Tag Archives: 82

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Maa-idah ayat 82

10 Jan

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Maa-idah (Hidangan)
Surah Madaniyyah; surah ke 5: 120 ayat

tulisan arab alquran surat al maidah ayat 82“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata, ‘Sesungguhnya kami ini orang Nasrani.’ Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri.” (al-Maa-idah: 82)

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan An-Najasyi dan teman-temannya, yaitu ketika Ja’far ibnu Abu Talib membacakan Al-Qur’an kepada mereka di negeri Habsyah (Etiopia), maka mereka menangis karena mendengarnya hingga membasahi janggut mereka, akan tetapi pendapat ini masih perlu dipertimbangkan, mengingat ayat ini Madaniyah, sedangkan kisah Ja’far ibnu AbuTalib terjadi sebelum hijrah (yakni dalam masa Makkiyyah).

Said ibnu Jubair dan As-Saddi serta selain keduanya mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan delegasi Raja Najasyi yang diutus kepada Nabi Saw. untuk mendengarkan ucapan Nabi Saw. dan melihat sifat-sifatnya. Tatkala mereka melihat Nabi Saw. dan Nabi Saw. membacakan Al-Qur’an kepada mereka, maka mereka masuk Islam seraya menangis dan dengan penuh rasa khusyuk (tunduk patuh). Sesudah itu mereka pulang kepada Raja Najasyi dan menceritakan apa yang mereka alami kepadanya.

Menurut As-Saddi, Raja Najasyi berangkat berhijrah (bergabung dengan Nabi Saw. di Madinah), tetapi ia meninggal dunia di tengah perjalanan. Hal ini merupakan riwayat yang hanya dikemukakan oleh As-Saddi sendiri, karena sesungguhnya Raja Najasyi meninggal dunia dalam keadaan sebagai Raja Habsyah. Nabi Saw. beserta para sahabatnya menyalatkannya di hari kewafatannya, dan Nabi Saw. memberitahukan bahwa Raja Najasyi meninggal dunia di tanah Habsyah.

Para ulama berbeda pendapat mengenai bilangan delegasi Raja Najasyi. Menurut suatu pendapat, jumlah mereka ada dua belas orang; tujuh orang di antara mereka adalah pendeta, sedangkan yang lima orang lainnya adalah rahib. Tetapi pendapat yang lain mengatakan sebaliknya.

Menurut pendapat lain, jumlah mereka ada lima puluh orang; dikatakan pula ada enam puluh orang lebih, dan dikatakan lagi ada tujuh puluh orang laki-laki.

Ata ibnu Abu Rabah mengatakan bahwa mereka adalah suatu kaum dari negeri Habsyah; mereka masuk Islam setelah kaum muslim yang berhijrah tiba di negeri Habsyah.

Qatadah mengatakan bahwa mereka adalah suatu kaum yang memeluk agama Isa ibnu Maryam. Ketika mereka melihat kaum muslim dan mendengarkan Al-Qur’an, maka dengan spontan mereka masuk Islam tanpa ditangguh-tangguhkan lagi.

Sedangkan Ibnu Jarir memilih pendapat yang mengatakan bahwa ayat-ayat ini diturunkan berkenaan dengan banyak kaum yang mempunyai ciri khas dan sifat tersebut, baik mereka dari kalangan bangsa Habsyah ataupun dari bangsa lainnya.

Firman Allah Swt.: latajidanna asyaddan naasi ‘adaawatal lil ladziina aamanul yaHuuda wal ladziinaa asyrakuu (“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.”) (Al-Maidah: 82)

Hal itu tiada lain karena kekufuran orang-orang Yahudi didasari oleh pembangkangan, keingkaran, dan kesombongannya terhadap perkara yang benar serta meremehkan orang lain dan merendahkan kedudukan para penyanggah ilmu. Karena itulah mereka banyak membunuh nabi-nabi mereka, sehingga Rasulullah Saw. tak luput dari percobaan pembunuhan yang direncanakan oleh mereka berkali-kali.

Mereka meracuni Nabi Saw. dan menyihirnya, dan mereka mendapat dukungan dari orang-orang musyrik yang sependapat dengan mereka; semoga laknat Allah terus-menerus menimpa mereka sampai hari kiamat.

Al-Hafiz Abu Bakar ibnu Murdawaih sehubungan dengan tafsir ayat ini mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Muhammad ibnus Sirri, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ali ibnu Habib Ar-Ruqqi, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Sa’id Al-Allaf, telah menceritakan kepada kami Abun Nadr, dari Al-Asyja’i, dari Sufyan, dari Yahya ibnu Abdullah, dari ayahnya, dari Abu Hurairah yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda:

“Tidak sekali-kali seorang Yahudi berduaan dengan seorang muslim melainkan pasti orang Yahudi itu berniat ingin membunuhnya.”

Kemudian Ibnu Murdawaih meriwayatkannya dari Muhammad ibnu Ahmad ibnu Ishaq Al-Askari, telah menceritakan kepada kami Ahmad Ibnu Sahi ibnu Ayyub Al-Ahwazi, telah menceritakan kepada kami Faraj ibnu Ubaid, telah menceritakan kepada kami Abbad ibnul Awwam, dari Yahya ibnu Abdullah, dari ayahnya, dari Abu Hurairah yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:

“Tidak sekali-kali seorang Yahudi berduaan dengan seorang muslim lain melainkan terbetik dalam hati si Yahudi itu hasrat untuk membunuhnya.” (Hadis ini garib sekali.)

