Tag Archives: 61

Tafsir Ibnu Katsir Surah At-Taubah ayat 61

4 Nov

Tafsir Ibnu Katsir Surah At-Taubah ayat 61
Tafsir Al-Qur’an Surah At-Taubah (Pengampunan)
Surah Madaniyyah; surah ke 9: 129 ayat

tulisan arab alquran surat at taubah ayat 61

“Di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang menyakiti Nabi dan mengatakan, ‘Nabi mempercayai semua apa yang didengarnya.’ Katakanlah, ‘Ia mempercayai semua yang baik bagi kalian, ia beriman kepada Allah, mempercayai orang-orang mukmin, dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kalian.’ Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab yang pedih.” (At-Taubah ayat 61)

Allah Swt. menyebutkan bahwa di antara orang-orang munafik terdapat suatu kaum yang senantiasa menyakiti Rasulullah Saw. dengan ucapannya mengenai diri Rasulullah Saw., dan mereka mengatakan:

{هُوَ أُذُنٌ}

Dia mempercayai semua apa yang didengarnya. (At-Taubah: 61)

Yakni orang yang mengucapkan sesuatu kepadanya, maka dia membenarkannya di antara kami; dan orang yang bercerita kepadanya, maka dia selalu mempercayainya. Dan apabila kita datang kepadanya, lalu kita bersumpah kepadanya, niscaya dia membenarkan kita. Demikianlah menurut penafsiran yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Mujahid, dan Qatadah.

Firman Allah Swt.:

{قُلْ أُذُنُ خَيْرٍ لَكُمْ}

Katakanlah, “Ia mempercayai semua yang baik bagi kalian.” (At-Taubah: 61)

Dengan kata lain, telinga yang dimilikinya adalah lebih baik, ia menge­tahui mana yang benar dan mana yang dusta.

{يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَيُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِينَ}

ia beriman kepada Allah dan mempercayai orang-orang mukmin.(At-Taubah: 61)

Artinya percaya dan membenarkan orang-orang mukmin.

{وَرَحْمَةٌ لِلَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ}

dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kalian. (At-Taubah: 61)

Yakni ia merupakan hujah yang menghantam orang-orang kafir. Karena itulah dalam Firman selanjutnya disebutkan:

{وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ رَسُولَ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ}

Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab yang pedih. (At-Taubah: 61)

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yunus ayat 61

8 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Yunus
Surah Makkiyyah; surah ke 10: 109 ayat

tulisan arab alquran surat yunus ayat 61“Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari al-Qur’an dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Rabbmu walaupun sebesar dzarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar daripada itu, melainkan (semua tercatat) dalam Kitab yang nyata (Lauhul Mahfuzh).” (QS. Yunus: 61)

Allah memberi kabar kepada Nabi-Nya saw. bahwa sesungguhnya Allah mengetahui semua keadaannya, keadaan umatnya dan keadaan semua makhluk dalam setiap saat, setiap menit dan setiap detik. Dan sesungguhnya tidak luput dari pengetahuan dan penglihatan-Nya, perbuatan sebesar biji dzarrah yang paling kecil dan paling rendah, baik di langit maupun di bumi, tidaklah yang lebih kecil atau yang lebih besar darinya, kecuali tercatat dalam Kitab yang nyata. Jika pengetahuan-Nya terhadap gerakan segala sesuatu seperti ini, maka bagaimana pengetahuan-Nya terhadap orang-orang yang dibebani dan diperintah untuk beribadah.

Maka dari itu Allah Ta’ala berfirman: wa maa takuunu fii sya’niw wa maa tatluu minHu min qur-aaniw wa maa ta’maluuna min ‘amalin illaa kunnaa ‘alaikum syuHuudan idz tafii-dluuna fiiHi (“Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari al-Qur’an dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya.”) Maksudnya, ketika kalian melakukan sesuatu pekerjaan, Kami menyaksikannya, melihat dan mendengar apa yang kalian lakukan, maka dari itu Rasulullah bersabda ketika Jibril bertanya kepadanya tentang Ihsan:
“Hendaklah kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihat-Nya, meskipun kamu tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”

Ini adalah potongan dari hadits yang berkenaan dengan “ad diin” (agama), yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Imam yang lainnya.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Anfaal Ayat 61-63

2 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anfaal
(Harta Rampasan Perang)
Surah Madaniyyah; surah ke 8: 75 ayat

tulisan arab alquran surat al anfaal ayat 61-63“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allahlah yang Maha-mendengar lagi Maha-mengetahui. (QS. 8:61) Dan jika mereka bermaksud hendak menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi Pelindungmu). Allahlah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan orang-orang beriman. (QS. 8:62) Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Allah perkasa lagi Maha-bijaksana. (QS. 8:63)” (al-Anfaal: 61-63)

Allah berfirman, bahwa jika engkau khawatir terhadap pengkhianatan suatu kaum, maka langgarlah perjanjian mereka itu secara timbal balik. Dan jika ia masih terus memerangimu dan melanggar hakmu, maka seranglah mereka.
Wa in janahuu (“Dan jika mereka condong,”) yaitu cenderung. Lis silmi (“Kepada perdamaian.”) Yakni berdamai, perbaikan hubungan dan penghentian perang.
Fajnah laHaa (“Maka condonglah kepadanya.”) Maksudnya cerderunglah engkau kepada perdamaian tersebut dan terimalah tawaran mereka tersebut.

