Tag Archives: 66

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Anfaal Ayat 64-66

2 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anfaal
(Harta Rampasan Perang)
Surah Madaniyyah; surah ke 8: 75 ayat

tulisan arab alquran surat al anfaal ayat 64-66“Hai Nabi, cukuplah Allah menjadi Pelindung bagimu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu. (QS. 8:64) ….. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua rates orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antaramu, maka mereka dapat mengalahkan seribu daripada orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti. (QS. 8:65) Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Allah telah mengetahui padamu, babwa ada kelemahan. Maka jika ada di antaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang; dan jika di antaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. 8:66)” (al-Anfaal: 64-66)

Allah memberitahukan, bahwa Allah mencukupi mereka, memberi pertolongan dan mendukung mereka dalam melawan musuh-musuh mereka, meskipun jumlah musuh mereka itu sangat banyak dan berlipat ganda dari kaum muslimin dan sedikitnya jumlah orang-orang yang beriman.

Mengenai firman Allah: yaa ayyuHan nabiyyu hasbukallaaHu wa manittaba’aka minal mu’miniin (“Hai Nabi, cukuplah Allah menjadi peliindung bagimu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu,”) Ibnu Abi Hatim berkata dari asy-Sya’bi, ia mengatakan: “Cukuplah Allah bagimu dan cukup pula orang-orang yang hadir bersamamu.”

Ibnu Abi Hatim mengatakan, bahwa hal yang sama juga diriwayatkan dari `Atha’ al-Khurasani dan `Abdur Rahman bin Zaid.

Rasulullah saw. memotivasi mereka ketika mengatur barisan mereka dan ketika menghadapi musuh. Sebagaimana beliau pernah berseru kepada para sahabat beliau pada perang Badar, yaitu ketika orang-orang musyrik datang dalam jumlah mereka yang banyak dan dengan perlengkapannya: “Bangkitlah kalian menuju surga, yang luasnya seluas langit dan bumi.”

Umair bin Hamam bertanya: “Luasnya seluas langit dan bumi?” Maka Rasulullah saw. menjawab: “Ya.” Kemudian`Umair bin Hamam berujar, “Bagus. Bagus.” Rasulullah saw. bertanya: “Apa yang menjadikanmu berkata, ‘Bagus, bagus, bagus’?” Ia menjawab: “Aku berharap bisa menjadi penghuninya.” Kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya engkau salah satu dari penghuninya.”
Setelah itu, orang itu maju ke depan seraya memecahkan sarung pedangnnya dan mengeluarkan buah kurma, lalu ia memakan sebagian dari kurma tersebut, kemudian mencampakkan sebagian lainnya dari tangannya seraya berujar: “Seandainya aku masih tetap hidup sebelum aku habis memakan buah kurma ini, berarti itu merupakan kehidupan yang panjang.” Kemudian ia maju berperang sehingga ia pun terbunuh.” (Dirlwayatkan oleh Imam Muslim dalam bab al-Imarah dan juga Imam Ahmad)

Selanjutnya Allah berfirman, menyampaikan kabar gembira kepada orang-orang yang beriman sekaligus memberikan perintah: iy yakum minkum ‘isyruuna yaghlibuu mi-ataini wa iy yakum minkum mi-atun yaghlibuu alfam minal ladziina kafaruu (“Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kalian, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seribu orang [yang sabar] di antara kalian mereka dapat mengalahkan seribu orang-orang kafir.”) Satu orang melawan sepuluh orang musuh. Kemudian hal itu dimansukh dan yang tersisa hanyalah kabar gembira.

Sa’id bin Manshur menceritakan, Sufyan memberitahu kami, dari Amr bin Dinar, dari Ibnu `Abbas, mengenai ayat ini, ia mengatakan bahwa diwajibkan kepada mereka agar dua puluh orang dari mereka tidak melarikan diri menghadapi dua ratus orang musuh. Kemudian Allah Ta’ala meringankan hal tersebut, di mana Allah berfirman: al aana khaffafallaaHu ‘ankum wa ‘alima anna fiikum dla’fan (“Sekarang Allah telah meringankan kepada kalian dan Allah telah mengetahui bahwa pada kalian terdapat kelemahan”)

Sehingga seratus orang tidak sepatutnya melarikan diri dari dua ratus orang musuh. Hal yang sama juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, dari ‘Ali bin Abdullah, dari Sufyan.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yusuf ayat 65-66

