Tag Archives: 77

Tafsir Ibnu Katsir Surah Huud ayat 77-79

30 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Huud
Surah Makkiyyah; surah ke 11: 123 ayat

tulisan arab alquran surat huud ayat 77-79“Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para Malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata: ‘Ini adalah hari yang amat sulit.’(QS. 11:77) Dan datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji. Luth berkata: ‘Hai kaumku, inilah puteri puteri (negeri)ku, mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal?’ (QS. 11:78) Mereka menjawab: ‘Sesungguhnya kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan terhadap puteri-puterimu; dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki.’ (QS. 11:79)” (Huud: 77-79)

Allah menceritakan dalam ayat ini tentang kedatangan utusan-utusan-Nya dari Malaikat kepada Nabi Luth as. setelah para Malaikat itu memberitahukan kepada Ibrahim as. tentang akan terjadinya penghancuran kaum Nabi Luth’ pada malam hari itu. Mereka bertolak dari tempat Ibrahim as. untuk datang berkunjung kepada Nabi Luth as. Sedangkan dia, menurut suatu pendapat berada di kebunnya dan pendapat lain dia berada di rumahnya, mereka datang kepadanya dengan penampilan rupa yang sangat indah, dalam bentuk pemuda yang sangat tampan, sebagai ujian dari Allah dan Allah mempunyai hikmah dan dalil yang nyata, maka keadaan mereka membuat Luth as. resah dan khawatir jika dia tidak menerima mereka sebagai tamu (menjamu), mereka akan diterima oleh salah seorang dari kaumnya, lalu mereka mendapat perlakuan buruk.

Wa qaala Haadzaa yaumun ‘ashiib (“Dan dia berkata: ‘Ini adalah hari yang amat sulit.’”) Ibnu `Abbas dan lainnya berkata: “Cobaannya sangat berat, yaitu diketahui bahwa Luth ingin melindungi mereka dan untuk melakukan hal itu, terasa sulit baginya.”

Firman-Nya: yuHra’uuna ilaiHi (“Dengan bergegas,”) maksudnya, mereka cepat-cepat dan bergegas karena sangat gembiranya dengan hal itu.
Dan firman-Nya: wa min qablu kaanuu ya’maluunas sayyi-aati ( “Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan perbuatan yang keji.”) Maksudnya, seperti inilah sifat mereka, sehingga mereka disiksa dalam keadaan seperti itu.

Firman-Nya: qaala yaa qaumi Haa-ulaa-i banaatii Hunna ath-Haru lakum (“Luth berkata: ‘Hai kaumku, inilah puteri puteri [negeri]ku mereka Iebih suci bagimu.’”) Dia mengarahkan mereka kepada perempuan-perempuan mereka, karena seorang Nabi terhadap umatnya adalah bagaikan ayah, maka dia mengarahkan mereka kepada hal yang lebih berguna untuk mereka di dunia dan akhirat.

Dan firman-Nya: fat taqullaaHa wa laa tukhzuuni fii dlaifii (“Maka bertakwalah kepada Allah, dan janganlah kamu mencemarkan [nama]ku terhadap tamuku ini.”) Maksudnya, terimalah apa yang diperintahkan untuk kalian yaitu hanya merasa puas (membatasi diri) terhadap perempuan kami.

Alaisa minkum rajulur rasyiid (“Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal?”) Maksudnya, di dalamnya ada kebaikan, yaitu bila menerima apa yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarang.

Qaaluu laqad ‘alimta maa lanaa fii banaatika min haqqi (“Mereka menjawab: ‘Sesungguhnya kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan terhadap puteri-puterimu.’”) Maksudnya, sesungguhnya kamu mengetahui bahwa perempuan-perempuan kami tidak menarik dan kami tidak berhasrat kepada mereka.

Wa innaka ta’lamu maa nuriid (“Dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki.”) Maksudnya, kami tidak ada hasrat kecuali kepada laki-laki dan kamu mengetahui hal itu, maka kami tidak perlu lagi untuk mengulangi perkataan tentang hal itu.

As-Suddi berkata: Wa innaka ta’lamu maa nuriid (“Dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki.”) kami hanyalah menginginkan laki-laki.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yusuf ayat 77

27 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Yusuf
Surah Makkiyyah; surah ke 12: 111 ayat

tulisan arab alquran surat yusuf ayat 77“Mereka berkata: ‘Jika ia mencuri, maka sesungguhnya telah pernah mencuri pula saudaranya sebelum ini.’ Maka Yusuf menyembunyikan kejengkelan itu pada dirinya dan tidak menampakannya kepada mereka. Dia berkata (dalam hatinya): ‘Kamu lebih buruk kedudukanmu (sifat-sifatmu), dan Allah Mahamengetahui apa yang kamu terangkan itu.’” (QS. Yusuf: 77)

Setelah saudara-saudara Yusuf melihat alat takaran itu dikeluarkan dari barang-barang Bunyamin, mereka berkata: iy yasriq faqad saraqa akhul laHuu min qablu (“Jika ia mencuri, maka sesungguhnya telah pernah mencuri pula saudaranya sebelum ini.”) Mereka membebaskan diri (beralasan) kepada al-‘Aziz bahwa mereka tidak sama dengan Bunyamin, kalau dia mencuri berarti dia telah berbuat sama dengan apa yang diperbuat oleh saudaranya dahulu, yaitu Yusuf as.

