Tag Archives: 70

Tafsir Ibnu Katsir Surah At-Taubah / Al-Bara’ah ayat 70

26 Jun

Tafsir Al-Qur’an Surah At-Taubah (Pengampunan)
Surah Madaniyyah; surah ke 9: 129 ayat

tulisan arab alquran surat at taubah ayat 70“Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, ‘Aad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan dan (penduduk) negeri-negeri yang telah musnah. Telah datang kepada mereka para Rasul dengan membawa keterangan yang nyata, maka Allah tidaklah sekali-kali menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (QS. at-Taubah/ Bara’ah: 70)

Allah berfirman seraya memberi teguran kepada orang-orang munafik yang mendustakan para Rasul itu: alam ya’tiHim naba-ul ladziina min qabliHim (“Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang sebelum mereka.”) Yakni, belumkah mereka diberi kabar tentang orang-orang sebelum mereka yang mendustakan para Rasul?

Qaumu nuuhin (“Kaum Nabi Nuh,”) dan banjir besar yang menenggelamkan seluruh penduduk bumi kecuali orang-orang yang beriman kepada Nabi Nuh as.
Wa ‘aadin (“Dan kaum Aad,”) bagaimana mereka dimusnahkan dengan angin dahsyat; ketika mereka mendustakan Nabi Hud.
Wa tsamuuda (“Dan kaum Tsamud,”) bagaimana mereka, ketika mereka mendustakan Nabi Shalih as dan membunuh unta yang diamanatkan.
Wa qaumi ibraaHiima (“Dan kaumnya Ibrahim, “) bagaimana Allah menolong Nabi Ibrahim atas mereka, memperkuatnya dengan mukjizat-mukjizat yang nyata dan menghancurkan raja mereka, Namrudz -semoga Allah melaknatnya-.
Wa ash-haabi madyana (“Dan penduduk Madyan,”) mereka adalah kaumnya Nabi Syu’aib as, bagaimana mereka ditimpa gempa dan adzab pada hari panen.
Wal mu’tafikaat (“Dan negeri-negeri yang telah musnah,”) kaumnya Nabi Luth, di mana mereka waktu itu tinggal di Madain.

Allah berfirman dalam ayat lain yang artinya: “Dan negeri-negeri kauna Luth yang telah dihancurkan Allah.” (QS. An-Najm: 53). Disebutkan, bahwa ia adalah kota utama mereka yang bernama Sadum. Maksudnya, bahwa Allah telah menghancurkan mereka semua karena mereka telah mendustakan Nabi Luth as. dan mereka telah melakukan penyimpangan seksual yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun dari umat sebelumnya.

atatHum rusuluHum bil bayyinaat (“Para Rasul telah datang kepada mereka dengan membawa
keterangan.”) Yakni, dengan membawa argumentasi dan bukti-bukti yang kuat dan pasti.

Famaa kaanallaaHu liyadhlimaHum (“Maka Allah sekali-sekali tidak menganiaya mereka.”) Yakni, dengan menghancurkan mereka, kerena Allah telah mendatangkan alasan (hujjah) dengan mengutus para Rasul dan membuang segala yang meragukan.

Wa laakin anfusaHum yadhlimuun (“Akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.”) Yakni, dengan sikap mereka yang mendustakan para Rasul dan mengingkari kebenaran. Maka, mereka menjerumuskan diri mereka ke dalam adzab dan kehancuran.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-An’am ayat 70

22 Jan

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-An’am (Binatang Ternak)
Surah Makkiyyah kecuali ayat: 20, 23, 91, 93, 114, 141, 151, 152, 153 Madaniyyah surah ke 6: 165 ayat

tulisan arab alquran surat al an'am ayat 70“Dan tinggalkan lah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah (mereka) dengan Al-Quran itu agar masing-masing diri tidak dijerumuskan ke dalam neraka, karena perbuatannya sendiri. tidak akan ada baginya pelindung dan tidak pula pemberi syafa’at selain daripada Allah. dan jika ia menebus dengan segala macam tebusanpun, niscaya tidak akan diterima itu daripadanya. mereka Itulah orang-orang yang dijerumuskan ke dalam neraka. bagi mereka (disediakan) minuman dari air yang sedang mendidih dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka dahulu.” (al-An’aam: 70)

Allah berfirman: wa dzaril ladziinat takhadzuu diinaHum la’ibaw wa laHwaw wa gharratHumul hayaatud dun-yaa (“Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia.”)

