Tag Archives: 75

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yunus ayat 75-78

8 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Yunus
Surah Makkiyyah; surah ke 10: 109 ayat

tulisan arab alquran surat yunus ayat 75-76“Kemudian sesudah para Rasul itu, kami utus Musa dan Harun kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya, dengan (membawa) tanda-tanda (mukjizat-mukjizat) Kami, maka mereka menyombongkan diri dan mereka adalah orang-orang yang berdosa. (QS. 10:75) Dan tatkala telah datang kepada mereka kebenaran dari sisi Kami, mereka berkata: ‘Sesungguhnya ini adalah sihir yang nyata.’ (QS. 10:76) Musa berkata: ‘Apakah kamu mengatakan terhadap kebenaran waktu ia datang kepadamu, sihirkah ini?’ Padahal ahli-ahli sihir itu tidaklah mendapat kemenangan. (QS. 10:77) Mereka berkata: ‘Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya dan supaya kamu berdua mempunyai kekuasaan di muka bumi, kami tidak akan mempercayai kamu berdua.’ (QS. 10:78)” (Yunus: 75-78)

Allah berfirman: tsumma ba’atsnaa (“Kemudian Kami utus.”) Setelah para Rasul itu. Muusaa wa Haaruuna ilaa fir’auna wa mala-iHi (“Musa dan Harun kepada Fir’aun dan pemuka-pemukanya.”) maksudnya: kaumnya. Bi aayaatinaa (“Dengan ayat-ayat Kami.”) Maksudnya, dalil-dalil dan mukjizat-mukjizat Kami. Fastakbaruu wa kaanuu qaumam mujrimiin (“Maka mereka menyombongkan diri dan mereka adalah orang-orang yang berdosa.”) Maksudnya, mereka menyombongkan diri dari mengikuti kebenaran dan tunduk kepadanya, mereka adalah kaum yang berdosa.

Falammaa jaa-a Humul haqqu min ‘indinaa qaaluu inna Haadzaa lasihrum mubiin (“Dan tatkala telah datang kepada mereka kebenaran dari sisi Kami, mereka berkata: ‘Sesungguhnya ini adalah sihir yang nyata.’”) Seakan-akan mereka [-mudah-mudahan Allah membuat mereka jelek-] bersumpah atas itu, sedangkan mereka mengetahui bahwa sesungguhnya apa yang mereka ucapkan adalah kebohongan dan kedustaan. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Dan mereka mengingkarinya karena kedhaliman dan kesombongari [mereka], padahal hati mereka menyakini [kebenarannya]….” (QS. An-Naml: 14)

Qaala (“Berkata,”) kepada mereka. Muusaa (“Musa”) seraya mengingkari mereka. Ataquuluuna lil haqqi lammaa jaa-akum asihrun Haadzaa wa laa yuflihus saahiruuna qaaluu aji’tanaa litalfitanaa (“Apakah kamu mengatakan terhadap kebenaran waktu ia datang kepadamu, sihirkah ini? Padahal ahli sihir itu tidaklah mendapat kemenangan. Mereka berkata: ‘Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami?’”) Maksudnya, menjauhkan kami.

‘ammaa wajadnaa ‘alaiHi aabaa-anaa (“Dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya.”) Maksudnya, agama yang mereka peluk. Wa takuuna lakumaa (“Dan supaya kamu berdua.”) Maksudnya, agar kamu dan Harun mempunyai; alkibriyaa-u (“Kekuasaan.”) Maksudnya, kebesaran dan kepemimpinan. Fil ardli wamaa nahnu lakumaa bimu’miniin (“’Di muka bumi, kami tidak akan mempercayai kamu berdua.’”)

