Tag Archives: 71

Tafsir Ibnu Katsir Surah At-Taubah / Al-Bara’ah ayat 71

26 Jun

Tafsir Al-Qur’an Surah At-Taubah (Pengampunan)
Surah Madaniyyah; surah ke 9: 129 ayat

tulisan arab alquran surat at taubah ayat 71“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS. at-Taubah/ al-Bara’ah:71)

Setelah menyebutkan sifat-sifat buruk yang dimiliki oleh orang-orang munafik, Allah melanjutkan dengan penyebutan sifat-sifat baik yang dimiliki oleh orang-orang yang beriman.

Allah berfirman: wal mu’minuuna wal mu’minaatu ba’dluHum auliyaa-u ba’dlin (“Orang-orang beriman laki-laki dan orang-orang beriman perempuan, sebagian mereka adalah penolong sebagian yang lain.”) Yakni, saling menolong dan menopang, seperti yang disebutkan dalam hadits shahih:
“Orang beriman terhadap orang beriman yang lain adalah ibarat bangunan, sebagian menguatkan sebagian yang lain.” (Muttafaq ‘alaiHi)
Rasulullah saw. mengatakan itu sambil merapatkan antara jari-jari beliau.

Dalam hadits lain disebutkan:
“Perumpamaan orang-orang beriman dalam berkasih-sayang, seperti perumpamaan satu tubuh. Jika ada satu anggota tubuh yang mengeluh kesakitan, maka seluruh tubuh yang lain ikut meresponnya dengan demam dan tidak tidur.” (Muttafaq ‘alaiHi)

Firman-Nya: ya’muruuna bil ma’ruufi wa yanHauna ‘anil munkari (“Memerintahkan kepada yang ma’ruf dan meninggalkan apa yang munkar.”) seperti firman-Nya yang artinya: “Dan hendaklah di antara kamu ada sekelompok yang menyeru kepada kebaikan, memerintahkan kepada yang ma’ruf, dan mencegah yang munkar.” (Ali ‘Imraan: 104)

Dan firman-Nya lebih lanjut: wa yuqiimuunash shalaata wa yu’tuunaz zakaata (“Mendirikan shalat dan menunaikan zakat.”) maksudnya mereka menaati Allah dan berbuat baik kepada hamba-hamba-Nya.

Wa yuthii’uunallaaHa wa rasuulaHuu (“Dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya”) yaitu terhadap apa yang Allah perintahkan dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya.

Ulaa-ika sayarhamu HumullaaHu (“Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah.”) yaitu Allah akan memberi rahmat kepada orang-orang yang menghiasi diri dengan sifat-sifat tersebut.

innallaaHa ‘aziizun (“Sesungguhnya Allah Mahaperkasa.”) Maksudnya, Allah akan memuliakan orang-orang yang mentaati-Nya, karena kemuliaan itu hanyalah milik Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. hakiimun (“Lagi Mahabijaksana.”) Dalam pembagiannya, sifat-sifat ini semua untuk mereka orang-orang yang beriman. Dan Allah mengkhususkan sifat-sifat yang terdahulu kepada orang-orang munafik, karena sesungguhnya Allah mempunyai hikmah dalam setiap apa yang Allah kerjakan. Mahasuci Allah lagi Mahatinggi.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yunus ayat 71-73

8 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Yunus
Surah Makkiyyah; surah ke 10: 109 ayat

tulisan arab alquran surat yunus ayat 71-73“Dan bacakanlah kepada mereka berita penting tentang Nuh di waktu berkata kepada kaumnya: ‘Hai kaumku, jika terasa berat bagimu tinggal (bersamaku) dan peringatanku (kepadamu) dengan ayat-ayat Allah, maka kepada Allahlah aku bertawakkal, karena itu bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutumu (untuk membinasakanku). Kemudian janganlah keputusanmu itu dirahasiakan, lalu lakukanlah terhadap diriku dan Janganlah kamu memberi tangguh kepadaku. (QS. 10:71) Jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah sedikit pun darimu. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan aku diperintah supaya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (kepada-Nya). (QS. 10:72) Lalu mereka mendustakan Nuh, maka Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera dan Kami jadikan mereka itu pemegang kekuasaan dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu. (QS. 10:73)” (Yunus: 71-73)

Allah berfirman kepada Nabi-Nya Shalawatullahi wa Salamuhu (mudah-mudahan shalawat dan salam dilimpahkan kepadanya): watluu ‘alaiHim (“Dan bacakan kepada mereka.”) Maksudnya, berilah kabar dan ceritakan kepada orang-orang kafir Makkah yang mendustakan dan menentangmu.