Oleh karena itu, ketika orang-orang musyrik menawarkan perdamaian genjatan senjata selama sembilan tahun antara mereka dengan Rasulullah pada saat diadakan Shulhul Hudaibiyyah (perjanjian Hudaibiyyah), maka beliau pun menerima tawaran tersebut dengan mengajukan beberapa syarat kepada mereka.

Ibnu `Abbas, Mujahid, Zaid bin Aslam, `Atha’ al-Khurasani, ‘Ikrimah, al-Hasan al-Bashri dan Qatadah mengatakan: “Sesungguhnya ayat tersebut dimansukh (dihapus) oleh ayat saif (pedang) rang terdapat dalam surat Bara-ah (at-Taubah): “Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak pula kepada hari akhir.” (QS. At-Taubah: 29)
Tetapi pendapat ini perlu ditinjau juga, karena ayat yang terdapat dalam surat Bara-ah (at-Taubah) itu di dalamnya terdapat perintah untuk memerangi mereka, jika memungkinkan untuk itu. Tetapi jika musuh berjumlah banyak, maka diperbolehkan bagi kaum muslimin mengadakan perjanjian perdamaian. Sebagaimana hal itu telah ditunjukkan oleh ayat al-Qur’an dan sebagaimana hal itu pernah dilakukan oleh Rasulullah pada hari diadakannya perjanjian Hudaibiyyah. Dengan demikian, tidak ada pertentangan, tidak ada nasakh, serta tidak ada pula takhshish (pengkhususan). Wallahu a’lam.

Firman-Nya: wa tawakkal ‘alallaaHi (“Dan bertawakkallah kepada Allah.”) Maksudnya, berdamailah dengan mereka dan bertawakkallah kepada Allah, karena Allah yang memberikan kecukupan dan menolongmu. Dan seandainya mereka menawarkan perdamaian untuk sebuah tipu daya agar mereka dapat memperkuat diri dan membuat persiapan, maka hendaklah kalian berhati-hati dan berwaspada. Fa inna hasbakallaaH (“Maka sesungguhnya cukuplah Allah.”) Artinya, cukuplah Allah saja yang menjadi pelindung bagimu.

Setelah itu, Allah menyebutkan nikmat yang telah dianugerahkan kepada Nabi saw, yaitu berupa pertolongan Allah dan dukungan dari orang-orang yang beriman, (yaitu) kaum Muhajirin dan Anshar, di mana Allah berfirman: Huwal ladzii ayyadaka binash-riHii wa bil mu’miniin. Wa allafa baina quluubiHim (“Allah-lah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan orang-orang mukmin dan yang mempersatukan hati mereka [orang-orang yang beriman].”) Maksudnya, Allahlah yang menyatukan hati kalian dalam keimanan, ketaatan, serta memberikan pertolongan dan bantuan kepadamu.

Lau anfaqta maa fil ardli jamii’am maa allafta baina quluubihim (“Walaupun engkau membelanjakan semua [kekayaan]) yang ada di bumi, niscaya engkau tidak dapat mempersatukan hati mereka.”) Maksudnya, yang demikian itu karena di antara mereka terdapat permusuhan dan kebencian. Sebenarnya, di kalangan kaum Anshar terdapat berbagai macam peperangan pada masa Jahiliyah antara suku Aus dan suku Khazraj, serta berbagai hal yang mengharuskan mereka berbuat kejahatan yang berkesinambungan. Kemudian, Allah memutuskan hal itu dengan cahaya keimanan.

Sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala: “Dan ingatlab akan nikmat Allah yang diberikan kepada kalian dahulu (pada masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, lalu Allah mempersatukan hati kalian sehingga dengan nikmat tersebut kalian menjadi orang-orang yang bersaudara.” (QS. Ali-‘Imraan: 103)

Dalam ash-Shahihain disebutkan sebuah hadits yang menceritakan tentang Rasulullah ketika berbicara dengan kaum Anshar mengenai permasalahan ghanimah dalam perang Hunain, beliau mengatakan kepada mereka: “Hai kaum Anshar sekalian, bukankah aku dahulu mendapati kalian dalam keadaan sesat, lalu Allah memberikan petunjuk kepada kalian melalui diriku. Aku menjumpai kalian dalam keadaan miskin, lalu Allah memberimu kekayaan melalui diriku. Dan kalian dahulu ada dalam keadaan bercerai-berai, lalu Allah menyatukan kalian melalui diriku.” Setiap kali beliau mengatakan sesuatu, mereka berkata: “Allah dan Rasul-Nya paling banyak memberikan nikmat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Oleh karena itu, Allah berfirman: wa laakinnallaaHa allafa bainaHum innaHuu ‘aziizun hakiim (“Tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”) Maksudnya, Allah Mahaperkasa sehingga Allah tidak menyia-nyiakan harapan orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya dan Allah Mahabijaksana dalam perbuatan dan hukum-hukum-Nya.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Huud ayat 61