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Anfaal Ayat 74-75

2 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anfaal
(Harta Rampasan Perang)
Surah Madaniyyah; surah ke 8: 75 ayat

tulisan arab alquran surat al anfaal ayat 74-75“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan(kepada orang-orang Muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rizki (nikmat) yang mulia. (QS. 8:74) Dan orang-orang yang beriman sesudah itu, kemudian berhijrah dan berjihad bersamamu, maka orang-orang itu termasuk golonganmu (juga). Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam Kitab Allah. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui segala sesuatu. (QS. 8:75)” (al-Anfaal: 74-75)

Setelah menyebutkan hukum orang-orang yang beriman di dunia, Allah melanjutkan dengan menyebutkan apa yang akan mereka dapatkan akhirat kelak. Allah memberitahukan perihal diri mereka melalui hakikat keimanan, sebagaimana yang telah diuraikan dalam pembahasan ayat di awal surat ini, bahwa Allah akan memberikan balasan kepada mereka berupa ampunan dan maaf atas berbagai macam dosa, jika ada. Dan Allah memberi rizki yang mulia, yaitu berupa kebaikan yang banyak lagi baik, abadi untuk selarna-larnanya, yang tiada pernah putus-putusnya dan tidak pula berakhir, tidak membosankan dan tidak menjenuhkan, karena kebaikan dan keanekaragaman rizki tersebut.

Selanjutnya, Allah menyebutkan bahwa orang-orang yang mengikuti mereka di dunia disertai dengan keimanan dan amal shalih di akhirat kelak orang-orang tersebut akan berkumpul bersama mereka. Sebagaimana yang difirmankan-Nya yang artinya:
“Oran yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai dalamnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan Yang besar.” (QS. At-Taubah: 100)

Dan Allah juga berfirman: “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar).” (QS. Al-Hasyr: 10)

Dalam hadits yang berderajat muttafaq ‘alaih, bahkan mutawatir, melalui berbagai jalan yang shahih, dari Rasulullah saw, beliau bersabda: “Seseorang itu selalu bersama orang yang dicintainya.” (Muttafaq ‘alaih)

Sedangkan firman Allah: wa ulul arhaami ba’dluHum aulaa biba’dlin fii kitaabillaaHi (“Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terbadap sesamanya [daripada yang bukan kerabatnya] di dalam Kitab Allah.”) Yaitu, dalam hukum Allah Ta’ala. Dan yang dimaksud dengan firman-Nya: wa ulul arhaami (“Dan orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat.”) Hal ini bersifat khusus seperti yang dikemukakan oleh para ulama ahli ilmu faraidh, yaitu kerabat yang tidak mempunyai hak waris dan juga ashabah, tetapi dekat dengan si pewaris, misalnya bibi dan paman dari pihak ibu, bibi dari pihak ayah, anak laki-laki dari anak perempuan (cucu), anak laki-laki dari saudara perempuan (keponakan) dan lain-lainnya semisal itu. Sebagaimana Yang diakui oleh sebagian mereka dengan menggunakan dalil ayat al-Qur’an, bahkan mereka meyakini hal itu dengan jelas. Tetapi yang benar adalah bahwa ayat tersebut bersifat umum, yang mencakup seluruh kerabat seperti yang ditegaskan oleh Ibnu `Abbas, Mujahid, `Ikrimah, al-Hasan al-Bashri, Qatadah dan lama lainnya, bahwa ayat tersebut menasakh ayat waris melalui sumpah dan persaudaraan yang karena keduanya mereka saling mewarisi dahulunya.

Berdasarkan hal itu pula, maka ayat itu mencakup dzawil arham (hubungan rahim) secara khusus. Sedangkan orang yang berpendapat untuk tidak memberikan waris, berhujjah dengan dalil-dalil yang paling kuat, di antaranya adalah hadits Rasulullah berikut ini:
“Sesungguhnya Allah telah memberikan hak kepada setiap yang berhak, hingga tidak ada wasiat bagi ahli waris.”

Mereka mengatakan: “Jika seseorang memiliki hak, berarti ia memiliki bagian tertentu yang disebutkan di dalam Kitab Allah. Selama bagian tersebut tidak disebutkan, berarti ia bukan ahli waris. Wallahu a’lam.”

Demikianlah akhir dari penafsiran surat al-Anfaal. Segala puji karunia hanya milik Allah. Kepada-Nyalah bertawakkal. Cukuplah Allah menjadi pelindung kita, karena Allah adalah sebaik-baik pelindung.