Naba-a nuuhin (“Berita penting tentang Nuh.”) Maksudnya, berita dia bersama kaumnya yang mendustakannya, bagaimana Allah membinasakan dan menghancurkan mereka, hingga akhirnya mereka dibinasakan dengan ditenggelamkannya mereka semua, agar orang-orang kafir Makkah takut kalau siksa yang berupa kebinasaan dan kehancuran itu menimpa mereka, sebagaimana menimpa kaum Nabi Nuh.

Idz qaala liqaumiHii yaa qaumi in kaana kabura ‘alaikum (“Di waktu dia berkata kepadanya: ‘Hai kaumku, jika terasa berat bagimu.’”) Maksudnya, kalian merasa berat. Maqaamii (“[Bertempat] tinggalnya aku.”) Maksudnya, bersama kalian, di antara kalian. Wa tadzkiirii (“Dan peringatanku.”) Yaitu, kepada kalian. Bi aayaatillaaHi (“Dengan ayat-ayat Allah.”) Maksudnya, dengan hujjah-hujjah-Nya dan bukti-bukti dari-Nya.
Fa ‘alallaaHi tawakkaltu (“Maka kepada Allahlah aku bertawakal”) Maksudnya, sesungguhnya aku tidak peduli dan aku tidak berhenti dari kalian, baik kalian merasa berat atau tidak.

Fa ajmi’uu amrakum wa syurakaa-akum (“Karena itu bulatkanlah keputusanmu dan [kumpulkanlah] sekutu-sekutumu [untuk membinasakanku]”) Maksudnya, berkumpullah kamu dan sekutu-sekutumu yang kamu ibadahi selain Allah, berupa berhala dan patung. Tsumma laa yakum amrukum ‘alaikum gummatan (“Kemudian janganlah keputusanmu itu dirahasiakan.”) Maksudnya, jangan kalian jadikan keputusan kalian itu samar-samar atas kalian, akan tetapi ambillah keputusan terhadap keadaan kalian bersamaku. Jika kalian merasa benar, maka putuskanlah kepadaku dan janganlah kalian tunda satu jam pun. Maksudnya, jika kalian mampu, maka lakukanlah, sesungguhnya aku tidak peduli tidak takut kepada kalian, karena kalian bukan apa-apa.

Sebagaimana Nabi Huud berkata kepada kaumnya, yang artinya:
“Sesungguhnya aku jadikan Allah sebagai saksiku dan saksikanlah olehmu sekalian, bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan dari selain-Nya, sebab itu jalankanlah tipu-dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku, sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah, Rabbku dan Rabbmu…”). (QS. Huud: 54-56)

Firman-Nya: fa in tawallaitum (“Jika kamu berpaling.”) Maksudnya, kalian berdusta dan berpaling dari ketaatan. Fa maa sa-altukum min ajrin (“Aku tidak meminta upah sedikit pun darimu.”) Maksudnya, aku tidak meminta dari kalian sesuatu pun atas nasihatku kepada kalian. In ajriya illaa ‘alallaaHi wa umirtu an akuuna minal muslimiin (“Upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka dan aku diperintah sispaya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri [kepada-Nya].”) Maksudnya, dan aku melaksanakan tugasku, Islam (berserah diri) kepada Allah swt. Islam adalah agama seluruh para Nabi dari yang pertama hingga yang terakhir, meskipun syari’at-syari’at mereka berbeda-beda.

Firman-Nya Ta’ala: fakadzdzabuuHu fa najjainaaHu wa mam ma’aHu (“Lalu mereka mendustakan Nuh, maka Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya.”) Maksudnya, tetap atas agamanya. Fil fulki (“Di dalam bahtera.”) Yaitu perahu. Wa ja’alnaaHum khalaa-ifa (“Dan kami jadikan mereka itu pemegang kekuasaan.”) Yaitu di bumi. Wa aghraqnal ladziina kadzdzabuu bi-aayaatinaa fandhur kaifa kaana ‘aaqibatul mundhiriin (“Dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu.”) Maksudnya, (perhatikanlah) wahai Muhammad, bagaimana Kami menyelamatkan orang-orang mukmin dan membinasakan orang-orang kafir.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Anfaal Ayat 70-71