27 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Yusuf
Surah Makkiyyah; surah ke 12: 111 ayat

tulisan arab alquran surat yusuf ayat 65-66“Tatkala mereka membuka barang-barangnya, mereka menemukan kembali barang-barang (penukaran) mereka, dikembalikan kepada mereka. Mereka berkata: ‘Wahai ayah kami, apalagi yang kita inginkan. Ini barang-barang kita dikembalikan kepada kita, dan kami akan dapat memberi makan keluarga kami, dan kami akan dapat memelihara saudara kami, dan kami akan mendapat tambahan sukatan (gandum) seberat beban seekor unta. Itu adalah sukatan yang mudah (bagi raja Mesir).’ (QS. 12:65) Ya’qub berkata: ‘Aku sekali-kali tidak akan melepaskannya (pergi) bersama-sama kamu, sebelum kamu memberikan kepadaku janji yang teguh atas nama Allah, bahwa kamu pasti akan membawanya kepadaku kembali, kecuali jika kamu dikepung musuh.’ Tatkala mereka memberikan janji mereka, maka Ya’qub berkata: ‘Allah adalah saksi terhadap apa yang kita ucapkan (ini).’ (QS. 12:66)” (Yusuf: 65-66)

Allah Ta’ala memberitakan; Setelah saudara-saudara Yusuf as. membuka barang-barang mereka, mereka mendapatkan barang-barang penukaran mereka dikembalikan kepada mereka, yaitu seperti yang diperintahkan Yusuf kepada bujang-bujangnya agar meletakkan barang-barang penukaran itu dalam karung mereka secara diam-diam tanpa sepengetahuan mereka. Setelah mereka melihat barang-barang itu, mereka berkata: qaaluu yaa abaanaa maa nabghii (“Wahai ayah kami, apa yang kita cari”) apa yang kita inginkan; HaadziHii bidlaa’atunaa ruddat ilainaa (“Ini barang-barang kita dikembalikan kepada kita.”)

Sebagaimana dikatakan oleh Qatadah: “Apa lagi yang kita inginkan setelah ini, barang-barang kita dikembalikan lagi kepada kita, dan ia telah memenuhi sukatan kita.”

Wa namiiru aHlanaa (“Dan akan dapat memberi makan keluarga kita”) maksudnya, bila ayah membiarkan saudara kami untuk pergi bersama kami, kami akan kembali membawa makanan untuk keluarga kita; wa nahfadhu akhaanaa wa nazdaadu kaila ba’iir (“Dan kami akan menjaga saudara kami dan mendapat tambahan jatah sukatan seberat beban seekor unta”) karena Yusuf as. memberikan seberat beban seekor unta kepada setiap satu orang.

Dzaalika kailuy yasiir (“Itu adalah jatah sukatan yang mudah”) kalimat ini sebagai pelengkap kalimat dan pemanis kata. Maksudnya, ini adalah hal yang mudah atau sederhana sebagai imbalan karena membawa saudaranya yang akan mendapat bagian seperti itu.

Qaala lan ursilaHuu ma’akum hattaa tu’tuuni mautsiqam minallaaHi (“Ya’qub berkata: ‘Aku sekali-kali tidak akan melepaskannya pergi bersama-sama kalian, sebelum kalian memberikan janji yang teguh dengan nama Allah kepadaku.’”) maksudnya, bersumpah dengan sumpah yang kuat; lata’tunnanii biHii illaa ay yuhaatha bikum (“Bahwa kalian akan membawanya kembali kepadaku, kecuali bila kahan dikepung musuh,”) kecuali bila kalian semua dikalahkan musuh dan tidak dapat menyelamatkannya.

Falammaa aatauHu mautsiqaHum (“Setelah mereka memberikan janji mereka,”) Ya’qub memperkuat kata-kata mereka seraya berkata: AllaaHu ‘alaa maa naquulu wakiil (“Allah adalah saksi terhadap apa yang kita ucapkan ini.”)