Selesai
&

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nahl ayat 75

18 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nahl (Lebah)
Surah Makkiyyah; surah ke 16: 128 ayat

tulisan arab alquran surat an nahl ayat 75“Allah membuat perumpamaan dengan seorang hamba sahaya yang dimiliki yang tidak dapat bertindak terhadap sesuatu pun dan seorang yang Kami beri rizki yang baik dari Kami, lalu dia menafkahkan sebagian dari rizki itu secara sembunyi dan secara terang-terangan. Adakah mereka itu sama? Segala puji hanya bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. an-Nahl: 75)

Al-`Aufi berkata dari Ibnu `Abbas, ini adalah perumpamaan orang kafir dan orang mukmin yang diberikan oleh Allah Ta’ala. Demikian pula yang dikemukakan oleh Qatadah dan menjadi pilihan Ibnu Jarir. Dengan demikian, hamba sahaya yang dimiliki yang tidak dapat bertindak terhadap sesuatu pun merupakan perumpamaan orang kafir, sedangkan orang yang diberi rizki yang baik yang dapat menafkahkan rizki itu secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan merupakan perumpamaan orang mukmin.

Ketika perbedaan antara keduanya tampak jelas dan nyata, Allah Ta’ala berfirman: alhamdulillaaHi bal aktsaruHum laa ya’lamuun (“Segala puji bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.”)

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Israa’ Ayat 73-75

14 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Israa’
(Memperjalankan di Malam Hari)
Surah Makkiyyah; surah ke 17: 111 ayat

tulisan arab alquran surat al israa ayat 73-75“Dan sesungguhnya mereka hampir mamalingkanmu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami; dan kalau sudah begitu tentulah mereka mengambilmu jadi sahabat yang setia. (QS. 17:73) Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka. (QS. 17:74) Kalau terjadi demikian, benar-benarlab, Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun terhadap Kami. (QS. 17:75)” (al-Israa’: 73-75)

Allah memberitahukan tentang dukungan, peneguhan, penjagaan, dan perlindungan-Nya terhadap Rasul-Nya dari kejahatan dan tipu daya orang-orang jahat. Selain itu, Allah Ta’ala adalah Rabb yang mengendalikan urusan Nabi-Nya dan menolongnya. Dia tidak menyerahkan urusannya kepada seorang pun dari makhluk-Nya, melainkan justru Dia adalah pelindungnya, pemeliharanya, penolongnya, pendukungnya, dan yang meninggikan serta memenangkan agama-Nya atas orang-orang yang memusuhi dan menentang agama-Nya di belahan bumi, Timur maupun Barat. Semoga Allah memberikan shalawat dan salam yang melimpah kepada Rasulullah sampai hari Kiamat.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 75-77

19 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 75-77“75. Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, Padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui? (al-Baqarah: 75)
76. dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata:” Kamipun telah beriman,” tetapi apabila mereka berada sesama mereka saja, lalu mereka berkata: “Apakah kamu menceritakan kepada mereka (orang-orang mukmin) apa yang telah diterangkan Allah kepadamu, supaya dengan demikian mereka dapat mengalahkan hujjahmu di hadapan Tuhanmu; tidakkah kamu mengerti?” (al-Baqarah: 76)
77. tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka nyatakan?” (al-Baqarah: 77)

Allah berfirman, afatathma’uuna ay-yu’minu lakum (“Apakah kalian masih mengharapkan mereka percaya kepada kalian?”) Artinya, akan mengikuti kalian dengan penuh ketaatan. Mereka adalah golongan sesat sebagaimana nenek moyang mereka yang telah menyaksikan sendiri tanda-tanda kekuasaan Allah dan bukti-bukti yang jelas. Tetapi kemudian hati mereka mengeras.

Wa qad kaana fariiqum minHum yasma’uuna kalaamallaaHi tsumma yuharrifuunaHu (“Padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, kemudian mereka mengubahnya.”) Artinya, mereka menakwilkannya dengan penafsiran yang tidak semestinya.

Mim ba’di maa ‘aqaluu (“Setelah mereka memahaminya.”) Yaitu memahami secara gamblang. Namun demikian mereka masih mengingkarinya, meskipun mereka mengetahuinya.