30 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Huud
Surah Makkiyyah; surah ke 11: 123 ayat

tulisan arab alquran surat huud ayat 61“Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shalih. Shalih berkata: ‘Hai kaumku, beribadahlah kepada Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Ilah selain Allah. Allah telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu (sebagai) pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Rabbku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (do’a hamba-Nya).’” (QS. Huud: 61)

Allah berfirman: wa (“dan”) sungguh Kami telah mengutus; ilaa tsamuuda (“kepada Tsamud”) Merekalah yang dulu tinggal di kota-kota al-Hajar antara Tabuk dan Madinah, mereka adalah generasi setelah ‘Aad. Maka Allah mengutus dari mereka: akhaaHum shaalihan (“Saudara mereka; Shalih”) Dia memerintahkan mereka agar beribadah kepada Allah saja. Untuk itu dia berkata: Huwa ansya-akum minal ardli (“Allah telah menciptakan kamu dari tanah [bumi].”) maksudnya Allah telah memulai penciptaan kalian dari tanah [bumi], dari tanah itulah diciptakan-Nya Adam, bapak kalian.

Wasta’marakum fiiHaa (“Dan menjadikan kamu [sebagai] pemakmurnya”) maksudnya Allah menjadikan kamu sebagai pemakmur, penduduk yang meramaikan bumi dan memanfaatkannya.

fastaghfiruuHu (“Karena itu mohon ampunlah kepada-Nya”) untuk dosa-dosamu yang telah lalu. Tsumma tuubuu ilaiHi (“Kemudian bertaubatlah kepada-Nya”) pada apa yang akan kamu hadapi. Inna rabbii qariibum mujiib (“Sesungguhnya Rabbku sangat dekat [rahmat-Nya] lagi memperkenankan [doa hamba-Nya].”)

Sebagaimana Allah berfirman yang artinya: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka [jawablah] sesungguhnya Aku sangat dekat. Aku mengabulkan orang yang berdoa, apabila ia memohon kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186)

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hijr ayat 61-64

22 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hijr
Surah Makkiyyah; surah ke 15:99 ayat

tulisan arab alquran surat al hijr ayat 61-64“61. Maka tatkala Para utusan itu datang kepada kaum Luth, beserta pengikut pengikutnya, 62. ia berkata: “Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal”. 63. Para utusan menjawab: “Sebenarnya Kami ini datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan. 64. dan Kami datang kepadamu membawa kebenaran dan Sesungguhnya Kami betul-betul orang-orang benar.” (al-Hijr: 61-64)

Allah Ta’ala memberitakan tentang Luth setelah Malaikat datang dalam bentuk pemuda-pemuda yang tampan, dan mereka masuk ke rumah Luth.
Qaala innakum qaumum munkaruuna. Qaaluu bal ji’naaka bimaa kaanuu fiiHi yamtaruu (“Ia berkata: ‘Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal.’ Para utusan menjawab: ‘Sebenarnya kami ini datang kepadamu dengan membawa adzab yang selalu mereka dustakan.’”
Maksudnya, untuk menyiksa, membinasakan, menghancurkan mereka yang selama ini mereka ragukan akan terjadinya hal seperti itu dan menimpa daerah mereka.

Wa atainaaka bil haqqi (“Dan kami datang kepadamu membawa kebenaran.”) seperti firman Allah: maa nunazzilul malaa-ikata illaa bil haqqi (“Kami tidak menurunkan Malaikat kecuali dengan membawa kebenaran.”)(al-Hijr: 8)

Dan firman-Nya: wa innaa lashaadiquuna (“Dan sesungguhnya kami betul-betul orang-orang yang benar.”) untuk menyakinkan berita yang mereka sampaikan kepada Luth tentang keselamatan dan kebinasaan kaumnya.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nahl ayat 61-62

18 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nahl (Lebah)
Surah Makkiyyah; surah ke 16: 128 ayat

tulisan arab alquran surat an nahl ayat 61-62“Jikalau Allah menghukum manusia karena kedhalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan-Nya di muka bumi sesuatu pun dari makhluk yang melata, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai kepada waktu yang ditentukan. Maka apabila telah tiba waktu (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukannya. (QS. 16:61) Dan mereka menetapkan bagi Allah apa yang mereka sendiri membencinya, dan lidah mereka mengucapkan kedustaan, yaitu bahwa sesungguhnya merekalah yang akan mendapat kebaikan. Tiadalah diragukan bahwa nerakalah bagi mereka, dan sesungguhnya mereka segera dimasukkan (kedalamnya). (QS. 16:62)” (an-Nahl: 61-62)