2 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anfaal
(Harta Rampasan Perang)
Surah Madaniyyah; surah ke 8: 75 ayat

tulisan arab alquran surat al anfaal ayat 70-71“Hai Nabi, katakanlah kepada tawanan-tawanan yang ada di tanganmu: ‘Jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hatimu, niscaya Allah akan memberikan kepadamu yang lebih baik dari apa yang telah diambil dari-padamu, dan Allah akan mengampunimu.’ Dan Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang. (QS. 8:70) Akan tetapi, jika mereka (tawanan-tawanan itu) bermaksud hendak berkhianat kepadamu, maka sesungguhnya mereka telah berkhianat kepada Allah sebelum ini, lalu Allah menjadikan(mu) berkuasa terhadap mereka. Dan Allah Mahamengetahui lagi Mahabijaksana. (QS. 8:71)” (al-Anfaal: 70-71)

Ibnu Juraij menceritakan dari `Atha’ al-Khurasani, dari Ibnu `Abbas: yaa ayyuHan nabiyyu qul liman fii aidiikum minal asraa (“Hai Nabi, katakanlah kepada tawanan-tawanan yang ada di tanganmu,”) `Abbas (paman Nabi)dan para sahabatnya mengatakan, bahwa para tawanan itu berkata kepada Nabi: “Kami beriman kepada apa yang engkau bawa dan bersaksi, bahwa engkau adalah Rasul Allah dan kami akan berikan nasihat kepada kaum kami.” Maka Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya: iy ya’lamillaaHu fii quluubikum khairay yu’tikum khairam mimmaa akhidza minkum (“Jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hatimu, niscaya Allah akan memberikan kepadamu yang lebih baik dari apa yang telah diambil darimu.”) Yaitu, keimanan dan kepercayaan yang datang setelah itu kepada kalian adalah, lebih baik apa yang telah diambil dari kalian.

Wa yaghfirlakum (“Dan Allah akan mengampuni kalian.”) Yakni, dosa akibat kemusyrikan yang telah kalian lakukan.

Al-‘Abbas mengatakan: “Turunnya ayat ini lebih aku sukai dari pada aku memperoleh dunia, di mana Allah telah berfirman: yu’tikum khairam mimmaa ukhidza minkum (“Allah akan memberikan kepadamu yang lebih baik dari apa yang telah diambil darimu.”) Sungguh Allah telah memberiku apa yang lebih baik dari apa yang telah lambil dariku seratus kali lipat. Dan Allah juga berfirman: wa yaghfirlakum (“Dan Allah memberikan ampunan kepadamu.”) Aku berharap, semoga aku diberikan ampunan.”

`Ali bin Abi Thalhah menceritakan dari Ibnu `Abbas, mengenai ini, `Abbas pernah ditawan pada saat terjadi perang Badar, lalu ia menebus dirinya sendiri dengan empat puluh uqiyah emas. Kemudian ketika dibacakan ayat ini, al-‘Abbas berkata: “Allah telah memberiku dua hal yang lebih aku sukai daripada dunia, yaitu; aku ditawan pada perang Badar, lalu aku diriku dengan empat puluh uqiyah emas. Kemudian Allah memberiku empat puluh budak. Dan sesungguhnya aku mengharapkan ampunan yang telah dijanjikan Allah kepada kami.”

Al-Hafizh Abu Bakar al-Baihaqi menceritakan dari Anas bin Malik, berkata: Didatangkan kepada Rasulullah harta benda dari Bahrain, Rasulullah bersabda: “Hamparkanlah harta ini di masjidku.”

Harta itu adalah jumlah yang paling banyak yang pernah didatangkan kepada Rasulullah saw. Kemudian beliau berangkat menunaikan shalat tanpa menoleh kepada harta tersebut. Setelah selesai mengerjakan shalat, beliau datang dan duduk di samping harta tersebut. Beliau tidak melihat seseorang melainkan beliau memberinya. Tiba-tiba al-‘Abbas mendatangi beliau seraya berkata: “Ya Rasulullah, berilah aku. Sesungguhnya aku dulu pernah menebus diriku dan juga aku menebus `Uqail.” Maka Rasulullah pun berkata: “Ambillah.” Kemudian al-‘Abbas meletakkan harta itu ke dalam bajunya dan setelah itu pergi. Ia berusaha mengangkatnya tetapi ia tidak bisa, lalu berkata: “Suruhlah sebagian mereka mengangkatkan harta itu untukku.” Beliau menjawab: “Tidak.” Al-‘Abbas menuturkan: “Kalau begitu, angkatkan harta itu untukku.” Beliau pun tetap menjawab: “Tidak.” Maka al-‘Abbas menaburkan sebagian daripadanya dan meletakkannya di atas pundaknya dan kemudian pergi. Pandangan Rasulullah masih terus mengikutinya hingga ia tidak lagi terlihat oleh beliau. Beliau sangat heran terhadap kesungguhannya. Dan beliau tidak beranjak sedang tidak tersisa satu dirham pun.

Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari di beberapa tempat dalam kitabnya (Shahih al-Bukhara) dengan menggunakan shighah penegasan. la mengatakan: “Ibrahim bin Thuhman pun meriwayatkan hadits tersebut dan menyampaikannya dengan beberapa siyaq yang lebih sempurna dari ini.”

Dan firman-Nya: wa iy yuriiduu khiyaanataka faqad khaanullaaHa min qablu (“Akan tetapi jika mereka [tawanan-tawanan itu] bermaksud hendak berkhianat kepada kalian, maka sesungguhnya mereka telah berkhianat kepada Allah sebelum ini.”) Maksudnya; wa iy yuriiduu khiyaanataka (“Akan tetapi jika mereka [tawanan-tawanan itu] bermaksud hendak berkhianat kepada kalian,”) Yakni, berupa ucapan-ucapan yang mereka lontarkan secara lantang kepada kalian.

faqad khaanullaaHa min qablu (“maka sesungguhnya mereka telah berkhianat kepada Allah sebelum ini.”) Yaitu, sebelum perang Badar, melalui kekafiran terhadap-Nya. Fa amkana minHum (“Lalu Allah menjadikan [kalian] berkuasa terhadap mereka.”) Yaitu, terhadap para tawanan pada saat terjadi perang Badar. wallaaHu ‘aliimun hakiim (“Dan Allah Mahamengetahui dan Mahabijaksana.”) Yaitu, Mahamengetahui terhadap apa yang Ia perbuat dan Mahabijaksana dalam perbuatan-Nya tersebut.

Qatadah mengatakan: “Ayat ini diturunkan berkenaan dengan`Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarah al-Katib, ketika ia kembali murtad dan bertemu dengan orang-orang musyrik.”
Ibnu Juraij menceritakan dari `Atha’ al-Khurasani, dari Ibnu `Abbas, ia mengatakan: “Ayat ini turun berkenaan dengan al-‘Abbas dan para sahabatnya ketika mereka mengatakan: ‘Kami akan laporkan kepada kaum kami.’”
Sedangkan as-Suddi mentafsirkannya secara umum dan hal ini lebih syumul (lebih mencakup) dan lebih jelas. Wallahu a’lam.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nahl ayat 71

18 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nahl (Lebah)
Surah Makkiyyah; surah ke 16: 128 ayat

tulisan arab alquran surat an nahl ayat 71“Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebahagian yang lain dalam hal rizki, tetapi orang-orang yang dilebihkan (rizkinya itu) tidak mau memberikan rizki mereka kepada budak-budak yang mereka miliki, agar mereka sama (merasakan) rizki itu. Maka mengapa mereka mengingkari nikmat Allah?” (QS. an-Nahl: 71)

Allah Ta’ala menjelaskan kepada orang-orang musyrik mengenai kebodohan dan kekufuran mereka, di mana mereka menganggap Allah mempunyai sekutu-sekutu, padahal mereka mengakui bahwa sekutu-sekutu itu adalah hamba-Nya juga, sebagaimana yang mereka ucapkan dalam talbiyah pada saat ibadah haji: “Kami memenuhi seruan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu kecuali seorang sekutu. Engkau menguasai sekutu itu dan apa yang dimilikinya.”