Firman Allah Swt.: wa latajidanna aqrabaHum mawaddatal lilladziina aamanul ladziina qaaluu innaa nashaaraa (“Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: ‘Sesungguhnya kami ini orang Nasrani.’”) (AlMaidah: 82)

Yakni orang-orang yang mengakui dirinya sebagai orang-orang Nasrani, yaitu pengikut Al-Masih dan berpegang kepada kitab Injilnya. Di kalangan mereka secara globalnya terdapat rasa persahabatan kepada Islam dan para pemeluknya. Hal itu tiada lain karena apa yang telah tertanam di hati mereka, mengingat mereka pemeluk agama Al-Masih yang mengajarkan kepada lemah lembut dan kasih sayang, seperti yang disebutkan oleh firmanNya yang artinya:

“Dan Kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang serta rahbaniyah.” (Al-Hadid: 27)

Di dalam kitab mereka tertera bahwa barang siapa yang memukul pipi kananmu, maka berikanlah kepadanya pipi kirimu; dan perang tidak disyariatkan di dalam agama mereka. Karena itulah disebutkan oleh Allah Swt. melalui firmanNya:

Dzaalika bi-anna minHum qissiisiina wa ruHbaanaw wa annaHum laa yastakbiruun (“Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu [orang-orang Nasrani] terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri.”) (Al-Maidah: 82)

Yakni didapati di kalangan mereka para pendeta, yaitu juru khotbah dan ulama mereka; bentuk tunggalnya adalah qasisun dan qissun, adakalanya dijamakkan dalam bentuk qususun. Arrauhban adalah bentuk jamak dari rahib yang artinya ahli ibadah, diambil dari akar kata rahbah yang artinya takut; sewazan dengan lafaz rakib yang jamaknya rukban, dan lafaz faris yang jamaknya fursan.

Ibnu Jarir mengatakan, adakalanya lafaz ruhban ini merupakan bentuk tunggal, sedangkan bentuk jamaknya ialah rahabin, semisal dengan lafaz qurban yang bentuk jamaknya qarabin, dan lafaz jarzan (tikus) yang bentuk jamaknya jarazin. Adakalanya dijamakkan dalam bentuk rahabinah.

Termasuk dalil yang menunjukkan bahwa lafaz rahban bermakna tunggal di kalangan orang-orang Arab ialah perkataan seorang penyair mereka yang mengatakan:

Seandainya aku saksikan ada rahib gereja di puncak itu, niscaya
rahib itu akan keluar dan berjalan menuruni (puncak tersebut).

AlHafiz Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Bisyr ibnu Adam, telah menceritakan kepada kami Nasir ibnu Abui Asy’as, telah menceritakan kepadaku As-Salt Ad-Dahhan, dari Jasiman ibnu Riab yang menceritakan bahwa ia pemah bertanya kepada Salman mengenai firman Allah Swt.:

Dzaalika bi-anna minHum qissiisiina wa ruHbaanaw (“Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu [orang-orang Nasrani] terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib.”) (Al-Maidah: 82)

Maka Salman berkata, “Biarkanlah para pendeta itu tinggal di dalam gereja-gereja dan reruntuhannya, karena Rasulullah Saw. pemah bersabda kepadaku bahwa yang demikian itu disebabkan di antara mereka (orang-orang Nasrani) itu terdapat orang-orang yang percaya dan rahib-rahib.”

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Murdawaih melalui jalur Yahya ibnu Abdul Hamid Al-Hammani, dari Nadir ibnu Ziyad At-Ta-i, dari Silt Ad-Dahhan, dari Jasimah ibnu Riab, dari Salman dengan lafaz yang semisal.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, ayahnya pernah menceritakan bahwa telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Abdul Hamid Al-Khani, telah menceritakan kepada kami Nadir ibnu Ziyad At-Ta-i, telah menceritakan kepada kami Silt Ad-Dahhan, dari Jasimah ibnu Riab yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar sahabat Salman ditanya mengenai firmanNya:

Dzaalika bi-anna minHum qissiisiina wa ruHbaanaw (“Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu [orang-orang Nasrani] terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib.”) (Al-Maidah: 82)

Maka Salman berkata bahwa mereka adalah para rahib yang tinggal di dalam gereja-gereja dan bekas-bekas peninggalan di masa lalu, biarkanlah mereka tinggal di dalamnya. Salman mengatakan, dia pernah membacakan kepada Nabi Saw. firmanNya:

Dzaalika bi-anna minHum qissiisiina wa ruHbaanaw (“Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu [orang-orang Nasrani] terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib.”) (Al-Maidah: 82)

Maka Nabi Saw. membacakannya kepadaku dengan qiraah seperti berikut: Dzaalika bi-anna minHum shiddiiqiina wa ruHbaanan (“Yang demikian itu karena di antara mereka [orang-orang Nasrani] itu terdapat orang-orang yang percaya [kepada Allah] dan rahib-rahib.”)

Firman Allah Swt.:
Dzaalika bi-anna minHum qissiisiina wa ruHbaanaw wa annaHum laa yastakbiruun (“Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu [orang-orang Nasrani] terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib. [juga] sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri.”) (Al-Maidah: 82)

Ayat ini mengandung penjelasan mengenai sifat mereka, bahwa di kalangan mereka terdapat ilmu, dan mereka adalah ahli ibadah serta orang-orang yang rendah diri.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 82

15 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 82“Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: ‘Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kota ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura menyucikan diri.” (QS. al-A’raaf: 82)

Maksudnya, mereka sama sekali tidak mau memenuhi seruan Luth, kecuali dengan tekad untuk mengusir dan membinasakan Luth dan para pengikutnya dari tengah-tengah mereka. Maka Allah mengeluarkan Luth (dari kota Sadum) dalam kedaan selamat dan Dia binasakan mereka [kaumnya] dalam keadaan hina dina.