Artinya, tinggalkanlah dan berpalinglah dari mereka dan berilah tangguh kepada mereka barang sejenak, karena sesungguhnya mereka akan menuju ke adzab yang sangat dahsyat. Oleh karena itu Allah berfirman: wa dzakkir biHii (“Peringatkanlah [mereka] dengan al-Qur’an itu”) maksudnya peringatkanlah manusia dengan al-Qur’an ini, serta suruhlah mereka supaya berhati-hati terhadap siksaan dan adzab-Nya yang sangat pedih pada hari kiamat kelak.

An tubsala nafsum bimaa kasabat (“Agar masing-masing diri tidak dijerumuskan ke dalam neraka karena perbuatannya sendiri.”) maksudnya agar tidak terjerumus.

Adh-Dhahhak mengatakan dari Ibnu Abbas, Mujahid, Ikrimah, al-Hasan, dan as-Suddi: “Tubsala berarti diserahkan.” Al-Walibi mengatakan: “[Maknanya adalah] ditahan.” Murrah dan Ibnu Zaid mengatakan: “[Maknanya adalah] disiksa.” Semua makna ini berdekatan dan kesimpulannya adalah penjerumusan diri pada kebinasaan.

Laisa laHaa min duunillaaHi waliyyuw walaa syafii’ (“Tidak akan ada baginya pelindung dan tidak [pula] pemberi syafaat selain daripada Allah.”) maksudnya tidak ada kerabat dekat atau orang lain yang dapat memberi syafaat kepadanya.

Wa in ta’dil kulla ‘adlil laa yu’khadz minHaa (“Dan jika ia menebus dengan segala macam tebusan pun, niscaya tidak akan diterima itu darinya.”) maksudnya, meskipun ia mengorbankan seluruh pengorbanan [usaha], niscaya tidak akan diterima.

Ulaa-ikal ladziina ublisuu bimaa kasabuu laHum syaraabum min hamiimiw wa ‘adzaabun aliimum bimaa kaanuu yakfuruun (“Mereka itulah orang-orang yang dijerumuskan ke dalam neraka, disebabkan perbuatan mereka sendiri. Bagi mereka [disediakan] minuman dari air yang mendidih dan adzab yang pedih disebabkan kekafiran mereka dahulu.”)

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 70-72

15 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 70-72“Mereka berkata: ‘Apakah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami maka datangkanlah adzab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar.’ (QS. 7:70) Ia berkata: ‘Sungguh sudah pasti kamu akan ditimpa adzab dan kemarahan dari Rabbmu. Apakah kamu sekalian hendak berbantah denganku tentang nama-nama (berhala) yang kamu dan nenek moyangmu menamakannya, padahal Allah sekali-kali tidak menurunkan hujjah untuk itu? Maka tunggulah (adzab itu), sesungguhnya aku juga termasuk orang yang menunggu bersamamu.’ (QS. 7:71) Maka Kami selamatkan Huud beserta orang-orang yang bersamanya dengan rahmat yang besar dari Kami dan Kami tumpas orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan tidaklah mereka orang-orang yang beriman. (QS. 7:72)” (al-A’raaf: 70-72)

Allah Ta’ala memberitahukan tentang kesombongan, kelaliman, penentangan dan keingkaran mereka terhadap Huud as.:
Qaaluu aji’tanaa lina’budallaaHa wahdaHu (“Mereka berkata, ‘Apakah kamu datang kepada kami agar Kami hanya menyembah Allah saja.’”) Oleh karena itu, Huud as. pun berkata kepada mereka: qad waqa’a ‘alaikum mir rabbikum rijsuw wa ghadlab (“Sungguh sudah pasti kamu akan ditimpa adzab dan kemarahan dari Rabbmu.”) maksudnya dengan ucapakan kalian seperti itu, sudah pasti kalian akan mendapatkan adzab dan kemurkaan dari Rabb kalian.

Menurut suatu pendapat bahwa “rijsun” (‘adzab, laknat) adalah perubahan dari “rijzun” (‘adzab). Dan dari Ibnu ‘Abbas maknanya adalah kemurkaan dan kemarahan.

