Tag Archives: 84

Tafsir Ibnu Katsir Surah At-Taubah / Al-Bara’ah ayat 84

29 Jun

Tafsir Al-Qur’an Surah At-Taubah (Pengampunan)
Surah Madaniyyah; surah ke 9: 129 ayat

tulisan arab alquran surat at taubah ayat 84“Dan janganlah sekali-kali kamu menshalatkan (jenazah) seseorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mereka mati dalam keadaan fasik.” (QS. at-Taubah: 84)

Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk membebaskan diri dari orang-orang munafik dan tidak menshalatkan seorang pun yang meninggal dunia dari mereka, serta tidak berdiri di atas kuburnya guna memohonkan ampunan baginya atau mendo`akannya, karena mereka itu telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka meninggal dunia dalam keadaan kafir. Hukum itu berlaku bagi siapa saja yang telah diketahui kemunafikannya, meskipun sebab turunnya ayat ini hanya berkenaan dengan ‘Abdullah Ubay bin Salul, pemimpin orang-orang munafik.

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, dari Ibnu’Umar, ia menceritakan:
“Ketika `Abdullah bin Ubay meninggal dunia, puteranya yang bernama `Abdullah bin `Abdullah datang kepada Rasulullah saw, lalu ia meminta beliau supaya memberikan kepadanya baju beliau untuk mengkafani ayahnya. beliau pun memberikannya. Lalu ia meminta beliau untuk menshalatkan jenazahnya, maka Rasulullah berangkat untuk menshalatkan. Kemudian `Umar menarik baju beliau seraya berkata: `Ya Rasulullah, apakah engkau akan menshalatkannya, padahal Rabbmu telah melarangmu untuk menshalatkannya?’”

“Sesungguhnya Allah telah memberikan pilihan kepadaku, di mana Allah berfirman: `Engkau mohonkan ampun bagi mereka atau tidak engkau mohonkan ampun bagi mereka adalah sama saja. Kendatipun engkau mohonkan ampun mereka tujuh puluh kali, nmmun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka,’ dan aku akan menambahnya lebih dari tujuh puluh kali.”
`Umar berkata: “Sesungguhnya, ia adalah seorang munafik.”

Ibnu `Umar melanjutkan ceritanya, maka Rasulullah pun menshalatkannya, lalu Allah menurunkan ayat: wa laa tushallii ‘alaa ahadin minHum maata abadaw walaa taqum ‘alaa qabriHi (“Dan janganlah kalian sekali-kali menshalatkan [jenazah] seorang yang mati di antara mereka. Dan janganlah kalian berdiri [mendo’akan] di kuburnya.”)

Demikian pula hadits senada yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.

`Umar bin al-Khaththab tidak menshalatkan jenazah orang yang diketahui keadaannya, sehingga Hudzaifah bin al-Yaman menshalatkannya, karena ia mengetahui setiap individu dari orang-orang munafik dan Rasulullah saw sendiri telah memberitahukan kepadanya tentang orang-orang munafik tersebut.

Dalam kitab al-Gharib fi Hadits `Umar, Abu `Ubaid menceritakan, bahwa ketika ia hendak menshalatkan jenazah seseorang, Hudzaifah mencubitnya seolah-olah ia (Hudzaifah) hendak menghalang-halanginya menshalatkan jenazah tersebut. Diceritakan dari sebagian mereka, bahwa cubitan (al-marzu) menurut orang-orang yang mengetahui maksudnya adalah, cubitan (al-qarshu) dengan. menggunakan ujung-ujung jari.

Setelah Allah melarang untuk menshalatkan jenazah orang-orang munafik dan berdiri di atas kuburan mereka guna memohonkan ampunan bagi mereka, maka yang demikian itu menjadi salah satu bentuk amalan mendekatkan diri yang paling besar bagi orang-orang yang beriman, hal itupun disyari’atkan. Di mana bila mengerjakannya, maka akan memperoleh pahala yang besar.