Dan firman-Nya: innaHum unaasuy yatathaHHaruun (“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura menyucikan diri”) Qatadah mengatakan, “Mereka mencela Luth dan para pengikutnya dengan celaan yang tidak mengena sama sekali.”

Sedangkan Mujahid mengatakan, “Mereka (Luth dan para pengikutnya) itu adalah orang-orang yang suci dari dubur laki-laki dan dubur perempuan.”

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yunus ayat 79-82

8 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Yunus
Surah Makkiyyah; surah ke 10: 109 ayat

tulisan arab alquran surat yunus ayat 79-82“Fir’aun berkata (kepada pemuka kaumnya): ‘Datangkanlah kepadaku semua ahli-ahli sihir yang pandai!’ (QS. 10:79) Maka tatkala ahli-ahli sihir itu datang, Musa berkata kepada mereka: ‘Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan.’ (QS. 10:80) Maka setelah mereka lemparkan, Musa berkata kepada mereka: ‘Apa yang kamu lakukan itu, itulah (yang) sihir, sesungguhnya Allah akan menampakkan ketidakbenarannya.’ Sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang-orang yang membuat kerusakan. (QS. 10:81) Dan Allah akan mengokohkan yang benar dengan ketetapan-Nya, walaupun orang-orang yang berbuat dosa tidak menyukai(nya). (QS. 10:82)” (Yunus: 79-82)

Allah Yang Mahasuci telah menyebutkan kisah tukang-tukang sihir bersama Musa dalam surat al-A’raaf dan pembicaraan tentang itu telah berlalu. Di dalam surat Yunus ini, surat Thaahaa dan surat asy-Syua’raa’, bahwa sesungguhnya Fir’aun [-mudah-mudahan Allah melaknatnya-], ingin berbuat jahat kepada manusia dan melawan kebenaran yang nyata, yang dibawa oleh Musa as, dengan tipuan permainan tukang-tukang sihir dan tukang-tukang sulap, akan tetapi permasalahannya menjadi berbalik. Harapannya tidak tercapai, bahkan bukti-bukti Ilahiyyah nampak jelas dalam pesta umum itu.

Wa alqiyas saharatu saajidiina qaaluu aamannaa birabbil ‘aalamiina. Rabbi muusaa wa Haaruuna (“Dan ahli-ahli sihir itu serta-merta meniarapkan diri dengan sujud, mereka berkata: ‘Kami beriman kepada Rabb semesta alam, (yaitu) Rabb Musa dan Harun.’”) (QS. Al-A’raaf: 120-122)
Fir’aun mengira bahwa ia akan menang dengan menggunakan sihir, terhadap utusan Dzat Yang Mahamengetahui rahasia, maka gagallah dan rugilah ia, tidak masuk surga dan dia pasti masuk neraka.

Wa qaala fir’aunu iituunii bikulli saahirin ‘aliim. Falammaa jaa-as saharatu qaala laHum muusaa alquu maa antum mulquun (“Fir’aun berkata [kepada pemuka kaumnya]: ‘Datangkanlah kepadaku semua ahli-ahli sihir yang pandai!’ Maka tatkala ahli-ahli sihir itu datang, Musa berkata kepada mereka: ‘Lemparkanlah apa yang hendak kamu lempar.’”) Musa mengatakan seperti itu kepada mereka, karena sesungguhnya mereka ketika telah terpilih, telah dijanjikan oleh Fir’aun dengan hubungan dekat dan hadiah yang besar.

“Ahli-ahli sihir berkata: ‘Hai Musa, kamukah yang akan melempar terlebih dahulu, ataukah kami yang melempar.” (QS. Al-A’raaf: 115). Maka Musa menginginkan mereka yang memulai, agar orang-orang mengetahui apa yang mereka perbuat, kemudian dia datang dengan kebenaran setelahnya, agar kebenaran itu menghantam kebathilan mereka. Maka dari itu, ketika mereka melempar, mereka menyihir mata orang-orang dan membuat mereka takut, serta mereka mendatangkan sihir yang besar.

“Maka Musa merasa takut dalam hatinya, Kami berkata: ‘Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang). Dan lemparkanlah yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat. Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang.’”) (QS. Thaahaa: 67-69).

Setelah itu Musa berkata ketika mereka melempar: maa ji’tum biHis sihru innallaaHa sayubthiluHu innallaaHa laa yushlihu ‘amalal mufsidiina. Wa yuhiqqullaaHul haqqa bikalimaatiHii walau kariHal mujrimuun (“Apa yang yang kamu lakukan itu, itulah [yang] sihir, sesungguhnya Allah akan menampakkan ketidakbenarannya, sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang-orang yang membuat kerusakan.”)