Allah Ta’ala memberitahukan tentang kelembutan yang penuh kasih sayang terhadap mahluk-Nya atas kedhaliman mereka. Seandainya Dia mau mengadzab mereka atas apa yang telah mereka kerjakan, niscaya Dia tidak akan menyisakan satu makhluk pun di atas bumi ini karena kedhaliman mereka tersebut. Maksudnya, semua makhluk bumi ini akan binasa karena mengikuti pembinasaan anak cucu Adam (manusia). Tetapi Allah yang Mahaperkasa lagi Mahamulia tetap lembut dan menutupi, serta memberikan tangguh untuk
waktu yang telah ditentukan. Artinya, mereka tidak segera diberikan siksaan. Sebab, jika Allah Ta’ala melakukan hal tersebut, niscaya tidak ada satu pun yang akan tersisa.

Firman-Nya: wa yaj’aluuna lillaaHi maa yakraHuun (“Dan mereka menetapkan bagi Allah apa yang mereka sendiri membencinya,”) yakni, Malaikat itu berupa anak perempuan dan juga sekutu-sekutu yang tidak lain mereka itu adalah hamba-hamba-Nya. Sedangkan mereka menghindarkan adanya sekutu pada salah seorang dari mereka dalam hartanya.

Firman-Nya: wa tashifu alsinatuHumul kadziba anna laHumul husnaa (“Dan lidah mereka mengucapkan kedustaan, yaitu bahwa sesungguhnya merekalah yang akan mendapat kebaikan,”) sebagai pengingkaran terhadap pengakuan mereka bahwa mereka akan mendapatkan kebaikan di dunia. Meskipun di sana terdapat tempat kembali, maka di sana juga mereka akan mendapatkan kebaikan. Hal itu juga sekaligus memberitahukan pernyataan tentang siapa yang berbicara di antara mereka.

Yang demikian itu lama dengan firman-Nya yang artinya: “Dan jika Kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat dari Kami sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata, ‘Ini adalah hakku, dan aku tidak yakin bahwa hari Kiamat itu akan datang. Dan jika aku dikembalikan kepada Rabbku maka sesungguhnya aku akan memperoleh kebaikan pada sisi-Nya.’ Maka Kami benar-benar akan memberitakan kepada orang-orang kafir apa yang telah mereka kerjakan dan akan Kami rasakan kepada mereka adzab yang keras.” (QS. Fushshilat: 50)

Dengan demikian, orang-orang tersebut telah menyatukan antara keburukan dengan harapan kebathilan, yaitu berharap mereka akan diberi balasan kebaikan atas hal tersebut. Hal itu merupakan suatu hal yang mustahil.

Oleh karena itu, sebagai pengingkaran terhadap mereka atas harapan mereka tersebut, Allah Ta’ala berfirman: laa jarama (“tidak diragukan lagi”) maksudnya sudah pasti dan tidak bisa tidak; anna laHumun naaru (“bahwa neraka lah bagi mereka.”) yakni, pada hari Kiamat kelak; wa annaHum mufrathuun (“Dan sesungguhnya mereka segera dimasukkan [ke dalamnya].”) Mujahid, Sa’id bin Jubair, Qatadah, dan lain-lainnya mengatakan: “Mereka menjadi lupa dan berbuat sia-sia di dalamnya.”

Yang demikian itu sama seperti firman Allah Ta’ala yang artinya: “Maka pada hari itu [kiamat ini] Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini.”) (QS. Al-A’raaf: 51). Juga dari Qatadah bahwa mufrathuun berarti segera masuk ke neraka. Hal itu tidak saling bertentangan, karena mereka disegerakan pada hari Kiamat kelak masuk ke dalam neraka dan dijadikan kekal di dalamnya.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Israa’ Ayat 61-62

14 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Israa’
(Memperjalankan di Malam Hari)
Surah Makkiyyah; surah ke 17: 111 ayat

tulisan arab alquran surat al israa ayat 61-62“Dan (ingatlah), tatkala Kami berfirman kepada Malaikat: ‘Sujudlah kamu semua kepada Adam,’ lalu mereka sujud kecuali iblis. Dia berkata: ‘Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?’ (QS. 17:61) Dia (iblis) berkata: ‘Terangkanlah kepadaku, inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku. Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari Kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebagian kecil saja.’ (QS. 17:62)” (al-Israa’: 61-62)

Allah Yang Mahasuci lagi Mahatinggi menceritakan permusuhan iblis -la’natullah ‘alaih- terhadap Adam dan anak cucunya. Yakni permusuhan yang sudah cukup lama, sejak awal penciptaan Adam. Diceritakan, bahwa Allah Ta’ala pernah memerintahkan para Malaikat untuk bersujud kepada Adam, maka semua Malaikat pun bersujud kecuali iblis yang tetap sombong dan menolak bersujud kepada Adam karena merasa lebih tinggi dan menghinakan Adam.