Sebagaimana yang ditegaskan di dalam buku-buku hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah telah bersabda:
“Barangsiapa yang menghadiri jenazah sampai jenazah itu dishalatkan, maka baginya satu qirath. Dan barangsiapa menghadiri jenazah sampai jenazah dikuburkan, maka baginya dua qirath.”
Ditanyakan: “Apakah yang dimaksud dengan dua qirath tersebut?”
Beliau menjawab: “Yang paling kecil di antara keduanya itu adalah seperti gunung Uhud.”

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 83-84

15 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 83-84“Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali isterinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). (QS. 7:83) Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perlihatkanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu. (QS. 7:84)” (al-A’raaf: 83-84)

Maksud firman Allah itu, Kami selamatkan Luth dan keluarganya, dan tidak ada yang beriman kepadanya kecuali dari pihak keluarganya saja, sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala dalam surat yang lain yang artinya:
“Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Luth itu. Dan Kami tidak mendapatkan di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri.” (QS. Adz-Dzaariyaat: 35-36)

Kecuali isterinya, ia tidak mau beriman kepadanya, bahkan ia tetap teguh memeluk agama kaumnya. Karena itu, ia tetap membantu mereka dan memberitahukan kepada mereka tamu-tamu Luth as. dengan menggunakan isyarat-isyarat antara dirinya dengan mereka.
Oleh karena itu, ketika Allah memerintahkan Luth untuk keluar dari kampung untuk membawa keluarganya, ia diperintahkan supaya tidak memberitahu isterinya dan tidak pula mengajaknya pergi dari kampung itu.

Di antara ahli tafsir ada yang mengatakan, bahwa isterinya itu mengikutinya. Dan ketika turun adzab, ia menoleh sehingga tertimpa apa yang menimpa kaumnya.
Dan pendapat yang lebih kuat, isteri Nabi Luth itu tidak keluar dari kampung dan tidak juga diberitahu oleh Nabi Luth, tetapi ia menetap bersama kaumnya.

Oleh karena itu, Allah berfirman: illam ra-ataHuu kaanat minal ghaabiriin (“Kecuali isterinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal [dibinasakan].”) Maksudnya, ia termasuk orang-orang yang tetap tinggal di kampung itu. Ada juga yang mengatakan, artinya, ia temasuk orang-orang yang dibinasakan. Dan hal ini merupakan tafsiran dengan sesuatu yang lazim.

Firman Allah selanjutnya: wa amtharnaa ‘alaiHim matharan (“Dan Kami turunkan kepada mereka hujan [batu].”) Penggalan ayat ini ditafsirkan oleh firman Allah dalam ayat di bawah ini yang artinya:
“Dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Rabbmu dan siksaan itu tidaklah jauh dari orang-orang yang dhalim.” (QS. Huud: 82-83)

Oleh karena itu, Allah berfirman: fandhur kaifa kaana ‘aaqibatul mujrimiin (“Maka perhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu.”) Maksudnya, lihatlah, hai Muhammad, bagaimana akibat orang yang berani berbuat maksiat kepada Allah dan mendustakan para Rasul-Nya.

Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa orang yang melakukan liwath (homoseks) dicampakkan dari tempat yang tinggi, lalu dilempari batu. Sebagaimana yang telah dilakukan terhadap kaum Luth.

Sedangkan ulama yang lain berpendapat, bahwa orang itu harus dirajam, baik ia beristeri maupun tidak. Dan ini merupakan salah satu dari dua pendapat Imam asy-Syafi’i.

Yang menjadi dalil adalah hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dari ad-Darawardi, dari ‘Amr bin Abi ‘Umar, dari ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: Rasulullah pernah bersabda:
“Barangsiapa yang kalian temukan mengerjakan perbuatan kaum Luth, maka bunuhlah pelaku dan orang yang menjadi objeknya.” (HR. Imam Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Sedangkan ulama yang lain berpendapat bahwa orang tersebut diperlakukan sama seperti orang yang berbuat zina. Jika muhshan (telah beristeri) maka harus dirajam, dan jika bukan muhshan, maka didera seratus kali. Dan ini merupakan pendapat lain dari Imam asy-Syafi’i.