Ibnu Ishaq berkata: “Ia berbuat demikian karena ia terpaksa, mengirim mereka untuk mendapatkan makanan yang sangat mereka butuhkan dan terpaksa melepas kepergian Bunyamin bersama mereka.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hijr ayat 65-66

22 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hijr
Surah Makkiyyah; surah ke 15:99 ayat

tulisan arab alquran surat al hijr ayat 65-66“65. Maka Pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu, dan ikutlah mereka dari belakang dan janganlah seorangpun di antara kamu menoleh kebelakang dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang di perintahkan kepadamu”. 66. dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu, Yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu subuh.” (al-Hijr: 65-66)

Allah menuturkan tentang Malaikat, bahwa mereka memerintahkan kepada Luth agar berjalan bersama keluarganya setelah lewat sebagian dari malam, dan Luth agar berjalan di belakang mereka untuk lebih menjaga mereka. demikian jugalah Rasulullah berjalan di belakang tentara Islam pada waktu peperangan. Beliau sebagai penggiring, menuntun orang yang lemah dan membawa orang yang tidak tahu jalan.

Firman Allah: wa laa yaltanfit minkun ahadun (“Dan janganlah seorang pun di antara kamu menoleh ke belakang.”) maksudnya, bila kalian mendengar suara keras yang mengguntur pada kaum itu, maka janganlah kalian menoleh kepada mereka dan biarkan mereka tertimpa adzab dan hukuman. Wamdluu haitsu tu’maruuna (“Dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu.”) seolah-olah ada petunjuk jalan bagi mereka.

Wa qadlainaa ilaiHi dzaalikal amra (“Dan telah Kami wahyukan kepadanya [Luth] perkara itu.”) sudah Kami ajukan hal itu: anna daabira Haa-ulaa-i maqthuu’um mubiina (“Yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu shubuh.”) mushbihiin artinya waktu shubuh, seperti firman Allah dalam ayat lain: inna mau’idaHumush shubhu alaisash shubhu biqadiir (“Sesungguhnya waktu yang telah ditentukan untuk mereka adalah waktu shubuh, bukankah waktu shubuh itu sudah dekat?”) (Huud: 81)

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nahl ayat 66-67

18 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nahl (Lebah)
Surah Makkiyyah; surah ke 16: 128 ayat

tulisan arab alquran surat an nahl ayat 66-67“Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum daripada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya. (QS. 16:66) Dan dari buah kurma dan anggur, kamu buat minuman yang memabukkan dan rizki yang baik. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan. (QS. 16:67)” (an-Nahl: 66-67)

Allah berfirman: wa inna lakum (“Dan sesungguhnya bagi kamu,”) wahai sekalian umat manusia; fil an’aami (“pada binatang ternak itu,”) yaitu unta, sapi, dan kambing; la-‘ibratan (“benar-benar terdapat pelajaran,”) artinya, merupakan tanda sekaligus bukti atas kebijaksanaan, kekuasaan, kasih sayang, dan kelembutan Penciptanya.

Nusqiikum mimmaa fii buthuuniHi (“Kami memberimu minum dari apa yang berada dalam perutnya,”) Dia sendirikan hal tersebut di sini untuk kembali pada makna nikmat, atau dhamir (kata ganti) di sini kembali pada hewan, karena sesungguhnya binatang ternak itu adalah hewan. Artinya, Kami memberi kalian minum dari apa yang terdapat di dalam perut hewan tersebut. Dalam ayat yang lain, dari bagian yang terdapat di dalam perutnya. Yang ini dan yang itu boleh. Sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah yang artinya: “Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Allah itu adalah suatu peringatan, maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya.” (QS. `Abasa: 11-12)

Firman-Nya: mim baini fartsiw wadamil labanan khaalishan (“[Berupa] susu yang bersih antara tahi dan darah,”) maksudnya, warna putihnya, juga rasanya, dan manisnya benar-benar bersih, yang berada di antara kotoran (tahi) dan darah dalam perut binatang. Yang masing-masing berjalan pada alirannya jika makanan telah matang dan selesai dicerna di dalam pencernaan. Kemudian darinya, darah mengalir ke seluruh urat, dan susu menuju ke tetek, sedangkan urine ke kandung kemih, dan kotoran ke rektum. Masing-masing dari semuanya itu tidak ada yang saling mengkontaminasi satu dengan yang lainnya, tidak juga bercampur setelah keterpisahannya, serta tidak berubah.