Muhammad bin Ishaq meriwayatkan dari `Abdullah bin Abi Najih, dari Mujahid, ia berkata: “Musibah pertama yang menimpa Yusuf, menurut apa yang sampai padaku, adalah bahwa bibinya binti Ishaq adalah anak sulung Ishaq dan dia memiliki “sabuk” Ishaq. Mereka mewarisinya dengan cara bahwa siapa yang tertua, itulah yang berhak memilikinya. Siapa di antara pewaris yang menguasai “sabuk” itu yang dapat menyembunyikannya, maka ia memiliki tangga yang tidak dapat disaingi oleh orang lain, ia dapat berbuat apa saja yang ia inginkan. Setelah Yusuf lahir, oleh Ya’qub diserahkan kepada sang bibi untuk mengasuhnya.

Dengan demikian ia adalah milik sang bibi dan milik Ya’qub juga, sehingga sang bibi sangat mencintai Yusuf melebihi cintanya kepada (saudara-saudaranya) yang lain. Setelah ia besar dan berusia beberapa tahun, Ya’qub amat rindu kepada anaknya, kemudian ia mendatangi sang bibi dan mengatakan: “Wahai saudariku, serahkanlah Yusuf kepadaku, demi Allah aku tidak tahan berpisah darinya walau sekejap pun.” Dia menjawab: “Demi Allah, aku tidak akan membiarkannya untukmu. Biarkanlah dia beberapa hari di rumahku, supaya aku dapat melihatnya, dapat tenang dan terhibur olehnya”, atau ucapan yang semakna dengan itu.

Setelah Ya’qub keluar dari rumahnya, sang bibi pergi menuju ke tempat “sabuk” Ishaq dan diikatkan kepada Yusuf di bawah pakaiannya. Kemudian dia berkata: “Aku kehilangan sabuk Ishaq as, carilah siapa yang mengambilnya dan siapa yang mendapatkannya!” Dia memohon, lalu berkata kepada segenap keluarga: “Carilah!” Mereka menemukannya pada Yusuf. Sang bibi berkata: “Demi Allah, dia bagiku adalah tangga yang dapat aku gunakan sebagaimana keinginanku.” Kemudian Ya’qub mendatanginya, dan sang bibi menceritakan peristiwa yang terjadi itu. Ya’qub berkata kepadanya: “Kamu berhak kepadanya, kalau ia melakukannya, maka dia adalah tangga bagimu, aku tidak dapat berbuat apa-apa selain itu.” Maka sang bibi pun menahan Yusuf di rumahnya, dan Ya’qub tidak dapat memintanya kembali sampai sang bibi meninggal.

Inilah yang diceritakan oleh saudara-saudara Yusuf ketika ia berbuat kepada saudaranya apa yang diperbuat tatkala ia mengambilnya: iy yasriq faqad saraqa akhul laHuu min qablu (“Jika ia mencuri, maka sesungguhnya telah pernah mencuri pula saudaranya sebelum ini.”)

Sedangkan firman Allah Ta’ala: fa asarraHaa yuusufu fii nafsiHi (“Maka Yusuf menyembunyikan kejengkelan itu pada dirinya”) yang disembunyikan adalah kalimat berikut, yaitu: antum syarrum makaanaw wallaaHu a’lamu bimaa tashifuun (“Kalian lebih buruk kedudukan kalian [sifat-sifat kalian] dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian terangkan [sebutkan] itu.”) maksudnya Yusuf mengatakannya dalam hati, tidak menyatakannya kepada mereka.

Cara seperti ini termasuk bentuk pengungkapan hati sebelum disebut, yang banyak dipakai dan banyak buktinya terdapat dalam al-Qur’an, hadits dan bahasa Arab pada umumnya, baik dalam bentuk prosa, berita, maupun sya’ir.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hijr ayat 73-77

22 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hijr
Surah Makkiyyah; surah ke 15:99 ayat

tulisan arab alquran surat al hijr ayat 73-77“73. Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. 74. Maka Kami jadikan bahagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras. 75. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda. 76. dan Sesungguhnya kota itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia). 77. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.” (al Hijr: 73-77)

Allah Ta’ala berifirman: fa akhadzatHumush shaihatu musyriqiin (“Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit.”) ash-shaihah di sini adalah suara yang sangat keras mengguntur yang terjadi menjelang matahari terbit, bersama dengan negeri mereka yang terangkat tinggi ke udara, kemudian dibalik yang semula di atas menjadi di bawah, sambil dihujani batu dari sijjil [batu dari tanah yang keras] yang berjatuhan di atas kepala mereka. tentang sijjil ini sudah dibicarakan dalam surah Huud atau 82 dengan jelas.