Atajaadiluuna nii fii asmaa-in samaitumuuHaa antum wa aabaa-ukum (“Apakah kamu hendak berbantah denganku tentang nama-nama [berhala] yang kamu dan nenek moyangmu menamakannya?”) Maksudnya, apakah kalian akan berhujjah kepadaku mengenai berhala-berhala yang kalian dan nenek moyang kalian telah menamainya sebagai ilah-ilah, padahal semua berhala itu sama sekali tidak dapat memberikan mudharat dan manfaat bagi kalian. Dan Allah Ta’ala sendiri tidak memberikan untuk kalian suatu hujjah atau punyetunjuk atas penyembahannya.

Oleh karena itu Dia berfirman: maa nazzalallaaHu biHaa min sulthaanin fantadhiruu innii ma’akum minal muntadhiriin (“Padahal Allah sekali-kali tidak menurunkan hujjah untuk itu. Maka mnggulah [adzab itu], sesungguhnya aku juga termasuk orang yang menunggu bersamamu.”)

Yang demikian itu merupakan ancaman dan peringatan keras seorang Rasul terhadap kaumnya. Oleh karenanya, hal itu diikuti dengan firman-Nya: fa anjainaaHu wal ladziina ma’aHu birahmatim minnaa wa qatha’naa daabiral ladziina kadzdzabuu bi aayaatinaa wa maa kaanuu mu’miniin (“Maka Kami selamatkan Huud beserta orang-orang yang bersamanya dengan rahmat yang besar dari Kami dan Kami tumpas orang-orang yang mendustakan Kami dan tidaklah mereka orang-orang yang beriman.”)

Allah telah menyebutkan bagaimana mereka itu dibinasakan tempat-tempat lain dalam ayat al-Qur’an, yaitu dengan mengirimkan kepada mereka angin yang membinasakan. Angin itu tidak menyisakan sesuatu yang dilandanya melainkan ia jadikan hancur berantakan. Yang demikian disebabkan karena mereka sangat sombong lagi angkuh. Allah Ta’ala membinasakan mereka melalui hembusan angin yang sangat kencang yang dapat menerbangkan salah seorang dari mereka ke udara, lalu menjatuhkan lagi dengan kepala di bawah sehingga kepalanya terpisah dari badannya.
Oleh karena itu Allah berfirman yang artinya: “Seakan-akan mereka itu tunggul-tunggul pobon kurma yang telah kosong (lapuk).” (QS. Al-Haaqqah: 7)

Muhammad bin Ishak mengatakan, “Mereka itu bertempat tinggal di Yaman, antara Oman dan Hadramaut. Dengan kelebihan kekuatan yang mereka miliki, yang diberikan oleh Allah, mereka menyebar luas di muka bumi dan menjajah penduduknya. Mereka adalah penyembah berhala. Maka Allah Ta’ala mengutus kepada mereka Huud as, seorang yang benasab paling baik di antara mereka dan paling mulia kedudukannya. la perintahkan mereka untuk mengesakan Allah semata dan tidak menjadikan ilah yang lain selain diri-Nya dan agar mereka menghentikan tindakan mendhalimi orang lain.

Namun mereka menolak dan mendustakan Nabi Huud as, dan mereka berkata, “Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?” Meskipun demikian, ada beberapa orang dari mereka yang mau mengikuti Nabi Huud, tetapi dalam jumlah yang tidak begitu banyak dan mereka merahasiakan serta menyembunyikan keimanan mereka.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yunus ayat 68-70

8 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Yunus
Surah Makkiyyah; surah ke 10: 109 ayat

tulisan arab alquran surat yunus ayat 68-70“Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata: ‘Allah mempunyai anak.’ Mahasuci Allah; Dialah yang Mahakaya; kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang di bumi. Kamu tidak mempunyai hujjah tentang ini. Pantaskah kamu mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui? (QS. 10:68) Katakanlah: ‘Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak beruntung.’ (QS. 10:69) (Bagi mereka) kesenangan (sementara) di dunia, kemudian kepada Kamilah mereka kembali, kemudian Kami rasakan kepada mereka siksa yang berat, disebabkan kekafran mereka. (QS. 10:70)” (Yunus: 68-70)

Allah berfirman, mengingkari orang yang menuduh bahwa sesungguhnya Allah mempunyai: waladan subhaanaHu Huwal ghaniyyu (“Anak, Mahasuci Allah, Dialah yang Mahakaya.”) Maksudnya, Allah Mahasuci dari itu dan Mahakaya dari setiap apa yang selain Allah dan setiap sesuatu butuh kepada-Nya.

laHuu maa fis samaawaati wa maa fil ardli (“Kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan di bumi.”) Maksudnya, bagaimana mungkin Allah mempunyai anak dari apa yang Allah ciptakan, sedangkan segala sesuatu adalah milik-Nya dan merupakan hamba-Nya.