Adapun mencampuri isteri melalui dubur, maka menurut kesepakatan ulama adalah haram. Dan larangan mengenai hal ini telah disebutkan oleh banyak hadits, dari Rasulullah saw. Sedangkan mengenai hal itu telah diuraikan dalam pembahasan surat Al-Baqarah: 223.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yunus ayat 84-86

8 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Yunus
Surah Makkiyyah; surah ke 10: 109 ayat

tulisan arab alquran surat yunus ayat 84-86“Berkata Musa: ‘Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka hertawakkallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri.” (QS. 10:84) Lalu mereka berkata: “Kepada Allahlah kami bertawakkal. Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang dhalim, (QS. 10:85) dan selamatkanlah kami dengan rahmat Engkau dari (tipu-daya) orang-orang yang kafir. (QS. 10:86)” (Yunus: 84-86)

Allah berfirman memberi kabar tentang Musa, bahwa sesungguhnya dia berkata kepada Bani Israil: yaa qaumi in kuntum aamantum billaaHi fa’alaiHi tawakaluu in kuntum muslimiin (“Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri.”) Maksudnya, karena sesungguhnya Allah adalah Dzat yang mencukupi orang yang bertawakkal kepada-Nya.
“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaaq: 3)

Seringkali Allah menyebutkan ibadah dan tawakkal secara bersamaan, sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Maka beribadahlah kepada Allah dan bertawakkallah kepada-Nya.” (QS. Huud: 123)

Allah menyuruh orang-orang mukmin untuk mengucapkan pada setiap rakaat dalam shalat mereka: iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin (“Hanya kepada Engkaulah kami beribadah dan hanya kepada Enjkaulah kami memohon pertolongan.”) (QS. Al-Fatihah: 5)

Bani Israil telah melaksanakan itu, maka mereka berkata: ‘alallaaHi tawakkalnaa rabbanaa laa taj’alnaa fitnatal lil qaumidh dhaalimiin (“Kepada Allahlah kami bertawakkal, ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang dhalim.”) Maksudnya, janganlah Engkau menangkan mereka dan jangan Engkau beri kuasa mereka atas kami, maka mereka mengira bahwa sesungguhnya mereka diberi kekuasaan, karena mereka adalah di atas kebenaran dan kami di atas kebathilan, maka mereka ditimpa fitnah disebabkan itu.

Demikianlah riwayat dari Abu Mijlaz dan Abu adh-Dhahhak. Ibnu Abi Najih dan lainnya berkata dari Mujahid: “Janganlah Engkau siksa kami dengan tangan Fir’aun dan janganlah Engkau siksa kami dengan siksa dari sisi Engkau,” maka kaum Fir’aun berkata: “Jika mereka di atas kebenaran, tentulah tidak disiksa dan kami tidak dikuasakan atas mereka, maka berarti mereka disiksa dengan tangan kami.”

Dan firman-Nya: wa najjinaa birahmatika (“Dan selamatkanlah kami dengan rahmat Engkau.”) Maksudnya, bebaskanlah kami dari mereka dengan rahmat dan kebaikan dari Engkau. Minal qaumil kaafiriin (“Dari [tipu-daya] orang-orang kafir.”) Maksudnya, orang-orang yang mengingkari kebenaran dan menutupinya, sedangkan kami telah beriman dan bertawakkal kepada Engkau.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Huud ayat 84

30 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Huud
Surah Makkiyyah; surah ke 11: 123 ayat

tulisan arab alquran surat huud ayat 84“Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara mereka Syu’aib. Ia berkata: ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Ilah bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan adzab bad yang membinasakan (Kiamat).” (QS. Huud: 84)

Allah berfirman: “Kami telah mengutus ke Madyan [Syu’aib as] Penduduk Madyan, mereka adalah satu suku dari bangsa Arab yang menempati daerah antara Hijaz dan Syam, berdekatan dengan Ma’an. Sebuah negeri yang dikenal dengan sebutan Madyan.

Allah mengutus kepada mereka Syu’aib as, beliau berasal dari keturunan terhormat. Dan untuk inilah Allah berfirman: akhaaHum syu’aiban (“[ke Madyan Kami utus] saudara mereka Syu’aib.”) Syu’aib memerintahkan kepada mereka untuk beribadah kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya, tidak menyekutukan-Nya dan melarang mereka mengurangi takaran dan timbangan.