Firman Allah: inna fii dzallika la aayaatil lil mutawassimiin (“Sesungguhnya pada yang demikian benar-benar terdapat tanda-tanda [kekuasaan Kami] bagi orang yang memperhatikan tanda-tanda .”) maksudnya tanda-tanda yang jelas dari kemurkaan Allah terhadap negeri itu bagi orang yang mau merenungkannya, dan melihat tanda-tanda itu dengan mata penglihatannya dan pikiran mereka.

Mujahid mengatakan tentang firman Allah: al mutawassimiin= al mutafarrisiin [berfirasat]. Ibnu ‘Abbas dan adh-Dhahhak mengatakan al-mutawassimiin = an-naadhiriin [orang-orang yang melihat/berfikir], Qatadah mengatakan: almutwassimiin: almu’tabiriin [orang-orang yang mau mengambil ibarah/contoh]. Malik mengatakan, bahwa sebagian ahli Madinah menafsirkannya dengan al muta’ammiliin [orang-orang yang mau berfikir/ merenungkannya].

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan sebuah hadits marfu’, dari Abu Sa’id, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Takutlah kepada firasat orang Mukmin, karena sesunggguhnya dia melihat dengan cahaya Allah.” Kemudian Rasulullah saw. membaca: inna fii dzaalika la aayaatil lil mutawassimiin (“Sesungguhnya pada yang demikian benar-benar terdapat tanda-tanda [kekuasan Kami] bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda.” Hadits ini diriwayatkan olah at-Tirmidzi dan Ibnu Jarir.

Firman Allah: wa innaHaa labisabiilim muqiim (“Dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak di jalan yang masih telah [dilalui manusia].”) maksudnya negeri Sadum [sebelah selatan laut Mati di Palestina] yang tertimpa bencana dengan dibalik secara bentuk dan secara pengertian, dan dihujani dengan batu sehingga berubah menjadi danau yang berbau busuk dan menjijikkan, dengan jalan-jalan yang dikeraskan [aspal], masih ada sampai hari ini. Seperti firman Allah yang artinya: “Dan sesungguhnya kalian [penduduk Makkah] pasti akan melalui bekas-bekas di waktu pagi, dan di waktu malam. Maka apakah kalian tidak memikirkan? Dan sesungguhnya Yunus adalah termasuk dari para Rasul.” (ash-Shaaffaat: 137-139).

Mujahid dan adh-Dhahhak mengatakan: wa innaHaa labi sabiilim muqiim (“Dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap [dilalui manusia].”) muqiim=mu’allam [ditandai], Qatadah berkata: “Jalan yang jelas.”

Firman Allah: inna fii dzaalika la aayaatal lil mu’miniin (“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda [kekuasaan Allah] bagi orang-orang yang beriman”) maksudnya, sesungguhnya apa yang telah Kami perbuat terhadap kaum Luth yang berupa kerusakan, kehancuran dan penyelamatan Luth dan pengikutnya adalah bukti yang jelas atas kekuasaan Allah bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan para Rasul-Nya.

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nahl ayat 77-79

18 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nahl (Lebah)
Surah Makkiyyah; surah ke 16: 128 ayat

tulisan arab alquran surat an nahl ayat 77-79“Dan kepunyaan Allahlah segala apa yang tersembunyi di langit dan di bumi. Tidaklah kejadian Kiamat itu, melainkan seperti sekejap mata atau lebih cepat (lagi). Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS. 16:77) Dan Allah mengeluarkanmu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (QS. 16:78) Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dimudahkan terbang di angkasa bebas. Tidak ada yang menahannya selain daripada Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang beriman. (QS. 16:79)” (an-Nahl: 77-79)

Allah Ta’ala memberitahukan tentang kesempurnaan ilmu dan kekuasaan-Nya atas segala sesuatu, dengan pengetahuan-Nya terhadap segala yang ghaib, baik di langit maupun di bumi. Ilmu ghaib itu hanya khusus ada pada-Nya. Sehingga tidak seorang pun mampu melihat hal-hal ghaib itu kecuali jika Allah Ta’ala memperlihatkan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.