Wa Hum ya’lamuun (“Sedang mereka mengetahui.”) Artinya, mereka melakukan kesalahan dengan mengubah dan menakwil firman-firman Allah. Konteks firman Allah di atas, mirip dengan firman-Nya yang lain:
“Karena mereka melanggarjanjinya, Kami laknat mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka mengubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya.” (QS. Al-Maa-idah: 13).

Mengenai firman Allah “Sesungguhnya segolongan dari mereka mendengarfirman Allah, kemudian mereka mengubahnya. ” As-Suddi mengatakan: “Yang mereka ubah itu adalah kitab Taurat.”

Mengenai firman-Nya, Wa qad kaana fariiqum minHum yasma’uuna kalaamallaaHi tsumma yuharrifuunaHu (“Padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, kemudian mereka mengubahnya.”) as-Suddi mengatakan: “Yang mereka rubah itu adalah Kitab Taurat.”

Mengenai firman-Nya: tsumma yuharrifuunaHu Mim ba’di maa ‘aqaluu wa Hum ya’lamuun (“Kemudian mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahuinya.”)
Qatadah mengatakan: “Mereka itu adalah orang-orang Yahudi. Mereka mendengar firman Allah, lalu mengubahnya setelah mereka memahami dan menyadarinya.” Sedang Mujahid mengatakan, “Yang mengubah dan menyembunyikan firman Allah itu adalah para ulama dari kalangan Yahudi.” Dan Abu al-Aliyah mengemukakan, “Mereka memahami apa yang diturunkan Allah dalam kitab mereka itu, menyangkut sifat Muhammad lalu mereka pun mengubahnya dari yang sebenarnya.”

Firman Allah: wa idzaa laqulladziina aamanuu qaaluu aamannaa wa idzaa khalaa ba’dluHum ilaa ba’dlin (“Dan apabila mereka bertemu dengan orang orang yang beriman, mereka berkata, Kami telah beriman. Dan apabila mereka berada sesama mereka saja.”)

Muhammad bin Ishak dari Ibnu Abbas mengatakan Mengenai firman-Nya: wa idzaa laqulladziina aamanuu qaaluu aamannaa (“Dan apabila mereka bertemu dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata: ‘Kami telah beriman.”‘) Ini artinya bahwa sahabat kalian itu adalah Rasulullah, namun ia khusus (diutus) kepada kalian saja.” Dan apabila mereka berada sesama mereka saja, maka mereka (orang Yahudi) berkata, “Jangan kalian beritahukan hal ini kepada masyarakat Arab. Karena sebelumnya kalian menyatakan akan menaklukkan mereka dengan dukungan Rasul ini, tetapi ternyata dia itu berasal dari mereka.”

Maka Allah pun menurunkan ayat-Nya: “Dan apabila mereka bertemu dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata. Kami telah beriman:’ Dan apabila mereka berada sesama mereka saja, maka mereka berkata: Apakah kamu menceritakan kepada mereka (orang-orang mukmin) apa yang diterangkan Allah kepada kamu, agar dengan demikian mereka dapat mengalahkan hujjah kalian di hadapan Rabb-mu, tidakkah kamu mengerti?”‘

Artinya, kalian mengakuinya sebagai nabi, padahal kalian mengetahui bahwa Allah telah mengambil janji dari kalian untuk mengikutinya, sedang ia memberitahukan kepada khalayak bahwa dirinya merupakan nabi yang kita tunggu-tunggu dan kita dapatkan dalam kitab kita. Ingkarilah ia dan janganlah kalian mengakuinya.

Selanjutnya, Allah membantah mereka dengan firman-Nya: awalaa ya’lamuuna annalaaHa ya’lamu maa yusirruuna wa maa yu’linuun (“Tidakkah mereka mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui yang mereka rahasiakan dan yang mereka nyatakan?”) Mengenai hal ini, adh-Dhahhak dari Ibnu Abbas mengatakan: “Yaitu orang-orang munafik dari kalangan kaum Yahudi.”