In ‘indakum min sulthaanim biHaadzaa (“Kamu tidak mempunyai hujjah tentang ini.”) Maksudnya, kamu tidak mempunyai dalil atas kebohongan dan kedustaan yang kamu ucapkan. A taquuluuna ‘alallaaHi maa laa ta’lamuun (“Pantaskah kamu mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?”) Ini adalah pengingkaran dan ancaman yang keras.

Kemudian Allah Ta’ala mengancam para pendusta dan pembohong, yaitu orang-orang yang menuduh bahwa Allah mempunyai anak, bahwa mereka tidak akan beruntung di dunia dan akhirat. Adapun di dunia, maka sesungguhnya Allah memberikan tempo kepada mereka dan diberikan kesenangan sedikit. Tsumma nadltharruHum ilaa ‘adzaabin ghaliidh (“Kemudian Kami paksa mereka [masuk] ke dalam siksa yang keras.”) (QS. Luqman: 24)

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman pada ayat ini: mataa’un fid dun-yaa (“[Bagi mereka] kesenangan [sementara] di dunia.”) Maksudnya, waktu yang singkat. Tsumma ilainaa marji’uHum (“Kemudian kepada Kamilah mereka kembali.”) Maksudnya, pada hari Kiamat.

Tsumma nudziiquHumul ‘adzaabasy syadiid (“Kemudian Kami rasakan kepada mereka siksa yang berat.”) Maksudnya, yang pedih dan menyakitkan. Bimaa kaanuu yakfuruun (“Disebabkan kekafiran mereka.”) Maksudnya, disebabkan kekafiran, kedustaan dan kebohongan mereka kepada Allah, dalam dakwaan yang mereka ada-adakan dan mereka palsukan.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Anfaal Ayat 70-71

2 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anfaal
(Harta Rampasan Perang)
Surah Madaniyyah; surah ke 8: 75 ayat

tulisan arab alquran surat al anfaal ayat 70-71“Hai Nabi, katakanlah kepada tawanan-tawanan yang ada di tanganmu: ‘Jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hatimu, niscaya Allah akan memberikan kepadamu yang lebih baik dari apa yang telah diambil dari-padamu, dan Allah akan mengampunimu.’ Dan Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang. (QS. 8:70) Akan tetapi, jika mereka (tawanan-tawanan itu) bermaksud hendak berkhianat kepadamu, maka sesungguhnya mereka telah berkhianat kepada Allah sebelum ini, lalu Allah menjadikan(mu) berkuasa terhadap mereka. Dan Allah Mahamengetahui lagi Mahabijaksana. (QS. 8:71)” (al-Anfaal: 70-71)

Ibnu Juraij menceritakan dari `Atha’ al-Khurasani, dari Ibnu `Abbas: yaa ayyuHan nabiyyu qul liman fii aidiikum minal asraa (“Hai Nabi, katakanlah kepada tawanan-tawanan yang ada di tanganmu,”) `Abbas (paman Nabi)dan para sahabatnya mengatakan, bahwa para tawanan itu berkata kepada Nabi: “Kami beriman kepada apa yang engkau bawa dan bersaksi, bahwa engkau adalah Rasul Allah dan kami akan berikan nasihat kepada kaum kami.” Maka Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya: iy ya’lamillaaHu fii quluubikum khairay yu’tikum khairam mimmaa akhidza minkum (“Jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hatimu, niscaya Allah akan memberikan kepadamu yang lebih baik dari apa yang telah diambil darimu.”) Yaitu, keimanan dan kepercayaan yang datang setelah itu kepada kalian adalah, lebih baik apa yang telah diambil dari kalian.

Wa yaghfirlakum (“Dan Allah akan mengampuni kalian.”) Yakni, dosa akibat kemusyrikan yang telah kalian lakukan.