Dia menjelaskan kekuasaan-Nya yang sempurna yang tidak ditentang dan dicegah. Juga bahwasanya jika Dia menghendaki sesuatu, maka Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah,” maka is pun terjadi. Demikian itulah yang Dia firmankan di sini: wamaa amrus saa’ati illaa kalamhil bashari au Huwa aqrabu innallaaHa ‘alaa kulli syai-in qadiir (“Tidaklah kejadian Kiamat itu, melainkan seperti sekejap mata atau lebih cepat [lagi]. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”)

Sebagaimana yang Dia firmankan di ayat yang lain yang artinya: “Allah menciptakan dan membangkitkanmu (dari dalam kubur) itu melainkan hanyalah seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja.” (QS. Luqman: 28)

Kemudian Allah Ta’ala menyebutkan berbagai anugerah yang Dia limpahkan kepada hamba-hamba-Nya ketika mereka dikeluarkan dari perut ibunya dalam keadaan tidak mengetahui apa pun. Setelah itu Dia memberikan pendengaran yang dengannya mereka mengetahui suara, penglihatan yang dengannya mereka dapat melihat berbagai hal, dan hati, yaitu akal yang pusatnya adalah hati, demikian menurut pendapat yang shahih. Ada juga yang mengatakan, otak dan akal.

Allah juga memberinya akal yang dengannya dia dapat membedakan berbagai hati, yang membawa mudharat dan yang membawa manfaat. Semua kekuatan dan indera tersebut diperoleh manusia secara berangsur-angsur, sedikit demi sedikit. Setiap kali tumbuh, bertambahlah daya pendengaran, penglihatan, dan akalnya hingga dewasa. Penganugerahan daya tersebut kepada manusia dimaksudkan agar mereka dapat beribadah kepada Rabbnya yang Mahatinggi.

Dia dapat meminta kepada setiap anggota tubuh dan kekuatan untuk mentaati Rabbnya, sebagaimana yang disebutkan dalam kitab shahih Bukhari, dari Abu Hurairah ra., dari Rasulullah saw, dimana beliau bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: ‘Barangsiapa memusuhi wali-Ku berarti dia telah menyatakan perang dengan terang-terangan kepada-Ku. Dan tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih baik daripada pelaksanaan apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku masih terus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan nafilah (sunnah) sehingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya, maka Aku akan menjadi pendengarannya yang dengannya dia mendengar, penglihatannya yang dengannya dia melihat, tangannya yang dengannya dia memegang, dan kakinya yang dengannya dia berjalan. Jika meminta kepada-Ku maka Aku pasti akan memberinya, dan jika berdo’a kepada-Ku, Aku pasti akan mengabulkannya, Jika memohon perlindungan kepada-Ku, Aku pasti akan melindunginya. Aku tidak pernah ragu terhadap sesuatu yang Aku akan melakukannya. Keraguan-Ku adalah, pada pencabutan nyawa seorang mukmin yang tidak menyukai kematian dan Aku tidak ingin menyakitinya, sedang kematian itu merupakan suatu keharusan baginya.’”

Makna hadits di atas adalah jika seorang hamba telah mengikhlaskan ketaatan, maka seluruh amal perbuatannya hanya untuk Allah, sehingga dia tidak mendengar kecuali karena Allah dan tidak melihat apa yang telah disyari’atkan Allah kepadanya melainkan hanya karena Allah semata, tidak memegang dan tidak pula berjalan melainkan dalam rangka mentaati Allah seraya memohon pertolongan kepada-Nya dalam melakukan semuanya itu.

Karena semuanya itu dalam beberapa riwayat hadits selain yang shahih, disebutkan setelah firman Allah, dan kakinya yang dengannya dia berjalan, “Dengan-Ku dia mendengar, dengan-Ku pula dia melihat, dengan-Ku dia memegang, dan dengan-Ku pula dia berjalan.”

Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman: wa ja’ala lakumus sam’a wal abshaara wal af-idata la’allakum tasykuruun (“Dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.

Selanjutnya, Allah Ta’ala mengingatkan hamba-hamba-Nya untuk memperhatikan burung yang terkendali (terbang) antara bumi dan langit, bagaimana Dia membuatnya dapat terbang dengan dua sayap. Di sana tidak ada yang dapat menahannya kecuali Allah dengan kekuasaan-Nya yang padanya Dia telah memberikan kekuatan untuk mampu melakukan hal tersebut. Dia mengerahkan udara supaya membawa dan menerbangkan burung-burung tersebut. Sebagaimana yang Dia firmankan dalam surat al-Mulk yang artinya: “Dan apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka. Tidak ada yang menahannya [di udara] selain Yang Mahapemurah. Sesungguhnya Dia Mahamelihat segala sesuatu.” (QS. Al-Mulk: 19)

Di sini Dia berfirman: inna fii dzaalika la-aayaatal liqaumiy yu’minuun (“Sesungguhnya pada
yang demikian itu benar terdapat tanda-tanda [kebesaran Rabb] bagi orang-orang yang beriman.”)