Kemudian Allah Ta’ala berfirman mengingkari mereka, “Kalian tidak sudi berbagi dengan hamba sahaya kalian dalam hal kepemilikan rizki yang telah Kami berikan.” Lalu bagaimana Allah Ta’ala rela disamakan dengan hamba-Nya dalam hal Ilahiyyah dan pengagungan. Sebagaimana yang Dia firmankan dalam ayat yang lain yang artinya:

“Dia membuat perumpamaan untukmu dari dirimu sendiri. Apakah ada di antara hamba sahaya yang dimiliki oleh tangan kananmu, sekutu bagimu dalam (memiliki) rizki yang telah Kami berikan kepadamu; maka kamu sama dengan mereka dalam (hak menggunakan) rizki itu, kamu takut kepada mereka sebagaimana kamu takut kepada dirimu sendiri?” dan ayat seterusnya. (QS. Ar-Ruum 28)

Al-`Aufi bercerita dari Ibnu `Abbas mengenai ayat ini, dia berkata: “Mereka tidak menyekutukan hamba sahaya mereka dalam pengurusan harta benda dan isteri-isteri mereka, lalu bagaimana mungkin mereka akan menyekutukan hamba-Ku dengan-Ku dalam kekuasaan-Ku? Demikianlah firman-Nya, Maka mengapa mereka mengingkari nikmat Allah?”

Firman-Nya: afa bini’matillaaHi yajhaduun (“Maka mengapa mereka mengingkari nikmat Allah?”) Maksudnya, mereka memperuntukkan satu bagian dari tanaman dan binatang ternak untuk Allah, lalu mereka mengingkari nikmat-Nya dan menyekutukan pihak lain dengan-Nya.

Dari al-Hasan al-Bashri, dia bercerita, `Umar bin al-Khaththab pernah mengirim surat kepada Abu Musa al-Asy’ari: “Merasa puaslah dengan rizki dunia ini yang kamu miliki, karena sesungguhnya ar-Rahmaan (Yang Mahapengasih) telah mengutamakan sebagian hamba-Nya atas sebagian lainnya dalam hal rizki sebagai upaya menguji masing-masing dari mereka. Orang yang diberikan kelapangan (akan) diuji, bagaimana dia bersyukur kepada Allah dan menunaikan hak yang telah diwajibkan kepadanya atas rizki yang dikaruniakan kepadanya.” (HR. Ibnu Abi Hatim)

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Israa’ Ayat 71-72

14 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Israa’
(Memperjalankan di Malam Hari)
Surah Makkiyyah; surah ke 17: 111 ayat

tulisan arab alquran surat al israa ayat 71-72“(Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya; dan barangsiapa yang diberikan kitab amalannya di tangan kanannya maka mereka ini akan membaca kitabnya itu, dan mereka tidak dianiaya sedikit pun. (QS. 17:71) Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar). (QS. 17:72)” (al-Israa’: 71-72)

Allah yang Mahasuci lagi Mahatinggi memberitahukan tentang hari Kiamat, di mana Dia akan menghisab setiap umat melalui pemimpin mereka masing-masing. Namun dalam hal itu, masih banyak para ulama yang berbeda pendapat. Mujahid dan Qatadah berkata: “Yakni melalui Nabi mereka.” Dan yang demikian itu adalah seperti firman Allah berikut ini: “Tiap-tiap umat mempunyai Rasul. Apabila telah datang Rasul mereka, maka diberikan keputusan antara mereka dengan adil.” (QS. Yunus: 47)

Sebagian ulama salaf mengemukakan: “Yang demikian itu merupakan kemuliaan yang paling besar bagi para perawi hadits, pemimpin mereka adalah Rasulullah.”

Ibnu Zaid berkata: “Yaitu dengan Kitab mereka yang diturunkan kepada Nabi mereka.” Dan ini pula yang menjadi pilihan Ibnu jarir.

Mengenai firman-Nya: yauma nad’uu kulla unaasim bi-iimaamiHim (“Ingatlah suatu hari [yang pada hari itu] Kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya,”) Al-`Aufi meriwayatkan dari Ibnu `Abbas: “(Bi imaamiHim) yakni dengan kitab catatan amal perbuatan mereka.” Hal yang sama juga dikemukakan oleh Abul `Aliyah, al-Hasan dan adh-Dhahak. Dan pendapat inilah yang paling rajih (kuat). Hal itu didasarkan pada firman Allah Ta`ala: “Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab induk yang nyata.” (QS. Yaasiin: 12)

Mungkin juga yang dimaksud dengan bi imaamiHim yakni setiap kaum bersama dengan orang yang mereka jadikan sebagai pemimpin. Dengan demikian, orang-orang yang beriman berimam kepada para Nabi ‘alaihimussalam. Sedangkan orang-orang kafir berimam kepada para pemimpin mereka. Dan yang terakhir ini seperti yang difirmankan Allah: “Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru ke neraka.” (QS. Al-Qashash: 41)