Ibnu Abi Hatim berkata: “Bercerita kepadaku Muhammad bin’Ammar bin al-Harits, bercerita kepadaku ‘Abdur Rahman, [-yakni ad-Dasytaki,-] Ja’far ar-Razi memberi kabar kepadaku, dari Laits, [-yaitu Ibnu Abi Sulaim-] berkata: ‘Telah sampai kepadaku, bahwa sesungguhnya ayat-ayat itu adalah obat sihir dengan izin Allah Ta’ala, kamu membacanya dalam bejana berisi air kemudian disiramkan di atas kepala orang yang terkena sihir, ayat ada di dalam surat Yunus (ayat 81-82): falammaa alqau qaala muusaa maa ji’tum biHis sihru innallaaHa sayubthiluHu innallaaHa laa yushlihu ‘amalal mufsidiina. Wa yuhiqqullaaHul haqqa bikalimaatiHii walau kariHal mujrimuun (“Maka setelah mereka melemparkan, Massa berkata kepada mereka: ‘Apa yang yang kamu lakukan itu, itulah [yang] sihir, sesungguhnya Allah akan menampakkan ketidakbenarannya, sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang-orang yang membuat kerusakan.”)

Dan ayat lainnya:
“Karena itu nyatalah yang benar dan batallah yang selalu mereka kerjakan. Maka mereka kalah di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina. Dan ahli-ahli sihir itu serta-merta meniarapkan diri dengan bersujud. Mereka berkata: ‘Kami beriman kepada Rabb semesta alam, (yaitu) Rabb Musa dan Harun.’” (QS. Al-A’raaf: 118-122).

Dan juga firman-Nya: “Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir [belaka]. Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang.” (ThaaHaa: 69)

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Huud ayat 82-83

30 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Huud
Surah Makkiyyah; surah ke 11: 123 ayat

tulisan arab alquran surat huud ayat 82-83“Maka tatkala datang adzab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, (QS. 11:82) yang diberi tanda oleh Rabbmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang dhalim. (QS. 11:83)” (Huud: 82-83)

Allah Ta’ala berfirman: falammaa jaa-a amrunaa (“Maka tatkala datang adzab Kami,”) waktu itu adalah saat terbitnya matahari. Ja’alnaa ‘aaliyaHaa (“Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas,”) yaitu Sadum. SaafilaHaa (“Ke bawah [Kami balikkan].”) Sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Lalu Allah menimpakan atas negeri itu adzab besar yang menimpanya.” (QS. An-Najm: 54).

Maksudnya, Kami menghujaninya dengan batu dari sijjil, yaitu berasal dari bahasa Persia, artinya adalah batu dari tanah liat, ini adalah perkataan Ibnu `Abbas dan lainnya. Sebagian ulama berkata: “Maksudnya dari batu dan tanah liat dan sungguh Allah telah berfirman dalam ayat lain: ia adalah batu dari tanah liat, maksudnya, yang telah membatu kuat dan keras.” Dan sebagian yang lain berkata: “Ia adalah batu tanah liat yang dibakar.”

Al-Bukhari berkata: “Sijjil adalah yang keras dan besar.” Kalimat “sijjil dan sijjin” adalah satu arti, Tamim bin Muqbil berkata:

Dengan kekuatan gerak kaki mereka memukul topi baja di tengah hari.
Pukulan yang keras panas (sijjin) yang dipesankan oleh para pahlawan.

Firman-Nya: mamdluudin (“Dengan bertubi-tubi.”) Sebagian ulama berkata: “Maksudnya disiapkan untuk itu.” Dan sebagian yang lain berkata: maksudnya bertubi-tubi jatuhnya kepada mereka.

Firman-Nya: musawwamatan (“Yang diberi tanda.”) Maksudnya, ditandai dengan terpahat di atasnya nama-nama orangnya, setiap batu tertulis di atasnya nama orang yang akan ditimpa dengannya. Qatadah dan Ikrimah berkata: musawwamatan (“Yang diberi tanda.”) dikelilingi dengan percikan bara, mereka menyebutkan bahwa batu itu mengenai penduduk negeri dan penduduk yang terpencar berbagai desa sekitarnya. Suatu saat salah seorang sedang berbicara di tengah-tengah manusia, tiba-tiba ia tertimpa batu dari langit dan jatuh di antara mereka, kemudian batu bertubi-tubi menghujani mereka hingga seluruh negeri, sehingga mereka mati semuanya, tidak tersisa seorang pun dari mereka.

Mujahid berkata: “Jibril mengambil kaum Luth dari tempat gembala dan dari rumah mereka. Ia membawa mereka dengan binatang-binatang harta benda mereka, kemudian ia mengangkatnya hingga penduduk langit mendengar jeritan anjing mereka, lalu ia membungkamnya.”

Firman-Nya Ta’ala: wa amtharnaa ‘alaiHaa (“Dan Kami hujani di atasnya [mereka.”) Maksudnya, di desa-desa dengan batu dari tanah liat, demikian dikatakan as-Suddi.

Dan firman-Nya: wamaa Hiya minadh dhaalimiina biba’iid (“Dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang dhalim.”) Maksudnya, tidaklah siksa ini jauh dari orang yang menyerupai mereka dalam kedhaliman (kaum musyrikin Makkah).

Dan terdapat hadits yang diriwayatkan dalam kitab-kitab sunan dari Ibnu ‘Abbas secara marfu’: “Barangsiapa menjumpai seseorang yang melakukan perbuatan kaum Luth (sodomi), maka bunuhlah yang melakukan dan yang diperlakukan.”