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Israa’ Ayat 76-77

14 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Israa’
(Memperjalankan di Malam Hari)
Surah Makkiyyah; surah ke 17: 111 ayat

tulisan arab alquran surat al israa ayat 76-77“Dan sesungguhnya benar-benar mereka hampir membuatmu gelisah di negeri (Makkah) untuk mengusirmu daripadanya dan kalau terjadi demikian, niscaya sepeninggalmu mereka tidak tinggal, melainkan sebentar saja. (QS. 17:76) (Kami menetapkan yang demikian) sebagai suatu ketetapan terhadap para Rasul Kami yang Kami utus sebelummu dan tidak akan kamu dapati perubahan bagi ketetapan Kami itu. (QS. 17:77)” (al-Israa’: 76-77)

Ada yang mengatakan, ayat ini turun berkenaan dengan kaum kafir Quraisy. Mereka berkeinginan untuk mengusir Rasulullah dari tengah-tengah mereka. Maka Allah Ta’ala mengancam mereka melalui ayat ini. Seandainya mereka mengusir beliau, niscaya mereka tidak akan lama setelah meninggalkan Makkah melainkan hanya sebentar saja. Dan demikianlah yang
terjadi, di mana satu tahun setengah setelah hijrah Rasulullah dari tengah-tengah mereka, maka Allah mempertemukan mereka dengan Rasulullah dan para sahabatnya dalam perang Badar tanpa adanya penetapan waktu sebelumnya, hingga akhirnya Allah memberikan kemenangan dan mengunggulkan Rasulullah atas mereka, sehingga banyak dari para pemimpin dan tokoh mereka yang terbunuh dan anak keturunan mereka pun ditawan.

Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman: sunnata man qad arsalnaa (“Sebagai suatu ketetapan terhadap para Rasul Kami yang Kami utus.”) Maksudnya, demikian itulah yang menjadi kebiasaan Kami (Allah) terhadap orang-orang yang kafir kepada para Rasul Kami dan yang menyakiti mereka serta mengusir Rasulullah dari tengah-tengah mereka, di mana ditimpakan kepada mereka adzab. Seandainya Rasulullah itu bukan seorang Rasul yang membawa rahmat, niscaya mereka akan ditimpa berbagai siksaan di dunia yang lebih dahsyat dari sebelumnya.

Oleh karena itu, Allah berfirman yang artinya: “Dan Allah sekali-kali tidak akan mengadzab mereka, sedang kamu (Muhammad) berada di tengah-tengah mereka.” (QS. Al-Anfaal: 33)

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 75-77

19 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 75-77“75. Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, Padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui? (al-Baqarah: 75)
76. dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata:” Kamipun telah beriman,” tetapi apabila mereka berada sesama mereka saja, lalu mereka berkata: “Apakah kamu menceritakan kepada mereka (orang-orang mukmin) apa yang telah diterangkan Allah kepadamu, supaya dengan demikian mereka dapat mengalahkan hujjahmu di hadapan Tuhanmu; tidakkah kamu mengerti?” (al-Baqarah: 76)
77. tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka nyatakan?” (al-Baqarah: 77)

Allah berfirman, afatathma’uuna ay-yu’minu lakum (“Apakah kalian masih mengharapkan mereka percaya kepada kalian?”) Artinya, akan mengikuti kalian dengan penuh ketaatan. Mereka adalah golongan sesat sebagaimana nenek moyang mereka yang telah menyaksikan sendiri tanda-tanda kekuasaan Allah dan bukti-bukti yang jelas. Tetapi kemudian hati mereka mengeras.

Wa qad kaana fariiqum minHum yasma’uuna kalaamallaaHi tsumma yuharrifuunaHu (“Padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, kemudian mereka mengubahnya.”) Artinya, mereka menakwilkannya dengan penafsiran yang tidak semestinya.

Mim ba’di maa ‘aqaluu (“Setelah mereka memahaminya.”) Yaitu memahami secara gamblang. Namun demikian mereka masih mengingkarinya, meskipun mereka mengetahuinya.

Wa Hum ya’lamuun (“Sedang mereka mengetahui.”) Artinya, mereka melakukan kesalahan dengan mengubah dan menakwil firman-firman Allah. Konteks firman Allah di atas, mirip dengan firman-Nya yang lain:
“Karena mereka melanggarjanjinya, Kami laknat mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka mengubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya.” (QS. Al-Maa-idah: 13).

Mengenai firman Allah “Sesungguhnya segolongan dari mereka mendengarfirman Allah, kemudian mereka mengubahnya. ” As-Suddi mengatakan: “Yang mereka ubah itu adalah kitab Taurat.”

Mengenai firman-Nya, Wa qad kaana fariiqum minHum yasma’uuna kalaamallaaHi tsumma yuharrifuunaHu (“Padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, kemudian mereka mengubahnya.”) as-Suddi mengatakan: “Yang mereka rubah itu adalah Kitab Taurat.”

Mengenai firman-Nya: tsumma yuharrifuunaHu Mim ba’di maa ‘aqaluu wa Hum ya’lamuun (“Kemudian mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahuinya.”)
Qatadah mengatakan: “Mereka itu adalah orang-orang Yahudi. Mereka mendengar firman Allah, lalu mengubahnya setelah mereka memahami dan menyadarinya.” Sedang Mujahid mengatakan, “Yang mengubah dan menyembunyikan firman Allah itu adalah para ulama dari kalangan Yahudi.” Dan Abu al-Aliyah mengemukakan, “Mereka memahami apa yang diturunkan Allah dalam kitab mereka itu, menyangkut sifat Muhammad lalu mereka pun mengubahnya dari yang sebenarnya.”