Firman-Nya: labanan khaalishan saa-ighal lisy-syaaribiin (“Berupa susu yang bersih yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya.”) Maksudnya, tidak ada seorang pun yang merasa tercekik karena meminumnya. Setelah menyebutkan susu yang Dia jadikan sebagai minuman bagi umat manusia dengan sangat mudah, maka Allah Ta’ala menyebutkan pula minuman yang diambil oleh umat manusia dari buah kurma dan anggur serta minuman yang mereka buat dari nabidz sebelum diharamkan. Oleh karena itu, Dia telah limpahkan semuanya itu kepada mereka:

Wa min tsamaraatin nakhiili wal a’naabi tattakhidzuuna minHu sakaran (“Dan dari buah kurma dan anggur, kalian buat minuman yang memabukkan.”) Hal itu menunjukkan dibolehkannya minuman tersebut oleh syari’at sebelum diharamkan. Juga menunjukkan kesamaan antara minuman yang memabukkan, baik yang dibuat dari kurma maupun anggur, sebagaimana yang menjadi pendapat Imam Malik, asy-Syafi’i, Ahmad, dan jumhurul ulama.

Demikian juga hukum seluruh minuman yang dibuat dari biji hinthah, biji gandum, jagung, dan madu, sebagaimana Sunnah Nabawi datang dengan menjelaskan hal tersebut. Di sini bukan tempatnya untuk membahas hal itu. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu `Abbas, mengenai firman-Nya: sakaraw wa rizqan hasanan (“Minuman memabukkan dan rizki yang baik,”) as-sukar adalah apa’yang diharamkan dari kedua buah tersebut. Rizki yang baik adalah yang dihalalkan dari kedua buah tersebut, yakni buah yang kering dari keduanya baik dari buah kurma maupun anggur (kismis), dan segala yang sudah diolah dari kedua buah tersebut balk itu berupa manisan, cuka, maupun minuman perasan, semuanya adalah halal diminum sebelum disalah gunakan. Sebagaimana yang disebutkan di dalam Sunnah mengenai hal tersebut.

Inna fii dzaalika la-aayatal liqaumiy ya’qiluun (“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda [kebesaran Allah] bagi orang yang memikirkan.”) Penyebutan akal di sini karena ia merupakan bagian termulia pada tubuh manusia. Oleh karena itu, Allah Ta’ala
mengharamkan berbagai minuman memabukkan tersebut sebagai upaya melindungi akal mereka.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Israa’ Ayat 66

14 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Israa’
(Memperjalankan di Malam Hari)
Surah Makkiyyah; surah ke 17: 111 ayat

tulisan arab alquran surat al israa ayat 66“Rabbmu adalah yang melayarkan kapal-kapal di lautan untukmu, agar kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Mahapenyayang terhadapmu.” (QS. Al-Israa’: 66)

Allah yang Mahasuci lagi Mahatinggi memberitahu tentang kelembutan-Nya terhadap makhluk-Nya dalam menjalankan bahtera di lautan untuk hamba-hamba-Nya dan diberikan-Nya kemudahan kepada mereka untuk mencari karunia-Nya melalui perniagaan dari satu daerah ke daerah yang lain. Oleh karena itu, Dia berfirman: innaHuu kaana bikum rahiiman (“Sesungguhnya Dia adalah Mahapenyayang terhadapmu.”) Maksudnya; Dia lakukan hal itu terhadap kalian tidak lain merupakan bagian dari karunia serta rahmat-Nya atas kalian.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 65-66

17 Feb

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 65-66
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 65-66“65. dan Sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar diantaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka: “Jadilah kamu kera yang hina”. 66. Maka Kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang dimasa itu, dan bagi mereka yang datang Kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.” (al-Baqarah: 65-66)

Allah berfirman: wa laqad ‘alimtum (“Sesungguhnya kamu sudah mengetahui”) hai orang-orang Yahudi, adzab yang telah ditimpakan kepada penduduk negeri yang mendurhakai perintah Allah dan melanggar perjanjian yang telah diambil-Nya atas mereka agar menghormati hari sabtu serta mengerjakan perintahNya yang telah disyari’atkan bagi mereka. Lalu mereka mencari-cari alasan supaya dapat menangkap ikan paus pada hari sabtu, yaitu dengan memasang pancing, jala, dan perangkap sebelum hari Sabtu, maka ketika ikan-ikan itu datang pada hari Sabtu dalam jumlah besar seperti biasanya, tertangkaplah dan tidak dapat lolos dari jaring dan perangkapnya. Ketika malam hari tiba, setelah hari Sabtu berlalu, mereka segera mengambil ikan-ikan tersebut. Tatkala mereka melakukan hal itu, Allah mengubah rupa mereka seperti kera, sebagai hewan yang lebih menyerupai manusia, namun bukan seperti manusia sesungguhnya.