Qaala a asjudu liman khalaqta thiinan (“Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?”) Sebagaimana Allah berfirman dalam ayat yang lain yang artinya: “Aku lebih baik darinya. Engkau ciptakan aku dari api sedang ia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS. Al-
A’raaf: 12)

Iblis juga berkata: “Terangkan kepadaku.” Dengan sangat berani dan penuh kekafiran, iblis itu berkata kepada Rabb, sedang Dia memperlakukannya dengan kelembutan dan memberikan tangguh. Qaala ara-aitaka Haadzal ladzii karramta ‘alayya (“Iblis berkata: ‘Terangkanlah kepadaku, inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku?’”) dan ayat seterusnya.

`Ali bin Abi Thalhah bercerita, dari Ibnu `Abbas, ia berkata: la ahtanikanna dzurriyyataHuu illaa qaliilan (“Niscaya benar-benar akan aku sesatkan [aku akan kuasai] keturunannya, kecuali sebagian kecil saja.”) Makna penggalan ayat di atas adalah, “Terangkanlah kepadaku, apakah orang ini yang Engkau muliakan dan agungkan atas diriku? Seandainya Engkau memberi tangguh kepadaku, niscaya aku akan sesatkan anak cucunya kecuali sebagian kecil saja dari mereka yang tidak.”

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 61

17 Feb

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 61
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 61a“Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, Kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. sebab itu mohonkanlah untuk Kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi Kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, Yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya”. Musa berkata: “Maukah kamu mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik ? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta”. lalu ditimpahkanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh Para Nabi yang memang tidak dibenarkan. demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas.” (al-Baqarah: 61)

Allah Ta’ala menyeru, Hai Bani Israil ingatlah nikmat yang telah Aku berikan kepada kalian berupa Manna dan Salwa sebagai makanan yang bermanfaat bagi kalian, menyenangkan dan mudah didapat. Dan ingatlah ketika kalian menolak dan merasa bosan dengan apa yang telah Aku anugerahkan kepada kalian, serta meminta kepada Musa as. agar menggantikannya dengan makanan yang hina berupa sayur-sayuran dan sejenisnya.

Al-Hasan al-Bashri berkata, dan merekapun menolak semuanya dan tidak tahan dengannya. Lalu mereka menyebutkan gaya hidup yang mereka jalani, sebagai kaum yang sangat gemar dengan kacang adas, bawang merah, sayuran dan bawang putih. Mereka berkata: “Hai Musa, Kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. sebab itu mohonkanlah untuk Kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi Kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, Yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya”.

Mereka mengatakan tidak tahan terus-menerus mengkonsumsi satu jenis makanan, padahal mereka makan Manna dan salwa, namun karena makanan mereka tidak pernah ganti, tiap hari, maka dikatakan sebagai satu makanan. Al-Buquulu (“Sayur-mayur”) al-kitsaa-u (ketimun) al-‘adasu (kacang adas) dan al-bashalu (bawang merah) semua ini sudah dikenal. Sedangkan mengenai “al-fuumu” masih terdapat perbedaan di kalangan ulama salaf. Menurut Ibnu Mas’ud, kata itu dibaca “tsuumiHaa” dengan menggunakan huruf “tsa” di depan.

Mengenai firman-Nya, “wa fuumiHaa”, Hasan al-Bashri dari Ibnu Abbas mengatakan, yaitu al-tsuum (bawang putih). Katanya Pula: “fuumuulanaa” dalam bahasa kuno artinya; buatkan roti untuk kami. Ibnu Jarir menuturkan, jika pendapat itu benar, maka huruf itu termasuk huruf yang dapat dirubah-rubah.
Misalnya, kalimat “wa qa’uu fii ‘aatsuuri syarrin” (mereka terlibat dalam perkara kejahatan) bisa juga dikatakan juga kata “’aafuuri syarrin ” juga kata “aatsaafii” (batu penyangga untuk memasak) dikatakan Pula dan kata “aatsaasyin” (pelapis topi perang, dari besi) disebut juga “maghaatsiiru”dan lain sebagainya, di mana “fa” berubah menjadi “tsa” dan “tsa” berubah menjadi “fa”, karena adanya kedekatan makhrajnya (tempat keluarnya huruf). Wallahu a’lam.

Dan Abu Malik, Hasyim mengatakan, wa fuumiHaa berarti “al-hinthaatu” (gandum). Wallahu `alam.
Sedangkan Ibnu Duraid mengatakan, “alfuumu” berarti “assanbulatu”.

Al-Qurthubi meriwayatkan dari Atha’ dan Qatadah bahwa al-fuum itu setiap biji yang dapat dibuat roti.
Dan menurut sebagian ulama lain, yaitu jenis kacang dalam bahasa Syam.