Firman Allah: wa idzaa laqulladziina aamanuu qaaluu aamannaa wa idzaa khalaa ba’dluHum ilaa ba’dlin (“Dan apabila mereka bertemu dengan orang orang yang beriman, mereka berkata, Kami telah beriman. Dan apabila mereka berada sesama mereka saja.”)

Muhammad bin Ishak dari Ibnu Abbas mengatakan Mengenai firman-Nya: wa idzaa laqulladziina aamanuu qaaluu aamannaa (“Dan apabila mereka bertemu dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata: ‘Kami telah beriman.”‘) Ini artinya bahwa sahabat kalian itu adalah Rasulullah, namun ia khusus (diutus) kepada kalian saja.” Dan apabila mereka berada sesama mereka saja, maka mereka (orang Yahudi) berkata, “Jangan kalian beritahukan hal ini kepada masyarakat Arab. Karena sebelumnya kalian menyatakan akan menaklukkan mereka dengan dukungan Rasul ini, tetapi ternyata dia itu berasal dari mereka.”

Maka Allah pun menurunkan ayat-Nya: “Dan apabila mereka bertemu dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata. Kami telah beriman:’ Dan apabila mereka berada sesama mereka saja, maka mereka berkata: Apakah kamu menceritakan kepada mereka (orang-orang mukmin) apa yang diterangkan Allah kepada kamu, agar dengan demikian mereka dapat mengalahkan hujjah kalian di hadapan Rabb-mu, tidakkah kamu mengerti?”‘

Artinya, kalian mengakuinya sebagai nabi, padahal kalian mengetahui bahwa Allah telah mengambil janji dari kalian untuk mengikutinya, sedang ia memberitahukan kepada khalayak bahwa dirinya merupakan nabi yang kita tunggu-tunggu dan kita dapatkan dalam kitab kita. Ingkarilah ia dan janganlah kalian mengakuinya.

Selanjutnya, Allah membantah mereka dengan firman-Nya: awalaa ya’lamuuna annalaaHa ya’lamu maa yusirruuna wa maa yu’linuun (“Tidakkah mereka mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui yang mereka rahasiakan dan yang mereka nyatakan?”) Mengenai hal ini, adh-Dhahhak dari Ibnu Abbas mengatakan: “Yaitu orang-orang munafik dari kalangan kaum Yahudi.”

As-Suddi mengatakan: atuhaddatsuunaHum bimaa fatahallaaHu ‘alaikum (“Apakah kamu akan menceritakan kepada (orang-orang mukmin) apa yang diterangkan Allah kepadamu,”) yaitu tentang adzab,” `Agar dengan demikian mereka dapat mengalahkan hujjahmu di hadapan Rabbmu. “Mereka ini adalah orang-orang dari kaum Yahudi yang beriman, lalu mereka berubah menjadi munafik dan mereka ini menceritakan kepada orang-orang mukmin dari masyarakat Arab mengenai adzab yang ditimpakan kepada mereka. Lalu sebagian mereka bertanya kepada sebagian lainnya, atuhaddatsuunaHum bimaa fatahallaaHu ‘alaikum (“Apakah kamu menceritakan kepada mereka (orang-orang mukmin) apa yang diterangkan Allah kepadamu.”) Yaitu berupa adzab, hingga mereka mengatakan: “Kami lebih dicintai Allah dari pada kalian dan lebih terhormat di nisi Allah daripada kalian.”

Firman-Nya: awalaa ya’lamuuna annalaaHa ya’lamu maa yusirruuna wa maa yu’linuun (“Tidakkah mereka mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui yang mereka rahasiakan dan yang mereka nyatakan?”) Menurut Abu al-Aliyah: “Maksudnya apa yang mereka rahasiakan, berupa pengingkaran dan pendustaan terhadap kenabian , padahal mereka menemukan nama beliau tertulis di dalam kitab mereka.

Demikian pula dinyatakan oleh Qatadah mengenai firman Allah, annalaaHa ya’lamu maa yusirruuna wa maa yu’linuun (“Sesungguhnya Allah mengetahui yang mereka rahasiakan”.) Hasan al-Bashri mengatakan: “Apa yang mereka rahasiakan yaitu bahwa jika mereka berpaling dari para sahabat Rasulullah dan kembali bertemu dengan teman-teman mereka, maka mereka saling melarang satu dengan yang lainnya agar tidak memberitahukan kepada para sahabat Muhammad mengenai apa yang diterangkan Allah swt. dalam kitab mereka, karena mereka khawatir akan dikalahkan oleh hujjah yang dikemukakan oleh para sahabat Rasulullah di hadapan Rabb mereka. Dan demikian itulah yang mereka sembunyikan.”