Demikian juga tindakan dan alasan yang mereka buat-buat yang secara lahiriyah tampak benar tetapi sebenarnya bertentangan. Karena itulah mereka mendapatkan balasan yang serupa dengan perbuatannya tersebut. Kisah tersebut termuat di dalam surat al-A’raaf (yaitu ayat 163 sampai 167).

Dan firman-Nya, kepada mereka, fa qulnaa laHum kuunuu kiradattan khaasi-iin (“Lalu Kami berfirman kepada mereka: ‘Jadilab kamu kera-kera yang hina.’”) Di dalam tafsirnya, al-Aufi dari Ibnu Abbas mengatakan: “Maka Allah swt. mengubah sebagian mereka menjadi kera dan sebagian lainnya menjadi babi. Diduga bahwa para pemuda dari kaum tersebut menjadi kera sedang generasi tuanya menjadi babi. Dan mereka tidak hidup di muka bumi kecuali tiga hari saja, tidak makan dan tidak minum serta tidak melahirkan keturunan. Allah telah menciptakan kera, babi, dan makhluk lainnya dalam enam hari sebagaimana telah difirmankan-Nya dalam al-Qur’an, maka mereka dijadikan berbentuk kera. Demikianlah Allah berbuat terhadap siapa yang Dia kehendaki sesuai dengan kehendak-Nya, dan mengubahnya sesuai dengan kehendak-Nya Pula.”

Mengenai firman-Nya, fa qulnaa laHum kuunuu kiradattan khaasi-iin (“Lalu Kami berfirman kepada mereka: ‘Jadilab kamu kera-kera yang hina.’”) Diriwayatkan dari Rabi’ bin Anas, dari Abu al-Aliyah, Abu Ja’far mengatakan: “Yaitu hina dan rendah.”

Firman-Nya, fa ja’alnaaHaa nakaalan (“Maka Kami jadikan yang demikian itu peringatan”) : Yang benar, dhamir pada ayat tersebut kembali ke kata al-Qaryah (negeri). Artinya, Allah menjadikan penduduk negeri ini sebagai peringatan ” disebabkan oleh pelanggaran mereka pada hari Sabtu. Yaitu Kami hukum mereka dengan hukuman yang dapat dijadikan pelajaran dan peringatan.

Firman Allah, limaa baina yadaiHaa wa maa khalfaHaa (“Bagi orang-orang saat itu dan bagi mereka yang datang kemudian”): Yakni dari segala negeri. Ibnu Abbas mengatakan: “Kami jadikan hukuman yang kami berikan kepada mereka itu sebagai pelajaran bagi penduduk negeri-negeri lain di sekirarnya.” Wallahu a’lam.

Mengenai firman-Nya, fa ja’alnaaHaa nakaalan limaa baina yadaiHaa wa maa khalfaHaa (“Maka Kami jadikan yang demikian itu peringatan Bagi orang-orang saat itu dan bagi mereka yang datang kemudian.”) diriwayatkan dari Rabi’ bin Anas, dari Abu al-Aliyah, Abu Ja’far ar-Razi menuturkan: “Yaitu hukuman atas dosa-dosa mereka yang lalu.” Ibnu Abi Hatim berkata, diriwayatkan dari `Ikrimah, Mujahid, as-Suddi, al-Farra’, dan Ibnu Athiyyah: “Maksudnya peringatan atas perbuatan dosa yang mereka lakukan pada saat itu dan dosa yang dilakukan oleh orang-orang sesudah mereka pada masa yang akan datang.”

Ar-Razi menyebutkan tiga pendapat mengenai pengertian ayat: baina yadaiHaa wa maa khalfaHaa; dan penulis (Ibnu Katsir) katakan, di antara ketiga pendapat tersebut yang paling rajih (kuat) adalah pendapat yang menyatakan: “Maksudnya, adalah orang-orang yang tinggal di negeri sekitarnya yang dapat mendengar berita tentang nasib dan hukuman yang menimpa mereka. Sebagaimana firmankan negeri-negeri di sekitar kamu.” (QS. Al-Ahqaaf: 27)

Dan sebagaimana firman-Nya, “Dan orang-orang yang kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri.” (QS. Al-Ra’ad: 31). Dengan demikian, Allah swt. menjadikan mereka sebagai pelajaran dan peringatan bagi orang-orang yang hidup pada zaman mereka, sekaligus sebagai pelajaran bagi orang-orang sesudahnya, dengan berita yang meyakinkan (mutawatir) tentang mereka. Oleh karena itu Dia berfirman, “Dan sebagai pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. ”

Mengenai firman-Nya ini, wa mau’idlatal lil muttaqiin (“Dan sebagai pelajaran orang-orang yang bertakwa,”) Muhammad bin Ishak dari Ibnu Abbas mengatakan: “Yaitu orang-orang yang hidup setelah mereka, sehingga mereka menghindari dan menjauhkan diri dari muka Allah.”