Innii araakum bikhairin (“Sesungguhnya aku melihat kalian dalam keadaan yang baik [mampu].”) Maksudnya, baik dalam kehidupan dan penghasilan kalian. Aku mengkhawatirkan kalian, bahwa akan diangkat kebaikan yang ada pada kalian dengan sebab kalian melanggar larangan-larangan Allah.
Wa innii akhaafu ‘alaikum ‘adzaaba yaumim muhiith (“Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap kalian akan adzab pada hari yang membinasakan [Kiamat].”) Maksudnya, nanti di negeri akhirat.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hijr ayat 80-84

22 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hijr
Surah Makkiyyah; surah ke 15:99 ayat

tulisan arab alquran surat al hijr ayat 80-84“80. dan Sesungguhnya penduduk-penduduk kota Al Hijr telah mendustakan rasul-rasul, 81. dan Kami telah mendatangkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami, tetapi mereka selalu berpaling daripadanya, 82. dan mereka memahat rumah-rumah dari gunung-gunung batu (yang didiami) dengan aman. 83. Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur di waktu pagi. 84. Maka tak dapat menolong mereka, apa yang telah mereka usahakan.” (al-Hijr: 80-84)

Penduduk al-Hijr adalah kaum Tsamud yang mendustakan Nabi Shalih as., nabi mereka. barangsiapa mendustakan seorang Rasul, maka berarti telah mendustakan Allah. Oleh karena itu dalam ayat ini disebutkan bahwa mereka mendustakan para Rasul Allah. Allah Ta’ala menyebutkan bahwa Dia telah mendatangkan kepada mereka ayat-ayat [tanda-tanda] yang menunjukkan kebenaran apa yang disampaikan oleh Nabi Shalih as. kepada mereka, dan Allah menyebutkan bahwa: wa kaanuu yanhituuna minal jibaali buyuutan aaminiin (“Mereka memahat rumah-rumah dari gunung-gunung batu [yang didiami] dengan aman.”) maksudnya, tanpa rasa takut dan rasa butuh kepada-Nya, tetapi karena rasa angkuh, sombong dan melakukan perbuatan sia-sia.

Firman Allah: fa akhadzatHumush shaihatu mushbihiin (“Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur di waktu pagi.”) maksudnya di saat pagi di hari yang keempat. Fa maa aghnaa ‘anHum maa kaanuu yaksibuun (“Maka tak dapat menolong mereka, apa yang telah mereka usahakan.”) maksudnya apa yang mereka kerjakan dalam pertanian mereka dan penghasilan buah-buahan mereka sehingga mereka bakhil memberi air minum kepada unta Allah, lalu mereka menyembelihnya, agar tidak menghabis-habiskan air, ternyata harta benda mereka tersebut tidak mempertahankan dan tidak berguna bagi mereka setelah datang keputusan Allah.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nahl ayat 84-88

18 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nahl (Lebah)
Surah Makkiyyah; surah ke 16: 128 ayat

tulisan arab alquran surat an nahl ayat 84-88“Dan (ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan dari tiap-tiap umat seorang saksi (Rasul), kemudian tidak diizinkan kepada orang-orang yang kafir (untuk membela diri) dan tidak (pula) mereka dibolehkan meminta uaaf. (QS. 16:84) Dan apabila orang-orang dhalim telah menyaksikan adzab, maka tidaklah diringankan adzab bagi mereka dan tidak pula mereka diberi tangguh. (QS. 16:85) Dan apabila orang-orang yang mempersekutukan (Allah) melihat sekutu-sekutu mereka, mereka berkata: ‘Ya Rabb kami, mereka inilah sekutu-sekutu kami yang mereka dahulu kami sembah selain dari Engkau.’ Lalu sekutu-sekutu mereka mengatakan kepada mereka: ‘Sesungguhnya kamu benar-benar orang yang dusta.’ (QS. 16:86) Dan mereka menyatakan ketundukannya kepada Allah pada hari itu dan hilanglah dari mereka apa yang selalu mereka ada-adakan. (QS. 16:87) Orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Kami tambahkan kepada mereka siksaan di atas siksaan disebabkan mereka selalu berbuat kerusakan. (QS. 16:88)” (an-Nahl: 84-88)