Wa maa yu’linuun (“Dan yang mereka nyatakan?”) Yakni ketika mereka mengatakan kepada para sahabat Muhammad , “Kami beriman. “Hal senada juga dikemukakan oleh Abu al-Aliyah, Rabi’ bin Anas, dan Qatadah.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 77

6 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan)
Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat

tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 77“Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bahagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak (pula) akan mensucikan mereka. bagi mereka azab yang pedih.” (Ali ‘Imraan: 77)

Allah berfirman bahwa orang-orang yang menukar janji mereka kepada Allah untuk mengikuti Muhammad saw., menyebutkan sifatnya kepada manusia, dan menjelaskan ihwalnya, serta menukar sumpah-sumpah dusta mereka yang keji dengan harga yang murah dan sedikit, berupa kesenangan yang fana di dunia ini, maka: ulaa-ika laa khalaqa laHum fil aakhirati (“Mereka tidak mendapatkan bagian pahala di akhirat”) maksudnya mereka tidak akan mendapatkan bagian pahala di akhirat kelak.

Wa laa yukallimuHumullaaHu wa laa yandhuru ilaiHim yaumal qiyaamati (“Dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka di hari kiamat.”) dengan rahmat dari-Nya untuk mereka. Artinya Allah tidak akan mengajak mereka berbicara dengan ucapan yang lembut dan tidak akan melihat mereka dengan pandangan kasih sayang. Wa laa yuzakkiiHim (“dan tidak pula [akan] menyucikan mereka”) yakni dari berbagai macam dosa dan kotoran, sebaliknya Dia memerintahkan mereka masuk neraka. wa laHum ‘adzaabun aliim (“Dan bagi mereka adzab yang pedih.”)

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Abdullah, Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa bersumpah untuk merebut harta seorang muslim, maka ia akan bertemu dengan Allah, sedang Dia dalam keadaan murka.”

Al-Asy’ats berkata, “Demi Allah hal itu terjadi pada diriku. Antara diriku dan seorang Yahudi pernah terjadi sengketa tanah. Lalu orang Yahudi itu mengingkari tanah milikku itu. Kemudian aku pun mengadu kepada Rasulullah saw. maka beliau bertanya kepadaku, ‘Apakah kamu punya bukti?’ ‘Tidak,’ jawabku. Orang Yahudi itu berkata, ‘Aku berani bersumpah.’ Lalu kukatakan, ‘Ya Rasulallah, jika ia bersumpah, maka hilanglah hartaku.’ Kemudian Allah menurunkan ayat: innal ladziina yasytaruuna bi-‘aHdillaaHi wa aimaaniHim tsamanan qaliilan (“Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji [nya dengan Allah] dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit…”)

Imam Ahmad meriwayatkan dari Sahl bin Anas, dari ayahnya, bahwa Rasulullah pernah bersabda: “Sesungguhnya Allah mempunyai beberapa hamba yang Allah tidak mau berbicara kepada mereka pada hari Kiamat kelak, tidak mensucikan mereka, dan tidak pula melihat kepada mereka.” Ditanyakan, “Siapakah mereka itu, ya Rasulallah?” Beliau menjawab, “Orang yang melepaskan diri dari kedua orang tuanya dan membenci keduanya, orang yang melepaskan diri dari tanggung jawab kepada anaknya dan orang yang diberikan kenikmatan oleh suatu kaum, lalu mengingkari nikmat tersebut serta melepaskan diri dari mereka.”

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Ada tiga golongan yang pada hari Kiamat Allah tidak mengajak mereka berbicara, tidak melihat mereka, serta tidak pula mensucikan mereka, dan mereka akan memperoleh adzab yang pedih. Yaitu, orang yang melarang Ibnu Sabil mendapatkan sisa air yang dimilikinya, orang yang bersumpah atas suatu barang setelah `Ashar, yakni sumpah palsu, dan orang yang membai’at seorang imam, jika diberikan sesuatu kepadanya, ia akan mendukungnya, akan tetapi jika tidak memberinya, maka ia tidak memberikan dukungan kepadanya.” (Diriwayatkan pula oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi dari hadits Waki’. At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih.)

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 77

2 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan)
Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat

tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 77“Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bahagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak (pula) akan mensucikan mereka. bagi mereka azab yang pedih.” (Ali ‘Imraan: 77)

Allah berfirman bahwa orang-orang yang menukar janji mereka kepada Allah untuk mengikuti Muhammad saw., menyebutkan sifatnya kepada manusia, dan menjelaskan ihwalnya, serta menukar sumpah-sumpah dusta mereka yang keji dengan harga yang murah dan sedikit, berupa kesenangan yang fana di dunia ini, maka: ulaa-ika laa khalaqa laHum fil aakhirati (“Mereka tidak mendapatkan bagian pahala di akhirat”) maksudnya mereka tidak akan mendapatkan bagian pahala di akhirat kelak.