Imam asy-Syafi’i dalam salah satu perkataannya dan segolongan ulama berpendapat, bahwa orang yang melakukan liwath (sodomi) adalah dibunuh, baik ia muhshan (sudah menikah) atau tidak, dengan berpegang kepada hadits ini. Imam Abu Hanifah berkata; bahwa orang itu adalah dilemparkan dari tempat tinggi lalu dilempari dengan batu seperti apa yang telah dilakukan oleh Allah terhadap kaum Luth. Mahasuci Allah dan Mahatinggi Allah Yang lebih mengetahui tentang kebenarannya.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yusuf ayat 80-82

27 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Yusuf
Surah Makkiyyah; surah ke 12: 111 ayat

tulisan arab alquran surat yusuf ayat 80-82“Maka tatkala mereka berputus asa daripada (putusan) Yusuf, mereka menyendiri sambil berunding dengan berbisik-bisik. Berkatalah yang tertua di antara mereka: ‘Tidakkah kamu ketahui bahwa sesungguhnya ayahmu telah mengambil janji darimu dengan nama Allah dan sebelum itu kamu telah menyia-nyiakan Yusuf. Sebab itu aku tidak akan meninggalkan negeri Mesir, sampai ayahku mengizinkan kepadaku (untuk kembali), atau Allah memberi keputusan terhadapku. Dan Allah adalah hakim yang sebaik-baiknya.’ (QS. 12:80) Kembalilah kepada ayahmu dan katakanlah: ‘Wahai ayah kami, sesungguhnya anakmu telah mencuri; dan kami hanya menyaksikan apa yang kami ketahui, dan sekali-kali kami tidak dapat menjaga (mengetahui) barang yang gaib. (QS. 12:8 1) Dan tanyalah (penduduk) negeri yang kami berada di situ, dan kafilah yang kami datang bersamanya, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang benar.’ (QS. 12:82)” (Yusuf: 80-82)

Allah memberitakan tentang saudara-saudara Yusuf as. bahwa tatkala mereka merasa berputus asa untuk dapat membebaskan Bunyamin, sedang mereka telah berjanji kepada ayah mereka dan bersumpah untuk membawanya kembali bersama mereka, tetapi al-‘Aziz menolak apa yang mereka usulkan, maka mereka menyendiri, menjauh dari orang-orang banyak dan berbisik-bisik di antara mereka:

Qaala kabiiruHum (“Berkatalah yang tertua di antara mereka”) yaitu yang dahulu memberikan pendapat agar melemparkan Yusuf ke dalam sumur, ketika mereka bermaksud membunuhnya, ia berkata: a lam ta’lamuu anna abaakum qad akhadza ‘alaikum mautsiqam minallaaHi (“Tidakkah kamu ketahui, bahwa sesungguhnya ayahmu telah mengambil janji darimu atas nama Allah,”) bahwa kalian pasti akan membawanya kembali, dan sekarang kalian telah tahu bahwa kalian tidak dapat memenuhi janji itu, padahal dahulu kalian sudah pernah menyia-nyiakan (menghilangkan) Yusuf.

Falam abrahal ardli (“Sebab itu aku tidak akan meninggalkan bumi ini”) maksudnya aku tidak akan meninggalkan negeri Mesir ini; hattaa ya’dzanalii abii (“Sampai ayah mengizinkanku untuk kembali”) maksudnya, untuk pulang kepadanya dengan rela dan senang hati kepadaku; au yahkumallaaHu lii (“Atau Allah memberi keputusan terhadapku”) ada yang mengatakan dengan pedang, ada pula yang mengatakan: “hingga aku dapat mengambil kembali adikku.”

Wa Huwa khairul haakimiin (“Dan Allah adalah hakim yang sebaik baiknya.”) Kemudian ia menyuruh adik-adiknya agar memberitahukan kepada ayah mereka apa yang sebenarnya telah terjadi, sehingga menjadi alasan bagi mereka dan mereka dapat terbebas dari peristiwa itu dengan keterangan mereka yang dapat diterima.

wa maa kunnaa lil ghaibi haafidhiin (“Dan sekali-sekali kami tidak dapat menjaga [mengetahui] barang yang ghaib.”) Qatadah dan `Ikrimah berkata: “Kami tidak tahu bahwa anakmu telah mencuri.” Sedang `Abdurrahman bin Zaid bin Aslam mengatakan: “Kami tidak mengetahui yang ghaib bahwa dia telah mencuri sesuatu milik raja, tetapi dia bertanya kepada kami: `Apakah hukuman bagi pencuri itu?’
fas-alil qaryatal latii kunnaa fiiHaa (“Dan tanyakanlah kepada [penduduk] negeri tempat kami berada pada waktu itu”) maksudnya (penduduk) negeri Mesir; wal ‘iiral latii aqbalnaa fiiHaa (“Dan kafilah yang kami datang bersamanya”) maksudnya adalah yang menemani kami, tentang kebenaran dan kejujuran kami, serta usaha kami untuk menjaga dan memeliharanya; wa innaa lashaadiquun (“sesungguhnya kami adalah orang-orang yang benar”) dalam apa yang kami sampaikan kepadamu bahwa dia telah mencuri dan mereka menahannya karena pencurian itu.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nahl ayat 80-83

18 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nahl (Lebah)
Surah Makkiyyah; surah ke 16: 128 ayat

tulisan arab alquran surat an nahl ayat 80-83“Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal dan Dia menjadikan bagimu rumah-rumah (kemab-kemah) dari kulit binatang ternak yang kamu merasa ringan (membawa)nya di waktu kamu berjalan dan di waktu kamu bermukim dan (dijadikannya pula) dari bulu domba, bulu onta dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu (tertentu). (QS. 16:80) Dan Allah menjadikan bagimu tempat bernaung dari apa yang telah Dia ciptakan, dan Dia jadikan bagimu tempat-tempat tinggal di gunung-gunung, dan Dia jadikan bagimu pakaian yang memeliharamu dari panas dan pakaian (baju besi) yang memeliharamu dalam peperangan. Demikianlah Allah menyempurnakan sikmat-Nya atasmu agar kamu berserah diri (kepada-Nya). (QS. 16:81) Jika mereka tetap berpaling, maka sesungguhnya kewajiban yang dibebankan atasmu (Muhammad) hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (QS. 16:82) Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir. (QS. 16:83)” (an-Nahl: 80-83)