Al-Bukhari menuturkan, sebagian ulama mengatakan bahwa segala macam biji-bijian yang dapat dimakan adalah fum.

Firman-Nya, “Maukah kamu mengambil sesuatu yang lebih buruk sebagai pengganti yang baik ?” Dalam ungkapan ini terdapat teguran keras sekaligus kecaman terhadap tindakan mereka meminta makanan-makanan buruk lagi rendah tersebut, padahal mereka berada dalam kehidupan yang enak, dan dipenuhi dengan makanan-makanan lezat, baik dan bermanfaat.

Firman-Nya, iHbithuu mish-ran (“Pergilah kamu ke suatu kota”) Demikianlah, kata “mish-ran” ditulis dengan bertanwin dan diberi alif sesuai penulisan mushaf Khalifah Utsman, dan itulah qira’ah jumhur ulama.

Ibnu Abbas mengenai firman-Nya, “iHbithuu mish-ran” ini, mengatakan: “mish-ran” salah satu dari “amshaarun” (kota-kota).

Ibnu Jarir mengatakan, mungkin juga yang dimaksud dengan kata mishran tersebut adalah Mesir, di mana Fir’aun menetap. Yang benar, bahwa yang dimaksud dengan mishran di sini adalah salah satu dari amshaar’, sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan lain-lainnya. Karena Musa as. berkata kepada mereka, makanan yang kalian minta itu bukanlah suatu hal yang sulit diperoleh, bahkan banyak dijumpai di belahan kota mana saja yang kalian datangi. Dan karena rendah dan banyaknya makanan itu di seluruh kota, tidak sebanding jika aku memohon hal itu kepada Allah. Maka Nabi Musa berkata: “Maukah kamu mengambil sesuatu yang lebih buruk sebagai pengganti yang baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pastilah kamu memperoleh apa yang kamu minta.” Maksudnya, permintaan kalian itu hanya sebagai bentuk kesombongan dan mengkufuri nikmat juga bukan hal yang darurat, maka permintaan tersebut tidak dipenuhi. Wallahu a’lam.

tulisan arab surat albaqarah ayat 61b“Lalu ditimpakan kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas.” (QS. 2:61)

Allah berfirman, “Lalu ditimpakan kepada mereka nista dan kehinaan.” Maksudnya, nista dan kehinaan itu ditimpakan dan ditetapkan atas mereka sesuai syari’at dan takdir. Artinya, mereka akan terus dan senantiasa dihinakan. Setiap orang yang menjumpai mereka akan memandang mereka hina dan rendah. Dan dengan demikian itu, mereka benar-benar menghinakan diri mereka sendiri.

Mengenai firman-Nya, “Lalu ditimpakan kepada mereka nista dan kehinaan.” Dari Ibnu Abbas, ad-Dahhak menuturkan: “Mereka adalah orang-orang yang membayar jizyah.”

Abdur Razak dari Mu’ammar dari Hasan dan Qatadah mengenai firman-Nya, “Lalu ditimpakan kepada mereka nista dan kehinaan.” mengatakan: “Mereka membayar jizyah dengan patuh, sedang mereka dalam keadaan tunduk.”

Menurut adh-Dhahhak: “Adz-dzillah berarti kehinaan, kerendahan.”

Sedangkan Hasan al-Bashri mengatakan: “Allah menghinakan mereka, maka mereka tidak mempunyai kekuatan, dan menjadikan mereka berada di bawah kaki kaum muslim ini. Dan umat ini sempat menyaksikan orang-orang Majusi memungut jizyah dari mereka.”

Abu al-Aliyah, Rabi’ bin Anas, dan as-Suddi mengatakan: “Al-maskanah berarti kesusahan.” Sedang menurut Athiyah al-Aufi yaitu “pajak.”

Firman-Nya: “Dan mereka mendapat kemurkaan dari Allah,” adh-Dhahhak mengatakan: mereka berhak mendapat kemurkaan dari Allah.”

Sedangkan Rabi’ bin Anas mengatkan: “Maka turun kepada mereka murka dari Allah.”

Dan masih mengenai firman-Nya ini, Ibnu Jarir mengatakan: mereka pulang dan kembali. Dan tidak dikatakan “baa-uu” (kembali) melainkan bersambung dengan kata berikutnya, baik dengan suatu hal yang baik maupun buruk. Misalnya dikatakan: si fulan itu kembali dengan membawa dosanya. Sebagaimana firman Allah: “…Sesungguhnya aku ingi agar engkau kembali membawa dosa (membunuh)ku dan dosa kamu sendiri.” (QS. Al-Maa-idah: 29).
Artinya, hendaklah kamu kembali dengan membawa beban kedua dosa tersebut, dan keduanya menjadi beban dirimu. Maka firman Allah tersebut mengandung makna: “Jika mereka kembali, dalam keadaan menanggung murka Allah, berarti mereka benar-benar terkena kemarahan Allah dan pasti tertimpa murka-Nya.”