Al-‘Abbas mengatakan: “Turunnya ayat ini lebih aku sukai dari pada aku memperoleh dunia, di mana Allah telah berfirman: yu’tikum khairam mimmaa ukhidza minkum (“Allah akan memberikan kepadamu yang lebih baik dari apa yang telah diambil darimu.”) Sungguh Allah telah memberiku apa yang lebih baik dari apa yang telah lambil dariku seratus kali lipat. Dan Allah juga berfirman: wa yaghfirlakum (“Dan Allah memberikan ampunan kepadamu.”) Aku berharap, semoga aku diberikan ampunan.”

`Ali bin Abi Thalhah menceritakan dari Ibnu `Abbas, mengenai ini, `Abbas pernah ditawan pada saat terjadi perang Badar, lalu ia menebus dirinya sendiri dengan empat puluh uqiyah emas. Kemudian ketika dibacakan ayat ini, al-‘Abbas berkata: “Allah telah memberiku dua hal yang lebih aku sukai daripada dunia, yaitu; aku ditawan pada perang Badar, lalu aku diriku dengan empat puluh uqiyah emas. Kemudian Allah memberiku empat puluh budak. Dan sesungguhnya aku mengharapkan ampunan yang telah dijanjikan Allah kepada kami.”

Al-Hafizh Abu Bakar al-Baihaqi menceritakan dari Anas bin Malik, berkata: Didatangkan kepada Rasulullah harta benda dari Bahrain, Rasulullah bersabda: “Hamparkanlah harta ini di masjidku.”

Harta itu adalah jumlah yang paling banyak yang pernah didatangkan kepada Rasulullah saw. Kemudian beliau berangkat menunaikan shalat tanpa menoleh kepada harta tersebut. Setelah selesai mengerjakan shalat, beliau datang dan duduk di samping harta tersebut. Beliau tidak melihat seseorang melainkan beliau memberinya. Tiba-tiba al-‘Abbas mendatangi beliau seraya berkata: “Ya Rasulullah, berilah aku. Sesungguhnya aku dulu pernah menebus diriku dan juga aku menebus `Uqail.” Maka Rasulullah pun berkata: “Ambillah.” Kemudian al-‘Abbas meletakkan harta itu ke dalam bajunya dan setelah itu pergi. Ia berusaha mengangkatnya tetapi ia tidak bisa, lalu berkata: “Suruhlah sebagian mereka mengangkatkan harta itu untukku.” Beliau menjawab: “Tidak.” Al-‘Abbas menuturkan: “Kalau begitu, angkatkan harta itu untukku.” Beliau pun tetap menjawab: “Tidak.” Maka al-‘Abbas menaburkan sebagian daripadanya dan meletakkannya di atas pundaknya dan kemudian pergi. Pandangan Rasulullah masih terus mengikutinya hingga ia tidak lagi terlihat oleh beliau. Beliau sangat heran terhadap kesungguhannya. Dan beliau tidak beranjak sedang tidak tersisa satu dirham pun.

Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari di beberapa tempat dalam kitabnya (Shahih al-Bukhara) dengan menggunakan shighah penegasan. la mengatakan: “Ibrahim bin Thuhman pun meriwayatkan hadits tersebut dan menyampaikannya dengan beberapa siyaq yang lebih sempurna dari ini.”

Dan firman-Nya: wa iy yuriiduu khiyaanataka faqad khaanullaaHa min qablu (“Akan tetapi jika mereka [tawanan-tawanan itu] bermaksud hendak berkhianat kepada kalian, maka sesungguhnya mereka telah berkhianat kepada Allah sebelum ini.”) Maksudnya; wa iy yuriiduu khiyaanataka (“Akan tetapi jika mereka [tawanan-tawanan itu] bermaksud hendak berkhianat kepada kalian,”) Yakni, berupa ucapan-ucapan yang mereka lontarkan secara lantang kepada kalian.

faqad khaanullaaHa min qablu (“maka sesungguhnya mereka telah berkhianat kepada Allah sebelum ini.”) Yaitu, sebelum perang Badar, melalui kekafiran terhadap-Nya. Fa amkana minHum (“Lalu Allah menjadikan [kalian] berkuasa terhadap mereka.”) Yaitu, terhadap para tawanan pada saat terjadi perang Badar. wallaaHu ‘aliimun hakiim (“Dan Allah Mahamengetahui dan Mahabijaksana.”) Yaitu, Mahamengetahui terhadap apa yang Ia perbuat dan Mahabijaksana dalam perbuatan-Nya tersebut.