Ibnu Katsir mengatakan, yang dimaksud dengan al-mau’izhah adalah peringatan keras. Jadi makna ayat ini adalah Kami jadikan siksaan dan hukuman sebagai balasan atas pelanggaran mereka terhadap larangan-larangan Allah dan perbuatan mereka membuat berbagai tipu muslihat. Oleh karena itu, hendaklah orang-orang yang bertakwa menjauhi tindakan seperti itu agar hal yang sama tidak menimpa mereka.

Sebagaimana diriwayatkan Abu Abdillah bin Baththah, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda: “Janganlah kalian melakukan apa yang dilakukan oleh kaum Yahudi, dengan cara menghalalkan apa yang diharamkan Allah melalui tipu-muslihat yang amat rendah.” (Isnad hadits ini jayyid (baik)). &

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Naml ayat 65-66 (19)

5 Jun

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Naml (Semut)
Surah Makkiyyah; surah ke 27: 93 ayat

tulisan arab alquran surat an naml ayat 65-66“65. Katakanlah: “tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan. 66. sebenarnya pengetahuan mereka tentang akhirat tidak sampai (kesana) Malahan mereka ragu-ragu tentang akhirat itu, lebih-lebih lagi mereka buta daripadanya.” (an-Naml: 65-66)

Allah Ta’ala berfirman memerintahkan Rasul-Nya untuk mengucapkan sesuatu yang mengajarkan seluruh manusia bahwa tidak ada seorangpun penghuni langit dan bumi yang dapat mengetahui perkara ghaib kecuali Allah. Firman Allah: illallaaH (“Kecuali Allah”) adalah istisna’ munqathi’, yaitu tidak ada satupun yang mengetahui hal itu kecuali Allah swt. Karena Dia sajalah yang mengetahui hal itu dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Sebagaimana firman Allah yang artinya: “Dan pada sisi-Nya lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahui kecuali Dia sendiri.” (al-An’aam: 59). Ayat-ayat dalam masalah ini amat banyak.

Firman Allah: wa maa yasy’uruuna ayyaana yub’atsuun (“Dan mereka tidak mengetahui bila [kapan] mereka akan dibangkitkan.”) yaitu para makhluk yang tinggal di langit dan di bumi tidak mengetahui waktu terjadinya hari kiamat, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Kiamat itu amat berat [huru-haranya bagi makhluk] yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba.” (al-A’raaf: 187) yaitu mengetahui hal tersebut amat berat bagi penghuni langit dan bumi.

Qatadah berkata: “Bintang-bintang hanya dijadikan Allah untuk tiga hal: dijadikannya ia sebagai hiasan langit, dijadikannya ia untuk petunjuk dan juga menjadi pelontar syaitan. Barangsiapa yang memanfaatkan bintang-bintang itu untuk selain hal itu, maka berarti ia berkata dengan pendapatnya sendiri dan keliru dalam menempatkannya, menyia-nyiakan usahannya dan berlebih-lebihan dalam sesuatu yang tidak terjangkau oleh ilmunya. Sesungguhnya manusia-manusia yang jahil tentang perintah Allah telah membuat bintang-bintang itu sebagai ramalan. Barangsiapa yang menikah pada waktu bintang ini, niscaya begini dan begini. Barangsiapa yang pergi pada waktu bintang ini niscaya begini dan begitu. Dan lain-lain, sesungguhnya tidak ada satu bintang pun yang menyebabkan seseorang itu lahir dalam keadaan merah atau hitam, pendek atau tinggi, tampan atau jelek. Dan tidak ada bintang ini, bintang itu atau burung ini yang dapat memberitahukan sesuatu yang ghaib. Allah Ta’ala telah menetapkan bahwa tidak ada penghuni langit dan bumi yang dapat mengetahui perkara ghaib kecuali Allah. Dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan. Hal itu diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dengan kalimat aslinya. Ini merupakan perkara yang penting dan benar.”