Firman Allah selanjutnya: “Hal itu terjadi karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. “Allah Ta’ala menuturkan: Kenistaan, kehinaan, dan kemurkaan yang Kami timpakan kepada mereka itu disebabkan oleh kesombongan mereka menolak kebenaran, dan kekufuran mereka terhadap ayat-ayat Allah, serta penghinaan mereka terhadap para pengemban amanat syari’at, yaitu para nabi dan pengikutnya. Mereka telah melecehkan hingga mencapai suatu titik keadaan yang menyeret mereka pada pembunuhan para Nabi. Tidak ada kekufuran yang lebih parah dari hal ini. Mereka ingkar terhadap ayat-ayat Allah serta membunuh para nabi dengan cara yang tidak dibenarkan.

Oleh karena itu di dalam hadits yang telah disepakati keshahihannya ditegaskan bahwa Rasulullah pernah bersabda: “Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.”
Yakni, menolak kebenaran, melecehkan dan meremehkan orang lain, dan membanggakan diri mereka sendiri.

Mengenai firman Allah: “Yang demikian itu karena mereka durhaka dan melampaui batas,” Imam Ahmad mengatakan: “Hal ini merupakan alasan lain mengapa mereka senantiasa diberikan balasan seperti itu, yakni karena senantiasa berbuat maksiat dan bersikap melampaui batas. Maksiat itu melakukan berbagai larangan, sedang melampaui batas ialah melanggar ketentuan yang ditetapkan dan diperintahkan-Nya.” Wallahu a ‘lam.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nuur (29)

4 Apr

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nuur (Cahaya)
Surah Madaniyyah; surah ke 24:64 ayat

tulisan arab alquran surat an nuur ayat 61“61. tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit, dan tidak (pula) bagi dirimu sendiri, Makan (bersama-sama mereka) dirumah kamu sendiri atau dirumah bapak-bapakmu, dirumah ibu-ibumu, dirumah saudara- saudaramu yang laki-laki, di rumah saudaramu yang perempuan, dirumah saudara bapakmu yang laki-laki, dirumah saudara bapakmu yang perempuan, dirumah saudara ibumu yang laki-laki, dirumah saudara ibumu yang perempuan, dirumah yang kamu miliki kuncinya atau dirumah kawan-kawanmu. tidak ada halangan bagi kamu Makan bersama-sama mereka atau sendirian. Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah- rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayatnya(Nya) bagimu, agar kamu memahaminya.” (an-Nuur: 61)

Ahli tafsir berbeda pendapat tentang alasan pemberian dispensasi kepada orang buta, orang pincang dan orang sakit yang disebutkan dalam ayat ini.

‘Atha’ al-Khurasani dan ‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam mengatakan: “Ayat ini turun berkenaan dengan jihad, mereka menyamakan ayat ini dengan ayat yang terdapat dalam surah al-Fath yang berkenaan dengan masalah jihad. Yaitu tidak ada dosa atas mereka untuk meninggalkan jihad karena kelemahan dan ketidakmampuan mereka. dan seperti yang disebutkan dalam surah at-Taubah yang artinya:

“91. tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka Berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. tidak ada jalan sedikitpun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, 92. dan tiada (pula) berdosa atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: “Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu.” lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan.” (at-Taubah: 91-92)

Adh-Dahhak berkata: “Sebelum datang Islam, mereka [orang buta, orang pincang dan orang sakit] merasa minder makan bersama orang-orang normal karena merasa diri mereka kotor dan rendah.”

Firman Allah: wa laa ‘alaa anfusikum an ta’kuluu mim buyuutikum (“Dan tidak [pula] bagi dirimu sendiri, makan [bersama-sama mereka] di rumahmu sendiri.”) hal ini sengaja disebutkan meskipun hukumnya sudah dimaklumi. Termasuk juga rumah anak sendiri. Karena tidak disebutkan di ayat ini. Oleh karena itu, sebagian ulama menggunakan ayat ini sebagai dalil bahwa harta anak kedudukannya sama dengan harta ayahnya.

Dalam kitab al-Musnad dan as-Sunan telah diriwayatkan dari beberapa jalur dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda: “Engkau dan hartamu adalah milik ayahmu.”

Firman Allah: au buyuuti aabaa-ikum au buyuuti ummaHaatikum –sampai firman-Nya:- au maa malaktum mafaatihaHu (“Atau di rumah bapak-bapakmu, di rumah ibu-ibumu…..(sampai firman-Nya): di rumah yang kamu miliki kuncinya.”) makna ayat sudah jelas, ayat ini juga dipakai sebagai dalil bagi sebagian ulama yang mewajibkan nafkah kepada sesama karib kerabat, sebagian mereka kepada sebagian yang lainnya. Ini merupakan madzab Abu Hanifah dan Ahmad bin Hambal dalam riwayat yang masyhur dari mereka berdua.