Dalam kitab ash-Shahihain juga telah ditegaskan, di mana Rasulullah pernah bersabda: “Setiap umat akan mengikuti apa yang dulu mereka ibadahi. Karenanya, orang yang menyembah para thaghut pun akan mengikuti thaghut.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dan yang terakhir ini tidak bertentangan dengan pernyataan bahwa Nabi saw. akan didatangkan ke tengah-tengah umatnya jika Allah mengadili umat beliau, di mana beliau harus menjadi saksi bagi umatnya atas semua perbuatan yang dikerjakannya. Dan hal ini seperti firman-Nya: “Dan terang benderanglah bumi (padang Mahsyar) dengan cahaya (keadilan) Rabbnya. Dan diberikan buku (perhitungan perbuatan masing-masing orang) dan didatangkanlah para Nabi dan saksi-saksi.” (QS. Az-Zumar: 69)

Tetapi yang dimaksud “imam” di sini adalah kitab catatan amal perbuatan. Oleh karena itu Allah berfirman: yauma nad’uu kulla unaasim bi-iimaamiHim faman uutiya kitaabaHuu biyamiiniHii fa ulaa-ika yaqra-uuna kitaabaHum (“Ingatlah suatu hari [yang pada hari itu] Kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya dan barangsiapa yang diberikan kitab amalan di tangan kanannya maka mereka ini akan membaca kitabnya itu.”) Yakni, kebahagiaan dan kegembiraannya, karena di dalam kitab tersebut terdapat amal shalih yang dibacanya dan dia senang sekali dalam membacanya.

Firman-Nya: walaa yudhlamuuna fatiilan (“Dan mereka tidak dianiaya sedikit pun.”) Sebagaimana telah kami kemukakan, bahwa al fatiil berarti (sekecil) ujung benang. Dan firman-Nya: wa man kaana fii HaadziHii a’maa (“Dan barangsiapa yang buta [hatinya] di dunia ini.”) Ibnu `Abbas; Mujahid, Qatadah dan Ibnu Zaid, mengenai firman-Nya ini mereka mengatakan, “Yakni dalam kehidupan dunia ini.”
A’maa (“Buta,”) yakni buta dari hujjah Allah, ayat-ayat dan penjelasan-penjelasan-Nya. Fa Huwa fil aakhirati a’maa (“Niscaya di akhirat [nanti] ia akan lebih buta pula.”) Maksudnya, demikianlah ia menjadi: wa adlallu sabiilan (“Lebih tersesat dari jalan [yang sesat].”) Maksudnya, lebih sesat dari hanya buta, sebagaimana dulu di dunia. Semoga Allah melindungi kita dari hal itu.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 68-71

17 Feb

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 68-71
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 68-7168. mereka menjawab: ” mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk Kami, agar Dia menerangkan kepada kami; sapi betina Apakah itu.” Musa menjawab: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu; Maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu”.
69. mereka berkata: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk Kami agar Dia menerangkan kepada Kami apa warnanya”. Musa menjawab: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya.”
70. mereka berkata: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk Kami agar Dia menerangkan kepada Kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena Sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi Kami dan Sesungguhnya Kami insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk memperoleh sapi itu).”
71. Musa berkata: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya.” mereka berkata: “Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya”. kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu.” (al-Baqarah: 68-71)
Mereka menjawab: “Mobonkanlab kepada Rabb-mu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami, sapi betina apakab itu?”Musa menjawab: “Sesunggubnya Allah berfirman babwa sapi betina itu adalah sapi yang tidak tua dan tidak muda; pertengaban antara itu; maka kerjakanlab apa yang diperintahkan kepadamu. ” (QS. 2:68) Mereka berkata: “Mohonkanlah kepada Rabb-mu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanya. ”
Musa menjawab: “Sesungguhnya Allah berfirman babwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenang-kan orang-orang yang memandangnya. ” (QS. 2:69) Mereka berkata: “Mobonkanlab kepada Rabb-mu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana bakikat sapi betina itu, karena sesunggubnya sapi itu (masib)
samar bagi kami dan sesunggubnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk. ” (QS. 2:70) Musa berkata: “Sesunggubnya Allah berfirman babwa sapi betina itu adalab sapi betina yang belum pernab dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya. ” Mereka berkata: “Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya. ” Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu. (QS. 2:71)