Allah Ta’ala menceritakan tentang keadaan orang-orang musyrik pada hari kembali mereka di akhirat kelak. Bahwasanya Dia akan membangkitkan dari tiap-tiap umat seorang saksi, yaitu Nabi dari masing-masing umat. Nabi akan menjadi saksi bagi kaumnya berkenaan dengan respon mereka terhadap apa yang disampaikannya dari Allah Ta’ala. Tsumma laa yu’dzanu lilladziina kafaruu (“Kemudian tidak diizinkan kepada orang-orang yang kafir,”) untuk berdalih, sebab mereka sendiri mengetahui kebathilan dan kebohongan dalihnya.

Yang demikian itu sama dengan firman Allah Ta’ala yang artinya: “Ini adalah hari yang mereka tidak dapat berbicara (pada hari itu), dan tidak diizinkan kepada mereka minta udzur sehingga mereka (dapat) minta udzur.” (QS. Al-Mursalaat: 35-36)

Oleh karena itu, Allah berfirman: wa laa Hum yusta’tabuuna wa idzaa ra-al ladziina kafaruu (“Dan tidak pula mereka dibolehkan meminta maaf. Dan apabila orang-orang dhalim telah menyaksikan,”) yakni, orang-orang yang berbuat syirik: al-‘adzaaba falaa yukhaffafu ‘anHum (“Adzab, maka tidaklah diringankan adzab bagi mereka,”) yakni, tidak dihentikan sesaat pun; wa laa Hum yundharuun (“Dan tidak pula mereka diberi tangguh.”) Maksudnya, tidak akan diakhirkan dari mereka, bahkan mereka segera disiksa sejak berada di temp at berdiri, tanpa dihisab lagi.

Hal itu karena ketika Jahannam didatangkan, ia dikendalikan oleh 70.000 kendali, yang setiap kendali dipegang oleh 70.000 Malaikat sehingga seluruh makhluk berada di bawah setiap kendali. Kemudian Jahannam bergolak sekali sehingga tidak ada seorang pun melainkan jatuh berlutut. Jahannam berkata: “Sesungguhnya aku diberi tugas untuk menangani setiap orang yang bengis lagi kasar yang menyekutukan Allah dengan ilah yang lain, dan dengan ini dan itu.”

Selanjutnya, Jahannam merinci setiap kelompok manusia, sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits. Setelah itu, Jahannam mengepung mereka dan mematukinya seperti burung mematuki biji-bijian. Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Apabila neraka itu melihat mereka dart’ tempat yang jauh, niereka mendengar kegeramannya dan suara nyalanya.” (QS. Al-Furqaan: 12)

Kemudian Allah Ta’ala memberitahukan tentang ilah-ilah mereka (orang-orang musyrik) yang berlepas diri dari mereka pada saat mereka sangat membutuhkannya. Allah Ta’ala berfirman: wa idzaa ra-al ladziina asyrakuu syurakaa-aHum (“Dan apabila orang-orang yang mempersekutukan [Allah] melihat sekutu-sekuti mereka,”) yakni, pihakpihak yang dahulu disembah ketika masih di dunia: qaala rabbanaa Haa-ulaa-i syurakaa-unal ladziina kunnaa nad’uu min duunika fa alqau ilaiHimul qaula innakum lakaadzibuun (“Mereka berkata: ‘Ya Rabb kami, mereka inilah sekutu-sekutu kami yang mereka dahulu kami sembah selain dari-Mu.’ Lalu sekutu-sekutu mereka mengatakan kepada mereka: ‘Sesungguhnya kamu benar-benar orang yang dusta.’”)

Maksudnya, ilah-ilah mereka itu berkata kepada mereka: “Kalian telah berdusta, karena sesungguhnya kami tidak pernah menyuruh kalian menyembah kami.”