Wa laa yukallimuHumullaaHu wa laa yandhuru ilaiHim yaumal qiyaamati (“Dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka di hari kiamat.”) dengan rahmat dari-Nya untuk mereka. Artinya Allah tidak akan mengajak mereka berbicara dengan ucapan yang lembut dan tidak akan melihat mereka dengan pandangan kasih sayang. Wa laa yuzakkiiHim (“dan tidak pula [akan] menyucikan mereka”) yakni dari berbagai macam dosa dan kotoran, sebaliknya Dia memerintahkan mereka masuk neraka. wa laHum ‘adzaabun aliim (“Dan bagi mereka adzab yang pedih.”)

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Abdullah, Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa bersumpah untuk merebut harta seorang muslim, maka ia akan bertemu dengan Allah, sedang Dia dalam keadaan murka.”

Al-Asy’ats berkata, “Demi Allah hal itu terjadi pada diriku. Antara diriku dan seorang Yahudi pernah terjadi sengketa tanah. Lalu orang Yahudi itu mengingkari tanah milikku itu. Kemudian aku pun mengadu kepada Rasulullah saw. maka beliau bertanya kepadaku, ‘Apakah kamu punya bukti?’ ‘Tidak,’ jawabku. Orang Yahudi itu berkata, ‘Aku berani bersumpah.’ Lalu kukatakan, ‘Ya Rasulallah, jika ia bersumpah, maka hilanglah hartaku.’ Kemudian Allah menurunkan ayat: innal ladziina yasytaruuna bi-‘aHdillaaHi wa aimaaniHim tsamanan qaliilan (“Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji [nya dengan Allah] dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit…”)

Imam Ahmad meriwayatkan dari Sahl bin Anas, dari ayahnya, bahwa Rasulullah pernah bersabda: “Sesungguhnya Allah mempunyai beberapa hamba yang Allah tidak mau berbicara kepada mereka pada hari Kiamat kelak, tidak mensucikan mereka, dan tidak pula melihat kepada mereka.” Ditanyakan, “Siapakah mereka itu, ya Rasulallah?” Beliau menjawab, “Orang yang melepaskan diri dari kedua orang tuanya dan membenci keduanya, orang yang melepaskan diri dari tanggung jawab kepada anaknya dan orang yang diberikan kenikmatan oleh suatu kaum, lalu mengingkari nikmat tersebut serta melepaskan diri dari mereka.”

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Ada tiga golongan yang pada hari Kiamat Allah tidak mengajak mereka berbicara, tidak melihat mereka, serta tidak pula mensucikan mereka, dan mereka akan memperoleh adzab yang pedih. Yaitu, orang yang melarang Ibnu Sabil mendapatkan sisa air yang dimilikinya, orang yang bersumpah atas suatu barang setelah `Ashar, yakni sumpah palsu, dan orang yang membai’at seorang imam, jika diberikan sesuatu kepadanya, ia akan mendukungnya, akan tetapi jika tidak memberinya, maka ia tidak memberikan dukungan kepadanya.” (Diriwayatkan pula oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi dari hadits Waki’. At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih.)

&

77. Surah Al-Mursalaat

2 Des

Pembahasan Tentang Surat-Surat Al-Qur’an (Klik di sini)
Tafsir Ibnu Katsir (Klik di sini)

Surat Al Mursalaat terdiri atas 50 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyah, diturunkan sesudah surat Al Humazah. Dinamai Al Mursalaat (Malaikat-Malaikat yang diutus), diambil dari perkataan Al Mursalaat yang terdapat pada ayat pertama surat ini. Dinamai juga Amma yatasaa aluun diambil dari perkataan Amma yatasaa aluun yang terdapat pada ayat 1 surat ini.

Pokok-pokok isinya:
Penegasan Allah bahwa semua yang diancamkan-Nya pasti terjadi; peristiwa-peristiwa yang terjadi sebelum hari berbangkit; peringatan Allah akan kehancuran umat-umat yang dahulu yang mendustakan nabi-nabi dan asal kejadian manusia dari air yang hina; keadaan orang-orang kafir dan orang mukmin di hari kiamat.
Surat Al Mursalaat menerangkan azab yang akan diderita oleh orang-orang yang menolak kebenaran yang dibawa oleh nabi Muhammad s.a.w. sebagaimana azab yang diderita umat-umat yang dahulu yang menolak kebenaran yang dibawa rasul-rasul mereka.

HUBUNGAN SURAT AL MURSALAAT DENGAN SURAT AN NABA´

1. Kedua surat ini sama-sama menerangkan keadaan neraka tempat orang-orang kafir menerima azab, dan keadaan surga tempat orang-orang yang bertakwa merasakan nikmat Allah.
2. Dalam surat Al Mursalaat diterangkan tentang yauml fashl (hari keputusan) secara umum sedang surat An Naba´ menjelaskannya.