As-Suddi mengatakan: atuhaddatsuunaHum bimaa fatahallaaHu ‘alaikum (“Apakah kamu akan menceritakan kepada (orang-orang mukmin) apa yang diterangkan Allah kepadamu,”) yaitu tentang adzab,” `Agar dengan demikian mereka dapat mengalahkan hujjahmu di hadapan Rabbmu. “Mereka ini adalah orang-orang dari kaum Yahudi yang beriman, lalu mereka berubah menjadi munafik dan mereka ini menceritakan kepada orang-orang mukmin dari masyarakat Arab mengenai adzab yang ditimpakan kepada mereka. Lalu sebagian mereka bertanya kepada sebagian lainnya, atuhaddatsuunaHum bimaa fatahallaaHu ‘alaikum (“Apakah kamu menceritakan kepada mereka (orang-orang mukmin) apa yang diterangkan Allah kepadamu.”) Yaitu berupa adzab, hingga mereka mengatakan: “Kami lebih dicintai Allah dari pada kalian dan lebih terhormat di nisi Allah daripada kalian.”

Firman-Nya: awalaa ya’lamuuna annalaaHa ya’lamu maa yusirruuna wa maa yu’linuun (“Tidakkah mereka mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui yang mereka rahasiakan dan yang mereka nyatakan?”) Menurut Abu al-Aliyah: “Maksudnya apa yang mereka rahasiakan, berupa pengingkaran dan pendustaan terhadap kenabian , padahal mereka menemukan nama beliau tertulis di dalam kitab mereka.

Demikian pula dinyatakan oleh Qatadah mengenai firman Allah, annalaaHa ya’lamu maa yusirruuna wa maa yu’linuun (“Sesungguhnya Allah mengetahui yang mereka rahasiakan”.) Hasan al-Bashri mengatakan: “Apa yang mereka rahasiakan yaitu bahwa jika mereka berpaling dari para sahabat Rasulullah dan kembali bertemu dengan teman-teman mereka, maka mereka saling melarang satu dengan yang lainnya agar tidak memberitahukan kepada para sahabat Muhammad mengenai apa yang diterangkan Allah swt. dalam kitab mereka, karena mereka khawatir akan dikalahkan oleh hujjah yang dikemukakan oleh para sahabat Rasulullah di hadapan Rabb mereka. Dan demikian itulah yang mereka sembunyikan.”

Wa maa yu’linuun (“Dan yang mereka nyatakan?”) Yakni ketika mereka mengatakan kepada para sahabat Muhammad , “Kami beriman. “Hal senada juga dikemukakan oleh Abu al-Aliyah, Rabi’ bin Anas, dan Qatadah.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 75-76

2 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan)
Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat

tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 75-76“Di antara Ahli Kitab ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu; dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu dinar, tidak dikembalikannya kepadamu, kecuali jika kamu selalu menagihnya. Yang demikian itu lantaran mereka mengatakan: ‘Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi.’ Mereka berkata dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahui. (QS. 3:75) (Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.” (QS. 3:76)

Allah memberitahukan bahwa di antara orang-orang Yahudi itu terdapat orang yang suka berkhianat. Selain itu, Dia juga memperingatkan orang-orang yang beriman agar tidak terperdaya oleh mereka. Karena sesungguhnya di antara mereka terdapat: man in ta’manHu biqinthar (“Orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak,”) yu-addiHi ilaika (“Maka ia akan mengembalikannya kepadamu.”) Maksudnya, jika ia diamanati sesuatu harta kekayaan lebih sedikit dan itu, maka tentu saja akan lebih menunaikannya.

Wa man in ta’manHu bidiinaaril laa yu-addiHi ilaika illaa maa dumta ‘alaiHi qaa-iman (“Dan di antara mereka ada juga orang yang jika kami mempercayakan kepadanya satu dinar, tidak dikembalikan kepadamu, kecuali jika kamu selalu menagihnya,”) yaitu dengan meminta dan terus menerus menagih untuk mendapatkan hakmu. Jika terhadap satu dinar saja demikian adanya, maka terhadap sesuatu yang nilainya lebih dari satu dinar, maka tentu saja ia tidak akan mengembalikannya kepadamu.

Mengenai kata qinthar, telah diberikan penjelasan di awal surat. Sedangkan dinar, sudah cukup dikenal.