Allah memberitahukan tentang sikap keras kepala Bani Israil dan banyaknya pertanyaan yang mereka ajukan kepada rasul mereka. Oleh karena itu, ketika mereka mempersulit diri sendiri, maka Allah pun mempersulit mereka. Seandainya mereka menyembelih sapi bagaimanapun wujudnya, maka sudah cukup baginya, sebagaimana yang dikatakan Ibnu Abbas, Ubaidah, dan ulama lainnya. Namun mereka mempersulit diri sendiri sehingga Allah pun mempersulit mereka, di mana mereka berkata, “Mohonlah kepada Rabb-mu untuk kami agarDia menjelaskan kepada kami, sapi betina apakah itu?” Artinya, sapi yang bagaimana kriterianya.

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Abbas, seandainya mereka menyembelih sapi yang paling buruk sekalipun, maka cukuplah bagi mereka, tetapi ternyata mereka mempersulit diri, sehingga Allah pun mempersulit mereka. Riwayat ini berisnad shahih. Juga diriwayatkan oleh perawi lainnya dari Ibnu Abbas.

Hal senada juga dikemukakkan oleh Ubaidah, as-Suddi, Mujahid, Ikrimah, Abu al-Aliyah, dan ulama lainnya. “Musa menjawab, Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu ialah sapi yang tidak tua dan tidak muda. “Artinya, sapi itu tidak tua dan tidak juga muda yang belum dikawini oleh sapi jantan, sebagaimana dikatakan oleh Abu al-Aliyah, as-Suddi, juga Ibnu Abbas.

Mengenai firman-Nya; ‘awaanum baina dzaalika; adh-Dhahhak dari Ibnu ‘Abbas mengatakan, yaitu pertengahan antara tua dan muda, dan itulah hewan dan sapi yang paling bagus.

Sedangkan as-Suddi mengatakan; al-‘awaanu berarti an-nashfu (pertengahan) yaitu antara sapi yang sudah melahirkan dan cucu yang dilahirkan anaknya.

Mujahid dan Wahab bin Munabbih mengatakan, sapi tersebut berwarna kuning. Oleh karena itu Musa mempertegas warna kuning sapi itu dengan menyebutkan sebagai kuning tua.

Mengenai firman-Nya tersebut, Sa’id bin Jubair mengatakan, warnanya benar-benar murni lagi jernih. Hal senada juga diriwayatkan dari Abu al-Aliyah, Rabi’ bin Anas, as-Suddi, Hasan al-Bashri, dan Qatadah.

Dalam tafsirnya, al-Aufi, dari Ibnu Abbas, mengenai firman Allah: faaqi’ul launuHaa; mengatakan, karena sangat kuningnya, maka warnanya nyaris putih.

Mengenai firman-Nya, tasurrun naadhiriin (“yang menyenangkan yang melihatnya,”) as-Suddi mengatakan, yaitu menakjubkan bagi orang yang menyaksikannya. Demikian itu pula kata Abu al-Aliyah, Qatadah dan Rabi’ bin Anas.

Sedangkan Wahab bin Munabbih mengatakan, jika engkau melihat kulitnya, maka terbayang dalam benakmu bahwa sinar matahari terpancar dari kulitnya.

Firman-Nya, innal baqara tasyaabaHa ‘alainaa (“Sesungguhnya sapi itu masih samar bagi kami,”) Maksudnya, karena jumlahnya yang sangat banyak sehingga menjadikannya samar. Oleh karena itu, sebutkan keistimewaan sapi itu dan juga sifat-sifat yang dimilikinya kepada kami. Wa innaa insya Allah, (“jika engkau menjelaskannya kepada kami, kami akan beroleh petunjuk”) kepadanya. Musa berkata, “Allah berfirman bahwa sapi betina itu ialah sapi yang belum pernah dipakai mengolah tanah, tidak untuk mengairi tanaman. “Artinya, sapi betina itu tidak dihinakan dengan menggunakannya untuk bercocok tanam dan tidak juga untuk menyirami tanaman, tetapi sapi itu sangat dihormati, elok, mulus, sehat dan tidak ada cacat padanya.