Firman-Nya: wa alqau ilallaaHi yauma-idzinis salama (“Dan mereka menyatakan ketundukannya kepada Allah pada hari itu.”) Qatadah dan `Ikrimah mengatakan, mereka semua merendahkan diri dan tunduk kepada Allah, sehingga tidak ada seorang pun kecuali menjadi pendengar lagi patuh. Yang demikian itu sama seperti firman Allah Ta’ala yang artinya: “Alangkah terangnya pendengaran mereka dan alangkah tajamnya penglihatan mereka pada hari mereka datang kepada Kami.” (QS. Maryam: 38). Maksudnya, pada hari itu mereka benar-benar mendengar dan melihat dengan nyata.

Firman-Nya: wa dlalla ‘anHum maa kaanuu yaftaruun (“Hilanglah dari mereka apa yang selalu mereka ada-adakan.”) Yakni, hilang dan lenyaplah apa yang dulu mereka ibadahi sebagai perbuatan mengada-ada terhadap Allah. Mereka tidak mempunyai penolong dan tidak juga penyelamat.

Lebih lanjut, Allah berfirman: alladziina kafaruu wa shadduu ‘an sabiilillaaHi zidnaaHum ‘adzaaban… (“Orang-orang yang kafir dan menghalangi [manusia] dari jalan Allah, Kami tambahkan kepada mereka siksaan di atas siksaan,”) dan ayat seterusnya. Maksudnya, adzab atas kekufuran mereka sendiri dan adzab atas tindakan mereka menghalang-halangi orang lain yang hendak mengikuti kebenaran. Ayat ini merupakan dalil yang menunjukkan adanya beberapa tingkatan dan derajat orang-orang kafir di neraka, sebagaimana yang ada pada orang-orang mukmin.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Israa’ Ayat 83-84

14 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Israa’
(Memperjalankan di Malam Hari)
Surah Makkiyyah; surah ke 17: 111 ayat

tulisan arab alquran surat al israa ayat 83-84“Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia; dan membelakangi dengan sikap yang sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa. (QS. 17:83) Katakanlah: ‘Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing.’ Maka Rabbmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya. (QS. 17:84)” (al-Israa’: 83-84)

Allah memberitahukan tentang kekurangan manusia sebagai makhluk kecuali orang-orang yang dilindungi oleh Allah Ta’ala dalam dua keadaan: bahagia maupun sengsara. Jika Dia menolong dan memberikan apa yang menjadi keinginannya, maka ia tidak mau taat kepada-Nya dan enggan menyembah-Nya serta membelakangi dengan sikap yang sombong. Mujahid mengatakan: “Yakni, menjauh dari Kami (Allah).”

Mengenai hal tersebut, penulis (Ibnu Katsir) katakan, yang demikian itu adalah seperti firman-Nya berikut ini: “Ketika Dia menyelamatkanmu ke daratan, kamu berpaling.” (QS. Al-Israa’: 67)

Sesungguhnya, jika ia ditimpa musibah, bencana, dan berbagai hal yang menyusahkan; kaana ya-uusan (“Maka ia berputus asa.”) Maksudnya, ia putus asa dari memperoleh kebaikan kembali setelah itu.

Firman-Nya: qul kulluy ya’malu ‘alaa syaakilatiHi (“Katakanlah: ‘Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-musing.’”) Ibnu `Abbas mengatakan: “Yakni, dalam posisinya.” Sedangkan Qatadah mengungkapkan: “Yakni menurut niatnya.” Dan Ibnu Zaid mengatakan: “Yakni menurut agamanya.”