Ibnu Abi Hatim mengatakan, dari Ziyad bin al-Haitsam telah menceritakan kepadaku Malik bin Dinar, ia berkata: “Disebut dinar karena ia adalah dien (perhitungan) dan naar (Neraka). Ada yang mengatakan, maknanya adalah siapa yang mengambil karena haknya, maka itulah dien (balasan)nya. Sedang siapa yang mengambil bukan karena hak, maka baginya naar (Neraka).

Firman-Nya, dzaalika bi annaHum qaaluu laisa ‘alainaa fil ummiyyiina sabiil (“Yang demikian itu lantaran mereka mengatakan, ‘Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi.’”) Maksudnya ialah, bahwa yang menjadikan (mendorong) mereka mengingkari kebenaran dan juga menolak kebenaran itu adalah pernyataan mereka, “Dalam ajaran agama kami, tidak ada dosa bagi kami memakan harta orang-orang ummi, yaitu bangsa Arab, karena Allah telah menghalalkannya bagi kami.”

Allah pun berfirman: wa yaquuluuna ‘alallaaHil kadziba wa Hum ya’lamuun (“Mereka berkata dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahui.”) Maksudnya, mereka telah mengada-ada ucapan ini dan membuat suatu kedustaan dengan kesesatan tersebut. Karena Allah telah mengharamkan kepada mereka memakan harta orang lain kecuali dengan cara yang benar. Namun mereka adalah kaum yang suka berdusta.

Setelah itu Allah berfirman: balaa man aufaa bi-‘ahdiHii wa atqaa (“[Bukan demikian], sebenarnya siapa yang menepati janji [yang dibuat]nya dan bertakwa.”) Artinya, tetapi siapa di antara kalian, wahai Ahlul Kitab, yang menepati janji dan bertakwa kepada Allah, -yaitu janji yang telah diambil oleh Allah dari kalian berupa iman kepada Muhammad jika beliau telah diutus, sebagaimana Allah telah mengambil janji atas para Nabi serta umatnya untuk itu- dan bertakwa yaitu menjaga diri dari semua yang diharamkan-Nya, dan mengikuti ketaatan serta syari’at Nya yang telah dibawa oleh penutup dan pemimpin para Rasul, fa innallaaHa yuhibbul muttaqiin (“Maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.”)

&

75. Surah Al-Qiyaamah

2 Des

Pembahasan Tentang Surat-Surat Al-Qur’an (Klik di sini)
Tafsir Ibnu Katsir (Klik di sini)

Surat Al Qiyaamah terdiri atas 40 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyah, diturunkan sesudah surat Al Qaari’ah. Dinamai Al Qiyaamah (hari kiamat) diambil dari perkataan Al Qiyaamah yang terdapat pada ayat pertama surat ini.

Pokok-pokok isinya:
Kepastian terjadinya hari kiamat dan huru-hara yang terjadi padanya; jaminan Allah terhadap ayat-ayat Al Quran dalam dada Nabi sehingga Nabi tidak lupa tentang urutan arti dan pembacaannya; celaan Allah kepada orang-orang musyrik yang lebih mencintai dunia dan meninggalkan akhirat; keadaan manusia di waktu sakaratul maut.
Surat Al Qiyaamah menerangkan tentang hari kiamat, disertai bukti-buktinya dan keadaan pada hari kiamat tersebut.

HUBUNGAN SURAT AL QIYAAMAH DENGAN SURAT AL INSAAN

1. Surat Al Qiyaamah diakhiri dengan peringatan kepada manusia akan asal kejadiannya, sedang surat Al Insaan dimulai pula dengan peringatan tersebut serta memberinya petunjuk akan jalan yang membawa manusia kepada kesempurnaan.
2. Kedua surat ini sama-sama mencela orang-orang yang lebih mencintai dunia dan meninggalkan akhirat.
3. Surat Al Qiyaamah menerangkan huru-hara pada hari kiamat dan azab yang dialami orang-orang kafir di waktu itu, sedang surat Al insaan menerangkan keadaan yang dialami orang-orang yang bertakwa dan berbakti, di akhirat dan di dalam surga nanti.