Adapun Firman Allah: au maa malaktum mafaatihaHu (“Di rumah yang kamu miliki kuncinya”) Sa’id bin Jubair dan as-Suddi mengatakan: “Mereka adalah para khadim, yaitu budak dan para pelayan, mereka boleh makan dari makanan yang disimpan dengan cara yang ma’ruf.”

Firman Allah: au shadiiqikum (“atau di rumah kawan-kawanmu”) yaitu di rumah teman-teman dan para shahabat, kalian boleh makan di rumah mereka jika kalian tahu hal itu tidak menyusahkan mereka dan mereka tidak membencinya.

Laisa ‘alaikum junaahun an ta’kuluu jamii’an au asytaatan (“Tidak ada halangan bagimu makan bersama-sama mereka atau sendirian.”) ‘Ali bin Abi Thalhah meriwaatkan dari ‘Abdullah bin ‘Abbas berkaitan dengan ayat ini, ketika Allah menurunkan ayat: walaa ta’kuluu amwaalakum bainakum bil baathil (“Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil.”) (al-Baqarah: 188). Beliau berkata: “Wahai kaum Muslimin, sesungguhnya Allah telah melarang kita memakan harta sebagian yang lain di antara kita dengan cara yang bathil, dan makanan adalah harta kita yang utama. Tidak halal bagi seorang pun makan di rumah orang lain.” Maka kaum Muslimin pun meninggalkan kebiasan seperti itu. Lalu Allah menurunkan: laisa ‘alal a’maa harajuw walaa ‘alal a’raji harajun…(sampai firman-Nya): au shadiiqikum (“Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak [pula] bagi orang pincang…(sampai firman-Nya): atau di rumah kawan-kawanmu.”) sebelumnya mereka juga merasa risih dan merasa keberatan makan sendiri sehingga ada orang lain yang menemaninya.

Lalu Allah memberi dispensasi bagi mereka. turunlah ayat: Laisa ‘alaikum junaahun an ta’kuluu jamii’an au asytaatan (“Tidak ada halangan bagimu makan bersama-sama mereka atau sendirian.”) ini merupakan dispensasi dari Allah swt. untuk makan sendirian atau makan bersama-sama, meskipun makan bersama lebih banyak berkahnya atau lebih utama. Seperti yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Wahsyi bin Harb, dari ayahnya, dari kakeknya bahwa seorang lelaki berkata keapda Rasulullah saw.: “Kami makan tetapi tidak merasa kenyang.” Rasulullah bersabda: “Barangkali kalian makan berpencar-pencar. Makanlah bersama, sebutlah nama Allah, niscaya Allah akan memberkahi kalian pada makanan itu.” (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah dari hadits al-Walid bin Muslim)

Bersambung ke bagian 30

61. Surah Ash-Shaff

29 Nov

Pembahasan Tentang Surat-Surat Al-Qur’an (Klik di sini)
Tafsir Ibnu Katsir (Klik di sini)

Surat Ash Shaff terdiri atas 14 ayat termasuk golongan surat-surat Madaniyyah. Dinamai dengan Ash Shaff, karena pada ayat 4 surat ini terdapat kata Shaffan yang berarti satu barisan. Ayat ini menerangkan apa yang diridhai Allah sesudah menerangkan apa yang dimurkai-Nya. Pada ayat 3 diterangkan bahwa Allah murka kepada orang yang hanya pandai berkata saja tetapi tidak melaksanakan apa yang diucapkannya. Dan pada ayat 4 diterangkan bahwa Allah menyukai orang yang mempraktekkan apa yang diucapkannya yaitu orang-orang yang berperang pada jalan Allah dalam satu barisan. Pokok-pokok isinya: Semua yang ada di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya, anjuran berjihad pada jalan Allah. Pengikut-pengikut nabi Musa dan Isa a.s. pernah mengingkari ajaran-ajaran nabi mereka. Demikian pula kaum musyrikin Mekah ingin hendak memadamkan cahaya Allah (agama Islam). Ampunan Allah dan Surga tak dapat dicapai dengan iman dan berjuang menegakkan kalimah Allah dengan harta dan jiwa. Surat ini menganjurkan supaya orang-orang mukmin selalu menyesuaikan ucapan dengan perbuatan, dan menerima tawaran Allah yaitu ampunanNya dan surga dapat dicapai dengan iman dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa. HUBUNGAN SURAT ASH SHAFF DENGAN SURAT AL JUMU’AH 1. Sama-sama dimulai dengan sabbaha lillahi bertasbih kepada Allah dan bahwa Allah Maha Perkasa lagi MAha Bijaksana. 2. Pada surat Ash Shaff diterangkan bahwa orang-orang Yahudi itu adalah kaum yang sesat dan fasik, sedang pada surat Al Jumu’ah diterangkan lagi bahwa mereka adalah orang yang bodoh seperti keledai yang membawa buku-buku yang banyak, tetapi tidak dapat memahaminya.