Laa syiyata fiiHaa; berarti tidak ada warna lain selain yang dimilikinya. Menurut Atha’ al-Khurasani, berarti warna sapi itu hanya satu yaitu polos. Qaalul aana ji’ta bilhaqqi (“Mereka berkata, ‘Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya.”) Qatadah mengatakan, sekarang engkau telah berikan penjelasan kepada kami. Abdur Rahman bin Zaid bin Aslam mengatakan: “Hal itu dikatakan: `Demi Allah, telah datang kepada mereka kebenaran.”‘

FadzabahuuHaa wa maa kaaduu yaf’aluun (“Kemudian mereka menyembelihnya dan mereka nyaris tidak mengerjakannya.”) Dari Ibnu Abbas, adh-Dhahhak mengatakan: “Mereka nyaris tidak melakukannya. Penyembelihan itu bukanlah suatu yang mereka kehendaki, karena yang mereka inginkan justru tidak menyembelihnya.”

Maksudnya, meskipun sudah ada semua penjelasan, juga berbagai Tanya jawab, serta keterangan tersebut, namun mereka tidak menyembelihnya kecuali setelah bersusah payah mencarinya. Semua itu mengandung celaan terhadap mereka, karena tujuan mereka melakukan hal itu tidak lain untuk menunjukkan kesombongan. Oleh karena itu mereka nyaris tidak menyembelihnya.

Permasalahan:

Ayat yang menyebutkan sifat-sifat sapi betina itu sehingga benar-benar jelas dan tertentu, setelah disebutkan secara global, dapat dijadikan dalil yang menunjukkan sahnya jual-beli as-salam pada binatang sebagaimana hal itu menjadi madzhab Imam Malik, al-Auza’i, al-Laits, Imam Syaf’i, Imam Ahmad, dan jumhur ulama, baik ulama salaf (yang terdahulu) maupun khalaf (yang datang kemudian). As-Salam, adalah jenis transaksi dimana pembayaran dilakukan secara kontan sementara barangnya diterima kemudian, namun spesifikasinya sudah jelas dan ditentukan, juga waktu penerimaannya datang kemudian).

Hal itu didasarkan pada hadits yang diriwayatkan dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Muslim. Dari Nabi, beliau bersabda: “Seorang perempuan tidak boleh menjelaskan sifat perempuan lain kepada suaminya hingga seolah-olah suaminya melihatnya. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Sebagaimana Nabi menyifati unta diyat (tebusan) dalam kasus pembunuhan karena kesalahan, atau hampir masuk dalam kategori sengaja, dengan sifat-sifat yang disebutkan oleh hadits. Abu Hanifah, ats-Tsauri, dan para ulama Kufah berpendapat, tidak sah jual beli as-salam pada binatang, sebab tidak tertentu kondisinya. Keterangan yang sama juga diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, Hudzaifah bin al-Yaman, Abdur Rahman bin Samurah, dan lain-lainnya.

&

71. Surah Nuh

2 Des

Pembahasan Tentang Surat-Surat Al-Qur’an (Klik di sini)
Tafsir Ibnu Katsir (Klik di sini)

Surat ini terdiri atas 28 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyah, diturunkan sesudah surat An Nahl. Dinamakan dengan surat Nuh karena surat ini seluruhnya menjelaskan da´wah dan doa Nabi Nuh a.s.

Pokok-pokok isinya :

Ajakan Nabi Nuh AS kepada kaumnya untuk beriman kepada Allah SWT serta bertobat kepada-Nya; perintah memperhatikan kejadian alam semesta dan kejadian manusia yang merupakan manifestasi kebesaran Allah; siksaan Allah di dunia dan akhirat bagi kaum Nuh yang tetap kafir; doa Nabi Nuh AS.
Surat Nuh menjelaskan da´wah Nuh a.s. kepada kaumnya dan tantangan mereka, kemudian azab yang ditimpakan kepada mereka.

HUBUNGAN SURAT NUH DENGAN SURAT AL JIN

1. Kedua surat ini mempunyai persamaan a.l :
a. Menggambarkan da´wah Nabi dan sikap lawan-lawannya.
b. Menerangkan azab yang akan ditimpakan atas mereka yang durhaka.
2. Dalam surat Nuh, Allah memerintahkan supaya meminta ampun kepada-Nya, niscaya Dia melimpahkan harta dan anak, sedang dalam Al Jin dijelaskan bahwa mereka yang hidup di atas jalan yang benar, akan mendapat rezeki yang besar dari Allah.