Firman-Nya: balid daaraka ‘ilmuHum fil aakhirati bal Hum fii syakkim minHaa (“Sebenarnya pengetahuan mereka tentang akhirat tidak sampai [kesana], bahkan mereka ragu-ragu tentang akhirat itu.”) yaitu ilmu mereka terbatas dan amat lemah untuk mengetahui waktunya. Ulama lain membaca: bali ad-raka ‘ilmuHum (“Sebenarnya pengetahuan mereka”) yakni samalah ilmu mereka dalam masalah itu.

Sebagaimaan dijelaskan dalam shahih Muslim, bahwa Rasulullah berkata kepada Jibril saat ditanya tentang waktu terjadinya hari kiamat: “Yang ditanya tidak lebih mengetahui daripada yang bertanya.”
Artinya, pengetahuan orang yang ditanya dan yang bertanya sama saja kelemahannya dalam [mengetahui] hal tersebut.

‘Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu ‘Abbas: balid daaraka ‘ilmuHum fil aakhirati (“Sebenarnya pengetahuan mereka tentang akhirat tidak sampai [kesana],”) yakni hal yang ghaib.
Qatadah berkata: “Yaitu disebabkan kebodohan mereka,” ada yang berkata: “Tidak berlaku amal mereka di akhirat sedikitpun.” Ini satu pendapat.

Ibnu Juraij berkata dari ‘Atha’ al-Khurasani, dari Ibnu ‘Abbas: balid daaraka ‘ilmuHum fil aakhirati (“Sebenarnya pengetahuan mereka tentang akhirat tidak sampai [kesana],”) di saat ilmu tidak bermanfaat. Itu pula yang dikatakan oleh ‘Atha’ al-Khurasani dan as-Suddi bahwa pengetahuan mereka menjadi luas dan lengkap pada hari kiamat, dimana hal tersebut tidak lagi dapat bermanfaat bagi mereka.

Dan firman Allah Ta’ala: bal Hum fii syakkim minHaa (“Bahkan mereka ragu-ragu tentang akhirat itu.”) ini kembali pada jenis. Yang dimaksud adalah orang-orang kafir, yaitu orang-orang yang ragu tentang adanya hari kiamat dan kejadiannya. Bal Hum minHaa ‘amuun (“lebih-lebih lagi mereka buta dari padanya.”) yaitu berada dalam kebutuhan dan kebodohan besar tentang perkara dan urusan akhirat.

Bersambung ke bagian 20

66. Surah At-Tahrim

29 Nov

Pembahasan Tentang Surat-Surat Al-Qur’an (Klik di sini)
Tafsir Ibnu Katsir (Klik di sini)

Surat ini terdiri atas 12 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Al Hujuraat. Dinamai surat At Tahrim karena pada awal surat ini terdapat kata tuharrim yang kata asalnya adalah Attahrim yang berarti mengharamkan.

Pokok-pokok isinya :

1. Keimanan:
Kesempatan bertaubat itu hanyalah di dunia saja, segala amal perbuatan manusia di dunia akan dibalas di akhirat.

2. Hukum-hukum:
Larangan mengharamkan apa-apa yang dibolehkan Allah SWT, kewajiban membebaskan diri dari sumpah yang diucapkan untuk mengharamkan yang halal dengan membayar kaffarat; kewajiban memelihara diri dan keluarga dari api neraka; perintah memerangi orang-orang kafir dan munafik dan berlaku keras terhadap mereka di waktu perang.

3. Dan lain-lain:
Iman dan perbuatan baik atau buruk seseorang tidak tergantung kepada iman dan perbuatan orang lain walaupun antara suami isteri, seperti isteri Nabi Luth AS, isteri Nabi Nuh AS, isteri Fir’aun, dan Maryam.
Surat At Tahrim menerangkan tentang hubungan Rasulullah SAW dengan isteri-isterinya, diikuti dengan keharusan bagi orang-orang mukmin untuk bertaubat; dan ditutup dengan contoh-contoh wanita-wanita yang baik dan yang buruk.

HUBUNGAN SURAT AT TAHRIM DENGAN SURAT AL MULK

Dalam surat At Tahrim diterangkan bahwa Allah mengetahui segala rahasia, sedang pada surat Al Mulk ditegaskan lagi bahwa Allah mengetahui segala rahasia karena Allah menguasai seluruh alam.