang hal-hal yang akan terjadi dan hal-hal itu benar- benar terjadi seperti tentang terusan Sues dan Panama.
Surat Ar Rahmaan menyebutkan bermacam-macam nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepada hamba-hamban-Nya yaitu dengan menciptakan alam dengan segala yang ada padanya. Kemudian diterangkan pem- balasan di akhirat, keadaan penghuni neraka dan keadaan penghuni syurga yang dijanjikan Allah kepada orang yang bertakwa.

HUBUNGAN SURAT AR RAHMAAN DENGAN SURAT AL WAAQI’AH

1. Kedua surat ini sama-sama menerangkan keadaan di akhirat dan keadaan di syurga dan di neraka.
2. Dalam surat Ar Rahmaan diterangkan azab yang ditimpakan kepada orang-orang yang berdosa dan nikmat yang diterima orang-orang yang bertakwa;dijelaskan bahwa ada dua macam syurga yang disediakan bagi orang-orang mukmin. Pada surat Al Waaqi’ah diterangkan pembagian manusia di akhirat pada tiga golongan, yaitu golongan kiri, golongan kanan dan golongan orang-orang yang lebih dahulu beriman dan diterangkan pula bagaimana nasib masing-masing golongan itu.