Allah yang Mahasuci lagi Mahatinggi menyebutkan kesempurnaan nikmat-nikmat-Nya yang telah dianugerahkan kepada hamba-hamba-Nya, dimana Dia telah menjadikan bagi mereka rumah-rumah sebagai tempat tinggal untuk berlindung, bernaung, dan memperoleh segala macam manfaat dengannya. Selain itu, Allah Ta’ala juga menjadikan bagi mereka rumah-rumah dari kulit binatang ternak yang mereka merasa ringan membawanya dalam perjalanan mereka maupun waktu mereka bermukim.

Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman: tastakhiffuunaHaa yauma dha’nikum wa yauma iqaamatikum wa min ashwaafiHaa (“Yang kamu merasa ringan [membawa]nya di waktu kamu berjalan dan di waktu kamu bermukim dan [dijadikan-Nya pula] dari bulu domba, bulu unta dan bulu kambing,”)

Yakni, dari bulu-bulu tersebut kalian bisa membuat berbagai peralatan, yaitu harta kekayaan. Ada juga yang menyatakan, barang berharga, dan ada juga yang menyatakan, pakaian. Yang benar adalah yang lebih umum dari semuanya itu, di mana bulu-bulu itu bisa dijadikan sebagai karpet, pakaian, dan lain-lain, bahkan dijadikan sebagai kekayaan dan juga barang dagangan. Dan firman-Nya: ilaa hiin (“Sampai waktu tertentu,”) maksudnya, sampai batas waktu yang telah ditentukan.

Firman Allah Ta’ala: wallaaHu ja’ala lakum mimma khalaqa dhilaalan (“Dan Allah menjadikan bagimu tempat bernaung dari apa yang telah Dia ciptakan,”) Qatadah mengatakan, yakni pepohonan, wa ja’ala lakum minal jibaali aknaanan (“Dan Dia jadikan bagimu tempat-tempat tinggal di gunung-gunung,”) yakni, benteng-benteng dan parit-parit. Wa ja’ala lakum saraabiila taqiikumul harra (“Dan Dia jadikan bagimu pakaian yang memeliharamu dari panas,”) yaitu, pakaian yang terbuat dari kapas, katun dan wol. Wa saraabiila taqiikum ba’sakum (“Dan pakaian [baju besi] yang memeliharamu dalam peperangan.”) Misalnya, baju besi, tameng, dan lain-lain.

Kadzaalika yutimmu ni’mataHuu ‘alaikum (“Demikianlah Allah menyempurnakan nikmat-Nya atasmu.”) Maksudnya, demikian itulah Allah menciptakan sesuatu yang dapat kalian gunakan untuk berbagai kepentingan dan kebutuhan kalian supaya menjadi penolong (sarana) bagi kalian dalam mentaati Allah dan beribadah kepada-Nya, la’allakum tuslimuun (“Agar kamu berserah diri [kepada-Nya].”) Demikianlah yang ditafsirkan oleh jumhur ulama.

`Atha’ al-Khurasani mengatakan: “Sesungguhnya al-Qur’an itu diturunkan sebatas pengetahuan bangsa Arab, tidakkah engkau menyaksikan firman Allah Ta’ala: “Dan Allah menjadikan bagimu tempat bernaung dari apa yang telah Dia ciptakan, dan Dia jadikan bagimu tempat-tempat tinggal di gunung-gunung,” dan Dia juga menciptakan dataran bagi mereka lebih luas dan banyak, hanya saja mereka itu tinggal di pegunungan. Tidakkah engkau membaca firman-Nya: “Dan [dijadikannya pula] dari bulu domba, bulu onta dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan [yang kamu pakai] sampai waktu [tertentu].”

Dia juga menciptakan yang lain dari itu lebih besar dan lebih banyak, hanya saja mereka itu orang-orang yang memiliki banyak bulu dan rambut. Tidakkah engkau melihat firman-Nya: “Dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es da`ri langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung.” (QS. An-Nuur: 34). Niscaya mereka merasa terkagum olehnya. Dia turunkan es yang melimpah lebih banyak, hanya saja mereka tidak mengetahuinya.

Tidakkah engkau membaca firman-Nya: “Dan Dia jadikan bagimu pakaian yang memeliharamu dart panas,” dan hal-hal yang melindungi dari rasa dingin yang lebih banyak, hanya saja mereka itu memang tinggal di daerah panas.”

Firman-Nya: fa in tawallau (“Jika mereka tetap berpaling,”) yakni, setelah penjelasan dan penganugerahan berbagai kenikmatan ini, maka tidak ada lagi kewajibanmu atas mereka, karena: fa innamaa ‘alaikal balaaghul mubiin (“Sesungguhnya kewajiban yang dibebankan atasmu [Muhammad] hanyalah menyampaikan [amanat Allah] dengan terang.”) Sesungguhnya engkau telah menyampaikannya kepada mereka.