Qatadah mengatakan: “Ayat ini diturunkan berkenaan dengan`Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarah al-Katib, ketika ia kembali murtad dan bertemu dengan orang-orang musyrik.”
Ibnu Juraij menceritakan dari `Atha’ al-Khurasani, dari Ibnu `Abbas, ia mengatakan: “Ayat ini turun berkenaan dengan al-‘Abbas dan para sahabatnya ketika mereka mengatakan: ‘Kami akan laporkan kepada kaum kami.’”
Sedangkan as-Suddi mentafsirkannya secara umum dan hal ini lebih syumul (lebih mencakup) dan lebih jelas. Wallahu a’lam.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yusuf ayat 70-72

27 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Yusuf
Surah Makkiyyah; surah ke 12: 111 ayat

tulisan arab alquran surat yusuf ayat 70-72“Maka tatkala telah disiapkan untuk mereka bahan makanan mereka, Yusuf memasukan piala (tempat minum) ke dalam karung saudaranya. Kemudian berteriaklah seseorang yang menyerukan: ‘Hai kafilah, sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang mencuri.’ (QS. 12:70) Mereka menjawab, sambil menghadap kepada penyeru penyeru itu: ‘Barang apakah yang hilang dari pada kamu.’ (QS. 12:71) Penyeru-penyeru itu berkata: ‘Kami kehilangan piala (takaran) raja, dan siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta, dan aku menjamin terhadapnya.’ (QS. 12:72)” (Yusuf: 70-72)

Setelah mempersiapkan mereka dan menaikkan bahan makanan mereka di atas punggung-punggung unta mereka, Yusuf menyuruh sebagian bujang-bujangnya meletakkan tempat minum yang (terbuat dari perak menurut pendapat sebagian besar mufassir, dan sebagian lagi mengatakan terbuat dari emas) diletakkan dalam karung Bunyamin secara diam-diam sehingga tidak dilihat oleh seorang pun.

Kemudian, salah seorang penyeru berteriak: ayyatuHal ‘iiru innakum lasaariquun (“Wahai kafilah, kalian adalah pencuri.”) Maka merekapun menoleh ke arah penyeru tersebut dan bertanya: maa dzaa tafqiduuna qaaluu nafqudu shuwaa’al maliki (“’Kalian kehilangan apa?’ Mereka menjawab: ‘Kami kehilangan alat takaran raja’”) yaitu alat untuk menakar:
Wa liman jaa-a biHii himlu ba’iirin (“’Dan siapa yang dapat mengembalikannya akan mendapat makanan seberat beban seekor unta.’”) Hal ini termasuk upah/pemberian (al-ja’alah)

Wa ana biHii ja-‘iim (“Dan aku adalah penjaminnya”) hal ini termasuk jaminan (adh-dhaman) dan tanggung jawab (al-kafalah)

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nahl ayat 70

18 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nahl (Lebah)
Surah Makkiyyah; surah ke 16: 128 ayat

tulisan arab alquran surat an nahl ayat 70“Allah menciptakanmu, kemudian mewafatkanmu; dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun), supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui lagi Mahakuasa.” (QS. an-Nahl: 70)

Allah Ta’ala memberitahukan tentang perlakuan-Nya terhadap hamba-hamba-Nya, dan Dialah yang telah menciptakan mereka dari tiada, dan setelah itu Dia mematikan mereka. Ada sebagian dari mereka yang Dia biarkan hidup sampai usia tua, yang berada dalam keadan lemah, sebagaimana yank difirmankan oleh Allah Ta’ala yang artinya: “Allah, Dialah yang menciptakanmu dari kadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat,” dan ayat seterusnya. (QS. Ar-Ruum: 54)

Telah diriwayatkan dari `Ali ra, yang dimaksud dengan ardzalul `umur (umur yang paling lemah) adalah tujuh puluh lima tahun. Pada umur tersebut kekuatannya melemah, pikun, buruk hafalan, dan sedikit pengetahuan.