Dan ayat ini -wallahu a’lam- merupakan ancaman keras bagi orang-orang musyrik. Oleh karena itu, Allah T’alaberfirman: qul kulluy ya’malu ‘alaa syaakilatiHi fa rabbukum a’lamu biman Huwa aHdaa sabiilan (“Katakanlah: ‘Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing.’ Maka Rabbmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.”) Yakni, dari Kami dan juga kalian. Dan Dia akan memberikan balasan kepada setiap orang sesuai dengan amal perbuatannya, dan sesungguhnya tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 84-86

20 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 84-86“Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu (yaitu): Kamu tidak akan menumpahkan darahmu (membunuh orang), dan kamu tidak akan mengusir dirimu (saudaramu sebangsa) dari kampung balamanmu, kemudian kamu berikrar (akan memenuhi) sedang kamu mempersaksikannya.” (QS. Al-Baqarah: 84) Kemudian kamu (Bani Israil) membunuh dirimu (saudaramu sebangsa) dan mengusir segolongan darimu dari kampung halamannya, kamu bantu-membantu terhadap mereka dengan membuat dosa dan permusuhan; tetapi jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus mereka, padahal mengusir mereka itu (juga) terlarang bagimu. Apakab kamu beriman kepada sebagian dari al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian darimu melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada bari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengab dari apa yang kamu perbuat. (QS. Al-Baqarah: 85) Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong. (QS. Al-Baqarah: 86)

Allah mengecam orang-orang Yahudi pada zaman Rasulullah di Madinah dan apa yang mereka alami karena peperangan dengan kaum Aus dan Khazraj. Kaum Aus dan Khazraj adalah kaum Anshar, yang pada masa Jahiliyah mereka menyembah berhala. Di antara mereka terjadi banyak peperangan, kaum Yahudi Madinah terbagi menjadi tiga kelompok: Bani Qainuqa’ dan Bani Nadhir menjadi sekutu kaum Khazraj, dan Bani Quraidhah yang menjadi sekutu kaum Aus. Apabila perang meletus, masing-masing kelompok bersama sekutunya saling menyerang. Orang Yahudi membantai musuh-musuhnya, bahkan ada orang Yahudi yang membunuh orang Yahudi dari kelompok lain. Padahal menurut ajaran mereka, yang demikian itu merupakan suatu hal yang diharamkan bagi mereka dan telah tertuang di dalam kitab mereka. Kelompok yang satu mengusir kelompok yang lain sambil merampas harta kekayaan dan barang-barang berharga. Kemudian apabila peperangan usai mereka segera melepaskan tawanan kelompok yang kalah sebagai bentuk pengamalan hukum Taurat.

Oleh karena itu Allah berfirman: a fa tu’minuuna bi ba’dlil kitaabi wa takfuruuna bi ba’dlin (“Apakah kamu beriman kepada sebagian al-Kitab [Taurat] dan inkar terhadap sebagian lainnya.”) dan firman-Nya juga: wa idz akhadnaa miitsaaqakum laa tasfikuuna dimaa-akum wa laa tukhrijuuna anfusakum min diyaarikum (“[ingatlah] ketika Kami mengambil janji darimu, yaitu: kalian tidak akan menumpahkan darah [membunuh orang] dan kamu tidak akan mengusir diri kamu dari kampung halaman kamu”). Artinya, sebagian kalian tidak diperbolehkan membunuh sebagian yang lain, tidak boleh juga mengusirnya, sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Maka bertaubatlah kepada Rabb yang menjadikanmu dan bunuhlah dirimu. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu di sisi Rabb yang menjadikanmu. ” (QS. Al-Baqarah: 54)

Hal itu karena pemeluk satu agama adalah seperti satu tubuh, sebagaimana disabdakan Rasulullah “Perumpamaan orang mukmin dalam cinta mencintai, kasih mengasihi, dan sayang menyayangi adalah laksana satu tubuh. Jika salah satu anggotanya sakit, maka seluruh tubuhnya akan merasakan sakit dengan demam dan tidak dapat tidur.” (Muttafaq ‘alaih)

Firman-Nya: tsumma aqrartum wa antum tasy-Haduun (“Kemudian kamu berikrar [akan memenuhinya] sedang kamu mempersaksikannya.”) Maksudnya, kalian mengakui dan mempersaksikan bahwa kalian mengetahui perjanjian itu dan kebenarannya.