Ya’rifuuna ni’matallaaHi tsumma yunkiruunaHaa (“Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir.”) Maksudnya, mereka mengetahui bahwa Allah Ta’ala yang melimpahkan nikmat-nikmat itu kepada mereka, serta mengutamakan hal itu untuk mereka. Namun demikian, mereka masih tetap mengingkari nikmat-nikmat tersebut, menyekutukan-Nya dengan yang lain, serta menyandarkan pertolongan dan rizki kepada selain Dia. mereka adalah orang-orang kafir. ”

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 81-82

20 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 81-82(Bukan demikian), yang benar, barangsiapa berbuat dosa dan is telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalam-nya. (QS. Al-Baqarah: 81) Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga, mereka kekal di dalamnya. (QS. Al-Baqarah: 82)

Allah swt mengatakan, “Masalahnya tidak seperti yang kalian angan-angankan dan harapkan. Tetapi barangsiapa mengerjakan kejahatan dan dosa-nya itu telah meliputi dirinya sampai hari kiamat, sedang ia tidak mempunyai kebaikan sedikitpun, dan semua amalannya berupa kejahatan, maka ialah salah satu penghuni neraka.”

Wal ladziina aamanuu wa ‘amilush shaalihaati (“Dan orang-orang yang beriman dan beramal shalih”) maksudnya beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta mengerjakan amal shalih, yaitu amal yang sesuai dengan syariat, maka mereka itulah penghuni surga.

Mengenai firman-Nya: balaa man kataba sayyi-atan (“Bukan demikian, yang benar, barangsiapa berbuat dosa.”) dari Ibnu Abbas, Muhammad bin Ishak mengatakan: “Yaitu suatu perbuatan seperti perbuatan kalian [orang-orang Yahudi] kekufuran seperti kekufuran kalian kepada-Nya, sehingga kekufuran itu meliputi dirinya, sedang ia sama sekali tidak mempunyai kebaikan.”

Dalam suatu riwayat Ibnu Abbas, ia mengatakan: “Yaitu perbuatan syirik.”
Hasan al-Bashri juga as-Suddi mengatakan: “Dosa yang dimaksud, yaitu salah satu perbuatan yang termasuk dosa besar.”

Sedang mengenai firman-Nya: ahaathat biHii khathii-atuHu (“Dan ia telah diliputi oleh dosa-dosanya itu.”) dari Mujahid, Ibnu Juraij mengatakan: “Yaitu yang meliputi hatinya.”
Dari Abu Razin, dari Rabi’ bin Khaitsam, al-A’masy mengatakan: “Yaitu orang yang mati dalam keadaan masih berlumuran dosa yang ia lakukan dan belum bertobat.” Semua pendapat ini masih saling berdekatan maknanya, wallaaHu a’lam.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud, bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda: “Waspadalah kalian terhadap dosa-dosa kecil, karena dosa-dosa kecil itu akan menumpuk pada diri seseorang sehingga membinasakannya.” (HR Ahmad)

Rasulullah saw. memberikan perumpamaan bagi mereka ini seperti kaum yang singgah di suatu tanah yang tandus, lalu satu-persatu dari mereka pergi dan kembali dengan membawa sepotong kayu hingga akhirnya mereka berhasil mengumpulkan setumpuk kayu, lalu membakar apa yang mereka campakkan di dalamnya hingga matang.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 81-82

6 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan)
Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat

tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 81-82“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para Nabi: ‘Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang Rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya.’ Allah berfirman: ‘Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?’ Mereka menjawab: ‘Kami mengakui.’ Allah berfirman: ‘Kalau begitu saksikanlah (hai para Nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu.’ (QS. 3:81) Barangsiapa yang berpaling sesudah itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. 3:82)

Allah memberitahukan bahwa Dia telah mengambil janji dan setiap Nabi yang diutusnya, sejak Adam as. sampai `Isa as. Janji itu adalah: Sungguh, bagaimana pun Allah berikan kepada salah seorang di antara mereka, berupa kitab dan hikmah lalu menyampaikannya, kemudian setelah itu datang seorang Rasul setelahnya, niscaya ia akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya, di mana ilmu dan kenabian yang disandangnya tidak menghalanginya untuk mengikuti dan mendukung orang yang diutus setelahnya.

Oleh karena itu Allah berfirman, wa idz akhadzallaaHu miitsaaqan nabiyyiina lamaa aataitukum min kitaabi wal hikmati (“Dan [ingatlah] ketika Allah mengambil perjanjian dari para Nabi: ‘Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah.’”) Artinya, sungguh bagaimana pun Aku berikan kepada kalian berupa kitab dan hikmah.

Tsumma jaa-akum rasuulum mushaddiqul limaa ma’akum latu’minunna biHii wa latanshurunnaHuu qaala a-aqrartum wa akhadztum ‘alaa dzaalikum ishrii (“Kemudian datang kepadamu seorang Rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya. Allah berfirman: ‘Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?’”) Ibnu `Abbas, Mujahid, ar-Rabi’ bin Anas, Qatadah, dan as-Suddi berkata, “Maksud dari kata (ishrii) yaitu perjanjian-Ku.”

Muhammad bin Ishaq berkata, “ishrii” maksudnya beban yang kalian pikul, berupa perjanjian (dengan)-Ku, yaitu ikrar perjanjian (dengan)-Ku, adalah berat lagi dikukuhkan.”