Oleh karena itu, Dia berfirman: likailaa ya’lama ya’lama ba’da ‘ilmin syai-an (“Supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang pernah diketahuinya.”) Maksudnya, setelah sebelumnya dia mengetahui, menjadi tidak mengetahui lagi sesuatu pun, yakni berupa kelemahan dan kepikunan. Oleh karena itu, ketika menafsirkan ayat ini, al-Bukhari meriwayatkan dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah pernah berdo’a: “Aku berlindung kepada-Mu dari sifat kikir, malas, masa tua, umur yang paling lemah, adzab kubur, fitnah Dajjal, fitnah kehidupan dan fitnah kematian.”

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Israa’ Ayat 70

14 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Israa’
(Memperjalankan di Malam Hari)
Surah Makkiyyah; surah ke 17: 111 ayat

tulisan arab alquran surat al israa ayat 70“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS. Al-Israa’: 70)

Allah memberitahukan tentang pemuliaan dan penghormatan-Nya terhadap anak cucu Adam, yakni dalam penciptaan mereka dalam bentuk yank sebaik-baiknya dan paling sempurna. Sama seperti firman-Nya: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tiin: 4)

(Yaitu) sesosok makhluk yang dapat berjalan tegak dengan berpijak pada kedua kakinya dan makan dengan kedua tangannya. Sedangkan makhluk lain dari berbagai macam binatang berjalan dengan keempat kakinya dan makan dengan mulutnya. Selain itu, Allah juga memberikan pendengaran, penglihatan, dan hati yang dengannya ia dapat memahami, mengambil manfaat, dan membedakan banyak hal, mengetahui manfaat dan keistimewaan serta bahayanya dalam urusan agama dan juga duniawi. Dan Kami angkut mereka di daratan dengan menggunakan kendaraan binatang; kuda dan keledai. Sedangkan di lautan, Kami angkut dengan menggunakan kapal-kapal besar maupun kecil. Dan Kami karuniakan kepada mereka berbagai macam rizki yang baik-baik berupa tanam-tanaman, buah-buahan, daging, susu, dan beraneka macam makanan yang beraneka warna yang sangat lezat, juga pemandangan yang indah, pakaian yang bagus-bagus dengan berbagai macam jenis, warna, dan bentuknya, yang mereka buat untuk diri mereka sendiri atau mereka ambil dari daerah lain. Dan telah Kami lebihkan mereka atas makhluk lainnya, yakni hewan dan makhluk lainnya.

Ayat di atas juga dijadikan sebagai dalil yang menunjukkan keutamaan manusia atas Malaikat.

Bersambung

70. Surah Al-Ma’aarij

2 Des

Pembahasan Tentang Surat-Surat Al-Qur’an (Klik di sini)
Tafsir Ibnu Katsir (Klik di sini)

Surat ini terdiri atas 44 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al Haaqqah. Perkataan Al Ma’arij yang menjadi nama bagi surat ini adalah kata jamak dari Mi’raj, diambil dari perkataan Al Ma’arij yang terdapat pada ayat 3, yang artinya menurut bahasa tempat naik. Sedang para ahli tafsir memberi arti bermacam-macam, di antaranya langit, nikmat karunia dan derajat atau tingkatan yang diberikan Allah s.w.t kepada ahli surga.

Pokok-pokok isinya :

Perintah bersabar kepada Nabi Muhammad s.a.w dalam menghadapi ejekan-ejekan dan keingkaran orang-orang kafir, kejadian-kejadian pada hari kiamat; azab Allah tak dapat dihindarkan dengan tebusan apapun, sifat-sifat manusia yang mendorongnya ke api neraka; amal- amal perbuatan yang dapat membawa manusia ke martabat yang tinggi; peringatan Allah akan mengganti kaum yang durhaka dengan kaum yang lebih baik.
Surat Al Ma´aarij menerangkan sifat-sifat yang buruk serta memberi petunjuk kepada jalan-jalan yang dapat mencapai kemuliaan dan derajat yang tinggi.

HUBUNGAN SURAT AL MA´AARIJ DENGAN SURAT NUH

1. Pada akhir surat Al Ma´aarij Allah menerangkan bahwa Dia berkuasa mengganti kaum yang durhaka dengan kaum yang lebih baik, sedang dalam surat Nuh dibuktikan dengan penenggelaman kaum Nuh yang durhaka.
2. Kedua surat ini dimulai dengan ancaman azab kepada orang-orang kafir.