Firman-Nya: tsumma antum Haa-ulaa-i taqtuluuna anfusakum wa takhrijuuna fariiqam minkum min diyaariHim (“Kemudian kamu [Bani Israil membunuh dirimu [saudara seagama] dan mengusir segolongan darimu dari kampong halamannya.”) Allah swt. memberitahu mereka mengenai hal itu dan kandungan ayat di atas. Siyaq (redaksi) ayat ini merupakan kecaman sekaligus hinaan terhadap orang-orang Yahudi yang meyakini kebenaran perintah Taurat itu, dan menyalahi syari’atnya di sisi lain, padahal mereka mengetahui dan memberikan kesaksian akan kebenarannya. Oleh karena itu mereka tidak dapat dipercaya dalam (pengamalan) isinya, penukilannya, dan mereka tidak jujur dalam hal sifat Rasulullah, perilakunya, pengutusannya, kehadirannya, dan hijrah Nabi yang mereka sembunyikan, dan segala hal yang telah diberitahukan oleh para Nabi sebelumnya. Orang-orang Yahudi -la’natullah ‘alaihim- saling menutup-nutupi apa yang ada di antara mereka.

Oleh karena itu, Allah berfirman: fa maa jazaa-u may yaf’alu dzaalika minkum illaa khizjun fil hayaatid-dun-yaa (“Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian darimu, melainkan kehinaan dalam kehidupan di dunia.”) hal itu disebabkan oleh pelanggaran yang mereka lakukan terhadap syariat dan perintah Allah swt.

Wa yaumal qiyaamati yuradduuna ilaa ‘asyaddil ‘adzaab (“Dan pada hari kiamat kelak mereka dikembalikan kepada siksa yang berat.”) sebagai balasan atas penyimpangan mereka terhadap kitab Allah yang berada di tangan mereka.

Wa mallaaHu bighaafilin ‘amaa ta’maluun. Ulaa-ikaladziinasytarawul hayaatad-dun-yaa bil aakhirati (“Dan Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat. Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan [kehidupan] akhirat.”) artinya mereka lebih mencintai dan memilih dunia, fa laa yukhaffafu ‘anHumul ‘adzaabu (“Maka tidak akan diringankan siksa mereka.”) maksudnya adzab itu tidak akan dihilangkan dari mereka meski hanya sekejap saja. Wa laa Hum yunsharuun (“Dan mereka tidak akan ditolong.”) artinya tidak ada seorang penolong pun yang akan membantu dan menyelamatkan mereka dari adzab yang menimpa mereka selamanya.

&

84. Surah Al-Insyiqaaq

3 Des

Pembahasan Tentang Surat-Surat Al-Qur’an (Klik di sini)
Tafsir Ibnu Katsir (Klik di sini)

Surat Al Insyiqaaq, terdiri atas 25 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyah, diturunkan sesudah surat Al Infithaarr. Dinamai Al Insyiqaaq (terbelah), diambil dari perkataan Insyaqqat yang terdapat pada permulaan surat ini, yang pokok katanya ialah insyiqaaq.

Pokok-pokok isinya:
Peristiwa-peristiwa pada permulaan terjadinya hari kiamat; peringatan bahwa manusia bersusah payah menemui Tuhannya; dalam menemui Tuhannya kelak ada yang mendapat kebahagiaan dan ada pula yang mendapat kesengsaraan; tingkat-tingkat kejadian dan kehidupan manusia di dunia dan di akhirat.
Surat Al Insyiqaaq mengutarakan kejadian-kejadian permulaan terjadinya hari kiamat, bagaimana balasan amaan yang baik dan perbuatan yang buruk; dan kepastian terjadinya hari kiamat yang ditentang oleh orang-orang kafir.

HUBUNGAN SURAT AL INSYIQAAQ DENGAN SURAT AL BURUUJ

1. Kedua surat ini sama-sama menerangkan janji-janji Allah kepada orang- orang mukmin serta ancaman-anacaman-Nya kepada orang yang mengingkari seruan Rasululah s.a.w.
2. Pada surat Al Insyiqaaq diterangkan sikap orang-orang musyrik terhadap seruan rasululah s.a.w., sedang surat Al Buruuj menerangkan sikap orang- orang musyrik dan tindakan-tindakan mereka yang biasa mereka lakukan sejak dahulu terhadap orang-orang yang menerima seruan para rasul.