Qaaluu aqrarnaa qaala fasy-Haduu wa ana ma’akum minasy-syaaHidiina fa man tawallaa ba’da dzaalika (“Mereka menjawab: ‘Kami mengakui,’ Allah berfirman: ‘Kalau begitu saksikanlah [wahai para Nabi] dan Aku menjadi saksi [pula] bersama kamu. Baransiapa yang berpaling sesudah itu.’”) Yaitu dari janji tersebut, fa ulaa-ika Humul faasiquun (“Maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”)

Ali bin Abi Thalib dan putera pamannya, Ibnu ‘Abbas ra. pemah berkata, “Allah tidak mengutus seorang Nabi pun melainkan Dia mengambil janji darinya, (Yaitu) jika Allah mengutus Muhammad, sedang ia dalam keadaan hidup niscaya ia akan beriman kepadanya, menolongnya dan memerintahkan kepada Nabi itu untuk mengambil janji dari umatnya: Jika Muhammad diutus sedang mereka hidup, niscaya mereka akan beriman kepadanya dan menolongnya.”

Thawus, al-Hasan al-Bashri, dan Qatadah berkata, “Allah telah mengambil janji dari para Nabi, agar masing-masing mereka saling membenarkan satu dengan yang lainnya.” Pendapat ini tidak bertentangan dengan pendapat yang dikemukakan oleh `Ali dan Ibnu ‘Abbas, bahkan menuntut makna tersebut dan mendukungnya. Oleh karena itu, ‘Abdurrazzaq meriwayatkan dari Ma’mar dari Ibnu Thawus, dari ayahnya, pendapat yang sama seperti pendapat `Ali dan Ibnu ‘Abbas.

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Tsabit, ia berkata, “Umar bin al-Khaththab pernah datang kepada Nabi seraya berkata: `Ya Rasulullah, sesungguhnya aku memerintahkan kepada seorang saudaraku yang beragama Yahudi dari suku Quraizhah (untuk menuliskan ringkasan Taurat), maka ia menuliskan untukku ringkasan dari isi Taurat. Berkenankah engkau jika aku perlihatkan hal itu kepadamu?’ ‘Abdullah bin Tsabit berkata, maka berubahlah wajah Rasulullah. Kemudian aku katakan kepada ‘Umar: ‘Tidakkah engkau melihat perubahan pada wajah Rasulullah?’ ‘Umar pun berkata: ‘Aku rela Allah sebagai Rabbku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad sebagai Rasulku.’ ‘Abdullah bin Tsabit melanjutkan, maka hilanglah kemarahan Nabi dan beliau bersabda: ‘Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya Musa berada di tengah-tengah kalian, lalu kalian mengikutinya dan meninggalkanku, maka kalian telah tersesat. Sesungguhnya kalian adalah (umat yang menjadi) bagianku dan aku adalah (Nabi yang menjadi) bagian kalian.”

Dengan demikian, Muhammad adalah Rasul yang menjadi penutup para Nabi selama-lamanya sampai hari Kiamat kelak. Beliau adalah pemimpin agung, seandainya beliau muncul kapan saja, maka beliau yang wajib ditaati dan didahulukan atas seluruh Nabi. Oleh karena itu, beliau menjadi imam mereka (para Nabi) pada malam Israa’, yaitu ketika mereka berkumpul di Baitul Maqdis. Beliau juga adalah pemberi syafa’at di Mahsyar, agar Allah datang memberi keputusan di antara hamba-hamba-Nya. Syafa’at inilah yang disebut maqaaman mahmuudan (kedudukan yang terpuji) yang tidak pantas bagi siapa pun kecuali beliau, yang mana Uulul `Azmi dari kalangan para Nabi dan Rasul pun semua menghindar darinya (dari memberikan syafa’at), sampai tibalah giliran untuk beliau, maka syafa’at ini khusus bagi beliau. Semoga shalawat dan salam senantiasa terlimpahkan kepadanya.

&

82. Surah Al-Infithaar

3 Des

Pembahasan Tentang Surat-Surat Al-Qur’an (Klik di sini)
Tafsir Ibnu Katsir (Klik di sini)

Surat ini terdiri atas 19 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyah dan diturunkan sesudah surat An Naazi’aat. Al Infithaar yang dijadikan nama untuk surat ini adalah kata asal dari kata Infatharat (terbelah) yang terdapat pada ayat pertama.

Pokok-pokok isinya:
Peristiwa-peristiwa yang terjadi pada hari kiamat; peringatan kepada manusia agar tidak terpedaya sehingga durhaka kepada Allah; adanya malaikat yang selalu menjaga dan mencatat segala amal perbuatan manusia; pada hari kiamat manusia tak dapat menolong orang lain; hanya kekuasaan Allah-lah yang berlaku pada waktu itu.
Surat Al Infithaar ini menggambarkan kejadian-kejadian pada hari kiamat, dan menerangkan keingkaran manusia kepada karunia Allah dan bahwa segala amal perbuatan mereka itu akan mendapat pembalasan.

HUBUNGAN SURAT INI DENGAN SURAT AL MUTHAFFIFIIN

1. Dalam surat Al Infithaar ini Allah menjelaskan adanya malaikat yang menjaga dan mencata amal perbuatan manusia, lalu pada Surat Al Muthaffifiin dijelaskan lagi tentang buku catatan itu.
2. Dalam surat Al Infithaar ini secara singkat diterangkan dua golongan manusia pada hari kiamat yaitu orang-orang yang berbuat kebajikan dan orang-orang yang berbuat kebajikan dan orang-orang yang durhaka. Maka dalam surat Al Muthaffifiin diuraikan lebih luas keadaan dan sifat kedua golongan manusia itu.